Work Text:
Penulis:
Ann
Akun Twitter:
@ann_influx
Kode Prompt:
--
HENING
Renjun hidup dalam keheningan, baik secara harfiah maupun alegori. Walau kebanyakan hening yang tercipta dalam hidupnya merupakan sebuah kiasan, tetapi bagi Renjun tetaplah demikian adanya. Sunyi yang mampir ke dalam hidupnya tidaklah turun serta merta seperti hujan yang datang tiba-tiba pada musim panas. Sunyi yang mengisi harinya menyelusup perlahan seperti udara yang berhembus di akhir musim semi dan semilir angin di siang musim panas. Bergerak pasti dan tidak bisa terelakkan kehadirannya.
Renjun sebenarnya acap kali hidup di tengah keramaian. Sejak kecil hingga menginjak dewasa, dirinya merupakan buah bibir banyak orang. Baik karena keahliannya dalam banyak hal atau karena rupanya yang buat banyak orang terpikat. Tetapi sepanjang hidupnya juga, semua dengungan pembicaraan orang yang singgah di telinganya tidaklah bisa menawarkan hingar yang nyata. Bagi Renjun, semua kebisingan itu tidak rupanya bunyi kosong sesaat mereka sampai ke alat pendengarannya. Maka ketika masa kecil hingga remajanya dihabiskan bersama keluarga nenek dan bibinya di dekat hutan. Hal yang kerap dilakukannya adalah berlari ke hutan, guna mencari hening yang sesungguhnya. Hutan menurut Renjun merupakan tempat yang sebenarnya ramai dan ditempati banyak makhluk, tetapi di saat yang bersamaan merupakan tempat yang cukup untuk menawarkan kesunyian bagi dirinya.
Adapun salah satu anomali hening yang Renjun pernah rasakan adalah saat sang bibi dan nenek dikabarkan meninggal oleh seorang dokter berbadan gempal, saat pagi buta menyapa. Kala itu seluruh anggota keluarganya berkumpul dan menangis tersedu. Beberapa di antara mereka berbisik satu sama lain atau berbincang dengan intensitas suara sepelan mungkin. Tetapi tetap saja, semua kumpulan desibel bunyi suara yang didengungkan tiap-tiap anggota keluarga, dapat terdengar nyaring di telinga siapapun yang datang melayat.
Renjun yang berumur belum menyentuh sepuluh tahun, kala itu berada di antara peti keduanya, diam dan menatap dengan seksama tubuh sang bibi dan nenek yang tertidur tenang. Semua badan mereka terlihat normal, meski berwarna lebih pucat dan juga lebih dingin dari biasanya. Hampir senada dengan warna kulitnya yang begitu putih. Hal yang menarik perhatiannya adalah leher milik kedua perempuan tua itu yang terkoyak hebat. Melalui aksi curi dengar dari perbincangan antara ayahnya dan sang dokter, mereka meninggal karena digigit hewan buas. Sesaat setelah Renjun mendengar kabar tersebut, pada pikirnya hanya terisi suara. ‘Mengapa keramaian ini terasa sangat sunyi?’.
<><><><>
“Barang-barangmu sudah siap semua?” tanya seorang wanita yang tengah menginjak pertengahan kepala lima. Pada raut muka lembutnya, dia memberi tatapan cemas yang berusaha dia tahan.
“Sudah.” jawab Renjun sekenanya, berusaha memberikan gestur agar wanita itu tidak menaruh kekhawatiran berlebih.
“Ibu tau ini bukan tugas pertama mu di hutan. Tetapi tetap saja semua perlengkapanmu harus siap. Terlebih disana sangat susah sinyal, menghubungi rumah dan meminta bantuan bukanlah hal yang mudah.” jelas wanita tersebut.
“Bu, Renjun sewaktu kecil hidup di tempat itu. Hutan tempat Renjun ditugaskan juga dekat dengan rumah nenek. Renjun juga sering bermain ke hutan terdekat disana. Renjun akan baik-baik saja, percayalah.” ucap Renjun menenangkan.
