Work Text:
Penulis:
Roo
Akun Twitter:
@lilpieceofsheet
Kode Prompt:
D03
ROOM-MATES
Selama hampir satu tahun terakhir kehidupannya di kota asing cukup tentram dan damai. Kampus yang Donghyuck tempati jauh dari tempat tinggalnya, sangat jauh hingga ia memutuskan untuk menyewa apartemen murah namun tentu harus comfy dan mudah diakses. Tentu lingkungan yang menyenangkan menjadi nilai plus baginya, seperti tetangga yang ramah. Walau kebanyakan dari mereka orang kerja sehingga antara pulang larut malam atau memang sering ada pekerjaan di luar kota. Itu yang menyebabkan Donghyuck seperti satu-satunya penghuni di lantai 3. Keuntungannya ia hampir seperti tak mempunyai tetangga. Ia bisa melakukan sepuasnya—walaupun tidak sepuas itu karena ia masih memiliki tetangga di lantai atas maupun bawah. Keuntungan yang paling ia sukai adalah tukang paket akan langsung mengantar paketnya di depan pintunya. Tidak seperti yang lain hanya disortir per lantai. Lagipula, banyak paketnya merupakan makanan pemberian dari penggemarnya. Jumlahnya pun banyak hingga ia selalu membagikan makanannya dengan kurir. Simbiosis mutualisme antara keduanya, mungkin ini salah satu alasan mengapa kurir senang mengirim paket langsung ke depan pintunya.
Kerugiannya, ia jujur merasa sedikit kesepian. Namun ia selalu berpikir bahwa ketenangan tempat beristirahat itu sebuah privilege tersendiri dan ia tidak akan menukarnya dengan apapun.
Namun sepertinya semua itu akan berubah ketika ketukan pintu terdengar. Dengan langkah gontai, Donghyuck membuka pintu diikuti oleh sebungkus macaron—makanan yang diberikan oleh penggemar barunya.
“Sebentar.”
Lelaki itu membuka pintu dan menemukan lelaki termanis yang pernah ia temui berdiri di depan kamarnya.
“Halo, saya tetangga kamar nomor lima. Apakah kamu melihat paket atas nama Hua—.” Kalimatnya terhenti ketika melihat makanan yang berada di tangan Donghyuck.
“Kamu tau itu sangat tidak sopan mengambil paket orang lain?!” Secepat kilat orang asing itu mengambil kotak makanan dari tangan Donghyuck, bahkan sebelum Donghyuck mencerna semua omongannya.
“Tunggu, lu siapa?” Donghyuck melirik orang itu dari ujung rambut hingga kaki. Terasa aneh, semakin wajah orang asing itu memerah karena marah, semakin atraktif orang itu di matanya. Mungkin makanan itu membuatnya sedikit halusinasi atau mungkin ia mengalami sugar rush? Donghyuck tak tau itu.
“Gue Huang Renjun. Orang yang punya paket ini.” Orang bernama Renjun itu menunjuk ke resi paket tersebut dan memang tertera nama Huang Renjun dengan jelas.
“Anak baru?” Pertanyaan Donghyuck membuat Renjun menghela nafas panjang.
“Gue udah dua minggu di sini. For your information.” ucapnya ketus.
“And yet no one knows your name. Clearly.” ucap Donghyuck santai. “Gua gak tahu.”
“Tidak mengambil paket yang bukan miliknya itu basic manner.” Renjun melipat kedua tangannya. Donghyuck mengangkat satu alisnya.
“Mengenalkan diri ke tetangga itu juga basic manner.” Donghyuck membalas perkataan orang itu. Sang Gemini dapat merasakan Renjun memakinya dalam hati.
“Okay, pertama. Gua Donghyuck. Bukan penghuni satu-satunya di lantai 3.” Donghyuck sedikit menjelaskan. “Seharusnya lu tau jika lu memperkenalkan diri lu sama at least resepsionis di bawah. Dia juga bakal jelaskan kalo di sini ada penghuninya tapi yang setiap hari pulang cuma gua. Jadi sistem per-paket-an di lantai ini sedikit berbeda.”
“Dan? Hubungannya apa?” Ujar Renjun sinis. “Ini jelas-jelas namanya Huang Renjun!”
“Selain nama penghuni di sini, kalo ada nama asing, semua paket itu punya gua.”
“Teori dari mana?” Celetuk Renjun. Donghyuck hanya tertawa mendengarnya.
“Karena banyak yang ngirim paket ke gua tapi lupa diganti namanya.” Renjun semakin mengerutkan keningnya. Alasan macam apa itu?
“Tapi lo pasti tahu semua nama teman-teman lo dan yang gue tau gue bukan teman lo yang sering mengirimkan banyak paket buat lo.”
“Dari penggemar gua dan tentu gua ga hafal semua namanya.”
“Lo makan makanan dari orang asing?!” Reaksi dari Renjun membuat Donghyuck sedikit terkejut. Teman-temannya akan menganggap ia sombong namun orang ini malah khawatir dengan keadaannya. Dan tentu hal yang ia sebutkan anehnya tidak pernah terbesit di otak Donghyuck.
“Mereka ngasih gua. Gua menghargai pemberian mereka.”
“Lo ga takut dikasih racun?”
“Gua masih hidup.” Donghyuck menunjukkan tubuhnya yang masih sehat bugar.
“Udah clear?”
“Belum.” Jawab Renjun. “Lo belum minta maaf.”
“Gua minta maaf.” Ucap Donghyuck. “Udah?”
