Work Text:
Iris coklat Yuuchan lebar melihat keranjang belanja yang dipenuhi oleh banyak barang. Tidak pernah sebelumnya sosok brunet berbelanja begitu banyak barang yang sama. Beberapa bungkus coklat, tepung, gula, vanila, mentega, whipped cream, dan beerapa lusin telur.
Hari ini Yuuchan dan Dazai hanya belanja berdua saja. Akhir pekan membuat keduanya tidak memiliki kesibukan. Tapi tidak dengan Chuuya. Eksekutif mafia itu sedang melaksanakan misi luar negeri saat ini. Tentu, tidak ada yang bisa mengontrol Dazai dalam menggunakan kartu kredit tak terbatas yang Chuuya berikan jika tidak ada sang jingga dewasa di sisinya.
Alis Yuuchan juga tertaut saat perjalanan pulang, keduanya tidak pergi ke arah rumah, namun ke arah rumah lama tempat Yuuchan hanya tinggal berdua dengan sang mama.
"Mama lagi gak bertengkar sama papa kan?" Tanya sang anak curiga. Pasalnya, sebelum papa pergi, keduanya tidak terlihat sedang bertengkar hebat. Lalu untuk apa mereka kembali ke rumah ini lagi?
Dazai tersenyum lebar, mencoba membuka pintu rumah sambil menjawab ucapan anaknya, "mama mau nyoba buat kue!" Serunya heboh. "Papa besok ulang tahun. Kalau Mama masak di rumah dan papa tiba-tiba pulang, suprise nya gak jadi!"
Antusiasme Dazai ikut menyebar ke anaknya. Tatapan curiga segera menghilang, digantikan dengan antusias.
"Yuuchan mau ikutan?"
Surai jingga menganggukkan kepala kecilnya.
Rumah yang sudah lama tak ditempati tak disangka begitu bersih. Terima kasih untuk Atsushi yang sesekali merawat rumah ini dan Kenji yang terkadang masih merawat bunga-bunga kesayangan Yuuchan di kebun. Segera Yuuchan dan Dazai melangkahkan kakinya ke dapur, mengeluarkan seluruh belanjaan Dazai.
Dalam sekejap, rumah yang bersih menjadi kotor. Poor Atsushi. Nanti ingatkan Dazai untuk memberikan anak didiknya beberapa potong kue jika ia berhasil membuat kue yang enak!
Percobaan pertama sudah dimasukkan ke oven. Kedua pasang iris coklat itu memandang oven tanpa berkedip. Namun tak lama kemudian Dazai dan Yuuchan lelah menunggu dan memutuskan untuk melihat kebun yang sesekali dirawat kenji. Yuuchan melompat senang saat melihat bunga matahari yang sedang mekar sempurna. Saat keduanya kembali ke dapur, bunyi 'ting' menyambut mereka, tanda oven baru saja mati, dan keduanya tidak sabar dengan hasil karya mereka.
Keduanya mendesah kecewa melihat hasilnya, gosong dan bantet. Bahkan kuenya sulit dipotong, tidak tahu kuenya terlalu keras, atau Dazai yang tidak punya tenaga.
Percobaan kedua. Keduanya menyimak video tutorial dengan saksama. Dazai bahkan beberapa kali mengulang video agar ia paham. Setelah keduanya merasa sudah memahami video tutorial, dua pasang iris coklat itu memandang satu sama lain secara serentak, lalu dengan serentak menganggukkan kepala mereka.
Mereka sedang memasang mode Duo Jenius Sedang Serius. Jika Chuuya bersama mereka saat ini, sang jingga dewasa itu tidak akan mengganggu keduanya. Mau diganggu seperti apapun, sulit memecahkan konsentrasi pasangan dan anaknya jika mereka sedang serius.
Oven sudah berbunyi, kali ini Dazai dan Yuuchan tidak langsung membuka oven, tidak ingin mengubah suhu menjadi turun drastis agar kue tetap mengembang sempurna.
Hasilnya? Tentu, gagal.
