Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-05-08
Words:
6,409
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
25

Langkah Dalam Tria

Summary:

Tentu, Do Hanse mengira bahwa mendekatinya adalah mustahil. Yang ternyata membawa ia hanya pada tiga langkah sederhana yang tak sia-sia.

Notes:

ditulis untuk jeilly2385 (di twitter) sebagai birthday fic!

Selamat ulang tahun Kak Jei! 🤗

Work Text:

Rutinitas kantor lagi-lagi masih sama. Datang lima menit sebelum jam masuk, sekedar melangkahkan kaki sedikit malas pada lorong, bersapaan dengan beberapa teman sebelum akhirnya tiba di meja kerjanya sendiri.

Gedung kantor tersebut tidak terlalu istimewa. Hanya berisikan lobi kecil yang seharusnya ditempati resepsionis, lalu lift yang dulu selalu macet karena perawatan yang buruk; beruntung hal tersebut telah berlalu.

Pria itu; Do Hanse, bahkan rasanya enggan sekali menyentuh lift dan lebih dengan senang hati meraih tangga darurat daripada harus terjebak di dalam lift saat di minggu-minggu pertama ia bekerja.

Sekarang, syukurlah lift itu telah jauh lebih dirawat. Sehingga tidak ada lagi drama sedikit berkeringat karena tangga dan ia bisa bebas mengeluh dalam berdiri yang tenang.

Hanse menyentuh tombol lift dan segera masuk saat pintu bilik besi tersebut terbuka.

Membuatnya melangkahkan kaki masuk seorang diri dan akhirnya menghela nafas untuk yang pertama kali dalam pagi ini.

Rutinitas masih sama, ia tak terlalu suka bekerja.

Lagi pula, menurutnya hanya orang dengan pola pikir unik saja yang mengatakan bekerja itu menyenangkan. Karena menurut Hanse, itu sama sekali tidak benar.

Hidup monoton, mengerjakan sesuatu yang tidak terlalu ia sukai selama berjam-jam dan pulang saat petang menjelang.

Jika bukan karena tuntutan biaya hidup ibukota, sudah pasti ia lebih memilih tidur sekarang. Hanse merasa jengah, lagi-lagi menghela nafas untuk kesekian kalinya.

Pintu lift lantas berdenting terbuka, menandakan bahwa pria dengan kemeja bercorak abstrak hitam putih abstrak serta sedikit gambar dedaunan telah sampai pada lantai yang ia tuju.

Rutinitas.

Suara jari mengetik di papan keyboard banyak beradu, lembaran kertas yang terus dibolak-balik serta beberapa suara mengobrol yang teredam; hiruk pikuk kantor.

Menyebalkan.

Ia melangkah malas menyusuri lorong kecil sembari melihat banyak kepala yang terfokus pada laptop dan monitor masing-masing.

Ruangan divisinya ada di koridor paling ujung, tempat yang sedikit lebih tenang dan bermandikan banyak cahaya dari kaca yang sengaja dipasang.

Membuatnya harus melalui beberapa koridor milik divisi lain yang tak kalah sibuknya.

Hanse melangkah, masih dengan rasa semangat bekerja yang hampir tidak ada sebelum akhirnya satu orang yang bertindak sebagai titik balik semangatnya itu hadir di depan mata.

Sontak seperti memiliki rem tersendiri, kaki pria berumur dua puluh lima tahun tersebut terhenti begitu saja memperhatikan sebuah punggung yang duduk membelakangi dirinya.

Berpostur kecil serta surai lebat yang sepanjang bahu, hari ini perempuan itu mengenakan kemeja putih bergaris.

Oh, sepertinya ide untuk pergi bekerja bukan ide yang terlalu buruk.

Riku.

Ia mengusung senyum kecil saat nama perempuan itu diucapkan di dalam hati. Menikmati gelenyar hangat yang nyaman memeluk hanya dari sekedar memperhatikan dari titik tersebut.

Menyukai bagaimana sang senior dengan perawakan mungil itu sebenarnya menjadi satu-satunya hal baik yang ada di kantor ini.

Hanse masih berdiam diri di muka koridor, mengabaikan lalu lalang para pegawai lain yang tampak ingin menyapanya namun ia masih terfokus pada sang perempuan.

Maka, berlandaskan oleh debaran nyaman di dalam dada, ia berjalan mendekat. Melewati bilik meja lain dan mendatangi milik Riku dengan senyum.

Juga, lengan bertato yang kini bersandar pada dinding pembatas bilik.

“Selamat pagi, Kak.” ucap Hanse secerah matahari.

Sedangkan sang senior; Kak Riku yang tampak baru saja mempersiapkan lembar-lembar pekerjaan tersebut sedikit terkejut, lalu mendongak memperhatikan junior yang telah bertengger manis di sana.

“Pagi, Hanse.” Namun ia tetap memasang senyum manis.

“Apa pekerjaanmu sudah banyak di pagi-pagi seperti ini?” Pria Do tersebut mengganti pemandangannya dengan tangan Riku yang masih cekatan menata.

Riku mengangguk, “semalam aku memilih untuk tidak lembur.” Riku beralih menyentuh laptop hitamnya yang baru saja dinyalakan.

Setelah itu, sunyi yang merayapi. Membuat mereka berdua terdiam karena sang senior yang tampak mulai sibuk menggerakkan kursor dan Hanse yang masih diam memperhatikan.

Tentu, memperhatikan dengan debaran yang masih sama.

Ia tidak keberatan seandainya jam kerja harus dihabiskan dengan tetap berdiri di sana. Memperhatikan bagaimana Riku sekedar bekerja, bergerak kecil atau tentang bagaimana manik coklat perempuan itu memantulkan cahaya dari monitor, menjadikannya seolah-olah titik bintang indah—menurut Hanse.

Tetapi, sepuluh menit lagi pengawas divisi pasti akan memanggilnya jika ia tidak ada di meja kerja. Hanse harus segera bergegas.

“Kak, nanti makan siang mau bareng?” Hanse memberanikan diri, matanya mengintip pada koridor memperhatikan situasi. “Aku kebetulan tahu ada warung bakso enak. Denger-denger tiap jam makan siang ada menu bakso bakar juga.”

Mendengar hal tersebut Riku mengangkat alis dan mengalihkan pandangannya dari monitor, ia tampak terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mendongak membalas tatapan Hanse dan menggeleng melalui senyum manis.

“Aku bawa bekal.” Riku menjawab sekedarnya, “lain kali aja, ya.”

Jawaban yang sudah diduga, tipikal Riku sekali memang.

Untuk kali ini, Hanse memilih tidak ingin memperpanjang. Lagi pula waktunya tinggal sedikit lagi sebelum berpapasan dengan sang pengawas.