“Seriously?”
“Kan gua minta maaf.” Renjun memutar kedua bola matanya. Mendebatkan masalah ini dengan orang gila seperti yang ada di depan tidak ada gunanya.
“Sudahlah.” Ucapan terakhir dari Renjun sebelum ia meninggalkan orang itu dan masuk ke dalam kamarnya yang terletak tepat di samping kamar Donghyuck.
“Cuma bilang. Lain kali jangan typo sama nomor kamar. Gini-gini gua masih cek nomor kamarnya sesuai sama punya gua apa engga.” Ucapan terakhir dari Donghyuck sebelum ia menutup erat kamarnya dan berharap masalah mereka berakhir di situ saja.
Kenyataannya Donghyuck harus menerima bahwa detik ini hidupnya akan terusik oleh makhluk indah namun menyeramkan yang bernama Huang Renjun. Selang dua hari setelah pertemuan perdana mereka, Donghyuck sudah mendapatkan Renjun mengetuk pintunya pagi-pagi di saat bahkan ia pun belum membuka matanya.
“Ada urusan penting apa yang membuat lu ketuk pintu gua pagi-pagi?” Bahkan Donghyuck belum bisa membuka matanya dengan benar. Rambutnya masih sangat berantakan. Untung saja Donghyuck semalam memutuskan untuk mengenakan piyamanya saat tidur. Tak peduli pandangan tetangganya seperti apa dengan tampilannya yang sangat kacau, ia masih mengantuk.
“Tolong kalau malam-malam jangan memutar musik terlalu keras.” Raut wajah Donghyuck berubah menjadi heran. Kepalanya masih pusing karena ia terbangun terlalu mendadak.
“Pertama, kenapa lu ga negur pas malam?”
“Karena udah malam, gue ga bisa keluar malam-malam.” Kening Donghyuck mengerut ketika mendengar apa yang diucapkan Renjun. Aneh. Namun ia mengabaikannya. Ia terlalu lelah untuk mencari perkara.
“Terus tahu itu gua dari mana?” Sang Aries menatap si Gemini seakan-akan ia menumbuhkan satu kepala lagi.
“Siapa lagi kalau bukan lo?” Donghyuck menghela nafasnya panjang. Sungguh bukan ini yang ia inginkan di Senin pagi. Senin, pagi, dan Renjun adalah kombinasi terburuk. Ia bahkan tidak bisa merangkai kata selain umpatan bagaimana Renjun membangunkan dari tidur nyenyaknya. Sebelum Donghyuck membuka mulutnya, satu pintu tetangganya pun terbuka.
“Hey, hyuck ada apa?” Donghyuck menyapa lelaki itu dengan senyuman singkat. “Gua kira lu gak ada di kamar.”
“Gua baru balik jam 4 pagi tadi bang. Biasa kegiatan kampus.” Mereka melakukan tos singkat lalu orang itu melirik ke arah Renjun.
“Siapa? Pacar lu?” Donghyuck hanya tertawa kecil.
“Bukan. Tetangga baru. Samping gua persis.” Ia menjelaskan sambil terkekeh kecil lalu melirik Renjun dengan tatapan usil.
“Bang Yuta, ini Huang Renjun.” Keduanya berjabat tangan sembari memperkenalkan diri mereka sendiri. Dari perkenalan singkat itu Renjun mengetahui bahwa Yuta sudah bekerja dan tinggal di apartemen ini hampir dua tahun, sama seperti Donghyuck. Seperti yang Donghyuck katakan, Yuta hampir tidak terlihat batang hidungnya karena ia selalu keluar kota, urusan pekerjaannya. Malam kemarin merupakan hari liburnya dan ia memutuskan untuk memutar musik karena melihat Donghyuck tidak berada di kamarnya.
“Sorry, gua gak tahu ada penghuni baru. Maaf kalau gua berisik kemarin.” Ucap Yuta tulus membuat Renjun mengangguk.
“Tapi tumben kita ga dibilangin.” Donghyuck menatap Renjun yang sudah menundukkan pandangannya. Ia pun menghela nafas panjang. Orang itu benar-benar tidak mendengarkannya sama sekali.
“Belum kenalan sama yang di bawah—aw! Sakit.” Donghyuck menatap sinis Renjun yang sudah menginjakkan kakinya dengan full-power.
“Dia pemalu kali, hyuck.”
“Laporan itu perlu, bang.” Ia merasakan tatapan sinis dari Renjun tapi ia tak peduli.
“Sebagai tetangga yang baik, lu yang lapor dong.”
“Dih, bang kan gua adek lu. Kok dia yang dibela.” Keluhnya.
“Cie cemburu.” Yuta meledeknya. “Udah sana tidur. Lu senin gak ada kelas kan?”
“Yoi bang.” Ucapan tentang kelas membuat Renjun sadar kalau ia harus segera ke kampus atau ia akan telat.
“Njun, mau bareng gua?” Yuta menawarkan tumpangan dan Ren.
Ketukan keempat Huang Renjun terjadi pada hari Jumat di mana ia sedang asyik bermain bersama teman online-nya. Setidaknya itu yang membuatnya terbunuh dalam ronde kali ini.
“Sialan.” Umpat Donghyuck keras.
“Lee Donghyuck. Gue tau lo di dalam dan dengar ini.” Ketukannya semakin keras. Irama ketukan itu selalu sama, setidaknya sama-sama menyebalkan seperti tiga ketukan sebelumnya. Entah apa yang dipermasalahkan kali ini.
