Chapter Text
bagian satu.
Namanya Adam.
Bocah itu baru saja meniup sepuluh lilin di kue ulang tahun saat ayahnya berpulang; meninggalkan Adam dengan ibu dan empat adik perempuannya. Komplikasi karena gagal ginjal, kata mereka. Kasihan, ya Tuhan, anaknya masih kecil-kecil, kata mereka. Adam mengepalkan tangan di pemakaman; berdiri tegak menahan air matanya untuk tidak tumpah. Bocah kecil itu ingat betul perkataan terakhir ayahnya; Kamu satu-satunya lelaki, Adam. Jaga ibu dan adik-adikmu.
Adam bersepeda ke gym di tengah kota sore harinya; masih dengan mata sembab, masih dengan pakaian hitam-hitam. Aku ingin berlatih tinju, katanya sesenggukan pada gadis penjaga resepsionis. Aku tidak punya uang tapi aku bisa menyapu atau mengepel ruangan. Si gadis resepsionis tidak menjawab, hanya mengerutkan kening sambil pelan-pelan menggeleng. Tapi sang pemilik yang kebetulan lewat mendengarnya. Oke, kata pria asing paruh baya dengan logat bahasa Indonesia yang aneh itu. Kamu bersihkan kamar mandi di ruang ganti setiap hari jam lima sore. Tidak ada pelatih untukmu, Anak Kecil, tapi kau bisa pakai alat-alat di sini sesukamu.
Adam mengusap ingusnya; mengangguk. Dia butuh jadi lebih kuat—jauh lebih kuat, untuk bisa memegang janjinya pada Ayah.
Fina. Nani. Nina. Amanda. Nama adiknya. Fina dua tahun lebih muda. Nani dan Nina kembar, empat tahun tertaut dengan Adam. Amanda, dia ingat, baru belajar berjalan saat ayahnya pergi.
Jaga ibu dan adik-adikmu, Adam; Adam memahat kalimat itu di dadanya.
Adam kecil beranjak dewasa dengan sempurna. Rahangnya mengeras, ototnya terbentuk, tingginya bertambah. Dia harus menunduk untuk bisa mencium tangan ibunya sekarang. Keluarga mereka hidup tidak kekurangan—hanya cukup. Cukup untuk bisa makan tiga kali sehari, cukup untuk bisa membiayai lima anak bersekolah. Ibunya pegawai bidang akademik. Universitas tempat ibunya bekerja menawarkan beasiswa untuk keluarga dosen dan karyawan; Adam mengambilnya. Teknik Mesin, Ibu berdecak saat Adam menunjukkan berkas penerimaan mahasiswa baru padanya. Seperti ayahmu dulu.
Adam mengulum senyum. Bangga.
“Lagi cari cewek gak, Bang?” tanya Fina saat Adam menjemputnya di sekolah.
Adam menaikkan sebelah alis, tanpa kata menyodorkan helm polos hitam dan menahan motor saat adiknya itu melompat ke jok belakang. Beberapa anak SMA yang lalu lalang di depannya menoleh kaget saat raungan Kawasaki milik Adam terdengar menyentak.
Fina memukul belakang helmnya. Adam tertawa.
Motor besar hitam itu adalah barang paling berharga yang Adam punya. Dia beli bekas dari tawaran salah satu anggota tetap gym tempatnya bekerja. Masih cicilan enam bulan memang, tapi setidaknya dia bisa beli dari uang sendiri. Sudah hampir sepuluh tahun ini Adam kerja sambilan di gym tempatnya biasa berlatih. Herr Paul, pria Jerman pemilik gym yang sudah lama menetap dan berkeluarga di Indonesia, menawarinya menjadi asisten pelatih tinju anak saat Adam menginjak usia empat belas. Upahnya tidak terlalu besar waktu itu, tapi cukup membuat Adam kecil melebarkan mata.
