Actions

Work Header

you were right here all along

Summary:

You were absent for more than a month.”

You know I was busy,” kata Akaashi lembut. “Kupikir kita sudah membicarakan itu. Kau bilang kau mengerti. Kau bilang itu tidak masalah.”

Bokuto mengangguk. “Aku baik-baik saja dengan itu sampai tadi siang.”

Notes:

Hai! Hil datang kembali!

So, setelah Bokuto sebagai cewek di Gymbast!Bokusis, sekarang gantian, Akaashi-lah ceweknya! YEAAYYY!!!

Yah, aku tidak akan banyak bacot untuk yang ini. Sooo.... Mohon maaf bila ada typo bertebaran dan happy reading!!

Chapter 1: 001

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Kita tidak akan merasa kehilangan atas apa yang tidak pernah kita miliki.”

Sebagai remaja yang telah hidup selama 19 tahun, Akaashi memercayai kalimat itu. Contoh saja, sejak awal, kedua orang tua Akaashi tidak pernah benar-benar ada untuknya, sehingga Akaashi tidak pernah merasa kehilangan sesuatu yang disebut orang-orang sebagai ‘perhatian orang tua’, karena sejak awal ia memang tak pernah mendapatkannya. Namun, seorang oknum yang biasanya memberi Akaashi berlimpah-limpah kasih sayang, cinta, perhatian, rasa tenang, dan kebahagiaan, kini telah jauh darinya untuk waktu yang cukup lama. Adalah hal wajar jika Akaashi merindukan orang itu dan seluruh pengaruh keberadaannya.

Sembari menunggu makanannya disajikan, Akaashi membuka ponsel, berusaha menyibukkan diri agar pikirannya teralihkan. 

Malam itu, setelah akhirnya melewati masa sibuk, Akaashi duduk sendirian di kedai Inarizaki, sebuah kedai dengan gaya vintage yang tenang, yang berjarak 15 menit dengan mobil dari asrama Akaashi. Tempat itu adalah tempat favorit Akaashi untuk menghabiskan malam dan menenangkan diri setelah menghadapi minggu-minggu yang berat. 

Biasanya, Akaashi akan datang ke sini dengan Bokuto Koutarou, kekasihnya, si oknum yang ia rindukan, dengan mobil Bokuto. Namun, karena Bokuto memiliki janji lain malam ini, Akaashi pun harus pergi sendiri menggunakan taksi. Akaashi tahu ia tidak boleh mengekspektasikan Bokuto untuk selalu ada untuknya, jadi datang ke sini sendiri bukan masalah besar. Namun, sudah tujuh minggu sejak ia dan Bokuto bisa menghabiskan waktu bersama terakhir kali. Itulah yang menjadi masalah.

Tanpa sadar, jari-jari lentik Akaashi yang sejak tadi menggulir beranda twitternya yang membosankan, beralih membuka ruang percakapan dengan Bokuto, melupakan sepenuhnya alasan pertama ia membuka ponsel.

from: Koutarowl 💕 
[Maaf, Ji, aku tidak bisa pergi denganmu malam ini. Akan ada pertemuan dengan tim sampai malam. Lalu kami berencana makan yakiniku bersama! Kita bisa ke Inarizaki besok kalau kau mau! Jangan lupa untuk makan malam ya! Atau kau ingin aku membelikan sesuatu? Jangan tidur terlalu larut, kau butuh istirahat! Aku mencintaimu!]

Akaashi bersandar pada kursi yang ia duduki dan menghela napas. Itu adalah pesan terakhir yang diberikan Bokuto padanya beberapa jam lalu ketika Akaashi mengajaknya ke Inarizaki. Akaashi sudah membalas dengan, [Terima kasih, tidak perlu. Aku akan ke sana malam ini. Bersenang-senanglah. Tolong beritahu aku saat kau sudah pulang. Aku juga mencintaimu.] Sampai sekarang, tidak ada tanda Bokuto sudah membaca pesannya.

“Kau datang lebih cepat dari yang kukira,” kata sebuah suara.

Akaashi mendongak. Miya Osamu, teman baiknya, mahasiswa satu angkatan dengannya, salah satu pekerja part time Inarizaki, tersenyum padanya. Ia membawa pesanan Akaashi, dua porsi onigiri dan secangkir espresso panas, serta sebuah stiker rubah.

“Ya, deadline untuk edisi selanjutnya dipercepat, kami pun harus selesai lebih cepat juga,” jawab Akaashi, balas tersenyum.

Osamu menggumam sebagai jawaban. Ia meletakkan pesanan Akaashi ke meja. Saat memperhatikan Akaashi lebih dekat, Osamu bisa melihat rambut panjang Akaashi yang berantakan dan lepek, wajah letih, dengan lingkar hitam di area bawah matanya. Ketika Akaashi mengambil stiker rubah ciri khas Inarizaki dan menyimpannya ke dalam saku, Osamu mengernyit. Ia tahu Akaashi adalah orang yang mandiri, namun pemikiran mengenai Bokuto membiarkan gadis seperti Akaashi datang ke Inarizaki seorang diri malam-malam saat ia lelah membuat Osamu tidak nyaman. “Kau datang sendirian?”

“Begitulah, Koutarou bilang ia pergi dengan anggota Black Jackals.”