“Apa lagi?” Tembak Donghyuck. “Barang-barang gua menghalangi pintu kamar lu lagi?”
“Gue udah minta maaf soal itu!” Protes Renjun yang tidak digubris sama sekali oleh Donghyuck.
“Siapa tahu ada orang yang ingin menuduh gua lagi.” Jawabnya enteng. Masalah ketiga terjadi karena ada yang menaruh barang tepat di depan pintu Renjun dan pemilik pintu itu menuduhnya dengan dalih siapa yang lebih sering berada di apartemen ini. Pemilik barang itu tak lain adalah Taeyong pemilik kamar tepat samping kamar Renjun yang tidak tahu keberadaan Renjun karena lagi-lagi anak itu belum melapor.
“Maksudnya ini apa?” Renjun menunjukkan secarik kertas A4 ke depan mukanya.
“Halo. Aku Renjun, penghuni baru di kamar ini salam kenal. Jika kalian berkunjung dan melihat poster ini tolong mengetuk karena aku ingin berkenalan dengan tetangga se-lantai. Salam, Huang Renjun.” Donghyuck membaca isi dari pamflet itu.
“Gua harus ikut ketok pintu?” Ucapannya membuat Renjun mendecak kuat.
“Gue tahu lo yang buat!” Donghyuck mengakui membuat poster itu. Ia melakukannya agar semua orang tahu bahwa kamar kosong tepat di sampingnya sudah terisi dan dapat berkenalan. Mungkin memang dengan cara yang sangat menyebalkan karena Donghyuck tidak sebaik itu dan ingin Renjun merasakan penderitaannya akibat ketukan pintu terus-menerus. Tapi itu langkah efektif untuk berkenalan dengan tetangga yang entah kapan pulang. Daripada ulah tetangga yang tak tau keberadaan Renjun, berujung ke masalah di mana Donghyuck selalu menjadi sang pelaku di mata Renjun. Dari kamarnya, Donghyuck mendengar semua perkenalan mereka. Tidak ada yang melebihi dari tiga menit, interaksinya pun sangat singkat. Walau umpatan Renjun tiga kali lipat dari durasi perkenalan itu.
“Sama-sama.” Celetuk Donghyuck santai dengan muka tengilnya itu. Renjun menghela nafas panjang.
“Mau lo apa?”
“Lu kenalan sama yang lain.” Jawab Donghyuck jujur. “Gua gak tahu lu ada masalah apa sampai lu selalu lupa buat kenalan. Semua masalah yang lu permasalahkan itu karena orang-orang di sini gak tahu Huang Renjun ada. Ujungnya gua yang salah.”
“Gua juga dengar, lu kesal karena ada yang ketuk mulu. Setidaknya mereka mengetuk untuk berkenalan, bukan menuduh.” Sindiran sang Gemini membuat si Aries membeku, menyadari tentang kelakuannya selama ini.
“Hyuck—”
“Jangan panggil gua itu.” Potong Donghyuck. Sebelum Renjun membuka mulutnya, ponsel Donghyuck berbunyi.
“Gua ke tempat lu aja. Daripada lu ledek gua ga punya skill padahal emang lagi banyak gangguan aja di sini.” Ucapnya ke telepon genggamnya. “Cuma game. Gak usah dibawa serius.” Semenit kemudian Donghyuck tertawa puas. Satu hal yang tidak pernah dilihat ataupun di dengar oleh Renjun.
“Gua hanya mengutip perkataan lu dulu sebelum kita masuk ke turnamen. Gua berangkat lima menit lagi. Dah.” Donghyuck segera menutup teleponnya lalu menyadari bahwa Renjun masih berdiri di tempat yang sama.
"Ada lagi?" Ia menatap lelaki manis itu dan menghela nafasnya.
"Oke, look. Gua minta maaf karena gua gak menanyakan consent lu. Gua juga udah bilang ke resepsionis soal lu. Tapi lu tidak mendengarkan gua soal memperkenalkan diri ke mereka. Setidaknya biar mereka tahu muka lu. Jadi gua melakukan itu. Sorry." Donghyuck menjelaskan dan mengambil barang-barangnya ke dalam tas kecil.
"Gua pergi, pulang malam, jadi jangan ketuk kamar gua." Ucapnya sembari mengunci pintu. "Takutnya ganggu tetangga lain. Ada Kak Taeyong sama Bang Yuta." Tanpa menunggu balasan dari Renjun, Donghyuck pergi meninggalkannya.
<><><><>
"Lu sadar gak kalau lu salah?" Renjun mengerang keras. Ia menceritakan semua permasalahan tetangganya kepada sahabat kecilnya Yangyang. Tidak menyangka bahwa sahabatnya sendiri tidak mendukungnya.
"Tapi dia sangat menyebalkan!"
"And yet he apologized several times. Setiap tingkah lakunya menyebalkan. Unlike someone." Renjun terdiam.
"Dan dia benar. Setidaknya lu harus memperkenalkan diri. Yang bisa bantu lu pertama kali ya tetangga lu. Bisa-bisa kalau lu ga kenal nanti dikira lu penyusup. Apalagi kata tetangga lu lantai 3 penghuninya jarang but clearly knew each other. Apa yang dia bilang pasti ada alasannya kan?"
