Actions

Work Header

Naamon and Gusion

Summary:

Tanda dari Natan di leher Aamon kok dihapus Gusion seenaknya, sih?

Notes:

Hehe ini iseng aja si. Bahasanya juga kaku tapi aku harap aku ga didemo HEHEHEHHE. Disini Aamon jadi bottom ya, soalnya aku suka tampil beda. Hehe. Byebye

Chapter 1: Mark

Chapter Text

Natan duduk di meja makan sambil membaca berita di tab miliknya. Kaca matanya yang sempat turun itu ia naikkan kembali ke posisi semula.

"Nih." Secangkir teh diletakkan Aamon di meja, tepat didepan Natan. Natan menatap cangkirnya lalu tersenyum pada Aamon.

"Terima kasih." Ujarnya singkat. "Hn."

Natan segera menyesap tehnya selagi masi hangat. Matanya menatap Aamon yang kembali ke dapur, menyiapkan sarapan pagi.

Menyenangkan rasanya melihat orang terkasih menyiapkan makan untuk dirimu. Apalagi menurut Natan masakan Aamon itu memanjakan lidah.

Sudah terhitung dua bulan mungkin sejak pertama kali Aamon menyetujui ajakannya untuk tinggal bersama.

Aamon memang terlihat galak dan cuek. Namun ia tetap sayang kok dengan Natan. Buktinya dia menyempatkan diri menyiapkan sarapan juga bekal buat Natan.

Tapi Aamon itu terhitung kuat sih. Hampir semuanya ia lakukan sendiri. Sampai - sampai Natan capek sendiri melihatnya tidak bisa diam barangkali semenit pun. Jadwalnya dari Senin hingga Sabtu saja padat.

Natan juga sebenarnya orang yang terhitung sibuk. Terkadang ia tak pulang ke apartemennya karena penelitian yang ia teliti belum selesai.

Di saat itulah Aamon juga menyempatkan diri membawakan Natan bekal. Mengantarnya ke tempat penelitian yang berujung dititipkan ke petugas keamanan karena terbatasnya orang yang dapat masuk ke area penelitian.

Hingga akhirnya kemarin keduanya dapat waktu luang yang tentunya dipakai ya-untuk... Mendekatkan satu sama lain(?)

Hahaha...

Malam yang indah.

Natan tersenyum bangga menatap 'lukisan' yang ia ciptakan di leher Aamon. Jumlahnya memang tak banyak, hanya dua. Tapi jelas terlihat di kulitnya yang pucat.

"Kaak..." Rambut coklat itu tiba-tiba muncul di sebelah Aamon yang sedang memasak.

Alis Natan segera menekuk kesal. Ia lupa salah satu syarat dari setujunya Aamon tinggal di apartemen Natan adalah dengan mengizinkan adik kecilnya ikut tinggal bersama.

Seminggu kemarin dia ada acara wisata sekolah. Namun mungkin dia baru balik kemarin sore dan langsung tertidur di kamarnya.

Tangan Aamon menepuk pelan kepala adiknya. "Kenapa?"

"Punya Gusion jangan pedes, ya. Tenggorokan Gusion sakit." Pesannya.

"Iya." Aamon kembali memasak.

Aamon memang sangat lembut ke adiknya. Bahkan menurut Natan terlalu lembut sampai adiknya itu sangat bergantungan dengan kakaknya dan terlalu manja!

"Cih." Natan berdecak kesal kembali membaca berita di tab.

Gusion yang menyadari kekesalan Natan segera tersenyum licik.

Kembali menoleh ke Aamon. Tapi alangkah terkejutnya ketika dia melihat bercak merah di leher kakaknya.

"Kak! Kamu di gigit apa?"

"Oh itu..."

Aamon melirik Natan yang tersenyum miring sendiri.

'Bajingan, sudah ku bilang jangan ditempat yang mudah dilihat!' batin Aamon menatap Natan yang pura - pura tidak mendengar apapun.

"Itu ... Serangga."

"Oh." Gusion tau sebenarnya kalau itu cupang dari kekasih kakaknya. Gusion melirik Natan yang tersenyum miring kepadanya.

Gusion menekuk alisnya tak suka.

"Sebentar." Gusion kembali ke kamarnya, mengambil foundation.  "Pakai ini aja, biar ketutup. Kakak nanti kan kerja." Katanya sambil mengoleskan cairan padat itu ke leher Aamon.

Sepasang tangan melingkar di pinggang Aamon. Menariknya dari Gusion.

"Sayang, kok ditutupin?" Aamon menatap  Natan yang cemberut.

"Kamu tuh yang gigit gigit kakak sembarangan! Malu-maluin kakak aja."

Aamon yang mendengarnya malu. Jadi adiknya sudah tau kalau itu cupang dari Natan?

"Loh? Aamon kan emang pacar aku. Suka-suka akulah."

"Aku adiknya!"

"Teru-" "Sudah-sudah! Kamu juga kan udah aku bilang jangan bikin cupang di tempat yang keliatan." Aamon berbisik ke Natan.

"Hehe... Yang disitu enak."

