Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-06-06
Completed:
2022-06-06
Words:
4,006
Chapters:
2/2
Comments:
1
Kudos:
48
Bookmarks:
2
Hits:
1,464

His Joy

Summary:

Kisah singkat tentang kebahagiaan Soobin dan Kamal.

Chapter 1: Indonesian Version.

Chapter Text

Lolongan kecil yang saling bersahutan dari lantai bawah itu, mengetuk kelopak mata Kamal yang melekat tertutup semalam, membangunkannya dari tidur lelap. Mata si rambut hitam itu masih terasa berat, dingin ruangan yang meningkat menyergap tubuhnya tanpa peringatan. Kamal mengusap-usap pelan kedua matanya sembari melangkah turun dari ranjang luasnya yang berantakan. Namun tindakannya dihentikan oleh kesadaran akan rasa kosong di ranjang yang diperuntukkan untuk dua orang tersebut. Dengan sedikit menyipitkan mata, Kamal menoleh kesamping, letak dimana suaminya seharusnya berbaring. Sang Omega menyatukan kedua keningnya dalam sebuah kerutan bingung. Alphanya sudah tidak berada disampingnya.

Kekosongan itu sempat membuat Kamal merintih pelan. Hangatnya sang Alpha tidak memeluknya semalam. Pantas saja terasa lebih dingin malam tadi. Disampingnya tidak ada siapapun kecuali bantal dan selimut yang tak berbentuk. Kamal menghela nafasnya sesaat, merasa ada yang sedikit janggal. Alphanya tidak pernah bangun pagi kecuali ada sesuatu yang diperbuat oleh anak-anak mereka. Jam masih mengarah pada pukul 5 dini hari kurang. Ini masih terlalu awal untuk merasa marah walau ia ingin, Kamal membungkus tubuhnya dengan selimut biru malam itu dan menuruni tangga ke lantai satu.

Aroma apel hijau yang segar itu menyentuh indera penciuman Kamal ketika ia berada di tengah tangga, sudah pasti sang Alpha berada di sana. Senyuman terlukis di wajah Kamal ketika kakinya ia memijak lantai bawah. Ia melangkah kakinya, mendekat ke sofa merah tua, dimana Kamal mendapati anak-anak serigalanya sedang bernyaman di sekeliling tubuh serigala sang Alpha. Surai hitam pekat yang lembut dengan mata kuning keemasan itu selalu membuat hati Kamal berdebar-debar, berapa kalipun ia menatapnya begitu dalam. Tapi, bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang. Air wajah Kamal berubah menjadi serius, mengingat anak-anaknya melolong tanpa alasan yang jelas dini hari dimana matahari bahkan masih malu untuk menyapa bumi. Soobin memalingkan wajahnya, dalam rupa serigalanya.

“Kenapa anak-anak berada di luar kamar mereka semua dan melolong di pagi buta, Tuan Choi?” interogasi Omega itu sambil berkacak pinggang ditemani sorot maniknya yang tajam, Soobin dengan rupa serigala itu enggan menjawab. Selain karena ia tidak bisa berbicara di rupa itu, ia juga tidak ingin dimarahi Omeganya karena membawa anak-anaknya bermain di salju saat suhu masih belum meningkat. Mata Kamal mengamati anak-anaknya yang tertidur lelap di tubuh sang Alpha satu persatu. Butiran partikel putih yang seperti gula tabur itu menangkap perhatiannya langsung.
“Choi Soobin, kau membawa mereka main di salju saat cuaca masih sedingin ini?” Jawaban yang Kamal tuai adalah tangisan serigala Soobin, layaknya seekor anak anjing. Alpha yang satu ini benar-benar merebus darahnya panas di pagi buta seperti ini. Namun, karena anak-anaknya masih terayun di mimpi, Kamal tidak ingin merusak suasana damai itu. Ia beralih untuk duduk disamping Soobin, mengusap bulu yang sedikit lembab karena salju itu.

