Work Text:
"chenle, tolong angkat teleponnya." renjun menghentikan kegiatannya memasak sarapan ketika beberapa menit berlalu chenle tidak merespon seruannya. sementara telepon rumah masih berdering, tanda bahwa anaknya, chenle, belum mengangkat telepon yang sudah berdering sejak 5 menit yang lalu. merasa khawatir, ia dengan sigap mematikan kompor, lalu berjalan menuju kamar sang anak.
renjun terdiam. pemandangan yang ia lihat saat ini terasa tak asing. chenle sedang terlentang dengan pandangan kosong di bawah karpet rugby kamarnya. selalu seperti ini, anaknya berubah menjadi pendiam saat ia memutuskan pindah dari Amerika, kembali ke tanah kelahirannya.
"chenle? kenapa rebahan di bawah? kenapa ga di kasur sayang?"
ia langkahkan kaki semakin masuk ke dalam kamar sang anak, dan ia begitu terkejut ketika melihat beberapa butir pil tercecer di atas meja belajar sang anak.
"ini.. pil apa? kamu sakit? chenle?" renjun mulai kalut dan chenle masih diam tak bergeming.
"chen–"
"hanya obat antasida, baba. jangan khawatir"
mata renjun memanas, suara chenle begitu parau. tak ada lagi binar kebahagiaan dari wajah sang anak. lebih lagi, renjun tau, itu bukan obat antasida.
"maaf, chenle." merasa semakin kesusahan menahan isak tangis, renjun memutuskan keluar dari kamar sang anak menuju ruang tamu, mengangkat telepon yang terus berdering sedari tadi.
—
"ya, nanti kusampaikan."
suara dering mengakhiri panggilannya dengan seseorang di seberang sana. seseorang yang senantiasa menanyakan kabar anaknya setiap hari semenjak hari perceraian mereka. entah siapa yang salah dan siapa yang memulai kesalahan ini, renjun enggan memikirkannya. dengan langkah tergesa ia melanjutkan kegiatan memasaknya, meskipun separuh jiwanya seakan hilang sebab rumah tangganya kini hancur berantakan. belum lagi soalan anaknya yang seakan kehilangan semangat hidup semenjak ia dan mantan suaminya berpisah sebulan yang lalu. tentang pil itu, renjun akan mencari tahu. ia tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada anaknya, meskipun memang berat menerima kenyataan bahwa ayah tercinta nya tidak lagi bersama dengan babanya dan dirinya saat ini. lamunan renjun buyar begitu saja saat chenle tiba tiba berada di sisinya, masih dengan tatapan kosong. tak ada percakapan di antara mereka, keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing hingga renjun mulai membuka pembicaraan.
"ayah kamu telfon lagi tadi, chenle." gumam renjun pelan
"Ayahmu terus menanyakan kabar kamu." renjun menjeda sejenak.
"tolong angkat telfonnya besok ya? ayahmu hanya ingin tahu apa anak kesayangannya baik-baik saja atau tidak."
tidak ada respon dari chenle, hanya tatapan tanpa minat.
"baba tau, mungkin berat bagi kamu menerima keputusan kami untuk berpisah. namun, sungguh chenle, aku dan donghyuck sudah tidak bisa lagi bersama."
"kenapa, baba?" lagi-lagi, suara parau dari chenle mampu membuat hati renjun mencelos.
"tidak tahu chenle... baba tidak ingin membahasnya. kami hanya.. tidak lagi bisa bersama"
dada renjun terasa sesak, mengingat bagaimana ia masih mencintai lelaki yang telah 15 tahun lebih bersamanya itu. namun sekali lagi, renjun tidak ingin memikirkan siapa yang salah dan apa yang salah. karena apapun sebabnya, faktanya ia dan donghyuck kini telah berpisah. faktanya, kisah cintanya tidak sebahagia kisah cinta cinderella.
"semuanya tidak akan sama dengan yang dulu, saat ini chenle."
"hanya kita berdua sekarang, dan itu, tak masalah."
chenle mendekapnya erat, sang anak terisak di pelukannya.
"maaf chenle, maaf."
