Work Text:
Changbin daratkan bokongnya di sofa. Lelah seharian bekerja, ditambah rentetan perintah atasan yang tidak kunjung habis sampai perlu lembur buat kepala hampir pecah. Tubuhnya hampir remuk; punggung pegal, leher kaku, kaki layaknya membatu.
Pernah sekali ia coba layangkan permintaan resign. Namun bukan persoalan perusahaan yang meminta Changbin tetap menjadi budak kapitalis begini, tetapi dia, itu, di sana, sedang menjilat tangannya sehabis makan satu mangkuk penuh makanan enak.
Fella.
Kucing paling menyebalkan, si pemilih makanan.
Changbin sangat sayang padanya, tetapi lebih dari kadang kucing itu berlaku macam setan. Ya, katai saja Changbin kasar. Fella ini hobinya mengubah dapur menjadi kapal yang baru pecah—semua barang dijatuhkan, semua makanan yang tersaji di meja selalu diendus, dan yang paling menyita kesabarannya adalah suka berdiam diri di dalam kulkas!
Bukannya benci takut kulkasnya bau atau segala macam, memang siapa yang tidak khawatir jika sosok kucing kesayangannya berdiam lama di dalam kulkas?
Melihat Fella asik mandi sendiri dan berjalan manis ke kamarnya, Changbin menghela napas berat. Tugasnya hari ini belum selesai, ia harus bereskan dapur baru kemudian bisa urusi dirinya sendiri.
“Lah? Kok?”
Dapur ternyata masih bersih, mengkilap seperti baru. Tidak ada satu pun benda yang bergeser, tidak ada satu pun noda di lantai.
Cepat-cepat langkahnya menuju ke kamar. Mencari Fella dengan hati berdebar. Apa dia akan acak-acak kamarnya?
Hah?
“Lo... siapa?”
Ada seseorang, ia duduk menghadap jendela di kursi kerja miliknya dengan membelakangi Changbin,. Oh, tidak. Firasatnya buruk. Di mana Fella?
Mendadak jantungnya hampir jatuh ke perut. Orang di sana turunkan kaki untuk memutar kursi. Changbin lihat semua, semuanya.
Sepasang telinga kucing, ekor panjang, beberapa bagian tertutup bulu berwarna krem. Ia menangis, terisak tanpa suara. Teteskan air mata yang ketika Changbin jawab penyebabnya ia jawab dengan gerakan pelan oleh ekor.
Rupanya tidak mau bicara. Changbin beranikan diri untuk mendekat. Ia duduk di hadapannya, Changbin sampai harus dongak maksimal demi temui dua netra mereka.
“Gak apa-apa. Gak apa-apa kalo masih mau di sini.”
Satu tangan Changbin pergi ke kaki itu—sosoknya telah duduk di kursi sambil angkat serta peluk kakinya. Changbin elus pelan-pelan. Mencoba memberikan perasaan yang nyaman dan tenang. Karena, ah, dia benci melihat orang menangis.
Ada banyak hal yang Changbin simpan. Terlalu banyak, sampai Changbin lupa tentang dirinya sendiri. Ia kubur dirinya dengan dirinya yang lain.
Dirinya yang lain; yang diinginkan semua orang.
Changbin yang kuat, yang bisa diandalkan, yang bisa segala hal, yang bisa puaskan semua makhluk di jagat raya.
Itu pandangan mereka semua terhadapnya.
Dan Changbin terima dengan mentah-mentah.
Kilas memori 10 tahun ke belakang tiba-tiba tayang dari balik tengkorak. Rasanya sangat nyata. Seperti ditancap sebuah layar, Changbin tonton kisah hidupnya bersama derai air mata.
Tanpa sadar kepalanya bersandar di ujung kaki si manusia kucing. Lupakan siapa orang ini, apa pedulinya masuk ke mari, dan apa maksudnya dua tangan kecil itu usap pucuk kepalanya.
Changbin dipaksa melihat kepingan ingatan paling pilu. Melihat dirinya sendiri berlutut di atas tanah merah, mengacuhkan kain di tubuh akan kotor. Kepulangan dengan sisa air mata membekas di wajah dan membawa serta pulang figur orang terkasih; ia telah kehilangan gairah hidup.
Kini ia sendiri, di dunia, yang kata orang seisinya perlahan tengah hilang adab.
Dulu Changbin tidak mengerti. Jadi ia jalani harinya seperti biasa: bangun tidur, beberes rumah sebentar, memasak, pergi ke sekolah, pulang, mengurus rumah, mengerjakan tugas, kemudian istirahat.
