Work Text:
Gagang telepon berwarna hitam metal itu berdering cukup keras. Bunyinya beresonansi ke seluruh penjuru ruangan. Akan tetapi, laki-laki si empunya ruangan memilih abai, sibuk menekuri berkas pekerjaan di atas meja di hadapannya. Baru pada dering kedua, ia beranjak mendekati meja tempat di mana pesawat telepon itu tersimpan. Suara seorang perempuan menyambut indera pendengarannya sesaat setelah panggilan itu ia angkat.
“Iya, selamat siang, Bu.”
Apa pun yang dikatakan orang di balik sambungan telepon tersebut, pastilah bukan sesuatu yang cukup menyenangkan. Sebab, laki-laki di penghujung usia dua puluh tahun itu kini memasang raut khawatir di wajahnya. Sepasang alisnya menyatu dan hampir bertemu di pangkal hidungnya yang bangir, sementara napas berat tak sekali ia hela dengan gundah.
“Baik, Bu, saya akan segera ke sana.”
Begitu sambungan diputus, laki-laki itu lekas beranjak. Tak dihiraukannya lagi berkas pekerjan yang sedari tadi ia tekuni. Hanya mendekat ke arah meja untuk mengambil kunci mobilnya, kemudian berlalu menuju pintu—keluar dari ruang kerjanya.
Gedung sekolah ini tak seramai ingatannya. Lalu-lalang guru dan anak-anak murid yang menghambur berlarian kesana kemari biasanya mewarnai koridor dan lapangan hijau. Kini cuma ada satu dua guru dan penjaga sekolah berkepentingan yang masing-masing sibuk dengan urusannya. Laki-laki tinggi yang berjalan di koridor itu mengembus napas pelan, berjalan dengan senyum dan sapa yang dilempar pada siapa pun yang tak sengaja ia temui. Langkahnya dibawa menuju tempat yang dijanjikan orang di sambungan telepon menit lalu.
“Selamat siang.” Sapanya pada sekumpulan orang dalam ruangan yang pintunya terbuka.
“Siang, Pak Taehyung, silahkan masuk.”
Taehyung, si laki-laki di penghujung usia dua puluh tahun itu, memberi anggukan kecil sebelum membawa langkahnya memasuki ruangan yang sudah pernah ia kunjungi beberapa kali sebelumnya. Hal pertama yang ditangkap sepasang netranya begitu ia masuk adalah figur seorang anak perempuan berumur enam tahun yang tengah duduk di ujung sofa paling kiri. Kepalanya tertunduk sementara kedua tangannya terlipat di pangkuan. Di ujung lainnya, seorang anak laki-laki berumur sama tengah menangis, perban dengan bercak darah dan obat merah di dahinya mungkin adalah alasan dari tangisannya. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang wanita paruh baya yang sedang menenangkan si anak laki-laki.
Taehyung mengambil tempat di kursi kecil dekat si anak perempuan. Sedetik usai ia dudukkan diri, anak perempuan itu kontan merangsek ke dalam pelukannya, mengusak wajah mungilnya pada dada yang lapangnya serupa rumah. Tubuh kecil itu gemetar, mungkin karena takut atau yang lainnya, entahlah, Taehyung tidak tahu. Yang ia tahu hanya, ia butuh memberi rasa aman dan nyaman pada sang anak di pelukan. Usapan lembut di punggung ringkihnya jelas mampu memberi perasaan baik itu.
“Ditunggu sebentar ya, Pak. Kita tunggu orang tua Jio dulu.”
Yang diajak bicara merespons dengan anggukan kecil. Tangannya tak berhenti memberi afeksi pada si anak di dekapan, pun mulutnya tidak putus mengucap kalimat menenangkan.
Pertemuan orang tua dari dua anak yang berselisih. Ini bukan pertama kalinya bagi Taehyung dan ia selalu bisa menghandle semuanya dengan cukup tenang. Termasuk ketika orang tua Jio—si anak laki-laki yang menangis, melontarkan kata-kata kurang baik dan sedikit melukai. Tentang bagaimana anak perempuan tak sepantasnya berperilaku kasar dan arogan, tentang bagaimana Taehyung selaku orang tua telah gagal mendidiknya hingga sang anak jadi bersikap demikian.
Siang ini, di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung, Nara—anak perempuan dalam dekapannya, terlibat perselisihan dengan anak laki-laki teman sekelasnya. Tidak jelas karena apa dan bagaimana awalnya. Tahu-tahu, guru yang mengajar saat itu sudah melihat Jio terduduk di atas lantai, menangis dengan luka di dahinya dan Nara yang mengepal tinju berdiri di hadapannya. Ketika pertanyaan apa yang terjadi sang guru tanyakan, anak-anak lain yang melihat kejadian tersebut kompak mengatakan bahwa Nara telah mendorong Jio hingga ia jatuh tersungkur dan dahinya terbentur ujung meja. Lalu, yang terjadi setelahnya adalah seperti apa yang sudah dinarasikan, Taehyung mendapat panggilan dari kepala sekolah dan dihadapkan pada orang tua teman putrinya yang marah.
Si Ibu terus melempar cela dan cerca dan tak memberikan kesempatan untuk Taehyung bersuara. Beliau terlanjur dilahap amarah hingga kepala sekolah pun tidak bisa menenangkannya. Dan, tangisan Jio yang bukannya mereda tapi justru semakin terdengar dramatis sejak sang ibu datang, sama sekali tak membantu, malah membuat beliau semakin menggebu. Taehyung tersenyum maklum sebab anak-anak memang kerap kali mencari validasi dan perhatian.
Taehyung tidak punya niat ataupun tendensi untuk melakukan pembelaan terhadap Nara. Sebab ia tahu kalau apa yang dilakukan putrinya adalah salah dan telah menyakiti. Meskipun dalam hatinya ia meyakini bahwa yang dilakukan Nara bukanlah tanpa alasan, melainkan ada pemicunya. Namun tetap, ketika akhirnya ia diberi kesempatan untuk bicara, bapak satu anak itu hanya meminta maaf, sebesar-besarnya—setulus-tulusnya, dan menjanjikan tanggung jawab penuh semisal ke depannya ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi akibat luka yang disebabkan sang putri.
Semuanya selesai dengan sikap kekeluargaan. Kedua anak saling bersalaman, dan pihak orang tua saling meminta maaf atas perkara yang sempat terlalu dibesar-besarkan. Sekolah belum memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan mengingat ini bukan pertama kalinya Nara terlibat dalam masalah. Anak itu pernah melempar kotak pensil temannya sampai hancur hingga membuat temannya itu menangis, atau melempar kotak pensilnya sendiri ke kaca jendela hingga menyebabkannya pecah. Akan tetapi, setelah semua yang dilakukan Nara, setelah banyak rugi materi yang ia alami, Taehyung tidak pernah marah kepada sang putri. Namun, tak ia biarkan juga Nara berpikir kalau apa yang dilakukannya adalah hal yang baik. Selayaknya orang tua, ia mengajarkan kebaikan, mana yang pantas dan kurang pantas untuk dilakukan. Selayaknya orang tua, ia paling mengerti bagaimana tabiat anak sendiri. Marah bukan penyelesaian, malah akan menambah lebih banyak kerusakan. Nara jelas bukan seorang anak sebagaimana anak lain seumurannya, putrinya itu tidak biasa.
“Tadi pas mau ke sekolah, Papa lihat toko es krim kesukaan Nara udah buka. Nara mau es krim?” tanya Taehyung. Keduanya tengah berada dalam perjalanan pulang menuju rumah. Taehyung di balik setir kemudi sementara sang putri di kursi sebelahnya.
Gelengan Nara berikan sebagai respons. Anak itu tak banyak bicara sekeluarnya mereka dari ruang kepala sekolah. Nara memang bukan anak yang pandai berkomunikasi, apalagi bersosialisasi, itu sebabnya ia kerap terlibat perselisihan dengan teman-teman ataupun orang-orang di sekitarnya. Tidak seperti anak lain seusianya yang aktif bermain, Nara lebih senang melamun dan menyendiri.
“Ya udah, kita langsung pulang aja, ya? Biar Nara bisa istirahat.”
Nara tetap bergeming dan tak mengatakan apa-apa. Keduanya disiram menit penuh hening sebelum akhirnya anak perempuan itu tiba-tiba bersuara; “Nara nggak suka diejek,” Membuat Taehyung kontan mengalihkan pandangan pada sang anak. Alisnya terangkat, dan sebelum dia sempat bertanya, Nara kembali melanjutkan ucapannya. “Jio tadi ejek Nara karena nggak bisa jawab pertanyaan guru. Nara nggak suka.”
Taehyung mengangguk kecil. Mencoba memahami amarah sang putri. Jadi memang tindakan Nara bukan terjadi tanpa alasan, meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi ia dapat mengerti sikap defensifnya. “Tapi Nara tahu nggak kalau mendorong teman sampai jatuh dan terluka itu nggak baik?”
Nara tidak menjawab. Alih-alih, anak itu menatap Taehyung dengan raut wajah yang sedih. Taehyung tahu, jauh tersuruk-suruk di dalam hatinya, Nara pasti merasa bersalah sebab telah membuat temannya terluka.
“Lain kali, Kalau Nara nggak suka sama apa yang dilakukan teman, Nara bisa bilang ke mereka kalau Nara nggak suka, ya? Nanti teman-teman akan berhenti mengejek dan mengganggu Nara.”
Sebelah tangannya Taehyung bawa untuk mengusap kepala sang anak. Selembut mungkin, ia coba memberi pengertian. Taehyung tahu Nara selalu mendengar dan memahami apa pun yang ia katakan, meski jika dihadapkan pada suatu persoalan, anak itu kerap kali kehilangan kontrol. Pelan-pelan, Taehyung berusaha menuntun dan membimbing putrinya pada keadaan di mana segala sesuatu menjadi wajar untuk anak seusianya.
Nara mengangguk pelan. Taehyung umbar senyuman. Ia harap, yang tadi itu akan jadi terakhir kalinya Nara terlibat dalam masalah. Bukannya ia tidak ingin direpotkan. Hanya saja, ia tidak ingin orang lain melihat Nara sebagai anak pembuat onar. Juga, kesehatan mental Nara adalah apa yang perlu dikhawatirkan jika ia terus mendengar kata-kata kasar dan makian dari orang. Maka, meski sekolah belum memberi keputusan atas tindakan yang akan diambil terhadap Nara, Taehyung sudah membuat keputusannya sendiri, yang terbaik menurutnya, untuk Nara.
“Kamu yakin mau pindahin Nara ke Sekolah Luar Biasa?”
Adalah pertanyaan sang Ibu usai Taehyung menceritakan kejadian yang menimpa Nara tadi siang, juga soal keputusannya untuk memindahkan sang putri ke sekolah khusus anak-anak spesial.
Taehyung mengangguk mantap. Sangat meyakini bahwa keputusannya adalah yang paling baik untuk Nara. “Iya, Bu. Emang harusnya dari awal Nara nggak sekolah di sekolah umum. Kita aja yang kurang aware,” jelasnya kemudian. “Ibu juga tahu sendiri kan, Nara itu beda sama anak kebanyakan. Suka ngelamun dan menyendiri, susah bersosialisasi. Waktu masih dititipin di panti asuhan pun, dia cenderung lebih sering berantem sama anak-anak panti yang lain,” Taehyung hela napasnya mengingat hari-hari lampau di mana Nara kerap kali terlibat dalam pertikaian. “Lagipula, diagnosis dari psikolog anak yang nanganin Nara juga udah jelas. Nara itu anak berkebutuhan khusus, penyandang tunalaras. Jadi emang udah seharusnya Nara sekolah di sekolah khusus juga.”
Ibu mengangguk, sepenuhnya mengerti pada penjelasan Taehyung. Setelah melakukan banyak terapi dan pemerikasaan, Nara didiagnosis sebagai anak penyandang tunalaras beberapa waktu lalu. Anak dengan hambatan emosi dan kontrol sosial. Anak-anak seperti Nara, seringkali tidak terkendali emosi dan perilakunya. Tak jarang mereka bersikap kasar hingga mengganggu orang-orang sekitar. Melihat bagaimana Nara sudah terlalu banyak terlibat dalam masalah, agaknya keputusan yang dibuat Taehyung memanglah keputusan yang paling baik untuk diambil.
“Ya, ibu setuju-setuju aja sama keputusan kamu. Kalau itu emang yang terbaik buat Nara, ya sudah, dilakuin aja. Siapa tahu kalau Nara sekolahnya di sekolah khusus, dia nantinya bisa sembuh.”
“Mudah-mudahan, ya, Bu. Karena kata psikolognya Nara, kalau penyebabnya dari faktor eksternal, kasus kayak Nara ini most likely bisa sembuh. Kita berdoa sambil terus upayain aja.”
Ibu mengangguk. Mendukung apa pun keputusan yang diambil oleh sang putra. Karena sama halnya seperti Taehyung, beliau pun ingin melihat sang cucu bisa bermain dan menjalani hidup selayaknya anak seusianya.
“Besok kita mulai cari-cari aja SLB buat Nara.”
“Nggak perlu, Bu. Aku udah dapat sekolahnya. Ada SLB-E yang nggak jauh jaraknya dari panti. Kayaknya aku akan daftarkan Nara ke sana aja, biar bisa tetep urus pekerjaan di panti juga.”
