Work Text:
"Kalau begitu, aku permisi" ucap seseorang dengan sopan.
"Hoh? Baiklah, terima kasih" balas Jibeom kepada pria yang baru saja dia temui.
Jibeom melanjutkan langkahnya, mengikuti arah yang ditunjukkan pria tadi. Ruang Kepala Sekolah, akhirnya Jibeom sampai ditujuan. Setelah kepala sekolah menyebutkan kelasnya, Jibeom meminta izin untuk ke kelas lalu membungkuk sopan.
.
Bel istirahat pertama berbunyi, bertepatan dengan munculnya Joochan, sahabat Jibeom di depan pintu kelas.
"Aku tidak percaya kau benar-benar pindah kesini" kata Joochan duduk disebelahnya.
"Lebih cepat dari perkiraanku" jawab Jibeom.
"Ayo ke kantin, aku lapar" ucap Joochan lalu berjalan meninggalkan kelas Jibeom.
Jibeom mengikuti Joochan keluar kelas, namun sosok pria yang sedang tertidur diujung kelas menarik perhatiannya, Jibeom merasa mengenali rambut coklat yang sedikit keriting itu.
"Ayoo cepat!!" teriak Joochan menghentikannya, Jibeom segera menyusul Joochan.
Jibeom dan Joochan menikmati makan siang mereka dengan tenang walaupun suasana kantin lumayan ramai.
Jibeom kembali melihat punggung seorang pria yang tadi dia lihat dikelas, kali ini dia melihat wajahnya. Itu dia, orang yang tadi pagi memberitahunya dimana letak ruang kepala sekolah.
"Apa kita sekelas?" batin Jibeom bertanya. Matanya terus mengikuti pergerakan yang dilakukan pria itu, mulai dari mengambil dua buah roti dan satu buah susu, lalu membayarnya.
"Apa yang kau liat? Bong Jaehyun?" tanya Joochan menghentikan kegiatannya.
"Namanya Bong? Bong Jaehyun?" Jibeom baru pertama kali mendengar seseorang dengan marga Bong.
"Reaksiku sama sepertimu saat pertama kali mendengar marganya" Joochan tertawa kecil melihat reaksi Jibeom.
"Dia sedikit misterius, tidak banyak bicara dengan yang lain, lebih suka sendirian tapi anehnya dia punya pacar" Joochan sedikit menurunkan volume suaranya.
"Sangat kebalikan darimu" ejek Jibeom.
.
Setelah beberapa hari Jibeom sekolah disini, dia tidak sengaja selalu memperhatikan Jaehyun setiap harinya. Apa yang dikatakan Joochan memang benar, Jaehyun lebih sering terlihat sendirian, hanya sesekali mengobrol dengan yang lain dikelas. Seperti semua orang tau dengan sikapnya, tidak ada yang benar-benar mengganggu Jaehyun.
Entah ini kebetulan atau keberuntungan, Jibeom sekarang duduk disebelah Jaehyun, mereka bergabung dalam satu kelompok untuk satu mata pelajaran dan ada dua anggota lainnya yang bergabung dengan mereka, Seungmin dan Donghyun.
"Kita mengerjakan ini dirumah siapa?" tanya Seungmin.
"Rumahmu bagaimana?" Jibeom tiba-tiba bertanya kepada Jaehyun.
"Aku tidak bisa" jawab Jaehyun singkat, akhirnya mata rusa itu menatap Jibeom. Jibeom melihat ada yang aneh dengan wajah Jaehyun, pelipisnya sedikit bengkak dan seperti ada bekas luka kecil, Jibeom ingin bertanya tapi Donghyun menghentikannya.
"Ya Jibeom-ah, bagaimana jika rumahmu saja, karena kau anak baru jadi kita bisa menjadi lebih akrab" sanggah Donghyun sambil memberikan tatapan yang sulit dia pahami. Pada akhirnya Jibeom setuju dirumahnya.
Saat jalan pulang, Jibeom melihat Jaehyun berjalan dengan seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya, mereka terlihat cukup dekat. "Apa itu pacarnya?" tanya batin Jibeom.
Jibeom berhenti melangkah begitu Jaehyun menoleh ke belakang, ke arahnya, diikuti oleh laki-laki disebelah Jaehyun. Hanya sebentar karena mereka kembali berbalik badan.
'Tunguu!! Apa mereka membicarakanku?' Mungkin saja, tapi apa yang mereka bicarakan?'
. . .
"Kau bagaimana Jaehyun? Ikut bersama kami atau menyusul?" Hari ini mereka akan mengerjakan tugas kelompok dirumah Jibeom.
"Aku ikut dengan kalian" jawab Jaehyun.
"Benarkah?!" Seungmin dan Donghyun satu suara.
"Kenapa reaksi kalian berlebihan?" tanya Jibeom heran.
"Tidak ada, ayo jalan!"
Setelah menaiki bus sekitar dua puluh menit, mereka sampai dirumah Jibeom.
"Ayoo masuk" ajak Jibeom kepada teman-temannya.
Mereka bertemu dengan Ibu Jibeom, memberi salam dan kemudian mengikuti Jibeom menuju kamarnya.
"Aku sudah membaginya, kalian bisa mengerjakannya dulu" ucap Donghyun memberikan beberapa materi yang harus dikerjakan.
Mereka mulai sibuk mengerjakan bagian masing-masing, tapi Jibeom salah fokus, dia malah memperhatikan Jaehyun lalu berganti menatap bekas luka di lengan kiri Jaehyun. 'Mengapa pria ini selalu memiliki bekas luka? Apa dia bertengkar?' Jibeom begitu penasaran, tapi dia rasa mereka belum dekat untuk bisa menanyakan itu kepada Jaehyun.
Pernah suatu hari saat Jibeom datang lebih awal karena jadwal piketnya, Jibeom melihat Jaehyun berdiri di depan pintu kelas dengan wajah yang sedikit ditekuk, berjalan melewatinya begitu saja. Ada yang aneh, fikir Jibeom.
Jaehyun sadar saat ini Jibeom memperhatikannya, bahkan dia sudah melihat hal yang sama beberapa hari yang lalu, dimanapun mereka dia selalu menemukan Jibeom menatapnya.
Waktu terus berlalu dan hari mulai gelap, banyak sampah makanan ringan berserakan disekitar mereka dan satu persatu dari mereka mulai merengganggkan otot yang terasa kaku.
"Aku fikir cukup sampai disini" kata Donghyun sambil melepaskan kaca matanya, yang lain menggangguk tanda setuju.
"Baiklah, biar aku antar kedepan" ucap Jibeom si tuan rumah.
Seungmin dan Donghyun sudah meninggalkan rumah Jibeom, kini hanya tersisa Jibeom dan Jaehyun yang canggung.
"Kau menunggu seseorang?" Jibeom memecahkan keheningan diantara mereka.
Jaehyun menoleh, "Youngtaek" jawabnya.
'Siapa Youngtaek?' 'Apa pria yang kemarin ia lihat? Pacar Jaehyun?' Jibeom kembali penasaran.
"Tanganmu baik-baik saja?" Setelah beberapa menit, akhirnya Jibeom berani menanyakannya.
Dahi Jaehyun berkerut, tapi beberapa detik kemudian dia mengerti maksud dari pertanyaan Jibeom.
"Kau bertanya lebih cepat dari perkiraanku" jawaban Jaehyun sangat tidak terduga.
"Apa begitu jelas?" Jibeom salah tingkah, dia tertangkap.
"Sangat jelas" jawab Jaehyun.
"Jadi? Bagaimana?" Jibeom kembali bertanya.
Sebelum Jaehyun menjawab, seorang pria yang Jibeom yakini bernama Youngtaek berdiri didepan pagar rumahnya. Setelah pandangan mereka bertemu, pria itu masuk dan menarik Jaehyun kesisinya.
"Ayooo!" kata Youngtaek yang lebih terdengar seperti perintah.
"Jibeom-ah aku pamit" ucap Jaehyun pelan sebelum mengikuti Youngtaek didepannya.
"Baiklah, hati-hati" jawabnya.
Jibeom memperhatikan mereka sampai keduanya menghilang dari pandangannya. Jujur, Jibeom tidak menyukai pria yang bernama Youngtaek itu. Selain arogan, dia juga terlihat tidak sopan. Bahkan dia tidak membungkuk atau menyapa saat pandangan mereka bertemu. Terlebih lagi, saat pria itu menatap tajam Jaehyun dan menyuruhnya pulang saat mereka sedang berbicara.
Besoknya, Jibeom kembali melihat Youngtaek berbicara dengan nada dingin saat berbicara dengan Jaehyun, sedangkan Jaehyun hanya sesekali membalas ucapan Youngtaek.
'Benarkah mereka berpacaran?' Jibeom kembali merasakan ada yang aneh dengan mereka.
Dan disinilah Jibeom sekarang, mengikuti Jaehyun secara diam-diam sejak mereka berada disekolah. Saat Jibeom tahu Jaehyun pulang sendirian hari ini, dia langsung memutuskan untuk mengikuti pria itu.
Jibeom mengikuti kemana saja Jaehyun pergi, mulai dari toko roti, apotek dan supermarket. Begitu mereka mulai memasuki perumahan, Jibeom lebih berhati-hati, tidak lama setelah itu Jaehyun membuka pagar berwarna putih dan masuk kedalamnya, itu pasti rumahnya. Jibeom merasa konyol, apa yang akan dia lakukan setelah ini? Namun sebelum dia sempat memikirkannya, Jibeom dikejutkan dengan kehadiran Youngtaek didepan rumah Jaehyun.
"Apa yang dilakukannya disini?" tanya Jibeom sendirian. "Kau bodoh Kim Jibeom, dia pacarnya tentu saja itu hal yang biasa jika dia berkunjung" Jibeom memilih untuk pulang, tapi dia masih bingung kenapa dia mengikuti Jaehyun.
Hari-hari berikutnya Jibeom mulai berbicara dengan Jaehyun, tapi Jaehyun selalu mencoba untuk mengabaikannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" kata Jibeom, saat ini sedang istirahat jadi kelas mereka sepi.
"Kenapa aku harus menjawabmu?" jawab Jaehyun enggan. Apa yang membuat Kim Jibeom begitu penasaran dengan urusannya. "Apa kau tidak ke kantin? Mengapa masih disini?" ucapan Jaehyun lebih terdengar seperti mengusir Jibeom.
"Kalau begitu ayo kita ke kantin" Jibeom menarik tangan Jaehyun untuk mengikutinya, tapi Jaehyun menahannya.
"Aku punya roti dan minuman disini" Jibeom baru menyadari jika di meja Jaehyun sudah ada beberapa makanan.
Akhirnya Jibeom menyerah, ia berjalan sendiri menuju kantin. Jibeom berpapasan dengan Youngtaek saat didepan pintu kelas, Youngtaek menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan Jibeom.
Jibeom berjalan kembali ke kelas setelah mengisi perut kosongnya, dia sendirian karena Joochan meninggalkannya, katanya ada urusan yang harus dikerjakan.
Langkah Jibeom terhenti saat mendengar suara yang berasal dari ruangan disampingnya.
