Work Text:
Wonwoo tersenyum tipis melihat benda itu kini terparkir rapi di lokernya. Sebuah tas kertas dengan setoples cookies di dalamnya, lengkap dengan sepucuk surat pengakuan cinta.
Ya, tepat hari ini, tanggal 14 februari yang dikenal semua orang sebagai hari valentine, Wonwoo ingin menyatakan perasaannya.
Bukan, bukan dengan harapan ia memperoleh balasan yang sama. Namun hanya agar rasa lega timbul di hatinya, karena sosok yang ia limpahi cinta akan segera melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya.
Waktu terasa sangat lama ketika Wonwoo menunggu, dan penantiannya segera berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi.
Tanpa menunggu lama ia segera meraih ponsel miliknya dari saku celana dan mengetikkan beberapa kalimat di dalamnya. Pesan singkat yang ditujukan untuk Seungcheol, ketua klub basket menawan yang mencuri hati seorang anggota OSIS departemen olahraga biasa seperti dirinya.
'Kak Seungcheol, boleh minta waktunya bentar sebelum pulang?
Aku mau ngasih sesuatu.'
Tidak butuh lama untuk sebuah balasan muncul di layar gawai milik Wonwoo.
'Di samping gedung olahraga ya.'
Wonwoo tidak mampu menahan sudut bibirnya agar tidak tertarik. Tanpa menunggu lama pemuda itu mengambil paperbag yang tersimpan di dalam loker, dan beranjak dari kelasnya.
Sayangnya apa yang Wonwoo lihat setibanya ia disamping gedung olahraga, tempat yang dijanjikan oleh Seungcheol, adalah pemandangan yang sama sekali tidak ia harapkan.
Memang, ada Seungcheol disana..
Namun ia tidak sendirian.
Lelaki itu, jika Wonwoo tidak salah lihat, sedang berpelukan atau mungkin lebih -jangan tanya tepatnya apa- dengan seorang pria dengan rambut sebahu, yang semua orang kenal sebagai putra ketua komite sekolah.
Hatinya berdenyut sakit, dan ia sadar bahwa dirinya harus segera pergi dari sana sebelum Seungcheol menyadari keberadaannya.
Sial, benda yang ia pegang terjatuh ke tanah tepat ketika ia berlari beberapa meter dari sana, yang ia yakini.. menarik perhatian dua orang yang sedang bercumbu di dinding sebelah sana.
Wonwoo meraih kantong kertas miliknya yang tergeletak di tanah dan pergi dari sana dengan terburu-buru, tanpa menyadari bahwa kertas berisikan perasaannya.. masih tertinggal di belakang sana.
Untunglah halte bus yang berada di sekian meter dari gerbang sekolah sudah sangat sepi. Jika tidak, Wonwoo terpaksa harus menahan tangisnya hingga ia menginjakkan kaki di kamarnya.
Wonwoo menggigit bibir bawahnya. Dirinya yang kini sedang duduk di salah satu bangku halte hanya mampu memandangi langit yang mulai gelap dikerubungi awan hitam. Seolah mereka tahu bahwa ia sedang bersedih.
Matanya mulai berkaca-kaca, tampaknya usaha Wonwoo menahan segala rasa di dalam hati.. berujung sia-sia.
Pada akhirnya ia tetap seseorang dengan hati selunak jeli yang tidak bisa tegar ketika merasakan sakit, bahkan sesepele apapun.
Namun yang ini tidak sepele...
Cinta pertamanya baru saja kandas.
Hatinya hancur berkeping-keping, seperti beberapa cookies yang ada di toples, di dalam tas kertas, di pangkuannya.
Yang seolah melambangkan dirinya.. terlihat keras dan tahan banting di luar, namun serapuh cookies di dalam.
"Wonwoo.."
Ia segera mengusap matanya begitu mendengar suara yang sangat familiar. Suara dari sosok yang sangat ingin ia hindari untuk saat ini, dan mungkin seterusnya.
"Lo.. baik-baik aja kan?"
Alis Wonwoo menyatu ketika mendengar perkataan penuh nada kekhawatiran milik Seungcheol.
Apa maksud lelaki itu?
Apakah yang ia maksud adalah keadaan Wonwoo setelah tahu bahwa pujaan hatinya ternyata telah memiliki kekasih?
