Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-05-13
Words:
631
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
39

Melepaskan

Summary:

Sebuah cakap tentang detik akhir dalam sebuah kasih.

Work Text:

Jika ada ungkapan yang bisa menjelaskan tentang mengapa langit malam begitu kelabu .... Mungkin Hanse akan meremat penjelasan itu menjadi gumpalan-gumpalan menyedihkan seperti segala rasa gundah, sakit, sesak, dan lelah di dalam hatinya.

Tetapi, Hanse tidak menangis.

Wajahnya kaku. Bibirnya mengatup rapat dan nafasnya tenang.

Walau jelas, keadaannya saat ini bukan sesuatu yang bisa didefinisikan sebagai kata tenang.

“Aku minta maaf, Do Hanse.”

Tenang, Hanse tetap tenang. Tak peduli seberapa besar dadanya membuat sayatan tersendiri dan seberapa jauh sosok di hadapannya ini telah menorehkan sayatan, Hanse tetap bergeming.

“Aku ....” sosok itu kehilangan kata, “Hanya tidak tahu.”

Namun, untuk kali ini, Hanse tertawa.

“Kau tahu, Sejun.” Nadanya lirih, penuh dengan luka. “Kau tahu sejak awal. Hanya saja kau enggan mengakuinya.”

Sejun tak mau kalah, “Tidak, aku bukan—,”

Hanse membantah, “Kau sendiri tahu, kau tak lagi mencintaiku, Sejun.”

Sejun terdiam.

Hanse juga melakukan hal yang sama.

Mereka berdua tak mampu membuat suara saat akhirnya penegasan itu jelas terucap. Memberi mereka kesadaran bahwa hubungan yang telah dibina selama sewindu telah berubah menjadi tahun-tahun penuh sandiwara.

Tanpa sadar saling menyakiti, walau tak akan bisa menampik fakta bahwa afeksi mereka tulus. Setiap sentuhan mereka murni dan seluruh kata yang selalu menyemangati satu sama lain bukan omong kosong.

Mereka adalah sepasang kekasih. Seluruh dunia tahu itu. Walau entah bagaimana, seluruh dunia juga berhasil mereka kelabuhi.

Termasuk—nyaris—diri mereka sendiri.

Tidak, mereka tidak sedang saling menjahati. Bukan sesuatu seperti sengaja mengambil pisau dan menikam satu sama lain.

Bukan seperti itu.

Ini, adalah sebuah ketidaksengajaan.

Pisau itu menyandung dan menusuk mereka. Jadi, mari katakan saja .... Takdir yang menyakiti mereka.

“Mari akui saja.” Hanse menghela nafas.

“Bahwa kita tak lagi saling mencintai.”

Lagi-lagi penekanan itu membuat Sejun seperti tersetrum di tempatnya duduk. Wajah tampannya yang dipadukan rapi oleh rambut yang ditata apik seiring setelan formalnya yang berbau uang.

Namun, sayang sekali ... Penampilan penuh harga diri itu tak sesuai dengan Sejun yang kali ini tampak kehilangan perisai untuk dirinya.

Ia tengah rapuh.

“Tetapi, aku berani bersumpah bahwa pada awalnya perasaan itu nyata.” Entah ia tengah berkata pada diri sendiri, atau pada Hanse yang kini tersenyum sakit.

Pada awalnya, Sejun.” Hanse melanjutkan, “Bagaimana dengan sekarang?”

Sejun membuka mulut, tak berani berkata.

“Sudahlah.” Hanse menyerah, menyandarkan punggungnya pada kursi sembari sekali lagi matanya mengamati yang dulu pernah penuh kasih, dan kini berubah menjadi si abu-abu yang terasa kosong.

Hanse mencari sekali lagi, apa ia masih menyisakan cinta untuk pria ini.

“Kita tidak perlu memaksa berjalan jika sudah berada di ujung jalan.”

Sejun menatap pada cangkir kopinya, “Aku hanya tidak ingin menyakitimu.”

“Kau tidak pernah menyakitiku.”

Hanse tersenyum, kali ini sedikit lebih menyenangkan. “Kau adalah pasangan terbaik yang pernah ku temui, Sejun.” Pria Do itu menunduk memperhatikan tatonya sendiri sebelum mendongak dengan mata menerawang.

“Kau selalu penuh pengertian, penuh kasih, penuh harap dan entah bagaimana selalu memenuhi setiap jengkal diriku yang asing dengan kasih sayang.” Hanse menggeleng, “Kau tidak pernah menyakitiku sedikit pun.”

“Aku tidak akan berbohong jika ini rasanya sakit sekali. Membayangkan setelah makan malam ini, aku akan kembali dengan rutinitasku, dan kau juga. Tak ada lagi yang namanya bunga-bunga cinta. Seolah kita tidak pernah saling mengenal.”

Hanse menghela nafas.

“Perpisahan itu sakit, Sejun. Tetapi kita tidak bisa memaksakan sesuatu yang sudah tidak ada.”

“Cinta kita sudah tidak ada.” Hanse diam untuk beberapa saat. “Jadi, mari berhenti sebelum kita benar-benar menyakiti satu sama lain.”

Sejun diam.

Matanya masih mencari-cari pada netra di depannya, hingga akhirnya menyerah pada jurang putus asa.

“Aku tak tahu harus apa jika tidak bersamamu.”

Hanse manaikkan alis, “Kalau begitu, apa kau tahu ‘harus apa’ jika tetap bersamaku?”

Sejun menjawab, “Tidak.”

Hal itu membuat Hanse sekali lagi tersenyum. Dengan gerak bibir kecil dan suara yang lebih halus.

“Setidaknya kita pernah saling mencintai.”

Sejun berkata lirih, “Setidaknya, kita pernah bahagia bersama?”

Hanse mengangguk mengiyakan, “Sudah waktunya kita mencari bahagia sendiri-sendiri.”

.

.

.

END