"Aku sudah bilang padamu tidak berbicara dengan orang lain, tapi kenapa kau tidak mendengarkanku?" Jibeom merasa seperti mengenal suara itu.
"Kau sudah berubah fikiran? Kau ingin mereka tau yang sebenarnya?" Jibeom mengintip kedalam dan menemukan Jaehyun yang sedang menunduk didepan Youngtaek.
"Jawab Bong Jaehyun!!" Youngtaek berteriak marah. " Kau sudah tidak ingin tinggal dirumahku lagi?" Jibeom tahu tidak seharusnya dia menguping, tapi dia sudah terlanjur mendengarnya.
'Tapi tunggu!! Dirumah? Jadi itu bukan rumah Jaehyun?'
"Apa kau akan mengusirku lagi? Kalau begitu baik, hentikan sandiwaramu Son Youngtaek!! Biarkan aku pergi" Jaehyun sedikit berteriak. Jibeom sangat terkejut, ini pertama kalinya dia mendengar Jaehyun berteriak, tapi dia lebih terkejut ketika Youngtaek menampar Jaehyun, ingin rasanya Jibeom masuk dan memberikan pukulan ke wajah Youngtaek.
"Tidak akan! Kau pantas menerimanya" ucap Youngtaek, kemudian pria itu berjalan keluar dari ruang kosong tersebut, Jibeom segera bersembunyi agar tidak ketahuan, kemudian Jaehyun juga keluar dari ruangan, berjalan seperti biasa seakan-akan tidak ada yang terjadi, tapi Jibeom bisa melihat pipinya yang memerah karena tamparan yang lumayan keras.
.
"Apa? Aku tahu beberapa orang bergosip betapa dinginnya sikap Son Youngtaek, tapi aku tidak menyangka dia juga kasar" ucap Joochan setelah mendengar cerita Jibeom, Jibeom hanya menceritakan Youngtaek dan Jaehyun bertengkar lalu Youngtaek menampar pacarnya.
"Apa menurutmu mereka benar-benar pacaran?" Jibeom bertanya dengan ragu.
"Kenapa kau begitu penasaran dengan Jaehyun? Kau menyukainya?" Joochan bertanya tanpa basa-basi.
Jibeom tidak menjawab dan Joochan mengerti apa artinya. Jibeom awalnya tidak yakin, tapi semakin dia penarasan semakin dia yakin tentang perasaannya, dia selalu khawatir, selalu memperhatikan dan mengikuti Jaehyun dan ingin tau semua permasalahan pria itu.
"Jika benar, kau harus bersiap patah hati. Maksudku, pertengkaran didalam huhungan itu hal yang wajar, apalagi aku sudah melihat mereka bersama sejak tahun pertama, oleh sebab itu semua orang yakin mereka berpacaran karena Youngtaek selalu mengikat Jaehyun. Tapi ada satu hal yang paling aku ingat" Joochan menggantung kalimatnya.
"Jaehyun pernah datang ke sekolah dengan luka lebam di wajahnya, pria itu juga sering memakai jaket ke sekolah, aku rasa ia mencoba menutupi luka lainnya setiap memakai jaket. Mungkin tidak banyak yang menyadarinya karena pria itu sangat tertutup" penjelasan Joochan semakin membuat Jibeom yakin dengan firasatnya, tapi dia tidak ingin menceritakannya kepada Joochan, akan lebih baik untuk disimpan sendiri.
.
Hari ini Jaehyun tidak sekolah, dia tidak bisa. Semua luka ditubuhnya begitu banyak, jaket bisa menutupi luka dibadannya tetapi tidak dengan wajahnya. Sudut bibirnya bengkak dan berdarah, pelipisnya kembali terluka, bahkan tenaga untuk berdiri saja dia tidak punya.
Apa yang terjadi tadi malam adalah yang terburuk, Youngtaek kembali melampiaskan amarahnya ke Jaehyun. Ibu Youngtaek adalah adik dari ibu Jaehyun dan Youngtaek adalah sepupunya, bukan pacarnya. Jaehyun tinggal dirumah ini karena kedua orang tuanya sudah meninggal, yang menjadi alasan kenapa bibi dan sepupunya begitu membencinya. Ibu Youngtaek mengalami gangguan kejiwaan begitu mengetahui kakak satu-satunya telah pergi untuk selamanya tepat setahun setelah suaminya meninggal.
Orang tua Jaehyun meninggal saat mereka mencoba untuk menyelamatkan Jaehyun dari kecelakaan besar, mereka terjebak di dalam mobil, ibu dan ayahnya mencoba untuk mengeluarkan Jaehyun yang terjepit di jok belakang, setelah berhasil Jaehyun langsung digendong petugas yang mencoba membantu mereka, tapi sebelum petugas bisa menyelamatkan kedua orang-tuanya, mobil itu meledak, Jaehyun menangis begitu keras melihat pemandangan didepannya walaupun ia sendiri penuh luka.
Menjadi satu-satunya yang selamat bukanlah sebuah keberuntungan bagi keluarganya, terutama ibu Youngtaek. Dia mulai berteriak dan menjadi tidak terkendali setiap melihat Jaehyun yang sangat mirip dengan kakaknya, Youngtaek yang melihat ibunya menjadi seperti itu juga mulai menyalahkan Jaehyun. Ayah Jaehyun tidak punya keluarga lain, sehingga Jaehyun dibiarkan tinggal dengan ibu Youngtaek. Semakin lama dia tinggal dirumah ini keadaan semakin kacau, Youngtaek membiarkan Jaehyun untuk mengurus ibunya karena ini semua adalah salahnya, ibu Youngtaek tidak terkendali, dia sering melemparkan barang-barang disekitarnya, tidak sedikit yang dilempar ditujukan ke arah Jaehyun ketika pria itu mencoba untuk menghentikannya.
Seperti tadi malam, Jaehyun lupa waktu ketika sibuk mengerjakan tugas sekolahnya yang lumayan banyak.
"Kau belum memberi makan ibuku?!" Youngtaek berteriak marah ketika dia pulang, Jaehyun langsung meminta maaf.
"Maafkan aku lupa, aku akan segera memberinya makan" jawab Jaehyun panik.
"Tidak perlu, kau memang tidak berguna" Youngtaek mendekat, lalu menampar keras pipi Jaehyun sebelum mendorongnya kebelakang dan Jaehyun menambrak lemari dibelakangnya, mengakibatkan beberapa barang jatuh dan menimpa kepala serta tubuhnya. Itu bukan lemari buku, melainkan lemari barang-barang antik yang sebagian dari mereka terbuat dari kaca. Jaehyun terduduk lemah, ini menyakitkan baginya.
"Bangun! Aku tidak menyuruhmu untuk duduk disana dan bereskan semuanya" ucap Youngtaek sebelum membawa ibunya ke kamar.
Jaehyun sudah mengalami ini selama beberapa tahun terakhir, tapi tidak pernah seburuk ini, biasanya Youngtaek hanya menamparnya atau berteriak keras didepannya saat marah, kecuali satu tahun yang lalu saat dia lupa memberitahu Youngtaek bahwa dia akan pulang terlambat dan membiarkan ibunya sendirian dirumah. Hari dimana Joochan melihat Jaehyun penuh luka besoknya.
Hari ini Jaehyun sendirian dirumah karena Youngtaek membawa ibunya untuk kontrol kesehatan, rumah sakit jiwa sangat jauh dari lokasinya saat ini, dia yakin itu memakan waktu yang lama.
Dengan sekuat tenaga, Jaehyun bangkit dan merapikan semua barang-barangnya, sejak tadi malam dia tidak bisa tidur karena banyak menangis, memikirkan mengapa hidupnya seperti ini? Kematian orangtuanya bukan kesalahannya, dia bahkan tidak akan pernah menginginkan hal itu.
Jaehyun biasanya tidak menangis, dia jarang menangis karena menurutnya itu percuma, tidak akan ada yang datang untuk bertanya mengapa dia menangis lalu menghiburnya. Menurutnya sudah cukup dia mengorbankan dirinya selama beberapa tahun ini, dia sudah lelah. Jaehyun ingin pergi, dia memutuskan untuk kabur hari ini juga atau kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi. Jaehyun sudah tidak peduli dimana dia akan tinggal. Jaehyun hanya ingin hidup tenang, dia pernah berfikir untuk bunuh diri, mungkin sering. Bahkan saat ini masih difikirannya, tapi ada sesuatu didalam dirinya yang menahan untuk tidak melakukan itu.
Setelah merasa semua barangnya cukup, Jaehyun menutupi wajahnya dengan masker dan tentu saja memakai jaket besar untuk menutupi tubuhnya. Untung saat ini kompleknya sepi karena orang-orang banyak yang masih berada disekolah dan bekerja. Jaehyun berjalan menuju halte bus, ia berjalan sambil menunduk agar tidak ada yang mengenalinya.
Saat tiba di halte bus, Jaehyun terkejut melihat seseorang yang dia kenal baru saja turun dari bus dan orang itu juga terkejut melihat Jaehyun.
Jaehyun mengeratkan pegangannya pada barang bawaannya dan berniat untuk kabur menghindarinya, namun belum sempat dia berlari pria itu sudah menahan tangannya, menarik Jaehyun ketempat yang lebih sepi.
"Apa yang kau lalukan?! Kau ingin pergi kemana?" Pria itu bertanya dengan marah.
Jaehyun tidak menjawab, yang dia fikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk lari.
"Apa yang terjadi?" nada bicara pria itu berubah lembut.
Jaehyun menegakkan kepalanya untuk menatap pria didepannya, tatapan itu sulit Jaehyun artikan, mata itu menunjukkan kekhawatiran. Jaehyun tidak menduga ia akan bertemu dengan Jibeom hari ini, bagaimana Jibeom bisa berada dilingkungan rumahnya.
Jibeom mendekat, melepaskan masker Jaehyun dengan hati-hati seakan akan ia tahu apa yang terjadi dibalik masker tersebut. Jibeom menatap ngeri begitu melihat sudut bibir Jaehyun yang bengkak dan luka, ia sudah menduga hal ini yang terjadi ketika Jaehyun tidak masuk sekolah. Seharian Jibeom tidak bisa fokus selama disekolah, berharap waktu cepat berlalu agar dia bisa pergi menemui Jaehyun untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya.
"Sudah berapa lama ini terjadi?" Jibeom kembali bertanya, tapi Jaehyun masih tidak menjawabnya.
Jibeom tidak bisa berfikir saat ini, melihat Jaehyun seperti ini membuatnya ingin menangis, bagaimana bisa ini terjadi?
Tanpa berfikir panjang, Jibeom mengambil beberapa barang Jaehyun dan membawanya bersamanya.
"Tunggu, apa yang kau lakukan?" Jibeom bisa mendengar suara serak Jaehyun begitu pelan dan tidak bertenaga.
"Ikut aku" Jaehyun tidak membantah dan mengikuti Jibeom disampingnya.
.
Jibeom membawa Jaehyun kerumahnya, awalnya Jaehyun menolak saat Jaehyun sadar kemana Jibeom membawanya, tapi Jibeom tidak mendengarkannya dan memaksa Jaehyun.
