Work Text:
Kuko menyusuri trotoar tanpa sebersit pikiran apa pun di kepalanya. Matanya begitu menikmati pemandangan lalu lalang, kegiatan, dan interaksi orang-orang di sekitarnya. Akhir-akhir ini ia sedikit disibukkan dengan tugas kuil, dimana suasana membuatnya tenggelam dalam keheningan. Entah kenapa, hal itu membuatnya rindu akan keramaian seperti ini.
“Papa, apa Mama akan suka dengan bunga ini?”
“Tentu saja. Itu adalah bunga kesukaannya semasa hidup.”
Sebuah percakapan ayah dan anak menangkap atensi Kuko. Benar juga, besok adalah peringatan hari kematian Jyushi. Tidak terasa enam tahun hampir terlewat sejak kepergiannya. Ah, rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan pada kawan cengeng namun pemberani itu. Kuko harus menambahkan catatan di kepalanya untuk membeli bunga sebelum ke makamnya besok.
Kuko kembali menatap ayah dan anak yang saling bergandengan dan telah berjalan semakin menjauh. Mengingat Jyushi membuatnya turut teringat soal Aika.
Seharusnya, sebentar lagi adalah jam pulang sekolah Aika. Kalau dipikir-pikir, ia sudah lama tidak menjemput anak itu. Biasanya, Hitoya yang melakukannya. Kira-kira, apakah gadis kecilnya itu akan terkejut saat mendapati Papanya yang menunggu di depan gerbang TK?
Di antara kekehan kecilnya membayangkan wajah berseri-seri Aika, Kuko membawa langkahnya menuju sekolah TK. Baru beberapa langkah diambil, sang biksu tak sengaja mendapati sang istri melintas dengan sepeda mogenya membawa penumpang wanita.
Kuko terbengong melihat sosok macho yang seharusnya menyandang status sebagai istri Tuan Harai itu menurunkan seorang perempuan dari sepeda motornya dengan sangat gentleman. Kemana sosok manis yang semalam mendesah manja minta dipuaskan itu? Seorang gentleman yang dipelototinya saat ini masih orang yang sama dengan lelaki yang tidur di pelukannya semalam, kan?
“Oh, Kuko? Apa yang kaulakukan di sini?” Hitoya yang akhirnya menyadari kehadiran sang alpha tak jauh darinya itu reflek menyapa.
“Mau menjemput Aika,” jawab Kuko spontan, sekaligus bertanya balik. “Apa yang kaulakukan di sini?”
Hitoya mengernyit heran. “Tumben? Ah, aku sedang mengantar seorang klien mengambil berkas-berkas yang harus dibutuhkan untuk gugatan. Dia meninggalkannya di rumah. Aku juga mau menjemput Aika setelah ini. Mau bareng?”
Tiba-tiba saja Kuko merasakan suasana hatinya turun menuju perimeter negatif. “Tidak usah. Aku akan menjemput Aika sendiri. Kau urusi saja klienmu.”
“Hei.”
Satu panggilan Hitoya menahan kaki Kuko yang sudah setengah terangkat hendak melangkah pergi.
“Aku dan klien itu tidak ada hubungan apa-apa, asal kau tahu.”
“Hah?! Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu?”
“Jaga-jaga saja kalau kau salah paham.”
Ah, laki-laki itu sama sekali tidak mengerti Kuko.
“BODOH!”
Usai meninggalkan satu umpatan di muka sang pengacara, Kuko buru-buru memacu kakinya. Tidak peduli pada Hitoya yang masih berusaha berteriak memanggilnya. Salah paham? Yang salah paham, kan, Hitoya sendiri! Apa maksudnya tidak ada hubungan apa-apa? Dia pikir Kuko akan mengira kalau dia selingkuh? Kuko tidak akan berpikiran sesempit itu, tahu! Kemudian, Kuko tersentak kecil menyadari sesuatu. Apa wajah jengahnya tadi sempat ditangkap laki-laki itu? Tapi, yang membuatnya kesal bukan soal Kuko khawatir Hitoya akan selingkuh.
Melainkan karena istrinya terlihat terlalu gagah dengan motor yang dikendarainya itu! Ditambah sikapnya pada si klien sampai rela mengantar ke rumah itu terlalu manly!
