Actions

Work Header

somewhere anywhere

Summary:

Hari libur akan selalu menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap pekerja korporasi di belahan dunia mana pun. Selalu ada keinginan untuk menonaktifkan handphone mereka dari segala yang berhubungan dengan kantor dan menghabiskan 2x24 jam sebagaimana hari libur yang seharusnya: beristirahat. Tetapi itu beberapa menit lalu sebelum bel apartemen mereka berbunyi tiga kali, nyaring seakan memenuhi setiap sisi rumah.

Baik Mingyu yang berdiri di daun pintu maupun Wonwoo yang melongok dari atas sofa sama-sama melebarkan mata, ditahan mati-matian rahang mereka agar tidak terbuka.

“Good morning, Mr. Mingyu!”

Work Text:

 

Hari libur akan selalu menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap pekerja korporasi di belahan dunia mana pun. Selalu ada keinginan untuk menonaktifkan handphone mereka dari segala yang berhubungan dengan kantor dan menghabiskan 2x24 jam sebagaimana hari libur yang seharusnya: beristirahat. Terlebih bagi mereka-mereka yang hanya hidup dengan satu sama lain dengan frekuensi bertemu yang hanya di pagi hari sebelum berangkat ke kantor dan ketika sampai di rumah kembali. 

Letak kantor yang berlawanan arah dan pendapatan yang tidak menjadikan mereka begitu bergantung dengan satu sama lain memotivasi Mingyu dan Wonwoo untuk mengendarai kendaraan mereka masing-masing, terkadang kendaraan umum jika hari sedang dalam cuaca yang baik. Jadi, hari libur seperti saat ini mereka habiskan untuk menjadi pasangan yang sesederhana mungkin, untuk saling bertumpu pada bahu satu sama lain dengan layar televisi yang tengah memutar serial Netflix terkini. 

Tetapi itu beberapa menit lalu sebelum bisikan ditiupkan di telinga Wonwoo, membuatnya bergidik, namun justru membalasnya dengan kecupan, lalu ciuman.

Sesederhananya sebuah pasangan yang masih cinta-cintanya, berbagi afeksi dengan hal seperti ini selalu menjadi pilihan. Mereka sama-sama percaya bahwa setiap manusia punya semua kadar love language yang selalu digadang-gadang masyarakat, sekecil apa pun persentasenya. Terlepas dari Wonwoo yang terkadang menolak sentuhan yang Mingyu berikan –atas nama iseng kepada dirinya, ciuman semacam ini tidak akan pernah dia tolak. 

Tangan Mingyu baru hinggap di kerah bajunya ketika bel apartemen mereka berbunyi tiga kali, nyaring seakan memenuhi setiap sisi rumah.

“Kita ngundang orang?” Tanya Wonwoo, matanya berkedip beberapa kali dari balik kacamata.

Lantas Mingyu spontan menggeleng, bangkit dari sofa, dan berjalan menuju pintu dengan Wonwoo yang menaruh seluruh perhatiannya ke arah pintu. Ada dentingan bel lagi yang menggaung di ruangan. 

“Kayaknya penting banget.” Ujar Mingyu, sebelum membuka pintu apartemen mereka.

Setelahnya, hanya ada keheningan. 

Baik Mingyu yang berdiri di daun pintu maupun Wonwoo yang melongok dari atas sofa sama-sama melebarkan mata, ditahan mati-matian rahang mereka agar tidak terbuka. 

“Good morning, Mr. Mingyu!”

Di depan pintu mereka itu sudah ada dua laki-laki dengan tinggi sepinggangnya. Mata mereka sama-sama berbinar dengan tangan yang juga sama-sama memegang tali tas sekolah masing-masing. 

“Won, ini… anaknya siapa?”

Atas nama kekalutan yang ada menggerayangi pikirannya, besar keinginan Mingyu untuk kembali menutup pintu yang masih dia pegang ini. Bukan karena dia tidak punya hati dan menolak sapaan dua manusia kecil yang entah anak siapa ini di depan rumahnya, namun lebih karena eksistensi dan fisik yang mereka miliki. 