"Ya, well." Semenjak Donghyuck memasang pamflet itu, Bang Yuta selalu menawarkan tumpangan pagi jika Renjun ada kelas pagi. Lalu Kak Taeyong juga suka mampir dan memberikan kue hasil buatannya bersama kekasihnya. Ada juga Kun yang tinggal di seberangnya merupakan orang cina seperti dirinya selalu menawarkan makan malam jika ia pulang dan tidak menginap di studio musiknya. Sekalian bernostalgia dengan kampung halamannya. Kata Kun sudah lama ia tidak berbicara dengan bahasa ibu.
"Tuh, setidaknya gue ga harus panik sama keadaan lu karena tetangga lu baik semua." Yangyang ada benarnya. "Terus lu udah minta maaf?"
Renjun terkekeh kecil. Soal permintaan maaf, ia tidak pernah melakukannya. Atau lebih tepatnya ia tidak memiliki waktu yang tepat untuk meminta maaf. Seminggu setelah insiden itu, Donghyuck selalu pulang larut malam dan sepertinya memang tidak ingin mengganggu ataupun diganggu olehnya. Renjun sempat mendengar percakapan Donghyuck dengan Bang Yuta. Ia juga sempat membelikan makanan untuk Donghyuck. Setidaknya itu yang selalu dilakukan penggemarnya untuk apresiasi bukan? Namun kenyataannya makanan itu berada di depan pintu kamarnya dengan secarik kertas dari Donghyuck.
Paket lu.
Lain kali jangan salah nulis nomor kamar, Huang Renjun.
—Lee Donghyuck.
Tentu pada saat itu Renjun menanyakan langsung ke Donghyuck saat ia tidak sengaja bertemu sang Gemini di koridor. Donghyuck tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, jadi ia hanya mengambil paket atas namanya saja. Renjun juga baru tahu bahwa Donghyuck sudah tidak menerima paket makanan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Seperti diracun, Renjun sedikit mengutip pernyataan Donghyuck.
"Lu gak pernah mendengarkan dia. Sedangkan dia selalu mendengarkan omongan lu, walau kebanyakan omongan lu sarkas." Yangyang tertawa lepas setelah mengucapkan itu.
"Terus gue harus gimana?"
"Minta maaf." Jawab Yangyang santai.
"Ya gimana?"
"Minta maaf sama orang biasanya gimana?" Yangyang membalas pertanyaan Renjun dengan pertanyaan.
"Tapi orangnya menghindar dari gue."
"Itu derita lu." Ledek Yangyang.
"Gak guna emang cerita sama lo." Renjun beranjak dari tempatnya.
"Lah mau ke mana?"
"Balik. Bye bye."
<><><><>
Untuk pertama kalinya setelah seminggu pulang larut malam mendekati pagi, kali ini ia pulang jam sembilan malam. Setidaknya, orang itu tidak akan mengganggunya larut malam.
"Tumben pulang jam segini." Sapa Kun di lorong.
"Ya, baru bisa pulang lebih awal. Kun-ge mau ke studio malam-malam?" Kun mengangguk.
"By the way, kayaknya Renjun kangen tuh." Donghyuck memutar kedua bola matanya.
"Jangan bercanda, ge." Kun hanya menepuk pundak Donghyuck.
"Gitu-gitu cuma lo yang lebih sering di sini." Donghyuck mengakui itu. Ia akan memulai percakapan dengan Renjun jika ia tidak mengesalkan.
"Gue duluan ya." Donghyuck melambaikan tangannya sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
"Finally." Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Donghyuck sudah mandi, makan, semua hal yang ia lakukan sebelum tidur. Bahkan ia sempat untuk menyalakan water humidifier. Semuanya untuk tidurnya yang nyenyak.
"Good night." Ucapnya kepada diri sendiri. Ia menutup mata dan
Tok… tok… tok…
Donghyuck menghela nafasnya kasar, ia sedikit mengerang mendengar ketukan terkutuk yang terdengar dari sebelah. Lebih tepatnya tetangganya seperti memukul-mukul tembok yang terdengar jelas di kupingnya. Orang itu benar-benar ingin mengusik hidup tentramnya. Kali ini ia tidak akan menahan diri, ia sudah lelah dengan semua ini.
"Renjun." Donghyuck mengetuk pintu Renjun mengetuk pintu. Tidak ada respon apapun di balik sana hingga Donghyuck meraih kenop pintu dan menemukan pintu itu tak terkunci. Hal itu membuatnya terkejut. Lebih terkejut ketika Donghyuck melihat Renjun berdiri dan memukul dinding dengan mata yang masih terpejam.
Tunggu, jika sleepwalking itu tidur berjalan lalu yang dilakukan Renjun adalah sleep punching?
Donghyuck tidak bercanda saat berkata bahwa Renjun memukul dinding saat ia tertidur lelap karena setelah ia menahan sang Aries, lelaki itu kembali tertidur lelap di dekapannya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Hei, Renjun.” Lelaki manis itu tidak bergeming saat Donghyuck berusaha untuk membangunkannya. Ia menyadari semakin ia membangunkan Renjun, semakin erat pelukan Renjun sehingga Donghyuck terjebak. Percayalah, untuk melepaskan dekapan itu tidak mudah. Beberapa barang di dalam kamar itu hampir terjatuh jika Donghyuck tidak hati-hati. Saat ia berhasil melepaskan diri, orang itu tiba-tiba saja menariknya ke kasur dan menimpahnya.
“Selamat tidur.” Gumam Renjun sebelum ia menyembunyikan wajahnya di keruk leher Donghyuck. Memang, Donghyuck akan selalu menghela nafas jika ia bersama Renjun. Sekali lagi ia membiarkan lelaki manis itu melakukan apapun yang ia mau.