Senyum Kamal semakin meluas ketika sadar bahwa suasana damai itu sangat cocok untuk hinggap di rumahnya. Hanya dia, Soobin dan anak-anaknya yang nyenyak di hadapan perapian. Walaupun dia tahu hal itu tidak akan bertahan lama. Setidaknya ia bisa menikmati momen itu sebentar. Selimut yang tadinya ia seret, dipakainya untuk menutupi tubuh suami dan anak-anaknya. Soobin mengistirahatkan dagunya di pangkuan sang Omega, membiarkan tangan itu melanjutkan usapan di kepalanya dan memainkan telinga runcingnya dengan gemas.

Mereka menyatu dalam nyanyian sunyi dan kantuk, namun pikiran Kamal terbangun ketika pandangannya melekat kepada salah satu anaknya yang menguap selagi masih tertidur. Sangat menggemaskan, ia menahan kekehannya agar tidak membangunkan mereka. Jika diingat-ingat lagi, waktu berlalu sangat cepat. Kamal merasa baru saja kemarin ia mengikat janji pernikahannya dengan Soobin, dan sekarang mereka sudah dianugerahi empat anak-anak serigala yang lucu. Dulunya Kamal tidak begitu menyukai Alpha. Memang beberapa Alpha yang ia temui itu kasar dan menganggap rendah para Omega. Bahkan ia berpikir untuk menikah dengan Beta atau tidak sama sekali, sampai ia bertemu Choi Soobin, suaminya saat ini.

Choi Soobin sedikit berbeda dari Alpha yang lainnya. Aromanya membuat Kamal merasa candu. Soobin sangatlah ceroboh, dia tidak keberatan mengenakan sesuatu yang lucu dan sangat suka manisan. Beberapa orang mencibirnya tidak seperti seorang Alpha karena tingkahnya. Dia ramah dan hangat kepada siapapun, terlepas dari apa label orang tersebut. Semua orang merasa aman disekitarnya. Karena itu, Kamal mengizinkannya dirinya untuk luluh. Dia sendiri tidak menyangka akan sampai di titik dimana mereka berdua menikah dan mempunyai anak.

“Soobin.” Serigala itu membuka matanya dan menatap Kamal, sedikit memiringkan kepalanya sebagai respon. Kadang ada saatnya sang Omega ingin memasangkan kalung anjing ke leher Soobin karena tingkahnya seperti anjing biasa.
“Menurutmu, siapa duluan yang akan berubah menjadi manusia?” Pertanyaan itu menarik perhatian Soobin, ia merubah kembali wujudnya menjadi manusia untuk melanjutkan pembicaraan. Semu merah menyebar di pipi Kamal, ia sedikit memalingkan pandangannya. Oh, ada apa? Soobin terlihat bingung ketika melihat reaksi Omeganya yang aneh. Ia sadar ketika tubuhnya merasa dingin, matanya melirik kebawah dan- Tentu saja, dia tidak mengenakan apapun saat berubah ke wujud serigalanya dan akan kembali dengan keadaan sama, telanjang. Soobin menutupi area pentingnya saja dan mengistirahatkan kepalanya lagi di pangkuan Kamal.

“Kau sudah boleh melihat kemari sekarang, Huening. Aku sudah menjinakkan monsternya.” Ujar Soobin, sedikit melontarkan lelucon yang hanya dimengerti oleh orang dewasa. Wajah sang Omega semakin bersemu, ia meninju pelan lengan Soobin.
“Hentikan leluconmu itu, hyung.” Kepalan tangan Kamal terangkat lagi, bersiap melontarkan tinjuan kedua jika Alphanya itu nekat.
“Oke, oke, aku tidak akan mengatakannya lagi. Jangan pukul aku, tuan puteri Huening.” Tinjuan kedua melayang sedikit lebih keras ke lengan sang Alpha, tapi malah menuai kekehan.
“Aku benar-benar akan meninjumu lebih sakit dari ini.” Soobin tersenyum lebar mendengar ancaman Omeganya yang sama sekali tidak menakutkan itu. Tapi sudah cukup menggodanya, ia ingin mendengar Kamal bersuara.
“Baiklah, sayang. Aku berhenti, aku benar-benar akan berhenti. Apa tadi pertanyaanmu?” Ucap Soobin, akhirnya berniat mendengarkan Kamal dengan serius.
“Tentang siapa yang akan berubah menjadi manusia duluan, di antara mereka berempat?” Pandangan keduanya teralih kepada empat serigala yang masih nyenyak di perut Soobin saat itu. Tangan sang Alpha bergerak untuk mengusap salah satunya, memberikan kehangatan lebih.