“Sekarang di tempat itu sudah tidak ada siapa-siapa. Paman juga sudah lama pindah ke kota.” balas wanita tersebut dengan intensitas kekhawatiran yang tidak kunjung mereda.
“Tidak apa ibu. Tenanglah!” pinta Renjun dengan melembutkan nada suaranya. “Renjun kesana dengan beberapa orang. Semua dari satuan militer pemerintah, jadi tenang saja. Mereka sudah ahli dalam menjaga diri.”
Wanita itu menghela nafas panjang dan mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa ruang keluarga yang empuk. Selama beberapa saat, dia menatap kosong jarak antara sofa dan televisi yang masih menyala lalu kemudian menatap bingung putra nya yang akan pergi bertugas. “Kau tau, terkadang Ibu bingung. Mengapa kau yang merupakan ahli genetika memilih bekerja untuk militer. Mengapa tidak mengajar atau bekerja di perusahaan obat saja, yang lebih ramai?” tanya sang ibu pelan.
“Kau terlalu indah untuk berada di tempat yang tidak tersentuh seperti di dalam laboratorium militer. Tetapi kau selalu begitu, memilih untuk hidup dalam kerahasiaan dan keheningan.”
Renjun terdiam mendengar penuturan wanita tersebut. Dia tidak berani menatap kebingungan yang ditawarkan oleh mata wanita yang berada di sofa itu. Kedua bola matanya dia arahkan untuk memperhatikan koper dan satu tas punggung yang disiapkan untuk dibawa. Berusaha sekuat tenaga hindari sorotan tatap tersebut.
“Kau tau Jun, semenjak kau kembali ke rumah ini. Selalu ada batasan tidak kasat mata yang kau buat antara keramaian dengan dirimu, Ibu tidak tau mengapa. Tetapi kau seperti hilang jika kita tengah berkumpul. Ibu harap, setelah kau pulang dari daerah itu, batas itu akan tertinggal disana juga.”
<><><><>
“Kita disini sebenarnya mencari apa?” tanya seorang pria berambut cokelat kepada kedua orang di belakangnya. Tubuhnya yang tegap dan enak untuk dipandang tidak terlihat lelah melangkah, meski mereka telah berjalan empat jam lamanya dari bibir hutan. Mengindikasikan bahwa pria itu sudah terbiasa dengan aktivitas menyusuri hutan seperti ini. Kulitnya yang bewarna kecokelatan dan keringat yang masih asik mengalir di keseluruhan muka tampannya, bersinar diterpa semburat cahaya matahari sore yang masuk melalui celah pepohonan. Pada pakaian yang dia kenakan terdapat sebuah lencana dengan tulisan ‘Penjaga Hutan’.
Pria berkulit kecokelatan itu berjalan menyusuri jalan setapak menuju jantung hutan pinus. Langkahnya terdengar hampir tidak berbunyi, tidak rupanya seseorang prajurit yang takut membangunkan naga pada dongeng masa silam. Di belakangnya, diikuti oleh dua orang lain yang menaruh percaya akan tugasnya sebagai penjaga tempat tersebut. Sesekali pria itu menyeka keringatnya dengan pergelangan tangannya. Renjun yang berada tepat di belakangnya, menatap lekat punggung pria di depannya itu. Pada tatapannya, terdapat apa-apa yang tidak dapat dia jelaskan. Rasanya dia sudah abai dengan kenyataan bahwa sudah lebih dari empat jam dia berjalan. Bahkan godaan tanpa henti pria yang berjalan di belakangnya, tidak membuat kedua matanya lepas memperhatikan punggung tersebut. Dalam pikirannya kini terlalu kalut karena dipenuhi oleh derapan pertanyaan yang tidak dia bisa dijelaskan. Semua rentetan pertanyaan itu memecah keheningan otaknya berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa hutan mulai menyentuh sunyinya.