“Ah,” Osamu melipat tangan di dada. “Para serigala itu benar-benar berpikir mereka lebih baik dari kita semua, kan,” dengus Osamu. Kalau Atsumu mendengar ucapannya, saudara kembarnya yang menjengkelkan dan narsis itu pasti akan bilang, “Kau hanya iri dan menyesal karena tidak masuk tim dan tidak memiliki fangirls seperti kami!”

Akaashi terkekeh. Memang benar, dengan begitu banyak kemenangan yang berhasil diraih, tim amefuto universitas mereka jadi sangat terkenal dan dihormati, sehingga berhasil menjadi anggota Black Jackals berarti kau telah membuka gerbang di kasta kepopuleran.

Akaashi menyatukan kedua telapak tangannya dan mengatakan, “Terima kasih atas makanannya” sebelum mengambil sebuah onigiri dari piring dan memakannya.

Osamu menaikkan sebelah alis, menunggu komentar Akaashi. Ini sudah menjadi kebiasaan mereka.

“Onigiri-mu selalu menjadi favoritku, Myaa-sam,” kata Akaashi setelah menelan gigitannya.

“Karena itu kau selalu datang ke sini saat shift-ku bekerja.” Osamu tertawa pendek. “Well, I'm glad to hear that. Nikmati makananmu, Akaashi.” Setelah mengatakan itu, Osamu kembali untuk melayani pesanan pelanggan lain. Untungnya, seperti malam weekday biasanya, kedai tersebut sedang tidak terlalu ramai.

Biasanya, setelah makanan habis, Akaashi dan Bokuto tidak langsung pulang. Akaashi akan menikmati waktu di kedai itu sambil mendengar Bokuto menceritakan banyak hal, dan baru pulang ketika jam tutup kedai. Namun sekarang, karena Bokuto tidak ada, ia pun memutuskan membaca salah satu buku di rak yang disediakan Inarizaki untuk para pelanggan. Akaashi merasa begitu nyaman dengan ketenangan yang ada. Cerita dalam buku tersebut cukup menarik dan membuatnya begitu terseret, hingga tanpa terasa, ia telah menjadi pelanggan terakhir di sana. Saat menoleh pada jam dinding, rupanya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saatnya kedai tutup.

Setelah mengembalikan buku ke rak dan berterima kasih, Akaashi membuka ponsel. Masih tidak ada balasan dari Bokuto. Akaashi mengernyit. Tidak biasanya Bokuto mengabaikannya selama ini. Apakah pertemuan antara MSBY sesibuk itu sampai Bokuto tidak punya waktu membuka ponsel?

“Akaashi, apa Bokuto-san menjemputmu?” tanya Osamu sembari mengelap meja.

“Sepertinya tidak, kurasa ia masih sibuk,” jawab Akaashi terus terang. Ia tidak menduga jawabannya akan menghasilkan tawaran dari Osamu.

I see…” ujar Osamu. Ia menghentikan kegiatannya dan menatap Akaashi. “I can drive you to your dorm.” Ia memperhatikan sekitarnya sejenak dan hampir saja —hampir saja!— mengeluarkan decakan kesal. “Setelah aku membereskan tempat ini.”

Akaashi tersenyum. “Terima kasih, Myaa-sam, tapi aku baik-baik saja.”

Osamu mengangguk. “Setidaknya katakan padaku saat kau sudah sampai.”

Giliran Akaashi yang mengangguk. Setelah sekali lagi berterima kasih dan mengucapkan sampai jumpa, Akaashi pun keluar dari kedai itu. Ia menghentikan taksi pertama yang lewat dan langsung menuju asrama.

Dalam perjalanan, Akaashi kembali mengirimkan pesan pada Bokuto, menanyakan apakah rapat Jackals sudah selesai, kemudian membuka instagramnya. Foto pertama yang dilihat Akaashi membuatnya mengerutkan kening. Itu adalah sebuah foto dari akun Atsumu. Di situ, terlihat Atsumu, Hinata, dan Bokuto duduk di sebuah bilik rumah makan (Bokuto pernah bilang Sakusa sering menolak pergi bersenang-senang dengan mereka), dengan piring-piring, gelas-gelas minuman, serta irisan-irisan daging di atas panggangan. 

Hal yang membuat Akaashi heran adalah, bukan hanya anggota Jackals yang ada di foto itu, melainkan juga ada Oikawa, Kuroo, dan lima mahasiswi lain. Seorang perempuan pirang semampai yang Akaashi yakini adalah salah satu anggota cheerleader bernama Terushima menyampirkan lengannya di pundak Bokuto yang tersenyum lebar ke kamera.

Apa ini?

Foto itu di-post tiga puluh menit lalu. Berarti foto itu diambil malam ini. Berarti, sekarang ini, Bokuto dan teman-temannya tengah makan malam dengan para cheerleaders ini.

Akaashi cepat-cepat menuju profil instagram Bokuto, dan betapa kagetnya ia ketika melihat ada lima foto baru. Tiga foto dengan para Jackals (lengkap dengan para fangirls dan cheerleaders); satu dengan Kuroo, Tsukishima, dan Lev; dan satu lagi dengan Konoha, Komi, dan Sarukui. 

Akaashi sama sekali tidak tahu Bokuto hangout dengan teman-temannya sesering itu.