Adam juga beberapa kali diam-diam ikut pertandingan tinju underground kelas bulu; memalsukan usianya, dan lolos lewat jalur belakang. Kadang dia menang dan uang hadiahnya cukup untuk tidak lagi minta uang saku ke ibunya. Kadang dia kalah, dan wajah ibunya saat Adam pulang dengan hidung berdarah dan babak belur di sekujur tubuh membuatnya sangat, sangat menyesal.
Adam mundur dari tinju tidak lama kemudian. Bersamaan dengan tawaran Herr Paul yang merekrutnya untuk menjadi pelatih fitness tetap di gym.
Lampu merah; Adam menoleh ke belakang. “Bilang apa kamu tadi, Fin? Cewek? Siapa yang lagi cari cewek?”
“Iya Abang! Temen Fina banyak tau yang naksir sama Abang!” jawaban adiknya samar terdengar di antara bising jalanan. “Lagian Abang gak pernah punya cewek, kan? Emang gak mau pacaran apa gimana, Bang?”
Adam nyengir kecil. “Kan Abang udah punya empat cewek, Fin! Gak butuh cewek lagi!”
Kali ini Fina ikut tertawa.
Gadis pertama yang mendekatinya adalah kakak kelas di SMP; Jelita namanya. Pemegang julukan ‘Ratu Sekolah’ tiga kali berturut-turut. Adam, kita pacaran yuk, katanya waktu itu, saat istirahat siang dan Adam sedang memainkan sedotan gelas tehnya di kantin. Adam cuma mengerjap. Kemudian sambil mengangkat bahu, dia bilang, Oke.
Adam dan Jelita bertahan lima bulan. Jelita memakinya di telepon saat mereka putus, Adam, lo tuh cowok gak pengertian banget sih! Telepon gak pernah! Datengin ke kelas gak pernah! Ulang tahun cewek sendiri gak inget! Lo... lo gak cocok jadi pacar, Dam! Gue minta putus! Adam bahkan tidak berpikir ulang untuk bilang, Oh, oke, kita putus.
Dia mengayuh sepedanya ke gym setelah telepon tertutup, melayangkan pukulan demi pukulan ke karung tinju di sana sampai kepalan tangannya terasa nyeri. Adam pulang saat matahari mulai tenggelam. Fina langsung melompat ke arahnya begitu Adam membuka pintu. Nani dan Nina bergelayutan masing-masing di lengannya. Amanda tertawa, memamerkan gigi ompongnya dari pelukan ibu mereka. Adam merasa dadanya sesak.
Jaga ibu dan adik-adikmu, Adam; selama Adam punya mereka, dia tidak butuh yang namanya wanita.
Adam lihai mengelak dari pertanyaan seputar pacar semenjak itu. Saat teman kampusnya kumpul dan cerita tentang gadis mereka masing-masing, Adam cuma angkat bahu dan bilang, Belum ada yang cocok. Saat beberapa teman wanitanya mendekati Adam dan Adam tahu mereka ingin hubungan lebih, Adam menghindar dan mundur perlahan. Mengirim sinyal Kita cukup berteman, tanpa harus mengatakannya pada mereka.
“Eh, hai, udah punya cewek?”
Ujung bibir Adam terangkat. “Oh. Empat.”
Adam mengerjap saat dia pulang dari gym di hari Sabtu dan mendapati seorang pemuda usia tanggung yang belum pernah dia temui sebelumnya duduk di depan tv di ruang keluarga; membuka-buka koleksi komik milik Adam seolah ruangan itu adalah rumah sendiri.
“Ahem,” dia berdehem. Kemudian saat si pemuda tidak mendengar dan masih bersiul-siul, Adam mengeraskan suara, “Ahem!”
Pemuda itu tersentak; buru-buru meluruskan duduknya untuk menoleh ke arah Adam, dan—
Dug. Detak jantung Adam melompat sesaat.