“Sebuah makhluk yang dapat menyerap semua sinyal detektor. Dia juga bisa berubah menjadi apapun dan tidak punya bentuk tetap. Dia bisa menjadi hewan atau menjadi manusia. Semua tergantung bentuk mana yang akan dia pilih. Tidak punya jantung, tidak punya otak tetapi sangat cerdas. Memang hidup hanya untuk membunuh dan berperang. Ku sebenarnya juga tidak yakin, benda itu cocok disebut makhluk atau tidak. Tetapi dia bergerak dan bisa merasakan sesuatu.” jelas seorang pria lain berkulit putih dengan tinggi jauh melampaui mereka berdua. Pria itu berjalan di baris terakhir diantara mereka bertiga.
“Ren, seharusnya kau menolak untuk ditugaskan kemari. Orang secantik dirimu tidak etis masuk hutan untuk mencari makhluk jadi-jadian tersebut.” tambah pria tinggi tersebut dengan intonasi menggoda.
Renjun mengalihkan pandangannya menuju kedua ujung kakinya. Godaaan yang dilontarkan rekan timnya tidak berhasil membuatnya teralih dari pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Tiba-tiba dia mulai membuka mulutnya dan berbicaara sekenanya. “Berdasarkan data militer, dia pernah berada disini dua puluh tahun lalu. Di dekat hutan ini juga, lalu ditemukan dalam bentuk seekor beruang. Berhubung beruang bukan endemik hutan ini, jadi sangat mudah mengira kalau itu dia. Kemudian militer menangkapnya dan kelihatannya dia berhasil kabur lagi.”
“Ren, berdasarkan data yang komandan beri kepadaku, kau pernah tinggal disini dulu?” tanya pria kecokelatan di depannya.
“Iya.” jawab Renjun pelan seraya menatap kedua kakinya melangkah. Matahari mulai berjalan ke ufuk barat. Bayangan pepohonan hutan mulai memanjang menghiasi dataran hutan dan langit mulai tampak berwarna jingga. Terdengar suara burung terbang berarak dengan kawanannya dan angin berhembus bergerak hingga membuat pepohonan berbisik melalui dahan-dahannya.
“Hari sudah mulai malam, kita bangun kemah di depan saja. Di depan ada sedikit tanah lapang.” ucap pria kecokelatan tersebut.
Malam jatuh beberapa waktu kemudian. Tepat sesaat mereka telah sampai di tanah lapang tersebut. Dengan segera, Renjun bersiap mengeluarkan peralatan berkemah yang dia bawa di tas punggungnya dan mulai merakit tenda pada tempat yang dia rasa aman. Pria berkulit cokelat pergi mencari kayu kering untuk dijadikan api unggun, sementara pria berbadan tinggi yang berada satu tim dengan mereka ikut berjaga bersama dengan Renjun.
“Ren,” ucap pria tinggi itu. Renjun tidak menjawab panggilan tersebut dan masih disibukkan dengan menyiapkan perlengkapan memasak. Sementara pria tinggi itu masih menatap lekat tubuh Renjun dihadapannya.
“Ren, ku tertarik padamu.” ucap pria tinggi itu. Renjun tidak bergeming saat mendengar pernyataan itu dan masih saja melanjutkan pekerjaannya, seolah terbiasa mendengar pernyataan tersebut entah dari siapapun.
“Ku tertarik padamu sejak lama.” imbuh pria itu dengan intonasi yang mulai ditinggikan. Tetapi Renjun tetap tidak mengindahkan pernyataan tersebut dan mulai membuka beberapa peralatan untuk memindai lokasi tempat timnya berada sekarang.
“Bisakah kau tidak jual mahal!” kata pria itu dengan intonasi yang cukup tinggi akibat tidak mampu mengambil atensi milik lelaki di hadapannya. Hingga membuat Renjun mengalihkan pandangannya dari aktivitas yang dilakukan. Lelaki itu berdiri dan beranjak mendekati Renjun. Tangan kanannya mencengkram erat tangan kecil milik Renjun dan membuatnya menatap cengkraman tersebut.
“Ini maksudnya apa?” tanya Renjun kebingungan.
“Ayo ikut aku!” perintah pria tinggi itu sembari menarik tangan Renjun.
