Actions

Work Header

lipstick smudge and startling thing; the world had it all set up

Summary:

Bagian paling mengejutkan dari cerita keduanya adalah hubungan mereka mencapai titik balik hanya dengan sebuah kalimat sederhana.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Now, what makes you think I would date a guy who wears lipstick just like you?

Jarum jam dinding baru bergeser untuk kedua kalinya setelah kalimat tadi mencapai titik. Saat itu juga, satu pukulan mentah mendarat di rahang manusia yang berucap secara gamblang tadi. Yeonjun bukan pria murahan yang rela berdandan untuk menaruh kesan kepada pria lainnya. Segenap kain dan tatanan yang melekat pada tubuhnya adalah dia. Identitasnya yang mungkin memang tidak semua orang bisa terima. Tetapi bagaimanapun juga, dia tidak akan mengizinkan siapapun mencela dirinya lebih buruk dari suara-suara di kepalanya.

Satu malam itu berujung pada kaki-kakinya yang ia bawa menuju gang kecil yang tak berpenghuni. Mungkin sekali dua kali — atau lebih — Yeonjun akan bertemu seorang pengendara motor yang datang dengan pematik apinya untuk merokok di depan rolling door sebuah bangunan tua. Tetapi kali ini tidak ada siapa-siapa selain dia dan helmet putih yang tergeletak mengenaskan di sisinya.

Lipstiknya pudar sebab Yeonjun terlanjur dikuasai amarah untuk berpikir kalau dia tidak perlu menghapusnya. Ia menghela napas kasar selagi kedua tungkainya dibawa ke dalam pelukan. Pikirannya sudah berkabut dan fokusnya hilang sampai di mana dia sulit membedakan antara suara degup jantungnya dan derap langkah yang tertuju ke arahnya.

“Yeonjun?” Bahkan tanpa perlu Yeonjun mengadahkan kepalanya, dia sudah terlampau hafal dengan pemilik suara berat tadi.

Who made you cry again this time?” Malam itu suara Soobin terdengar lebih halus dari biasanya dan tatapannya mengandung banyak sesal sampai selepas kalimatnya usai, Yeonjun hampir menyalahartikan pria itu sedang menaruh iba padanya.

Sementara itu Yeonjun masih bertahan pada paham realitas kejahatan dunia beserta manusia-manusia bengis di dalamnya untuk sekedar menjawab sebagaimana adanya. “Do my tears look visible to you?

Sisa kesabaran Soobin habis bersama dengan napas yang dia hembus kasar. “Who hurts you again this time, Yeonjun?”

Ada penekanan di kata kedua dan untuk pertama kalinya, Yeonjun merasakan raganya seolah berbohong dengan air yang kini menggenang di kedua kantung matanya. Tatapan mereka masih melekat satu sama lain ketika denyut jantung keduanya saling bersahut-sahutan dari balik dada. Dan Soobin semakin menuntut jawaban dengan presensi kerutan di dahinya.

Listen.” Kelopak mata Yeonjun mengedip dengan begitu lihai untuk orang lain menyadari bahwa pemuda itu telah dekat dengan tangis. “I’ve seen people leaving so many times, but it’s just that….

Yeonjun tidak melanjutkan kalimatnya, tapi kedua matanya saat itu adalah aktualisasi dari sebuah luka yang menganga. Soobin belum pernah melihat Yeonjun sehancur ini sebelumnya, sehingga sulit untuk membuatnya tidak merasa iba.

It’s just that?” Soobin bertanya lagi. Tanpa merasa bosan. Tanpa ada niat untuk berhenti.

Soobin mengenal Yeonjun pertama kali lewat sebuah pertikaian di lokasi yang sama. Pada saat itu Soobin mencari persembunyian dari keramaian kota dan Yeonjun melarikan diri dari rumahnya. Pemilik rambut pirang itu hanya ingin sendiri, sementara pemuda satunya lagi mendecih dan menolak berkali-kali untuk pergi. Semua terkesan membingungkan bagi Soobin karena yang berikutnya terjadi adalah pria asing yang belum genap satu jam ditemuinya itu menangis sambil menggenggam boneka beruang di sisi kiri.

Setelah itu mereka bertemu dan bertemu lagi dalam frekuensi yang cukup dibilang sering. Yeonjun tidak lagi mengusirnya sebab dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka jarang sekali berbicara kecuali di saat-saat Soobin berniat menggoda, yang kemudian dibalas dengan jawaban yang selangit ketusnya.

Apa-apa yang terjadi setelah mereka mengenal satu sama lain cukup lama sedikit membuat pertahanan yang dibuat Soobin runtuh. Dia tidak lagi mengomel selepas Yeonjun menyelesaikan sesi menangisnya lagi di malam-malam panjang, tetapi ada sebuah anggapan bahwa dirinya tak jauh berbeda dari laki-laki bajingan yang tidak punya hati. Dan Soobin merasakannya kembali saat ini.

For someone like me,” Yeonjun tidak menjawab pertanyaannya lagi, namun dia berucap dengan bibirnya yang terlihat gemetaran, “do you think I deserve someone to have by my side?

Pertanyaan itu pada akhirnya menjadi titik balik bagi seorang Soobin; usianya telah jalan seperempat abad ketika dalam hatinya ia mengaku membenci dusta. Dia terdiam selama beberapa detik sebelum dia menggeleng konstan dengan kedua ujung alisnya yang nyaris menyatu di tengah. “No,” ujarnya di awal, “you don’t deserve someone who treats you less than you deserve.

Kalimat yang Soobin beri bersambung dengan ibu jarinya yang mengusap ujung bibir Yeonjun yang dihias bekas lipstik yang pemuda itu pulas sebelumnya. “You don’t have to.” Yeonjun buru-buru mencekal tangan Soobin sebelum empunya bertindak lebih jauh. “I looked terrible already.”

Tau-tau, jalan ceritanya berbeda dari apa yang mereka kira. Tau-tau, Yeonjun menemukan dirinya menikmati belaian halus di pipinya. Di depan sebuah bangunan tua, di heningnya malam hari, tatap mata Soobin berganti seolah ia berusaha meluruskan sesuatu. Dan intonasi bicaranya terdengar setegas garis wajahnya selagi dia berkata, “You look divine,”

 

So divine, Yeonjun,

 

 

So divine.”

Notes:

it's just a very short fic i wrote after a looong episode of writer's block. i hope you like it!