Nyonya Kim begitu terkejut begitu melihat anaknya pulang membawa seorang teman dengan beberapa barang bawaan yang tidak banyak tapi cukup membuatnya mengerti bagaimana situasinya. Nyonya Kim mengenali Jaehyun kerena Jaehyun pernah berkunjung sebelumnya, dia mengenali wajah pria cantik di depannya tetapi hari ini wajah cantik itu berubah gelap dan terlihat penuh kesedihan.
Sekarang mereka berada dikamar Jibeom begitu juga dengan ibunya yang terlihat sangat khawatir begitu Jaehyun melepaskan maskernya.
"Aku akan meninggalkan kalian disini, panggil saja aku jika kalian butuh sesuatu" ucap Nyonya Kim seakan mengerti dengan situasinya.
"Terima kasih bu" ucap Jibeom sebelum ibunya keluar dari kamar.
Jibeom kembali menatap Jaehyun yang terdiam ditempatnya, mata itu terlihat sayu dan memiliki beberapa lingkaran hitam yang menandakan dia tidak tidur untuk waktu yang lama.
"Apa kau ingin sendirian?" tanya Jibeom lembut. Jibeom tahu Jaehyun belum ingin bercerita, mungkin dia butuh waktu sendiri.
Jaehyun menggelengkan kepalanya, lalu Jibeom memilih untuk duduk disebelah Jaehyun, tanpa diduga Jaehyun tiba-tiba memeluknya dan beberapa detik kemudian Jibeom mendengar Jaehyun menangis. Jibeom tidak pernah mendengar Jaehyun menangis sebelumnya, tapi dia tahu ini adalah tangisan Jaehyun yang sangat menyakitkan, dia bisa merasakan Jaehyun sudah menahannya untuk waktu yang lama. Jibeom mencoba untuk menenangkannya sambil menepuk pelan punggung Jaehyun, takut mengenai salah satu luka Jaehyun.
Cukup lama mereka berpelukan, Jibeom bisa merasakan jantungnya tidak berdetak dengan normal dari tadi. Tangisan Jaehyun sudah tidak terdengar sejak beberapa menit yang lalu, tapi tidak ada yang berniat untuk melepaskan pelukan.
"Jaehyun-ah" panggil Jibeom pelan.
Jaehyun tidak menjawab, tapi Jibeom menyadari satu hal saat dia merasakan nafas dan dada Jaehyun yang naik turun secara teratur. Jaehyun sudah tidur. Jibeom tersenyum, dia tidak pernah membayangkan Jaehyun tertidur saat memeluknya.
Jibeom memutuskan untuk melepaskan pelukan karena tidak mungkin dia membiarkan Jaehyun tidur seperti ini, Jibeom yakin Jaehyun sangat lelah, dia memutuskan untuk membaringkan Jaehyun secara hati-hati. Meletakkan bantal dibawah kepala Jaehyun dan menyelimutinya.
"Apa dia tidur?" tanya Nyonya Kim begitu melihat Jibeom mendatanginya.
"Aku rasa dia sangat lelah" jawab Jibeom.
"Apa yang terjadi?" Sudah lama dia ingin mengajukan pertanyaan itu, tapi dia menahannya.
"Aku belum tau bu, dia belum memberitahuku" Jibeom terdengar frustasi, Nyonya Kim tahu perasaan anaknya.
"Biarkan saja dia beristirahat dulu, jangan paksa dia untuk bercerita" Jibeom mengangguk patuh.
Hari mulai gelap tapi Jaehyun belum bangun, Jibeom sudah berulang kali ke kamar untuk memeriksa apakah Jaehyun sudah bangun atau masih tidur.
"Lebih baik kamu membangunkannya, Ibu yakin dia belum makan apapun sejak tadi, bawa ini dan bangunkan dia untuk makan" Nyonya Kim memberikan nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Jaehyun.
Jibeom membawa nampan itu ke kamarnya, meletakkannya dimeja kecil disamping tempat tidur.
"Jaehyun-ah kau harus makan" ucap Jibeom sambil menepuk pelan pipi Jaehyun.
Tidak butuh waktu lama, Jaehyun mulai membuka matanya. Mata itu masih terlihat lelah tapi lebih baik dari sebelumnya, Jaehyun langsung bergerak untuk duduk begitu melihat Jibeom.
"Maaf aku tertidur" kata Jaehyun.
"Aku mengerti, tidak perlu merasa cangung anggap saja ini rumahmu" kata-kata Jibeom membangkitkan emosional Jaehyun, pria itu kembali menunduk.
"Kau harus makan, aku sudah membawakannya untukmu" Jibeom memberikan nampan tadi ke Jaehyun.
"Maaf aku merepotkanmu" ucap Jaehyun sangat pelan, untung Jibeom mendengarnya.
"Apa kau lupa? Aku yang memaksamu kesini, jadi kau tidak merepotkanku sama sekali dan berhenti mengucapkan maaf" bantah Jibeom cepat.
Jaehyun mulai memakan makanannya, Jibeom juga masih di kamar namun pria itu duduk di kursi belajarnya sambil mengerjakan tugas sekolah.
Jaehyun selesai makan, dia berniat untuk membawa nampan itu ke bawah, tapi sebelum itu Nyonya Kim sudah berada di pintu kamar Jibeom.
"Senang kamu menghabiskannya nak, kamu perlu energi agar lebih baik, sini biar Ibu yang membawanya ke bawah, kamu istirahat saja. Ibu juga membawakanmu P3K untuk mengobati luka-lukamu" ucap Nyonya Kim sambil tersenyum, lalu menaruh kotak P3K diatas kasur, mengambil nampan Jaehyun dan membawanya kebawah.
"Terima kasih" ucap Jaehyun menahan tangisnya, dia tidak pernah diperlakukan semanis ini selama beberapa tahun terakhir, terlebih Nyonya Kim menyuruhnya untuk memanggilnya Ibu. Jaehyun sangat merindukan orang-tuanya.
"Biar aku bantu" Jibeom mengambil alih P3K ditangan Jaehyun.
Malam semakin larut, tapi Jaehyun masih menatap langit-langit kamar Jibeom. Bagaimana dengan Youngtaek? Apakah sepupunya mencarinya atau justru senang dia tidak ada? Jauh dilubuk hatinya, Jaehyun masih menyayangi keluarga satu-satunya itu.
"Apa kau tidak bisa tidur?" suara Jibeom disebelahnya mengejutkan Jaehyun.
"Apa kau bangun karenaku?" Jaehyun balik bertanya karena tadi dia sudah melihat Jibeom masuk ke alam mimpinya.
"Mungkin" jawab Jibeom, mereka sama-sama menatap langit kamar yang tidak terlalu gelap karena lampu tidur.
Jaehyun tidak bersuara, Jibeom mengalihkan pandangannya ke arah Jaehyun, Jaehyun seperti ingin mengatakan sesuatu tapi wajahnya terlihat ragu.
Beberapa menit kemudian Jaehyun bersuara, dia tiba-tiba menceritakan semua kejadian yang menimpanya, matanya tetap menatap ketempat yang sama tapi bibirnya terus bergerak. Jibeom masih menatap Jaehyun dan mendengarkan ceritanya dengan baik. Begitu Jaehyun selesai bercerita, Jibeom terdiam sedangkan Jaehyun hanya tersenyum pahit.
Jibeom baru pindah kesekolahnya dan menemukan Jaehyun saat dia akan mencari ruang kepala sekolah, lalu mereka sekelas dan sejak saat itu Jaehyun selalu mencuri perhatiannya, Jibeom tidak pernah membayangkan Jaehyun sangat menderita selama ini, dia hanya berfikir sikap acuh Jaehyun hanya karena pria itu anti sosial, namun saat dia menemukan Youngtaek menampar Jaehyun, dia mulai mengerti arti sikap Jaehyun selama ini, dan bagaimana Youngtaek menjadikan Jaehyun seolah-olah pacarnya agar tidak ada yang mendekati Jaehyun dan menjadikannya sendirian untuk selamanya.
Jaehyun terkejut begitu Jibeom mengenggam tangannya seolah-olah mencoba untuk menyemangatinnya, dia reflek menoleh kesisi kanan dimana Jibeom berbaring.
"Bagaimana jika dia mencariku? Youngtaek bahkan tau dimana rumahmu" Jaehyun sadar seharusnya dia kabur ketempat yang jauh.
"Tidurlah, aku yakin besok baik-baik saja" ucap Jibeom sebelum melepaskan tangannya.
.
Ini hari ketiga Jaehyun tidak sekolah, Jibeom dan Ibunya bersikas menyuruh Jaehyun tetap tinggal ketika Jaehyun meminta izin untuk pergi, Jaehyun merasa tidak pantas berada dirumah ini, dia bukan siapa-siapa.
"Kau ingin makan apa untuk makan malam? Apakah ada makanan yang sangat kau sukai?" tanya Nyonya Kim, saat ini Jaehyun sedang membantunya bersih-bersih rumah walau tidak banyak.
"Tidak usah repot-repot bu, aku bisa makan apa saja" jawab Jaehyun tidak enak.
"Kau tidak perlu merasa begitu, aku sudah menganggapmu anakku sendiri, ayoo apa yang sangat kau sukai?" ulang Nyonya Kim.
"Dia suka roti bu, apa saja asalkan bahan utamanya roti" suara Jibeom menghentikan kegiatan mereka.
Jibeom sudah pulang sekolah dan dia datang bersama Joochan, merasa saling menyapa sebentar. Jaehyun sudah berkenalan dengan Joochan kemarin saat Joochan datang kerumah Jibeom.
"Kalau begitu lain kali kita harus membuat roti bersama" usul Nyonya Kim, Jaehyun tampak senang namun ekspresi Jibeom dan Joochan berbeda, mereka jelas tidak menyukai ide memasak itu.
"Bu, ada yang harus aku katakan pada Jaehyun" kata Jibeom, kali ini nadanya berubah serius.
"Baiklah, Jaehyun-ah biar ibu yang lanjutkan" Nyonya Kim menyuruh Jaehyun untuk menyusul Jibeom.
Jaehyun merasakan ada sesuatu yang tidak beres karena jantungnya mulai berpacu.
"Ini tentang sepupumu, youngtaek" ucap Jibeom begitu mereka sampai dikamar.
"Apa dia masuk sekolah hari ini?" tanya Jaehyun antusias.
Jaehyun tidak bisa berfikir tenang ketika Joochan memberitahunya bahwa Youngtaek juga tidak masuk sekolah sejak hari dimana dia kabur dan hari dimana Youngtaek mengantarkan ibunya kerumah sakit.
"Aku mendengar dia sudah pindah sekolah" Jaehyun terkejut, tiba-tiba kakinya lemah setelah mendengar ucapan Jibeom.
"Aku dan Joochan pergi memeriksanya ke kepala sekolah dan ternyata berita itu benar" lanjut Jibeom.
"Tapi mengapa?" Jaehyun masih tidak percaya.
"Apa kau ingin memeriksanya? Maksudku... mengunjungi rumahmu" ucap Joochan ragu-ragu, Jaehyun saat ini jelas-jelas sedang kabur dan dengan bodohnya dia menyarankan Jaehyun untuk mengunjungi rumahnya.
