Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2015-05-12
Words:
791
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
27
Hits:
492

Perbincangan di Meja Makan

Summary:

Drabble singkat yang dimulai dari keinginan untuk menulis Kane-san yang masih (dan selalu) bingung akan kebiasaan para Kunihiro.

Work Text:

Makanan sudah terhidang di atas meja, lengkap dengan penghuni rumah yakni dua Kunihiro ditambah satu Kanesada yang sudah duduk manis bersiap untuk makan ketika penghuni terakhir sampai ke ruang makan.

“Maaf, aku hari ini terlambat, jadi nggak membantu menyiapkan meja.”

“Oh, nggak apa-apa,” jawab Horikawa sambil menghidangkan nasi untuk adik bungsunya yang baru datang itu, “Ada PR ya, jadinya lama?”

“A-ah, eh, iya…” Jawabnya terbata-bata. Ketahuan banget bohongnya.

“Pasti keasikan main hape ya, kebiasaan ah kamu,” tegur Yamabushi, “Makan nggak sempat, sebelum tidur juga curi-curi main hape dulu.”

“M-Maaf.”

“Jangan maaf doang,” ucap Horikawa ikut-ikutan seraya menaruh piring yang sudah berisi nasi di hadapan Yamanbagiri.

Si pirang bergumam terima kasih singkat dan cepat-cepat mulai makan sebelum topik dirinya dan main hape diungkit lagi, dan nampaknya kakak-kakaknya mengerti, namun sayangnya di rumah ini ada satu orang (pedang?) yang kurang peka.

“Emangnya kalo lu main hape, lu main apaan? Nonton bokep?”

“…Kane-san,” tegur Horikawa.

“Iya maaf, becanda. Jadi kalo nggak emangnya ngapain? Kayaknya lu bukan tipe yang tiap hari lengket sama medsos deh.”

“Aah… Y-ya, main hape seperti layaknya orang biasa main hape…?”

“Ooooh, pasti chattingan yaaa. Sama pacar yaaa.”

Izuminokami Kanesada berkata begitu, niatnya untuk bercanda. Ia tidak menyangka bahwa tebakannya spot-on.

Yamanbagiri yang jujurnya minta ampun itu langsung membeku tidak dapat berkata-kata, yang baginya tidak begitu aneh, namun kedua Kunihiro lainnya juga. Tiba-tiba situasi di meja makan menjadi tegang, mebuat Izuminokami terbingung-bingung.

“Kyoudai, kamu sudah berapa lama pacaran? Kenapa nggak cerita?”

“Aah… I-itu…”

“Orangnya seperti apa? Kamu dari mana mengenalnya?”

“A-aa—“

“Kamu nggak pernah ngelakuin yang aneh-aneh kan sama dia?”

Diserang pertanyaan membabi buta dari Horikawa, Yamanbagiri panik. Pipinya merah, dan tubuhnya gemetaran seakan ia kedinginan. Merasa agak bertanggung jawab atas bermulanya hal ini (meski gemas juga melihat Yamanbagiri kelabakan begitu), Izuminokami berusaha menghentikan pasangan hidupnya itu.

“Sudah Kunihiro, kalau lu nanyanya sampe gitu, Yamanbagiri juga nggak bisa jawab kan.”

“M-maaf, aku akan berhenti,” ucap Horikawa. Yamanbagiri sudah nyaris menghela napas, senang karena lepas dari mulut harimau ketika kakaknya berkata lagi, “Yasudah, dijawab dulu pertanyaan yang tadi, baru nanti kakak lanjut bertanya.”

Maaf Yamanbagiri, diriku sudah berusaha membebaskanmu, batin Izuminokami.