Aamon menatap Natan kesal sembari melepaskan pelukan Natan.

"Lanjutkan." Titahnya ke Gusion.

"Wlee..." Gusion menjulurkan lidahnya, meledek Natan. Jemarinya kembali mengoleskan foundation kemudian meratakannya. Aamon membiarkan adiknya berbuat sesukanya selagi ia memasak.

Natan cemberut, Aamon memang sering lebih memilih Gusion ketimbang dirinya. Atau mungkin Gusion adalah nomor 1 di hati Aamon dibanding segalanya sebagai seorang kakak.

Sudah seharusnya Natan mengerti dan memaklumi itu. Tapi sebagai kekasih tentu kadang cemburu tetaplah muncul.

"Sudah!"

Benar saja, cupangan yang Natan buat dengan susah payah hilang tertutupi make-up.

'Padahal buatnya susah...' batinnya.

Karena Aamon sendiri tidak suka di tandai jadi ia harus curi-curi waktu dimana Aamon lengah.

"Hm... Makasih."

Melihat Natan yang sedari tadi diam, Aamon jadi khawatir juga.

"Sebentar doang, kok. Untuk kerja."  Dikecupnya singkat pipi Natan.

Natan yang menganggapnya sebagai undangan segera balas mencium Aamon tepat di bibirnya. Mengulum bibir Aamon sensual.

Aamon tidak membalas juga menolaknya. Menerima ciuman Natan dengan suka hati.

Sebelum-

"Ekhem."

-suara orang ketiga keluar. Menyadarkan Aamon kalau masih ada adik kecilnya di dapur.

"Mm... Lepa-" Aamon mendorong Natan menjauh. Tapi tangan Natan malah melingkar di pinggang Aamon, menariknya lebih dekat untuk memperdalam ciuman mereka.

Mata Natan terbuka menatap Gusion yang kesal. Mukanya terlihat bangga yang mana semakin membuat Gusion kesal.

Dirasanya cubitan keras di lengan Natan.

"Aduh." Natan melonggarkan pelukannya yang langsung digunakan Aamon untuk keluar dari pelukan Natan.

Nafasnya naik turun. Ujung daun telinganya itu memerah. Menandakan ia malu.

"Kok dicubit si?" Protes Natan. "Kan sudah aku bilang lepas! Masakannya hangus nanti." Ujar Aamon kesal.

"Maaf."

Aamon ngambek, mengabaikan Natan. Kembali sibuk dengan acara masaknya. "Ambilkan piring." Gusion segera mengambil dua piring dari rak.

"Tiga, Gusion."

Gusion menggerutu, menambahkan satu piring di tangannya.

Aamon segera membagi rata masakannya di ketiga piring. Memberi satu piring ke Gusion. "Nih, tidak pedas. Sana makan." Titahnya.

"Oke!" Gusion segera membawa piringnya ke meja makan. Meninggalkan kakaknya berdua di dapur.

"Maafin dong." Natan kembali memeluk Aamon dari belakang. "Kamu tuh harusnya lebih berhati-hati." Kata Aamon.

"Tapi kan kamu juga suka."

Aamon segera mencubit tangan Natan. "Aduh, kok jadi main cubit-cubitan sih?" Protes Natan.

"Habisnya kamu." Natan melihat ujung telinga Aamon yang memerah. Sudah rahasia umum kalau itu menandakan Aamon sedang malu.

Natan jadi gemes.

"Pokoknya aku ga mau ya kamu gitu lagi di depan Gusion."

"Kenapa?"

"Gusion tuh masih kecil!"

"Kecil apanya? Dia sudah SMA kelas tiga loh, Aamon. Dikit lagi kuliah." Natan mengingatkan.

"Tetap saja kalau belum kerja dia tuh masih remaja." Sulit memang memberitahu seorang kakak yang terlalu sayang dengan adiknya.

"Ya sudah aku minta maaf ya?" Di putarnya tubuh Aamon yang kini menatapnya balik.

"Ya." Jawabnya singkat.

Natan melihat goresan bekas luka di dagu Aamon. Aamon pernah bercerita padanya kalau luka itu disebabkan Gusion yang ingin menunjukan aksi akrobat dengan pisaunya sewaktu mereka kecil.

Yang sayangnya gagal dan mengenai dagu Aamon.

'Pasti sakit.' batin Natan saat mendengar ceritanya. Secara luka itu meninggalkan bekas yang sangat keliatan, pasti lukanya sangat dalam.

"Curang." Ujar Natan

"Curang?"

"Gusion punya tanda permanen di wajahmu tapi tidak pernah kau tutupi. Sedangkan punya aku di leher saja ditutupi."

"Ini luka, Natan. Beda."

"Lagian kan kamu punya tanda di tempat yang hanya kita ketahui." Lanjutnya.

"Ayo makan." Aamon segera membawa kedua piringnya ke meja makan, meninggalkan Natan.

"Oh." Natan baru sadar apa yang dimaksud dengan perkataan Aamon.

Terkekeh pelan.

"Ya, tempat yang hanya kita ketahui."

Ia sempat melihat telinga Aamon yang memerah.