Jaehyun memang merasa ada yang aneh, tidak pernah sekalipun Youngtaek datang kerumah Jibeom sejak dia kabur, padahal satu-satunya temen sekelas yang rumahnya pernah Jaehyun kunjungi adalah rumah Jibeom, Youngtaek tahu itu.
Tanpa berfikir dua kali, Jaehyun setuju dengan saran Joochan, saat ini mereka sudah berada di depan rumah Jaehyun. Jaehyun tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun saat dia melihat rumah yang biasa dia tempati sudah kosong.
Jaehyun tersenyum pahit, merasa bodoh karena berfikir Youngtaek akan mencarinya. Keluarganya tidak pernah menginkannya lagi, mereka bahkan langsung pergi begitu Jaehyun meninggalkan rumah, dia sudah tidak diinginkan lagi.
Jibeom sama terkejutnya dengan Jaehyun tapi apa yang mereka rasakan tentu berbeda. Jibeom mendekat ke arah Jaehyun lalu merangkul pria itu sambil menenangkannya.
.
Hal yang begitu mengejutkan datang kepada Jibeom besoknya saat dia pulang sekolah, Jibeom pulang sedikit terlambat dari biasanya dan dia dikejutkan oleh berita bahwa Jaehyun meninggalkan rumahnya.
Nyonya Kim pergi bersama suaminya ke suatu tempat, meninggalkan Jaehyun sendirian dirumah. Mereka tidak akan pernah mengira Jaehyun pergi begitu saja dengan meninggalkan catatan kecil dimeja tamu mereka.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian karena bersedia menampungku, aku sungguh-sungguh. Maaf telah merepotkan kalian selama ini, maafkan karena aku pergi begitu saja, aku rasa aku tidak pantas berada dirumah ini, aku sungguh minta maaf.
Jibeom-ah, terima kasih karena sudah banyak membantuku, aku akan membalasmu lain kali, Aku pamit"
Jibeom membaca catatan kecil itu dengan panik, tadi pagi dia sudah mengajak Jaehyun untuk berangkat sekolah bersama karena Jaehyun sudah terlihat baik-baik saja, tapi Jaehyun menolak, Jibeom tidak tahu bahwa Jaehyun berencana pergi hari ini.
"Apa kau ingin aku menyuruh polisi untuk mencarinya?" tanya tuan Kim, dia tahu anaknya gelisah dengan kepergian Jaehyun.
"Aku rasa dia tidak akan suka jika kita melakukan itu" jawab Jibeom.
Tuan Kim mengangguk setuju, dia juga sudah menganggap Jaehyun seperti anaknya sendiri, walaupun mereka hanya bertemu saat makan malam, tapi dia bisa melihat anak laki-laki itu anak yang baik.
"Sebaiknya ganti bajumu dan segera makan" kali ini Nyonya Kim ikut bersuara, dia masih sama terkejutnya dengan Jibeom.
. . .
Sudah seminggu sejak Jaehyun meninggalkan rumahnya, Jibeom sudah mencari kerumah lamanya dan beberapa tempat tetapi masih tidak bisa menemukan Jaehyun.
Bel pelajaran pertama sudah berbunyi beberapa menit yang lalu tetapi kelas masih kosong tanpa guru.
"Selamat pagi, maaf saya terlambat karena tadi kepala sekolah memanggil saya" akhirnya wali kelasnya tiba.
Setelah tiga puluh menit berlalu, "Permisi buk" ucap seseorang dari arah pintu.
"Oh kamu sudah selesai? Masuklah dan duduk ditempatmu" jawab guru itu seakan tahu siapa yang akan datang.
"Terima kasih buk" ucap pemuda itu sambil menunduk.
Jibeom merasa dia sedang bermimpi ketika tiba-tiba melihat seseorang yang dia cari selama seminggu ini berada didepannya. Jibeom tidak bisa menghentikan matanya menatap pria yang baru saja duduk dibangkunya.
Ini nyata. Jibeom yakin dia tidak bermimpi ketika mata mereka baru saja bertemu.
"Kita harus bicara!" Jibeom menarik tangan Jaehyun keluar kelas, begitu bel istirahat berbunyi Jibeom langsung berdiri dari tempatnya untuk menemui Jaehyun.
"Jibeom-ah" panggil Jaehyun pelan, mereka saat ini berada di atap, setelah Jibeom menyeretnya kesini, pria itu hanya diam ditempatnya tidak mengatakan apa-apa.
"Jika tidak ada yang ingin kau katakan aku permisi, aku lapar" Jaehyun mencoba mencari cara agar terhindar dari situasi ini.
"Kau! Aarrghhh" tiba-tiba Jibeom mengacak rambutnya dengan frustasi. Jaehyun sedikit terkejut.
"Kau tiba-tiba menghilang, tidak bisa dihubungi, tidak memberi kabar, hilang selama seminggu" Jibeom memberi jeda, Jaehyun hanya diam menunggu Jibeom selesai berbicara, sejujurnya dia sedikit takut.
"Sekarang kau muncul begitu saja didepanku, lebih buruknya lagi kau bersikap seolah-olah kita tidak saling mengenal, kemana kau pergi selama ini? Semua orang mencarimu, kau membuat kami semua khawatir. Aku senang kau baik-baik saja tapi bisakah kau setidaknya mengabariku?" Jibeom terdengar sangat frustasi. Jaehyun merasa sangat bersalah. Selama ini tidak ada yang mencarinya dan tidak ada yang peduli tentang hidupnya, mendengar perkataan Jibeom membuat Jaehyun ingin menangis, tapi dia harus menahannya.
"Maafkan aku, aku tidak ingin menjadi beban keluarga dan orang-orang disekitarmu" Jaehyun kembali menundukkan kepalanya.
Jibeom tertawa pelan, hanya sebentar sebelum dia menarik tangan Jaehyun dan membawanya lebih dekat kesisinya. Jaehyun tidak berani menatap Jibeom saat ini, pemandangan sepatu mereka lebih lebih baik untuk ditatap.
"Aku rasa aku sudah memberitahumu untuk berhenti berfikir seperti itu" ucap Jibeom dingin, tangannya masih memegang tangan Jaehyun. "Kau masih bersikap seolah-olah kita orang asing"
Jaehyun melepaskan tangannya, "Tapi kita memang orang asing, aku hanya teman sekelasmu dan kau kebetulan tau tentang hidupku dan mengasihaniku. Aku baik-baik saja Jibeom-ah kau tidak perlu melindungiku"
Jibeom tidak percaya dia mendengar itu dari Jaehyun. Jibeom tau perasaannya bukan perasaan simpati, dia menyukai Jaehyun dan dia yakin dengan itu. Mendengar perkataan Jaehyun membuatnya sadar bahwa Jaehyun tidak menyadarinya dan berfikir semua ini hanya rasa kasihannya kepada pria itu.
Jibeom kembali menarik tangan Jaehyun untuk mendekat, Jaehyun terkejut ketika Jibeom tiba-tiba memeluknya. Jibeom hangat dan nyaman, sudah lama Jaehyun tidak merasakan kehangatan seperti ini. Jibeom hanya memeluk Jaehyun dalam diam tapi suara detak jantung keduanya sangat jelas.
"Aku senang kau baik-baik saja, terima kasih karena sudah kembali Jaehyun-ah" ucap Jibeom sangat pelan bahkan Jaehyun hampir tidak bisa mendengarnya.
Jaehyun melepaskan diri dengan pelan takut Jibeom tersinggung.
"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, sekali lagi maafkan aku tapi.... Bisakah kita pura-pura tidak mengenal? Aku lebih suka ketika aku sendiri, aku tidak terbiasa dengan adanya orang-orang disekitarku, itu tidak nyaman" tentu saja Jaehyun berbohong, dia nyaman didekat Jibeom tapi dia tidak bisa lagi.
"Apa maksudmu?" Jibeom menuntut jawaban yang jelas.
"Aku ingin sendiri, aku sangat menyesal membuat kalian semua khawatir, aku benar-benar minta maaf Jibeom-ah" Jibeom tidak menjawab, suasana kembali menjadi sunyi.
"Aku permisi" ucap Jaehyun sebelum meninggalkan Jibeom sendirian dengan fikirannya.
Jibeom hanya menatap punggung Jaehyun sampai menghilang dari padangannya, dia masih tidak mengerti dengan situasi saat ini.
...
Setelah kejadian itu mereka benar-benar kembali menjadi orang asing sesuai permintaan Jaehyun.
"Bukankah itu Jaehyun? Ya Jaehyun-ah aku tidak percaya melihatmu disini, benarkah kau Bong Jaehyun? Ya Kim Jibeom kenapa kau tidak memberitahuku" Joochan masuk ke kelas Jibeom pada jam istirahat, dia melihat ke bangku Jaehyun yang sudah kosong selama seminggu tetapi hari itu tidak. Joochan ingin berjalan menghampiri Jaehyun tapi Jibeom tiba-tiba memanggilnya.
"Hong Joochan ayo ke kantin aku yang traktir" Jibeom mencoba menghentikan Joochan.
"Tapi aku.. Itu Jaehyun..." Jibeom langsung menarik Joochan begitu saja.
Jaehyun benar-benar ingin menangis saat itu, setelah kejadian itu Joochan ikut menjadi orang asing, mereka hanya saling mengirim senyum tipis sebagai sapaan normal saat mereka tidak sengaja berpapasan.
Hari ini mendung dan Jaehyun tidak membawa payungnya, dia memutuskan untuk menunggu dihalte bus dekat sekolahnya. Jaehyun terkejut begitu melihat Joochan dan Jibeom juga berada disana. Jaehyun berpura-pura tidak melihat mereka, hanya fokus menatap jalanan yang mulai basah karena hujan.
Sudah sekitar lima menit Jaehyun menatap jalanan dan dia tidak menyadari Jibeom kini berdiri disebelahnya.
Jibeom memberi Jaehyun sebuah payung yang dari tadi dipegangnya. Jaehyun menatap payung dan Jibeom bergantian dan dia baru sadar Joochan sudah tidak bersama mereka.
"Ambillah, wajar jika teman sekelas meminjamkan payung" ucap Jibeom yang lebih terdengar seperti sindiran bagi Jaehyun.
"Tidak perlu, kau lebih membutuhkannya" Jaehyun mencoba menolak sesopan mungkin.
"Jangan keras kepala, ambil saja" Jibeom menaruh paksa payung itu ditangan Jaehyun.
Dan itu menjadi percakapan terakhir mereka.
...
Satu tahun telah berlalu, hidup seperti orang asing dan tidak saling mengenal tidak sesusah yang Jaehyun bayangkan ketika mereka tidak lagi sekelas di tingkat akhir sekolahnya. Jaehyun jarang melihat Jibeom karena dia selalu memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya dikelas, menutup diri seperti sebelum mereka saling mengenal. Mereka hanya bertemu sesekali ketika pulang sekolah atau saat adanya kegiatan untuk siswa tingkat akhir.