Sudah jelas bukan? Memangnya apa lagi konteks yang akan Seungcheol tanyakan jika di tangan lelaki itu terdapat kertas dengan kata-kata cinta yang Wonwoo tulis tadi malam? Yang sialnya terjatuh ketika ia bergegas melarikan diri.
Jemari rampingnya bergerak menuju pelipis. Memijit area itu pelan karena sekarang kepalanya ikut merasakan sakit.
Harus bagaimana ia menjawab perkataan Seungcheol?
"Maaf.. udah lancang punya perasaan buat kak Seungcheol.
Aku sama sekali ga tau kalo kakak ternyata udah punya pacar."
Pandangannya tertuju ke bawah, entah ia melihat jalanan yang berubah lembab lantaran rintik hujan yang mulai turun, atau mematut sepatu putih miliknya yang mulai kotor karena sudah beberapa hari tidak dicuci.
Pegangannya pada tas kertas di pangkuannya mengerat, akibat dari usahanya menahan isakan agar tidak mempermalukan diri lebih jauh lagi.
"Omongan lo kaya habis ketauan mencuri aja.
Jatuh cinta bukan dosa, Wonwoo. Lo berhak punya perasaan buat siapa pun."
Wonwoo mulai mengangkat kepalanya, dan menemukan raut bersahabat milik Seungcheol.
Seolah apa yang Wonwoo rasakan terhadapnya sama sekali bukan gangguan.
Atau memang bukan?
"Walaupun memang, ga semua perasaan bisa berbalas. Dan ga semua pengakuan berujung penerimaan. Tapi tadi.. timingnya beneran ga pas. Maaf udah bikin lo ngeliat sesuatu yang ga pantas."
Wonwoo menggigit bibir bawahnya. Baru saja ia hendak mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bahwa Seungcheol tidak perlu merasa tidak enak terhadapnya, lelaki yang membuat jantungnya berdebar-debar itu kembali bersuara.
"Mungkin emang gue ga bisa nerima perasaan lo. Tapi gue bakal dengan senang hati nerima itu."
Ucap pemuda Choi di hadapan Wonwoo sambil mengulurkan tangannya.
"Buat gue kan?"
Wonwoo menampilkan gelagat keberatan, "Tadi sempet jatoh kak.. aku ga yakin-"
Perkataan Wonwoo terputus lantaran Seungcheol mengambil benda itu dari tangannya. "Ga masalah. Toh rasanya ga akan berubah. Thanks ya."
Ini adalah satu dari banyak hal yang ia sukai dari seorang Choi Seungcheol.
Dan Wonwoo tidak mampu menahan senyumannya.
Baru saja Seungcheol hendak menyerahkan kertas yang sedari tadi ia pegang, lelaki yang lebih muda menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kak Seungcheol aja yang buang, tapi tolong dirobek dulu ya kak.."
Wonwoo tidak memberi kesempatan bagi Seungcheol untuk membuka mulutnya.
"Makasih kak.
Aku bakal ngurus perasaan aku, jadi kak Seungcheol ga perlu canggung tiap ketemu aku abis ini."
Wonwoo tau suaranya terdengar bergetar, terlihat dari tatapan Seungcheol yang berubah prihatin.
Namun lelaki itu mengangguk paham. Tepat saat itu, bus yang Wonwoo tunggu akhirnya tiba.
Ia segera menaiki balok besi itu dan membalas lambaian tangan serta senyum hangat Seungcheol, sebelum kemudian menangis tanpa suara di bangku belakang.
Wonwoo tahu Seungcheol hanya lelaki baik yang bersikap sopan setelah dengan terpaksa mematahkan hati seseorang.
Wonwoo tahu Seungcheol tidak akan menghindarinya setelah hari ini. Dan mereka akan kembali akrab seperti sebelumnya.
Namun Wonwoo juga tahu bahwa perasaannya tidak akan hilang begitu saja, bahwa ia harus pura-pura berhenti menyukai Seungcheol, dan ia harus menahan banyak hal mulai dari sekarang.
Yang tidak Wonwoo tahu adalah..
Seungcheol, di detik yang sama, di lokasi beberapa ratus meter di belakangnya, memandangi surat cinta dari Wonwoo sebelum kemudian menyimpan benda itu dengan rapi di dalam tasnya.