Anggukan berkali-kali jadi respons Ibu. Beliau percaya pada anak semata wayangnya. Taehyung sudah banyak menunjukan dedikasi dan kecintaannya pada anak dan pekerjaan. Apa pun yang ia putuskan, Ibu tahu betul itu adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Malam disudahi oleh Ibu yang kembali ke kamarnya dan meminta Taehyung untuk lekas beristirahat sebab ia sudah cukup bekerja keras. Taehyung tak lantas menggugu. Alih-alih, ia kembali membawa berkas pekerjaan ke hadapannya. Taehyung suka menghabiskan malam panjang dengan bekerja, sebab tak banyak yang bisa ia lakukan dalam hidup selain bekerja dan mengurus anak. Mungkin sudah waktunya untuk mencari pendamping hidup seperti yang selalu ibu minta, biar malamnya tidak dihabiskan dengan berkas-berkas yang menumpuk, melainkan ada raga lain yang bisa dipeluk. Nanti, nanti Taehyung akan cari seseorang yang bukan cuma bersedia jadi teman hidupnya, tetapi bersedia jadi rumah bagi Nara juga.
Dua hari setelah mengurus kepindahan Nara dari sekolah lamanya, Taehyung membawa putrinya itu ke calon sekolah barunya. Sekolah Luar Biasa yang tempo hari sempat ia diskusikan bersama sang ibu. Nara tidak banyak bicara dan bertanya, anak pendiam itu cuma mengikuti langkah sang ayah yang menggandengnya. Tiba di ruang kepala sekolah setelah membuat janji kunjungan sebelumnya, Taehyung lantas menyampaikan maksud dan tujuannya. Urusan administrasi dan tetek bengeknya diurus dan selesai hari itu juga. Nara sudah resmi jadi siswi sekolah baru, ia sudah bisa mulai belajar dengan teman-teman baru, guru-guru baru, dan suasana yang juga baru. Taehyung cuma berharap Nara betah dan senang di sini, di tempat yang memang diperuntukkan bagi anak-anak sepertinya. Ia berharap Nara membaik, bisa ceria dan bermain layaknya anak seusianya.
“Mari, Pak, saya akan perkenalkan Bapak dan Nara kepada guru bantu yang nantinya akan menjadi pendamping Nara selama bersekolah,” cetus sang kepala sekolah. Taehyung mengangguk kecil lalu mengikuti beliau yang sudah berjalan lebih dulu. Tangan mungil Nara digandengnya lagi. Anak kecil itu sudah tak sediam tadi. Matanya kini melihat-lihat sekitar, memotret tempat asing yang baru pertama kali ia kunjungi dalam memorinya. Tak jarang ia bertanya jika sesuatu menarik perhatiannya. “Lucu banget Nara. Semoga betah sekolah di sini ya, Nak,” Sang kepala sekolah bertutur hangat. Nara melempar pandang pada beliau dan sang Ayah bergantian. Taehyung tersenyum. Sekolah ini tidak akan sama seperti yang sebelumnya, ia bisa merasakan itu. “Oh iya, Pak, kami biasa memanggil guru-guru di sini dengan sebutan Kakak. Supaya terkesan lebih akrab dengan anak-anak, jadi bisa lebih mudah juga melakukan pendekatan. Jadi nanti Bapak dan Nara bisa memanggil guru-guru dengan panggilan tersebut juga.”
“Ah, baik, Bu, terima kasih informasinya.”
Ketiganya sampai di sebuah ruangan tak jauh dari ruang kepala sekolah tadi. Di depan pintu ruangan tersebut terdapat sign board bertuliskan ‘ruang guru’. Ibu kepala sekolah meminta Taehyung menunggu selagi beliau masuk ke dalam untuk memanggil seseorang. Tidak lama setelah itu, beliau kembali bersama seorang guru laki-laki di belakangnya. Tubuhnya sedikit mungil, bersembunyi dan nyaris tenggelam di balik tubuh kepala sekolah yang lebih berisi. “Pak Taehyung, perkenalkan, Ini Kak Jimin, beliau yang nanti akan menjadi guru pendamping untuk Nara.”
Taehyung tak bisa menyembunyikan raut terkejut dari wajahnya manakala guru laki-laki tersebut akhirnya bisa ia lihat sepenuhnya. Pun ekspresi yang sama hadir di raut laki-laki di hadapannya. Netra keduanya berbagi pandang, diam mematung, terperangah sejenak, seolah baru saja sama-sama menyaksikan sesuatu yang membuat takjub.
“Kim Taehyung?”
namanya meluncur dari mulut laki-laki yang baru saja diperkenalkan sebagai guru pendamping putrinya itu.
“Park Jimin, ya?”
“Lho, sudah saling kenal ternyata?” tanya Ibu kepala sekolah, tersenyum dan menatap kedua lelaki di hadapannya bergantian.
“Kami satu sekolah dulu, Bu.” Jawab si guru laki-laki kemudian. Ia tatap Taehyung cukup lama sebelum netranya berlabuh pada anak perempuan di sampingnya. Ada yang berjengit di hatinya tapi ia tak mampu menjelaskan apa.
Hampir sepuluh tahun lalu, Jimin mengenal Taehyung sebagai salah satu siswa populer di sekolahnya. Ia tampan, pintar, ramah dan punya banyak teman. Siapa pun menyukainya, tidak terkecuali guru-guru. Hobinya bermain sepak bola di lapangan seusai habis jam pelajaran. Baju seragamnya selalu ia tanggalkan dan ia gantung di atas gawang, menyisakan kaos oblong yang ia rangkap di bawah kemeja putihnya. Kemudian sampai sore dan berkeringat, ia akan berlarian bersama anak-anak lain yang ia sebut teman.
Dan Jimin, cuma akan memperhatikannya dari kejauhan. Tersenyum membayangkan andai ia bisa jadi teman dekat Kim Taehyung seperti sekumpulan orang di lapangan. Kini, setelah satu dekade berlalu, teman SMA yang selalu jadi pusat perhatiannya itu, telah menjelma menjadi pria dewasa dengan senyum khas miliknya yang tetap sama. Eksistensinya tetap menjadi objek atensi milik Jimin. Bedanya, atensinya itu kini sedikit ia bagi pada anak perempuan di sebelah Taehyung. Merengut lucu memperhatikan orang-orang dewasa yang tengah bercengkerama di sekitarnya. Jimin tersenyum, memutus segala reminisensi di kepalanya.
“Wah, Kebetulan sekali kalau begitu,” Ibu kepala sekolah berseru gembira. “Kalau sudah saling kenal, biasanya kerjasama dan komunikasinya juga akan semakin lancar.”
Taehyung dan Jimin sama-sama mengangguk dan terkekeh. Mengaminkan harapan untuk terjalinnya hubungan kerjasama yang baik bagi keduanya mulai hari ini.
“Nah, Pak, seperti yang tadi sudah saya bilang. Kak Jimin ini yang akan jadi pendamping Nara selama bersekolah. Beliau yang akan bertanggungjawab pada perkembangan Nara di kelas, dan beliau juga yang nanti akan membuat laporan harian untuk Nara. Semisal ada apa-apa, atau ada yang ingin ditanyakan tentang keseharian Nara nantinya, Bapak bisa langsung menghubungi Kak Jimin.” jelas kepala sekolah yang mana mendapat anggukan paham dari Taehyung.
Manik arangnya kini beradu dengan milik Jimin yang tengah berlabuh padanya juga. Hatinya merasa lega sebab Nara akan ‘diasuh’ oleh orang yang paling tidak ia tahu reputasinya. Sepanjang ingatannya, Park Jimin adalah seseorang yang tidak pernah bermasalah. Ia murid teladan yang banyak disenangi guru. Sedikit pendiam tapi pandai dalam pelajaran. Dan tidak seperti Taehyung, namanya tidak pernah berada dalam daftar incaran guru BK. Jimin bisa sepenuhnya ia percaya.
“Mohon bantuannya, Kak Jimin.” Senyum Taehyung lempar dan harapan ia titipkan.
Jimin sambut dengan anggukan kecil dan senyum yang hangat. “Mohon kerjasamanya juga, Pak Taehyung.”
Setelahnya, Jimin mengantar Taehyung dan Nara berkeliling sekolah. Memperkenalkan tiap sudut dan fasilitas sekolah yang nantinya akan menjadi media pembelajaran untuk Nara. Sesekali, Jimin melakukan pendekatan dengan anak didik barunya itu. Bertanya sambil mengajak bercanda dilakukannya. Meskipun tak jarang, anak itu malah menghindar dan bersembunyi di balik tubuh tegap ayahnya.
Taehyung bilang Nara anak yang pemalu dan kurang pandai bersosialisasi, apalagi dengan orang baru. Jimin mengerti dan memaklumi, sebab, banyak anak-anak tunalaras yang punya masalah serupa. Akan tetapi, Jimin tidak akan menjadi seorang guru—utamanya seorang guru untuk Sekolah Luar Biasa jika ia tidak mampu menghandle anak-anak seperti Nara.
Akhirnya, di ujung hari itu, berkat kemampuan dan usahanya untuk mendekati Nara, Jimin berhasil mengantongi beberapa informasi tentang Nara yang dibagikan oleh anak itu sendiri. Seperti; anak perempuan itu memilih stroberi sebagai rasa es krim favoritnya dan Crayon Sinchan adalah kartun yang paling sering ia tonton. Ia lebih suka menggambar daripada mewarnai, dan hobinya adalah menonton video orang membuat origami. Jimin mengajaknya untuk belajar membuat origami sendiri nanti, dan Nara dengan semangat menyetujui.
Sementara Jimin dan Nara asyik bercengkerama berdua, orang dewasa lain di antara mereka cuma mampu mengulum senyum. Hatinya kontan menghangat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia tahu betul bagaimana sulitnya mendekati sang anak, banyak orang sudah mencobanya sebelumnya. Tapi Jimin dengan kepribadiannya yang hangat dan penyayang, mampu masuk ke dalam dunia Nara bahkan dalam kurun waktu kurang dari sehari. Taehyung semakin meyakini kalau keputusannya membawa Nara kemari, adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia sesali.
Taehyung dan Nara pamit ketika hari sudah menjelang petang. Sebelum pergi, Taehyung sempat meminta nomor kontak Jimin agar bisa lebih mudah jika nanti saling menghubungi. Si guru memberikannya dengan senang hati.
“Ini, Pak.” Ujar Jimin sembari mengembalikan ponsel Taehyung yang ia pakai untuk menyimpan nomor kontaknya sendiri.
“Kayaknya nggak usah manggil bapak deh, Jim?” cetus Taehyung kemudian. “Maksudnya, kita kan udah saling kenal. Malah teman sekolah juga dulu. Awkward nggak sih jadinya kalau kamu manggil aku bapak?”
Jimin terkekeh mendengar protes Taehyung. Sejak tadi ia memang memanggil teman sekolahnya itu dengan sebutan ‘bapak’. Tapi itu semata-mata untuk menjaga formalitas dan profesionalitas di antara mereka. Tapi kalau Taehyung keberatan dengan panggilan itu, Jimin tentu tidak akan ragu untuk menanggalkan formalitasnya.
“Hehe … maaf.”
“it’s okay. Cuma agak aneh aja dipanggil bapak sama temen sekelas,” ujar Taehyung yang kembali memancing kekehan dari Jimin. “Panggil nama aja, oke?”
“Oke deh, Taehyung.” Jimin menyepakati.
“Ya udah, kalau gitu aku sama Nara pamit, ya? Sampai besok.”
Jimin anggukan kepala dan tersenyum.
“Nara, pamit dulu sama Kak Jimin, Nak.” Titah Taehyung kemudian pada sang anak sebelum keduanya benar-benar pergi.
“Dadah, Kak Jimin!”
Anak perempuan itu melambai semangat yang dibalas Jimin dengan energi yang sama. Sepasang ayah dan anak itu memasuki mobil mereka. Lalu, tidak lama kemudian, mobil melaju dengan pelan, sebelum akhirnya berbelok di persimpangan, dan tak tergapai lagi oleh pandangan.
Jimin sampai ke rumah ketika matahari sudah kembali ke peraduan. Langsung ia istirahatkan tubuhnya yang remuk redam sesaat setelah ia mencapai kamar. Jimin pulang sedikit lebih larut daripada biasanya hari ini. Itu karena ia terlalu asyik menghabiskan waktu bersama Taehyung dan Nara siang tadi, hingga tugasnya untuk membuat laporan harian jadi sedikit terbengkalai. Tapi tidak apa-apa, hari ini menyenangkan. Bertemu teman lama dan anaknya yang sudah cukup besar.
Jimin tersenyum kala mereminisensi memori siang tadi. Ada sesuatu yang berjengit di hatinya saat kembali mengingat fakta bahwa teman sekolah yang pernah jadi pusat seluruh atensinya itu, kini sudah berkeluarga dan hidup bahagia. Mungkin hal itu pula yang memicu perasaan campur aduk yang timbul di hatinya setiap kali ia melihat interaksi Taehyung dan Nara, juga bagaimana sayangnya laki-laki itu kepada sang anak.
Tidak ada perasaan kecewa, Jimin cuma sedikit tak menyangka.
Jimin bawa tubuh lelahnya beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar. Duduk di kursi kayunya dan membuka laci di sana. Ada sebuah buku bersampul warna biru yang sudah sedikit usang. Ia bawa dan ia buka halaman pertamanya.
Tampil di sana, foto seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera, memamerkan senyum persegi panjangnya yang unik dan memesona. Ibu jari tangan kirinya teracung sementara tangan kanannya terlihat merangkul teman di sebelahnya. Jimin sudah tidak ingat siapa orang di samping anak laki-laki itu. Ia menggunting potret yang lain dan hanya menyisakan si laki-laki dengan senyum unik itu sendirian.
Iya, itu adalah potongan gambar yang sengaja ia gunting dari selembar foto kelas yang diambil ketika hari perpisahan SMA dulu. Jimin menggunting foto si anak laki-laki untuk ia tempel dan ia dekorasi di halaman pertama buku hariannya.
Anak laki-laki itu; Kim Taehyung sepuluh tahun yang lalu. Saat eksistensinya di kelas, di lapangan, di kantin, di mana pun, masih selalu menjadi pusat atensi seorang Park Jimin. Di bawah potretnya, tergubah frasa yang terbaca ‘My First Love’ dari tulisan tangan rapi milik Jimin. Pun isi dari buku harian yang kini digenggamnya, hanya menceritakan tentang Kim Taehyung dan Kim Taehyung saja.