Jaehyun bahkan tidak menghadiri upacara kelulusannya, lagi pula itu tidak penting baginya, dia tidak punya teman, akan lebih menyedihkan jika dia sendirian merayakan hari kelulusannya. Namun ada satu alasan terberat Jaehyun, dia belum siap untuk bertemu orangtua Jibeom, kebetulan atau tidak, kemungkinan mereka bertemu akan sangat besar jika dia menghadirinya.
. . .
Jaehyun resmi menjadi mahasiswa, dia diterima disalah satu perguruan tinggi yang diminatinya. Hari ini dia akan menghadiri pesta penyambutan junior yang diadakan senior fakultasnya.
Suasana bar belum terlalu ramai saat Jaehyun datang, dia menyapa beberapa senior dengan sopan dan duduk ditempatnya.
Jaehyun tidak terlalu suka ditempat ini karena semakin larut suasananya menjadi semakin rusuh. Beberapa senior juga selalu memberinya alkohol untuk diminum dan Jaehyun menerimanya karena merasa tidak enak jika menolak seniornya.
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang duduk disampingnya.
"Aku? Ya aku baik-baik saja" jawab Jaehyun pelan, sejujurnya dia merasa pusing. Dia tidak boleh mabuk, dia harus bisa mencari alasan untuk pulang sebelum rasa pusingnya semakin parah.
"Hyung, beberapa dari kita sudah mulai mabuk ayo kita akhiri pesta hari ini" Jaehyun senang mendengar ucapan salah satu seniornya itu.
"Tunggu, aku belum selesai" Jaehyun menggerutu, perlahan dia mencoba untuk berdiri, badannya tidak stabil, ini pertama kalinya dia minum dan Jaehyun tidak tahu kalau dia lemah dalam hal ini.
Jaehyun hampir jatuh sebelum seseorang menahan pinggangnya, pria itu membantunya untuk tetap berdiri.
"Jaehyun-ah?" panggil pria itu pelan.
"Oh bukankah kau Kim Jibeom? Apa kalian saling mengenal?" tanya senior Jaehyun.
"Anyeong haseyo sunbaenim, ya aku Jibeom. Aku dan Jaehyun satu sekolah" jawab Jibeom sopan.
"Itu bagus, dia mabuk hanya dengan beberapa gelas, lebih baik antar dia pulang atau dia akan tersesat dijalan" pesan senior itu. Belum sempat Jibeom menjawab, senior itu sudah membantunya membawa Jaehyun ke depan pintu.
"Hati-hati, hubungi aku jika terjadi sesuatu" ucap senior sebelum kembali masuk kedalam.
Hari ini Jibeom juga menghadiri pesta penyambutannya, Jibeom tahu jika dia dan Jaehyun satu universitas, tapi dia tidak tahu jika mereka juga satu fakultas.
Jibeom sudah menyadari Jaehyun sejak dia pertama kali masuk ke bar, Jaehyun duduk mengarah ke pintu masuk, mereka saling berhadapan tetapi Jaehyun tidak menyadarinya karena dia selalu menatap kebawah, hanya sesekali melirik senior yang sedang berbicara.
Jibeom segera berlari ketempat Jaehyun begitu dia melihat Jaehyun berdiri dan siap jatuh kapan saja. Sekarang Jaehyun berada disampingnya, lebih tepatnya dia sedang merangkul pinggang ramping Jaehyun dan menahan tangan Jaehyun yang lain dipundaknya.
"Jaehyun-ah?" panggil Jibeom pelan.
Jaehyun hanya bergumam pelan, kepalanya terlalu pusing.
"Dimana rumahmu? Apa kau tinggal di asrama? Ya! Setidaknya jawab aku!" ucap Jibeom sedikit berteriak karena frustasi, Jaehyun sama sekali tidak membantu.
Setelah menekan beberapa password, pintu apartemennya terbuka, Jibeom tidak tinggal di asrama karena dia tidak suka aturan asrama. Dia memilih tinggal di apartemen sederhana di dekat kampus.
Jibeom dengan hati-hati membaringkan Jaehyun ditempat tidurnya. Tidak ada pilihan lain, Jibeom memutuskan untuk membawa Jaehyun pulang bersamanya, Jaehyun tidak menolak dan hanya bergumam acak saat mereka berjalan.
Jibeom membantu melepaskan sepatu dan jaket yang Jaehyun gunakan, dia juga memberi Jaehyun segelas air dengan sedikit paksaan.
"Apa kau Kim Jibeom? Kalian mirip tapi kau terlihat lebih dewasa" ini pertama kalinya Jaehyun menyebut nama Jibeom sejak mereka berpisah.
"Ah kepalaku pusing" Jaehyun kembali memegang kepalanya. Jibeom mencoba menahan tangan Jaehyun agar berhenti memukul kepalanya.
"Tidurlah" ucap Jibeom sambil membenarkan selimut Jaehyun. Namun tiba-tiba Jaehyun bangun dan duduk bersandar ditepi kasurnya, Jibeom terkejut begitu Jaehyun menarik tangannya.
"Kau benar-benar Kim Jibeom rupanya" Jaehyun mendekatkan wajahnya kearah Jibeom, Jibeom menahan nafasnya karena saat ini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Apa ini mimpi?" tangan Jaehyun menyentuh wajah Jibeom. Jibeom membulatkan matanya karena terkejut.
"Jaehyun...." Jibeom mencoba untuk menyadarkan Jaehyun.
"Suara itu.. aku merindukannya" Jaehyun melepaskan tangannya dari wajah Jibeom.
Jibeom tidak bisa menahan matanya untuk tidak menatap wajah Jaehyun, wajah itu masih sama namun sekarang jauh terlihat lebih cantik dimatanya, pipi yang memerah itu bersinar karena mabuk, bibir tebal berbentuk ceri yang cemberut dan mata rusa yang indah. Jaehyun benar-benar sempurna.
Tiba-tiba hidung mereka bersentuhan, kini keduanya saling menatap dalam diam, Jibeom berharap Jaehyun tidak mendengar detak jantungnya yang dia yakini saat ini berdetak kencang.
"Jibeom-ah... Maafkan Aku..." Jaehyun menghentikan ucapannya karena tiba-tiba Jibeom mencium bibirnya.
Begitu mendengar Jaehyun memanggil namanya, Jibeom tidak bisa menahannya lagi, dia sangat merindukan Jaehyun. Itu adalah ciuman pertama mereka walaupun bibir mereka hanya menempel satu sama lain. Begitu Jibeom melepaskannya, Jaehyun langsung tertidur dibahunya. Jibeom tidak tahu apakah Jaehyun akan mengingat ini besok.
Perlahan tangan Jibeom mengusap punggung Jaehyun dan memeluknya. Upaya untuk melupakan Jaehyun yang sudah dilakukannya selama selama satu tahun belakangan ini gagal begitu dia melihat Jaehyun hari ini. Dia selalu menyibukkan dirinya agar tidak bertemu dengan Jaehyun, walaupun sulit namun dia berhasil melakukannya selama masa sekolah mereka. Tapi Jibeom tidak berfikir itu akan berhasil lagi ketika Joochan memberitahunya bahwa Jaehyun diterima di kampus yang sama dengannya.
Dengan hati-hati Jibeom membaringkan Jaehyun dan menyelimutinya, wajah itu terlihat sangat damai. Jibeom merapikan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Jaehyun.
"Aku harap kau mengingatnya" kata Jibeom sebelum meninggalkan Jaehyun dikamarnya.
...
Jaehyun mencoba untuk bangun walaupun kepalanya masih sedikit pusing, setelah mengumpulnya semua kesadarannya dia terkejut begitu menyadari dia tidak berada dikamar asramanya.
"Ya apa ini!? Dimana aku?" ucapnya dengan nada cemas.
Jaehyun menatap sekelilingnya, kamar ini rapi dan wangi ruangan ini terasa familiar dihidungnya.
Belum selesai Jaehyun mengingat apa yang terjadi kemarin, dia dikejutkan dengan nama seseorang yang dia kenali tertera disebuah jaket universitasnya.
KIM JIBEOM.
Walaupun negaranya luas dan Jibeom adalah nama yang umum, tapi Jaehyun yakin itu milik Kim Jibeom yang dia kenal. Jaehyun mencoba lebih keras untuk mengingat kejadian tadi malam.
Jaehyun menutup mulutnya begitu sadar kalau tadi malam dia mabuk dan Jibeom membantunya pulang, alih-alih memberitahu dimana dia tinggal, Jaehyun justru mengoceh acak disepanjang jalan. Jantungnya kembali berdetak kencang, dia sekarang berada dikamar Jibeom dan apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Jibeom? Mereka bahkan sudah tidak saling berbicara dalam waktu yang lama.
Jaehyun membuka pelan pintu kamar Jibeom, dia tidak melihat Jibeom sejak dia bangun, kemana pria itu? Kemudian dia melihat seseorang tertidur disofa depan televisi. Jaehyun yakin itu Jibeom, ada perasaan tidak enak karena dia mengambil alih tempat tidur Jibeom. Jaehyun ragu untuk mendekat, jadi dia hanya berdiri menatap Jibeom.
Tidak butuh waktu lama Jibeom bangun dan terkejut melihat Jaehyun berdiri didepannya dengan ekspresi yang sama.
"Oh kau sudah bangun?" tanya Jibeom sambil meregangkan otot-ototnya.
"Hm ya" jawab Jaehyun pelan, sangat pelan.
"Bagaimana kepalamu?" Jibeom kembali bertanya.
Walaupun masih sedikit pusing, Jaehyun menjawab dia baik-baik saja.
"Aku membawamu kesini karena kau tidak menyebutkan dimana rumahmu, kalau kau tidak bisa minum seharusnya jangan diterima jika senior menawarimu" ucap Jibeom, kali ini nadanya sedikit dingin.
"Maaf aku merepotkanmu"
"Lagi, kenapa kau selalu meminta maaf"
Jibeom berdiri dan berjalan menuju kamar mandi disamping dapur. Ingin rasanya Jaehyun melarikan diri saat ini tapi itu jelas tidak sopan.
Oh sejak kapan Jaehyun memikirkan kesopanan? Bahkan dulu dia kabur begitu saja.
Setelah membersihkan dirinya, Jibeom melihat Jaehyun duduk disofa, wajahnya terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Aku hanya punya ini, aku tidak punya sup untuk kepalamu" Jibeom meletakkan segelas susu dan sepiring roti dimeja.
Mereka sibuk memakan sarapan masing-masing, tetapi Jibeom sesekali melirik kearah Jaehyun. Jaehyun sangat pendiam seperti biasanya, jika dia tidak memulai percakapan maka Jaehyun tidak akan bersuara.
Jaehyun sedang bertengkar dengan fikirannya, apa yang akan dilakukannya setelah ini? Bagaimana mengatakan kepada Jibeom kalau dia ingin kembali ke asramanya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan" ucap Jibeom menghentikan lamunan Jaehyun.
"Aku rasa aku harus kembali ke asrama"
"Kau tinggal diasrama?" Jaehyun mengangguk.
Setelah hari itu, mereka menjadi lebih sering bertemu satu sama lain, tidak ada yang saling menghindar seperti dulu. Mereka akan selalu bertemu di beberapa kelas umum dan saling memberi salam ketika berpapasan.
