Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-24
Completed:
2022-04-24
Words:
5,289
Chapters:
4/4
Kudos:
15
Hits:
228

Aches

Summary:

4-chapter love stories between Miho - Nao - Miku. WARNING: ANGST.

Chapter 1: Aches: Reunion

Chapter Text

"Suzuka?"

"Hadir bos!"

"Hina?"

"Ada nih bareng gue!"

"Oke, berarti Suzuka, Hina, Hiyori. Manamo?"

Yang dipanggil Manamo baru saja datang, "Kenapa manggil gue?"

"Nah Manamo udah dateng. Sisa siapa lagi sih?"

"Lo kagak diitung nih?" Jawab Suzuka.

"Bener juga. Konoka hadir." Perempuan yang bernama Konoka mencentang namanya sendiri di layar ponselnya, "Sisa berempat lagi ya? Ada kabar ga?"

"Tadi Miku nelpon lagi di jalan." Jawab Suzuka lagi.

"Bareng Nao gak?" Tanya Manamo penasaran.

"Katanya sih barengan. Kenape lo? Masih aje demen sama Nao, inget dah bini orang tuh!" Sahut Hiyori.

"Ye anjir kan nanya doang! Udah lama gak ketemu juga!" Jawab Manamo sewot.

"Hello guys!! I'm here~"

"Wey Akari! Kemana aja lo?!!! Kangen banget njir!" Suzuka menyambut perempuan yang bernama Akari dengan pelukan erat.

"Biasa, wanita karir. Sibuk cuy."

"Lo ada kabar soal Miho gak?" Tanya Konoka kepada Akari.

"Katanya sih ikut, mumpung lagi pulang ke sini. Bilang kangen anak-anak, sama gak enak juga tiap kita reuni dia gak pernah ikut. Tapi tadi gue tanya dimana chat gue gak dibales."

"Eh Miho apa kabarnya? Aku gak pernah denger kabar dia soalnya." Hina ikut bersuara kali ini.

"Buset Hina saking lo bucin terus sama Hiyori sampe gatau Miho gimana."

"Hina mana pernah ngulik begituan, lagian pentingan bucin sama gue kali!" Jawab Hiyori, "Dia baik-baik aja kok sayang. Muka dia lewat terus di internet, pameran sana sini."

Akari dan Suzuka lantas memperagakan orang yang sedang mual, "Hueeeeek. Gila ni kita ngontrak doang ya." Pernyataan Suzuka tentu dibalas anggukan oleh Akari.

"Tuh mereka berdua datang." Ujar Hina melihat Nao dan Miku datang.

"Eh Nao Miku! Sini-sini, masih ada kursi kosong!" Teriak Manamo sedikit kegirangan. Lalu, Nao dan Miku duduk dekat Manamo.

"Tinggal seorang lagi nih."

"Hah siapa?" Tanya Miku.

"Miho anjir!" Jawab Akari.

"Dia balik?"

"Iya."

"Tumben tuh bocah balik. Biasanya kita tiap reunian dia selalu bilang gak bisa. Lagi di negara ini lah, di negara itu lah." Jawab Miku.

"Sahabatnya kok gak update sih. Lebih tauan Akari daripada lo." Sahut Suzuka.

"Temen deket gak harus terus hubungan lah. Sama-sama paham sibuk sama kehidupan masing-masing." Miku mengendikkan bahunya.

"Iya deh si paling sibuk sedunia." Jawab Suzuka asal.

"INI DIA SUPERSTAR DATANG!" Teriak Akari.

 

Kedatangan Miho disambut dengan tepuk tangan berdiri setengah meledek dari teman-temannya. Kecuali Nao dan Hina yang diam menyimak saja.

 

"Gitu deh, kalo bintang tamu datengnya paling akhir." Ujar Miku sambil menuju Miho, lalu memeluk Miho. "Apa kabar?"

Miho membalas pelukan Miku, "Gue baik-baik aja. Selamat ya Miku."

 

Acara bertajuk reunian itu dimulai setelah Miho duduk di tempatnya. Diawali dengan pembukaan oleh Konoka, berterima kasih kepada semua yang hadir, terutama Miho yang baru sekali saja menghadiri reunian yang diadakan setahun sekali itu. Kemudian sepatah dua patah kata dari Miho, meminta maaf karena baru hadir, dan juga membagikan oleh-oleh dari London. Tentu saja teman-temannya senang dibawakan banyak oleh-oleh, namun Miho menatap satu orang yang tidak terlalu antusias dengan apa yang berada di hadapannya.

 

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan-makan dan berbincang santai yang berubah menjadi pesta karaoke karena tempat yang Konoka sewa dilengkapi dengan alat karaoke. Dari mulai duet Konoka dan Suzuka, sampai adu rap asal-asalan antara Suzuka dan Hiyori yang membuat suasana semakin meriah. Miho merindukan suasana seperti ini, kala mereka masih berkuliah dulu, kala mereka masih kekanak-kanakan.

 

"Kangen 'kan lo?" Bisik Akari kepada Miho.

"Kangen. Asli nih tiap tahun begini terus?"

"Asli. Tapi kagak bosen walaupun ya begini-begini aja, lagian kumpul cuma setahun sekali."

"Masih nyebat gak lo Akari? Gue mau nyebat nih."

"Udah berhenti gue. Lo aja."

"Yaudah, keluar dulu gue."

 

Menghembuskan asap rokok putih di balkon yang hanya ada dia saja. Melihat pemandangan malam dengan hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang, memberikan perasaan yang familiar namun asing bagi Miho. Mungkin ia berpikir ia sudah terlalu lama meninggalkan kota ini. Atau mungkin bisa ia sebut dengan melarikan diri?