Maka, Hanse memilih mengalah. “Baiklah, aku duluan kalau begitu.” Hanse memberikan senyum manis sebagai bentuk ucapan, membuat mata sipitnya sedikit terkubur berganti dengan lengkungan bulan sabit. “Sampai ketemu nanti, Kak.”

Lalu, Pria Do itu benar-benar menyingkir. Pergi dari hadapan Riku dan meninggalkan sang perempuan untuk kembali bekerja. Sekaligus membuat sosok pantang menyerah itu sekali lagi membiarkan rencana makan siang bersama sekali lagi gagal.

 

.

.

.

 

Suara hiruk pikuk kantor itu masih ada. Hanse masih bisa mendengar suara-suara jari yang masih menari di papan ketik tanda jam kerja masih berlangsung.

Yang untungnya, walau jam masih berjalan …. pekerjaannya telah selesai.

Memang untuk hari ini lembaran pekerjaannya cukup banyak, bahkan saat jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi tadi ia sendiri rasanya ingin menutup layar laptop dan pura-pura tidak tahu ada tumpukan kertas yang menggunung.

Namun beruntung, berbekal anggapan bahwa ‘semakin cepat selesai, semakin baik,’ semua itu akhirnya selesai saat jam kerjanya masih tersisa tiga puluh menit lagi.

Lantas Hanse meregangkan otot. Wajahnya kini berubah sumringah dengan senyum kecil yang menghiasi. Tak dapat menahan rasa senang karena sebentar lagi akan pulang.

Tentu, pulang ke rumah. Namun tampaknya Hanse memiliki rencana lain setelah ini.

Sebuah rencana yang begitu saja terbesit di kepalanya saat kakinya melenggang keluar dari bilik kerja Riku—yang seharusnya memang berhasil.

Kali ini bukan rencana impulsif yang muncul begitu saja seperti yang sudah-sudah. Hanse telah merencanakannya secara matang. Memikirkan tiap detail dimana ia bisa membuat jalan buntu pada setiap alasan yang akan Riku buat.

Pria itu lantas memperhatikan pantulan dirinya sendiri dari balik bayangan laptop. Mengamati bagaimana wajahnya kini terlihat seribu kali lebih serius dan segar daripada seperti saat bekerja tadi.

Tentu, segala sesuatu tentang Riku akan membalikkan semangatnya pada titik awal.

Hanse bersandar malas pada sandaran kursinya. Lalu ia matanya tak lagi memperhatikan layar dan berganti memandangi dinding bilik kerjanya dengan kedua tangan yang bertautan di atas paha.

Menjalin pemandangan yang menjelaskan bahwa Hanse tengah berpikir.

Sekali lagi, tentu. Tentang Riku.

Beruntung pekerjaannya selesai lebih cepat. Sehingga ia bisa memanfaatkan waktu ini sebagai senggang dan membiarkan kepalanya kembali merenungi segala sesuatu yang terjadi sejak ia menginjakkan kaki di kantor ini.

Atau mungkin, tentang bagaimana akhirnya ia bisa menjadi seperti ini karena sang senior berambut sebahu tersebut.

Tidak, tidak. Bukan ia terobsesi. Hanse akan dengan yakin menampik bahwa apa yang ia rasakan adalah obsesi—walaupun memang Riku sendiri berkata bahwa Hanse yang keras kepala tampak sangat berambisi padanya, tetapi Hanse yakin, itu bukan sebuah obsesi.

Dahi pria itu berkerut dengan mata yang menyipit, menurutnya, itu lebih seperti sebuah rasa tertarik. Hanse mengangguk yakin, benar ini adalah rasa tertarik.

Lalu, sejak kapan rasa itu muncul?

Untuk kali ini, Hanse butuh beberapa detik untuk menjawabnya.

Terhitung, akhir bulan nanti adalah bulan keempat untuk dirinya telah resmi bekerja di kantor ini. Juga, menjadikannya secara resmi menyelesaikan tiga bulan sebagai pegawai magang dan telah menjalani kehidupan sebagai pegawai tetap selama satu bulan.

Selama bulan-bulan itu pula, Hanse begitu tertarik dengan senior berambut sebahu tersebut.

Kali ini tangan pria berumur dua puluh lima tahun tersebut berubah mengusap dagunya pelan.

Ia ingat, kala itu hari pertamanya bekerja dan pertama kalinya mereka bertemu tatap … juga ditempat itu. Di bilik kerja Riku bersama dengan seorang perempuan dengan baju polkadot kecil dari divisi HRD yang tengah mengajaknya berkeliling.

Sekaligus memperkenalkan mereka berdua di dalam sebuah situasi yang tidak diduga-duga.

 

.

.

.

 

“Kalau ini, bagian keuangan.” Wanita itu—yang menyebutkan diri sebagai Mbak Sarah—menunjuk pada koridor yang berada di sisi timur, tepat berseberangan dengan koridor tempatnya bekerja nanti.

Terhitung, sejak setengah jam yang lalu, Hanse dengan pakaian formal kemeja putih dan celana hitam tersebut hanya mengikuti si mbak Sarah untuk berkeliling.

Wanita itu begitu cakap menjelaskan segala sesuatu, ia memiliki alis yang tebal serta tidak berhenti untuk terus memimpin pembicaraan, yang sebenarnya sedikit memberikan untung karena ia sendiri tak terlalu suka basa-basi.

Prinsipnya hanyalah datang ke perusahaan ini, bekerja sesuai aturan dan mendapatkan uang untuk setidaknya menyenangkan dirinya sendiri.

Tetapi, sepertinya Tuhan sedikit memberikan bubuk keberuntungan, karena sejauh ini …. Mbak Sarah yang mengenakan ID card sebagai tim HRD tersebut lebih dari cakap untuk menjabarkan segala sesuatu.

Mulai dari porsi kerja, penjelasan mengenai berapa kali rapat direksi, rapat divisi atau rapat akbar akan dilakukan, bahkan wanita itu menjelaskan tanpa ditanya mengenai aturan cuti, libur serta permohonan izin dengan ramah.

Tipikal yang mudah berbaur memang.

Semua itu juga terbukti, pada setiap karyawan lain yang berpapasan dengan mereka, akan memberikan senyum tulus tanpa ada ekspresi paksaan untuk menyapa Mbak Sarah.

Seperti sekarang, bahkan Hanse bisa melihat ada salah seorang pria dengan wajah kusut yang memberikan senyum sukarela saat matanya bertemu tatap dengan Mbak Sarah.

“Ferdi.” perempuan itu menghentikan langkah si pria yang hendak berlalu.

“Sebentar ya, Hanse.” ia menyentuh bahu Hanse tanda meminta waktu. Yang ditanggapi oleh Hanse sebuah anggukan tanda ia tak keberatan.

Lalu, perempuan itu menyingkir sebentar dari sebelahnya untuk kini berhadapan dengan Ferdi.

“Tadi pagi saya ke meja kamu tapi nggak ada orang.” Mbak Sarah menjelaskan.