Ada satu pigura dengan kolase di dinding ruang makan mereka yang mana berisi foto-foto Mingyu dan Wonwoo dari masa ke masa, sejak mereka belum saling mengenal hingga saat ini ketika sama-sama ada cincin di jari mereka. Jadi, mustahil kalau dia tidak langsung mengenali wajahnya sendiri maupun Wonwoo yang terpampang jelas hari ini, di depan matanya sendiri, dengan tangan kecil yang sibuk bergerak menarik-narik ujung kaos anak di sebelahnya. 

“Hello, who are you and… where are you coming from?”

“Uhm!” Yang Mingyu yakini sebagai versi mini dari dirinya itu langsung menegakkan badan. “My name is Mingyu! I’m seven years old, and… and… I like… aku lupa bahasa Inggrisnya cumi bakar….” 

“Nama kamu Mingyu?”

Ada anggukan kecil, namun antusias di sana. 

Ini semua tidak masuk akal, kalau Mingyu boleh jujur. Mustahil untuk melihat dirinya sendiri dalam versi tujuh tahun tengah berdiri di depannya, terlebih menemui dirinya sendiri dengan sesantai ini. 

“Mr. Mingyu, what is cumi bakar in english?” Cicit Mingyu kecil, hanya ada penasaran di wajahnya.

“Grilled squid?”

“Grilled squid…?”

Kemudian, laki-laki kecil di sebelahnya menarik ujung bajunya, membisikan sesuatu di telinga sebelum Mingyu kecil kembali benderang.

“Ikayaki! Padahal itu bahasa Jep-” Matanya beralih memandang Wonwoo yang tengah berjalan di belakang Mingyu, mendekat ke arah pintu. Lalu, dia berujar, kembali berbicara dengan anak lain di sebelahnya itu. “Oh, ada kamu juga.…” 

Wonwoo baru berjongkok di depan mereka ketika salah satunya mendongak dengan senyum tiga jari di wajah

“Hello, Mr. Wonwoo! My name is Mingyu and this is my friend, Wonwoo! We came from another universe!”

Wonwoo kecil memandangnya dengan tatapan seribu rasa. Wonwoo tahu bahwa ada takut di sana, namun dia juga bisa menemukan binar seakan dia tengah terpana, seperti tengah melihat manusia super atau karakter lain yang tengah digandrungi anak-anak masa kini. 

“Halo! Kalian… nyasar?”

“Enggak kok…,” Wonwoo kecil langsung menggeleng. “Aku sama Mingyu emang mau ke sini.”

“Kenapa mau ke sini?”

“Karena….”

“Karena aku mimpiin tempat ini! Jadi aku bilang aja, ‘kita pergi aja,’ terus Wonwoo, ‘tapi kata kamu pintunya ada banyak, kalau salah masuk gimana?’ Tapi aku ngajakin Wonwoo terus biar buka portalnya dan wuuush! Kita sampai dan pintunya benar!” Jelas Mingyu kecil, tangannya sibuk bergerak bersamaan dengan kalimat-kalimat yang terucap dari mulutnya. 

Respons pertama yang Mingyu dan Wonwoo ambil adalah membiarkan dua anak kecil ini masuk ke dalam apartemen, membawa mereka untuk duduk di atas sofa dengan kaki mereka yang tidak menyentuh lantai. Dia bisa lihat ada bordir kelinci di polo yang Mingyu kecil kenakan juga tas Wonwoo dengan bentuk dan merek yang sama sekali tidak familiar di matanya.

“Wah, ini pahlawan ya? Namanya siapa?” Tangan Mingyu menggenggam salah gantungan yang tersampir di tas kecilnya. Ada pakaian khas pahlawan yang dikenakan, seperti yang pahlawan dari Marvel Cinematic Universe biasa gunakan. 

Wonwoo kecil langsung mengangguk semangat, “ini Neptuno! Nama aslinya Kim Mingyu. Yang ada kuping namanya Robin, tapi nama aslinya Jeon Wonwoo. Kayak aku sama Mr. Wonwoo.”