Saat melihat tanggalnya, waktu post dari kelima foto itu adalah sebulan ke belakang. Tepat ketika Akaashi disibukkan bukan hanya oleh tugas-tugas kuliah, namun juga kegiatannya sebagai anggota tim jurnalistik universitas yang dituntut menerbitkan majalah setidaknya setiap tiga bulan sekali, yang secara kejam deadline-nya dipercepat.

Tiba-tiba kepanikan menghampiri Akaashi. Apa ini semua? Kenapa Bokuto tidak pernah mengatakan soal ini? Apa Bokuto memang merahasiakannya dari Akaashi? Tapi kenapa? Apakah ini… apakah mungkin….

Tidak, tidak, tidak. Bokuto tidak mungkin mengkhianati Akaashi. 

Kan?

Akaashi masih sibuk dengan seluruh isi kepalanya yang berisik sampai tidak terasa ia sudah mencapai asrama.

Setelah masuk ke kamar, meminum segelas besar air mineral, mengganti pakaian, dan membasuh wajah, akhirnya Akaashi bisa berpikir jernih.

Ia pun memutuskan untuk sekali lagi mengirim pesan pada Bokuto, meminta Bokuto untuk datang ke asrama besok. Kemudian, ia mengingat ucapan Osamu, sehingga ia pun mengabari teman baiknya sesuai janjinya.

Malam itu, setelah tujuh minggu kurang tidur, Akaashi kira ia akhirnya bisa tidur lebih awal dan lebih nyenyak. Namun, foto-foto yang dilihatnya membuatnya tetap terjaga. Akaashi menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menunggu balasan dari Bokuto… namun ia tetap tidak mendapatkannya. Pada akhirnya, ia tertidur ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi.

.

.

.

Keesokan paginya, saat Akaashi bangun, masih tidak ada pesan dari Bokuto. Hal itu membuat Akaashi semakin panik. Kenapa Bokuto mengabaikannya? Rasa gelisah membuat kepalanya kembali memikirkan hal-hal negatif. Untungnya, hari itu Akaashi tidak memiliki kelas pagi, sehingga ia bisa menghabiskan waktu di ranjang lebih lama.

Akaashi akhirnya turun dari tempat tidur sambil mempertimbangkan apakah ia harus menelepon Bokuto atau tidak. Ketika ia sedang membuat kopi, suara ketukan pintu menginterupsi seluruh pemikirannya. Akaashi menghela napas dan berjalan ke pintu, menggerutu pada siapa pun yang datang sangat pagi seperti ini. 

Saat Akaashi membuka pintu, seluruh kegelisahan sebelumnya langsung menghilang. Di situ, berdiri Bokuto Koutarou, dengan senyum lebarnya, merentangkan tangan, mengisyaratkan Akaashi untuk menghambur ke pelukannya.

Akaashi hampir saja benar-benar jatuh ke pelukannya kalau foto-foto yang ia lihat kemarin malam tidak muncul dalam ingatannya. Jadi, alih-alih membalas senyum Bokuto atau mempersilahkan Bokuto masuk atau tindak kesopanan lainnya, Akaashi justru berkata, “Kau tidak menjawab pesanku.”

Senyum Bokuto luntur, kedua tangannya kembali ke sisinya. “Maaf, semalam, setelah sampai di apartemen aku langsung tertidur. Saat aku melihat pesanmu pagi ini, aku langsung datang ke sini,” kata Bokuto sambil menggaruk tengkuknya, tampak bersalah. “Maafkan aku, ya?” Ia memberikan bungkusan di tangannya pada Akaashi. “Ini untukmu. Kau belum sarapan, kan?”

Akaashi menerima bungkusan tersebut. Di dalam, dua paket breakfast box tampak menggiurkan.

Akaashi tersentuh. Ia tersenyum pada Bokuto. “Masuklah.”

Senyum Bokuto kembali. Ia menanggalkan sepatu, kemudian menarik Akaashi ke dalam pelukan. “Aku sangat merindukanmu, Ji! Rasanya sudah bertahun-tahun aku tidak melihatmu!”

Akaashi hanya mengangguk, membiarkan dirinya merasa nyaman di pelukan Bokuto. Memang benar. Biasanya, bahkan meskipun Akaashi ada pada masa sibuk dengan edisi majalah baru, mereka masih bisa menonton film bersama sambil cuddling di asrama Akaashi pada malam tertentu. Namun kini, sekali lagi, dikarenakan deadline yang dipercepat, Akaashi jadi tidak memiliki waktu untuk itu.

Setelah merasa lebih baik, Akaashi mengakhiri pelukan dan menatap Bokuto tajam. Ia masih harus bertanya mengapa Bokuto merahasiakan sesuatu padanya. “Kau tidak bilang kau akan makan malam dengan Kuroo-san dan gadis-gadis itu.”

Bokuto menaikkan alis. “Oh. Maaf. Saat aku, Tsum-Tsum, dan Hinata dalam perjalanan ke tempat yakiniku, kami bertemu Kurobro dan Kawabro. Karena itu mereka juga ikut.” Bokuto nyengir, merasa senang mengingat kebersamaannya dengan teman-temannya. “Meskipun Kawabro dan Tsum-Tsum terus bertengkar sih!”