"Kalian tidak saling menghindar lagi kan?" tanya Joochan. "Ajak dia bergabung dengan kita sesekali, aku merindukannya"
"Aku rasa itu bukan ide yang bagus" Jibeom yakin Jaehyun masih menjaga jarak darinya.
"Apa kau sudah tau dimana dia tinggal selama sekolah?" Jibeom menggelengkan kepalanya.
"Aku sedih karena kisah cintamu seburuk ini" Jibeom segera melempari Joochan dengan bungkus botol air mineral ditangannya.
Joochan mengetahui semuanya, selama satu tahun dia sudah bisa menyimpulkan bagaimana perasaan sahabatnya, bahkan tidak perlu menunggu satu tahun untuk mengetahui Jibeom menyukai Jaehyun.
.
"Aku dengar kau satu fakultas dengan Jibeom?"
Jaehyun baru saja membuka pintu asramanya dan dia terkejut melihat Youngtaek sudah duduk dikasurnya.
"Bagaimana kau bisa disini?" tanya Jaehyun kembali.
"Kau tidak menjawabku berarti itu benar" Youngtaek berdiri dari tempatnya.
"Aku tidak akan seperti dulu asal kau masih ingat dengan janjimu, oke?" tawar Youngtaek, dan Jaehyun setuju.
"Bagus, aku harus kembali. Aku hanya mampir kesini karena Ibu menyuruhku memberikan ini untukmu" Youngtaek meletakkan sebuah tas yang Jaehyun yakini berisi makanan.
"Terima kasih, hati-hati dijalan" pesan Jaehyun dan Youngtaek tersenyum.
Jaehyun mengeluarkan makanan tersebut setelah Youngtaek pergi, dia mulai menyusun sambil mencicipi sedikit.
"Lezat seperti biasanya" Jaehyun sudah merindukan masakan bibinya.
...
Karena jadwal kuliah yang padat dan dia mulai mengikuti organisasi, Jaehyun sering pulang ke asrama saat hari sudah hampir gelap. Semakin sering dia pulang terlambat, semakin sering juga dia bertemu dengan Jibeom, Jaehyun tidak tau apa kesibukan Jibeom tapi setiap dia selesai rapat, Jibeom hampir selalu berada di taman depan gerbang universitasnya, duduk bersama teman-temannya atau berdua dengan Joochan atau kadang sendirian seperti hari ini.
Jibeom duduk sambil memainkan ponsel ditangannya, Jaehyun berjalan mendekatinya.
"Kau tidak pulang?" Jaehyun duduk disamping Jibeom. Ini bukan pertama kalinya mereka berbicara dikampus, mereka sudah melewati fase canggung beberapa minggu belakangan.
"Oh kau disini?" Jibeom mematikan ponselnya dan menyimpan benda itu disakunya.
"Menurutmu?" tanya Jaehyun. Jibeom tertawa pelan mendengar itu, dia merasa konyol dengan pertanyaannya.
Jaehyun menatap langit malam, cuacana malam ini sangat cerah.
"Ayoo aku akan mengantarmu pulang" Jibeom berdiri didepan Jaehyun.
"Aku bukan anak kecil" jawab Jaehyun cemberut dan Jibeom kembali tertawa, Jibeom akan selalu berakhir mengantar Jaehyun pulang ketika Jaehyun pulang terlambat karena rapat.
"Ayoo!" Jibeom menyeret Jaehyun untuk jalan didepannya.
Mereka berjalan berdampingan, Jibeom senang selama beberapa minggu ini mereka kembali berteman, dia rela menunggu Jaehyun setiap pria itu rapat dengan rekannya agar bisa mengantar Jaehyun pulang.
Diluar dugaan mereka, tiba-tiba turun hujan lumayan deras, asrama Jaehyun tidak terlalu jauh dari kampus dan jika mereka berlari sebentar maka mereka akan sampai. Jibeom menarik tangan Jaehyun, mengajaknya untuk berteduh di depan supermarket tapi Jaehyun justru kembali menarik tangan Jibeom untuk berlari ke arah asramanya.
"Jika kita berteduh disana akan memakan waktu lama sambil menunggu hujan, lebih baik berlari kesini" ucap Jaehyun begitu Jibeom menatapnya dengan tatapan yang menakutkan. Mereka sampai di depan asrama dengan keadaan basah, untung Jaehyun tidak membawa laptopnya hari ini.
Jibeom tidak menjawab, dia justru meninggalkan Jaehyun dan berjalan masuk kedalam asrama. Jaehyun mengikuti Jibeom dan terdiam begitu mereka sampai didepan pintu kamar Jaehyun.
"Kau tidak akan menyuruhku pulang dalam keadaan seperti ini setelah menyeretku ditengah hujan kan?" ucap Jibeom seperti bisa membaca fikiran Jaehyun.
"Jadi benar? Aku tidak percaya kau akan melakukan itu" Jibeom kehilangan kata-katanya, diamnya Jaehyun adalah jawaban dari pertanyannya.
"Bukan, bukan seperti itu" Jaehyun mencoba membantah.
Jibeom mengetuk pintu didepan mereka seolah menyuruh Jaehyun segera membukanya, setelah pintu terbuka Jibeom langsung masuk begitu saja.
Jaehyun meminjamkan Jibeom baju keringnya, suasana menjadi hening saat keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing. Ini pertama kalinya Jibeom masuk kedalam kamar Jaehyun, biasanya dia hanya mengantarkan sampai pintu utama asrama.
"Kau punya makanan?" tanya Jibeom, Jaehyun langsung tersadar dari lamunannya.
"Sebentar, tapi ini tidak hangat. Aku akan menghangatkannya" Jaehyun mengeluarkan beberapa makanan yang ada dikulkas.
Begitu selesai, Jaehyun menyusun beberapa makanan diatas meja makan kecilnya. Mereka mulai makan dalam diam.
"Ini enak, seperti masakan rumahan" ucap Jibeom, dia tiba-tiba merindukan masakan ibunya.
"Ini memang masakan rumahan" jawab Jaehyun spontan. Kemudian dia langsung sadar ketika Jibeom menatapnya penuh tanda tanya.
Setelah merapikan semuanya, mereka duduk ditepi kasur.
"Jibeom-ah.." panggil Jaehyun pelan. Jibeom masih menatapnya, menunggu Jaehyun berbicara.
"Kau masih menganggapku temanmu bukan?"
"Hooh?" Jibeom tidak tau harus menjawab apa, dia fikir perasaannya masih sama.
"Kau tau, kita tidak bisa menjadi lebih dari teman"
"Mengapa tidak?" Jibeom menuntut jawaban.
Jaehyun diam. Haruskah dia menceritakannya?
"Aku tidak bisa memberitahumu"
"Kalau begitu, kau tidak bisa melarang hatiku"
Bohong jika selama ini Jaehyun tidak menyadari perasaan Jibeom, semuanya sangat jelas.
Jaehyun hanya menunduk menatap kebawah, dia tidak berani menatap Jibeom disebelahnya.
"Kau ingat youngtaek, sepupuku?" Jaehyun fikir, ini saat yang tepat untuk menceritakannya.
"Aku sudah berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun karena dia menyukaiku" ucap Jaehyun pelan.
Jibeom membulatkan matanya, dia fikir dia salah dengar.
"Kau ingat saat aku melarikan diri dari rumahmu? Dia datang mencariku. Meminta maaf dan berjanji tidak akan menyakitiku lagi, meski ragu aku tetap memaafkannya, bagaimanapun dia keluargaku. Kemudian dia mengaku tentang perasaannya padaku, dia menyesal selama ini, begitu pula dengan bibi, kesehatannya mulai membaik dan mulai menerimaku kembali" ada nada bahagia dari cerita Jaehyun, berbeda dengan wajahnya yang terlihat murung.
"Aku tidak bisa membalas perasaan youngtaek karena aku tidak menganggapnya lebih dari saudara, namun dia bilang tidak apa-apa asalkan aku tidak menjalin hubungan dengan orang lain. Aku tau ini sedikit gila, tapi aku tidak keberatan, aku merindukan keluargaku kembali. Aku meminta youngtaek untuk mengizinkan aku sekolah kembali tapi dengan satu syarat yang sama. Aku minta maaf karena menjauhimu setelah kau dan keluargamu berusaha membantuku" setetes air mata jatuh begitu saja dari mata indahnya, Jaehyun tidak berani menatap Jibeom dan memilih tetap menunduk.
Jibeom benar-benar tidak tau harus bagaimana, semua pertanyaannya selama ini terjawab. Dimana Jaehyun tinggal, mengapa dia menjauh dan bagaimana kehidupannya.
Jibeom meraih tangan Jaehyun dan membelainya, tangannya yang lain mencoba untuk menghapus air mata Jaehyun yang terus jatuh.
"Aku tidak berfikir aku bisa menjauhimu untuk kedua kalinya. Kau tau perasaanku Jaehyun-ah, aku menyukaimu. Bahkan ketika kita masih menjaga jarak satu sama lain, perasaanku masih sama. Aku tidak bisa memaksamu untuk bersamaku, tapi aku akan tetap disini bersamamu, hanya saja aku mohon jangan menyuruhku untuk menjauh seperti dulu. Aku tidak bisa, aku tidak bisa disaat kita terus bertemu satu sama lain, aku mencintamu Jaehyun" Jibeom hanya ingin mengatakan apa yang dirasakannya selama ini, namun ini semakin membuat Jaehyun merasa bersalah.
"Aku juga mencintaimu Jibeom, tapi aku tidak bisa bersamamu" ucap Jaehyun pelan ditengah tangisannya. Itu sangat pelan, hingga Jibeom kembali berfikir dia salah dengar. Jibeom menangkup kedua pipi Jaehyun, menyuruhnya untuk menatap matanya, namun Jaehyun tetap menangis.
Ini pertama kalinya Jaehyun mengaku tentang perasaannya, Jibeom tidak berfikir dia bisa melepas Jaehyun lagi.
Jibeom membelai kedua pipi Jaehyun dengan lembut, kali ini Jaehyun menatapnya. Jibeom bisa melihat kesedihan yang selama ini Jaehyun coba tutupi, dia tersenyum sambil terus membelai kedua pipi Jaehyun. Sedangkan Jaehyun larut dalam kedua bola mata Jibeom, mata itu menatapnya seolah-olah dia adalah yang paling berharga didunia ini.
Jibeom mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan, matanya tidak lepas dari mata indah Jaehyun. Perlahan kedua bibir itu bertemu, Jaehyun menutup matanya spontan. Tidak ada alkohol kali ini, baik Jibeom maupun Jaehyun sama-sama sadar.
Tangan Jibeom yang semula berada di pipi Jaehyun, kini melingkar indah dipinggang ramping Jaehyun. Jaehyun juga membalas ciuman Jibeom dengan lebih menuntut dan melingkarkan tangannya di leher Jibeom. Ciuman itu semakin dalam namun sangat lembut, seperti keduanya mencoba menjelaskan perasaan mereka melalui bibir yang kini saling melumat pelan.