Kim Taehyung yang menarik perhatiannya sejak hari pertama ia menginjak masa SMA.
Pitanya salah warna di hari pertama masa orientasi siswa, tapi ia tetap kelihatan santai. Jimin yang justru mengeluh karena ia lupa membawa peniti seperti yang ditugaskan pengurus osis. Padahal malamnya, ia menghabiskan waktu dua jam penuh menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa ke sekolah besok pagi.
“Nggak bawa peniti, ya?” tanya Taehyung pada Jimin yang ketika itu tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah karena takut dihukum. Semalas-malasnya ia pada peraturan osis dan kakak-kakak kelas yang suka sok berkuasa, nyalinya tetap nol besar untuk menantang mereka. Lantas, jimin cuma mengangguk pada anak laki-laki di sebelahnya itu. Di seragamnya; tepat di bagian dada sebelah kanan, ada bordiran nama ‘Kim Taehyung’ yang benangnya masih kemana-mana. Sepertinya ia tidak sempat mendatangi tukang jahit untuk merapikan badge namanya. “Pake punya gue mau?”
“Terus lo gimana?”
“Gue udah salah warna pita juga. Biar sekalian aja dihukumnya.”
Jimin ragu buat menerima awalnya, tapi ketika Taehyung mengulurkan satu-satunya peniti yang ia bawa sambil berkata; “Nih, Jimin.” dengan santainya, akhirnya benda kecil itu Jimin ambil juga.
Jimin masuk ke sekolah ini tanpa teman dari sekolah SMP yang sama, dan kemampuannya untuk mengajak orang lain berkenalan lebih dulu juga tidak terlalu bagus. Tapi siswa baru yang namanya Kim Taehyung ini memanggil nama Jimin seakan ia sudah mengenal hampir enam belas tahun hidup Jimin sebelumnya. Jimin sering mendengar bahwa cinta pertama tumbuh di masa-masa remaja, ia cuma tidak menyangka miliknya akan ia rasa ketika bahkan belum sehari dirinya menyandang predikat sebagai murid SMA.
Jimin terkekeh geli pada kilasan meori masa lalunya, alasan yang naif dan lugu untuk jatuh cinta. Tapi barangkali, memang begitulah kehidupan remaja bekerja. Ia tutup buku hariannya dan ia simpan kembali ke tempatnya. Kalau dirinya di masa lalu tidak bisa bersanding dengan Kim Taehyung (Sebab laki-laki itu adalah siswa popular dan Jimin hanya siswa biasa yang mengaguminya), apalagi di masa sekarang ketika laki-laki itu sudah berkeluarga dan hidup bahagia.
Jimin tersenyum dan gelengkan kepala karena di otaknya kini muncul pikiran yang tidak-tidak. Ia hela napas panjang sebelum benaknya lebih jauh berkelana. Lalu, ia bawa tubuhnya bangkit menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Untuk meredam badai memori yang tiba-tiba muncul ke permukaan lagi.
Cinta pertama memang sukar dilupakan. Tapi bukan berarti tidak bisa, kan?
Jimin menepati janjinya untuk mengajari Nara membuat origami. Jam pelajaran formal berakhir setengah jam yang lalu. Sekarang waktunya bermain bebas. Sementara anak-anak lain bermain kejar-kejaran di lapangan sambil tetap diawasi guru yang lain, Jimin membawa Nara yang menolak untuk bergabung dengan teman-temannya menjauh dari lapangan. Ia membawa anak perempuan itu ke kelas prakarya untuk duduk di kursi dengan meja-meja kecil yang ada di sana. Memberikannya beberapa lembar kertas dan mengajaknya membuat origami.
Dua puluh menit sudah berlalu dan ini adalah percobaan ke tiganya. Nara belum berhasil membuat satu pun burung origami. Anak itu mudah kesal dan emosi hingga terus melempar tantrum berkali-kali. Tapi Jimin tetap mengajarinya dengan sabar dan telaten, ia lipat kertas di tangannya perlahan sembari memberi intruksi agar Nara bisa mengikuti.
Akan tetapi, tidak sabaran adalah salah satu perilaku yang memang melekat pada anak penyandang tunalaras. Nara kehabisan stok sabarnya dan ia bereaksi dengan membanting meja kecil di hadapannya, hingga lembaran kertas origami di atasnya kini berceceran ke lantai.
“AKU NGGAK BISA BUAT ORIGAMI!” teriaknya emosi yang suaranya beresonansi ke seluruh sudut ruangan.
Jimin, menarik napas pelan sebelum mencoba menenangkan si anak murid. “Bukannya nggak bisa, Nak, tapi belum. Kita coba lagi nanti, ya?” ucapnya selembut mungkin.
Tapi hal itu tidak dibeli oleh Nara yang sudah terlanjur digerus badai emosi. “NGGAK!! AKU NGGAK MAU BUAT ORIGAMI LAGI!”
Tidak cukup hanya marah-marah sambil berteriak, anak itu beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke arah lembaran kertas origami yang berceceran di atas lantai, dan menginjak-injaknya penuh geram. Beberapa lembarannya bahkan sampai ia robek.
Jimin tidak marah pun kaget. Ia sudah biasa menyaksikan pemandangan seperti ini. bahkan yang lebih ekstrim lagi. Jimin biarkan anak didiknya itu menumpahkan kemarahan agar amarahnya tak tertahan. Mencegah anak untuk marah hanya akan mengganggu perkembangan emosinya. Jadi, Jimin cuma diam sambil tetap memperhatikan. Takut-takut Nara melakukan sesuatu yang malah akan menyakiti dirinya sendiri.
Baru saat anak itu sudah kelihatan lebih tenang, Jimin menghampirinya. Ia sejajarkan diri dengan Nara yang dadanya kembang kempis menahan amarah yang belum sepenuhnya mereda. Jimin tatap anak perempuan itu dan mengusap kedua bahunya pelan.
“Tarik napas dulu, Nak,” Titahnya lembut yang mana langsung dituruti oleh si anak perempuan. “Nara sudah selesai marahnya?”
Nara tidak menjawab tapi raut wajahnya sedikit lebih melunak. Jimin gandeng tangan mungilnya untuk mengajaknya kembali duduk di kursi. Anak itu tak banyak bicara dan hanya mengikuti langkah sang guru.
“Minum dulu,” Ujar Jimin sembari mengulurkan botol air yang dibekal Nara dari rumah—yang tadi sengaja ia bawa sebelum mereka memasuki kelas prakarya. Dibiarkannya Nara meneguk air minumnya sambil ia mengusap punggung sempitnya. “Nara kesel, ya?”
Anak itu tak memberi tanggapan tapi Jimin lihat romannya yang masih muram. Jimin kembali menghela napasnya pelan sebelum mengkonfrontasi si anak didik. “Kalau kesel nggak apa-apa marah, biar dadanya nggak penuh terus meledak. Tapi banting-banting barang apalagi meja itu berbahaya, Nak. Kalau mejanya kena kaki Nara terus nanti Nara terluka bagaimana?”
Jimin tahu anak yang tantrum tidak akan menanggapi ucapan orang dewasa di sekitarnya, tapi ia tetap berusaha memberi pengertian karena ia tahu kalau Nara tetap mendengarkannya.
Hening mengisi detik yang berlalu di antara sepasang guru dan anak didiknya yang cuma saling diam. Nara belum mau membuka mulut dan wajahnya masih ia tundukkan ke lantai. Sementara guru di hadapanya mencoba memberi waktu kepada si anak agar bisa lebih tenang.
“Kalau Nara nggak mau buat origami lagi nggak apa-apa, nanti kita ganti sama yang lebih Nara sukai, ya?”
“Nara mau buat origami tapi Nara nggak bisa-bisa!!” anak perempuan itu akhirnya bersuara, tidak lagi meledak-ledak seperti tadi tetapi kesal masih kentara di raut dan nada suaranya.
Jimin mengangguk dan mencoba memahami. “Bukan nggak bisa, Nak, tapi belum,” ia katakan kalimat menghibur agar Nara tak begitu saja menyerah dan mundur. “Nara tau anak bayi?” lanjutnya kembali yang mana kini mendapat atensi dari si anak perempuan. “Anak bayi juga nggak bisa langsung berlari ketika dia lahir. Tapi ada prosesnya. Anak bayi merayap dulu, terus merangkak, terus jalan kaki, baru deh dia bisa lari,” Jelasnya pelan dengan intonasi dan bahasa tubuh yang dibuat semenyenangkan mungkin. “Begitu juga dengan buat origami. Nggak bisa langsung jadi. Kita harus belajar melipat yang rapi dulu, harus sambil sabar belajarnya, baru deh origaminya bisa jadi.”
Sepasang mata mungil yang tadinya ada pada Jimin, kini berpindah pada lembaran kertas origami yang telah sobek di lantai. Nara menatapnya nanar seperti riak perasaan bersalah kini muncul di hatinya.
“Nara masih mau buat origami?”
Nara mengangguk, pelan dan sedikit malu-malu.
“Tapi kertas origaminya sobek sekarang. Kira-kira masih bisa dibuat origami nggak, ya, kalau kertasnya sobek?”
Nara menggeleng kecil. Wajahnya merengut menyadari kesalahannya sendiri.
“Berarti nanti kalau marah tidak sambil merusak barang lagi, ya?” cicit Jimin lembut kemudian. “Karena nanti kalau barangnya mau Nara pakai lagi sudah nggak bisa, karena sudah rusak.”
Anak perempuan itu tidak merespons lagi. Alih-alih, ia mainkan ujung rok sekolahnya gugup. Jimin tidak menyalahkan perilakunya yang membanting dan merusak barang. Wajar untuk seorang anak yang memang punya hambatan emosi dan sering tak terkendali. Akan tetapi, hal itu bukan Sesuatu yang bisa dibenarkan dan terus dimaklumi. Maka dari itu, Jimin berusaha memberi pengertian kalau apa yang dilakukan Nara bukanlah sesuatu yang baik, sebab pasti akan selalu ada akibat yang timbul setelahnya.
Jimin tarik napasnya panjang. Walaupun sudah biasa, bukan berarti ia tidak pernah lelah jika menghadapi anak tantrum. Sedikitnya, 30 persen energinya terkuras saat harus menghadapi anak-anak yang sedang melempar tantrum.
Sepasang netranya lalu pindah berlabuh pada jam dinding yang digantung di atas pintu. Waktu menunjukan pukul 11.40, sudah nyaris jam makan siang. Itu artinya, anak-anak sebentar lagi akan dijemput orang tuanya. Begitu pun Nara.
“Sudah siang ternyata, Nak. Papa sebentar lagi jemput,” Nara bereaksi ketika sang Ayah disebut. Ia dongakkan kepala ke arah Jimin. “Kita buat origaminya besok-besok lagi, ya? Sekarang Nara siap-siap buat pulang dulu,” ujar Jimin yang disambut anggukan si anak perempuan. “Tapi sebelum pulang, kita bereskan dulu kertas origami di lantai, oke? Ayo, Kak Jimin akan bantu Nara bereskan.”
Walaupun masih anak-anak, mereka tetap harus diajarkan bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan. Jadi siang itu, Jimin tidak membiarkan Nara lolos dan bisa pulang begitu saja, ia mengajak anak didiknya itu untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang tadi sempat ia buat. Nara menuruti perintah sang guru meski terlihat sedikit ogah-ogahan. Pelan-pelan, Nara akan belajar menjadi anak yang lebih baik. Pelan-pelan, ia akan bisa bersikap seperti wajarnya anak seusianya.
Jam 12.05 Nara dijemput sang ayah, Taehyung sudah menunggunya di bangku dekat gerbang sekolah. Begitu melihat Nara keluar dari kelas, ia langsung merentangkan tangan untuk menyambut sang putri yang langsung menghambur ke pelukannya. Hati Jimin sedikit berjengit melihat pemandangan itu tapi juga ada hangat yang menjalar ke tiap rongganya. Ia ukir senyum di sudut-sudut bibirnya.
Tidak membuang waktu sama sekali, Jimin segera menyampaikan sedikit informasi tentang kegiatan Nara hari ini yang detailnya sudah ia tulis di buku laporan harian dan bisa langsung Taehyung baca jika sampai di rumah.
“Tadi anaknya sedikit tantrum.” Jimin sampaikan juga informasi yang menjadi highlight hari ini.
“Oh, iya? Kenapa?”
“Tadi kita mau buat origami. Terus Nara belum bisa dan origaminya nggak jadi-jadi,” jelas Jimin kemudian. “Terus, ya, mungkin kesel. Jadinya agak marah-marah, deh, tadi.”
Taehyung loloskan kekehan tertahan dan raut wajahnya siratkan perasaan bersalah. “Aduh, maaf, ya? Nara pasti ngerepotin kamu banget.”
“Eh? Nggak, kok. Nggak sama sekali,” sangkal Jimin. “Udah tugas aku ini. Lagipula Naranya gampang ditenangin kok tadi,” sambungnya kemudian. “Cuma mungkin nanti pas sampai di rumah agak dihibur aja. Karena kayaknya anaknya masih agak bete, deh.”
Ayah satu anak itu tersenyum dan mengalihkan pandangan pada putrinya yang memang masih memasang tampang muram. Ia terkekeh renyah yang suara kekehannya berhasil mengirim getaran hingga ke tulang punggung milik Jimin. “Oke, deh. Makasih banyak ya, Jimin?” ujar Taehyung setelahnya. “Sampai besok.”
Setelah pamit dan menyalami sang guru, Nara digandeng sang Papa naik ke dalam mobil. Keduanya lalu melaju menuju rumah.