Anak-anak serigala dari seorang Omega hanya dapat berubah ke wujud manusia saat mereka menginjak usia satu tahun. Anak-anak Kamal masih berumur 10 bulan, dan Soobin sudah berani membawa mereka melakukan hal-hal yang agak ekstrim. Seperti apa yang barusan terjadi tadi pagi. Untung saja anak-anaknya tidak mati kedinginan karena Soobin.

“Menurutku Eden, dia akan berubah menjadi manusia duluan.” Celetuk Kamal setelah lama memandangi anak mereka yang paling tua itu.  Sang Alpha mengangguk-angguk setuju.
“Aku pikir, Adrestia juga akan berubah lebih awal.” Timpal Soobin juga setelah berpikir sebentar.
“Itu masuk akal juga, Adrestia sangat pintar. Sayangnya dia sedikit tengil.” Keduanya tertawa pelan bersama, mengingat betapa tengilnya si anak perempuan mereka.
“Aku yakin itu menurun darimu.” Rasanya Soobin ingin pecah dalam tawa, mendengar sindiran Kamal yang halus tapi jelas untuknya.

Memang benar, sifat tengil dan jahil anak-anak mereka pasti berasal dari dirinya. Omeganya itu adalah orang yang berhati halus dan sangat berhati-hati. Tidak seperti dirinya yang liar dan seringnya tidak berpikir sebelum bertindak. Karena perbedaan menonjol itu, pernikahan mereka membawa beberapa gosip murahan di antara lingkungan tempat tinggal Soobin. Mereka mengira alasan Soobin menikahi Kamal, adalah karena Omega itu sudah terlanjur hamil. Padahal untuk hamil saja, mereka berdua perlu menunggu sampai dua tahun lebih.

“Tentu saja, Omegaku yang manis ini tidak tengil. Dia sangat cantik dan lemah lembut, kan?” pujian itu mengantarkan kembali semu merah di pipi Kamal. Entah kenapa, walau sudah menikah selama 2 tahun lebih, ia masih tak terbiasa dengan pujian dari Soobin yang berlebihan. Kamal akan merasa sangat malu dan kewalahan.
“Terserah apa katamu, Soobin hyung. Lalu, menurutmu, bagaimana dengan Nilowa? Apa dia akan terlambat berubah?” Mendengar nama anak bungsu mereka disebut, sang Alpha terdiam. Anak serigala berwarna abu-abu itu lahir dengan tubuh yang paling kecil, ia juga sedikit lambat. Ada kekhawatiran di benaknya akan Nilowa.
“Mungkin, aku tidak begitu bisa menebaknya, Kamal. Dia bisa saja menjadi yang paling pertama berubah, asal kita merawatnya dengan baik. Nilo perlu sedikit perhatian lebih.” Tutur Soobin tanpa henti mengusap tubuh anak yang mereka bicarakan saat itu.
“Kau benar. Nilo mungkin perlu banyak minum susu dan makan lebih lagi.” Kamal menatap si paling bungsu itu dengan tatapan nanar. Merasa khawatir akan tumbuh besarnya Nilowa kelak.
“Apa kau akan menyisakan susu untukku juga?” Kamal benar-benar akan membenturkan kepala Alphanya itu ke meja kaca yang ada di hadapan mereka. Darahnya mendidih panas, bersama rasa malu. Ia menatap Soobin dingin tetapi memilih diam daripada menjawabnya.

Dia benar-benar kepalang jengkel. Memang benar, saat ini Kamal adalah Omega yang menyusui tapi Soobin tidak hentinya melempar lelucon dewasa karena itu. Sang Alpha yang menyadari perubahan suasan hati Kamal langsung berhenti. Dia sudah terlalu banyak berbicara bodoh hari ini.

