Work Text:
Musik yang memekakkan telinga terdengar dari ruangan sebelah, si surai cokelat memutar matanya kesal. Langit sudah berada di setengah satu pagi dan penghuni ruangan sebelah masih saja berdendang seakan tak ada hari esok untuknya menari.
Erik melepas kacamatanya dan menggosok kedua matanya yang sudah mulai lelah. Matanya menatap deretan angka yang sudah tidak jelas arahnya di layar laptop. Lelaki itu mendengus pasrah dan memijat pelipisnya. “Ini orang perusahaannya yang ngutang, kok gue yang pusing ya?” keluh mahasiswa semester lima itu dengan frustasi.
“Itu anak gak pernah musingin kuliahnya apa ya?” Erik melirik sinis ke arah dinding pemisah kamarnya dan kamar seseorang yang tengah menyetel musik dengan volume besar.
“Yeah I bet you look good on the dancefloor!” terdengar suara nyanyian yang membuat darah Erik mendidih mendengarnya. Si surai cokelat tidak bisa menahan emosinya lagi, bisa-bisanya tetangga sebelah kamarnya malah meledeknya dengan bernyanyi tengah malam begini. Bergegas ia keluar dari kamarnya dengan tatapan tajam dan rahangnya yang mengeras.
“Charles Xavier!” Erik menggedor pintu kamar lelaki yang ia panggil Charles itu dengan terburu. Di gedoran ketiga, pintu terbuka dan tampak seorang laki-laki yang keadaannya lebih dari berantakan.
“Lo bisa gak sih gak party sendirian malem-malem gini?” protes Erik meninggikan suaranya karena musik dari pengeras suara Charles memenuhi pendengaran mereka.
“Kenapa? Lo gak sen—”
“Charles! Udah malem, matiin musik kamu!” Charles yang tadinya mau membalas permintaan Erik jadi menoleh ke arah seseorang di balik Erik. Charles buru-buru lari ke dalam dan mematikan pengeras suaranya. Diam-diam ada yang menahan tawanya kala ia melihat wajah panik Charles.
Siapa yang tidak panik jika ditegur oleh Bapak Kos? Bisa-bisa Charles diusir tengah malam jika ia masih lanjut mendengarkan musik genre rock-nya menggunakan pengeras suara. Lalu mereka kembali ditinggalkan berdua.
“Erik, mau masuk gak?” tawar Charles. Yang diajak pun memicingkan matanya, Erik dapat mencium dengan jelas ada aroma alkohol di seluruh kamar Charles. “Ngapain?”
“Ya, mabok sama gue. Emang lu gak mau gila apa kuliah di universitas top markotop gitu?” sang tuan pemilik kamar terkekeh dan melindur, membuat Erik berpikir ada benarnya juga omongan lelaki yang omongannya masih dibawah pengaruh alkohol ini.
“Tugas gue belum selesai,” tapi tetap saja laki-laki Jerman itu beralasan. Charles tertawa mendengar ujaran basi teman satu kampusnya.
“Gue masih ada lima kaleng lebih kayaknya, take it or leave it,” Erik dapat mendengar jelas nada bicara Charles seperti menantangnya. ‘Kayaknya ini orang tipe yang kalo ditolak bakal maksa terus,’ batin Erik sambil terus memperhatikan wajah Charles.
“Oke, satu kaleng. Tapi minumnya di luar aja,” jawab Erik pada akhirnya. Lelaki bermata biru di depannya tersenyum puas dan mengangkat sebelah alisnya.
“Ohhh, poor Erik. Got stressed out because of uni life,” Charles berjalan sempoyongan ke dalam kamarnya dan mengambil tiga kaleng bir di lengannya dan berjalan keluar sambil terus tersenyum.
“Lo emang biasa mabok-mabok gini?” tanya Erik seraya mengambil satu kaleng bir yang baru saja Charles letakkan di meja. Mereka duduk berdua di kursi teras, Charles memejamkan matanya seraya bersandar dan ia menggenggam kaleng bir yang masih tertutup rapat.
“Nggak, sekali-kali aja ini mah.”
“Oh, lagi stres sama matkul?” tanya Erik selagi ia membuka kaleng birnya.
“Hah? Nggak kok, gue lagi ngerayain aja nilai gue A semua,” Charles menegakkan tubuhnya dan menatap Erik dengan mata sayunya. Sedangkan pria yang satunya terpaku dengan kaleng bir yang masih menempel di bibirnya.
Erik Lehnsherr, mahasiswa Akuntansi yang dilanda angka-angka sialan itu tengah terpaku mendengar Charles Xavier, mahasiswa Sastra Jerman yang tengah bersenang-senang saat ini. Tujuan mereka duduk bersama cukup berbeda malam ini, Charles minum untuk merayakan dan Erik minum untuk melepas beban.
“Lo sendiri?” Charles bertanya balik.
“Jarang minum gue, kadang di special occasion aja sih,” ujar sang pria berdarah Jerman itu seraya meneguk birnya lagi.