Mingyu dan Wonwoo langsung saling menatap satu sama lain, kerutan di dahi begitu kentara di wajah mereka. Jika diperhatikan lebih jauh, memang ada wajah mereka di sana, terlihat agak memalukan kalau mengingat ada orang-orang di luar sana yang membuat dan memiliki benda-benda ini.

Wonwoo langsung berdeham, memegang tangan merek dalam genggamannya. “Kalian beneran datang dari dunia lain?” 

Mereka sama-sama mengangguk semangat.

“Dan di salah satu dunia, aku dan Mingyu— Mingyu gede ini… pahlawan?” 

“Yap! Neptuno bisa ngendaliin tanah dan Robin bisa kayak rubah. Aku sama Wonwoo pernah liat waktu mereka ngelawan penjahat!”

Kepala Mingyu mulai pusing sekarang. 

Orang-orang selalu bilang bahwa anak kecil adalah makhluk yang paling jujur di dunia. Mereka belum punya begitu banyak kepentingan yang mendorong mereka untuk berbohong. Pikiran mereka masih tulus dan jernih, belum bertemu begitu banyak hal yang memaksa mereka untuk membentuk sikap. Terlebih lagi, bagaimana baik Mingyu kecil maupun Wonwoo kecil sama-sama bercerita seantusias ini, layaknya mereka benar-benar hidup tanpa skenario yang logis.

“Okay, kids. Cerita kalian masih susah buat dipercaya. Kalian punya bukti lain kalau kalian memang dari dunia lain?”

Mingyu kecil langsung melepas tasnya. Dia keluarkan sebuah buku dari sana untuk dia buka, lebih seperti scrapbook atau jurnal yang sering Mingyu lihat di Instagram orang-orang ketika dia tengah mencari ide untuk membuat kolase untuk hasil fotografinya. Di dalamnya itu sudah banyak isinya, dari tulisan berantakan khas anak SD, tempelan kertas-kertas lain, hingga foto yang menjadi poin penting dari tiap halamannya. 

Napas mereka itu langsung tertahan sejak saat pertama Mingyu kecil membuka buku catatannya, lebih lagi ketika tangan kecilnya itu membolak-balikkan setiap halaman, menemukan wajah mereka dengan berbagai gaya ada di sana. Baik Mingyu dan Wonwoo sama-sama yakin bahwa mereka tidak pernah bertemu dua anak kecil ini di mana pun sebelumnya, jadi untuk melihat banyaknya wajah yang serupa dengan mereka tertempel sana jelas membuat kepala mereka dibuat kalang kabut. Memberikan celah sebesar-besarnya bagi bukti dari Mingyu kecil untuk meyakinkan mereka.

“Ini… Kak Inggu dan Kak Wonwoo, mereka udah kuliah dan keren! Terus kakak yang ini… mereka kerja di toko kopi, aku dibikinin hot chocolate with marshmallow! Terus… ini yang mana ya, Wonwoo?”

“Mereka yang di Kanada.”

“Oohh, Kak Kinggu dan Kak Wonu! Tapi mereka enggak tinggal di Kanada, tapi kayaknya mereka liburan. Terus… oh! Ini Kak Mingyu dan Kak Wonwoo, mereka penyanyi terkenal! Aku sama Wonwoo ketemu banyak temen-temennya. Semuanya berisik, tapi mereka seru banget!”

Terlalu banyak nama Mingyu dan Wonwoo yang anak ini sebutkan, seakan ingin membuat dua orang dewasa yang mereka ajak bicara untuk merasa disorientasi. Namun, pandangan mereka sama-sama tidak bisa putus dari buku catatan Mingyu kecil dengan berbagai fotonya. Ada tiket wahana permainan di sana, kemudian struk es krim di halaman selanjutnya. 

“Selesai!”

“Kiddos, listen. Kayaknya kita perlu bikin nama khusus buat kalian. Nama yang beda dari Mingyu dan Wonwoo.” Celetuk Mingyu, menggenggam kedua tangan mereka dengan telapak tangannya. Rasanya begitu kecil, seakan tengah memegang jeruk santang madu dalam pegangannya. Dia bisa lihat ekspresi berpikir kedua anak itu. 

“Uhm… aku pernah dipanggil Mingu, Wonwoo dipanggil Wonyu.”

