Work Text:
Jaehyun adalah seorang guru taman kanak-kanak. Ia sudah mengabdi di sekolah tempatnya bekerja sekarang ini selama kurang lebih empat tahun, dan dengan cepat, dirinya menjadi favorit anak-anak. Anak didiknya sering mengajaknya berbicara, bermain, terkadang ada yang sering memberinya permen atau coklat, dan hal sekecil itu membuat Jaehyun merasa sangat bahagia.
Ada satu anak yang juga menjadi kesukaan Jaehyun—anak itu juga sangat senang mengekori Jaehyun. Anak itu begitu cerdas, tingkahnya pun begitu manis dan menggemaskan. Hal yang menjadi kesukaannya di dunia ini adalah papa, gantungan kunci rusanya, dan Jaehyun saem—dia sendiri yang bilang. Namanya adalah Jung Sungchan.
Dia pergi ke taman kanak-kanak ini bersama dengan kakaknya yang ada di kelas sebelah, kelas yang lebih tinggi, namanya Suh Donghyuck. Jaehyun tak mengerti mengapa keduanya memiliki marga yang berbeda, namun itu bukanlah urusannya, sehingga ia pun tak memusingkan hal tersebut.
Donghyuck pun sama, suka sekali mengajaknya berbicara. Namun, karena Donghyuck sudah naik ke kelas yang tingkatannya lebih tinggi, ditambah lagi dengan Jaehyun yang menjadi pembimbing utama di group yang ditempati Sungchan sehingga ia tidak bisa terlalu sering bertemu dengan Donghyuck seperti dulu, ketika Sungchan masih belum bersekolah.
Biasanya, Jaehyun akan mengawasi anak-anak dari group-nya ini jika sudah waktunya pulang sekolah, khawatir jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan kepada anak-anak yang sudah dititipkan para orang tua mereka ke taman kanak-kanak ini. Ia baru akan bersiap pulang jika mereka sudah dijemput oleh orang tua mereka satu per satu. Donghyuck dan Sungchan selalu menjadi anak yang paling terakhir untuk dijemput, dan hal itulah yang membuat keduanya dekat dengan Jaehyun.
Jaehyun yang selalu membawa bekal makan siang itu pun terkadang membawa satu kotak bekal tambahan untuk mereka bagi berdua, merasa kasihan melihat wajah-wajah bosan dua anak tersebut yang terkadang diiringi dengan suara perut yang kelaparan. Orang tuanya tampaknya sangat sibuk, sehingga seringkali terlambat menjemput anaknya
Malang nian nasib mereka.
Di tiap akhir semester pun, ketika waktu pembagian rapor, wali dari Sungchan dan Donghyuck tidak pernah datang, sehingga berujung pada pihak sekolah yang mengantarkan hasil belajar mereka disertai dengan surat himbauan kepada wali atau orang tua mereka berdua. Jaehyun heran, entah kesibukan apa yang membuat orang tua kedua anak ini tak terlalu memerhatikan progres perkembangan dan pertumbuhan anaknya sendiri.
Jaehyun terkadang ingin menanyai Sungchan maupun Donghyuck mengenai orang tua mereka berdua, namun ia takut jika dirinya terlalu ikut campur. Ia tahu mereka hanyalah anak kecil yang lugu, belum tahu-menahu mengenai perihal 'ikut mencampuri urusan orang lain'. Hanya saja... rasanya tidak etis jika ia melakukan itu.
Hingga suatu hari, ketika Jaehyun menemani dua bocah itu menunggu jemputannya seperti biasa, seorang lelaki jangkung datang memasuki area taman kanak-kanak dengan setelan jasnya. Jaehyun tak pernah melihat orang itu, sebab ia mengenal dengan baik orang-orang yang sering mengantar-jemput anak-anak mereka di sini. Ia yakin ini adalah kali pertamanya melihat orang itu.
Hal itu berhasil menyalakan tombol switch yang ada dalam dirinya untuk melindungi kedua anak ini dari bahaya, sebelum pekikan bahagia yang terlontar dari Donghyuck maupun Sungchan membuyarkan pikirannya. Lelaki tadi tersenyum lebar, kemudian membuka kedua tangannya lebar-lebar sembari berjongkok, menunggu kedua anak lelakinya berlari ke dalam pelukannya.
“Papa!”
Keduanya berseru heboh sebelum menerjang tubuh lelaki dewasa itu. Jaehyun mengerjapkan matanya, tak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah ia harus diam saja di sini seperti orang bodoh sembari menyaksikan reuni dramatis ayah dan kedua anaknya ini? Ataukah ia harus berbalik badan dan bertindak seperti ia tak melihat kejadian ini? Tapi ia tak pernah melakukan itu. Ia harus memastikan bahwa orang yang menjemput setiap anak yang bersekolah di sini memang merupakan relatif dari anak-anak ini, khawatir jika ada terjadi penculikan anak di tempat kerjanya yang begitu mungil dan sederhana ini.
“Jaehyun Saem! Terima kasih sandwich-nya!”
Itu suara Sungchan. Senyumnya manis dan hangat, sehangat sinar mentari pagi. Sementara itu, Donghyuck menggoyang-goyangkan tangan besar yang ada di genggamannya dengan antusiasme tinggi.
“Papa! Papa! Ayo kenalan duluuu!”
Kenalan? Siapa yang kenalan?
Mata Jaehyun berkedip beberapa kali ketika Donghyuck menyeret lelaki yang lebih tua itu untuk mendekat kepadanya. Ketika mereka berdua sudah berdiri berhadap-hadapan, sama-sama tampak kaget dan kebingungan, sementara Donghyuck hanya tersenyum lebar sembari menarik tangannya yang bebas agar bersentuhan dengan tangan si lelaki yang lebih tinggi.
Jaehyun berjengit kaget saat kulit mereka bersentuhan. Rasanya bagaikan tersengat oleh arus listrik ketika ia melakukan kontak singkat dengan pria yang lebih tinggi darinya itu. Keduanya saling bertukar pandangan dengan wajah yang sama-sama memerah. Jantung Jaehyun berdegup kencang, ia gugup tanpa alasan yang jelas.
“Papa, ayo kenalan sama Jaehyun Saem!”