“Maaf, aku tidak bisa berhenti mengatakan lelucon dewasa saat berada disekitarmu, sayang. Maukah kau memaafkanku, puppy?" Kamal mendengus kesal, mendengar nada memelas dari Soobin. Memang perlu merajuk dulu baru sang Alpha itu berniat untuk berhenti.
“Kau menyebalkan, kau tahu itu, Soobin hyung?” Sindir Kamal bersama wajah masamnya.
“Tentu saja, aku selalu membuatmu sebal tapi aku mencintaimu.” Si rambut hitam itu memutar bola matanya malas, mendengar gombalan suaminya itu.
“Hm, aku juga.” Soobin sedikit mengerucutkan bibirnya, merasa tak puas mendengar jawaban Kamal yang singkat. Sedikit melukai hatinya.
“Aku juga apa, Kamal? Aku tidak mendengar lanjutannya?” Tuntut sang Alpha, setengah merengek.
“Aku juga mencintaimu, dummy. Sekarang berhenti berbicara dan tidur. Aku akan membuat sarapan untuk kalian.” Sang Omega beranjak dari duduknya lalu melemparkan bantal kecil untuk Soobin mengistirahatkan kepalanya. Belum sempat berdiri penuh, tangan Kamal ditarik oleh sang Alpha sampai ia terduduk kembali.
“Kau belum memberikanku ciuman.” Sang Omega menatap suaminya itu dengan tatapan tak percaya. Tapi, sudah seperti biasa dia menginginkan sebuah ciuman atau kecupan di pagi hari.
“Aku akan memberikannya nan—”
“Tidak bisakah kau memberikannya sekarang, Kamal? Aku perlu ciumanmu agar tidur nyenyak.” Sela Soobin, menarik-narik pelan lengan sang Omega. Kamal terdiam sebentar, usai menghela nafasnya. Sebenarnya ia ingin tertawa karena tingkah menggemaskan Soobin, tapi ia tidak ingin menujukkannya.
“Baiklah, hyung.” Soobin langsung tersenyum lebar mendengar persetujuan Kamal untuk sebuah ciuman yang ia minta.

Alphanya ini benar-benar manja, namun Kamal tidak pernah membenci hal itu. Malah, manjanya Soobin adalah salah satu hal yang ia sukai di dunia ini. Kamal mencondongkan tubuh ke arahnya dan menanamkan sebuah ciuman yang lembut di bibir Soobin. Ketika Soobin hendak mengambil alih, Hueningkai memutusnya dengan cepat. Soobin mendengus kesal. Ciumannya tidak cukup, malah sebenarnya ia ingin lebih. 

“Tidak bisakah aku mencium bibirmu lebih lama lagi?” Rengek sang Alpha, menggapai-gapai lengan Kamal.
“Tidak, sekarang diam dan tidurlah. Anak-anak bisa terbangun karena rengekanmu, bayi besar.” Ledek suaminya sebelum terkekeh pelan

Omeganya menghilang begitu saja ke dapur, meninggalkan Soobin dengan rasa rindu akan manisnya bibir Kamal. Terdengar dramatis, tetapi jika tidak mencium bibir Kamal sekali saja dalam sehari, Soobin bisa merasa lesu. Walaupun kadang ciuman itu selalu ia ingin ambil alih dan rubah ke hal yang lebih panjang. Soobin mengalah, lebih baik ia terlelap saja sampai aroma masakan buatan Kamal mengetuk bangun indera penciumannya. Saat hendak terlelap nyenyak, Soobin mendengar suara yang agak samar namun lantang dari dapur.

“Kita bisa melanjutkannya nanti. Sekarang tidurlah.”

Senyuman Soobin melengkung lebar di bibirnya yang berbentuk indah. Benar, Kamal juga merindukan rasa bibir mereka berdua saat bersatu. Soobin memejamkan matanya, masih membiarkan senyuman itu melekat. Perasaan bahagia itu memenuhi perutnya. Kebahagiaannya tidak pernah usai setelah menikah dengan Kamal. Dia benar-benar berharap bisa menemani Omeganya itu sampai nanti, sampai kuburan keduanya saling terisi. Untuk saat ini dan masa panjang yang akan datang, Soobin akan terus bahagia, bersama Kamal.