“Iya, Mbak. Tadi saya kena macet.”

Sarah mengangguk paham, “Oh yaudah. Saya cuma mau ngasih ini.” ia mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celana yang dikenakan. “Saya berterimakasih sekali kalau kamu mau datang.” sebagai pelengkap basa-basi, Sarah menepuk bahu pria itu, “lebih bagus lagi kalau kamu bawa pacar kamu juga. Biar nggak sendiri-sendiri banget gitu.”

Ferdi tertawa renyah sebelum akhirnya mengangguk dan pergi.

Kini, atensi perempuan itu kembali pada sang pegawai baru yang sedang melakukan pengenalan lingkungan. “Maaf, ya. Hari ini saya juga harus sebar undangan. Maaf jadi kamu yang nunggu.”

Hanse yang merasa itu bukan masalah besar tersenyum, “nggak apa-apa, Mbak. Namanya orang mau nikah juga pasti repot disempet-sempetin begitu.”

Sarah mengiyakan, “kalau ngga disempetin rasanya kaya masih kurang aja waktu dua puluh empat jam sehari buat nyiapin semuanya.” Kemudian langkah mereka kembali lagi pada lorong tempat Hanse nanti akan mendapatkan mejanya.

“Oh, iya, Hanse. Saya lupa bilang.” Sarah kembali menunjuk lorong bagian keuangan tadi, “kamu kalau mau bikin teh, kopi atau seduh mi instan bisa di pantry deket koridor keuangan tadi, ya.” Ia kembali melanjutkan, “sebenarnya kita punya pantry sendiri. Di dekat ruangan kamu tadi, tapi dispenser di sana sering bermasalah. Saya minta pengajuan dispenser baru masih belum disetujui. Jadi sementara pakai yang di sana dulu, ya.”

Hanse sempat melihat pantry kecil di lorong tadi, “baik, Mbak. Terimakasih atas informasinya.”

Lalu, perjalanan mereka berlanjut pada sebuah ruangan yang tepat berada di samping ruangan Hanse. Pria itu sempat melirik bahwa mereka yang ada di sini terlihat cukup sibuk semua.

Berisikan sekitar lima orang dalam sunyi yang tak menoleh dari monitor masing-masing, serta dua orang wanita yang sejak tadi menata tumpukan kertas dan mengetikkan sesuatu di dalam laptop. Satu berambut panjang yang diikat rapi, satu lagi memiliki rambut sebahu dengan surai lebat yang dijepit manis.

“Terus, sebenarnya kamu nggak bakal terlalu berhubungan sama divisi ini, sih. Tapi saya rasa mungkin mereka yang bakal ada beberapa berkas yang akan dibawa ke kamu.” Sarah menjelaskan sederhana lalu menuju meja si wanita ikat satu.

“Ini namanya Veronica,” sang pemilik nama itu mendongak saat namanya disebut dan memandang Hanse dengan tertarik. “Terus, Veronica, Ini Hanse. Magang baru buat gantiin si Dika.”

Perempuan dengan rambut panjang itu berdiri. Menyalami Hanse ramah sebelum kembali melihat pada layar. Hanse mengangguk paham. Sejauh ini telah mendapatkan segala penjelasan sebelum akhirnya ia kembali memandang Sarah saat perempuan itu kembali bersuara.

“Maaf, sebentar, Hanse.”

Lalu Sarah menyingkir sebentar. Mendekat pada meja disamping Veronica untuk menuju perempuan berambut sebahu tersebut dan menepuk bahunya pelan.

“Riku.”

Perempuan itu menoleh. Melihat Hanse sekilas dengan kedipan matanya yang berwarna coklat dan beberapa poni rambut yang tersampir keluar sebelum akhirnya memandang Sarah.

“Ini undangan buat kamu. Maaf tadi pagi saya mau kasih ke kamu, tapi kamu belum datang.” perempuan bernama Riku itu memberi senyum. Lalu menerima uluran kertas itu dengan wajah ramah yang tidak dibuat-buat.

“Saya bakal senang banget kalau kamu mau datang.” Sarah memberi basa-basi. “Atau saya lebih senang lagi kalau kamu mau tukar undangan juga.”

Oh, Hanse tahu atmosfer apa ini.

“Masa kamu udah umur segini, calon suami masih disembunyiin aja.” Sarah melanjutkan dengan nada ramah, dan kalimat yang tak terlalu nyaman di dengar.

Pria itu melirik sebentar pada ekspresi Veronica yang tidak melepaskan pandangan dari layar namun mengangkat alis tertarik sebagai respon.

Sedangkan si topik pembicaraan alias Riku, terdiam sebentar dan hampir menyurutkan senyum. Hanse yakin selama sepersekian detik binar ramah di mata gadis itu surut dan digantikan dengan sorot tak suka.

Namun satu detik kemudian, segala sesuatu itu urung terjadi dan senyum ramahnya kembali.

“Iya juga. Doain aja ya mbak umur saya panjang sampai ketemu calon saya.” Terakhir, kali ini Riku mendongak, membuat bola matanya memiliki kilau samar tanda pantulan dari lampu ruangan untuk bertemu tatap dengan Sarah. “Makasih buat undangannya ya, Mbak. Semoga lancar sampai hari H.”

Awalnya, Hanse sudah bersiap memasang ancang-ancang untuk pergi demi menghindari situasi canggung. Karena jujur saja, pada lingkungan seperti ini saling menyinggung soal umur matang pernikahan adalah hal sensitif.

Tetapi, sepertinya Hanse menyukai pilihan bahwa ia tadinya tidak benar-benar beranjak dari sana.

Ia memasang senyum kecil tanda ikut takjub pada jawaban yang padat dan tak memberi ruang untuk dikomentari kembali.

“Jawabannya keren ternyata.”

 

.

.

.

 

Rasanya, memang sejak itu. Sejak pertama kali mereka bertemu dan dugaan Hanse tentang pertanyaan canggung yang dilontarkan, rasanya ia memang tertarik dengan Riku sejak saat itu.

Lalu waktu berjalan, kehidupan sebagai pegawai magang dimulai, mungkin gedung kantor ini yang memiliki magnet tersendiri sehingga seiring detik berlalu, Hanse sadar bahwa sosok pertama yang ia cari adalah dia.

Matanya tak pernah bisa sabar untuk sekedar menemukan bagaimana tubuh ramping dan rambut lebat itu akan terlihat seperti apa pada hari itu.

Walau sepertinya, sekedar rasa ketertarikan saja tak cukup menjadi jalan pembuka untuk dirinya bisa lebih dekat.

Hanse menghela nafasnya lelah, lalu berganti menunduk untuk memperhatikan asal fabrik monokrom yang ia kenakan.

Riku tidak semudah itu didekati. Ia memiliki tameng yang tinggi.