Sekarang dengar. Adam kerja di gym, oke? Gym untuk golongan menengah ke atas bahkan. Adam sudah kebal melihat wanita cantik berbodi seksi dengan sport bra dan legging ketat. Adam sudah biasa melihat lelaki tampan dengan six packs sempurna dan wajah bak artis ibu kota. Tapi sosok pemuda yang balik menatapnya dengan mata melebar itu—
“Bang Adam!” suara Fina membuyarkan apapun itu yang sedang terjadi di otak Adam.
“Fina!” balas si pemuda tak dikenal, langsung melompat berdiri dan separo berlari ke arah Fina; membuka tangan lebar-lebar seolah meminta pelukan. Pelipis Adam berdenyut.
“Bang Adam, Steve. Steve, Bang Adam,” Fina melempar senyum, mendorong si pemuda—Steve—menjauh dengan satu tangan saat Steve mencoba melingkarkan lengan di pundak Fina. Steve mengerucutkan bibir seolah terluka, tapi ada binar canda di matanya.
“Hai, Adam,” katanya kemudian, memiringkan kepala ke arah Adam dan tersenyum kecil; tangan kanannya terulur. “Steve.”
Adam tidak membalas, bergantian menatap mereka berdua dengan alis tertaut. “Kamu... pacaran sama Fina?”
Hening sejenak. Senyum Steve perlahan melebar. Di sebelahnya, Fina tergelak saat menjawab, “Seandainya!” adik perempuannya itu berseru, kemudian menambahi sambil menepuk bahu Steve. “Enggak, Bang. Si Steve ini gay.”
Lelaki pertama yang terang-terangan mendekatinya adalah keponakan Herr Paul; Lukas namanya. Kulitnya putih khas Eropa, bibirnya sewarna plum, iris matanya biru gelap, dan wajahnya akan merona sangat merah tiap kali Adam tersenyum padanya.
Kelima kalinya Lukas berpapasan dengan Adam di gym, pemuda Jerman itu malu-malu mengajak Adam pergi ke kafe kecil di seberang jalan. Only if you want, of course, tambah Lukas buru-buru. Adam tidak punya jadwal menjemput Fina siang itu, tidak ada jadwal menjaga Nani-Nina juga. Di hadapannya, Lukas masih berdiri kikuk menunggu jawaban. Adam angkat bahu, Sure, but you pay. Kenapa tidak, eh.
Saat kemudian mereka berjalan bersandingan kembali ke gym dan Lukas tiba-tiba mengecup pipi kanannya, Adam otomatis langsung mengambil langkah mundur. Oh my god, I’m sorry! Lukas bicara gelagapan, ikut mundur beberapa langkah. I thought you are—I mean—You always smile at—Gosh, I’m so damn stupid, Adam, I’m really sorry— Dan Adam cuma menggeleng; meletakkan tangan di pundak Lukas dan bilang, No, it’s—it’s okay. I’m not—into another guy, yes. But that’s okay. It’s fine.
Mereka masih berhubungan via sosmed setelah itu. Masih pergi ke kafe seberang gym tiap Lukas menghabiskan libur musim panasnya di Indonesia. Hanya kali ini, pipi Lukas tidak lagi bersemu saat matanya beradu dengan Adam.
I always forget that homosexuality is still taboo here, kata Lukas pada suatu siang; mengaduk krim di gelas kopinya sambil memandang kosong tetesan air hujan dari balik jendela kafe. Adam tidak berkomentar; duduk diam di depan pemuda asing itu. But love is love, right? No matter what, no matter who.
Adam tidak berani bilang kalau sekali dua kali, wajah Lukas sempat muncul di mimpinya.
“Adam!”
Steve. Lagi. Duduk di sofa ruang tengah dan kali ini membuka koleksi film milik Adam. Fina rebahan di lantai; kertas manila besar dan puluhan pastel dan botol cat air berserakan di sekitarnya. Potongan kertas warna-warni menempel di rambut dan badan mereka. Adam cuma menghela napas melihatnya; entah memang anak jurusan seni semuanya absurd seperti itu, atau hanya Steve dan Fina yang pengecualian.