Kuko tidak terima. Saat dirinya tahu sisi manis Hitoya ketika putus asa menginginkan sentuhannya di masa heat, dunia justru melihatnya sebagai seorang pria sejati. Kalau begitu, kan, Kuko jadi tidak terlihat seperti alphanya Hitoya.
Sang biksu melesat dengan langkah besar-besar dan keras. Hancur sudah suasana hatinya siang itu. Apa dia terlalu kekanak-kanakan? Masa bodoh, ia sedang kesal sekarang, tak peduli apa pun alasannya. Tapi, Kuko tidak mungkin muncul di hadapan ladang anak-anak kecil dengan wajah begini. Bisa-bisa ia menakuti mereka bahkan Aika sendiri.
“Oh, itu Papa!”
Alis Kuko spontan terangkat tinggi mendengar suara imut yang familiar itu. Sepertinya anak itu sudah menyadari kehadirannya duluan sebelum tiba di depan gerbang karena pagar yang membatasi halaman TK dengan jalan yang dilalui Kuko begitu rendah sampai Aika sudah berhasil menangkap sosoknya. Meninggalkan guru TK yang tadi menemaninya, Aika berlari riang menyambut sang ayah.
“Mama tidak bisa datang?”
“Ah, iya. Dia sedang bekerja. Kau tidak senang kujemput?”
“Senang, dong!” Aika mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, meminta Kuko untuk menggandengnya.
Setelah berpamitan pada guru TK yang sedang berjaga, Kuko bersama Aika di gandengannya berjalan pulang dengan sedikit hening. Biasanya, Aika akan banyak bercerita tentang apa yang dilakukannya di TK saat dijemput Hitoya. Dan karena yang menjemputnya hari ini adalah Kuko, gadis cilik itu justru semakin ingin menceritakan hal yang sebelum ini hanya pernah disampaikannya pada Hitoya. Namun, melihat Kuko yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, Aika bingung apakah ia tetap harus cerita atau tidak.
“Papa tidak senang menjemput Aika?”
“Hah?!” Kuko terbelalak ditanya begitu. “Mana mungkin. Tentu saja aku senang. Hari ini, Aika ngapain aja di sekolah?”
Mendengar pertanyaan Kuko, mata Aika terkembang seiring dengan senyumnya. Ia pun tanpa ragu mulai menceritakan hampir seluruh pengalaman menyenangkan yang sedang memenuhi kepalanya.
“Mama,” Aika memanggil di antara kunyahan makan malamnya.
Hitoya menoleh, agak berkerut heran putri tunggalnya itu harus berbisik-bisik di meja makan tepat saat Kuko beranjak untuk mencuci piring makan malamnya. Mungkin ada sesuatu yang tidak diinginkan bocah itu untuk didengar si biksu?
“Ada apa? Masakannya agak aneh?”
“Bukan. Masakan Papa enak, kok.” Aika menyangkal sambil menyuap sesendok nasi dan bergumam nikmat, membuktikan bahwa ia tidak berbohong.
“Lalu, kenapa?”
“Itu... kelihatannya Papa agak aneh, deh, seharian ini.”
“A-aahh...”
Hitoya langsung mengerti. Tadi, sepulang Kuko menjemput Aika, Hitoya masih merasakan aura gelap si alpha dan menanyakan soal itu. Juga berkata padanya bahwa biksu itu sebaiknya katakan saja apa yang sedang menggeluti pikirannya. Tapi, Kuko sama sekali tidak memberi jawaban yang jelas. Hanya kalimat ‘tidak apa-apa’ yang selalu dilontar dari pemuda itu. Tentu saja Hitoya tidak percaya. Dia jelas-jelas lebih pendiam dari biasanya. Bahkan putri mereka yang masih bocah saja menyadari itu sesuatu yang tidak biasa.
“Nanti aku akan bicara padanya,” hibur Hitoya.
“Jangan bertengkar, ya.”
Hitoya merasakan sesuatu menohok dadanya. “A-akan kuusahakan.”
Setelahnya, Aika makan dengan lahap dan menyusul Kuko sambil menyerahkan piring kotornya. Kuko menyambut dengan senyum seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun, saat giliran Hitoya mendekat, senyum yang tadi bertengger di bibir si biksu itu telah lenyap. Ekspresinya kini sangat bertolak dari saat laki-laki yang lebih pendek dari Hitoya itu bersama Aika.