Cukup lama mereka berciuman, Jibeom menarik diri dengan pelan tanpa melepaskan tangannya yang masih melingkar dipinggang Jaehyun. Jibeom kembali menatap kedua mata indah Jaehyun, kemudian mengecup bibir itu sekali lagi dan tersenyum, lalu menciumnya lagi dan kembali tersenyum, bibir tebal Jaehyun manis, dan Jibeom selalu ingin menciumnya.
Jaehyun menghentikan Jibeom disaat pria itu kembali ingin menciumnya, Jibeom tidak menyerah namun kali ini dia mencium dahi Jaehyun sedikit lebih lama. Jaehyun yang merasa malu langsung memeluk Jibeom untuk menutupi pipinya yang mungkin saat ini sudah merah. Jibeom tertawa pelan kemudian memeluk Jaehyun lebih erat.
Jibeom merasa lebih lega dari sebelumnya, setidaknya saat ini dia tau bahwa mereka berdua saling mencintai.
.
"Apa?! Ya! Ini sangat tiba-tiba, kalian tidak bisa melakukan ini padaku" teriak Joochan yang hampir menarik semua perhatian orang ramai.
Jaehyun mendadak bisu setelah Jibeom mengatakan bahwa mereka berdua kini resmi menjadi sepasang kekasih kepada Joochan.
"Aku tau ini pasti akan terjadi, Jibeom-ah perjuanganmu tidak sia-sia. Aku bangga padamu" Joochan menepuk pundak Jibeom dengan bangga.
"Jaehyun-ah kau harus tau betapa frustasinya Jibeom semasa sekolah setelah kau meminta untuk saling menjadi orang asing" Joochan puas menggoda Jibeom yang kini menatap tajam kearahnya.
"Ya Hong Joochan! Sebaiknya kau pulang atau kembali ke kampus" usir Jibeom kesal.
"Baiklah aku tidak akan menganggu waktu kalian. Aku akan ke perpustakaan, selamat tinggal"
Setelah Joochan pergi, Jibeom menarik tangan Jaehyun untuk mendekat.
"Jibeom-ah" ucap Jaehyun ketika Jibeom menautkan jari-jari mereka.
"Apa? Aku hanya memegang tanganmu" tanya Jibeom sambil tersenyum. Sangat tampan.
"Tidak apa-apa, ini terlalu mendadak" mereka belum pernah bergandengan tangan di depan umum dan Jaehyun takut jika seseorang melihat mereka.
"Ini tidak mendadak disaat kita sudah sering berciuman"
"Ya!! Kau tidak bisa mengatakannya seperti itu"
Jibeom tersenyum lebih cerah begitu melihat Jaehyun salah tingkah. Kalau saja saat ini tidak ramai, Jibeom pasti sudah mencium Jaehyun karena kekasihnya terlalu menggemaskan.
...
Jika biasanya ada pelangi setelah hujan, maka kali ini sebaliknya. Jibeom fikir setelah semua yang terjadi hubungannya dengan Jaehyun akan lebih mudah, namun harapannya musnah ketika Jaehyun mengatakan dia harus pindah ke negara lain, mengikuti saudara laki-lakinya yang mendapatkan beasiswa.
"Kau serius?" tanya Jibeom sekali lagi.
"Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain" jawab Jaehyun sambil menunduk, tidak berani menatap Jibeom.
Youngtaek tidak sengaja melihat Jaehyun dan Jibeom bergandengan tangan di toko buku. Hal itu membuat emosinya langsung tidak terkendali, Youngtaek langsung menyeret Jaehyun pergi dan tidak membiarkan Jibeom berbicara sepatah katapun. Hingga tiba hari ini Jaehyun mengatakan bahwa dia akan pergi karena Youngtaek mendapatkan beasiswa. Waktu yang sangat tepat untuk membuat mereka berpisah.
"Sampai kapan Jaehyun-ah? Kau tidak bisa terus hidup seperti ini"
"Aku tidak tahu, tapi sekarang hidup seperti ini lebih baik untukku"
"Baik seperti apa maksudmu?"
"Hidup dengan keluargaku. Aku mencintai mereka dan aku sudah cukup bahagia jika bersama mereka"
"Lalu bagaimana dengan kebahagianku? Setelah semua yang terjadi, aku sangat bahagia bisa bersama dengamu lagi, tapi kau selalu menyuruhku menjauh bahkan disaat kita sudah berada dihubungan ini"
"Aku tidak bisa jauh dari mereka disaat hanya mereka satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini, aku tidak bisa memilih kebahagianku lalu menyakiti hati mereka"
"Dan kau memilih menyakitiku"
"Aku tau aku kembali menyakitimu Jibeom-ah, sekali lagi maafkan aku"
"Bukan, seharusnya aku tau dari awal aku memang bukan pilihanmu"
Jaehyun tidak bisa menyalahkan Jibeom yang bersikap egois, ini salahnya karena menaruh harapan besar bagi Jibeom. Laki-laki itu hanya fokus kepadanya, namun lagi-lagi Jaehyun hanya membuatnya kecewa.
"Maafkan aku" ucap Jaehyun pelan.
Jibeom tidak menjawab namun matanya tidak lepas dari Jaehyun, membuat Jaehyun gugup setengah mati. Jibeom perlahan mendekat dan memeluk erat Jaehyun dalam diam.
Setelah melepaskan pelukannya, Jibeom pergi tanpa sepatah katapun, membuat Jaehyun ingin menangis ditempatnya. Ini bahkan lebih sakit dari yang dia bayangkan.
Dibalik itu semua, seseorang melihat mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.
.
Sudah beberapa hari sejak kejadian terakhir kali dan mereka tidak pernah berhubungan sejak saat itu. Jaehyun tidak terlalu bersemangat menyiapkan kepergiannya karena hatinya terasa berat untuk pergi. Besok. Besok adalah hari terakhir Jaehyun berada di negara ini.
Disaat Jaehyun sibuk dengan fikirannya, Youngtaek sudah berada disampingnya sejak tadi dan memanggilnya.
"Bong Jaehyun" panggil Youngtaek sekali lagi.
"Oh kau disini? Aku sudah siap kau tidak perlu khawatir" balas Jaehyun cepat.
"Kau mabuk?" tanya Youngtaek begitu dia melihat ada beberapa kaleng bir di atas meja.
"Tidak, itu sisa semalam" Youngtaek tau Jaehyun berbohong.
Youngtaek tidak bertanya lagi, membiarkan waktu memakan mereka.
"Youngtaek hyung" Youngtaek terkejut begitu mendengar Jaehyun memanggilnya 'Hyung' setelah bertahun-tahun, ini seolah membuatnya jelas bahwa yang berada didepannya saat ini adalah Jaehyun kecil yang selalu menangis meminta ikut bermain dengannya saat mereka kecil. Jaehyun tidak punya teman dan sulit bergaul jadi dia hanya mengikuti Youngtaek semasa kecilnya.
"Kenapa rasanya begitu berat?" Youngtaek tau apa maksud pertanyaan Jaehyun, dia yakin alkohol yang Jaehyun minum mulai bekerja.
Disisi lain, Jibeom tidak berhenti menatap layar ponselnya sejak beberapa waktu yang lalu.
Besok Jaehyun akan pergi, mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Jibeom ragu dia harus menelfon Jaehyun atau membiarkannya pergi begitu saja.
Setelah berperang dengan fikirannya, Jibeom mengambil jaketnya dan berniat untuk mengunjungi asrama Jaehyun dari pada menelfonnya.
Begitu Jibeom membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran Jaehyun dengan penampilan yang sedikit berantakan.
"Jaehyun-ah" panggil Jibeom lembut.
Jaehyun langsung melemparkan tubuhnya begitu melihat Jibeom berdiri didepannya. Jibeom yang tidak siap dengan pelukan Jaehyun sedikit terhuyung kebelakang.
"Jaehyun-ah, apa terjadi sesuatu?" tanya Jibeom sedikit khawatir.
Jaehyun tidak menjawab dan memeluknya Jibeom lebih erat. Jibeom memeluknya kembali. Jibeom baru sadar Jaehyun sedikit mabuk begitu bau alkohol mulai memasuki indra penciumannya.
Jibeom mencoba melepaskan pelukan dengan pelan agar Jaehyun tidak merasa tersakiti tapi Jaehyun menolak dan mulai menangis.
"Aku tidak ingin pergi, aku tidak bisa meninggalkanmu lagi" ucap Jaehyun sambil menangis.
"Aku mencintaiku keluargaku, tapi aku juga mencintaimu. Ini sangat sulit untukku memilih disaat perasaanku padamu sangat dalam. Sejak terakhir kali kita bertemu, aku tidak bisa fokus pada apapun dan terus berfikir apakah aku lebih baik tinggal atau pergi begitu saja, tapi kemudian aku sadar aku tidak punya pilihan seperti itu" Jaehyun melepaskan pelukan mereka dan kemudian memukul kepalanya.
"Tapi kepalaku terus saja mengatakan dua arah, aku tidak bisa berfikir" Jibeom mencoba menghentikan tangan Jaehyun yang berada di kepalanya.
Setelah berhasil, Jibeom memilih untuk menggenggam kedua tangan Jaehyun dengan erat agar tidak kembali menyakiti dirinya sendiri.
"Jaehyun-ah tenanglah" ucap Jibeom pelan dan mengelus lembut punggung tangan Jaehyun.
Jibeom kembali terkejut karena Jaehyun tiba-tiba menciumnya, awalnya Jaehyun hanya menempelkan bibirnya tapi begitu Jibeom mencoba untuk melepaskannya, Jaehyun langsung melumat belah bibir Jibeom lebih dalam dan menuntut balasan.
Jibeom sadar Jaehyun saat ini sedikit mabuk dan dia tidak ingin membuat Jaehyun menyesali perbuatannya sendiri, tapi pada akhirnya Jibeom terbuai dengan ciuman manis Jaehyun dan membalas ciuman Jaehyun dengan lebih menuntut. Bibir manis Jaehyun adalah kelemahan Jibeom.
Tangan Jaehyun yang semula hanya mengalung di leher Jibeom kini sudah mengacak-acak rambut pria itu mencoba memperdalam ciuman mereka.
Sambil terus melumat bibir tebal Jaehyun, Jibeom membawa Jaehyun ke kamarnya dan menindih tubuh Jaehyun. Mereka tidak pernah berciuman seperti ini sebelumnya.
Disaat dia merasa oksigen mereka menipis, Jibeom menghentikan ciuman mereka tanpa melepaskan tatapannya dari mata rusa Jaehyun. Mata itu sedikit bengkak akibat menangis, Jibeom membelainya dengan lembut dan kemudian mengecup pelipis Jaehyun. Jaehyun membuka matanya dan langsung berhadapan dengan tatapan lembut Jibeom.
Mata yang selalu menatapnya dengan lembut itu tersenyum, walaupun sedikit mabuk tapi Jaehyun masih sadar dengan apa yang sudah dia mulai sejak tadi.
Jibeom menyingkirkan poni Jaehyun yang menutupi wajah cantiknya. Dengan posisi Jaehyun yang masih berada dibawahnya, Jibeom kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium dan melumat pelan bibir tebal Jaehyun sekali lagi. Jaehyun tidak menolak tapi justru semakin menguatkan kalungan lengannya dileher Jibeom. Kedua bibir itu saling melumat kembali, Jibeom menggigit bibir bawah Jaehyun dan tentu saja disambut baik oleh Jaehyun. Ciuman panas itu kembali terjadi.