“Selamat tidur, Huang Renjun.”
Tok … tok … tok …
Suara ketukan di pintu Donghyuck kembali terdengar. Ia mengerang beranjak dari kasurnya. Semalaman Donghyuck tertidur bersama Renjun yang berada di dekapannya hingga ia terbangun sebelum matahari menyapa, tentu sebelum Renjun terbangun dan pergi ke kamarnya sebelum tetangga mininya itu menyadari keberadaannya. Cukup ia dituduh macam-macam. Walau kenyataannya memang Donghyuck masuk ke dalam kamar Renjun tanpa sepengetahuannya. Tapi Renjun membutuhkannya dan Donghyuck membutuhkan ketenangan dalam tidurnya.
“Apa lagi?” Sepertinya ucapan itu sudah seperti sebuah kebiasaan jika Donghyuck membuka pintunya untuk Renjun.
“Lo pakai jam weker?” Tanya Renjun. Donghyuck mengerutkan keningnya. Pertanyaan yang sangat random tapi itu lebih baik daripada ia harus mendengar tuduhan tak beralasan terhadapnya.
“Tidak.” Jawab Donghyuck jujur. Renjun hanya mengangguk. Sepertinya tidur Renjun terganggu. Ia seperti setengah sadar dengan mata yang setengah menutup. “Kenapa?”
“Ada yang gak matiin weker.” Jawab Renjun seadanya.
“Dan ganggu tidur lu?” Renjun kembali mengangguk.
“Gue gak nuduh lo ya. Ini gue tanya.” Kali ini Donghyuck yang mengangguk. Ingatannya kembali ke malam saat ia berada di kamar Renjun. Ia mengingat dengan jelas, ia tak sengaja menjatuhkan jam weker ke kolong kasur. Tapi tak mungkin ia memberitahukan itu kepada Renjun. Bisa-bisa ia akan ditendang.
“Tidur, Huang.”
“Okay. Good night.”
“It’s morning, but good night.”
<><><><>
“Bentar. Bukannya lu bilang kalau lu ada gangguan tidur akhir-akhir ini?” Renjun sedikit bersyukur ternyata temannya mendengarkan keluhannya selama ini. "Lu kalau lagi setengah sadar suka melakukan hal yang normal tapi tidak normal dilakukan orang tidur!"
"Gue tidak mengerti apapun yang lo sebutkan."
"Lu pernah masak mie pas ngelindur."
"Sekali!" Potong Renjun. "Selain itu gue lebih sering sleepwalking."
Ia tidak tahu apakah kebiasaan buruk tidurnya muncul selama ia tinggal di apartemen barunya. Ia tahu setiap kebiasaan buruknya muncul di pagi hari entah ada luka ataupun ia sedikit tidak tenang dan masih mengantuk, seperti yang dialaminya minggu lalu. Namun tidak untuk minggu ini. Ia bahkan merasa lebih nyenyak dalam tidur daripada biasanya. Seperti ada yang membuatnya tertidur lelap. Renjun merasa ia memeluk sesuatu dalam tidurnya, sesuatu dengan wangi khas yang ikut menenangkannya dalam tidur.
"Jadi benar teori lu soal lu meluk orang setiap tidur?" Renjun mengangguk dengan pasti. Kali ini ia yakin seratus persen. Semuanya terjawab saat ia menemukan secarik kertas yang ditempel di jam wekernya dengan tulisan 'you're welcome'. Siapa lagi yang melakukan itu selain manusia, atau mungkin?
"Tidak ada yang namanya alien." Bantah Yangyang.
"Siapa tahu!" Ucap Renjun. "Lagipula alien lebih masuk akal dibandingkan dengan orang itu."
"Lu mengira tetangga galak lu?"
"Gak mungkin kan?"
"Mungkin aja." Renjun membesarkan kedua bola matanya seakan-akan keduanya ingin keluar. "Apa yang dia lakukan buat lu itu baik, Njun. Dia ga pernah protes juga kan?"
"Di hubungan lu berdua, selalu lu yang protes bukan dia." Yangyang ada benarnya. Lelaki itu tidak pernah protes walau Renjun selalu mengganggu dengan ketukannya. Seharusnya ia meminta maaf, tetapi egonya terlalu tinggi hingga ia melupakan fakta itu.
"Gue jahat ya?"
"Jahat kalau lu udah tahu lu jahat tapi masih belum minta maaf."
Ucapan Yangyang terputar layaknya radio rusak di kepalanya sampai ia berdiri di depan pintu kamar nomor 6. Sekian kalinya ia mengetuk pintu itu, ia selalu penuh percaya diri namun tidak untuk kali ini. Untuk pertama kalinya Renjun ragu mengetuk pintu kamar itu. Ia takut untuk mengganggu Donghyuck lagi. Padahal tangannya sudah sesenti di depan pintu, tinggal mengetuk.
"Renjun!" Renjun menoleh ke arah Taeyong yang memanggilnya. "Hyuck bilang, hari ini ia tidak ingin diganggu. Jadi kalau ada masalah atau keluhan bisa ngomong ke gue aja." Renjun menggeleng pelan.
"Gak jadi?" Tanya Taeyong. "Atau memang urusan Renjun sama Donghyuck?"
"Ada sesuatu yang memang mau gue bicarain sama dia kak." Ucap Renjun jujur.
"Besok ya? Kayaknya Hyuck lagi banyak tugas." Renjun kembali mengangguk.