“Oke, Mingu dan Wonyu. Aku dan Wonwoo kayaknya enggak mungkin enggak percaya sama kalian, cuma… kenapa kalian ketemu semua Mingyu dan Wonwoo dari banyak dunia?”

Mereka saling menatap, seakan menyuruh satu sama lain untuk segera menjawab yang padahal, kepala kecil mereka itu masih sama-sama sibuk mencari jawaban dari ratusan ribu sel otak yang bersemayam di dalam sana.

“Karena seru, bisa ketemu aku yang lain, yang udah keren-keren.” Mingu menjadi yang buka suara terlebih dahulu. Masih dengan antusiasme yang sama, tangan yang dikepal sebagai bentuk semangatnya.

“Aku suka meriksa,” jawab Wonyu juga. “Meriksa kalau aku sama Mingyu selalu bareng-bareng di banyak dunia.”

“Terus, mereka selalu bareng-bareng, enggak?”

Lalu keraguan menyeruak ke udara. Wonyu hanya menunduk, lalu menggeleng pelan sambil menggenggam tangan Mingu di sampingnya.

“Ada juga yang enggak. Kak Mingyunya bilang, dia sayang banget sama Kak Wonwoonya, makanya dia… dia bilang apa sih?”

“Kalau enggak salah, Kak Wonwoonya mau istirahat dulu, soalnya lagi capek.” Jawab Mingu, menggaruk belakang kepalanya. 

“Hu’um, jadi Kak Mingyunya sendirian. Ada juga yang Om Mingyunya udah enggak ada, katanya sakit. Tapi Om Wonwoonya punya adik kecil!”

Kejujuran anak kecil yang mereka punya itu bisa juga hadir dalam jernihnya emosi mereka. Kemampuan untuk menunjukkan emosi sejelas-jelasnya. Meski dalam beberapa kasus, mereka terpaksa untuk menahan emosi sejak dini karena keluarga yang tidak kondusif, namun melihat bagaimana Wonyu mampu untuk bersedih dengan Mingu yang berusaha menenangkannya seakan menunjukkan bahwa mereka besar di tangan yang benar. Jiwa lain yang punya raga sama dengan diri mereka tumbuh dalam lingkungan yang semua orang inginkan. 

Untuk alasan yang entah apa, itu menenangkan hati Wonwoo, mengetahui bahwa bahkan di dunia yang jauh di sana, ada dirinya yang dicintai oleh banyak orang. Dia julurkan tangannya untuk mengelus rambut Wonyu, masih lembut dan begitu halus. 

“Kalian mau tinggal di sini berapa lama?” Tanya Wonwoo lagi.

“Hari ini hari apa ya?”

“Hari Sabtu, makanya aku dan Mingyu ada di rumah, soalnya libur.”

Bibir Mingu membulat sebelum kembali menjawab, “kalau gitu, hari Minggu harus pulang. Soalnya, hari Senin ada sekolah.”

“Berarti kita harus cari baju tidur buat kalian.” Dengan spontan, Mingyu berkata. Di depannya itu langsung ada anak yang bersemangat dengan senyum lebar dan tangan yang mengepal. 

“Gyu, kita enggak mungkin bawa mereka buat jalan-jalan.”

“Kenapa enggak?” Mingyu angkat Wonyu ke udara, lalu dia bawa ke dalam gendongnya. “Paling disangka anak kita, orang mirip banget begini. Right, Nyu?”

Wonyu langsung mengangguk semangat bersamaan dengan teriakan senang dari Mingu, tidak menyediakan tempat sedikit pun bagi Wonwoo untuk khawatir dengan eksistensi dua anak laki-laki dari dimensi lain ini.

Jadi, di sana lah mereka, mengitari toko pakaian di pusat perbelanjaan layaknya keluarga yang bahagia. Sepanjang perjalanan, Mingu dan Wonyu bukan anak-anak berisik yang menciptakan suasana gaduh di dalam mobil, entah ikut mendengarkan lagu yang Wonwoo pasang atau justru memandang kendaraan dan gedung-gedung di luar sana yang mereka lewati. 