“Tidak bisa. Hari sudah mau malam.” balas Renjun tanpa tekanan pada suaranya. Pria itu masihlah berdiri di depan Renjun dan tetap menarik tangan Renjun untuk pergi dan selama itu juga Renjun berusaha menahan dirinya untuk tidak berpindah dari tempatnya.
“Ku bilang, kita tidak bisa pergi dari tempat ini!” ucap Renjun sedikit kesal. Tetapi pria itu tetap saja memaksa Renjun mengikuti langkahnya, sementara Renjun berusaha keras untuk tidak mengikuti langkah pria yang lebih besar darinya itu.
“Lepaskan tangannya! Dia tidak ingin pergi.” ucap si penjaga hutan secara tiba-tiba dari arah belakang. Renjun berpikir kemungkinan pria itu berjalan mengendap-endap hingga berdiri tepat di belakang mereka. Menurutnya semua gerakan yang dia buat terdengar hampir tanpa suara. Pada kedua tangannya dipenuhi tumpukan kayu kering dan kemudian dia mulai melangkah menuju tempat api unggun yang sudah terlebih dahulu disiapkan Renjun.
Mendengar hal tersebut si pria tinggi mulai melepaskan cengkramannya dan pergi menjauhi mereka. Mulutnya berdecak sebal dan dengan kasar melangkahkan kakinya menuju bagian hutan yang lebih gelap.
“Lebih baik tidak pergi jauh-jauh! Cepat kembali!” teriak pria si penjaga hutan. Kemudian pria itu menatap Renjun dan mulai tersenyum hangat.
“Hei, maaf.” kata pria itu pada Renjun.
“Tidak. Kau datang tepat waktu.” jawab Renjun.
“Sering mengalami hal tersebut?” tanya pria itu seraya menyalakan api unggun untuk menambah kehangatan di tengah dinginnya malam yang mulai menyelimuti hutan.
“Cukup sering.” jawabnya singkat.
“Oleh orang yang sama?” tanya pria itu lagi. “Oh, maaf. Jika tidak ingin menjawab juga tidak apa.”
Renjun menggeleng pelan. “Tidak juga. Ada banyak orang. Ya termasuk dia, sih.”
“Maaf. Pasti sulit mengalami hal tersebut setiap saat.” imbuh pria itu. “Namaku Haechan. Kita belum berkenalan dengan baik bukan tadi?”
Renjun menatap pria itu yang mulai mengulurkan tangan kanannya. Pria itu tersenyum hangat dan wajahnya berseri diterpa cahaya yang dipancarkan oleh api unggun. Renjun membalasnya dengan senyuman kecil.
“Maaf, tangannya kotor.” kata pria itu. Tangannya mulai dia tarik kembali saat tengah merasa Renjun tidak segera membalas uluran tangannya. Seketika Renjun menarik tangan kecokelatan itu dan dengan cepat menjabat tangan milik pria di hadapannya.
“Renjun. Namaku Renjun.” kata Renjun.
Pria itu tersenyum lagi dan mulai mendudukkan dirinya di dekat api unggun. Renjun mengikutinya dan mulai memperhatikannya menyiapkan minuman hangat dari peralatan masak yang sudah Renjun siapkan sebelumnya.
“Ini untukmu.” kata Haechan. “Bagus untuk mengurangi rasa lelah karena tadi berjalan jauh.”
“Terimakasih.” jawab Renjun.
Kemudian mereka terdiam menyisip minuman masing-masing. Sayup-sayup bunyi serangga-serangga hutan dan kayu yang terbakar memenuhi ruang hening diantara mereka, membiarkan riuh-rendah gesekan sayap kecil serta suara api yang memakan kayu perlahan menjembatani celah di kedua pria itu. Renjun terdiam menikmati keheningan yang ditawarkan ramainya serangga, sementara Haechan bersenandung kecil mengisi lowongnya waktu yang dia miliki.
“Ku selalu merasa ada yang aneh dalam keramaian.” kata Renjun memecah keheningan. Haechan seketika berhenti bersenandung dan mulai beralih menatap pria berkulit putih yang berada di sampingnya lalu memberikan tatapan antusias.