Not today, again. Pikirnya.
<><><><>
Bergelut dengan komputer memang sudah kebiasaan Donghyuck. Kali ini ia harus mengerjakan laporan-laporan yang menumpuk. Persetan dengan tugas. Ia sudah lelah mengerjakan ini semua. Untung saja Taeyong dengan senang hati untuk memberikan makanan hasil masakannya kalau tidak kemungkinan Donghyuck akan tidak makan seharian.
Ketukan di dinding membuyarkan fokusnya dari komputernya. Baru kali ini ia menghela nafas lega untuk mendengar suara bising itu. Setidaknya suara itulah yang mengingatkan dirinya kepada dunia dan tidak terlarut dalam tugas. Donghyuck masih membutuhkan tidurnya, tentu saja. Lagipula tugasnya sedikit lagi kelar, hanya butuh waktu semenit untuk merubah filenya menjadi pdf dan ia kelar.
Ketukan itu kembali bunyi menandakan Donghyuck harus segera ke kamar sebelah untuk menenangkannya. Sudah hampir seminggu ia bolak-balik antara kamarnya dan kamar sebelah. Pada awalnya ia mengeluh karena satu-satunya cara yang efektif untuk mencegah Renjun ngelindur adalah dengan tidur bersamanya. Tidur saja. Tidak ada hal yang lain, hanya berbaring di samping Renjun.
Sambil memeluknya dengan erat.
Sembari mengelus rambut halusnya.
Hanya untuk ketenangan tidur Donghyuck. Pada awalnya.
Akhir-akhir ini Donghyuck sengaja menunggu ketukan itu yang biasa muncul pada pukul sekitar sepuluh hingga sebelas malam. Alasannya, Donghyuck menyukai berbaring di samping Renjun. Itu membuat tidurnya lebih nyenyak. Walau ia selalu harus bangun lebih pagi daripada biasanya. Tapi tubuhnya lebih terasa segar entah kenapa.
Donghyuck membuka pintu kamar Renjun pelan. Ia benar-benar seperti lelaki mesum. Tapi ini demi kebaikan bukan? Ia tidak pernah melakukan hal aneh.
Iya, demi kebaikan kita.
Posisi malam ini sedikit berbeda dari biasanya. Donghyuck kali ini merengkuh tubuh Renjun dari belakang, keduanya sama-sama menghadap tembok. Disentuhnya tangan Renjun yang ia gunakan untuk memukul tembok. Ada sedikit memar yang Donghyuck elus pelan.
Ada-ada saja tipe ngelindur. Pikirnya. Tapi Donghyuck masih berpikir kalau Renjun itu menggemaskan. Sedikit aneh, tapi ada nyatanya. Ia menyadari bahwa Renjun mempunyai tanda lahir di tangannya. Menurutnya sedikit unik.
Apa yang lu pikirkan, Lee Donghyuck.
Kenyataannya, dunia tidak berpihak kepada Donghyuck. Ralat, Renjun tidak berpihak kepada Donghyuck. Renjun memutar tubuhnya saat tidur hingga Donghyuck harus menatap wajah indah Renjun dengan jarak yang sangat dekat. Itu membuat lelaki gemini itu sedikit gila. Ia bisa melihat rona merah di pipinya dengan jelas, ataupun hidung mancung Renjun yang sangat menawan hingga ia ingin menciumnya berulang kali.
Gua sudah gila.
Ia kembali menatap paras indah itu.
Mau cium bibir. Pikir Donghyuck. Hyuck, lu udah gila.
Donghyuck tidak tahu apakah ia mengutarakan pikirannya tapi sedetik kemudian bibirnya sudah menyatu dengan bibir manis Renjun.
Dan bukan Donghyuck yang memulai.
Ia berani bersumpah, Renjun lah yang memulai kecupan itu. Lelaki yang tertidur itu mengalungkan tangannya di leher Donghyuck dan menariknya ke dalam ciuman manis yang tak bisa ia hindari. Sentuhan bibir Renjun membuatnya mabuk, ia menyukai setiap sentuhan yang diberikan oleh Renjun dan tidak bisa untuk tidak membalas.
Aksi itu berhenti ketika Renjun menggigit bibir Donghyuck dan seketika tubuh Renjun menegang.
Mampus. Umpat Donghyuck dalam hati. Ia tahu jika Renjun terbangun akibat aksi mereka dan ia tak tahu harus melakukan apa, kali ini ia tidak bisa membuat alasan yang jelas. Donghyuck tahu Renjun terbangun karena sekarang ia sedang menatap matanya dengan lekat.
"Hey," ucap Renjun dengan suara parau. "Kita bicara soal ini pagi ya?" Ia mengecup ranum Donghyuck sekali lagi lalu kembali tertidur dengan posisi favoritnya, bersembunyi di keruk leher Donghyuck.
Seharusnya Renjun berekspektasi dengan situasi ini. Donghyuck sudah tidak ada di kamarnya saat ia membuka mata. Tidak, ia tahu malam itu benar terjadi. Pada awalnya ia mengira ia bermimpi bercumbu dengan tetangga tampannya itu. Setelah selang beberapa menit, ia merasa bibir itu terasa sangat nyata hingga pada saat Renjun menggigit ranum merah muda itu, ia terbangun sepenuhnya. Pada saat itu Donghyuck berada di depannya dengan bibir yang membengkak dan rambut yang acak-acakan. Orang misterius itu benar-benar Donghyuck.