Hasilnya bagus, tidak terlalu gagal sebenarnya. Hanya terlalu mengembang sehingga pecah pada bagian atas. Di potong bagian atas juga masih bisa diselamatkan. Namun untuk hari spesial Chuuya, Dazai ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya. Dan bagi Yuuchan juga merasakan hal yang sama, ingin memberikan papanya yang sempurna karena pertama kali merayakan hari jadi sang papa.
Yuuchan mendesah kecewa. Dazai juga sebenarnya kecewa, namun tidak ingin menunjukkannya di depan sang anak, agar membentuk kepribadian Yuuchan untuk tidak mudah menyerah.
"Bahannya masih banyak, kita masih bisa coba lagi," hibur Dazai pada Yuuchan dan dirinya sendiri.
Saat mereka mengicipi kue, rasa kecewa langsung hilang, tergantikan oleh mata bersinar. Rasanya enak. Tidak terlalu manis. Tekstur lembut dan empuk. Energi mereka segera bangit dan bersemangat kembali mencoba memasak kuenya lagi.
Percobaan ke tiga, Dazai dan Yuuchan sudah tepar karena terlalu bersemangat. Keduanya langsung meluruskan badan di sofa ruang tamu setelah memasukkan kue ke oven. Saat oven kembali berbunyi, keduanya kembali bangkit bersemangat.
Berhasil. Pikir mereka. Keduanya bersorang senang. Yuuchan menunggu dengan tak sabar saat sang mama mengambil kue dari oven.
Namun mereka kelupaan satu step penting, tidak meletakkan baking paper atau mengoleskan cetakan dengan minyak sehingga kue lengket dicetakan. Dazai mencoba untuk mengeluarkan kue dengan berbagai cara, menjadikan kue hancur setengah akibat sang brunet sedikit depresi untuk mengeluarkan kue.
"Mamaaa, mau nangis, masa gak jadi-jadi," desah kecewa muncul dari Yuuchan.
Dazai juga kesal. Ada saja kekurangan dan kesalahan. Terbesit juga dipikiran untuk membeli kue saja. Tapi, ia sudah membeli bahan kue begitu banyak. Sayang jika perjuangannya tidak menunjukkan hasil.
"Mama yakin kali ini berhasil!"
Yup, dengan optimisme Dazai, mereka kembali mencoba membuat kue. Kali ini seluruh antusias mereka sudah luntur.
Bahkan saat oven berbunyi, tidak ada yang bangkit dengan semangat. Keduanya berjalan lunglai ke arah dapur.
Namun saat melihat kue sempurna di oven, antusiasme yang luntur kini kembali bangkit. Yuuchan melompat bahagia saat Dazai berhasil mengeluarkam kue dari cetakan.
"Yeaay!" Yuuchan tidak sabar mencicipi kue yang dibuat oleh keringat dan air mata. Saat makanan manis itu masuk ke dalam mulut sang anak, Iris coklatnya bersinar terang. Tidak menyangka ia berhasil membuat kue yang sempurna!
"Sekarang kita buat kue papa!" Ucap Dazai senang. Ia kembali bersemangat untuk membuat kue Chuuya yang sesungguhnya. Kali ini dengan jumlah adonan yang lebih banyak, berencana untuk membuat dua bentuk agar keduanya bisa menyerahkan kue untuk Chuuya.
Sekarang proses menghias. Karena bentuk kue yang sudah sempurna, Dazai dan Yuuchan tidak ingin menghancurkan kue dengan hiasan yang berlebihan. Hanya sedikit cream yang dibalur coklat ganache di atasnya. Masing-masing kue bertuliskan "hbd chibi" dan "hbd papa". Ditulis oleh Dazai dan Yuuchan yang sudah belajar menulis.
Dazai melihat jam di dinding, pukul lima sore. Seharusnya Chuuya sudah kembali dari misi luar negerinya, atau masih dalam perjalanan pulang. Lihat, jika ia membuat kue di rumah, bisa-bisa Chuuya ngamuk karena pulang dalam keadaan rumah seperti kapal pecah!
Dazai dan Yuuchan memasukkan kue ke kotak yang sempat Dazai beli. Meletaknya dengan hati-hati. Perjalanan pulang pun dilalui dengan hati-hati. Takut akan merusak kue yang sudah dibuat mati-matian.