Wonwoo pikir, dua anak ini sudah biasa untuk menjelajahi dunia lain, ditinjau dari tenangnya mereka untuk hidup di tempat yang seharusnya asing bagi mereka berdua. Mingu tidak segan untuk bertanya kepada petugas toko mengenai ukuran dari pakaian yang dia inginkan dan Wonyu sebagai pemilik kekuatan justru menjadi yang lebih pendiam meski mulut kecilnya itu tetap beberapa kali bercicit dan memberikan komentar atas pilihan pakaian Mingu yang menurutnya buruk.

“Kamu enggak takut dimarahin mama kamu karena beli baju warna hitam lagi?”

“Kan dibeliin, Wonwoo.”

“Memangnya mama kamu bisa enggak jadi marah?”

“Kata ibu, kalau dikasih hadiah sama orang yang kita kenal, harus diterima. Soalnya kalau dikasih hadiah, berarti dia sayang!”

“Tapi kan baru kenalan….”

Setelahnya, ada kebahagiaan lain yang dirasakan oleh Mingu dan Wonyu lewat satu cup gelato yang mereka pegang di tangan, lewat permainan capit-capitan yang mereka mainkan di Fun World, lewat piza dan pasta yang dihidangkan di atas meja mereka sebagai makan malam hari ini. Mingyu bilang, dia tidak begitu suka keju karena terlalu asin, sementara Wonwoo tidak bisa memakan makanan yang pedas karena perutnya akan terasa panas. Milkshake coklat dan stroberi yang mereka minum dianggap seperti makanan –minuman penutup bagi dua anak kecil ini sebelum mengeluh karena perut mereka terasa penuh.

“Mingu sama Wonyu seneng enggak hari ini?” Tanya Mingyu sembari mengintip dari spion depan. Di jok belakang sana, tangan mereka sama-sama memegang jendela pintu samping, seakan habis memandang lampu-lampu di luar sana yang mulai menyala dengan langit yang menggelap. 

“Aku seneng!” Mingu langsung memekik. “Es krimnya enak!” 

Wonyu langsung mengangguk, “pastanya juga!”

Masih ada di dalam pikiran Mingyu mengenai alasan dari kehadiran dua anak kecil yang entah asalnya dari mana. Mengenai mengapa mereka datang ke sini saat ini dibanding waktu-waktu lainnya. Mengenai mengapa mereka bisa sampai ke sini dengan berbagai bukti yang dihadirkan di depan mata. Namun untuk banyak alasan yang lahir dari pikirannya, baik yang berani dia ucap maupun yang hanya ingin dia simpan di dalam hatinya sendiri, dia berterima kasih atas kehadiran mereka.

 

✶ 𓂋

 

Biasanya, Mingyu dan Wonwoo akan memanfaatkan malam hari seperti ini untuk melakukan apa pun yang tidak sempat mereka lakukan di hari kerja. Berdiskusi mengenai topik hangat di berita, pemilihan presiden dengan kandidat yang tidak begitu menarik minat, mencoba resep yang mereka temukan di Instagram ketika sedang bosan di hari-hari sebelumnya, atau hal-hal dewasa yang tidak elok untuk disebutkan di depan Wonyu dan Mingu yang tengah berbaring di antara mereka. 

Hal asing kalau ditinjau dari jam yang baru menunjukkan pukul delapan, namun baik Mingyu maupun Wonwoo sudah sama-sama berbaring di atas tempat tidur dengan baju tidur mereka, menjaga dua anak kecil yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing layaknya orang dewasa.

Di mata Wonwoo, melihat seorang anak melakukan hal yang mereka sukai dengan serius selalu membuatnya berbunga-bunga seakan jatuh cinta. Seperti mengingatkannya bahwa dahulu kala, setiap manusia pernah melewati masa-masa seperti mereka ini, yang punya kesukaan tertentu yang ingin mereka tekuni habis-habisan. Tanpa mengetahui jikalau di masa depan, apa yang mereka cintai bisa saja menjadi bumerang yang memeras hati dan pikiran. Tetapi, mereka tidak perlu tahu soal itu dulu, dibebaskan mereka itu untuk mencari apa pun yang mereka sukai seluas-luasnya.

