Work Text:
Sudah hampir sekitar tiga tahun aku mengenalnya. Sebagai mahasiswa yang sama-sama merantau, kami cepat akrab. Mungkin karena kami memiliki beban dan perasaan jauh dari rumah yang sama, mengambil kelas Bahasa Korea bersama, hingga berbagi unit apartemen yang sama.
Entahlah, namun bagiku itu adalah perasaan sayang. Ia dengan binaran mata seperti kucing kecil menggemaskan, tidak pernah membuat jantungku berdebar dengan tenang. Caranya berbicara—terkadang masih dengan aksen Thailand yang kental—tak pernah luput dari perhatianku. Kegemarannya dalam menari dan ia yang selalu terlampau bersemangat hanya dengan membayangkan sebuah tarian, berhasil membuatku terpana.
Matanya yang berbinar, hidung mancung tanpa ada cela, bibir tipis kemerahan yang menawan. Aku ingin melindunginya, batinku ketika disuatu pagi salju pertama turun, ia bergegas pergi dengan sweater beige yang sedikit kebesaran dan syal abu melingkar di lehernya dengan asal.
Ia terlihat mungil, dan entah perasaan dari mana namun aku ingin merengkuh figurnya agar senantiasa aman.
"Yakin mau pake itu doang?" Tanyaku berpura-pura acuh.
"Bentar doang kok, ikut ga?" Tanyanya sembari mengenakan kaus tangan.
"Pake jaket gue yang item, jangan sampe mati kedinginan lu." Ujarku lalu menuju closet untuk memakai pakaian hangat. Kemudian meraih jaket hitam tebal milikku yang tergantung di ujung closet.
Ten pun menerima jaketku dengan senyum, pipinya memerah. Entah karena kedinginan atau malu.
Aku sedikit berharap kalau ia malu.
Kami pun bergegas turun untuk menuju lapangan kecil di dekat apartemen. Banyak anak-anak yang sudah bermain salju terlebih dulu. Sekilas aku melihat binar mata Ten yang meskipun tidak mendapat cahaya matahari namun tetap terlihat cerah.
"John! Awas!" Teriaknya sambil menghujaniku dengan bola-bola salju.
Ia tertawa dengan sangat lebar. Aku tak dapat menahan diri untuk tertawa dan ikut serta dalam permainan perang salju kecilnya. Bahkan kupikir kami lebih berisik daripada anak-anak disana.
Setelah merasa lelah saling berkejaran, Ten pun menjatuhkan dirinya secara terlentang begitu saja, diikuti olehku yang sama lelahnya.
"Lo emang selalu suka salju ya?" Tanyaku sambil membetulkan syal yang seperti akan membelit lehernya.
"Suka soalnya di Thailand gaada hehe." Jawabnya dengan cengiran lucu.
"Udah berapa kali salju yang kita lewatin bareng ya." Tanyaku lebih ke diri sendiri.
"Tau tuh, sampe bosen." Ujarnya kemudian cemberut.
Oh aku lupa jika Ten memang sangat ekspresif. Perubahan raut muka yang jelas, sesuai dengan perasaannya membuatku berpikir jika ia memang menarik. Kupikir itu adalah hal paling jujur yang dapat kau temui pada seseorang.
Akan tetapi hatiku sedikit berdenyut mengetahui fakta tersebut. Apa memang ia bosan denganku?
"Lo juga harus cari pacar deh John, biar ga sama gue mulu."
"Gapapa kali. Lo gasuka ya harus sama gue terus?"
"Ya suka tapi gini deh, emang lo gamau ya mulai mikir buat pacaran? Kalo pacar gue hari ini ga sibuk ya gue bakal main sama dia. Nah masalahnya lo nanti masa sendirian?"
"You— what?" Tanpa sadar nadaku meninggi, kupikir aku salah dengar.
"Iya pacar gue."
"Lo gapernah bilang ke gue kalo udah punya pacar?!"
"Kenapa sih kaget banget, Mr. Suh? Oke, sorry karna gue gapernah bilang kalo lagi deket sama orang. Lagian kita baru aja jadian kok. Kenapa lo sekaget itu?"
Napasku memburu, seluruh tubuhku rasanya melemah. Aku tidak pernah mengira mimpi buruk itu akan datang saat ini. Kepalaku sedikit berdenyut, kupikir semakin parah karena suhu yang super dingin.
"Pulang yuk." Gumamku lalu menegakkan diri, berjalan duluan.
Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Maka kuputuskan untuk menghindari tatapan matanya. Tenggorokanku seperti dipenuhi batu. Terasa sakit dan sesak.
"John!" Panggilnya sambil meraih tanganku.
"Kenapa buru-buru? Tangan lo dingin banget deh, kedinginan ya?"
Ia terus bertanya ada apa dengan diriku, apakah aku sakit dan beberapa pertanyaan penuh kekhawatiran lainnya namun hanya kujawab dengan,
"Gapapa, jangan lama-lama diluar gue takut lo kedinginan."
"Lah kok jadi gue? Ga kebalik nih? Yaudah kita pulang sekarang, gue bikinin coklat panas. Tidak menerima kopi!" Lengannya berusaha meraih bahuku dengan sedikit kesusahan.
Tidak, jangan begini.
Kami pun berjalan beriringan tanpa sepatah kata pun. Ketika sudah melewati lobby dan berada dalam lift, aku merasa akan mati karena penasaran.