Beranjak umur, Changbin duduk di bangku kuliah. Dan butuh waktu 3 tahun untuk buktikan bahwa setidaknya demi menjaga kewarasan ternyata dibutuhkan tenaga super ekstra. Berkali-kali ia tidak sengaja tertidur di bus sampai terlewat jauh dari kosannya, jatuh sakit sebab kerjakan tugas, kehabisan uang sampai harus menghemat makan. Dan tidak ada yang bisa Changbin lakukan selain pasrah.
Keluar universitas, ia dapatkan pekerjaan dalam waktu kurang dari satu bulan.
Dan lagi, Changbin temukan dirinya termenung di teras sebuah minimarket. Ingat betul, itu adalah waktu ketika Changbin harus keluar dari perusahaan pertamanya. Tanpa penyebab jelas, secara satu pihak. Atasannya berbicara hal tidak jelas, paling tidak masuk akal yang pernah Changbin dengar. Semua kata yang keluar memakinya seraya lemparkan setumpuk berkas itu sama sekali tidak pernah Changbin lakukan. Tebaknya, pasti salah satu karyawan lain yang sempat berselisih karena—sepertinya—iri dengki sebuah pujian untuk kinerja kerja Changbin.
Malam itu, ia bersumpah tidak menangis. Hanya berkilat. Ia tahu, dunia memang sudah hilang adab. Jadi, apa yang Changbin harapkan?
Namun ketika itu juga, seekor kucing kecil mengeong kencang di sampingnya. Kucing itu merengek bak memanggil sang Ibu. Changbin biarkan, pikirnya, sang induk tengah mencari makan. Maka ia pulang dengan tergesa sebelum hujan turun karena angin malam jauh lebih dingin dari malam biasa.
Di jalan, pikirannya sungguh kalut. Memang apa yang kurang darinya? Changbin sudah berikan yang terbaik. Lalu apa? Apa yang kurang?
Jam berapa, ya? Kok kayaknya udah malem banget.
Tunggu.
Seketika kakinya berhenti. Ia ulangi apa yang baru saja dipikirkan. Terus begitu, sampai titik air hujan perlahan basahi tubuh.
Waktu. Mungkin waktunya selalu tidak tepat, atau mungkin diberikan waktu tepat paling terbaik.
Mengingat anak kucing tadi, Changbin berlari sekuat tenaga kembali ke minimarket. Ada. Ia tersudut di dekat pintu rolling. Changbin hampiri, dibelai sayang bulunya demi hilangkan air bekas hujan.
Lantas Changbin pulang bersama si teman baru. Ya, Changbin memutuskan untuk bawa anak kucing itu pulang karena induknya tidak kunjung datang.
Tiba-tiba tayangan itu hilang bagai kaset film yang terputus. Kini ada satu tangan lain yang membelai pipinya lembut. Otomatis kepalanya mendongak, Changbin melupakan ada sosok lain di kamarnya saat ini.
“Kakak boleh nangis.” Dia turun dari kursi dan ikut duduk dengan Changbin di bawah. Sambil goyangkan ekor pelan di udara, ia tersenyum dengan lembut. “Fella ada di sini, selalu di rumah ini sama Kakak. Kakak jangan sendirian, nangisnya bareng-bareng sama Fella aja, ya?”
Fella, katanya? Gimana bisa?
Dirawat dengan baik, disayang penuh kasih. Fella, telah menemaninya selama lima tahun lebih di rumah ini. Tidur dan makan bersama. Seringkali Changbin ceritakan kesehariannya pada Fella sebelum tidur sambil sisiri bulunya. Semua rasa senang, sedih, kecewa, marah, putus asa, dibagikan pada kucing manisnya setiap malam jika Changbin tidak bablas ketiduran.
Dunia memang kehilangan adab, tetapi mungkin masih ada satu titik putih di kanvas hitam.
Fella memeluknya erat. Haturkan bentuk cinta dan kasih sayangnya dalam sebuah kehangatan yang tidak pernah ia bagi pada siapa pun. Karena, Changbin pantas mendapatkannya.
Apa yang dirasakan Changbin, seluruhnya dapat Fella rasakan.
They're connected each other.
Tangisan Fella di awal tidak dapat terbendung. Seluruh kegundahan Changbin tidak dapat Fella tampung lagi. Sakit sekali. Ia tidak pernah membayangkan Changbin menyimpannya sendirian dalam waktu lama.
Fella dulu masih kuat, setidaknya sampai satu jam yang lalu.
Hari itu, ada dua hati yang menghangat. Semalaman berbagi peluk, leburkan rasa lelah pada hari yang sering terlewat buruk. Mereka beranjak ke kasur, saling membelai surai, menyeka jejak butir air di pipi, kemudian terpejam di balik selimut. Ditelan kesunyian, mereka sibuk ucapkan banyak harapan untuk masa depan.
Derai napas keduanya mulai teratur—pun satu ekor panjang itu mulai terkulai lemas, tidak lagi bergoyang pelan.
They believe that tomorrow holds such better days.
That's, their wish.