Adam membenahi selempangan tasnya di pundak. “Steve. Fina. Sibuk, huh?”
Dari balik sofa, Fina malas-malasan mengangkat tangan; seolah berniat melambai tapi kekurangan energi. “Baru pulang, Bang? Gak sekalian besok pagi aja baliknya?” sindirnya.
Adam cuma balas mendengus; melirik ke jam di atas tv—11.45—kemudian ke arah Steve, yang masih asik dengan wadah kepingan CD/DVD di pangkuan. Adam mengembalikan pandangan ke Fina. “Si Steve mau nginep, Fin? Kamu udah bilang ke Ibu?”
“Hm-mhm,” adik perempuannya itu menguap. “Disuruh tidur di kamar Abang.”
Saat Adam tidak menjawab dan cuma menaikkan alis sambil berusaha melempar komentar Katamu-dia-gay via telepati ke Fina, Fina memutar mata. “Iya, Ibu tau Steve gay. Enggak, tetep gak boleh tidur bareng Fina soalnya dia cowok. Iya, Abang disuruh ambil kasur cadangan di gudang atas. Kata Ibu, tapi ntar bilang ke abangmu dia sama Steve jangan satu kasur berduaan ya, Fin.”
Steve memilih saat itu untuk mengangkat kepala dan mengedipkan sebelah mata ke Adam. “Tapi aku enggak nolak lho Dam, kalau ditawari sekasur berdua.”
Fina tertawa terbahak. Adam berdecak sambil menggelengkan kepala, mengabaikan mereka berdua dan naik ke lantai atas untuk menyiapkan kasur tambahan di kamarnya.
<Marvel or DC?> adalah pesan singkat pertama dari Steve di handphonenya; beberapa hari setelah kejadian Adam Mengira Steve Pacar Fina. Adam bahkan tidak tahu itu nomor siapa pada awalnya; yakin tidak pernah memberikan nomornya ke Steve. Dia pikir itu cuma pesan asal dari orang iseng kurang kerjaan.
<Whatever.> balasnya waktu itu.
<Ouch, adam. Kata fina kamu suka film superhero.>
Ah. Steve.
Adam membuat catatan di otak untuk menjitak Fina saat pulang nanti. Adik ceweknya satu itu punya kebiasaan menyebar nomor handphone Adam ke teman-temannya tanpa izin. Jaman sekolah dulu, SMS macam Kak Adam saya naksir Kak Adam dan Kak Adam ganteng banget deh hampir tiap hari dia terima dari nomor tak dikenal. Fina cuma tertawa waktu Adam cerita padanya. Mereka bayar pakai makanan lho tiap minta info soal Abang, katanya waktu itu. Punya abang macem Abang mah harus dimanfaatkan, tambahnya sambil terkekeh.
<DC.> adalah balasannya untuk Steve. <Dan kamu pasti marvel boy.>
<Eh kok tau?>
<Namamu Steve kan. Bukan bruce. Atau clark.>
“Itu Mum yang kasih nama Steve,” kata Steve tanpa basa-basi saat malamnya, handphone Adam berdering berkali-kali. Adam bahkan belum sempat bilang halo karena Steve langsung buka suara menyambarnya. “Entahlah. Mungkin Mum lihat ada komik Captain America di jalan ke rumah sakit. Atau ada anak pakai kaos Captain Amerika waktu didorong masuk ke ruang persalinan,” katanya. Kemudian, “Atau Mum cuma asal pilih nama. Siapa yang tahu, huh?”
Suara Steve di seberang terdengar teredam, seperti sedang berbicara sambil memeluk guling—atau sambil membenamkan wajah di lipatan tangan. Adam cuma ber-hmm pendek, tidak tahu sedang dibawa kemana arah pembicaraan oleh Steve.