Jelas sekali suasana hati Kuko langsung memburuk saat bersama Hitoya.
“Serius, deh, kau kenapa, sih?” tanya Hitoya gemas.
“Tidak kenapa-kenapa.”
Lagi-lagi jawaban itu.
“Urusi saja dirimu sendiri, jangan pikirkan aku,” sambung Kuko ketus.
“Tidak bisa, dong. Urusanmu, kan, juga urusanku.”
“Hah?! Itu melanggar privasi.”
“Apa, sih? Bukannya selama ini kita selalu berbagi privasi?”
Kali ini Kuko memilih diam, namun kerutan di wajahnya justru semakin bertambah.
“Sudah kubilang perempuan itu hanya klien, kan?”
“Kau masih berpikir kalau aku cemburu?” Kuko mendelik, sebuah urat mencuat dari pelipisnya.
“Habisnya, kau seperti ini karena melihatku bersamanya tadi siang, kan?”
“Semuanya tidak selalu sesuai dengan apa yang kaupikirkan, tahu!”
Sebenarnya, Kuko sudah tidak begitu memikirkan kekesalannya melihat Hitoya yang terlihat keren bersama motornya. Ia sadar ia terlalu membesarkan hal-hal sepele. Sayangnya, entah kenapa melihat sosok laki-laki berusia kepala tiga itu masih tidak membuat moodnya membaik. Dan kini, saat tahu kalau Hitoya masih salah paham dengan situasinya, hal itu justru memperburuk suasana hatinya.
“Makanya kutanya kenapa, kan? Aku bukan cenayang yang bisa tahu isi pikiranmu.”
“Kalau sudah tahu, ya, jangan ambil kesimpulan seenaknya!”
“Hah!? Bukannya kau biasanya juga begitu?”
“Hah?! Sekarang kau melemparkannya padaku!?”
Aika menatap televisinya dengan cemberut. Bukannya ia tadi sudah bilang agar mereka tidak bertengkar? Tapi, orang tuanya memang sudah seperti itu, sih. Heran, deh, padahal mereka bisa sangat akrab tapi masih saja hobi saling meneriaki wajah satu sama lain. Percekcokan mereka jadi mengganggu konsentrasinya menonton kartun detektif yang sedang memecahkan teka-teki bersama anjingnya. Aika berdiri, kalau sudah begini, mana bisa ia hanya diam asyik menonton kartun sementara dua orang dewasa itu sedang melanda rumahnya dengan badai.
Meniru adegan dramatis yang pernah dilakukan papa dan mamanya, Aika memasuki dapur dengan menjejakkan kaki sekuat tenaga ke lantai dengan harapan menimbulkan bunyi bedebum yang akan membungkam segala suara. Sayangnya, pertengkaran Kuko dan Hitoya terlalu keras hingga meredam suara Aika dan tak ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaan gadis cilik itu.
Tak kalah merasa kesal dari kedua orang tuanya, Aika merobohkan kursi meja makan yang bisa diraihnya dengan keras. Kuko dan Hitoya spontan terperanjat. Dalam sekejap, dapur yang penuh suara dua pasangan yang sedang beradu mulut itu sunyi senyap.
“Aika sudah bilang untuk tidak bertengkar, kan!”
Pasangan alpha-omega itu terdiam beberapa saat, sweatdrop, sebelum Hitoya buru-buru menghampiri sang buah hati dan menggendongnya.
“Maaf, Aika. Aku tidak menepati janji, ya?” hibur Hitoya sambil menepuk-nepuk punggung gadis kecilnya.
Kuko menghela nafas, turut meminta maaf dan menyesal. “Aku juga minta maaf. Mungkin aku sedang lelah. Kalau begitu, aku akan tidur–“
“Jangan berani-berani menampakkan wajahmu di depanku sebelum kau jujur padaku!” Hitoya memotong sambil tangannya terulur, menunjuk hidung Kuko dengan jari telunjuknya. Setelahnya, ia pergi dari dapur dan membawa Aika ke kamar.
Kuko menghela nafas panjang. Sepertinya sofa akan jadi sobat malamnya lagi kali ini. Kuko menggerutu kecil. Kenapa rasa kesalnya sendiri yang harus membuatnya berujung tidur di sofa? Namun, alih-alih menuju sofa ruang tamu, Kuko membawa kakinya menuju teras yang menghadap halaman belakang rumah.