Di dalam mobil, hanya ada suara deru mesin dan bunyi kendaraan lain yang terdengar. Nara tak banyak bicara seperti biasa, tapi matanya fokus menatap jalanan beraspal.
“Nara mau beli es krim dulu sebelum pulang?” tanya Taehyung memecah kediaman. Ia ingat saran Jimin untuk menghibur sang putri. Es krim mungkin bisa membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik.
Tapi tak sesuai prediksinya, anak perempuannya itu ternyata malah menggelengkan kepala. Alih-alih, ia bergumam dengan suaranya yang pelan tapi masih cukup kedengaran. “Nara mau beli kertas origami.”
Kerutan berlapis timbul di dahi sang ayah. Tapi, sebelum ia sempat bertanya, Nara sudah kembali melanjutkan ucapannya. “Tadi Nara sobekin kertas origaminya kak Jimin,” ujarnya lesu kemudian. “Jadinya nggak bisa buat origami lagi karena kertasnya rusak.”
Taehyung perhatikan putrinya dengan seksama. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan tantrum sang anak yang tadi Jimin ceritakan. Taehyung mengangguk paham. Lalu, ia ulas satu senyum karena suara dan nada bicara Nara yang sarat perasaan bersalah. Meski sering melakukan sesuatu yang tak terkendali saat emosi, tapi Taehyung tahu bahwa Nara adalah anak yang lembut hati. Ia kerap kali merasa bersalah dan berusaha membuat situasi menjadi lebih baik setelah kekacauan yang dibuatnya.
“Kak Jimin marah? Minta ganti kertas origaminya ke Nara?” tanya Taehyung asal. Ia tahu Jimin tidak akan melakukannya.
Nara menggeleng karena memang itu kenyataannya. Jimin sama sekali tidak marah apalagi memintanya mengganti apa yang ia rusak. Alih-alih, gurunya itu tetap mengkhawatirkan dan memperhatikannya. Mungkin itu sebabnya kenapa Nara begitu merasa bersalah. “Nara mau beli kertas origami biar bisa belajar bikin origami lagi sama kak Jimin.” cicitnya pelan.
Taehyung tersenyum lalu mengusak rambut sang putri lembut. “Oke, ayo kita beli kertas origami,” cetusnya kemudian. “Dan, kalau Nara memang merasa bersalah, besok minta maaf sama kak Jimin, ya?”
Nara mengangguk mantap mematuhi sang ayah. Sepasang ayah dan anak itu kembali melanjutkan perjalanan, mengubah arah dari rumah, menuju toko buku untuk membeli kertas origami.
Esok harinya, hal pertama yang Nara lakukan saat ia memasuki kelas adalah menghampiri Jimin. kemudian, ia betulan melakukan apa yang ayahnya katakan; meminta maaf kepada sang guru. Ia pamerkan kertas origami yang kemarin dibelinya bersama sang ayah, meminta Jimin untuk kembali mengajarinya membuat origami. Jimin tersenyum senang, menerima permintaan maaf Nara, dan bersedia mengajarinya membuat origami kapan pun ada kesempatan.
Hari-hari Nara di sekolah berlalu dengan menyenangkan hingga tanpa terasa, genap sebulan sudah ia belajar di sekolah baru. Banyak perkembangan yang Nara alami seperti; ia sudah tidak terlalu sering menyendiri dan mau bergabung dengan kawan-kawannya saat bermain. Dan meskipun perilaku dan emosinya kadang masih sering tak terkendali, tapi ia sudah jarang merusak apa pun yang ada di sekitarnya ketika marah. Pelan-pelan, Nara berubah menjadi anak yang lebih ceria dan mau berbaur bersama sekelilingnya. Dan sebagai seorang ayah, Taehyung tidak bisa mengekspresikan apa pun lagi selain rasa syukur dan bahagia.
“Nara udah banyak berubah, ya, semenjak masuk SLB,” ujar ibu ketika sore ini menikmati secangkir teh hangat bersama putranya di teras rumah. Nara juga ada di sana, melipat-lipat kertas origami yang kini selalu dibawanya kemana-mana. “Sudah nggak terlalu kasar lagi perilakunya, sudah jarang murung dan melamun juga ….”
Taehyung tersenyum merespons ucapan sang ibu. “Itu karena penanganan dan lingkungannya yang sekarang tepat, Bu. Mungkin kalau masih di sekolah lama, Nara akan lebih susah berkembangnya.”
“Iya, untung kamu cepet aware sama keadaan Nara. Nggak nunggu dia makin gede dulu baru disekolahin ke SLB. Kalau makin gede kan nanti malah makin susah ditanganinya.”
Taehyung mengangguk mengiyakan sang ibu. Keduanya kini diam, memperhatikan Nara yang masih menyimpan konsentrasi penuh pada kertas-kertas origami di hadapannya. Saking fokusnya memperhatikan si anak kecil, keduanya sampai terlonjak kaget ketika anak itu berseru kencang; “YES!! BERHASIL!”
Kedua orang dewasa itu mengernyitkan dahi dan memasang raut heran atas antusias si anak perempuan yang tiba-tiba.
“Papa, Nenek, lihat! Nara berhasil bikin burung origami!” serunya kegirangan yang mana berhasil memancing kekehan dari dua orang dewasa di depannya. Tangannya terangkat tinggi-tinggi memamerkan hasil karyanya yang walaupun belum rapi, tapi sudah kelihatan bentuknya.
“Wah, hebat! Jago banget cucu nenek.” Puji sang nenek mengacungi jempol, membuat Nara tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“Kata kak Jimin kalau Nara bisa bikin lima, kak Jimin mau bikinin Nara origami kupu-kupu!” lanjutnya masih bersemangat. “Berarti Nara tinggal bikin … satu … dua …” jari-jari mungilnya mulai menghitung dengan perlahan. “Empat … iya, kan?” tanyanya yang mendapat anggukan dari sang nenek dan juga papa.
Sementara anak kecil itu kembali sibuk pada kegiatannya, dua orang dewasa di sekitarnya masih terkekeh karena tingkah menggemaskannya.
“Nara kayaknya deket banget, ya, sama kak Jimin kak Jimin itu?”
Taehyung anggukan kepala setuju. Dari sekian banyak guru yang mengajarnya di sekolah, kak Jimin adalah yang namanya paling sering disebut dalam tiap cerita keseharian anak perempuan itu.
“Oh iya, aku belum cerita, ya, sama Ibu?” cetus Taehyung menarik atensi ibu. “Jimin itu temen SMA aku dulu, Bu.”
Ibu mengangkat alisnya sedikit terkejut. “Oh, ya?”
“Iya, dulu tiga tahun sekelas di SMA.”
“Oalah … pantesan Nara deket banget sama dia. Mungkin karena papanya sama kak Jimin punya chemistry.”
Taehyung tertawa mendengar seloroh sang ibu. “Enggak, lah, Bu. Dulu di SMA kita nggak deket-deket amat juga. Nggak satu circle kalau kata anak jaman sekarang mah,” kelakarnya kemudian. “Jimin bisa deket sama Nara karena emang dia orangnya hangat aja, kelihatan sangat penyayang.”
Ibu bisa menangkap kekaguman dari nada suara dan sorot mata putranya ketika ia berbicara tentang guru sang cucu, tapi beliau tidak mengatakan apa-apa. Alih-alih, beliau berujar. “Nanti undang aja kak Jimin ke acara ulang tahun Nara bulan depan.”
Kerutan berlapis kontan muncul di dahi Taehyung. “Kan cuma mau syukuran kecil aja, Bu, sama anak panti yang lain?”
“Ya, nggak apa-apa diundang aja. Dia kan temen kamu, terus guru yang paling deket sama Nara. Nara juga pasti seneng kalau ada kak Jimin di acara ulang tahunnya.”
Taehyung mengangguk mempertimbangkan pendapat sang ibu. “Ya, udah, nanti kalau udah deket-deket hari H aku coba undang Jimin, ya.” ucapnya kemudian yang mana ditanggapi senyum dan anggukan ibu.
Sore itu mereka habiskan dengan secangkir teh hangat, dan sebongkah perhatian pada Nara yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
Pagi-pagi, Taehyung mengantar Nara sekolah seperti rutinitasnya saban hari. Banyak murid-murid lain yang juga diantar orang tuanya sudah sampai di sekolah pagi itu. Setelah mencari lahan parkir dekat pintu gerbang agar mudah keluar lagi nantinya, Taehyung buru-buru turun dari mobil untuk mengantar sang putri ke kelasnya. Lain halnya seperti beberapa orang tua yang hanya mengantar anaknya sampai gerbang sekolah, Taehyung selalu memastikan untuk mengantar Nara sampai ke depan kelas.
Keduanya langsung disambut oleh sapaan Jimin yang sudah menunggu murid-murid di depan pintu kelas begitu mereka tiba. “Selamat pagi, Nara. Selamat pagi, Papa.”
Sepasang anak dan ayah itu lalu menyahut dengan kompak.
“Kak Jimin, kata nenek, aku sebentar lagi ulang tahun.” Sekonyong-konyong, anak berumur enam tahun itu membeberkan ‘tmi’ yang mana kontan mengundang kekehan dari sang guru dan ayah.
“Oh, ya? Yang ke berapa?”
“Tujuh!” ujarnya antusias dengan tangan yang terangkat tinggi melambangkan angka tujuh. Acungan tangannya salah, tapi jawaban yang lolos dari mulutnya seratus persen akurat. Dan hal itu adalah apa yang kembali mengundang Jimin untuk terkekeh.
“Keren. Selamat ulang tahun!”
“Belum.” Ucap Nara merengut.
Belum sempat Jimin merespons rengutannya, anak perempuan itu sudah diingatkan sang ayah untuk segera masuk ke dalam kelas. Ia lantas menurut dan berpamitan pada sang ayah. Setelah mencium tangan papanya, Nara buru-buru masuk ke kelas dan duduk manis di bangkunya.
Kini tinggal dua orang dewasa itu yang tersisa. Taehyung belum pamit pergi karena ia punya sesuatu yang ingin disampaikan pada Jimin.
“Oh iya, Jimin,” cetus Taehyung, sepenuhnya menarik atensi si lawan bicara. Jimin mengangkat satu alisnya sebagai tanda bahwa ia memperhatikan apa pun yang akan Taehyung katakan. “Aku hari ini ada meeting, kemungkinan nanti akan sedikit terlambat buat jemput Nara. Boleh tolong titip Nara dulu nggak semisal nanti aku belum datang?”
“Oh, boleh dong. Tenang aja, nanti aku ajakin Nara main dulu sampai kamu datang.”
Taehyung tersenyum lalu menyampaikan terima kasih atas kesediaan Jimin.
“Sama satu lagi, kamu kira-kira ada acara nggak, ya, weekend ini?”
Wajah Jimin mendangak ke arah langit—membuat gestur seperti orang yang tengah berpikir. “Weekend ini, ya?” tukasnya kemudian. “Nggak ada, sih. Kalau libur sekolah aku ikut libur juga. Jadi, ya, cuma diem di rumah aja biasanya. Kenapa emang?”
“Kebetulan kalau gitu. Aku mau undang kamu ke acara ulang tahunnya Nara hari minggu besok.”
“Oh, betulan mau ulang tahun ternyata?” tanya Jimin sambil terkekeh yang mana mengundang laki-laki di hadapannya untuk turut meloloskan kekehan.
“Iya, tapi jangan bilang-bilang sama guru yang lain, ya? Soalnya cuma kamu aja yang diundang.” Ujar Taehyung setengah berbisik.
Jimin dibuat tertawa karenanya. “Kok gitu?”
“Soalnya acaranya cuma syukuran kecil-kecilan sama anak panti asuhan aja, sih. Datang, ya, nanti?”
Matahari belum naik terlalu tinggi. Tapi Jimin sudah merasakan panasnya menjalar hingga ke pipi. Ia tidak mengerti kenapa ada yang bergetar di hatinya saat ini. Pun ia tahu kalau dirinya tak perlu sampai merasa begini. Akan tetapi, menjadi satu-satunya orang yang diundang Taehyung di hari spesial putrinya, membuat Jimin merasa dispesialkan juga. Ia tak bisa menahan diri untuk tak merasa istimewa.
Taehyung pergi dengan membawa janji dari Jimin yang mengatakan bahwa ia akan datang hari minggu nanti. Dan Jimin, mengajar di kelas hari itu dengan hati yang berbunga sejak pagi. Beberapa kali ia sempat digoda oleh guru-guru lain hanya karena kelihatan sangat happy. Hatinya terlalu merasa gembira sampai sulit untuknya bisa menyembunyikan ronanya.
Namun di ujung hari, akhirnya Jimin mengerti bahwa tak seharusnya ia merasa begitu istimewa, hingga melupakan fakta bahwa Taehyung adalah seorang laki-laki yang telah berkeluarga.
Jimin ditampar kenyataan tepat di depan matanya ketika pada siang harinya, Taehyung datang untuk kembali menjemput sang anak. Laki-laki itu datang sedikit lebih terlambat seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Tapi Jimin tidak peduli, kepalanya sibuk memproses fakta bahwa Taehyung tidak hanya datang sendiri.
Ada seorang wanita di dalam mobilnya, duduk tepat di sebelah kursi kemudi—di sebelah Taehyung.
‘Itu ibunya Nara, istri Taehyung’ batinnya bermonolog. Wanita itu tetap di dalam mobil sementara sang suami menghampiri anak mereka. Jimin terlalu sibuk mencerna segalanya sampai ia baru mengerti kalau dirinya tak sempat merespons ucapan pamit yang disampaikan Nara dan sang ayah.
Tahu-tahu, mobil itu sudah melaju di depan matanya, membawa keluarga kecil yang bahagia, dan meninggalkan Jimin dengan tarikan napas panjang yang ia hela.
Hatinya yang sejak pagi ditumbuhi bunga, tiba-tiba berubah menjadi hampa.