“Aku lahir di Inggris, Fina cerita padamu tidak?” kata Steve lagi setelah beberapa saat diam. Adam baru akan membuka mulut untuk menjawab saat sekali lagi, Steve menyelanya. “Mum baru dua puluh tahun waktu itu. Sedang bersekolah di Inggris. Bertemu dengan pangeran kuda putihnya di sana. Sekali makan malam, dibawa ke apartemen, dan bam,” Steve berhenti lagi. Adam bisa mendengar pemuda itu menghela napas di seberang. “Aku anak hasil cinta satu malam, Dam. Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku.”
Adam tidak menjawab. Adam tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Adam tidak tahu kenapa Steve menceritakan hal itu padanya. Adam bahkan tidak yakin apa Steve ingin ada tanggapan darinya atau hanya ingin didengar.
Yang Adam tahu, dia merasa ingin melompati portal ke seberang dan menarik Steve dalam pelukan.
Seperti saat Adam memeluk ibunya di hari keseratus kematian ayah. Atau saat Adam memeluk Nani dan Nina yang tidak bisa tidur saat hujan deras dan petir menyambar. Atau saat Fina menangis sesenggukan karena patah hati untuk pertama kalinya. Atau Amanda; tiap kali ibu harus pergi dinas ke luar kota.
Jaga ibu dan adik-adikmu, Adam; Adam tidak tahu kenapa Steve bisa masuk ke dalam bagian kalimat itu dengan mudahnya.
“Adam!”
Steve duduk di karpet ruang tengah saat Adam pulang dari kuliah sore itu. Fina tidak ada bersamanya, tapi Nani, Nina, dan Amanda mengerubungi pemuda itu seperti semut dengan gula. Saat dia berjalan mendekat, Adam melihat sketchbook A3 yang terbuka berada di tengah-tengah lingkaran mereka.
“Bang Adam, Bang Adam,” Amanda menarik-narik ujung lengan jaket Adam. Rambut ikal panjangnya terkepang melingkari kepala, yang dia tahu tidak mungkin dilakukannya sendiri—atau Nani atau Nina atau Fina; ah, Steve berarti. “Bang, Kak Steve ngajarin nggambar nih, lihat.” Tangannya menarik Adam untuk duduk berjongkok di antara Nina dan Steve.
Nina membuka lembar pertama, halaman putih dengan coretan abstrak berwarna merah dan kuning dan sesuatu seperti cokelat kehijauan. “Kebun bunga,” kata adiknya dengan semangat. Adam mengangguk—“Oke?”—meski dia tidak melihat ada kemiripan tumpahan cat itu dengan gambaran kebun bunga.
Nani membuka halaman selanjutnya. Penuh dengan warna hitam dan titik-titik putih dan garis melengkung tidak teratur. Kalau Nani bilang itu langit malam di planet antah berantah, Adam mungkin bisa paham. Tapi, “Nani coba bikin monster, Bang. Lihat? Monster-monster yang ada di film yang biasa Abang tonton!” kata Nani, diikuti anggukan antusias Nina dan Amanda.
Adam cuma mengangkat alis perlahan—“O...ke?”—dan berpikir bagaimana caranya untuk bisa menolak mata polos Amanda saat adik bungsunya itu bilang, “Ikutan nggambar yuk, Bang. Kak Steve punya pensil warna isinya seratus lho.”
Dari ujung matanya, Adam melihat Steve menahan tawa.
<Mau nonton avengers yang baru barengan?> Pesan singkat dari Steve itu masuk saat Adam sedang praktikum fisika lanjutan di lab. Adam melirik sekilas ke asisten yang masih sibuk menulis rumus di whiteboard sebelum mengetikkan jawaban; <Kita berdua doang?>
Handphonenya bergetar; <Si fina kan gak suka film superhero begituan.>
<Ok. Kamu yang bayar tapi?>
Tidak ada balasan selama beberapa lama. Adam kembali mengantongi ponselnya ke saku belakang celana dan balik berkonsentrasi ke papan sirkuit di mejanya. Baru dia akan memasang resistor ketiga, handphonenya kembali bergetar.