“Itu tidak menjelaskan kenapa para cheerleaders bersama kalian,” nada Akaashi terdengar menuduh. Secara insting, ia menautkan jemari tangannya. “Kau juga tidak mengatakan kalau kau dan teman-temanmu sering pergi dengan perempuan, Kou. Aku bahkan tidak tahu kau pergi dengan teman-temanmu sesering itu. Kenapa kau merahasiakannya? Kalau aku tidak mengetahuinya sendiri, apa kau tidak akan mengatakannya padaku?”

Cengiran Bokuto berubah menjadi senyum canggung. Ia mengangkat kedua telapak tangannya seolah mengatakan, tahan dulu. “Ji, tenanglah. Aku bisa jelaskan.” Ia meraih kedua tangan Akaashi dan menggenggamnya, kemudian menatap mata Akaashi. “Aku minta maaf karena kemarin aku tidak bisa menemanimu ke Inarizaki.” Bokuto menghela napas panjang. “Lalu, kalau mengenai aku dan teman-temanku yang pergi dengan para gadis, sebenarnya aku selalu mengatakannya padamu.”

Akaashi mengerutkan kening. “Maaf?” Pernah katanya? Kapan?

“Aku minta maaf kalau aku membuatmu cemas,” Bokuto memulai, mencium punggung tangan Akaashi untuk berusaha menenangkannya. Akaashi sendiri tidak menolak. Kontak fisik dengan Bokuto selalu berhasil membuatnya rileks. “Aku selalu mengatakan padamu saat aku akan pergi dengan teman-teman, aku juga selalu bilang kalau gadis-gadis cheerleaders akan bergabung. Sebenarnya, kalau bisa aku ingin mengajakmu, atau setidaknya menceritakan padamu apa saja yang terjadi saat kami pergi bersama seperti biasa. Tapi, uh… mungkin kau terlalu fokus dengan hal yang kau kerjakan sampai kau tidak mengingat atau menyadarinya…?”

Mata Akaashi melebar. Benarkah itu? Ia menatap Bokuto tidak percaya.

“Ayolah, sayang!!! Kau tahu aku akan lebih memilih menghabiskan waktu bersamamu. Tapi kau sibuk sekali. Aku tidak ingin mengganggumu.”

Akaashi masih menatap Bokuto, mencari kebohongan. Dari cara Bokuto bicara, cara Bokuto menatapnya, cara Bokuto menyentuhnya, Akaashi tahu Bokuto tidak berbohong.

Akaashi akhirnya mendesah dan mengalihkan pandangan. “Aku minta maaf. Kurasa perhatianku terlalu tersita oleh kegiatanku sampai mengabaikanmu,” kata Akaashi pelan, merasa begitu malu dan bersalah karena bukan hanya terkesan tidak peduli, tapi juga telah menuduh Bokuto yang tidak-tidak. Padahal, lihat saja dia, sang MSBY Beam itu begitu murni, manis, menggemaskan, penuh perhatian, dan setia.

Cengiran Bokuto kembali. “Bukan masalah, aku mengerti.”

Akaashi membalas senyum Bokuto. Tapi kemudian, ia kelihatan kembali gelisah. Matanya beralih dari satu hal ke hal lain, tidak mau menatap Bokuto. “Kau tidak… kau tahu, kan… tertarik… dengan salah satu gadis itu?”

Oh! Bokuto mengerti. Ia tertawa. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Jijiii! Aku tidak peduli dengan mereka! Selain itu, aku super mencintaimu, tahu! Tidak akan ada yang bisa mengubah itu! Bahkan para fangirls yang setiap hari mengeluh kalau footballers sepertiku harusnya berpasangan dengan para cheerleaders sekalipun!”

Hanya dengan ucapan yang terkesan melebih-lebihkan dan menggebu-gebu itu, seluruh kecemasan Akaashi menghilang.

“Meskipun aku tidak akan keberatan kalau kau mau memakai seragam cheer mereka!” Bokuto cengengesan.

Ucapan itu sukses membuat pipi Akaashi memerah. Ia memukul dada Bokuto, sementara Bokuto hanya terkekeh. 

“Sekarang ayo sarapan, aku lapar sekali!”

Sayangnya, setelah sarapan, untuk kekecewaan Akaashi, Bokuto langsung pergi.

“Kau benar-benar tidak bisa tinggal lebih lama?” tanya Akaashi.

“Mm… iya. Maaf. Musim turnamen akan segera dimulai, jadi jadwal latihan kami padat. Sebenarnya aku harusnya sudah ada di tempat latihan sejak...” Bokuto melihat arlojinya, “sepuluh menit yang lalu.”

Akaashi menaikkan kedua alis, terkejut. “Kau meninggalkan latihan untuk menemuiku?”

Bokuto yang sedang memakai sepatu, tertawa melihat reaksi Akaashi. “Ayolah, jangan terdengar seolah ini hal besar.” Ia tersenyum lebar. “Aku juga ingin menemuimu, kok!”

Maka, begitulah, setelah memberikan kecupan singkat di bibir, Bokuto membuka pintu sambil mengucapkan, “Tidurlah sebentar, Ji! Aku akan ke sini lagi sore nanti. Sampai jumpa!”

Sebelum Akaashi sempat mengatakan kalau ia memiliki kelas di sore hari, Bokuto sudah pergi.

.

.

.

Akaashi ingin marah. Setelah ia keluar dari masa-masa sibuk, sekarang Bokuto yang tidak punya waktu. Jadwal latihannya padat sekali. Kalau bukan karena kelas, ia harus latihan. Saat ia ada waktu luang, justru Akaashi yang ada kegiatan.