“Bagiku seramai apapun keadaan seperti tidak benar-benar ramai. Seperti semua kata-kata yang terdengar di telingaku hilang begitu saja sesampainya menyentuh gendang telinga. Bahkan sewaktu kecil, ketika nenek dan bibi kerap bertengkar dan keributannya cukup dapat didengar para tetangga, ku tetap merasa sangat sunyi.” ucap Renjun.
“Kau mungkin menganggap itu aneh dan ku juga sebenarnya tidak percaya bisa menceritakan ini pada orang lain, tetapi ku sudah pergi ke dokter dan pendengaranku benar-benar normal. Dan tetap saja begitu, hingga membuatku tidak bisa bedakan mana yang sunyi betulan mana yang bukan.” jelas Renjun. “Dulu sewaktu kecil ku kerap ke daerah ini. Ku katakan pada nenek dan bibi bahwa ku mencari serangga, sebenarnya ku hanya mencari sunyi yang sebenarnya saja. Bagi telingaku, ramainya pasar hingga rumah nenek yang penuh pertengkaran hanya bisa menawarkan kesunyian dan ku tidak menyukainya.”
“Hingga suatu waktu, ku pergi ke tengah hutan ini dan menemukan sosok hitam. Ku tidak tau makhluk apa itu, bentuknya saja tidak jelas. Ku juga tidak yakin dia nyata atau tidak, tetapi memori ku akan sosok tersebut sangat jelas seolah hal tersebut pernah terjadi sebelumnya.” tutur Renjun. Haechan mendengarkannya dengan seksama dan sesekali menganggukkan kepalanya paham.
“Dia ajarkanku tentang sunyi. Saat dia bergerak tidak terdengar suara langkahnya. Saat dia menyentuh dedaunan kering, tidak juga terdengar bunyi sentuhan itu. Semua yang dilakukannya sangat sunyi dan ku menyukai itu. Tidak seperti kebanyakan orang yang seolah berisik dalam melakukan sesuatu tetapi di saat yang sama menawarkan kehampaan pada setiap perkataan dan perbuatan yang mereka lakukan. Bagiku semua geraknya adalah sunyi yang nyata. Dan itu membuatku ingin mendengar suaranya. Kala itu, ku ingin tau apa jika dia berbicara pada suaranya akan terdengar berbeda dari kebanyakan orang.”
Haechan mendengarkan pria itu dengan antusias. Tanpa sedikitpun beralih dari menatap pria putih yang tengah bercerita itu. Asap api unggun menguar, mewarnai gelapnya malam di tengah hutan. Sementara bunyi gemerisik kayu kering yang terbakar menjadi jembatan menuju lanjutan cerita milik pria di sebelahnya.
“Kemudian ku mendengar dia mengatakan sesuatu. Ku tidak yakin apa yang dia ucapkan. Yang ku tau pasti, ku dengar dia ucapkan sesuatu dan entah mengapa terdengar berbeda dari semua perkataan banyak orang. Seolah pada suaranya terdapat apa-apa yang tidak disebut kehampaan. Ku yakin dia tidak mengatakan sedikitpun tentang bagaimana rupaku atau memuji kehebatanku dalam suatu hal. Tetapi ku juga tidak bisa ingat apa yang dia katakan.” jelas Renjun seraya menatap api unggun di hadapannya.
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Haechan dengan nada penasaran miliknya.
“Setelah itu pamanku menemukanku tergeletak di hutan, dan badanku panas selama satu minggu lamanya. Sejak saat itu juga, nenek dan bibi tidak memperbolehkanku untuk pergi ke hutan sama sekali. Sebenarnya ku sangat ingin kembali kesini sejak lama, berharap bertemu dengan sosok itu lagi dan memintanya untuk berbicara lagi.” tutur Renjun.
“Mengapa kau masih penasaran?” tanya Haechan.
“Entahlah. Sepertinya apa yang diucapkannya sangat penting hingga ku bisa demam selama itu.” jawab Renjun seadanya.