<Kalau aku yang bayar, berarti kencan lho ya :p>
Adam tidak bisa berhenti tersenyum setelah itu; mati-matian mengabaikan tatapan bertanya dan senggolan meggoda cie-cie dari teman satu kelompoknya sepanjang sisa waktu praktikum.
<Kalau bisa dapet nonton gratis, fine :d>
Kadang, Adam merasa berbeda dengan teman laki-laki seumurannya. Saat pembicaraan kantin terarah ke obrolan tentang gadis dan payudara mereka dan innuendo seks, Adam mendapati dirinya membuang muka. Detail vulgar tentang tubuh molek wanita bukannya merangsang otak Adam, tapi malah membuatnya merasa muak. Dia punya empat adik perempuan yang beranjak remaja, demi Tuhan. Dan alam bawah sadarnya tidak bisa memilah antara fantasi dengan kenyataan.
Memikirkan seorang gadis dalam mimpi basahnya selalu membuatnya merasa berdosa; karena dia tidak bisa membayangkan jika ada orang lain yang memikirkan adik-adiknya dalam posisi semacam itu.
“Sejak kapan kamu tahu kalau kamu gay?”
Pertanyaannya membuat Steve menolehkan wajah dari layar laptop di depan mereka.
Sabtu malam setelah Fina dan Steve dan beberapa teman mereka selesai mengerjakan tugas lukisnya, Steve mengetuk pintu kamar Adam dan tanpa menunggu jawaban, langsung menerobos masuk begitu saja. Adam sedang maraton menonton ulang Star Wars di tempat tidurnya saat itu; layar laptop tiga puluh senti dari wajah. Steve mendorong Adam bergeser ke sisi kanan kasur dan memposisikan diri di sebelahnya. Mereka berdebat tentang Star Wars dan Star Trek dan menambahkan komentar di tiap adegan di sepanjang film. Fina sempat nimbrung sebentar, tapi kemudian mendengus nerds begitu Steve dan Adam mulai saling adu kutipan, dan akhirnya balik ke kamarnya sendiri. Dua episode sudah berlalu sejak itu.
“Kau... ingin tahu sejak kapan aku gay,” ulang Steve lambat-lambat; membuat pertanyaan Adam menjadi pernyataan.
Adam angkat bahu. Di layar, Yoda sedang mengangkat tiga jarinya. “Siapa tahu kamu cuma pura-pura jadi gay untuk bisa mendekati Fina?” jawabnya bercanda. Dia tidak punya alasan sebenarnya. Dia cuma ingin tahu.
Steve mengerutkan kening beberapa saat; menatap Adam dengan iris cokelatnya seolah sedang mencari apapun itu yang bisa dia dapat dari mata Adam. Adam menahan diri untuk tidak beringsut di tempat.
“Oke,” kata Steve kemudian. Telunjuknya menekan tombol space di keyboard dan Yoda berhenti bergerak. Dia bangkit dari posisi separo tidurnya; duduk bersila menghadap Adam. “Oke kalau kamu minta pembicaraan ini. Up, Adam, apa yang mau kamu tahu? Sejak kapan aku gay, huh? Well.”
Adam mengikuti perkataan Steve untuk duduk bersila; bersandar ke tembok di belakangnya. Steve, Adam menyimpulkan setelah menghabiskan banyak waktu bersamanya, punya kebiasaan mencampur kalimat dengan bahasa Inggris saat sedang gugup.
