Work Text:
Rumah sakit selalu hitam putih di mataku. Selalu pemandangan yang sama, ini lagi, ini lagi. Bau nya yang khas benar-benar tak Kusuka. Sampai, "Ah maaf, kukira di sini kamar nenek." Itu yang ia katakan.
Seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dariku masuk ke kamarku. Setelah ia tahu ia salah ruangan, ia mengusak rambut marunnya sambil tersenyum canggung. Ia membungkuk lalu keluar kamar sambil mengatakan kata maaf sekali lagi. Aku tertawa, sedikit hiburan di tempat membosankan ini, menurutku. Bodohkah ia? Di depan pintu pasti tertulis nama Nanase.
Hanya salah ruangan kupikir, tapi kurasa hariku kembali berwarna. Sejak kakak kembarku pergi, hampir tak pernah lagi ada rasa bahagia seperti ini.
Berawal dari masuk ke ruangan yang salah, hari esoknya ia menemui ku lagi, memberi sekeranjang buah, lalu esoknya lagi ia berkunjung agak lama, kami mengobrol dan berkenalan, nama dia Touma-san.
Sejak saat itu, kami sering sekali mengobrol, setiap ia ke rumah sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungiku. Sampai tak terasa, nenek yang menjadi alasan Touma-san ke rumah sakit, esok sudah boleh pulang. Aku yang menyayangkan itu karena tak dapat bertemu Touma-san lagi, apa itu berarti aku mengakui keberadaannya dalam hidupku? Touma-san terima kasih. Semoga kita bertemu kembali.
Lima tahun berlalu, aku menyelesaikan kehidupan sekolahku dengan keluar-masuk rumah sakit. Selama itu juga aku tak bertemu Touma-san lagi.
***
Di penyebrangan yang ramai ini, warna marun yang kukenal itu, apa itu dia? Kuberanikan diri memanggilnya
"Touma-san!"
"Riku?"
Terima kasih tuhan. Tak kusangka kami benar-benar bertemu kembali.