"Tell me about your girlfriend. Am I right? Or boyfriend?" Tanpa pikir panjang, aku bertanya.
"Boyfriend." Jawabnya dengan pipi memerah dan mata berbinar. Lagi-lagi ekspresinya yang jujur. Kali ini aku tidak menyukainya.
"Tell me anything about him."
"He is kind."
"Okay."
"A medical student."
"Okay."
"A good kisser."
"What? Did you—"
"We did makeout in his car."
"Ew, that's gross."
"Why are you being mad?"
"I'm not mad."
"You are."
"Okay, stop. Lu gamau masuk unit?" Ujarku dengan ketus sambil menunjuk pintu lift yang terbuka.
Ten hanya terdiam seusai pembicaraan terakhir kami. Kupikir aku memang sudah kelewatan.
"Nih jaket lo, makasih." Ucap Ten singkat ketika kami telah masuk unit apartemen kami.
"Hey, yang tadi gue minta maaf."
"No, it's okay."
"Kayanya gue kecapekan, sorry kalo malah bikin emosi."
"John?"
"Ga seharusnya gue nanya hal pribadi kaya gitu. Kelewatan ya?"
"John—"
"Gue yang salah, Ten. Gue takut lo kenapa-napa soalnya—"
"Soalnya apa?"
"Soalnya— hah? Gapapa ya gue takut aja."
"Takut gimana, John? Kalo ngomong yang jelas dong."
"Fuck, gue ga bilang apa-apa deh tadi kayanya."
Sesaat kemudian, Ten mendekat dan meraih kedua tanganku. Mengusap-usap jemariku dengan jempolnya yang lembut.
"John, kita udah barengan hampir tiga tahun. Dan hal yang selalu gue benci selama ini adalah lo gapernah bilang apa yang beneran ada di hati lo."
"Maksudnya?"
"All you have to do is to tell the truth."
"Truth? Me?" Ten mengangguk.
"Denger, itu tadi bukan apa-apa. Lo tau kan kalo gue suka ngomong sampah? It's pure gibberish."
"Lo cuma punya satu kesempatan buat bilang. Jangan sia-siain itu."
"What the hell is going on, Ten?"
"I don't know. It depends on you."
"Jujur, gue bener-bener bingung. Maksudnya apa sih? Lo mau gue gimana?"
"Gue pengen lo jujur. Ke diri lo sendiri, ke gue, ke kita berdua."
Cukup lama aku menatap binar matanya hanya untuk mendapat jawaban yang sudah terpatri jelas.
"Shit, did you know?"
"I always know."
"Terus kenapa lo diem aja? Lo gatau seberapa menderitanya gue buat nahan-nahan perasaan ini. Gue sampe benci ke diri sendiri gara-gara mikir kalo ini semua ga seharusnya terjadi. Dan lo yang ngaku udah tau dari awal diem aja? You fucking—"
"Because you never telling me the truth, okay!"
Aku terbelalak. Seketika mulai bertanya-tanya, apakah yang kulakukan selama ini benar?
"Gue juga sama, selama ini cuma bisa bertanya-tanya ini beneran apa cuma perasaan gue doang. Lo gapernah ada usaha buat nunjukin kalo lo sayang ke gue lebih dari sekedar temen."
Mata indah itu berkaca-kaca, pipinya semakin memerah.
"Ten, listen. I'm so sorry, okay? Gue pikir ini cuma kesalahan jadi gue cuma nyimpen ini semua sendirian. Gue gatau kalo itu bikin lo frustasi."
Kurengkuh tubuh mungilnya untuk meredakan tangis yang mulai terdengar.
Dengan segenap keberanian dan keyakinan yang tersisa, aku mengungkap perasaan yang selama ini kupendam.
"I love you, so much."
Tangisku pecah setelah mengatakannya, rasanya seolah separuh beban di tubuhku menghilang. Aku tidak peduli bagaimana kami akan bersikap setelah ini, namun kurasa tepat untuk mengatakannya sekarang.
"I love you too, silly." Jawab Ten sambil melepas pelukan kami. Dengan gerakan cepat ia menghapus air matanya kemudian air mataku juga.
Hatiku menghangat, jantungku berdebar sangat keras. Apakah ini nyata?
Kami berpandangan cukup lama, berbagi senyum terbaik satu sama lain. Sebelum salah satu dari kami tertawa—sepertinya itu Ten—lalu kami pun tertawa terbahak-bahak melihat betapa berantakan rupa masing-masing. Seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan permen.
"Udah lega?" Tanya Ten disela-sela tawanya.
"Jangan bilang gitu, please. Kesannya seolah-olah ga nyata tau ga." Protesku sambil mencubit pipi gembilnya. Ia terkekeh kecil.
"So we are..."
"Boyfriends I guess?" Balas Ten tanpa keraguan sedikitpun.
"But how about your real boyfriend? I mean that kind medical student? The good kisser guy?"
"Ummm, I lied."
"What the fuck, Ten? Jadi ini kaya semacam scenario biar gue confess gitu? Astaga, tau gasi? Lo bikin gue makin sayang, beneran."
Segala bentuk protesku—yang tidak bisa disebut protes—tadi hanya dihadiahi cekikikan dari Ten.
Yeah, his giggles means the world to me.
© elixrty.