Ingin melampiaskan kekesalannya pada semesta, seminggu kemudian Akaashi datang lagi ke Inarizaki.

“Para serigala sedang sibuk, kan?” adalah sapaan pertama Osamu saat ia memberikan pesanan Akaashi.

“Iya, jadwalku dan Koutarou terus bertabrakan,” jawab Akaashi. Seperti biasa, Akaashi mengambil stiker rubah khas Inarizaki dan menyimpannya ke sakunya sebelum makan. Osamu mulai penasaran apa yang dilakukan Akaashi pada stiker-stiker itu.

Mengesampingkan itu, Osamu hanya mendesah. “Setidaknya kulihat Bokuto-san tidak se-menyusahkan Tsumu. Sejak latihan mereka ditambah, Tsumu menjadi maniak jadwal dan menghebohkan seluruh penghuni lorong asrama kami, mengatakan ia harus ini dan itu, dan menolak melakukan pekerjaan rumah apa pun.” 

Akaashi tertawa. “Rasanya seperti mengurus bayi besar?”

Osamu mengangguk. “Begitulah. Kau pernah mengalaminya?” tanyanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Akaashi menatap Osamu. “Kau bertanya padaku?”

Osamu mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Barangkali Bokuto-san punya sisi dewasa yang tidak bisa dipercaya.”

Akaashi tertawa lagi. Tawanya manis seperti simfoni yang mengalun indah, dan berharga seperti harta karun karena Akaashi memang jarang tertawa.

Setelah percakapan singkat, seperti biasa, Osamu akan kembali melayani pelanggan lain. 

Kali ini, sebelum Akaashi kembali, Osamu memberikan brosur grand opening sebuah sweet shop weekend nanti.

“Ini milik Tendou-san. Sabtu nanti Semi-san akan tampil di acara pembukaan itu sejak pukul sepuluh pagi. Selain itu, mereka memberikan contoh gratis makanan. Aku yakin akan banyak yang datang.”

Akaashi menerima brosur itu sambil mengerutkan kening. Jaraknya tidak terlalu jauh dari asramanya, namun ia tidak ingin datang sendirian bahkan kalaupun Akaashi mengenal semua orang. Selain itu, Sabtu nanti, Bokuto latihan sejak pagi.

“Kita bisa datang bersama kalau kau mau,” tawar Osamu.

Akaashi langsung menatapnya.

“Aku biasanya akan datang ke tempat seperti ini dengan Tsumu, paling banyak untuk memastikan dia tidak membuat masalah. Tapi, sekarang dia punya latihan setiap weekend, dan kuasumsikan Bokuto-san juga. Jadi kalau kau ingin datang, kita bisa pergi bersama.” Osamu tersenyum. “Setelah itu kita bisa makan siang, atau apa pun yang kau inginkan.”

Senyuman Akaashi terkembang. Bagaimanapun, menghabiskan weekend bersama Osamu pasti akan jauh lebih baik dibandingkan duduk di asramanya sendirian. Ini bukan masalah, kan? Bagaimanapun, Osamu teman baik. Selain itu, kalau Bokuto memang tidak bisa hadir, bukan masalah Akaashi pergi dengan orang lain. Sama seperti saat Bokuto pergi dengan timnya dan para cheerleaders saat Akaashi tidak bisa ada untuknya. 

“Aku sangat menghargainya, Myaa-sam. Aku akan pergi denganmu, kalau kau tidak keberatan.”

Siapa sangka keputusan itu membuat hubungannya dengan Bokuto dalam masalah.

.

.

.

Osamu mengantar Akaashi kembali asrama saat matahari hampir terbenam.

“Hope you had a good time,” kata Osamu.

I did. Thank you,” jawab Akaashi.

“I'm glad,” Osamu tersenyum. “Baiklah, aku akan kembali sekarang. Sampai jumpa.” Osamu membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi.

Akaashi mengangguk. “Sekali lagi terima kasih untuk hari ini.”

Osamu membalas dengan gumaman dan menjalankan mobilnya.

Ketika Akaashi masuk, Kenma, tetangga kamarnya yang sedang memainkan PSP di lobi, tengah menunggunya. “Akhirnya kau datang,” ujarnya tanpa menatap Akaashi. Matanya masih fokus pada game di depannya.

Akaashi mendekatinya. “Ada apa?”

“Kau tidak memeriksa ponselmu kan?” tanya Kenma.

“Ponselku kehabisan baterai.”

Akhirnya, Kenma mengangkat pandangan untuk menatap Akaashi. “Kuro bilang Bokuto-san mencarimu ke sini tapi kau tidak ada, dan ponselmu tidak bisa dihubungi.”

Akaashi mengerutkan kening. “Tapi Koutarou sedang latihan….” Tiba-tiba panik, Akaashi pun langsung pergi ke kamar untuk mengisi daya ponselnya. 

Tidak biasanya Bokuto menghubungi Akaashi saat latihan. Apa semuanya baik-baik saja? Apa Bokuto dalam masalah?

Waktu untuk menunggu ponselnya menyala terasa seperti berminggu-minggu. Ketika akhirnya ponselnya menyala, Akaashi dapat melihat dua puluh panggilan tidak terjawab dan 40 lebih pesan dari Bokuto yang kebanyakan menanyakan keberadaan Akaashi.