Rasanya Hanse telah mencoba banyak hal. Mulai dari basa-basi ramah antar teman sekantor yang hanya ditanggapi seperlunya oleh Riku, berlanjut pada usaha Hanse yang selalu mengajak makan siang bersama, atau bahkan usaha-usaha tak kasat mata dimana ia selalu mencari alasan agar memiliki kepentingan untuk masuk ke ruangan divisi perempuan itu.

Tentu, ia tidak bodoh untuk bisa beranggapan bahwa segala sesuatu itu terasa percuma. Riku memang dekat, tetapi terasa mustahil untuk digapai.

Karena seiring waktu, sebenarnya Riku masih sama. Ia masih berdiri di sana. Tampak tak ingin mengusir kehadiran Hanse yang terus mendekat namun tidak repot-repot memberi akses untuk yang lebih muda mendekat.

Tidak peduli juga bahwa onigiri dan satu cup kopi yang sering Hanse letakkan di atas meja perempuan itu juga masih belum cukup kuat untuk memikatnya pada tahap hubungan yang lebih dekat.

Harusnya, memang Hanse menyerah.

Namun, ia selalu terlahir untuk menjadi sang juara.

Lagi pula, perasaannya telah bulat. Segala sesuatu telah matang dan Hanse yakin ketertarikan ini adalah nyata.

Hanse sadar dengan benar mengenai hal itu.

Karena ia yakin, bahwa senyum itu; senyum yang pertama kali ia lihat di antara meja-meja dan hiruk pikuk jam istirahat saat ia menyelesaikan tanda tangan kontrak sebagai pegawai tetap …. Hanse melihat Riku di sana.

Tampil dengan celana kain berwarna hitam dan kemeja bunga-bunga kecil tengah berjalan dari meja yang awalnya ia tempati untuk menggiring si Belang menjauh dari sana.

Hanse tidak akan melupakan waktu itu.

 

.

.

.

 

Pria Do tersebut akhirnya menghela nafas lega saat berhasil keluar dari ruang HRD. Setelah melalui proses selama satu jam duduk membaca surat kontrak, memastikan segala poinnya tak akan menjadi masalah di masa depan dan cukup puas bahwa jenjang karier yang dijanjikan ternyata tak terlalu sulit ditembus, ia dengan senyum merekah membubuhkan tanda tangan.

Juga, menjadikannya otomatis mulai detik ini sebagai pegawai tetap perusahaan tersebut.

Maka, yang perlu ia lakukan sekarang adalah sebuah selebrasi. Dirinya pantas mendapatkan sebuah penghargaan karena berhasil menempuh tiga bulan bekerja tanpa masalah, dan sekedar makanan enak pada kantin kantor juga bukan ide buruk.

Lantas, ia terburu bersemangat untuk sampai pada hiruk pikuk suara para pegawai yang tengah bersantai melalui makan siang mereka. Matanya menjelajah pada ruangan yang cukup ramai. Memindai cepat mengenai hidangan paling asik sebelum akhirnya seseorang mengalihkan atensinya.

Itu Riku; si senior yang selalu mampir sebagai alasannya tersenyum setiap di kantor.

Hanse membuka bibir hendak menyapa. Namun usaha itu mendadak berhenti karena kini Riku berdiri dari tempatnya duduk.

Mata perempuan itu tertuju pada satu titik, tepat pada meja-meja yang berisi teman-teman mereka sedang makan siang. Lalu ia menunduk, seperti tengah melakukan sesuatu tetapi Hanse tidak dapat melihatnya.

Tak ingin membuang waktu, Pria Do itu memilih mengabaikan rencana makan siangnya sebentar dan mengikuti kemana gadis itu melangkah.

Kakinya terburu menyusul untuk keluar dari ruangan, masih berninat menutup mulut seraya kakinya tetap mengikuti. Lalu berhenti secara mendadak saat mendapati perempuan itu berhenti tepat pada jalanan kosong di depan gedung ruangan.

Riku berjongkok. Mengulurkan sesuatu dari tangannya kepada seekor kucing.

Hanse membatin, oh? Jadi tadi ia menggiring kucing?

Pria itu masih setia diam di sana. Ingin berlama-lama memperhatikan mengenai apa yang tengah dilakukan hingga akhirnya Riku tersenyum.

Benar, tersenyum.

Hanse bisa melihat bahwa itu senyuman lebar walau hanya dari samping. Menampilkan garis wajah yang khas dan terlihat begitu menyenangkan.

“Kamu lebih baik datang ke meja ku aja. Kalau ke mereka, nanti mereka terganggu.” Riku berkata pada si kucing.

Kali ini, mungkin entah terpengaruh dari sedikitnya matahari bersinar atau memang sisi baru dari Riku baru saja terungkap, perempuan itu tampak berbeda.

Ia tersenyum tanpa beban seraya kakinya berjongkok dan kedua tangannya berada di atas lutut, sibuk menumpukan dagu di atas lipatan tangan dan memperhatikan kucing dalam diam.

Jauh berbeda dari sosok selama di kantor yang tampak tidak tersentuh, kali ini Riku lebih daripada itu.

Ia terlihat lembut.

Lalu, seperti mendapatkan dorongan tak kasat mata, Hanse yang tengah memperhatikan begitu saja mengucapkan nama sang senior secara tak sadar.

“Riku.”

Rupanya, hal itu jelas terdengar oleh sang pemilik nama hingga ia menoleh. Membutuhkan sepersekian detik untuk memastikan siapa objek di depan mata, membuat jeda sedikit lama untuk Hanse merasakan pacu debaran takut.

Yang benar saja, ia baru menyebut nama sang senior tanpa panggilan sopan pada yang lebih tua.

Rasanya Hanse siap untuk berlari, mengabaikan bahwa mungkin setelah ini ia akan dicap aneh karena berlaku seperti itu. Ia tetap tidak bisa membayangkan alasan apa yang harus diberikan pada sang senior karena ketahuan mengintip sekaligus menyebutkan nama tanpa sopan santun.

Namun, sepertinya semesta sedang bercanda sekarang.

Karena alih-alih menampilkan ekspresi tidak suka, Riku tersenyum.

Senyum yang sama seperti yang ia berikan pada si kucing. Bibirnya melengkung tulus dari sudut ke sudut bersamaan dengan matanya yang memandang Hanse yang tengah terpergok.

Debaran jantungnya tak akan salah mengenali senyum itu.

Hanse jelas merasa kikuk. Ia ingin berbalik badan dan lari namun masih tertahan oleh senyum tersebut, namun enggan mendekat karena kesalahan yang dilakukan.

Akhirnya ia hanya berdiri di sana, menggaruk belakang leher yang tidak gatal berusaha mencari alasan yang tak terdengar gila walaupun yang terucap tetap terdengar bodoh.