“Jadi gue spesial dong?” entah efek mabuk atau bukan, tapi Charles benar-benar seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi menurut Erik. “Nggak gitu juga, gue kebetulan udah lama gak minum aja, terus lagi pusing aja sama utang perusahaan yang lagi gue kerjain.”
“Parah banget ngerjain perusahaan,” Charles yang sudah mabuk berat menunjuk-nunjuk wajah pria di sampingnya dan telunjuknya hampir menyentuh hidung Erik.
“Sumpah ya lo kalo lagi sadar aja udah bawel, mabok gini malah makin aneh,” telapak tangan besar Erik mendorong wajah Charles menjauh. Mereka tertawa kecil bersamaan dan saling tatap.
Di akhir tawanya, Erik menggelengkan kepalanya karena rupanya ia memang benar-benar butuh teman mengobrol untuk melepas penat. Angin dingin menerpa kulit keduanya, mereka meneguk bir dingin dalam diam.
‘Satu kaleng,’ katanya tadi. Namun Erik sudah menggenggam kaleng ketiganya, kepalanya terasa sangat ringan dan ia terkadang mendengar lelaki di sampingnya bersenandung kecil seraya melihat ke hamparan bintang di langit satu pagi.
Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka duduk bersebelahan dan meneguk bir yang entah sudah sampai kaleng keberapa. Kamar kos mereka berada di lantai dua, bersebelahan, dan berada di balkon yang kebetulan menghadap ke jalan raya. Jadi saat ini mereka tenggelam dalam sunyi dan ditemani suara kendaraan yang sesekali melintas.
Sofa biru tua yang sudah hampir lusuh itu terasa semakin sempit, Charles sudah hampir memejamkan matanya saat ia sadar kini pundaknya dan pundak Erik bersentuhan, sudah tak ada jarak di antara mereka.
Erik—yang memang mempunyai toleransi alkohol lebih tinggi dari Charles hanya termenung dan tidak menyangkal bahwa malam ini terasa lebih sejuk dari biasanya. Charles yang berdekatan dengannya membuat pundaknya terasa sedikit hangat. Persetan dengan tugasnya yang masih tertera rapi di layar laptopnya, Erik sangat menikmati momen saat ini dimana kepalanya ringan dan tidak memikirkan apapun kecuali satu kaleng bir di tangan yang saat ini hampir habis.
“Charles,” panggil Erik memecah sunyi. Yang namanya dipanggil pun berusaha menoleh dan membuka matanya. “Hm?” tanyanya tanpa peduli sekonyol apa wajahnya sekarang.
“You’re beautiful,” mendengar itu, Charles membuka matanya dengan sempurna dan napasnya tertahan, wajahnya merah sampai ke telinga. Erik hanya tersenyum dengan tatapan sendunya, di bawah remangnya rembulan, Charles benar-benar terlihat indah saat ini. Menggemaskan bahkan—setidaknya Erik berpikir seperti itu.
“Lo mabok nih,” Charles berusaha mengalihkan, ia sentil dahi Erik dan tertawa renyah. Si surai cokelat dengan cekatan menggenggam pergelangan tangan Charles dan menahannya.
“Nope, butuh sekitar empat kaleng lagi untuk gue gak bisa buka mata,” ujar Erik tersenyum licik. Gila saja, padahal laki-laki ini sudah meneguk tiga kaleng bir sedari tadi. Charles menelan ludahnya, ia memang mabuk, tetapi ia juga paham satu hal:
Erik mengatakan hal tadi dengan keadaan hampir sepenuhnya sadar.
Namun Charles yang tengah mabuk tidak akan semudah itu merasa kalah, ia ikut tersenyum licik dengan tatapan sayunya. Erik memperhatikan setiap inci wajah Charles, setiap perubahan ekspresi yang Charles lakukan.
“If you think I’m beautiful, don’t you wanna kiss me, then?” kekehannya terdengar jelas meledek Erik, lagi-lagi satu alisnya terangkat dan Erik berpikir hal itu membuat jantungnya berdebar. Jarak wajah keduanya kurang dari sepuluh sentimeter. Erik dapat melihat dengan jelas kilauan mata biru Charles yang hampir menggelap dan senyuman liciknya membuat Erik ingin menantang Charles lagi dan lagi.
Tangan kanan Erik beralih mengusap pipi Charles. Diusapnya perlahan, jemarinya turun mengusap garis rahang Charles yang saat ini membeku dibuatnya. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Charles yang tadi jahil menyentil dahinya. Diletakkannya genggaman tangan mereka di paha si surai cokelat.
Jemarinya masih terus menelusuri setiap inci wajah Charles yang dingin tersapu angin malam. Erik tidak melepas tatapannya sedikit pun, ia perhatikan baik-baik setiap detail wajah Charles.