Cepat-cepat, ia menelepon Bokuto. Tidak sampai deringan pertama selesai, Bokuto langsung mengangkat panggilan itu.

“Kou, kau baik-baik saja?” tanya Akaashi tanpa basa-basi bahkan sebelum Bokuto mengatakan apa pun. “Aku minta maaf, tadi aku pergi dengan Myaa-sam ke pembukaan toko milik Tendou-san, dan ponselku mati.”

Bokuto tidak menjawab.

“Kou?” Akaashi menjadi semakin khawatir. “Apa… ada yang salah?”

Setelah jeda yang menyesakkan, akhirnya Bokuto berucap dengan suara serak. “Kau ada di asrama?”

“Iya. Apa kau—”

“Aku akan ke tempatmu sekarang.” Setelah itu, ia menutup panggilan sepihak.

Akaashi menatap ponselnya, bingung dan cemas. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa suara Bokuto seserak itu? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?

Akaashi pun kembali ke lobi untuk menunggu Bokuto. Entah bagaimana, ia lega melihat Kenma masih ada di sana. Akaashi duduk di sebelah Kenma.

“Bagaimana?” tanya Kenma.

“Koutarou akan ke sini,” Akaashi meneguk ludah, menautkan jari-jari tangannya.

Tidak butuh waktu lama untuk Bokuto sampai di asrama Akaashi. Rupanya ia datang dengan Konoha yang tampak khawatir. Kenapa Konoha menunjukkan wajah itu? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang ia khawatrikan? 

Pertanyaan Akaashi terjawab saat melihat wajah Bokuto. Rambut Bokuto yang biasanya berdiri, begitu berantakan, dengan mata merah dan sembab, serta garis air mata yang mengering di kedua pipinya. Jaket MSBY yang biasa ia kenakan dengan penuh kebanggaan, kini hanya tersampir di bahunya asal-asalan.

Akaashi tentu saja secara spontan berdiri dan menghampirinya—

“Jangan mendekat!”

Akaashi membeku, tidak percaya yang didengarnya. Bokuto belum pernah menolak didekati sebelumnya. Mulut Akaashi terbuka dan tertutup kembali sebelum ia bisa bersuara. “Baiklah. Aku akan tetap di sini. Tapi… ada apa? Kenapa kau menangis?”

Akaashi melirik Konoha sejenak, berusaha mendapatkan petunjuk, namun Konoha sama sekali tidak menatapnya. Ia pun kembali memusatkan perhatian pada Bokuto. “Apa ada yang menyakitimu?”

Bokuto menyeka matanya. “Lucu kau menanyakan itu ketika kaulah orangnya.”

Kalau ada kata yang lebih tinggi dibandingkan ‘terkejut’, maka itulah keadaan Akaashi sekarang. Mengesampingkan seluruh pertanyaan yang timbul secara bersamaan di kepalanya, Akaashi memilih untuk mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan dan apa yang mungkin bisa menyakiti Bokuto. Bokuto itu sangat sensitif, hal kecil saja bisa mengubah seluruh suasana hatinya.

Sepertinya raut bingung Akaashi sangat kelihatan, sehingga Bokuto kembali berucap, “Kau benar tidak tahu, Ji?”

Akaashi kelu, dan ia benci fakta itu. Akaashi selalu menunjukkan diri sebagai orang yang fasih berbahasa. Bokuto juga selalu bilang bahwa ia suka mendengarkan Akaashi mengucapkan kata-kata indah dan terdengar begitu cerdas meskipun ia tidak mengerti artinya. 

Akaashi pun menggeleng. “Maaf. Bisakah kau memberitahuku agar aku bisa memperbaikinya?”

“Aku tidak percaya setelah semua yang kulakukan, kau membalasku seperti ini.” Bokuto mengabaikan pertanyaan Akaashi sepenuhnya.

Akaashi semakin bingung, tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan Bokuto. Keberadaan Kenma dan Konoha juga semakin memperburuk keadaan. Tidak bisakah mereka meninggalkan Bokuto dan Akaashi sendirian sebentar saja? Mereka kan tidak ada urusan dengan semua ini.

“Apa maksudmu?” tanya Akaashi.

You were absent for more than a month.

Mendengar itu, Akaashi merasa lega sekaligus ingin marah. Jadi masalah itu yang membuat Bokuto menangis? “You know I was busy,” kata Akaashi lembut. “Kupikir kita sudah membicarakan itu. Kau bilang kau mengerti. Kau bilang itu tidak masalah.” Tenang. Ini masih bisa diatasi, Akaashi meyakinkan diri sendiri.

Bokuto mengangguk. “Aku baik-baik saja dengan itu sampai tadi siang.” Ia diam sejenak, tampaknya berusaha menguatkan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya. “Saat kau sibuk aku selalu sabar menunggumu. Tapi saat aku sibuk, kau justru menggunakan kesempatan itu untuk mengkhianatiku.”

“Apa maksudmu?” kini Kenma yang bertanya, nadanya tajam, tampak tidak tahan dengan situasi ini. “Hanya karena Akaashi tidak menjawab teleponmu bukan berarti dia berkhianat. Akaashi punya kehidupan sendiri yang tidak hanya berpusat pada—” Kenma menghentikan ucapannya karena tatapan Akaashi.