“Itu, aku mau kenalan sama kucingnya, Kak.” Hanse ingin memukul bibirnya sendiri. “Maaf, jadinya malah ganggu. Gak sopan lagi, kalau gitu aku balik aja—”

Riku terkekeh kecil.

Bersamaan dengan Hanse yang semakin berdebar tak karuan.

“Sini kalau mau kenalan.” Riku memberikan konfirmasi. “Belang gak gigit kok.”

Untuk beberapa detik, Hanse sempat tidak tahu apa yang terjadi. Otaknya terlalu terkejut namun juga merasa senang. Karena untuk pertama kalinya juga, ia melihat Riku yang seperti itu.

“Boleh, Kak?”

Riku mengangguk sebagai persetujuan Hanse yang kini berjalan mendekat.

Dadanya masih berisi jantung yang tidak santai, ia terlalu senang untuk akhirnya memangkas jarak dapat sama-sama berjongkok dengan perempuan yang mengisi kepalanya selama tiga bulan terakhir.

Namun, perlahan ia mulai bisa mengendalikan situasi. Tetap memasang wajah normal walau setelah ini ia akan merutuki kebodohannya habis-habisan.

“Maaf tadi aku nggak bermaksud ngintip, Kak.”

Riku beralih memandang si kucing. Lalu ia tersenyum mengangguk lagi-lagi membuat jantung Hanse semakin menggila.

“Harusnya kamu langsung ke sini aja gak papa.” Riku menjelaskan, lalu tangannya terulur untuk mengelus punggung si kucing. “Namanya Belang. Dulu ada dua, tetapi saudaranya gak pernah kelihatan lagi.” Riku menjelaskan, “suka sekali minta makan waktu kita makan siang. Tapi temen-temen kelihatannya terganggu.”

Mungkin, Hanse bisa menyebut semua itu sebagai keajaiban. Karena menurutnya langit jauh terlihat lebih cerah, dengan sinar yang membuat penerangan tak terlalu silau untuk mereka memperhatikan Belang, juga angin berhembus sejuk yang menerbangkan beberapa helai rambut Riku yang masih meletakkan dagu di atas lipatan tangan.

Sebelumnya, Riku tidak pernah terlihat seperti ini.

Detik berikutnya Riku menoleh. Membuat ia bertemu tatap dengan Hanse untuk pertama kalinya dalam jarak sedekat ini. “Ngomong-ngomong, terimakasih, ya.”

Hanse sadar sedikit dari renungannya, “untuk apa, Kak?”

“Untuk semua onigiri dan kopi yang kamu taruh di mejaku. Aku tahu itu semua dari kamu.”

Sial, debaran itu benar-benar nyata. Batin Hanse mati-matian menutupi suara jantungnya sendiri yang menggila.

 

.

.

.

 

Semenjak detik itu, waktu berlalu seperti sengaja bertaburan bunga. Sebelumnya, Hanse selalu berpikir bahwa ia hanya terus maju mendobrak kala Riku hanya mengunci pintu.

Ia pikir semua percuma. Namun, siang bersama si Belang itu menampik segala persepsinya.

Riku tidak mengunci pintu. Ia hanya menutupnya dan Hanse hanya perlu sebuah ketukan yang tepat untuk membuat pintu itu terbuka.

Ia tentu senang, semua itu berbuah lampu hijau.

Walau, sayangnya …. lampu hijau itu tidak berbuah terlalu lama. Pintu itu terasa menutup kembali.

Hanse kini menyentuh tombol shut down pada laptopnya dan membiarkan matanya memperhatikan program yang tengah mati. Untuk selanjutnya kembali pada renungan tentang perempuan di kepalanya.

Memang, waktu makan siang itu seperti sebuah lingkaran bahagia yang tidak memiliki ujung. Namun seolah sihir telah selesai, Riku terasa menutup diri kembali.

Walau memang bukan hal baru lagi Riku sering melempar senyum padanya, tetapi perempuan itu seolah kembali tampil memberi jarak.

Hanse mengharapkan bahwa ia bisa jauh lebih intens menghabiskan waktu bersama. Ia pikir, setelah ini sekedar berjalan berdua bukan hal mustahil.

Walau nyatanya, memang seperti itu. Riku kembali hemat kata.

Namun kini Hanse mampu membuat jalan pintas dari aksinya. Karena setelah empat bulan menghabiskan waktu untuk terus memperhatikan, ia tahu satu hal yang pasti.

Bahwa ia jelas tidak boleh menyerah, sama seperti sekarang …. Pria berumur dua puluh lima tahun tersebut menutup laptopnya, mengambil tas dan berdiri.

Merapikan helai rambutnya sebentar dan memastikan bahwa rambutnya dalam keadaan baik.

Dan menyiapkan diri, karena kini ia telah terlanjur bulat membuat keputusan.

Ia akan mengajak Riku untuk pulang bersama.

Juga, untuk berbicara.

Baik, Do Hanse. Semoga berhasil.

 


 

Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, kaki pria itu telah menginjakkan pedal gas secara perlahan seiring dengan mobilnya yang melaju di pinggiran jalan.

Matanya meneliti setiap sosok yang tengah berdiri di trotoar. Seharusnya Riku berada di sekitar sini. Hanse memperhatikan, masih dengan memastikan laju mobilnya yang lambat agar tidak mengganggu pengguna jalan lain, hingga akhirnya perempuan dengan rambut yang menutupi sisi wajahnya itu terlihat.

Hanse mematikan mesin mobil dan memutuskan turun dari kursi kemudi.

Ia berjalan santai menuju Riku yang masih tidak menyadari kehadirannya, ia tampak bersedekap di depan perut memperhatikan setiap kendaraan yang ada.

“Kak.” Hanse berbisik sedikit.

Lalu, Hanse tidak melakukan apa-apa dan berdiri di samping Riku. Membuat perbedaan tinggi mereka cukup signifikan dan turut memperhatikan jalanan.

Hanse mulai berkata, “angkotnya masih lama, Kak?”

Perempuan itu menoleh. Ia mendongak untuk menampilkan ekspresi terkejut dan berulang kali melihat pada mobil milik Hanse dan pemiliknya yang bersikap seolah tidak memiliki salah.

“Kamu?” Riku masih berusaha menyusun kalimat. “Ngapain di sini?”

Hanse kini berganti meletakkan tangannya ke dalam saku celana. “Mau naik angkot.” Jawabnya acuh.

Sedangkan Riku tidak bodoh untuk melihat bahwa mobil pria itu ada di sini. “Kamu bawa mobil, Hanse.”

Pria itu mengangguk, “Memang, aku mau ninggalin mobilnya di sini. Terus naik angkot.” Hanse melepas pandangannya dari jalan raya untuk menunduk agar bisa bertemu tatap. “Soalnya aku tau kakak pasti nolak lagi kalau aku ajak pulang bareng. Jadi, biar kita naik angkot bareng aja.”