Jimin menghabiskan minggu paginya berpikir tentang apakah ia harus memenuhi undangan untuk datang ke acara ulang tahun Nara, atau sebaiknya tidak usah? Acaranya akan dimulai pukul 11 siang ini, dan Jimin hanya punya waktu satu jam lagi untuk membuat keputusan. Hatinya berat untuk pergi, tapi ia enggan dianggap tak menghargai.
Lagipula, Jimin tidak punya alasan untuk mangkir dari janji yang sudah terlanjur ia berikan. Satu-satunya alasan yang menjadi berat baginya untuk datang adalah; ia tidak ingin melihat Taehyung dan keluarga kecilnya yang bahagia, lalu membuat perasaannya sendiri semakin merana. Hanya sekilas saja matanya menangkap sosok istri Taehyung tempo hari, hatinya sudah dipenuhi iri dengki. Apalagi jika ia harus berbaur bersama mereka di acara ulang tahun Nara nanti.
Jimin embuskan napas, berat dan panjang. Tidak seharusya ia merasa begini. Taehyung cuma cinta pertama masa SMA yang semestinya sudah ia lupa. Itu sudah terjadi satu dekade lalu dan seharusnya ia pun sudah maju. Tapi, Jimin masih di sini, di atas kasurnya dengan piyama yang belum ia ganti dan perasaan bimbang dalam hati yang tak urung reda sejak pagi. Berlebihan memang. Jimin jadi sebal pada dirinya sendiri.
Kini lima belas menit lain sudah Jimin habiskan. Ia harus segera membuat keputusan. Ini hanya sesederhana datang ke acara ulang tahun seorang murid kok. Kalaupun ia harus melihat Taehyung dan keluarga bahagianya, ya tidak apa-apa, harusnya. Ia laki-laki dewasa yang sudah pernah ditempa ujian hidup sana-sini, melihat cinta pertamanya dengan si istri tidak akan sampai membuatnya mati karena patah hati.
Maka, dengan perasaan yang masih sedikit berat, Jimin putuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu bersiap untuk pergi.
Jimin sampai di tempat sepuluh menit sebelum acara dimulai. Tadi ia sempat meminta Taehyung untuk mengirimkan alamat tempat acaranya digelar. Ternyata ulang tahun Nara betulan dirayakan di sebuah panti asuhan. Tidak ada dekorasi mewah yang menghias tiap sudut panti. Pun tamu yang hadir tidak begitu banyak. Hanya anak-anak panti dan para pengurusnya, juga beberapa kerabat dekat Taehyung, kelihatannya.
Untung Jimin tidak berdandan terlalu heboh. Ia datang dengan mengenakan celana jeans hitam dan kaos putih polos yang dipadukan bersama blazer warna kelabu. Sedikit upgrade dari style-nya sehari-hari yang biasanya hanya mengenakan kemeja atau baju dinas.
Jimin berjalan masuk menuju pintu utama di mana ternyata; Taehyung sudah menunggunya. Senyumnya mengembang ketika ia menangkap sosok Jimin yang sedang berjalan ke arahnya.
“Jimin, sampai juga akhirnya,” cetus Taehyung. “Sempet takut kamu bakal nyasar tadi.” Taehyung katakan demikian karena panti asuhan ini memang terletak sedikit jauh dari jalan raya dan keramaian. Agak sulit ditemukan semisal tidak benar-benar memperhatikan jalan.
“Enggak, kok, aman,” jawab Jimin yang diiringi dengan acungan jempol. “Aku nggak telat kan, ya?”
“Sama sekali enggak. Belum dimulai, kok. Kalau telat pun sebetulnya nggak apa-apa. Acaranya juga cuma tiup lilin sama doa bersama aja,” jelas Taehyung kemudian. “Sama makan-makan, sih, paling. Yang satu itu mah nggak boleh kelewatan kan, ya?”
Jimin tertawa mendengar kelakar Taehyung. Laki-laki ini selalu bisa membuat suasana jadi tak terasa canggung. Padahal sebelum tadi datang kemari, hati Jimin masih diselimuti bimbang. Tapi kini, perasaannya jadi jauh lebih tenang.
“Naranya di mana, by the way? Ini aku punya hadiah kecil buat dia.” Tanya Jimin sembari menunjukkan sebuah paper bag yang ternyata sudah dijinjingnya sejak tadi.
“Duh, repot banget.”
“Nggak repot. Cuma hadiah kecil aja, kok. Sedikit apresiasi karena sudah hadir di dunia dan bikin senang papa mamanya.”
Taehyung ukir segaris senyum atas kalimat yang dituturkan Jimin. “Naranya di belakang, di halaman sama anak-anak lain. Nanti kita tiup lilinnya di sana.”
“Oke, kalau gitu aku langsung ke belakang aja kali, ya?”
“Iya, nggak apa-apa kan nggak ditemenin? Aku masih nunggu beberapa kerabat yang katanya mau datang.”
“Oh, nggak apa-apa, santai aja. Aku ke belakang, ya?”
Taehyung beri anggukan kecil sebagai respons.
Jimin baru mengayunkan langkahnya sebanyak empat jengkal ketika ia mendengar Taehyung menyerukan namanya. Laki-laki mungil itu lalu berbalik dan mendapati Taehyung yang tengah tersenyum ke arahnya. Dua pasang mata mereka bersinggung tatap, saling menyapa dalam sekuen waktu pukul sebelas. Sejenak keduanya diam dan tak mengatakan apa-apa, hingga suara lembut Taehyung yang berkata “Makasih udah datang.” mampir dengan sopan ke indera pendengarannya.
Itu harusnya jadi ucapan sederhana. Mungkin juga Taehyung ucapkan pada banyak tamu lainnya. Tapi kenapa ada gemuruh di hati Jimin saat Taehyung mengatakan itu sambil tersenyum untuknya. Terlebih ketika sorot matanya memancarkan tulus saat ia berkata.
Jimin jadi merutuki dirinya sendiri, sebab tak seharusnya ia merasa begini, utamanya di tempat di mana ia bisa berpotensi sakit hati. Jimin masih sepenuhnya ingat kalau Taehyung adalah lelaki beristri. Ia bisa kapan saja sakit hati jika tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
“Sama-sama.” balasnya singkat saja, ia hanya tersenyum tipis dan tidak memperpanjangnya lagi. Lantas pergi menuju halaman belakang agar gemuruh di hatinya segera menghilang.
Yang tidak Jimin tahu; sepasang mata Taehyung terus melekat dan memperhatikan tiap langkahnya, bahkan setelah ia lenyap di balik riuh tamu.
Waktu sudah menujukan tepat pukul 11 siang. Semua keperluan acara sudah disiapkan, pun tamu dan kerabat sudah pada berdatangan. Taehyung baru saja berniat memulai acara ketika ia melihat Jimin tengah asyik bercengkrama bersama Nara dan anak panti lainnya. Bercanda dan bermain entah apa tapi mereka tampak riang dan bergembira. Seperti lilin angka di tengah lilin-lilin kecil yang mengelilinya, Jimin jadi yang paling terang dan bersinar. Senyumnya merekah seperti bunga di musim semi kerap kali anak-anak kecil itu melontarkan celotehan. Taehyung tersenyum, takjub dan terkesan. Baru 10 menit lamanya Jimin datang, tetapi ia sudah mampu membuat anak-anak itu merasa nyaman.
Taehyung urungkan sementara niatnya untuk memulai acara. Memberikan waktu lebih lama untuk Jimin dan anak-anak itu tertawa bahagia. Juga untuk dirinya sendiri menyaksikan pemandangan hangat ini. Jimin hangat seperti matahari di awal musim panas, dan hangatnya sampai ke hati Taehyung dengan sopan, serta penuh izin. Sejenak ia membeku, lalu segalanya seperti berjalan dalam gerakan lambat. Sayup angin yang berembus dan pelan menerbangkan anak rambut Jimin yang sedikit basah karena berkeringat. Matanya yang memancarkan cinta terhadap karya-karya mungil Tuhan di hadapannya, dan suaranya yang lembut memanjakan mereka. Taehyung terpana. Ada desir hangat mengalir di darahnya saat ia melihat Jimin tertawa bersama anak-anak. Lalu entah bagaimana, hatinya ingin menjaga pemandangan ini selamanya.
Taehyung terpaku, nyaris tenggelam seandainya sikutan pada tulang rusuknya tak mengembalikannya pada kesadaran.
“Kok malah melamun begitu, sih, bukannya mulai acara?” itu ibu dengan suara lembutnya yang bertanya.
“Bu ….” Taehyung sepenuhnya kembali menginjak bumi. Ia garuk tengkuknya kikuk seperti baru saja kepergok melakukan seuatu yang tidak-tidak. “Iya, ini mau mulai. Maaf … itu barusan liatin Nara kayak seru gitu mainnya sama Jimin dan anak-anak lain.”
Ibu tersenyum penuh makna, tapi Taehyung tak mampu menangkap artinya. “Iya, ibu juga liatin dari tadi. Bener kata kamu, ya? Jimin orangnya penyayang, dan kelihatan hangat. Itu anak-anak aja bisa langsung deket sama dia.”
Taehyung mengangguk mengiyakan. Netranya kembali menangkap sosok Jimin yang masih tertawa bersama anak-anak yang mengelilinginya.
“Udah, ah, jangan dilihatin terus. Nanti terpesona. Mending sekarang mulai acaranya. Udah siang.” Ujar ibu menyelipkan sedikit godaan sebelum beliau beranjak pergi.
Taehyung hanya mampu membalasnya dengan senyum dan gelengan kepala.
Tidak membuang waktu lama, Taehyung segera memulai sambutan sebagai pembukaan acara. Seluruh atensi ia dapatkan, termasuk dari Jimin yang tadi sempat jadi satu-satunya pusat atensi miliknya. Dengan lugas ia menyampaikan sambutan, sapaan, dan ucapan terima kasih kepada semua yang sudah bersedia datang. Acara pun dimulai, diawali dari doa untuk Nara, nyanyian lagu ulang tahun, dan tiupan lilin dari kue yang potongan pertamanya diberikan untuk sang ayah. Kemudian nenek dapat potongan yang kedua. Dan Jimin sedikit membulatkan pupil matanya saat ia mendapatkan potongan yang ketiga.
Acara ulang tahun Nara berjalan cepat dan mengalir begitu saja. Semua orang menikmati dan turut berbahagia buat anak manusia yang umurnya baru bertambah satu. Tapi Jimin di tempat duduknya sekarang, sedikit merasa bingung. Kenapa ia dapat potongan kue ketiga setelah sang ayah dan nenek alih-alih ibunya Nara? bukankah eksistensinya harusnya tak lebih istimewa daripada sang ibu?
Jimin mengedar pandang ke sekitar, mencari sosok wanita yang ia lihat di mobil Taehyung tempo hari—yang ia duga sebagai ibunya Nara, istri Taehyung. Tapi Jimin tak menemukan kehadirannya. Kemana, ya, dia?
Di tengah perasaan bingungnya, Taehyung tiba-tiba saja duduk menyebelahinya. Membawa segelas minuman dingin yang ia julurkan tepat di depan Jimin.
“Barangkali kamu haus.” Ucapnya penuh perhatian.
Cuma dibalas gumaman terima kasih oleh Jimin yang semakin dibuat bingung. Kenapa Taehyung menghampirinya alih-alih mencari keberadaan sang istri?
“Udah makan, Jim?”
“Ini, baru makan kue yang dari Nara aja.”
Taehyung mengangguk, sama sekali tak menyadari kebingungan di raut Jimin. Lewat ekor matanya, Jimin melirik ke arah Taehyung yang sepasang netranya tengah mengedar mengawasi sekitar. Mata itu intens mengawasi anak-anak yang sedang bermain sambil berlarian. Sesekali, ia menegur anak-anak yang berlari terlalu serampangan hingga nyaris menabrak meja atau orang-orang yang berlalu-lalang. Jimin lihat sorot hangat dan penuh sayang, juga senyum yang tak lepas diukir Taehyung kala mengamati anak-anak itu. Hatinya menghangat, Taehyung menatap anak-anak itu seperti ia menatap anaknya sendiri.
“Kamu sering ke sini ya, Tae?” tanya Jimin kemudian. “Kamu kelihatan akrab banget sama anak-anak dan pengurus di sini soalnya.”
Sempat Jimin perhatikan beberapa kali tadi. Taehyung terlihat sangat nyaman dan akrab berbincang dengan beberapa pengurus panti dan berceloteh riang bersama anak-anak asuhnya.
Pertanyaan Jimin ditanggapi angkatan alis oleh Taehyung. Lalu, ia tersenyum sebelum akhirnya menjawab. “Kamu belum tahu, ya? Aku kan kerja di sini, Jim.”
Sepasang bola mata Jimin membulat mendengar pengakuan Taehyung. Ia tidak tahu menahu soal Taehyung dan pekerjaannya. Walau sebetulnya ia bisa membacanya pada berkas data milik Nara di sekolah, tapi ia tidak pernah melakukannya karena merasa itu bukan sesuatu yang perlu.
“Serius?” tanyanya lagi memastikan.
Taehyung anggukan kepala. “Panti asuhan ini sebetulnya dibangun keluarga. Ibuku pengurusnya. Aku ambil bagian juga di kepengurusannya.”
Ada kejut yang tidak disembunyikan Jimin di rautnya ketika ia mendengar penuturan Taehyung. Banyak hal tentang Taehyung yang sama sekali tak ia ketahui. Tetapi wajar saja, sebab satu dekade penuh keduanya tidak bertemu. Pun sejak dulu mereka memang tidak sedekat itu.
“Wow!” Jimin berdecak kagum. Tersenyum pada Taehyung yang membalasnya dengan lengkung serupa. “Aku baru tahu. Pantesan Nara juga langsung kelihatan akrab sama anak-anak di sini. aku kira emang perkembangannya yang udah melesat jauh. Ternyata emang kalian terkoneksi sama semua yang ada di panti.”