Sesampainya di depan rumah, keduanya sedikit gugup, tidak mengetahui Chuuya sudah kembali atau belum. Namun saat melihat tidak ada sepatu sang papa, keduanya menghela nafas. Mereka masih punya waktu untuk mendekor rumah!
Segera Dazai memasukkan kue ke kulkas agar tidak melelehkan whipped cream dan coklat ganache yang terlalu lama dibiarkan di suhu ruang.
Keduanya sudah mandi dan membersihkan tubuh dari bahan kue, saat ini sedang menunggu kedatangan sosok yang akan bertambah tua sebentar lagi.
Lama menunggu, Chuuya tidak juga menunjukkan wujudnya. Dazai dan Yuuchan yang awalnya tersenyum sekarang mengerutkan wajah. Terlebih saat ponsel sang brunet berbunyi dan layar menunjukkan nama Chu.
"Samu, aku masih belum bisa pulang. Keberangkatanku diundur karena ada mata-mata yang tak diduga. Maaf kita gak jadi makan di luar malam ini."
Ya, Dazai dan Chuuya sudah merencanakan makan malam di luar setelah sang mafia selesai menjalankan misi, dan liburan ke pantai besok. Namun mereka harus mengurungkan rencana mereka.
"Yaaah," seru Yuuchan yang juga mendengar percakapan sang papa di telepon.
Dazai bisa mendengar helaan nafas Chuuya. "Maafkan papa ya Yuuchan. Papa gak tau misi nya bakal diperpanjang."
"Papa tidak sepintar mama yang bisa memprediksi sesuatu," celetuk Dazai yang menyembunyikan kekesalannya dengan meledek Chuuya.
"Maaf, Samu," ucap Chuuya sadar akan nada Dazai yang sedikit kecewa. "Aku akan berusaha untuk pulang paling lama besok. Dan kita masih bisa liburan seninnya."
"Yuuchan sekolah dan aku kerja."
"Sesekali libur tidak apa."
Dazai mendengus. "Tumben sekali chibi kecil ini membiarkan aku dan Yuuchan libur."
"Aku merasa bersalah tidak bisa pulang hari ini."
Sang brunet menatap anaknya yang cemberut. Perjuangan keduanya sia-sia karena Chuuya yang tidak bisa pulang. Dazai menghela nafas. "Yaudah, hati-hati," ucap Dazai ketus. Mau bagaimana pun, Chuuya tak akan bisa kembali hari ini.
Sebelum Dazai menutup telepon, ia mengucapkan kata "HBD" dengan singkat dan langsung memutuskan telepon.
Sang brunet menghibur anaknya yang kecewa akan ketidakhadiran Chuuya yang sudah ditunggu. Mereka menghabiskan waktu berdua sebelum akhirnya Yuuchan ketiduran dan Dazai menggendong anaknya yang terlelap ke kamar.
---
Siapa yang saat ini sedang menjadi pembohong dan pengingkar janji yang handal?
Ya, Chuuya.
Hingga pukul sepuluh malam, sosok jingga itu belum juga menunjukkan wujudnya. Sedangkan Dazai dan Chuuya sudah menghias kamar Yuuchan untuk dijadikan tempat kejutan. Rencana keduanya lagi-lagi gagap karena Chuuya yang parahnya tidak dapat dihubungi.
"Yuuchan marah sama papa!" Kesal sang anak. Ia sudah mengantuk dan dipastikan Chuuya tidak akan muncul malam ini. "Papa bikin mama sedih!"
Dazai kembali meletakkan ponselnya ke meja. Ia baru saja menelepon Kouyou karena Chuuya dan Kouyou melaksanakan misi yang sama, dan Kouyou mengatakan Chuuya baik-baik saja dan mereka belum bisa kembali. Sang jingga sedang tidak bisa dihubungi karena sedang pergi membeli ponsel baru, tak sengaja menghancurkan ponselnya.
Sang brunet menghela nafas karena melihat Yuuchan yang segera masuk ke kamar dengan wajah kesal. Bagaimana pun sang anak benar, ia sedih karena Chuuya beberapa kali mengingkari perkataannya. Walau Dazai tahu, Chuuya pasti tidak bisa menghindari misi tersebut.