Bulan yang bertengger di langit malam itu tampak bulat sempurna. Cahayanya yang lembut menyinari bumi dengan tenang. Untuk beberapa saat, Kuko terdiam menikmati sang bulan purnama. Sampai kemudian sebuah langkah ringan bergema di belakangnya.
“Oh, kau belum tidur...”
“Mm-hm,” Kuko menjawab sapaan Hitoya tanpa menoleh, masih terpaku pada rembulan di atas sana. “Aika sudah tidur?”
“Sudah.”
Hening menyelimuti selama beberapa detik di antara angin dingin yang berhembus pelan.
"Kau masih marah padaku?"
"Aku tidak marah padamu."
Jawaban Kuko dilontar cepat sampai Hitoya terpaku dalam sekejap. Kalaupun benar tidak marah, jelas-jelas biksu itu sedang menahan sebuah rasa jengkel.
"Hhh… maaf aku terbawa suasana tadi. Kalau memikirkan aku masih belum paham apa yang terjadi padamu, aku tidak akan bisa tidur. Tinggal bilang jujur apa susahnya, sih?"
"Susah."
"Kau umur berapa, sih?"
"Aku tidak mau dengar itu darimu."
"Kalau gitu maunya apa?"
Sejurus kemudian Kuko berbalik menghadap Hitoya sambil merentangkan tangan.
"Hah?!"
"Kau tanya aku maunya apa, kan? Kalau begitu goda aku."
"Apa-apaan–"
"Kalau tidak mau, ya, sudah tidak usah tidur semalaman." Kuko kembali menyimpan tangannya dan berbalik memunggungi Hitoya.
"Oi!"
Setelahnya Kuko tidak lagi menjawab. Ngambek. Hitoya semakin pusing dibuatnya. Bukannya yang moodnya sedang buruk itu Kuko? Kenapa sekarang giliran dirinya yang merasa moodnya jadi jelek?
Tapi, demi memperbaiki situasi dan kualitas tidurnya, Hitoya mendekati Kuko dengan berat. Tangannya terulur ragu-ragu, namun akhirnya berhasil dilingkarkan di leher sang alpha. Saat itulah ia baru menyadari apa yang sedari tadi diperhatikan Kuko.
"Bulannya indah, ya?[1]" kata Hitoya refleks.
"Pfftt."
Mendengar tawa Kuko, Hitoya baru menyadari ucapannya.
"A-AKU… BUKAN BEGITU–"
Tangan Hitoya hendak terlepas karena gelagapan namun Kuko menahannya di tempat. Berkat itu, samar-samar Hitoya bisa merasakan bahu sang biksu yang tampak lebih rileks dan tidak lagi tegang.
"Itu cukup menghibur," komentar Kuko sambil terkekeh.
Hitoya menenggelamkan wajahnya di leher Kuko, menahan malu. Sebersit aroma khas sang alpha sempat terhirup indera penciumannya, dan itu mampu membuat si pengacara merasa lebih tenang.
"Yang kumaksud itu secara literal, tahu," ucap Hitoya malu-malu, berusaha mengoreksi.
Kekehan Kuko kembali menguar. "Aku tahu. Bulannya mengingatkan soal Jyushi, kan? Kau merindukannya?”
Kali ini Hitoya diam, tak langsung menjawab. Hingga kemudian Kuko mendengus pada dirinya sendiri.
“Maaf, seharusnya aku tak menanyakan itu...”
“Tentu saja aku rindu padanya,” Hitoya refleks memotong kalimat Kuko. “Terkadang aku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi meski hanya dalam mimpi. Beberapa tempat dimana aku pernah menghabiskan waktu bersamanya selalu membuatku mengenang. Bahkan bau tubuhnya masih terpatri dengan jelas di benakku.”
Kuko masih mendengarkan tanpa sepatah kata pun.
“Tapi, semua itu sudah tidak begitu mencekikku karena aku bersamamu sekarang. Kalau aku terus-terusan terpaku pada Jyushi, dia pasti akan marah padaku.”