Jika ada waktu, ia harus berbicara soal ini kepada Donghyuck. Sekarang ia harus bersiap-siap ke kampus karena waktu sudah mepet.
"Sialan!" Renjun mendengar umpatan dari kamar sebelah tepat sebelum ia mengunci pintu. Lima menit kemudian, Donghyuck sudah berada di depan kamarnya, terlihat sangat terburu-buru.
"Donghyuck?"
"Sorry, Renjun. Gua lagi telat kali ini." Ucapnya tergesa-gesa.
"Mau bareng?" Renjun menawarkan. "Gue bawa motor, seingat gue motor lo masih diservis." Umpatan terdengar kembali dari mulut Donghyuck.
"Itu bukan buat lu." Renjun mengangguk.
"I know."
"Gua boleh yang nyetir?" Tanya Donghyuck pelan. "Bukan gua gak percaya sama lu, tapi gua lebih gak enak buat minta lu ngebut jadi gua yang nyetir aja."
"Boleh."
"Nice! Pegang erat-erat. Peluk juga boleh."
Percayalah, ia sudah berusaha untuk tidak memeluk Donghyuck. Namun demi keselamatannya dalam perjalanan, ia harus memeluknya. Harus atau ia akan terlempar ke udara karena Donghyuck tidak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar mengebut.
"Mati gue mati." Donghyuck yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Renjun merasakan getaran dari tubuh Donghyuck yang disebabkan ia tertawa. Dari situ ia baru menyadari ia telah merengkuh tubuh Donghyuck kuat. Wangi Donghyuck yang manis persis dengan wangi yang selalu menenangkannya saat tidur. Orang misterius itu benar-benar Donghyuck.
"Gua tau gua sangat nyaman dipeluk tapi kita sudah sampai dan gua telat." Seketika Renjun melepaskan pelukannya.
"Maaf." Bisik Renjun. Donghyuck mengusap kepalanya.
"Sorry, tadi terlalu ngebut." Ucap sang Gemini. "Bilang aja kalau mau sesuatu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih."
"Kencan." Celetuk Renjun. Mata Donghyuck membesar. "Jika ada waktu, jam 4 sore di cafe Dream." Ucapnya cepat sebelum ia berangkat kembali.
<><><><>
Donghyuck tidak percaya ketika Renjun mengajaknya kencan. Ia tidak bilang ditraktir di cafe. Ia benar-benar mengucapkan kata kencan. Hari ini. Sejujurnya Donghyuck masih belum percaya dengan ucapan Renjun hingga ia mencapai tempat tujuan dan melihat lelaki manis itu duduk bersama laptopnya.
"Gua kira sekarang kencan." Sindir Donghyuck yang melihat Renjun sedang asik mengerjakan tugas. Renjun melirik ke arah Donghyuck dan tersenyum manis.
"You look good." Renjun memuji. Ucapannya benar, Donghyuck terlihat begitu tampan menggunakan jaket kulit hitam yang sering ia pakai dengan jeans sobek kesayangannya.
"Gua harus terlihat tampan untuk kencan, Huang Renjun." Donghyuck tersenyum. "Maaf agak telat, tadi balik dulu." Renjun mengangguk. Ia pun menyimpan filenya dan menutup laptop.
"Gue takut lo ga denger tadi atau mengira itu halusinasi jadi gue membawa sesuatu untuk menunggu." Renjun menjelaskan. "Lagipula gue terlalu cepat untuk mengajak kencan, tidak ada waktu untuk bersiap-siap."
"Tidak apa-apa, gua suka cowo yang straightforward." Donghyuck mengedipkan satu matanya. "Not straight men of course."
"Sangat lucu."
"Yang lucu itu lu." Balas Donghyuck.
"Donghyuck." Renjun mengingatkan.
"By the way. Gue mau minta maaf for everything." Ucap Renjun tulus. "Maaf buat sikap gue selama ini, maaf gue baru minta maaf sama lo. Gue belum nemu waktu yang tepat—gue tau itu kayak alasan tapi kenyataannya dunia tidak pernah memberi waktu yang pas."
"Cium dulu baru gua maafin." Celetuk Donghyuck bercanda. Tak disangka Renjun menganggap itu serius dan mencium tepat di bibirnya di ruang publik.
"Kenapa kaget?" Tanya Renjun setelah menyudahi sesi ciuman mereka. Donghyuck masih menatapnya terheran-heran. "Kan kita semalem udah, kenapa kaget?" Ucapan itu membuat Donghyuck lebih terkejut.
"Lu tau?" Kali ini Renjun yang mengerut keningnya.
"Gue jelas-jelas bilang kita bicara tentang itu nanti."
"Gua kira lu ngelindur, lagi." Ucapan terakhir Donghyuck terdengar seperti bisikan namun Renjun mendengar itu.
"Apa saja yang gue katakan pas tidur?"
"Banyak, dari mulai lu minta maaf tapi bingung mau minta maaf sama gua kayak gimana." Donghyuck menyebutkan satu persatu dan sejujurnya membuat Renjun sedikit malu. Ternyata Donghyuck tau tentang paket yang sebenarnya tertuju untuknya. Ia juga tahu permasalahan yang Renjun akhir-akhir ini ia keluhkan, berpikir bahwa Donghyuck sangat menarik jika ia tidak mengesalkan, semua perdebatan dengan sahabatnya Yangyang tentang dirinya yang membuat Renjun berpikir dua kali tentang Donghyuck. Untung saja, Renjun yang melindur itu tidak sempat mengatakan bahwa Yangyang menyadarkannya bahwa ia sedikit tertarik dengan Donghyuck. Hanya karena semua perlakuan ditambah dengan fakta bahwa ia selalu membantu Renjun tidur lebih nyenyak dan tidak mengalami sleepwalking lagi.