Akaashi mendekati Bokuto satu langkah. “Aku minta maaf aku tidak menjawab teleponmu, atau tidak ada di sini saat kau mencariku. Tapi aku bersumpah aku tidak mengkhianatimu. Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku bahkan… tidak mengerti bagaimana bisa kau berpikir begitu.”

Mata Bokuto basah lagi. “Kau pergi dengan Myaa-sam barusan.”

Akaashi merasa seluruh ketegangan sebelumnya langsung menghilang ketika bagian paling penting dari seluruh teka-teki ini akhirnya terjawab. Meskipun… yang benar saja itu?! Ia tidak menyangka itulah akar dari semua ini. 

Bokuto cemburu. 

Akaashi tidak mengerti apa sebabnya. Bokuto biasanya tidak akan secemburu ini. “Kou, aku pergi dengan Myaa-sam karena kau harus latihan dan aku tidak ingin mengganggumu. Sama seperti saat kau pergi dengan teman-temanmu dan para gadis cheerleaders saat aku sibuk.” Akaashi memaksakan senyum. “Tidak ada pengkhianatan dari keduanya.”

“Itu berbeda. Mereka tahu aku bersamamu, Ji!”

“Myaa-sam juga tahu aku bersamamu, Kou.”

Bokuto menggeleng cepat. “Tetap saja berbeda! Kami melakukan itu hanya untuk kebersamaan kedua tim, konsumsi publik, dan pamor! Aku bahkan tidak peduli dengan mereka! Sementara kau dan Myaa-sam peduli satu sama lain! Selain itu, Myaa-sam menyukaimu!” bentak Bokuto. “Dia mungkin akan me—” napasnya tercekat. Setelah meneguk ludah, ia mencoba lagi, “—akan mengambilmu dariku saat aku tidak ada.”

Ada dua hal yang membuat Akaashi murka. Pertama, mengenai pamor. Pamor! Jadi sepenting itu pamor bagi mereka? Lalu apa yang terjadi dengan 'menjadi apa adanya' di hadapan publik? Jadi beberapa hari lalu Akaashi mengkhawatirkan para cheerleaders hanya karena pamor dan konsumsi publik?!

Kedua, tuduhan tanpa dasar kepada Osamu.

“Myaa-sam tidak menyukaiku! Aku tidak mengerti kau kenapa, tapi kecemburuanmu tidak beralasan Koutarou! Tidak bisakah kau mempercayaiku?” hardik Akaashi, dan langsung menyesalinya. 

Akaashi menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia harus membuat Bokuto kembali pada akal sehatnya. Untuk melakukan itu, satu hal yang sangat tidak boleh terjadi adalah Akaashi turut terbawa emosi. “Kou, tenanglah. Please. Kita bisa membicarakan ini baik-baik.” Ada sesuatu. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat Bokuto menjadi sangat emosional sehingga memicu kecemburuan ini. Akaashi harus berangkat dari sana untuk bisa menenangkan Bokuto. Sayangnya, ia tidak tahu apa itu. Kalau saja Bokuto bisa ditanyai. Tapi sekarang, keadaan Bokuto sedang sangat tidak kooperatif.

Akaashi memijat pelipisnya. Demi Tuhan. Kadang, ia menginginkan kekasih yang bisa diajak bicara dengan rasional dan kepala dingin tanpa menjadi terlalu emosional dan sentimen pada setiap kesempatan.

Ketika Akaashi melihat wajah Bokuto yang tampak dua kali lipat lebih terluka dibanding sebelumnya, ditambah raut terkejut Konoha dan Kenma, Akaashi pun menyadari ia telah mengatakan isi pikirannya keras-keras. Wajah Akaashi memucat. Apa yang telah ia lakukan? “Kou, aku—”

“Aku mengerti sekarang,” ucap Bokuto, terdengar seolah ia telah dikalahkan. “Kita memang berbeda, Ji. Aku memang seperti ini, sementara kau tidak pernah suka menunjukkan emosimu seakan itu adalah kejahatan. Hanya butuh waktu sampai kau tidak tahan denganku. Sekarang kau sudah tidak tahan denganku, kan? Karena itu kau pura-pura sibuk dan menjauh, kan?”

Tenggorokan Akaashi terasa sakit. Ia kesulitan berbicara— “A-aku tidak bilang begitu— aku tidak pernah—”

“Dan puncaknya kau pergi dengan Myaa-sam yang sangat tenang, dewasa, berkepala dingin, rasional, dan tidak emosional!”

“Kou, kumohon dengar—”

You're just after me because I'm a Jackals starter, aren't you?

Mata Akaashi terbelalak. Rasanya seperti ada pedang yang menancap tepat di jantungnya.

“Oi, Bokuto, itu—” Konoha menengahi—

Stay out of this!” potong Bokuto tajam.

Konoha pun diam, menyadari jika apa pun yang ia ucapkan hanya akan membuat keadaan semakin rusuh.

Bokuto kembali menatap Akaashi. “Kau mengatakannya sendiri. Melihatku di keadaan terbaikku di lapangan sangat memuaskan.”

Akaashi menggeleng, menahan tangis, sangat tidak percaya Bokuto berpikir demikian. Sangat tidak percaya Bokuto menggunakan perasaan senang yang didapatkan Akaashi saat melihatnya bermain untuk menyerangnya. “Kou, kau benar-benar salah melihat semua ini.”