 

Efek sentimentil yang dirasakan Miho, ia memotret apa yang berada di hadapannya dengan kamera analog yang terlihat usang namun masih berfungsi dengan baik.

 

"Masih aja merokok. Kurang-kurangin lah."

 

Miho menoleh ke arah asal suara tersebut.

 

"Ini aku udah kurang-kurangin kok, Nao."

 

Nao berjalan mendekati Miho dan Miho seketika mematikan rokoknya. Berdiri bersampingan, yang bersuara hanyalah riuh manusia dan semilir angin malam. Tentunya mengusik pikiran mereka masing-masing.

 

"Kamu... Apa kabar?" Kali ini Nao yang bersuara.

"Aku ya gini-gini aja hahahah." Jawab Miho dengan tawaan hambar canggungnya, "Kamu gimana? Oh iya, aku belum ngucapin selamat buat kamu." Miho menepuk dahinya lalu dengan tersenyum mengulurkan tangannya kepada Nao, "Selamat atas pernikahan kamu sama Miku. Maaf baru ngucapin sekarang."

Nao menyambut uluran tangan tersebut dengan tersenyum, "Makasih Miho. Gapapa telat daripada gak ngucapin 'kan?"

"Iya hehehehe. Tapi, how's marriage life? Penasaran."

"Ya gitu deh, agak shock walaupun udah lama bareng tapi pas satu rumah keluar semua deh hal-hal yang aku gatau selama pacaran."

"Tahan-tahan aja sama dia tuh Nao. Tapi, aku jamin Miku gak akan nyakitin kamu. Aku bersyukur Miku yang nikah sama kamu."

"Iya, Miku baik banget sama aku. Kadang aku ngerasa gak pantes sama dia tuh."

"Aku paham. Dengan kebaikan yang Miku punya, kadang aku juga merasa gak pantes jadi temennya dia. Kadang merasa bersalah juga."

"Perasaan bersalah itu juga yang bikin kamu pergi dari sini?"

 

Miho terdiam mendengar pertanyaan dari Nao. Miho pikir, apa yang harus dijawab dari pertanyaan itu. Toh jika dijawab pun tidak akan mengubah keadaan. Sia-sia.

 

"Apa kamu pernah merindukan aku? Sedikit saja Miho?"

"Apa aku berhak merindukan kamu, Nao?"

"Aku merindukanmu."

"Nao, jangan pernah bilang gitu lagi." Miho menghembuskan nafas kasar, "Aku mohon."

"Tolonglah sedikit memikirkan perasaanku, Miho..."

 

Keduanya kembali terdiam cukup lama. Walau tidak dijelaskan secara gamblang, dua orang itu paham. Miho merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan selembar foto untuk Nao.

 

"Ini foto hampir 8 tahun yang lalu. Kok masih ada?"

"Aku kemarin beres-beres apartemen nemu foto itu. Foto terbagus yang aku ambil di tahun itu. Itung-itung hadiah dari aku."

"Makasih Miho." Ucap Nao sambil melihat selembar foto tersebut. Dirinya pada awal umur 20-an.

"Kamu mau masuk atau masih mau di sini? Aku mau masuk soalnya."

"Ayo masuk."

 

Keduanya masuk dan kembali ke tempatnya masing-masing secara senyap. Tidak ada yang menyadari karena saat itu Hiyori sedang bercerita. Entah cerita apa, yang Miho maupun Nao sama-sama tidak mendengar, tidak peduli akan hal itu.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Reunian itu berakhir.

 

"Balik sama siapa lo?" Tanya Suzuka kepada Akari.

"Balik sama Miho aja. Searah juga." Jawab Akari.

"Eh gue nebeng sama lo!" Seru Manamo kepada Suzuka.

"Oke sip. Bareng Konoka juga."

"Yaudah, yok balik Miho. Gue aja yang nyetir." Ajak Akari kepada Miho.

"Bentar dulu." Jawab Miho sambil menuju Miku dan Nao yang bersiap masuk mobil. "Woy bro!" Seru Miho kepada Miku. Miho kembali memeluk Miku, tentu saja Miku membalas pelukan erat Miho.

"Lo kapan pergi lagi?"

"Lusa, Mik."

"Anjir cepet banget. Yaudah deh take care, Miho."

"Take care juga Mik. Udah punya bini jagain lah. Ya 'kan Nao?" Yang ditanya hanya senyum yang sulit diartikan.

"Ya pasti lah! Gila aja lo! Hahahahaha." Jawab Miku sambil memukul pelan bahu Miho.

"Yaudah gue balik dulu, kasian supir nunggu."

"Akari disebut supir hahahahaha, suruh pelan-pelan dia. Kadang slengean bawa mobil."

"Paham gue paham hahahaha. Nao, gue balik ya? Eh Miku gue boleh meluk Nao gak?" Tanya Miho.

"Boleh-boleh peluk aja, 'kan Nao juga temen lo gimana sih." Jawab Miku.

Miho memeluk sembari membisikkan sesuatu membisikkan sesuatu. Nao membalas pelukan singkat itu, "Iya Miho, hati-hati." Jawab Nao pelan.

 

Miho kembali menuju mobilnya dan duduk di sebelah Akari. Ketika Akari akan menjalankan mobilnya, Miho menahannya.

 

"Jangan dulu. Biar yang lain duluan."

 

Teman-temannya sudah membubarkan diri, begitu pula mobil yang berisi Miku dan Nao yang baru saja melewati mobil Miho. Sudah cukup sampai di sini.

 

"Jalan." Titah Miho sambil terisak. Akari terkejut mendengar isakan Miho, namun ia paham, jadi ia tidak ingin bertanya lebih lanjut.

Hari sudah berganti, jalanan tidak terlalu ramai. Miho masih menangis, entah sampai kapan.