Sebuah kekehan lolos dari belah bibir Taehyung manakala ia mendengar apa yang Jimin katakan. “Nara akrab sama anak-anak di sini karena dia juga pernah tinggal di sini sebelumnya.”
Kini, kerutan berlapis muncul di kening Jimin. Ia semakin merasa bingung dan tidak tahu apa-apa. Nara pernah tinggal di panti asuhan? Kenapa Nara tinggal di panti asuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu benaknya hingga ia tidak mampu menyembunyikan kebingungannya.
“Nara pernah tinggal di sini ... Maksudnya?”
Taehyung miringkan kepalanya, menelisik raut wajah Jimin yang kentara dengan ekspresi bingung. Laki-laki itu kemudian tersenyum kecil, menyadari apa yang mungkin membuat si lawan bicara kebingungungan. “Ya, Nara pernah tinggal di sini sebelum aku angkat jadi anak.”
Jimin membelalakkan mata tak percaya, mulutnya sampai sedikit terbuka. Ia telan ludahnya, mencoba mencerna kata per kata yang Taehyung ucapkan. Pikirannya melayang dalam satu kotak sempit bernama keterkejutan. “Jadi maksudnya … Nara itu bukan ….?” Ucapnya menggantung di udara, Jimin agak kesulitan mencerna fakta hingga membuatnya jadi ragu untuk bertanya.
“Kalau yang mau kamu tanyain Nara itu anak kandung aku atau bukan, jawabannya; bukan. Nara bukan anak kandung aku. Nara tadinya anak asuh di panti ini dan baru aku angkat jadi anak waktu umurnya lima tahun.”
Jimin tercenung. Sekarang kebingungannya menjadi masuk akal. Kenapa ia mendapat potongan kue ketiga alih-alih ibunya Nara, kenapa Taehyung memilih duduk di sini bersamanya alih-alih membersamai sang istri. Semuanya, karena ia sudah salah menduga.
Jimin terdiam sembari masih terus mencerna informasi yang baru saja didapatkannya. Kerutan di dahinya tak kunjung terurai, dan sorot matanya masih refleksikan banyak tanya. Menyadari kebingungan di wajah si teman yang tak lantas surut, Taehyung kemudian melanjutkan percakapan mereka. “Sebetulnya, Nara itu anak tetanggaku di tempat tinggal yang dulu,”
Jimin pusatkan atensi pada Taehyung yang hendak memulai ceritanya. Ia perhatikan dengan seksama agar kebingungannya terjawab dan mereda.
“Ibunya meninggal nggak lama setelah melahirkan Nara, dan ayahnya … kabur nggak tau kemana,” Taehyung lihat kernyitan di ujung alis Jimin. Banyak pertanyaan pasti berebut tempat di benaknya saat ini.
“Kabur? Kenapa kabur?”
Pada bagian ini, Taehyung sedikit ragu untuk menceritakan latar belakang sang anak yang sesungguhnya. Terlalu tragis dan buat miris untuknya. Akan tetapi, ia yakin Jimin bisa dipercaya dan tidak akan menghakimi. Maka dari itu, Taehyung kembali melanjutkan ceritanya.
“Nara itu anak yang lahir dari hubungan di luar nikah. Ayahnya kabur karena nggak mau tanggung jawab, dan ibunya meninggal karena sempat mengalami pendarahan hebat,” Lanjutnya kemudian yang mana mendapat tatapan kaget sekaligus prihatin dari Jimin. “Sepeninggalan ibunya, Nara tinggal dan diasuh sama tantenya, kakak dari ibu. Tapi sayangnya, tantenya sama suaminya ini abusive. Dulu aku sama ibu sering denger Nara nangis, terus dibentak dan diteriakin dengan kata-kata yang sangat nggak pantes sama mereka. Bahkan banyak tetangga lain yang laporan kalau Nara sering dipukul juga,”
Ekspresi Jimin makin menunjukkan raut sedih dan prihatin. Telapak tangannya ia simpan di dada saking geram dan tidak percaya bahwa ada manusia yang begitu tega menyakiti anak-anak tak berdosa.
“Dan dari banyak laporan itu, kita sempet mengkonfrontasi om sama tantenya Nara. Cuma maling mana ada yang mau ngaku, ya? Mereka nyangkal kalau udah ngelakuin kekerasan sama Nara. Tapi buktinya bilang lain lagi, waktu didesak supaya bawa Nara buat diperiksa, ternyata di badannya Nara banyak luka lebam, malah ada luka bekas sundutan rokok juga. Akhirnya, setelah terbukti kalau om dan tantenya emang ngelakuin kekerasan, mereka diserahin ke pihak berwajib, dan Nara dibawa ibu buat tinggal dan diasuh di panti ini.”
Jimin menghela napas dalam. Sepasang matanya ikut terpejam. Ia tak menyangka jika Nara telah melewati banyak waktu mengerikan di umurnya yang bahkan baru genap tujuh. Hal ini jadi sangat menjelaskan kenapa anak perempuan itu punya masalah dengan kontrol emosi dan sosialnya. Tidak terbayang sebesar apa damage yang disebabkan dari luka kekerasan yang dialaminya di masa lalu.
“Nara masih umur 3-4 tahunan waktu dia sering dapat kekerasan dari om dan tantenya. Kebayang nggak, sih, Jim, anak sekecil itu udah harus nanggung beban emosi dan juga trauma?” Taehyung kembali bercerita. Matanya mengenang. Menatap tepat pada figur si anak yang tengah dibicarakan—yang kini sedang asyik membuka kado ditemani sang nenek. “Waktu pertama kali dibawa ke sini, Nara nangis terus, takut sama orang banyak. Dia juga nggak bisa denger suara keras sedikit. Maka dari itu akhirnya aku mutusin buat bawa Nara pulang dan adopsi dia secara resmi, biar bisa leluasa bawa dia terapi. Aku seneng Nara udah lebih pulih sekarang.”
Ada binar tulus kerap kali sepasang manik Taehyung tertuju pada sang anak. Satu hal yang pasti; Taehyung menyayangi Nara walaupun anak perempuan itu bukan anak kandungnya sendiri.
“Nggak nyangka ternyata Nara sesedih itu masa kecilnya,” cetus Jimin, pandangannya ikut terpaku pada anak perempuan itu. Rautnya khawatir sedang hatinya merasa pedih lagi prihatin. Satu hal wajar jika kisah masa kecil Nara mampu membawa perasaan sedih dan prihatin pada siapa pun yang mendengarkannya. “Tapi Nara beruntung karena kamu yang jadi ayahnya sekarang.”
Taehyung mengoper kerling pada Jimin karena sanjungannya yang tiba-tiba. Senyumnya terulas sebelum kemudian ia menimpali. “Nara juga beruntung kamu yang jadi gurunya. Makasih udah buat Nara lebih senang dan bisa kayak anak lainnya sekarang.”
Ada kosong yang mengisi detik saat dua pasang netra itu beradu pandang dalam satu garis lurus. Selengkung senyum turut terbit di sudut-sudut bibir Jimin. Rona yang tadinya samar kini memerah akibat pujian yang dilemparkan balik oleh si teman sekolah. Satu hal yang sempat ia lupakan kemudian muncul di benaknya. Soal kesalahpahamannya yang mengira bahwa perempuan yang bersama Taehyung dalam mobilnya tempo hari adalah istirnya. Mungkin perempuan itu memang bukan istri Taehyung atau seseorang yang punya hubungan dengannya. Sebab kalau iya, sudah barang tentu ia akan hadir di cara ulang tahun Nara, dan Jimin tidak akan mendapat potongan kue ketiga. Haruskah ia tanyakan perkara yang sempat mengganggunya sampai susah tidur itu? Jimin tidak ingin berasumsi dan menduga-duga. Ia ingin tahu apakah mungkin dirinya punya kesempatan untuk tetap menjaga perasaan di hatinya yang sudah lama ada?
Maka akhirnya, meski terselip sedikit ragu di hati, Jimin beranikan diri untuk bertanya.
“Tae,” panggilnya yang kemudian dijawab angkatan alis oleh si empunya nama. “Umm … beberapa hari lalu, waktu kamu jemput Nara, aku nggak sengaja liat ada perempuan di dalam mobil kamu. Itu pacar kamu, ya? Atau malah istri?”
Bukan keduanya, Jimin berani berasumsi. Tapi tetap ia tanyakan itu karena ia ingin pasti. Jimin lihat kerutan berlapis muncul di dahi Taehyung. laki-laki itu terlihat bingung dan berpikir.
“Perempuan? Siapa, ya?” wajahnya mendangak ke atas, seolah-olah tengah mencoba mengingat siapa orang yang dimaksud Jimin. Jimin menahan napas menunggu Taehyung memberikan jawabannya. “Oh, Bu Hana kali, ya?”
“Bu Hana?” tanya Jimin kemudian.
“Iya, beliau salah satu donatur di panti ini. Waktu itu kita baru selesai meeting di kafe deket sekolahnya Nara. Terus pulangnya Bu Hana nebeng karena beliau nggak bawa mobil dan kebetulan rumahnya searah aku pulang.”
Tanpa sadar, Jimin menghela napas lega, seperti beban ribuan kilo akhirnya terangkat dari pundaknya. “Oh, aku sempet ngira kalau itu istri kamu.” Gumamnya pelan dan sedikit malu. Ia menghabiskan waktu menggalaui sesuatu yang tidak perlu—sesuatu yang pada kenyataannya hanya ia salah pahami saja.
Taehyung terkekeh renyah. “Bukan. Gimana mau punya istri kalau pacar aja nggak ada.”
“Ah … single ternyata.”
“Single as ever.”
Keduanya tertawa bersama. Diam-diam, Jimin bersorak dalam hati. Ia dapat konfirmasi soal kepastian status Taehyung, pun mendapat kepercayaan diri kalau barangkali; ia akan punya kesempatan kali ini.
Seperti jam makan siang pada hari-hari sebelumnya, hari ini Taehyung datang untuk menjemput Nara ke sekolah. Laki-laki itu sudah menunggu di depan gerbang ketika Jimin mengantar murid-muridnya untuk pulang.
“Papa!” Sapa si anak perempuan sesaat setelah melihat presensi sang ayah. Ia lalu menghambur ke pelukan Taehyung begitu laki-laki itu merentangkan tangannya.
“Hai, sayang. Gimana belajarnya hari ini?”
“Seruu! Tadi aku belajar menghitung,” ujar Nara antusias. “Aku bisa mengitung sampai dua puluh. Papa mau dengar?”
“Boleh.”
Selagi Nara mulai menghitung dan sang ayah memperhatikannya dengan binar penuh afeksi, Jimin di tempatnya turut menyaksikan pemandangan itu. Ia tersenyum dan hatinya kontan menghangat. Jimin sering menyaksikan pemandangan serupa, tapi antara Taehyung dan putrinya adalah yang paling membuat hatinya terenyuh. Mungkin hal itu disebabkan oleh fakta bahwa keduanya terlihat begitu saling mencintai meski bukan sepasang anak dan ayah yang diikat hubungan darah.
Nara selesai menghitung dan Taehyung memberinya tepukan ringan di puncak kepala yang seolah mengatakan bahwa ia bangga. “Good job! Besok udah bisa menghitung sampai tiga puluh kayaknya, nih?”
Nara mengerutkan dahinya, mengerut lucu sebab keberatan pada tantangan sang ayah. Dan Taehyung hanya mampu tersenyum karenanya.
“Pa, aku mau es krim.” Pinta anak itu tiba-tiba.
“Oke, tapi kita makan siang dulu, ya? Biar perutnya nggak sakit kalau nanti makan es krim.”
Nara mengangguk menuruti. Taehyung yang sejak tadi berjongkok demi mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri, kini menegakkan tubuh dan berdiri. Dilihatnya Jimin yang juga tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya. Ia tersenyum dan lalu menghampiri Taehyung dan Nara, menyampaikan sedikit informasi tentang kegiatan yang dilakukan Nara hari itu seperti biasanya.
“Kak Jimin, aku mau makan es krim.” Beber Nara begitu tiba-tiba hingga Jimin yang baru saja selesai memberi informasi pada Taaehyung terkekeh dibuatnya.
“Wah enaknya, Kak Jimin jadi mau es krim juga.” Selorohnnya kemudian.
“Kak Jimin bisa ikut makan es krim sama aku dan Papa. Iya kan, Pa?” Nara mendangak menatap sang ayah yang tersenyum.
Sementara Jimin dengan sedikit panik berkata. “Eh, enggak enggak … Kak Jimin cuma bercanda, kok”
“Ayo, Jim,” Tapi, Taehyung tidak membelinya sebagai candaan. Alih-alih, ia ajukan ajakan untuk menghabiskan makan siang bersama. “Kamu udah nggak sibuk kan habis ini? Makan siang bareng kita, yuk? Abis itu kita makan es krim di toko langganannya Nara.”
Jimin sedikit terperangah karena ajakan tiba-tiba itu, tapi buru-buru ia kuasai diri. Ia tatap Taehyung dan Nara yang tengah menunggu jawabannya bergantian. Jimin sedikit ragu sebetulnya, tapi benaknya berpikir kalau barangkali ia sedang diberikan kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Taehyung dan sang anak. Rugi jika ia sampai menolak.
“Ayo, Kak!” ajak Nara, tangan mungilnya menggoyang-goyang lengan milik Jimin.
Maka, Jimin membuat keputusannya. Tersenyum dan mengangguk kecil menerima ajakan Nara dan sang ayah. “Oke, deh, ayo!” Jawabnya akhirnya.