Untuk beberapa saat, Hanse bisa melihat bahwa Riku membuka mulut. Hendak mengatakan sesuatu namun Hanse paham nanti adalah segala kalimat penolakan yang mengatakan bahwa ia tidak perlu berbuat seperti ini.

Tetapi, pria itu sudah tahu bahwa Riku tidak serta merta akan menyerah begitu saja.

Maka, ia telah menyiapkan alasan terlebih dahulu.

“Aku bakal terus kaya gini sampai mau pulang sama aku.”

Riku diam. Kepalanya berputar mencari kalimat namun detik tetap berlalu hingga akhirnya ia menghela nafas.

“Kamu nggak bakal nyerah, ya?” komentarnya tanpa topik yang jelas.

Tetapi seolah memahami maksud kalimat tersebut, Hanse mengangguk. “Aku gak bakal menyerah.”

Mendengar jawaban itu, Riku ingin sekali memberi sanggahan keberatan. Namun ia memilih mengurungkan niatnya dan akhirnya mengangguk. Tampak pasrah tanpa pilihan.

Jelas, bentuk pasrah tersebut disambut baik dengan yang lebih muda. Ia memberikan wajah sumringah dan berjalan untuk membukakan pintu bagi sang perempuan.

Langkah pertama; berhasil.

 

.

.

.

 

Kini, giliran langkah kedua. Kendaraan pria itu masih melaju normal pada jalanan yang tak terlalu padat. Jemari Hanse masih menggenggam setir kemudi erat dengan sesekali melirik pada perempuan di sampingnya yang juga terdiam.

Benar, langkah kedua. Pria itu menelan saliva. Langkah terakhir, semoga semesta kembali mendukung.

Namun sepertinya semesta tidak sebaik itu. Karena nyatanya, mereka sudah hampir sampai di tujuan, dan Hanse masih belum bisa menemukan kalimat untuk berbicara.

Tetapi, ia telah bertekad di dalam hati. Ia tidak boleh gagal.

Oke, tarik nafas.

“Kak,” Hanse berujar pelan.

Ia berusaha abai pada fakta bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di depan rumah perempuan itu. Hanse merasa optimis dengan dirinya sendiri bahwa setidaknya, hari ini ia harus berusaha.

Riku menoleh. Menunggu Hanse untuk melanjutkan.

“Aku serius.” ucapnya langsung tanpa basa-basi. “Aku serius aku tidak akan menyerah.”

Awalnya, suasana di dalam mobil tersebut memang sunyi. Tetapi Hanse bisa merasakan jika kali ini jelas jauh lebih sunyi. Hanya diisi oleh kerjapan mata Riku yang tampaknya tahu kemana pembicaraan ini mengarah.

Ia tidak mengatakan apa-apa dan mengalihkan pandangannya pada audio mobil milik Hanse.

Hal itu memberikan kesempatan pada Hanse untuk kembali melanjutkan kalimatnya, “Aku bakal terus maju, Kak.”

Pembicaraan tersebut memang terdengar tanpa konteks. Tampak membicarakan sesuatu yang abu-abu, namun Hanse lebih dari tahu bahwa perempuan di sebelahnya juga paham dengan kalimat tersirat bahwa ‘Hanse tidak akan menyerah untuk mendekatinya.’

Hingga mobil itu berhenti tepat di depan rumah dengan teras sederhana tanda tujuan mereka telah sampai, Riku masih diam.

Ia masih merenung, dan memutuskan untuk kembali mendongak. “Kalau aku boleh tanya, kenapa?”

Hanse menggeleng, “aku tidak memiliki alasan. Yang aku tahu, aku hanya tidak ingin menyerah.” kali ini, ia menegaskan secara gamblang. “Aku sudah tertarik padamu sejak awal. Aku bukan tipikal orang yang mudah menyerah.”

Pria Do tersebut tampak begitu yakin. “Jadi, aku cuma mau kasih tahu kalau percuma kakak terus menghindar. Karena aku gak bakal menyerah.”

Riku tersenyum kecil, namun tidak dengan matanya. “Kau akan terus berusaha walau kita terpaut jarak lima tahun?”

Sejujurnya, Hanse cukup tidak menduga jawaban itu. Tetapi sejak awal dirinya juga paham bahwa Riku adalah sosok yang lebih dewasa.

Ia mengangguk, “umur bukan masalah. Aku akan terus berusaha.”

Akhirnya, Riku tertawa. Ia memperhatikan sebentar tautan tangannya sendiri sebelum menoleh pada Hanse memberikan senyuman lebar.

Senyum yang sama seperti di hadapan di hadapan si Belang.

“Kalau begitu, aku akan memberikan jawaban saat aku juga merasa baik.” Ia membuka pintu mobil, “terimakasih atas tumpangannya, Do Hanse. Semangat.”

Lalu pintu mobil tertutup. Membiarkan perempuan itu berjalan menuju pelataran rumahnya untuk menyambut satu sosok pria yang tampak penasaran dengan mobil Hanse.

Meninggalkan pria itu untuk masih duduk termenung di dalam mobil. Larut dalam pikirannya dan tersenyum kecil untuk berucap monolog.

“Semangat katanya.” ia mengangguk dalam kesendirian, “benar, semangat. Usahaku tidak akan sia-sia.” ucapnya pada diri sendiri atas apresiasi akan usahanya yang berhasil.

Ia sukses pada langkah pertama untuk mengajak pulang bersama, lalu langkah kedua untuk berbicara mengenai perasaaan. Hanse mengangguk yakin pada dirinya, maka bukan usaha yang mustahil untuk mendapatkan langkah yang ketiga.

Benar. Bukan usaha yang sulit untuk akhirnya ia bisa mendapatkan cinta nantinya.

Semoga, semesta kembali memihak padanya.

 


 

Hanse meletakkan gelas kopinya di atas meja. Masih merasakan seberkas rasa pahit dari minuman pekat tersebut di dalam mulut untuk selanjutnya ia nikmati bersama dengan semilir angin Yogyakarta yang terasa sejuk.

Matanya memandang lurus pada setiap garis pemandangan yang ada, menikmati bagaimana sajian khas kota yang kental dengan budaya Jawa ini terasa nyaman untuk dipandang.

Memberikan rasa nyaman sekilas dari hiruk-pikuk kantor dan pekerjaan yang tidak ada habisnya—untuk itu, mari berterimakasih pada kantor yang telah menyediakan kesempatan libur dalam tajuk gathering, yang sejujurnya lebih seperti berlibur sama-sama ke Yogyakarta

Pria itu menghembuskan nafasnya pelan, sekaligus memberinya kesempatan untuk merenung sedikit lebih lama.

Matanya kembali memandang pemandangan kota dan atap-atap rumah yang ada, sedikit senang karena memang hotel ini memiliki balkon kamar yang menyenangkan.