"Itu saja?" Donghyuck mengangguk.
"Memang ada lagi?"
"Ada, tapi itu rahasia." Jawab Renjun singkat dan Donghyuck memahami itu.
"Renjun." Nada Donghyuck bicara sangat serius. "Jika memang lu mengajak gua kencan karena semalam—"
"No, no. Hyuck—maksud gue Donghyuck," Renjun memotong perkataan Donghyuck. "Gue memang tertarik sama lo dari semenjak. Ya lo tau gue udah pernah ngomong pas tidur."
"Kalau gua mau dengar lagi?" Renjun memutar kedua bola matanya ketika melihat Donghyuck sudah usil.
"Intinya gitu."
"Gimana?"
"Donghyuck."
"Iya sayang."
"Serius."
"Mau diseriusin?"
"Mau."
Donghyuck hanya tertawa.
"By the way, again. Gue serius soal itu. Tapi gue mau mengenal lo dulu." Ujar Renjun sungguh-sungguh.
"Gua udah tau lu suka apa sih, hobi lu, apa yang lu gak suka, aib lu, yang pas lu kecil itu paling lucu sih."
"Donghyuck."
"Sorry."
"Tidak adil jika lo tahu tentang gue tapi gue gak tau tentang lo." Donghyuck tersenyum mendengar pengakuan Renjun. "Itupun jika lo mau. Maaf gue ga pernah nanya apa yang lo mau. Kemungkinan setiap malam lo kayak gitu karena lo merasa keganggu aja dan yang paling efektif ya kayak gitu. Uh."
"Hey, Renjun." Donghyuck menghentikan Renjun sebelum ia berbicara hal-hal yang aneh. "Awalnya memang gua sedikit terganggu, tapi gua sekarang sudah terbiasa tidur bareng lu. Mungkin efeknya sama kayak di lu." Donghyuck menjelaskan. "Jika memang gua ga suka, mungkin gua akan protes. Lu tau gua sangat vokal soal protes." Renjun terkekeh kecil.
"Anggap saja gua menginginkan itu menjadi kebiasaan. Maka dari itu gua gak pernah ngomong. Walau sebenarnya akhir-akhir ini gua mau jujur soal itu sama lu."
"Kenapa?" Tanya Renjun.
"Kak Taeyong liat gua masuk kamar lu. Gua gak enak aja. Nanti jadi rumor, apalagi gua masuk kamar lu tanpa ijin. Jadi gua mau jujur sebelum lu tau dari orang lain." Donghyuck menjelaskan. "Walau lu tau duluan."
"Soal itu…" ucap Renjun hati-hati. "Walau kita lagi pendekatan—bentar lo setuju kalau kita lagi pendekatan?"
"Iya, Huang." Donghyuck terkekeh kecil.
"Walau kita masih pendekatan, tapi gue boleh tidur bareng lo gak? Nanti gue ke kamar lo aja jam sembilan malam. Kalau lo ga keberatan."
"Ini baru kencan pertama dan lu udah mau ke kamar gua aja, Huang."
"LEE DONGHYUCK!"
"Bercanda." Donghyuck mencubit hidung mancung Renjun. "Boleh."
"Dengan satu syarat." Renjun mengerang keras saat mendengar itu dan membuat Donghyuck tertawa puas.
"Sehari di kamar gua, besoknya di kamar lu. Kita ada giliran aja." Renjun mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Gua kangen sama boneka kudanil lu."
"Itu peri bukan kuda nil!" Donghyuck untuk sekian kalinya tertawa, sangat manis menurut Renjun. Ia pun tersenyum, mempunyai tetangga bawel tidak ada salahnya.
<><><><>
"Hyuck, bangun."
"Lima menit lagi." Erang Donghyuck. Dekapannya semakin erat.
"Sayang."
"Aku masih lelah. Kelas aku siang kok." Renjun menggelengkan kepalanya.
"Yaudah lepasin akunya. Aku ada kelas pagi." Untung saja Donghyuck menurut dan melepaskan pelukannya.
"Mana morning kiss?" Renjun terkekeh kecil dan mencium ranum Donghyuck.
"Aku ada hadiah buat kamu. Ada di meja. Jangan lupa baca suratnya ya." Sekali lagi Renjun mencium bibir Donghyuck sebelum ia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Mendengar ucapan kekasihnya itu, Donghyuck segera melihat apa yang telah dipersiapkan oleh kekasihnya itu. Sebungkus macaron yang persis ia makan di pertemuan pertamanya dengan Renjun dengan secarik surat.
S etelah pertemuan pertama, dan menghadirkan pertemuan-pertemuan yang selanjutnya. Sebuah kisah tentang bagaimana aku berpaling muka padamu, awalnya. Hingga mampu merebut hatiku, akhirnya. Tentang kamu yang begitu mempesona, memanjakan mata dan mendetak jantungku lebih dari biasanya. Andai saat itu takdir tak menyuruhku untuk mengetuk pintu kamarmu, mungkin saja kau tak pernah lahir dalam alegori kisahku. Teruntuk Donghyuck, yang menyebut dirinya adalah satu-satunya penghuni di lantai 3. Kamu, lelaki yang membuatku jatuh cinta.
–Huang
- Selesai -