Ketiganya segera meluncur ke tempat makan yang mereka pilih dan sepakati dalam perjalanan. Menikmati makan siang sambil berbincang tentang hari-hari Nara di sekolah. Pun terselip cerita masa SMA Taehyung dan Jimin di antaranya. Teman-teman lama mereka, dan gedung sekolah yang semakin bagus setelah mereka menjadi alumni. Banyak hal yang siang itu baru mereka tahu tentang satu sama lain, keduanya berbagi cerita layaknya teman yang lama tidak berjumpa.
Selepas menikmati makan siang, ketiganya pergi ke kedai es krim seperti yang sudah direncanakan, Nara memesan es krim stoberi kesukaannya, Jimin memesan rasa vanilla dengan selai cokelat dan kacang sebagai topingnya, sementara Taehyung mendapat es krim rasa greentea sebagai bonus karena hari itu kedai sedang mengadakan promo beli dua gratis satu.
Hari itu kedai es krim lebih ramai dari biasanya karena promosi yang diadakan dalam rangka perayaan hari jadi mereka yang ke-4, itu kata pemiliknya. Kedai dihias sedemikian rupa hingga ada maskot boneka yang begitu bersemangat mempromosikan produk mereka. Pun Nara yang lebih antusias untuk berfoto dengan maskot di depan kedai ketimbang memakan es krimnya. Setelah diyakinkan sang ayah untuk terlebih dahulu menghabiskan es krimnya, baru ia mau duduk dan memakannya.
Usai menandaskan mangkok es krim mereka, Taehyung dan Jimin memenuhi keinginan Nara untuk berfoto bersama maskot boneka es krim. Anak itu berpose dengan berbagai macam gaya, awalnya hanya ia sendiri, lalu menarik sang ayah untuk ikut berpose dengannya. Beberapa potret diambil dan anak perempuan itu belum merasa puas, ia tarik Jimin untuk ikut berfoto bersama dirinya dan sang ayah.
“Kalau foto bertiga susah, Nak, nanti nggak ada yang fotoin.”
Seorang karyawan kedai lewat di hadapan mereka ketika Jimin menyelesaikan kalimat barusan. Taehyung bereaksi cepat dan segera meminta tolong pada karyawan tersebut untuk mengambilkan potret mereka bertiga. Sang karyawan bersedia lalu mengambil alih kamera ponsel dari tangan Jimin. Taehyung dan Jimin mengambil posisi, masing-masing berdiri menyebelahi Nara dengan maskot boneka es krim di belakang mereka. Ketiganya kembali berpose dengan macam-macam gaya, senyum tersemat memandang ke arah kamera.
Setelah beberapa potret selesai diambil, ponsel dikembalikan ke tangan Jimin. Gelak tawa lolos dari belah bibir mereka ketika melihat-lihat hasil tangkapan kamera. Lalu, sekonyong-konyong, karyawan kedai yang mereka mintai tolong, mengatakan satu kalimat yang membuat Jimin dan Taehyung kontan tersipu. “Bagus, Pak, fotonya. Kentara banget kesan keluarga bahagianya.”
Jimin tercekat dan menggigit bibir bawah kala mendengarnya. Wajahnya memanas dan ia hanya mampu menahan napas. Ia lirik Taehyung di sebelahnya yang sama persis punya wajah yang memerah. Keduanya bersitatap dan saling melempar senyum canggung.
“Ah, mas, bisa aja.” ujar Taehyung terkekeh malu, dan Jimin hanya mampu mengulum senyum karenanya.
Sisa hari itu mereka habiskan bersama-sama. Pergi ke taman hiburan dan berfoto di tiap sudut yang mereka datangi untuk membuat kenang-kenangan. Nara terlihat sangat senang, pun dua orang dewasa yang turut bersamanya.
Kini, ketiganya berjalan beriringan, Nara di tengah-tengah sementara Jimin dan Taeyung menyebelahinya. Masing-masing menggandeng tangan mungil Nara. Taehyung menggandeng tangan kanannya, sementara tangan kirinya digandeng Jimin. Sesekali, anak perempuan itu berayun-ayun yang lalu akan diangkat oleh dua tangan dewasa yang memeganginya. Tawa bahagia menyertai kegiatan jalan-jalan mereka.
Seketika, Jimin merasa banyak kupu-kupu mengepakkan sayap di perutnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum dan memikirkan jika ada orang lain yang kini memperhatikan mereka, mungkin orang-orang itu akan menganggap kalau dirinya, Taehyung, dan Nara adalah sebuah keluarga utuh yang bahagia. Sebagaimana karyawan toko es krim tadi menganggap mereka. Jimin bergidik geli dan antusias hanya dengan memikirkannya saja.
Belum usai ia tersipu karena isi kepalanya sendiri, Nara tiba-tiba mengatakan sesuatu yang menambah kepak kupu-kupu di perutnya dan menciptakan semburat merah di pipinya. Dengan masih menggandeng tangan dua orang dewasa di kanan-kirinya, anak itu berkata dengan riangnya. “Aku jadi kayak punya dua papa.”
Sontak kalimatnya itu membuat Jimin dan Taehyung kembali beradu pandang. Sepasang mata Taehyung berkontak dengan iris pekat milik Jimin yang pada detik ini berbinar akibat senyum malu-malu yang ia tahan. Tak ayal Taehyung tersenyum juga. Kinerja jantungnya turut berubah ricuh. Sekon kemudian, keduanya meloloskan tawa canggung. Tapi memilih untuk tak mengatakan apa-apa seolah ucapan Nara hanyalah celotehan anak kecil yang tak perlu ditanggapi serius.
Padahal, keduanya sama-sama tahu bahwa sebaris kalimat itu berhasil menciptakan gelenyar di hati mereka. Ada sesuatu perlahan hadir dan hanya perlu menunggu waktu untuk muncul ke permukaan. Nanti, yang satu itu akan punya momentumnya sendiri. Sekarang, keduanya cuma ingin menikmati waktu bersama sampai habis hari. Menciptakan banyak kenangan, sebelum petang menjelang.
Bagi Taehyung yang sepanjang umur dua puluhan-nya dihabiskan untuk bekerja dan mengurus anak, kuantitasnya jatuh hati mungkin bisa dihitung jari. Karena baginya, jatuh cinta bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Ia jarang merasakannya. Itu sebabnya, ia agak kesulitan mengidentifikasi perasaan apa di dadanya kerap kali ia dekat dan bersitatap dengan Jimin.
Ada gelenyar asing yang entah sejak kapan hadir. Taehyung tidak pernah merasa gugup bicara dengan teman sekolahnya itu sebelumnya, pun ia tidak pernah merasa begitu excited untuk melihatnya. Pagi ketika mengantar Nara sekolah, dan siang saat menjemputnya pulang, Taehyung akan lebih bersemangat dari biasanya. Ia akan mendapati angsa-angsa berenang di perutnya saat memikirkan bahwa ia akan segera bertemu Jimin.
Ini sudah berlalu cukup lama. Tidak tahu kapan tepatnya. Yang jelas, selepas menghabiskan waktu bertiga kala itu, malam Taehyung selalu disempatkan untuk memandangi potret dirinya, Jimin, dan Nara yang ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya. Karyawan toko es krim tempo hari tidak salah ketika ia mengatakan kalau mereka terlihat seperti keluarga. Sebab kini di matanya pun, mereka betulan terlihat seperti sebuah keluarga utuh yang bahagia.
Taehyung terkikik sendiri kala memandangi potret mereka bertiga yang tersenyum manis ke arah kamera dengan rupa-rupa gaya. Kadang tanpa sadar, ia memperbesar bagian wajah Jimin, memperhatikan detail-detail kecilnya yang cantik. Lalu, ia akan merasa malu sendiri tatkala menyadari bahwa pipinya memanas dan ia tersipu tiba-tiba.
Malam ini pun tak ada beda, Taehyung berbaring di sofa ruang tamu rumahnya, memandangi foto-foto itu dengan senyum tersemat di sudut-sudut bibirnya. Seperti malam-malam yang lalu, ia nyaris tenggelam pada kegiatannya kalau saja ibu tidak tiba-tiba datang dan menggodanya.
“Ibu sampai khawatir mata kamu copot karena segitunya banget ngeliatin fotonya.” Kelakar beliau yang mana membuat Taehyung sedikit terperanjat.
Segera saja ia benahi posisi baringnya menjadi duduk. Menghadap ibu yang juga sudah mendudukkan diri di sofa single sebelahnya dengan cangkir teh di tangan kanannya.
“Kok belum tidur, Bu?” alih-alih menanggapi kelakar sang ibu, Taehyung malah ajukan pertanyaan. Berusaha tutupi sikap salah tingkahnya.
“Belum bisa tidur, dari tadi ibu cuma guling-guling di kasur. Daripada bosen ya udah ibu bikin teh aja ke dapur. Kamu mau?”
Gelengan jadi respons Taehyung. Ibu meneguk sedikit tehnya lalu pandanganya beralih pada sang putra yang duduk dengan kikuk. Beliau tersenyum penuh arti, tahu betul putranya sedang sembunyikan kesah dalam hati.
“Menurut ibu Jimin oke,” cetus beliau tiba-tiba yang mana kontan mendapat tatapan tanya dari Taehyung. “Anaknya baik, sopan, ramah, sayang sama anak-anak juga. Ibu sih yes kalau kamu mau sama Jimiin.”
Sepasang mata Taehyung membulat mendengar pernyataan ibu yang tak diduganya. Sisi kejutnya berhasil disentuh hingga ia jadi kehilangan kata-kata dan hanya mampu tertawa. “Apaan sih, Bu …” kilahnya seolah rona merah di pipinya tak mengkhianati usaha penyangkalannya.
Ibu berdecak. “Emang ibu nggak tau apa kamu tiap malem liatin foto dia. Malah sampai dijadiin wallpaper juga.”
“Ya, kan fotonya bertiga, Bu. Sama Nara juga. Karena lucu makanya aku jadiin wallpaper.”
Ibu tersenyum pada putranya yang tak pandai berbohong. Cuping telinganya memerah dan matanya tidak fokus menatap ke satu arah. Taehyung boleh saja merasa dirinya pintar berkilah. Tapi ibu paling tahu tabiat anak sendiri.
“Kata Nara, papanya kalau pagi mau anter sekolah dandannya suka lama. Katanya, papa juga wangi banget kayak pakai parfum satu botol.”
Taehyung tertawa. Sembunyikan wajah di balik telapak tangannya, malu. Ia sudah bukan anak remaja yang bisa main cinta rahasia-rahasian. Salah kalau ia beranggapan bisa mengelabui sang ibu. Beliau mampu membacanya dengan sempurna.
“Nak, kamu udah 29 tahun, nggak apa-apa kalau kamu mau cari pasangan hidup,” ujar ibu dengan suaranya yang lembut dan tatapan matanya yang teduh. “Dari lulus kuliah sampai sekarang, kamu cuma sibuk bantuin Ibu ngasuh anak-anak di panti, malah sampai adopsi anak sendiri. Ibu seneng liat kamu kerja keras buat anak-anak, bertanggung jawab sama mereka, tapi tentu Ibu bakal lebih seneng kalau kamu ada yang ngurusin juga.”
Taehyung kulum senyum atas ucapan ibu. Mereka sudah pernah punya percakapan semacam ini sebelumnya. Ini bukan pertama kalinya ibu meminta Taehyung untuk segera mencari pasangan. Tapi, ini adalah pertama kalinya Taehyung memikirkannya. Jika biasanya ia hanya akan tersenyum dan mengatakan kalau nanti akan ada waktunya untuknya bertemu dengan sang pujaan, kali ini Taehyung benar-benar memikirkannya. Barangkali karena ia sudah bertemu dengannya, orang yang ingin ia ajak untuk menghabiskan sisa hidup bersama.
“Ibu jarang banget ngeliat kamu kayak gini, nyimpen perhatian ke satu orang, keliatan lebih seneng belakangan. Kalau kamu memang suka sama Jimin, ya deketin aja. Jimin baik dan penyayang. Ibu yakin Nara juga akan seneng kalau Jimin jadi orang tuanya. Ibu cuma bisa doain, Nak.”
Taehyung terkekeh pada fakta bagaimana mudahnya sang ibu membacanya. Jimin memang jadi orang pertama yang datang ke pikirannya saat ia terlibat obrolan soal pernikahan bersama ibu. Tapi bukan berarti ia mau terburu-buru. Masih terlalu dini buat sampai ke situ. Ia masih butuh meyakinkan perasaannya. Suka itu memang ada, Taehyung tidak akan menyangkalnya. Tapi butuh lebih dari itu untuk berani maju.
“Jiminnya juga belum tentu mau sama aku, Bu. Belum lagi kalau ternyata dia udah punya pacar.”
“Ya, makanya dicari tau, usaha dulu. Kan nggak akan tahu kalau nggak dicoba. Iya, toh?” tukas Ibu kemudian. “Kalaupun nggak sama Jimin, ibu berharap kamu ketemu sama orang yang baik, yang bisa sayang sama kamu, sayang sama Nara dan anak-anak sebagaimana kamu sayang sama mereka. Ibu harap kamu ketemu sama orang yang bisa bikin kamu bahagia.”
Seulas senyum terbit lagi di wajah Taehyung. Ia simpan petuah ibu baik-baik dalam hati. Doa dan harapan ibu jadi bekal untuknya buat berani. Nanti, ia akan coba mengambil langkah maju. Sekarang, ia masih butuh waktu. Masih perlu menganalisa dan meyakinkan perasaannya sendiri.
Malam disudahi oleh ibu yang pamit kembali ke kamarnya dan meminta Taehyung untuk segera beristirahat juga. Ia turuti dan berbaring di atas ranjangnya sendiri. Tapi alih-alih memejam mata, Taehyung kembali membuka galeri ponselnya. Memandangi potret Jimin dan Nara yang sempat berfoto bersama. Ada desir hangat dalam dadanya kerap kali ia melihat Jimin tersenyum meski hanya lewat gambar pada kamera. Taehyung tidak akan menyebutnya cinta sebeb masih terlalu mula, tapi ia tak meningkari kalau perasaannya mungkin akan sampai ke sana. Hanya perlu menunggu waktu untuk tumbuh dan berbunga. Ia akan coba memupuknya setiap hari agar kemudian bisa bersemi.