“Pada awalnya, ku tidak pernah tau rupanya. Ku hanya bermain di hutan dan selalu merasa ada sepasang mata yang tengah mengintai dari balik pepohonan. Walau ku merasa diintai, anehnya setiap saat pengintaian itu terjadi, ku merasa cukup aman untuk berada di tengah hutan. Mungkin itu juga yang membuatku dapat menceritakan kisah ini padamu.” imbuh Renjun menambahkan.
Haechan memberikannya tatapan bingung dan antusias di saat yang sama. Kedua bola matanya yang berwarna serupa rambut dan kulitnya ikut berbinar diterpa cahaya api unggun. Renjun masihlah menatap api yang berada di hadapannya. Dia tidak berani membalas tatapan mata dari pria kecokelatan yang duduk di sebelahnya. Perlahan intensitas cahaya dari api unggun di depan mereka mulai menurun, dan lambat laun sunyi serta gelap malam di tengah hutan merayap mengisi ruang di antara kedua pria itu.
“Entah mengapa, kau membuatku merasa cukup aman. Terimakasih.” ucap Renjun dengan senyuman kecil, tanpa sedikitpun menatap sepasang mata yang memandanginya sedari tadi.
“Mungkin karena ku menolongmu tadi.” jawab Haechan tidak yakin. “Lagi pula kau tidak perlu berterima-kasih. Memang itu sudah menjadi tugas setiap orang, mencegah pelecehan seperti itu terjadi.”
Tidak berapa lama kemudian, pria tinggi putih itu kembali datang. Pada jari kanannya terselip satu batang rokok yang mulai memendek dimakan bara. Dia melempar batang rokok itu ke tumpukan kayu kering yang menipis dimakan api, lalu berjalan kasar menuju tendanya tanpa sedikitpun melirik ke arah kedua rekan timnya. Renjun memperhatikannya memasuki tenda dan di saat yang sama Haechan membersihkan peralatan memasak dan dua gelas minuman yang digunakan oleh mereka. Asap yang mulai mereda, menampakkan langit gelap di tengah hutan. Riuh suara sayap-sayap kelelawar buah serta dengungan burung hantu semakin terdengar dan mulai dapat beradu dengan gemerisik bunyi kayu yang hampir terbakar habis.
“Sebaiknya, kau istirahat. Kita akan melanjutkan pencarian esok hari.” saran Haechan. Renjun mengangguk sebagai balasan dan mulai memasuki tendanya.
<><><><>
Selama Renjun hidup, dia selalu bisa tertidur jika harinya terlalu melelahkan. Yang Renjun pahami bahwa dia akan mudah tertidur saat mendengar bunyi serangga hutan atau bunyi angin yang menggerakkan pepohonan. Yang Renjun kira bahwa dia akan cepat tertidur apabila mengingat suasana hutan di dekat rumah neneknya dan kali ini sepertinya dia salah besar.
Renjun bergerak ke kiri dan kanan. Mencoba membaringkan badannya ke segala arah demi mendapatkan posisi dimana dia dengan mudah menjemput alam bawah sadarnya. Sudah satu jam lebih dia tidak berhasil memasuki mimpinya dan Renjun tidak bisa menemukan hal yang tidak mendukungnya untuk tertidur lelap. Dalam pikirnya, sudah dia habiskan ribuan domba untuk dihitung dan selama itu juga Renjun masih terjaga.
Bunyi kelamnya malam terdengar nyaring di telinga Renjun. Saut-saut suara kepakan sayap kelelawar buah dan nyanyian kodok serta burung hantu memenuhi ruang tenda Renjun yang tidak seberapa besar. Terdengar bunyi angin berhembus cukup kencang dan juga daun-daun yang jatuh ke permukaan tanah. Renjun menatap dinding parasut tendanya dan menemukan sesosok bayangan hitam berjalan mendekat menuju pintu tendanya yang tertutup rapat. Sosok itu berjalan tergesa, langkahnya yang menghancurkan dedaunan terdengar cukup nyaring di telinga Renjun.