“Setelah kupikirkan, sebenarnya aku sudah menyadari itu sejak lama, hanya saja aku tidak mau peduli karena kuharap pada akhirnya kau bisa benar-benar tulus padaku.” Suara Bokuto pecah. “Tapi belakangan, kau justru membuatku mulai bertanya-tanya, kenapa aku mengencanimu sejak awal.”

Seandainya kata-kata bisa secara harfiah membunuh seseorang, maka kini nyawa Akaashi pasti sudah meninggalkan tubuhnya. Bokuto sudah kelewatan. Akaashi tidak bisa menerima semua ini. Ia tidak sanggup menerima semua ini. Ia tidak sanggup menghadapi semua tuduhan menyakitkan dan tidak berdasar yang diberikan Bokuto bertubi-tubi.

“Baiklah. Aku akan membuat semua ini lebih mudah untukmu,” kata Akaashi. Bahkan dengan seluruh kekacauan ini, sangat kontras dengan kondisi hatinya yang telah pecah berhamburan, ia masih bisa bicara dengan suara tenang. “Kau tidak perlu mempertanyakan itu lagi.” Ia berjalan mendekati Bokuto sehingga mereka hanya terpisah beberapa langkah, dan menatap lurus mata Bokuto. “Sebab sekarang kita berakhir, Bokuto-san.”

Akaashi mengatakannya. Akaashi benar-benar mengatakannya. 

Ia tidak percaya ia mengatakannya.

Kalimat itu menghancurkannya sebagaimana ia menghancurkan Bokuto.

Kini, mata keemasan Bokuto membeliak. Namun, ia tetap mengangguk. Dengan air yang kembali menggenang di pelupuk mata, ia berkata, “Sesuai keinginanmu, Akaashi.”

Setelah itu, Bokuto pergi.

Terjadi keheningan yang memekakkan telinga di ruangan itu.

“Aku…” Konoha berucap, membuat perhatian Kenma tertuju padanya, sementara Akaashi masih menatap pintu tertutup yang baru saja dilewati Bokuto. “...akan memastikan dia tidak mencelakai dirinya sendiri.”

Kenma mengangguk. Itulah yang terbaik untuk sekarang. Dalam keadaan seperti ini, Bokuto sangat memungkinkan mencelakai diri sendiri. Baik itu karena menyetir tanpa memerhatikan jalan atau hal lainnya.

Ketika Konoha sudah pergi dan pintu kembali tertutup, Kenma menatap punggung Akaashi yang masih berdiri diam tanpa mengatakan apa pun. “Akaashi, kau baik-baik saja?” tanya Kenma hati-hati.

Akaashi berbalik. “How could I be?!” tukas Akaashi begitu ketus dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Kenma tersentak.

Kenma ingin mengatakan sesuatu, namun ia sama sekali tidak mahir berurusan dengan orang sedih. Ditambah lagi, ini Akaashi. Kenma hanya terbiasa dengan Akaashi yang tenang, kalem, dan sangat composed.

Akaashi menundukkan kepalanya, tanpa sadar mencubiti kulit pada jari-jari tangannya menggunakan kuku sampai terluka. “Aku minta maaf. A-aku akan… kembali ke kamar—” Bahkan sebelum Akaashi menyelesaikan kalimat itu, ia sudah kabur ke kamarnya sambil terisak.

Untuk sejenak, Kenma masih berdiri di sana tanpa melakukan apa pun, berusaha memproses yang terjadi, serta memikirkan apa yang harus ia lakukan. Pada akhirnya, ia mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon Kuroo.

“Kenma! Kau bersama Bokubro dan Akaashi?” tanya Kuroo sebelum Kenma sempat mengatakan apa pun.

Kenma tidak tahu ia harus senang atau sedih karena hal pertama yang ditanyakan Kuroo adalah kedua burung hantu itu. Kenma senang, karena memang mereka-lah tujuannya menelepon Kuroo. Kenma sedih, karena itu semakin memperjelas fakta kalau Bokuto dan Akaashi tidak baik-baik saja. “Tidak lagi.”

Kuroo tidak langsung menyahut. “Tolong katakan keadaan mereka tidak seburuk yang aku bayangkan.”

Kenma menggigit bibir. “Kurasa ini bahkan lebih buruk dari yang kau bayangkan.” Ia menghela napas kasar. “Sebenarnya apa yang terjadi, Kuro?”

“Timingnya sangat buruk, Kenma,” suara Kuroo yang terdengar frustrasi.  “Siang tadi, Bokubro harus meninggalkan latihan karena telepon dari ayahnya. Aku tidak tahu kejadiannya, tapi tampaknya mereka bertengkar lagi. Setelah itu Bokubro langsung mencari Akaashi, berharap Akaashi bisa menghiburnya seperti biasa, tapi Akaashi malah pergi dengan Miya Osamu.”

Ah. Benar. Timingnya benar-benar buruk. Mereka sangat tidak beruntung.

Notes:

Readers sekalian tahu kan, gimana setiap football player tuh selalu identik sama cheerleader :"D

Well..... Cukup sekian dari Hil, jangan lupa tinggalkan jejak karena aku butuh banget masukan, kritik, dan saran.
Sampai jumpa di fanfic berikutnya!!