Lantas, kepalanya kembali masuk pada sedikit kilas balik. Pada masa-masa di mana ia menjadi pegawai magang selama tiga bulan, menghabiskan satu bulan pertama dengan sibuk mencari cara mendekati Riku, lalu dua bulan terakhir dimana ia semaki gencar tanpa putus asa untuk tetap mendekat.

Total, enam bulan ia mencoba segalanya. Mulai dari ajakan biasa yang kerap ditolak, sedikit paksaan berbuah manis hingga terkadang Riku yang mulai terbiasa untuk mendatanginya duluan.

Apakah itu berarti lebih banyak lampu hijau? Hanse hanya mampu mengangkat bahunya tanda ketidak tahuan.

Sejauh ini mereka terasa lancar. Terhitung beberapa kali pulang bersama—dengan wajah sedikit cemas karena seniornya itu memiliki kakak laki-laki yang akan menunggunya pulang dengan tatapan menyelidik pada Hanse—lalu agenda sekedar makan siang bersama, menengok si Belang dan bahkan dua tiket nonton bioskop yang diterima oleh Riku.

Hanse bisa bilang jika mereka memang dekat. Tetapi Hanse total merasa ragu jika ia bisa berkata bahwa pintu perempuan itu telah terbuka sepenuhnya.

Benar, Hanse merasa masih ada sisi yang tertutup seolah bagian itu dilapisi oleh tameng baja yang tidak tertembus. Beberapa kali memaksanya untuk tidak berjalan lebih dalam seolah tidak ingin diketahui lebih lanjut.

Jujur, hal itu membuatnya sedikit hilang arah.

Apa Riku merasakan hal yang sama untuknya? Tidak pasti.

Namun, dengan kadar yakin seribu persen, Hanse saat ini bisa mengatakan bahwa ia telah jatuh sepenuhnya dalam kubangan jatuh cinta.

Enam bulan cukup untuknya terus menjajaki sifat perempuan itu dan meyakinkan diri bahwa itu semua bukan sekedar rasa tertarik.

Itu adalah rasa yang lebih dalam, jauh ingin lebih bersama dan membagi segalanya sebagai seorang kekasih.

Dan tanah Yogyakarta mengkonfirmasi semua itu.

Petang ini, adalah petang ketiga sejak kedatangan rombongan bis kantornya di Yogyakarta. Tak banyak kegiatan resmi yang harus diikuti, kantor lebih banyak memberi pilihan bebas agar mereka bisa menyegarkan pikiran.

Juga, membuat Hanse diam-diam semakin tertarik untuk mengikuti kemana perempuan itu pergi. Demi memuaskan rasa bertanya-tanya di dalam hati mengapa ia tidak ada di kerumunan, dan memilih menghabiskan waktu sekedar berjalan-jalan singkat di sekitar area hotel.

Lalu menikmati bagaimana debaran kasmaran itu membuatnya seolah mengalami pacuan adrenalin hanya karena memperhatikan Riku tersenyum pada seorang ibu-ibu penjual gelang di pinggir jalan.

Dan tentu, seperti kisah si belang. Ia tidak pandai menguntit—lagi pula, ia juga tidak suka cara sembunyi-sembunyi seperti itu.

Maka yang bisa Hanse lakukan tentu terpergok.

Terjebak dalam situasi canggung yang mana Riku lantas tertawa dan berseru, “ngga usah ngikutin. Mending jalan bareng sini.” dan segala kisah itu berakhir dengan kencan kecil berjalan keliling Jogja.

Besok sesampainya di ibukota, Hanse akan melingkari kalendernya dengan tulisan ‘bahagia di Jogja’ selama tiga hari ini.

Ia benar-benar menyukai kota ini—karena ada Riku di dalamnya—dan itu semua pantas diabadikan nanti.

Tetapi ia belum tahu, bahwa segala kisah manis ini akan berujung pada hubungan bahagia atau tidak.

Maka, untuk melakukan pengesahan tersebut, ia telah membuat janji kecil dengan Riku sebelum kepulangan mereka besok pagi.

Bahwa mereka berdua akan bertemu dua puluh menit lagi di warung tenda penjual gudeg tidak jauh dari hotel.

Juga, menjadi langkah terakhir dari rencana Hanse sejak dua bulan yang lalu.

Langkah ketiga dimana semua akan diselesaikan; dengan menyatakan perasaan.

 

.

.

.

 

Sesampainya dia di sana, Hanse bisa segera mengenali mana punggung kecil dengan rambut sebahu tersebut. Ia duduk memunggungi Hanse untuk menghadap sang penjual gudeg.

Tak membuang waktu lagi, Hanse turut bergabung duduk di sebelah Riku.

“Apa aku terlambat?” Hanse mengusak surai hitamnya yang cukup mengganggu pandangan, lalu merapikan sedikit kemeja coklat susu yang sengaja digulung sebatas siku dan menampilkan tato duyung di lengannya.

Sedangkan Riku yang selalu berpenampilan manis tersebut menggeleng, ia membuat poninya diarahkan ke samping dan tersenyum. “Aku baru aja sampe. Itu baru aku pesenin dua porsi juga.”

Hanse memberi anggukan sebagai konfirmasi, “aku pikir udah telat. Soalnya tadi Mas Ferdi minta tolong temenin beli soda dulu.” Hanse menjelaskan, memberi tahu bahwa Mas Ferdi sang teman sekamar memang menjadi alasan mengapa ia sedikit lebih lama.

“Santai aja.” Riku beralih menghadap sang ibu penjual untuk menerima porsi makanannya yang telah jadi. “Kita cuma mau makan gudeg. Bukan mau rapat direksi.”

Tak lama setelah itu, diikuti dengan Hanse yang menerima gudegnya sendiri. Membuat mereka akhirnya larut untuk memandang makanan tersebut sekilas, sebelum sama-sama melahap dan membiarkan Riku mengangguk dengan wajah senang.

“Emang sih ini gudeg yang paling enak.” Perempuan itu menjelaskan, “padahal aku cuma cari tahu di twitter aja. Cukup deh buat makanan penutup sebelum besok balik.”

Suasana memang benar-benar mendukung. Angin masih sejuk meniupkan udara membuat Hanse yang mengenakan celana kain tak terlalu tebal itu tetap merasakan dingin, walau beberapa kali ia cukup terganggu akibat poninya yang terus tertiup.

Lalu jalanan yang tetap ramai seperti biasanya, menandakan Jogja memang hidup walau tak terlalu bising. Terakhir, keadaan tenda yang tak terlalu banyak orang sehingga mereka tetap bisa melakukan percakapan tanpa perlu takut mengganggu orang lain.

“Seandainya aja kantornya pindah ke Jogja, ya.” sambung Riku kembali entah pada suapan ke berapa. “Stress kita semua bisa berkurang 50% kayaknya.”

Hanse tertawa kecil, “Sebegitu sukanya sama Jogja, ya, Kak?”