Renjun menyadari sosok itu tengah tergesa dalam membuka pengait pintu tendanya. Renjun berusaha bangkit dari posisi berbaring dan mencoba sebisa mungkin mencegah sosok itu memasuki tenda kecilnya. Dan entah mengapa sesaat dia mencoba untuk berbaring, seluruh tubuhnya membeku dan mematung. Membuatnya tertahan pada posisi berbaring. Renjun tau pasti bahwa dia tidak merasa ketakutan, tetapi seluruh tubuhnya tidak dapat dia gerakkan sama sekali.
Angin berhembus semakin kencang dan terdengar bunyi gemuruh memecah sunyinya malam. Cahaya dari luar tenda mulai menghilang dan bayangan sosok itu tidak lagi dapat terlihat di permukaan dinding tendanya, akan tetapi suara bising sosok itu tetaplah dapat terdengar dengan jelas. Sementara Renjun hanya bisa terpaku di posisinya sekarang dan dengan serta merta membiarkan sosok itu memaksa masuk menuju tendanya. Hingga terdengar satu guntur besar yang membelah langit malam dan kemudian hujan mulai turun membasahi hutan tempatnya berada. Di saat yang sama, Renjun mendengar bunyi keras sesuatu yang terjatuh, hingga Renjun mengasumsikan bahwa sosok bayangan itu terjatuh di depan tendanya. Seketika suara bising yang dihasilkan oleh sosok yang berusaha memaksa masuk itu berganti menjadi bunyi konstan sol karet sepatu yang menapaki tanah yang mulai basah.
Renjun terdiam seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Renjun tau bahwa bunyi konstan itu dapat dihasilkan oleh seseorang yang menyeret sepatunya di tanah basah. Renjun juga tau bahwa dia hanya mendegar bunyi satu orang yang mendekati tendanya. Dalam pikirnya berputar pertanyaan-pertanyaan. ‘Bukannya sosok itu berjalan normal saat mendekat dan mengapa dia berjalan menyeret saat pergi? Jika dia diseret oleh orang lain, mengapa tidak terdengar bunyi orang lain yang berjalan mendekat?’ gumamnya.
<><><><>
Renjun membuka pintu tendanya, menyambut pagi dengan kondisi yang tidak baik sama sekali. Malamnya dia habiskan dengan menganalisa kejadian aneh yang dia hadapi beberapa saat lalu. Matanya terlihat masih menaruh kantuk luar biasa. Badannya gontai dan dengan terpaksa dia bangun keluar dari tendanya.
Permukaan hutan masihlah basah akibat hujan yang mengguyur semalam suntuk. Tidak ketinggalan kabut yang siap menghiasi setiap sisi hutan, hingga jarak pandang Renjun berkurang cukup banyak. Renjun menatap tanah di depan pintu tendanya dan mulai mengernyitkan dahinya. Dihadapannya sekarang tercetak jelas sebuah jejak kaki seseorang yang diseret, Renjun tidak bisa menemukan jejak kaki orang lain yang menyeretnya hingga dia mengasumsikan bahwa sosok yang memaksa masuk pintu tendanya menyeret kakinya sendiri. Mungkin saja ada sesuatu yang cukup besar jatuh menimpa kakinya hingga semalam berbunyi cukup keras.
Renjun berjalan perlahan mengikuti arah jejak itu, Jarak pandangnya yang tidak seberapa panjang, memaksanya berjalan dengan sangat hati-hati. Tanah hutan yang cukup basah akibat hujan semalam, juga membuat Renjun berjalan dengan penuh perhitungan. Dia tidak ingin terjatuh dan membuat sosok yang memaksa masuk ke dalam tendanya dengan mudah menyerangnya saat dia lengah. Renjun berhenti di satu rimbun semak-semak di tengah hutan. Pada semak-semak itu tercetak semburat darah di beberapa daunnya dan Renjun berjalan mendekati semak-semak itu.
Kabut berangsur hilang dan menyisakan semburat sinar matahari pagi. Mereka menelusup masuk melalui celah-celah pohon pinus, sehingga Renjun dapat melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya sekarang. Sementara Renjun hanya bisa terdiam tidak percaya memandangi apa yang ada di hadapannya.