Hari demi hari berlalu dan tunas yang Taehyung tanam dalam hati kian bersemi. Ia tak lagi butuh kontemplasi berlarut-larut untuk meyakini perasaannya sendiri. Semuanya pasti dan telah jatuh pada tempatnya. Rasa yang sebelumnya samar itu kini menemukan kejelasan. Degup di dadanya kerap kali bertemu Jimin, Taehyung sampai pada pemahaman bahwa yang satu itu bisa dikatakan cinta. Laki-laki itu datang menyerbu, menginvasi tiap sudut kepala Taehyung dengan bayangan tentang dirinya.
Kim Taehyung telah jatuh cinta, pada teman lama yang sebetulnya tidak pernah benar-benar dekat dengannya, tapi entah bagaimana bisa, mampu menemukan jalan masuk ke dalam hidupnya, juga hatinya. Taehyung telah jatuh cinta, bukan ibu atau siapa pun yang memvalidasinya. Tapi hatinya yang merasakan dan menyadarinya sendiri. Lewat degup di dada yang tak pernah absen hadir ketika dirinya dan Jimin bercengkerama, lewat senyum dan suara lembut Jimin yang terekam memenuhi isi kepala. Jadi bekal buat malamnya sukar memejam mata, sebab terlalu asyik mengenang waktu dengan Jimin yang pernah dihabiskan bersama.
Nara menyadari gelagat berbeda ayahnya dan seperti ibu, anak itu sering turut menggoda. Walau ia masih terlalu kecil buat mengerti kalau sang ayah tengah jatuh cinta, tapi kedekatannya dengan guru favorit di sekolahnya mampu membawakan Taehyung berbagai informasi tentang Jimin yang amat berguna.
Lewat Nara, Taehyung tahu kalau Jimin belum menikah, pun tidak sedang berada dalam hubugan yang akan menuju ke sana. Lewat Nara juga, Taehyung jadi tahu soal makanan, warna, film, dan serba serbi favorit si teman lama. informasi-informasi itu Taehyung gunakan untuk melakukan pendekatan. Walau kerap merasa canggung dan kikuk awalnya, tapi toh misi-misi yang Taehyung lakukan untuk mendekati Jimin selalu berakhir dengan berhasil. Keduanya semakin akrab dan sering berbagi cerita yang bukan hanya tentang Nara atau sekolah lama mereka. Taehyung percaya diri mengatakan kalau dirinya mampu membuat Jimin merasa nyaman. Terlihat dari bagaimana laki-laki itu tidak pernah menunjukkan sikap risi meski Taehyung sering terang-terangan melakukan pendekatan. Ia tertawa pada tiap lelucon Taehyung, dan rona di pipinya akan memerah kerap kali digoda.
Pada titik ini, Taehyung hanya perlu mengumpulkan banyak berani untuk menjejak langkah berikutnya. Menyatakan perasaannya dan menawari Jimin untuk menjadi bagian dalam hari-harinya setelah itu. Taehyung tak ingin membuang waktu terlalu lama. Hari ini, ia akan menjalankan misi selanjutnya. Mengajak Jimin menghabiskan waktu berdua, tanpa Nara yang akan turut serta seperti biasanya.
Jadi, siang ketika Taehyung menjemput sang anak ke sekolah, ia beranikan diri untuk bertanya apakah Jimin punya waktu untuk dihabiskan bersamanya esok sabtu? Dan, jawaban yang diberikan Jimin membuat Taehyung menahan teriakan di pita suaranya. Rasanya seperti memenangi dunia, waktu Jimin bilang bersedia; ada rasa percaya diri sekaligus jeri yang naik ke permukaan hatinya.
“Ya udah, kalau gitu aku jemput ke rumah besok malam, ya?”
Jimin haturkan seulas senyum dan anggukan sebagai respons. Jadi pengantar pulang buat Taehyung yang buncah di dadanya tak lagi terbendung. Bahagia tak terkira.
Sabtu malam pukul tujuh, Taehyung datang menjemput Jimin seperti yang sudah ia janjikan sebelumnya. Jimin muncul dari balik pintu rumahnya dengan balutan kasual yang sama sekali tak menghilangkan kesan menawan. Wajahnya dipoles riasan sederhana yang makin menambah keindahannya. Kemana saja Taehyung selama ini baru menyadari indah milik Jimin setelah satu dekade lamanya.
Kelewat tenggelam dalam pesona seorang Park Jimin, Taehyung jadi tak menyadari kalau temannya itu sudah berdiri di hadapannya dan mengajukan sebuah tanya.
“Kok malah bengong, sih?” ujar Jimin sambil tergelak yang suara tawanya menyadarkan Taehyung dari lamunan.
“Eh … maaf maaf,” timpalnya kikuk kemudian. “Kamu … cantik banget. Aku jadi susah fokus.”
Jimin tergelak lagi karena pujian yang begitu tiba-tiba. Tidak menyangka akan mendapat sanjungan di malam yang bahagia. Ia gumamkan terima kasih sebelum mencoba kuasai diri agar rona di wajahnya tak disadari.
“Kamu barusan ngomong apa, by the way?” tanya Taehyung setelah berhasil mengembalikan fokusnya.
Jimin jawab dengan senyum terulas di sudut bibir. “Aku barusan nanya, kita mau kemana?”
“Oh, ya … umm, kemana, ya?” Taehyung garuk pelipisnya yang sama sekali tak gatal. Sebetulnya, ia tidak punya perencanaan kemana harus mengajak Jimin pergi. Taehyung payah soal ini. Seumur hidup, ia hanya pernah berkencan satu atau dua kali. Taehyung adalah laki-laki dewasa minim pengalaman dan tidak punya banyak referensi. Tapi kemarin malam, ia sudah melakukan penelusuran lewat laman website soal apa yang biasanya dilakukan pada kencan pertama? Banyak dari rekomendasi mengatakan makan malam dan menonton film romansa. Terlalu anak muda bagi Taehyung yang sudah sampai di penghujung usia dua puluh. Tapi toh tetap ia ikuti juga rekomendasi-rekomendasi itu. “Kamu udah makan malam belum, Jim?” Jimin belum sempat menjawab pertanyaanya, karena Taehyung sudah kembali melanjutkan ucapannya. “Kalau kita makan dulu gimana? Seudahnya kita bisa nonton film atau apa aja. kalau kamu ada tempat yang mau dikunjungi boleh juga kita ke sana. Kemana aja yang penting senang-senang.”
Jimin terkekeh pelan melihat raut polos dan kebingungan di wajah Taehyung. Jika ada orang baru yang melihatnya saat ini, pasti tidak akan mereka sangka kalau Taehyung adalah seorang ayah satu anak. Ia begitu terlihat lugu malam ini.
“Boleh, yuk!” Jimin besedia karena ia tidak butuh apa-apa lagi. Kemana pun asal bersama Taehyung, ia sudi menghabiskan tiap detik waktu miliknya.
Malam dimulai dengan keputusan mereka untuk mengisi perut di tempat yang dipilih Jimin. tempat makan sederhana langganannya. Yang walaupun murah dan tidak mewah, tapi menyajikan banyak hidangan yang sanggup memanjakan lidah. Keduanya menghabiskan makan malam sambil diselingi bincang-bincang kecil soal hal-hal random yang terlintas di kepala. Menyenangkan walau kadang obrolan mereka terganggu oleh suara kendaraan yang lewat dan gelak tawa pengunjung lain. Hati mereka bahagia dan itu yang paling utama.
Selepas menghabiskan makan malam, keduanya tidak pergi menonton film seperti yang tadi sempat disugestikan. Alih-alih, mereka datang ke sebuah pantai di ujung kota. Lagi-lagi, Jimin yang memilih tempat. Tapi Taehyung tidak keberatan dan dengan hati senang mengikuti langkahnya.
“Ini salah satu tempat favorit aku. Dulu waktu kuliah sering banget datang ke sini buat healing. Nontonin ombak dan stargazing.” Ujar Jimin setelah beberapa saat mereka duduk di tepi bibir pantai.
Taehyung meresponsnya dengan senyuman dan tak mengatakan apa-apa. Sibuk mengagumi Jimin yang tengah mengagumi langit malam di atas gulungan ombak pasang. Taehyung ikut alihkan pandangan pada objek yang ditatap sepasang netra milik Jimin. Di tempat seperti ini, polusi cahaya hampir tidak ada. Itu sebabnya, kerlap-kerlip bintang yang menyala liar mampu ditangkap netra dengan mudah.
Angin berembus menyapa permukaan kulit dua orang yang sama persis berdiam diri. Lewat ekor matanya, Taehyung menangkap pemandangan Jimin yang melipat tangan di atas dada. Berupaya menghalau udara dingin yang diantar angin pantai dari samudera. Ia lepaskan jaket yang dikenakannya dan menyisakan kemeja panjang yang ia rangkap di bawahnya. Lalu, ia sampirkan jaket itu pada bahu sempit milik Jimin. Dan, perlakuannya itu adalah apa yang membuat Jimin mengalihkan tatap pada figurnya.
“Pake aja.”
“Kamu?”
“Aku nggak dingin kok.”
Jimin gumamkan terima kasih sebelum netranya ia bawa kembali menatap langit. Angin pantai punya kekuatan untuk membuat laut jadi hamparan kisah manis yang akan terkenang selamanya. Saat Taehyung menyalurkan kehangatan yang ia pendarkan dari balik jaketnya, ada badai ombak tahu-tahu menerjang dada Jimin. Fusi dari semua rasa antusias dan kebahagiaan yang meletup-letup.
“Tadi sore aku lihat update-an akun astronomi di twitter, katanya malam ini bakal muncul rasi bintang Scorpius. Dari sini kayaknya bakal kelihatan.” Ujar Jimin setelah jeda yang cukup lama.
“Kamu suka astronomi?” tanya Taehyung kemudian.
“Sedikit.”
“Udah sering stargazing berarti, ya?”
“Not really. Tapi aku selalu pengen berkencan sambil stargazing. It’s my ideal date.”
Sejenak, Taehyung terperangah. Ia tatap Jimin yang matanya masih memaku pandang pada langit malam yang disemayami banyak bintang. Memandang binar benda langit itu adalah tipe kencan ideal versi Jimin. Dan mereka tengah melakukannya saat ini. Seulas senyum terbit di sudut-sudut bibir milik Taehyung.
Ibarat potongan lirik lagu Frankie Valli yang sering diputar sang ibu, momen ini cocok bersanding dengan frasa itu. Too good to be true. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Jimin dan pantai, juga hamparan bintang yang berpendar terang, menciptakan kencan yang sempurna bagi keduanya.
Isi kepala Taehyung mulai bekerja. Merangkai frasa untuk dihaturkan sebagai ungkapan cinta. Tapi sekali lagi, Taehyung payah soal ini. Sekeras apa pun otaknya mengeja kata dalam kepala, ia tetap tak mampu menemukan diksi yang tepat untuk diucapkan sebagai kata cinta. Tapi, ia lihat bulan yang bercermin pada permukaan air laut, refleksinya jadi pemantik memori yang tersimpan di sudut kepala Taehyung.
Ia ingat sebuah kalimat dalam Bahasa Jepang; sebuah cara menyatakan cinta tanpa kata cinta. Tanpa frasa ‘I love you.’ Atau ‘aku sayang kamu’ tapi tak mengurangi makna cinta itu sendiri. Justru jadi cara lain menyatakan cinta yang magis, lebih puitis, dan dalam maknanya.
Taehyung ukir senyum di antara hatinya yang merasa lengkap. Barangkali karena menemukan kepingan puzzle yang sudah lama ia cari. Lalu, ia hela napas dalam sebelum bibirnya bergumam. Menggumamkan satu nama;
“Jimin.”
“Ya?”
“Bulannya … cantik, ya?”
Tidak ada jawaban sampai beberapa sekon berikutnya; hingga Taehyung mengalihkan pandang dan menemukan Jimin yang tengah memaku tatap pada entitasnya. Matanya berbinar-binar di selimuti cahaya. Taehyung pikir, sepasang mata Jimin adalah apa yang disebut kontradiksi. Pigmen yang mengisi tiap sudutnya adalah hitam. Tapi yang mereka pancarkan adalah warna. Kuning dan merah muda. Seperti padang bunga. Dan Taehyung, sudi menyerahkan diri untuk masuk ke dalamnya.
Wajah Jimin dihias senyum yang indah terulas. Taehyung balas dengan senyum yang serupa. Situasi telah bercerita tentang semua yang sudah jelas maknanya. Tidak perlu banyak kata pun frasa untuk tahu kalau perasaan mereka berada pada linear yang sama.
Jimin bisa mati bahagia.
Hatinya dan milik si cinta pertama, bertaut hingga ke anjungan samudera.
“Papa!”
Dua kepala itu menoleh kompak ke arah sumber suara. Seorang anak perempuan tengah berlari kecil ke arah mereka. Tangannya terentang mengharapkan pelukan. Ia tiba di rengkuhan dua raga dewasa yang mendekapnya penuh sayang. Ketiganya lalu berjalan beriringan. Si anak perempuan berjalan di tengah-tengah sementara dua orang dewasa yang bersamanya menyebelahinya. Tangan kirinya di gandeng sang ayah, sementara yang kanan dituntun tangan milik orang yang juga akan menjadi ayahnya.
Taehyung sudah menemukannya. Seseorang yang bukan cuma bersedia jadi teman hidupnya, akan tetapi bersedia jadi rumah bagi Nara juga.
Ketiganya mengayun langkah menuju jalan searah.
Sejajar, dan selaras.
fin.