Ekspresi Kuko melunak tanpa sempat Hitoya tahu. Hanya tawa pelan yang menandakan bahwa suasana hatinya sudah cukup membaik. “Kau benar. Dia sangat memerhatikan orang lain daripada dirinya sendiri. Terkadang, aku mengingatnya untuk menguatkanku. Aku berpikir tidak boleh jadi orang lemah. Atau nanti aku tidak akan punya muka jika bertemu lagi dengannya. Aku punya dirimu dan Aika yang dititipkannya padaku. Karena itu, aku selalu percaya dan tidak pernah meragukanmu. Kau harus tahu aku tidak pernah menuduh atau sekedar mengira dirimu selingkuh.”
Sunyi kembali menghampiri. Kuko dan Hitoya masih terdiam di posisinya masing-masing.
“Tidurlah. Besok jadwal kita berziarah.”
“Papa! Aku datang!”
Aika berteriak riang begitu tiba di depan makam Jyushi. Sementara Kuko dan Hitoya menyusul di belakangnya bersama sebuket besar bunga anyelir putih. Hal kedua yang dilakukan gadis kecil itu adalah membersihkan makam mendiang ayahnya dari rerumputan liar yang tumbuh sedikit menjulang. Setelahnya ia mengatupkan tangan dan mulai bercerita untuk dia yang sudah mendahuluinya ke surga.
“Untuk Papaku tersayang, meski masih belum pernah bertemu, aneh tidak kalau aku merasa rindu padamu? Kau tahu, kemarin Papa Kuko dan Mama lagi-lagi bertengkar. Apa saat Papa Jyushi masih hidup, mereka memang seperti itu?”
“Aika, berhenti membicarakan kami saat kami berdua ada di depanmu,” tegur Hitoya.
“Siapa, sih, yang mengajarinya menggosip seperti itu?” tambah Kuko.
“Tapi, Papa Jyushi,” Aika tak memedulikan protesan di balik punggungnya. “Kau tidak perlu khawatir. Mereka akan selalu baik-baik saja. Soalnya, Aika akan menjaga mereka. Mama bilang, Papa Jyushi sangat sayang Papa Kuko dan Mama. Kalau Papa Jyushi sayang mereka, maka Aika juga sayang dengan mereka! Lalu, kemarin di TK, Aika…..”
Hitoya menangkap Kuko yang menutupi kedua matanya dengan sebelah tangan. “Kau menangis?”
“Tidak.”
"Aika sudah tumbuh besar, ya."
Kuko dan Hitoya masih membiarkan Aika bercerita pada Jyushi tentang apa yang dilakukannya di sekolah. Sampai ketika bocah itu diam, mulai mendoakan papanya dalam hati, keduanya baru menyusul dan turut berdoa di belakangnya.
“Papa, aku lapar!”
“Iya, iya, habis ini kita makan siang. Oi, Hitoya–“
“Maaf, bisa kalian duluan saja? Aku akan segera menyusul setelah ini.”
Kuko mendengus pelan. “Oke.”
Ketika Kuko bersama Aika di gandengannya mulai menjauh dan menghilang dari pandangan, Hitoya kembali menghadap nisan Jyushi. Sebelah tangannya mengusap ukiran namanya dengan lembut, seakan tengah merekam tiap hurufnya dalam kepala.
“Enam tahun sudah berlalu dan tidak sesaat pun aku tidak merindukanmu,” ucap Hitoya sambil tersenyum. “Kemarin aku memang sempat cekcok dengan Kuko seperti kata Aika, tapi kau tak perlu khawatir, kami sudah baikan.”
Angin yang bertiup semilir dihayati sejenak. Tanpa sekali pun Hitoya memudarkan senyumnya.
“Kau tahu, Aikalah yang melerai kami. Dia sangat hebat. Dia kuat sepertimu. Aku bahkan hampir tidak pernah lagi melihat tangisannya sejak terakhir ia meraung-raung ketika masih bayi.”
Setelahnya Hitoya bercerita lebih banyak soal dirinya pada nisan Jyushi. Soal pekerjaannya, rumah tangganya, atau kehidupannya sebagai omega. Begitu ia mulai menutup perbincangan satu arahnya dengan ucapan syukur dan perpisahan sementara, ia mendengar sayup-sayup semilir angin bersama suara yang selalu dirindukannya.
“Hitoya-san...!”
Hitoya berkedip-kedip beberapa saat. Sebelum kemudian senyumnya kembali terulas ringan.
“Sampai jumpa, Jyushi. Aku tidak boleh membuat Kuko dan Aika menunggu terlalu lama, kan?”