---
Akhirnya Chuuya bisa menginjakkan kaki di Yokohama. Tentu, eksekusinya sedang menunggu di rumah. Setelah kembali ke hotel tadi malam, Ane san mengabarkan bahwa Dazai meneleponnya untuk menanyakan keadaan Chuuya. Segera Chuuya hubungi nomor sang brunet dan ternyata Dazai mematikan teleponnya.
Chuuya tahu, Dazai sangat antusias dengan hari ulang tahun Chuuya. Atau mungkin Yuuchan juga, tentunya Dazai sudah mengabarkan hari spesial Chuuya pada sang anak, juga rencana yang sudah mereka susun sebelum Chuuya menjalankan misi.
Sambil merutuki segala misi yang menghambat kehadirannya lebih cepat, Chuuya melangkahkan kakinya ke rumah. Bahkan gagang rumah terasa amat dingin karena aura yang begitu membeku.
Chuuya meneguk ludah, mengecewakan Dazai saja sudah membuatnya hampir mati, apalagi mengecewakan Yuuchan, yang notabene memiliki sifat yang sangat mirip dengan mamanya.
Sang jingga siap dengan eksekusi matinya hari ini.
"Aku pulang." Pemandangan pertama yang iris biru lihat adalah sang pasangan dan anak yang sudah rapi. Yuuchan dengan seragam sekolah dan Dazai dengan baju kerjanya. Keduanya memasang wajah kesal dan menjawab Chuuya ketus.
"Oh, masih ingat pulang." Ketus Dazai membuat Chuuya kembali menegak ludah.
"Berangkat sekarang? Aku antar," tawar sang jingga.
"Tidak usah. Chuuya baru pulang, pasti capek," jawab Dazai ketus.
"Tidak, aku masih bisa mengantar kalian."
Dazai dan Yuuchan tidak mengatakan apapun lagi. Mengikuti Chuuya dan masuk ke mobil.
Keadaan di dalam mobil terasa horror bagi Chuuya. Yuuchan dan Dazai yang biasanya berisik kini hanya diam. Membuka obrolan tentang siapa yang diantar pertama pun sang jingga dewasa tidak berani. Hingga ia memutuskan untuk mengantar Dazai terlebih dahulu. Berbicara empat mata dengan sang brunet sekarang bukan waktu yang tepat.
Saat Dazai sudah turun dari mobil, Yuuchan segera membuka suara. "Yuuchan marah!"
Chuuya melebarkan mata, "maaf, papa gak tau misi kali ini bakal ngaret. Mama benar, papa gak bisa memprediksi sesuatu kayak mama."
"Yuuchan marah," ucap sang anak lagi. "Papa bikin mama sedih!"
Chuuya menghela nafas. "Maaf. Nanti papa ngomong sama mama biar mama gak sedih lagi."
"Yuuchan bakal marah terus ke papa sampai mama gak marah lagi!"
Yuuchan segera turun dari mobil setelah mobil berhenti tepat di depan sekolah. Chuuya kembali menghela nafas. Oke, masalahnya semakin besar.
Namun tenaga Chuuya seakan tersedot habis. Sehingga ia memutuskan untuk kembali pulang dan mengistirahatkan tubuh. Tak terasa, ia tertidur hingga waktu makan siang.
Perut yang keroncongan membangunkan Chuuya dari tidur. Ia sebenarnya tidak mempercayai Dazai akan mengisi bahan makanan di kulkas, namun apa salahnya mengecek terlebih dahulu?
Bukan hanya bahan makanan yang berada di kulkas, melainkan dua kotak besar berjejer. Mata birunya mengintip isi kotak dan seketika iris melebar, dua kue dengan ukuran berbeda masih utuh di kulkas. Hiasan coklat ganache dan tulisan yang tidak terlalu rapi menandakan bahwa Dazai tidak membeli kue ini. Ia dan Yuuchan mencoba membuat kue untuk perayaan ulang tahun Chuuya pertama kalinya setelah mereka menjadi keluarga yang utuh. Pantas saja Dazai dan Yuuchan sangat kecewa.
Chuuya merutuki dirinya sendiri.