Arah jejak seretan sepatu itu berhenti pada kaki seorang pria berkulit putih dan tinggi, pada keseluruhan bajunya tampak jelas darah berwarna merah segar. Kulit putihnya yang amat dingin dan semakin pucat, kontras dengan kelamnya tanah basah di bawahnya. Yang membuat Renjun tidak percaya adalah koyakan di leher pria itu, dengan perlahan memaksanya mengingat kembali sosok mendiang bibi dan nenek yang meninggal dengan keadaan serupa. Dan yang menambah ketidak percayaan Renjun adalah, di hadapannya kali ini tergeletak bersimbah darah seorang pria berkulit putih nan tinggi, yang tidak lain merupakan rekan satu timnya.
Renjun berlari kembali ke arah perkemahan dan dengan segera masuk ke dalam tenda milik Haechan. Renjun yang tengah kalang kabut mendapati Haechan yang sedang tertidur sangat lelap. Di hadapannya Haechan yang berbaring, tidak terlihat tengah menghembuskan nafas sama sekali. Renjun melangkah perlahan mendekati pria yang terbaring di hadapannya, perasaannya diliputi rasa takut. Dia takut Haechan juga pergi meninggalkannya sendirian di hutan.
Dengan sangat hati-hati, Renjun menggenggam pergelangan tangan Haechan dan memeriksa denyut nadinya. Hasilnya nihil, Renjun tidak bisa menemukannya. Renjun yang mulai panik, bergerak menempelkan telinganya pada dada milik Haechan. Ini pertama kali baginya setakut ini, dan Renjun butuh Haechan untuk tetap hidup. Renjun berusaha mendengarkan dengan seksama bunyi detak jantung itu, tetapi hasilnya nihil juga. Yang membuat Renjun kebingungan, dia tetap bisa mendapati hangat pada tubuh Haechan meski dia tidak menemukan bunyi kehidupan disana dan entah sejak kapan Renjun mulai menyadari bahwa lengan Haechan kali ini telah berpindah memeluk pelan pinggangnya.
Seketika dalam pikir Renjun terngiang deretan pertanyaan-pertanyaan yang berderap saat dirinya memasuki hutan kemarin. Semua pertanyaan satu persatu merayap kembali dengan pasti ke permukaan otaknya. ‘Mengapa Haechan tidak memiliki bayangan? Mengapa Haechan tidak bersuara saat melangkah? Mengapa Haechan tidak mengeluarkan suara saat bergerak?’ gumamnya. Kemudian secara perlahan Renjun menemukan untaian asumsi-asumsi yang bergerak mengurai tubuhnya sendiri. Dari ‘Nenek dan bibinya yang wafat dengan leher terkoyak’ bertaut menuju ‘Sosok hitam penuh senyap yang ditemukannya di tengah hutan dan hilangnya makhluk jadi-jadian dua puluh tahun lalu di tempat ini’ lalu berakhir pada muara ‘Hilangnya kembali makhluk itu, serta temannya yang wafat dengan keadaan serupa nenek dan bibinya.’. Semua itu amatlah jelas ketika dipadukan dengan kenyataan bahwa kali ini dia berbaring di dada seorang pria yang seluruh gerakan dan juga keadaan lelapnya sangat amatlah sunyi. Bahkan Renjun tidak bisa mendengar suara gerak tangan Haechan memeluk pinggangnya dan menahannya agar tidak berpindah dari posisinya sekarang. Dan seketika seluruh senyap pada tubuh Haechan terdengar lebih nyalak pada pikirannya.
Renjun ingin sekali pergi berlari kembali ke bibir hutan, tetapi lengan Haechan menahannya agar tidak berpindah. Renjun mendongakkan sedikit kepalanya dan mendapati Haechan yang masih menutup mata. Renjun yang menganggap Haechan masih tertidur, berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari pelukan Haechan, tetapi seluruh tubuhnya kaku dan tidak bisa pergi kemanapun. Renjun hanya bisa menutup mata dengan setengah berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruknya. Kemudian dalam senyap Haechan berkata,
“Apakah kau masih ingin tau apa yang ku ucapkan dua puluh tahun lalu?”
- Selesai -