Perempuan itu mengangguk, “Seenggaknya kalau stress bisa ke malioboro sekedar jalan-jalan.” Riku menggerakkan sendok untuk mengambil lebih banyak nasi. “Daripada di kantor. Stress paling cuma bisa ke pantry. Itu pun masih denger anak keuangan pusing soal hitungan.”

Memang analisi Hanse tidak pernah salah. Ia sempat berkata bahwa Riku sulit didekati, namun fakta bahwa saat pintu itu terbuka, ia tetap bisa menemukan Riku yang punya banyak cerita.

Walau tameng masih belum berpindah ke mana pun.

“Kalau aku sih. Mau di mana aja kantornya tetep oke.” Hanse menjawab, menghabiskan beberapa suapan terakhir dan lanjut berbicara. “Di Jogja oke, mau di kantor juga oke.”

Hanse menarik nafas, “Soalnya tiap stres aku selalu bisa baikan lagi dengan liat Kakak.”

Gerak sendok yang terus bergerak di atas piring beralas daun pisang itu terhenti. Namun tak mendongak untuk tetap mendengarkan, karena Riku sedikitnya tahu mereka janji bertemu karena yang lebih muda berkata bahwa ada yang ingin ia bicarakan.

“Kalau kakak nggak keberatan. Tujuanku buat ngajak ketemu, ya itu.” Hanse selesai dengan porsi gudegnya yang telah habis. “Enam bulan udah lebih dari cukup buat ngeyakinin aku kalau ini bukan sekedar naksir.”

Suara pria itu kembali berlanjut, “walau memang rasanya kaya beberapa kali sulit ditembus, tetapi semakin aku tahu tentang kakak, semakin ngga bisa keluar dari sana.”

Hanse menaikkan bahu, mencoba memecahkan suasana canggung dengan sedikit nada bercanda. “Walau tetep aja masih ngga tau gimana caranya nembus ke kakaknya Kak Riku yang masih ngasih tatapan interogasi ke aku.”

Hanse mencoba membawa tema jenaka tentang memang pria di rumah Riku yang tidak berhenti merasa waspada, tidak peduli bahwa sudah hampir setiap hari Hanse mampir untuk mengantarkan seniornya tersebut.

“Yang aku tahu, aku cuma suka sama kakak.”

Riku masih diam. Perempuan yang gemar berpikir itu masih butuh waktu untuk mencerna penjelasan yang lebih muda. Walau sejujurnya ia sama sekali tidak terkejut.

Karena mereka sama-sama tahu bahwa ada titik saling tertarik di sana.

“Terus, mau kamu apa?” tanya perempuan itu akhirnya.

Mereka bertemu tatap, Riku mendongak mencari jawaban dari yang lebih muda dengan menunggu bibir itu kembali menjelaskan.

Dan jelas, untuk Hanse yang merasa debaran itu juga masih terasa menakjubkan saat mereka saling bertatapan seperti ini, memberikan jawaban sesuai prediksi.

“Aku mau kita pacaran.” Hanse menundukkan pandangannya sebentar, “tapi aku masih clueless tentang gimana kakak ke aku.”

Mendengar yang satu itu, Riku tertawa kecil. Namun tetap menjaga agar tidak bersuara dan membuat suasana lebih canggung. Tetapi, perempuan itu tetap memastikan sesuatu.

“Meskipun aku lebih tua dari kamu?” ia kembali meyakinkan, “kita beda lima tahun. Semua jadi nggak semudah sekedar saling suka karena aku emang juga suka sama kamu.”

Sontak, Hanse mendongak dengan mata sedikit membulat mendengar pengakuan yang lebih tua.

“Sungguh?”

“Sejak lama, aku juga mulai menyukaimu.” Riku mengangguk, “tetapi untuk bersama, kita gak cukup buat saling suka aja, Hanse.”

Hanse bisa merasakan jika bangku kayu yang ia duduki ini terasa memiliki kemampuan khusus yang bisa menerbangkan ia hingga bersama awan-awan. Terlampau bahagia karena telah mendapatkan penegasan bahwa sang pujaan juga merasakan yang sama.

Tetapi beruntung kemampuan khusus kursi itu hanya fiksi belaka, sehingga sedikit akal sehatnya bisa kembali untuk menjawab pertanyaan Riku.

“Aku nggak bisa jamin apa-apa soal bagaimana kedepannya.” ia berkata sederhana, “karena kita sendiri juga tidak bisa memastikan apa-apa pada setiap detik yang berjalan. Hidup itu misteri, Kak.”

Pria Do tersebut kembali menjelaskan, “Tapi aku bisa jamin satu hal. Karena aku beneran percaya soal segala macam jatuh cinta, aku yakin jika dasarnya memang saling terlibat oleh perasaan, semua akan saling mengutamakan kebahagiaan masing-masing.”

“Jadi, aku percaya. Di masa depan yang nggak pasti, aku pasti bakal melakukan yang terbaik buat semuanya.” Hanse menjelaskan panjang lebar. “Termasuk untuk tetap menjaga semuanya, melengkapi apapun itu yang membuat kakak merasa jarak lima tahun sedikit menjadi penghalang.”

Sebagai penutup, Hanse memberikan penegasan terakhir. “Sejak awal aku nggak pernah main-main. Begitupun sampai akhir, aku bakal menjaga semuanya.”

Untuk beberapa detik, Hanse bisa melihat bahwa perempuannya tengah menimbang suatu hal. Ia hafal dengan baik bagaimana mata itu tampak sedang berpikir sebelum akhirnya digantikan oleh lengkung mata penuh senyum.

“Iya, benar. Masa depan memang penuh hal-hal yang tidak pasti.”

Riku menautkan jemarinya sendiri dan mendongak lagi untuk memandang yang lebih muda penuh pandangan tulus. “Kalau gitu, aku sepertinya cukup yakin ya buat bersandar sama kamu buat masa depan nggak pasti itu?”

Hanse jelas tidak bisa menahan senyumnya, “apa itu artinya, kita? Pacaran?”

Riku menengadahkan tangannya dengan merentangkan jari, mengkode pada sebuah tautan bersama yang dilanjut dengan anggukan.

“Sama kaya kamu, aku cuma perlu yakin dan berusaha, ‘kan?” Riku berkata kembali, “masa depan nggak pasti, tapi dengan perasaan seperti ini kita bisa saling menjaga sampai akhir.”

Maka, seperti itulah Yogyakarta menjadi penutup kisah. Menempatkan dua insan yang awalnya dihadapkan oleh segala sesuatu yang abu-abu untuk saling yakin.

Bahwa untuk berjalan ke depan, mereka hanya butuh satu sama lain.

Dengan begitu, semua selesai; langkah ketiga selesai, dan Hanse berhasil tinggal di dalam pintu yang terbuka.

.

.

.

END