Rasa bersalah muncul di dadanya. Segera Chuuya menyusun rencana untuk merayakan hari ulang tahunnya yang terlewat. Menyewa villa dan membeli tiket setelah mendapat izin libur dari sekolah Yuuchan dan president agensi.
Setelah Chuuya mengecek rencananya yang sudah dipastikan lancar, Chuuya segera menjemput kedua sosok yang sedang merajuk. Yuuchan dahulu kemudian Dazai. Bahkan Chuuya sedikit berusaha agar Dazai bisa terlepas dari omelan Kunikida.
"Apa ini? Chuuya punya rencana culik kita, Yuuchan!" Ucap Dazai setelah melihat anaknya sudah duduk di mobil. "Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus kabur untuk keselamatan kita berdua!"
Sebelum Dazai bisa membuka pintu dan kabur, Chuuya mengunci akses pintu dan jendela dari bagian kemudi. Menebalkan telinganya dengan erangan kesal Dazai. Setelah Dazai tidak lagi mengerang dan mengomel, Chuuya membuka mulutnya. "Aku sudah janji, kita akan tetap liburan ke pantai."
Dazai berdecak kesal. "Momennya udah lewat, Chuuya!"
"Tidak apa. Momennya hanya terlewat, bukan berarti kita tidak bisa merayakannya."
Dazai mendengus, membuang muka dan lebih memilih menatap jalan dan ogah melihat Chuuya. Sedangkan Yuuchan juga masih sama marahnya.
Tiga puluh menit berada di mobil, Chuuya akhirnya menghentikan kendaraannya. Bukan, mereka bukan sudah sampai di pantai, melainkan di bandara.
"Aku baru tau pantai ada di bandara," sarkas Dazai.
"Tapi pantai bukan hanya ada di Jepang aja."
Kedua iris mata coklat menatap Chuuya kaget.
Bisa-bisanya Chuuya membuat rencana dadakan keluar negeri?!
"Hawaii?!" Keduanya heboh saat melihat tiket dan paspor yang sudah berada di tangan Chuuya.
Tidak, tidak. Yuuchan dan Dazai tentu tidak akan dengan mudah memaafkan Chuuya hanya karena sosok itu menyogok keduanya dengan liburan ke Hawaii. Keduanya masih ketus hingga mereka tiba di villa pribadi yang Chuuya sewa.
Sampai saat Yuuchan mempersilakan Dazai dan Yuuchan masuk, keduanya semakin melebarkan mata. Ruang tamu Villa sudah dihias dengan hiasan ulang tahun. Kue keduanya pun berada di tengah ruangan, masih utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Tunggu, tunggu, ini yang ulang tahun Chuuya, kenapa Dazai dan Yuuchan yang mendapat kejutan?
"Maaf karena misi sialan itu, aku melewatkan momen spesial bersama kalian. Tapi kita masih bisa merayakannya kan?"
Sang brunet masih menatap kue yang dengan susah payah ia buat, lalu menatap Chuuya lembut. "Happy birthday, slug!"
"Happy birthday, papa!" Yuuchan tidak lagi marah dengan sang papa karena melihat raut wajah Dazai yang tidak lagi sedih.
Senyum Chuuya melebar. Ia merangkul kedua sosok yang sangat berarti bagi Chuuya.
Mulai saat ini, hari kelahiran tidak akan terasa hampa bagi Chuuya. Ia memiliki sosok yang selalu bisa mewarnai momen tersebut. Dan seberat apapun misi yang akan dijalankan, Chuuya tidak akan lagi melewatkan hari spesial.
---
Bonus:
Yuuchan sudah terlelap di kamar tidurnya, menyisakan Dazai dan Chuuya yang sedang berpelukan di teras kamar utama, menikmati suara deburan ombak dan menatap bintang yang bertebaran. Sang jingga menenggelamkan wajahnya di leher Dazai yang tidak menggunakan perban, menghirup aroma sang brunet. "Momen yang pas buat bikin adek Yuuchan," gumamnya di leher Dazai.
Sang brunet dengan refleks menempeleng kepala Chuuya, menjauhkan wajah sang jingga pada bagian tubuh Dazai yang sensitif.
Namun Dazai tidak menolak, kan?
---