“Uh, aku sudah tahu sejak kecil, mungkin?” Steve menggaruk bagian belakang kepalanya. “Mum, aku pernah cerita padamu, tidak pernah menikah. Dan Mum-ku itu wanita cantik, oke? Dia anggun, semampai, rambut hitam panjang, mata bulat, kulit putih. Kalau kau bertemu dengan Mum, bahkan sekarang pun, mungkin bakal terpikat juga dengan pesonanya.” Ah, sekarang Adam bisa mengerti darimana Steve mendapat faktor turunan tampannya.
Steve melanjutkan. “Tapi Mum itu, uh, bukan tipe yang bisa memegang komitmen jangka panjang? Mum tidur dengan siapapun yang mau ditidurinya, kemudian begitu saja meninggalkan mereka,” katanya. “Kandungan Mum rusak saat hamil aku. Entahlah, semacam itu. Aku tidak paham saat Mum menjelaskannya, tapi dokter bilang Mum tidak akan bisa lagi punya anak lewat rahimnya sendiri. Aku satu-satunya. Aku yang pertama. Dan mungkin aku juga yang terakhir buat Mum.”
Bola mata Steve kembali mencari Adam. Saat Adam tidak berkomentar, Steve menghela napas dan melanjutkan. “Sejak aku kecil, umur lima atau enam tahun, Mum sering membawa pria ke rumah. Pria-pria tampan. Kadang lebih muda, kadang lebih tua. Dan saat mereka tahu Mum punya anak kecil—this cute little boy—mereka tidak bisa tidak menyukaiku. Mereka akan tersenyum lebar dan—they just gave me attentions, you know?—karena mereka berharap bisa tidur dengan Mum.”
Steve berhenti untuk mengambil napas panjang; tangannya bergetar saat memainkan ujung selimut Adam. Melipatnya, memilinnya ke dalam, meluruskannya lagi. Dan diulang. Sebelum Adam sadar apa yang dia lakukan, tangan Steve sudah berada dalam genggaman tangannya.
Telapak tangan Steve basah. Tapi Steve tidak menariknya. Dan Adam tidak melepasnya.
“Uhm,” Steve berdehem pelan. Adam mengamati semburat kemerahan muncul perlahan di pipinya. Saat Adam memberinya senyuman kecil seolah bilang go on, tell the rest, Steve melanjutkan, “Jadi. Um. Pria-pria Mum itu. Mereka memberiku perhatian, yeah? Membelikan mainan, mengajak ke taman bermain, mengelus kepalaku—Good boy, Steve—sambil menggendongku di pundak mereka. Dan aku, kau tahu, aku tidak pernah punya ayah. I liked their attentions—I loved it—I craved for it—dan beranjak dewasa, aku tahu aku berbeda. Cewek tidak pernah ada di pikiranku. Tapi cowok—“
Steve menelan ludah. Jemarinya mengelus pelan telapak tangan Adam. Kepala Steve tertunduk, membuat rambut gelapnya menirai. Adam tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat pemuda itu berkata nyaris berbisik, “—guys just did something to me, Adam. They always do.”
Dan Steve langsung menarik diri setelah mengatakannya; memutar tubuh dengan sentakan dan separo berlari keluar dari kamar Adam tanpa menoleh. Adam mendengar deru mesin mobilnya dari bawah beberapa menit kemudian. Jauh dan semakin menjauh.
Saat Fina duduk di ujung tempat tidurnya dan bertanya dengan nada menuduh, Steve pamit pulang tadi wajahnya keliatan mau nangis gitu habis kamu apain, Bang? Adam tidak menjawab.
<Trailer batman yang baru, Steve. Thoughts?>
<Oke, fine, kau tidak suka DC. Sori.>
“Bang Adam!”
Sesaat Adam mengira—berharap—Steve yang duduk di sofa ruang tengah seperti biasanya. Tapi bukan pemuda itu yang duduk di sana. Fina, dengan tangan tangan dan wajah berlumur cat, mengacungkan ponsel miliknya ke arah Adam. Adam melengos; berjalan mendekat setelah melempar sarung tangan tinjunya ke pojok ruangan.