Charles akhirnya bernapas, dengan ragu ia mencoba nyaman dengan sentuhan Erik di wajahnya. Lelaki itu bahkan tidak tahu mengapa ia mempertimbangkan untuk menerima perlakuan manis Erik yang sangat tiba-tiba. Selama ini ia mengenal tetangga kosnya itu sebagai orang yang sibuk belajar, selalu ada kopi di tangannya, dan wajahnya sama sekali tidak bahagia. Mereka terbilang jarang berkomunikasi karena Erik lebih banyak menghabiskan waktu di kampus atau di kamar. Mereka hanya pernah beberapa kali duduk bersama untuk bermain catur bersama, itu pun terjadi sudah cukup lama.
Jadi untuk Charles melihat sisi lembut Erik seperti ini membuat jantungnya berdebar. Wajah tegas lelaki di depannya kini melembut, matanya yang tajam jadi sayu dan menatap Charles seakan seseorang di depannya adalah sesuatu yang berharga untuknya. Manik Charles berusaha melihat ke arah lain, tetapi kini Erik mengusap pipinya lagi; membuat Charles mau tidak mau melihatnya tepat di manik.
Charles sadari bahwa Erik memiliki mata biru yang indah, ujung bibirnya sedikit naik karena warna mata mereka seiras. Tatapan mereka terkunci pada satu sama lain, Charles melihat sepi dalam manik biru indah sang tuan.
“Indah, mata lo indah. Tapi kesepian,” Bak seorang telepath, Charles membaca isi kepala lelaki di depannya. Erik tersenyum mendengar pernyataan frontal dari lelaki di depannya.
“Indah, seluruh diri lo indah, Charles,” bisik Erik mendekat ke telinga Charles tanpa mengindahkan ujaran lawan bicaranya. Tengkuk Charles bergidik mendengar bisikan lirih Erik. Baginya saat ini suara Erik yang lebih rendah satu oktaf itu adalah candu baginya. Ia ingin tetangga sebelah kamarnya yang misterius berbisik lebih banyak padanya. Mengenai apapun; dirinya, kehidupannya, bahkan Charles tidak peduli jika Erik berbisik mengenai hal konyol di telinganya. Charles hanya ingin mendengar bisikan Erik lagi, suara lirih dan seksi itu membuatnya mampu menahan napas untuk beberapa detik.
Diam-diam si surai cokelat pun berusaha menetralkan detak jantungnya. Memang ia yang memegang kendali saat ini, tapi entah mengapa ia sendiri ikut terpana. Yang sedang ia usap pipinya saat ini adalah Charles Xavier, mahasiswa Sastra Jerman yang terkenal dengan kepintarannya dan keluwesannya dalam bergaul. Semua orang mengenalnya, semua orang menyukainya. Namun Erik hanya tidak terlalu mengenal tuan penghuni kamar sebelahnya. Lalu entah bagaimana, malam ini mereka berjarak terlalu dekat dan Erik sadari sang tuan rupanya terlalu indah.
Erik menelan ludahnya dan jemarinya mengusap pipi Charles sekali lagi, telapak tangannya yang hangat membuat Charles merasa nyaman. Tangannya beralih mengusap tengkuk Charles yang sedaritadi kesepian, Erik semakin membunuh jarak mereka, perlahan tapi pasti mereka memiringkan kepala mereka.
Mereka bisa merasakan napas satu sama lain saat ini, Charles sudah sedikit kembali pada pikirannya dan ia belum menolak apapun perlakuan manis Erik malam ini; justru ia tutup matanya saat lelaki di depannya semakin dekat dengan wajahnya.
Di bawah langit satu pagi, kedua bibir yang jarang bercengkrama itu bertemu. Deru napas yang beradu menciptakan kesan hangat diantara keduanya. Erik mengusap tengkuk Charles dengan ibu jarinya, matanya terpejam selagi Charles melingkarkan kedua lengannya di lehernya.
Pagutan bibir mereka terlepas setelah beberapa saat, membuat keduanya bertukar pandang. Mata Charles yang sayu membuatnya terlihat semakin menginginkan Erik untuk membuatnya semakin mabuk kepayang dengan kecupan hangat di bibirnya.
Mereka yang masih dua puluh itu tersenyum, keduanya tersadar akan satu hal: laki-laki di depannya terlampau indah, bermandikan sinar rembulan, dan mereka berpikir, 'Hati mana yang tak akan jatuh jika definisi indah adalah dirimu.'
Erik memajukan wajahnya, didekatkan bibirnya ke telinga Chales. “Let’s kiss till I’m drunk,” bisiknya dengan indah. Charles bersumpah malam itu ia akan membuat Erik Lehnsherr mabuk di dekapannya. Bukan dengan alkohol, melainkan dengan cumbu hangat yang kini sudah jadi candu untuk keduanya.
Rupanya toleransi alkohol Erik Lehnsherr yang tinggi dikalahkan oleh hangat dan lembutnya pagutan Charles Xavier. Malam itu keduanya jatuh dalam-dalam pada netra tarum satu sama lain; kini keduanya sama-sama mabuk untuk merayakan tiada laginya tengkuk yang kesepian.