Sementara itu, sang bungsu bingung sendiri harus menjawab apa. Mulai pacaran dari kapan? Ia juga nggak paham, pokoknya tiba-tiba statusnya yang jomblo ngenes sudah bergeser ke pacaran saja. Kenapa nggak cerita? Ya kalau langsung diserang pertanyaan seperti itu, siapa yang mau cerita. Lagipula ia juga takut pacarnya yang suka nyeleneh itu dirajam oleh kakak-kakaknya. Orangnya seperti apa? Intinya, tidak akan masuk ke kriteria ‘gadis baik hati lemah lembut sayang keluarga yang mencintaimu dengan segenap hati’ yang ditetapkan Horikawa itu. Dari kata paling pertama saja sudah tidak masuk kriteria. Soal ini, Yamanbagiri agak ingin protes berhubung yang membuat standar seperti itu untuknya, sendirinya menikah dengan orang macam Kane-san yang meski ganteng tapi madesu. Maaf Kane-san, no offense.

Tiba-tiba Yamabushi membuka mulut, “Kyoudai, menurutku Kyoudai tidak cerita karena takut ditanya-tanyai. Lagipula Kyoudai bukan anak kecil lagi, sudah bisa menentukan masa depannya sendiri.”

Memang Kyoudai yang terbaik, batin Yamanbagiri.

“Hmm, benar juga ya. Tapi mau bagaimanapun, kita sebagai kakak berhak tahu dong, agar bisa bantu menilai juga,” sela Horikawa.

“Ya cepat atau lambat kan Kyoudai pasti harus cerita, jadi sama saja dong. Nggak harus sekarang.”

“Kalau seperti itu, kalau cerita sekarang juga sama saja dong? Kan, cepat atau lambat juga pasti cerita.”

“Perkataanmu betul juga, Kyoudai.”

Kedua Kunihiro itu kompak menengok kembali ke arah Yamanbagiri.

“Jadi, Kyoudai, orang ini seperti apa?”

Yamanbagiri spontan melirik ke Izuminokami meminta bantuan, tapi sang pria berambut hitam panjang itu pura-pura tidak melihat. Maaf, kalau sudah begini dirinya nggak bisa bantu. Mengingat seluruh bantuan yang Yamanbagiri dulu berikan kepadanya ketika ia berusaha memenangkan hati calon kakak iparnya, Izuminokami merasa bahwa dirinya tidak tahu terima kasih.

“Aah—ciri-cirinya ya…” ucap sang adik bungsu sambil berpikir. “Rambutnya warnanya hitam.”

Itu sangat tidak membantu. Sama sekali. Dan Izuminokami yakin bahwa dengan ‘orang ini seperti apa’, yang dimaksud kakak-kakaknya adalah sifat, bukan tampang.

“Terus… Orangnya tinggi, mungkin setinggi Kane-san.”

“Mmhm.”

“Terus… Ya gitu deh.”

“Kyoudai, tahu nggak, deskripsimu tidak mendeskripsikan sama sekali.”

“M-maaf, karena aku hanya seorang duplikat…”

“NGGAK ADA HUBUNGANNYA,” celetuk Izuminokami tiba-tiba. “Maaf, lanjutkan.”

“Tapi gimana caranya mendeskripsikan orang, aku juga bingung.”

“Hmm…”

“Ah, begini saja!” Seru Yamabushi, “Kita sebutkan kriterianya, lalu kamu jawab ya atau tidak.”

Ini interogasi pacar atau game quiz?

“Ok, kita mulai. Baik?”

“…Bisa jadi.”

“Dewasa?”

“Tidak.”

“Ceria?”

“Ya.”
“Pintar?”

“Ya. Tidak. Entahlah.”

“Humoris?”

“Lebih tepatnya

“Sopan?”

“…Biasanya iya.”

“Seksi?”

“…”

“…Oke, kami kurang lebih mengerti dia orangnya seperti apa.”

……………..BAGAIMANA CARANYA KALIAN NGERTI? KALIAN BISA TELEPATI KAH?

“Tapi mau bagaimanapun, kami harus melihat orangnya secara langsung untuk mengetahui secara pasti.”

“KALAU BEGITU NGAPAIN PAKE ACARA MINTA DESKRIPSI SEGALA? BUSET DAH,” seru Izuminokami kesal. …Sudahlah, ia tidak mengerti cara berpikir para Kunihiro ini, dan mungkin tidak akan pernah.