“Apa lagi sekarang?”
Fina mengabaikannya. “Steve bilang begini maksudnya apaan?”
Adam langsung menyambar Samsung putih itu dari tangan Fina. Pesan di dalam kotak hijau itu tertulis panjang dan Adam tidak sadar dirinya menahan napas saat membacanya.
<Fin, bilangin sori ke abangmu dong. Aku enggak maksud kabur gitu. Cuma kan, kamu tau... aku udah gak sanggup lagi main pura-pura kayak gini terus fin. Mending gak deket dulu beberapa waktu daripada selalu berasa nyesek gini. Plis plis plis. Aku beliin deh itu sketchbook yang kamu mau. Apapun. Tapi plis bilangin sori ke adam. Oke? Thanks fin.>
Kepala Adam berputar hebat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada denyut aneh yang dia rasakan di dadanya. “Oh,” katanya pelan. Semuanya masuk akal sekarang. Senyuman Steve padanya. Rayuan menggoda yang selama ini dianggapnya bercanda. Rona merah muda di wajah Steve. Oh, fuck, ini semua sama seperti Lukas dulu.
Saat Adam mengembalikan handphone itu ke tangan adiknya, Fina memandang ke arahnya tanpa berkedip; mata bulat menyipit. Otak Adam langsung menggabungkan potongan puzzle di depannya. “Tentang Steve. Fina. Kamu tahu.” Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Fina bergeming. “Soal Steve suka sama Abang? Iya. Soal apa yang bikin dia bilang begini ke Fina? Enggak.” Fina diam sebentar, kemudian menambahi, “Inget waktu pertama kali Steve datang ke rumah? Waktu pertama kali ketemu sama Abang? Dia langsung bisik-bisik ke Fina: Fin, abang kamu ganteng, buatku boleh ya, katanya.”
Adam menelan ludah; mengingat tatapan yang diberikan Steve padanya waktu itu—dengan mata coklat berbinar dan senyuman lebar. Bisakah seseorang jatuh cinta hanya dari pertemuan pertama? Adam tidak yakin.
“Fina cuma ketawa waktu itu. Fina pikir dia bercanda. Tapi ternyata...” adik sulungnya itu angkat bahu. “Dia serius, Bang. Kalau Abang cuma mau main-main selama ini, mending bilang yang jelas ke dia dan berhenti ngasih umpan.”
Tapi Steve temannya. Teman dekatnya bahkan. Entah sejak kapan, sepotong kecil Steve selalu ada di tiap harinya. Mulai dari share-share-an link tidak penting yang selalu membuatnya mendengus geli. Telepon tengah malam cuma untuk bilang Batman sucks, Adam, get over it. Dan—oh, Adam baru sadar kalau Steve selalu datang ke rumah di hari Sabtu. Mengerjakan tugas dengan Fina atau main dengan Nani-Nina-Amanda siangnya, dan duduk membaca komik di kamar Adam saat Adam pulang malam harinya. Oh, fuck, Steve bahkan mengajaknya nonton dan makan dan—“Kalau aku yang bayar, kencan kan?”—Adam tidak membiarkan selalu bayar, tentu saja; kadang Adam yang merogoh dompet untuk bon berdua. Tapi, ya Tuhan, tetap saja.
“Sejak kapan?” Adam mendapati dirinya bertanya.
“Fina tau pas Steve bilang mau nonton sama Abang,” Fina menjawab. Kemudian sambil angkat bahu melanjutkan, “Mungkin lebih awal dari itu. Mungkin bahkan sejak awal. Isi sketchbook-nya, kalau Abang tahu, isinya hampir semua gambar Bang Adam.”
Adam membuang muka ke langit-langit. Oh, Tuhan. “Dan sampai kapan?” dia bertanya.
“Sampai Steve bisa deket sama Abang dan merasa cukup dengan jadi teman biasa.”