Setelah cukup lama mereka berciuman, Jibeom melepaskan bibirnya pelan dan menangkup kedua pipi Jaehyun, diusapnya dengan lembut bibir merah Jaehyun yang sedikit membengkak. Kemudian Jibeom ikut berbaring disebelah Jaehyun.
"Jibeom-ah" panggil Jaehyun terengah karena nafasnya yang belum teratur.
"Hmm?" Jibeom menoleh kearah Jaehyun.
"Aku tidak ingin pergi" ucap Jaehyun sangat pelan, matanya masih menatap langit-langit kamar Jibeom.
Jibeom tersenyum lalu menarik tubuh Jaehyun, membuat mereka kini saling berhadapan. Jibeom mengusap pelan surai indah Jaehyun sambil terus tersenyum menatap kekasihnya.
"Sayang... Mari kita bicarakan lagi besok, sekarang tidurlah ini sudah larut"
Wajah Jaehyun masih menunjukkan kesedihan, Jibeom mencoba membuat Jaehyun tertawa dengan mengecup seluruh inti wajahnya bergantian secara berulang. Mulai dari kedua pipinya, rahang, pelipis, hidung, bibir dan dahi Jaehyun.
"Jibeom-ah hentikan, kau tidak bosan terus menciumku" Jaehyun mencoba menghentikan Jibeom yang masih mencoba mencium wajahnya.
"Aku tidak akan pernah bosan. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau yang memulainya duluan" Jibeom mulai menggoda Jaehyun.
Tiba-tiba Jaehyun merasa wajahnya memanas, dia malu. Jaehyun menyembunyikan wajahnya di dada Jibeom. Jibeom mencoba menarik tubuh Jaehyun tapi pria itu menolak dengan memeluk Jibeom lebih erat.
"Kau tidak ingin mengucapkan selamat malam untukku?" tanya Jibeom sambil terus mengelus punggung Jaehyun. Akhirnya Jaehyun menunjukkan wajahnya, ditatapnya mata bulat Jibeom sebentar.
"Selamat malam Jibeommie, aku mencintaimu" ucap Jaehyun sebelum mencium pipi Jibeom dengan cepat dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada Jibeom.
Jibeom tidak bisa menahan senyumnya, dipeluknya lebih erat tubuh Jaehyun dan mencium puncak kepalanya.
"Selamat malam sayang, aku juga mencintaimu"
.
Begitu membuka matanya Jaehyun langsung dihadapkan dengan wajah tampan Jibeom yang tertidur dengan tangan yang masih melingkari pinggangnya.
Jaehyun mengusap poni Jibeom yang sedikit menghalangi matanya, dia bahagia sekaligus sedih karena hari ini dia akan pergi meninggalkan Jibeom.
Jaehyun mencoba melepaskan tangan Jibeom di pinggangnya dengan pelan agar tidak mengusik tidur Jibeom, Jaehyun baru saja akan bangkit namun Jibeom kembali menariknya untuk kembali berbaring.
Wajah kusut Jibeom dipagi hari sangat mempesona, Jaehyun masih terus bertanya bagaimana Jibeom bisa terlihat sangat tampan dengan rambut yang berantakan.
"Kau akan kemana?" tanya Jibeom dengan suara lembutnya.
"Jibeom, aku harus bersiap" meski tidak ingin mengatakannya, Jaehyun tidak bisa menahannya.
"Untuk?" Jibeom mengeratkan pelukannya pada Jaehyun.
Jaehyun tidak mengerti kenapa Jibeom bertanya, hal itu hanya membuatnya semakin sedih.
Jibeom yang masih menutup matanya bisa merasakan saat ini Jaehyun gelisah. Perlahan Jibeom membuka matanya dan mengunci tatapan mereka.
"Dengar, kau tidak akan pergi kemana-mana sayang"
"Apa maksudmu?"
"Sebelum kau datang kesini tadi malam, youngtaek menelfonku dan mengatakan dia sudah membatalkan penerbanganmu. Dia tidak bisa memaksamu pergi dan dia juga meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan selama ini" Jibeom mencoba menjelaskan dengan pelan.
Jaehyun langsung bangkit dari tidurnya, duduk sambil memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing, dia tidak mengerti dengan apa yang Jibeom katakan.
"Kau berbohongkan?" tanya Jaehyun masih tidak percaya.
"Kau tidak percaya padaku?" Jibeom ikut bangkit dan diusapnya pipi Jaehyun dengan lembut.
"Youngtaek memberitahuku bahwa dia mendengar percakapan kita terakhir kali. Dia menyesal karena setelah semua yang sudah dia lakukan kepadamu, kau tetap memilih mereka" Jaehyun dapat merasakan air matanya sudah siap tumpah kapan saja.
Jaehyun bahagia sekaligus sedih karena dia harus berpisah dengan keluarganya.
"Jaehyun-ah, aku tidak akan memaksamu tinggal jika kau ingin pergi dengan keluargamu. Aku serius" ucap Jibeom tulus.
Jaehyun tidak bisa menahan tangisnya begitu mendengar perkataan Jibeom. Jaehyun menangis didalam pelukan kekasihnya.
Setelah dirasa cukup, Jaehyun melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah Jibeom.
"Apa?" tanya Jibeom sedikit takut.
"Jadi kau sudah tau semuanya, itu sebabnya kau bersikap sangat santai?" Jibeom hanya membalas dengan senyum nakalnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya disaat kau menangis dan terus menciumku...." Jibeom mencoba membela dirinya.
"Kau! Ya! Kim Jibeom!!" Jaehyun berteriak untuk menghentikan ucapan Jibeom.
"Aku mabuk, kau tau itu" Kali ini Jaehyun yang mencoba membela diri, dia terlalu malu.
"Maksudmu sedikit mabuk? Aku yakin kau sadar. Bahkan kita melakukannya dua kali" Jibeom menaikkan sebelah alisnya tanpa melepaskan senyum nakal dibibirnya.
"Ya! hentikan!!" Jaehyun langsung menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Jibeom tertawa puas dengan reaksi Jaehyun.
"Sekarang ayo kita bersiap jika kau masih ingin mengantarkan Youngtaek ke bandara" Jibeom bangkit dan dia menyempatkan untuk mencuri kecupan di bibir merah tebal kesukaannya sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Morning kiss" ujar Jibeom sebelum Jaehyun kembali protes.
.
"Sayang, aku menyesal harus meninggalkanmu sendirian disini, Jibeom-ah tolong jaga Jaehyun kami dengan baik. Aku titip dia padamu" ucap Ibu Youngtaek sambil terus mengusap tangan Jaehyun dan memohon kepada Jibeom.
"Aku pasti akan selalu menjaga Jaehyun, jangan khawatirkan itu Nyonya Son" jawab Jibeom dengan tulus, lalu tersenyum ke arah Jaehyun.
"Sudah saatnya kami pamit" Youngtaek yang dari tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya.
Nyonya Son tersenyum dan mengusap pelan surai hitam anaknya, dia tau ini berat bagi putranya.
Jaehyun mendekat dan memeluk Youngtaek.
"Youngtaek hyung, selamat jalan dan tolong untuk selalu sehat bersama Ibu. Jangan khawatirkan aku dan hiduplah dengan bahagia disana" Youngtaek membalas pelukan saudaranya.
Setelah Youngtaek dan ibunya menghilang dari pandangan mereka, Jibeom merangkul pinggang Jaehyun. Mereka juga beranjak pulang meninggalkan bandara.
...
"Kau yakin?" Jaehyun bertanya sekali lagi.
"Tentu saja, mereka sangat menyukaimu" Jibeom mencoba menenangkan Jaehyun yang sedikit tegang karena akan bertemu kedua orangtua Jibeom lagi.
"Bagaimana jika mereka diam-diam masih marah karena aku kabur begitu saja dulu?" Jaehyun sedikit menyesali tindakannya beberapa tahun yang lalu.
"Itu sudah berlalu, sekarang kita sudah hidup bersama. Mereka pasti merestui hubungan kita, percaya padaku" Jaehyun tersenyum karena Jibeom selalu berhasil meyakinkannya.
"Baiklah, aku akan ikut kerumahmu besok" ucap Jaehyun pada akhirnya, Jibeom yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya langsung memeluk Jaehyun dengan erat.
"Jibeom-ah aku tidak bisa bernafas" protes Jaehyun.
"Oh maafkan aku, aku terlalu senang karena itu juga berarti kau setuju untuk menikah denganku. Terima kasih sayang" Jibeom dengan cepat mencuri kecupan di bibir Jaehyun.
"Ya! kita sedang di tempat umum" Jaehyun yang malu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa? Tidak ada larangan untuk mencium Bong Jaehyun yang cemberut disini" Jibeom menarik tangan Jaehyun dan mencubit pipi menggemaskan Jaehyun sebelum menggenggam kedua tangan kekasihnya.
"Aku sangat mencintaimu Jaehyun, sangat banyak" ucap Jibeom sebelum kembali mencium Jaehyun, kali ini Jaehyun tidak protes tapi justru membalas ciumannya.
"Aku juga mencintaimu Jibeomie" ucap Jaehyun disela ciuman mereka. Jaehyun tidak peduli lagi dimana mereka saat ini. Jaehyun hanyan ingin membalas ciuman manis Jibeom yang juga membuatnya candu.
Untuk beberapa saat mereka berciuman, jika mereka bukan manusia yang membutuhkan oksigen, Jibeom pasti tidak akan pernah melepaskan ciuman ini. Keduanya tersenyum sangat cerah, menunjukkan kebahagian yang mereka rasakan saat ini.
Sudah beberapa tahun berlalu sejak Youngtaek meninggalkan mereka, Jibeom dan Jaehyun juga telah menghadapi beberapa kesulitan selama mereka bersama tetapi dengan kasih sayang yang mereka miliki satu sama lain, mereka mampu menghadapinya bersama.
Jaehyun sangat bersyukur Jibeom hadir didalam kehidupannya yang menyedihkan di masa lalu, Jibeom tidak pernah menyerah untuknya dan selalu ada jika Jaehyun membutuhkannya. Jibeom sangat bisa diandalkan dan Jaehyun sangat mencintainya.
Begitupun dengan Jibeom, dari sekian banyak murid disekolahnya, dia sangat berterima kasih kepada tuhan karena sudah membiarkannya untuk mengetahui sisi lain Jaehyun semasa sekolahnya. Melihat semua suka duka Jaehyun dan menjadi tempat persembunyian Jaehyun walau hanya sebentar.
Bahkan mereka dipertemukan kembali setelah memutuskan untuk saling menjauh. Jibeom tidak pernah menyerah dengan Jaehyun, segala sesuatu tentang Jaehyun selalu membuatnya penasaran. Jibeom tidak pernah meninggalkan Jaehyun walau mereka tidak saling bertegur sapa karena dia yakin perasaannya pada Jaehyun sangat nyata. Jibeom berjanji akan selalu menjaga dan membuat Jaehyun bahagia selamanya.
- Tamat -