Wonwoo elus pucuk kepala Wonyu dengan tangannya. 

Semasa kecil dulu, kita kerap kali memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak bisa kita punya, apa pun bentuknya. Mungkin saja dalam bentuk tongkat peri dari serial kartun semacam Cardcaptor Sakura atau yang lebih hebat lagi, mobil sport yang mampu berubah bentuk menjadi robot Bumblebee. Keinginan Wonwoo datang dalam bentuk buku cerita yang saat ini Wonyu pegang dengan tangan kecilnya, buku yang baru sempat dia beli dengan uangnya sendiri beberapa tahun lalu dan masih dia sayang hingga kini.

“Memangnya, orang tua kalian enggak nyariin?” Begitu pertanyaan Wonwoo, masih dengan jari yang memainkan tiap helai rambut.

Dan Mingu langsung menggeleng, “mama sama ibu tau kalau aku jalan-jalan sama Wonwoo. Kalau mamanya Wonwoo, dia juga galaxy hopper, jadi Wonwoo dibolehin jalan-jalan buat latihan gitu deh.”

“Tapi kan banyak orang jahat, kalian aja pernah ketemu sama pahlawan. Memangnya enggak takut?”

“Kata mama, aku enggak boleh takut. Soalnya aku punya kekuatan, enggak semua orang punya kekuatan kayak aku.” Wonyu langsung menjawab. 

Di wajahnya itu, jelas ada mata dengan bentuk yang begitu persis dengan yang Wonwoo miliki di balik kacamatanya. Sama-sama punya kelopak mata yang tidak sama, sama-sama cenderung datar dan tidak gamblang menceritakan emosi, meski Wonwoo bisa yakin bahwa laki-laki kecil ini jauh lebih baik darinya dalam hal validasi diri. 

Tangannya spontan bergerak untuk mengelus pipi gembil Wonyu. Masih ada lemak bayi di sana dengan kulit paling halus yang pernah dia pegang. Setelahnya, dia tenggelamkan dirinya pada bantal yang Wonyu gunakan, menempelkan hidungnya dengan kepala anak itu dan membawanya dalam pelukan.

“Kalau nanti kalian pulang, jangan sering-sering jalan-jalan gini ya? Menurut aku, orang tua kalian bakal seneng kalau bisa ngehabisin waktu bareng-bareng sama kalian lebih sering lagi.” 

Yang diam di situ bukan hanya Wonyu dan Mingu, melainkan juga Mingyu dari sisi tempat tidur yang lain. Genggamannya pada iPad yang tengah ditonton oleh Mingu turut menguat. 

“Babe.”

“Walaupun kalian jadi manusia super, tapi sekali-kali, kalian boleh tetap jadi anak kecil yang biasa aja, kayak anak-anak lain. Yang bisa nikmatin hari libur sama keluarga, sama temen-temen kalian yang lain.”

“Wonwoo.”

Dadanya mendadak berat dan mencelos di saat yang sama, seakan ada beban berat yang memaksa untuk masuk dan berhasil menjebol bentengnya. Sampai akhirnya yang dia rasakan adalah beban fisik yang hadir memeluk tubuhnya, juga lehernya. 

Wonwoo bisa merasakan ada hangat yang menguar dari sana, bisa merasakan napas yang berembus dari balik lehernya. Hingga dia membetulkan posisinya hingga menatap langit-langit, pelukan yang Wonyu berikan kepadanya semakin mengerat, berikut dengan Mingu yang kembali naik ke atas tempat tidur, memeluk Mr. Wonwoo-nya dengan tangan kecilnya. 

”Don’t cry, Mr. Wonwoo.” 

“No, Mingyu! Kalau lagi sedih, kita boleh nangis. So… Mr. Wonwoo can cry.”

Entah sudah ada berapa semesta yang dua anak ini kunjungi, namun kemampuannya untuk memahami jauh lebih baik dari banyak manusia dewasa yang Wonwoo kenal. Jadi, tangannya balik merengkuh kedua anak itu ke dalam pelukannya sebelum Mingyu turut merenggangkan tangannya untuk membawa mereka ke dalam pelukannya. 

Dan dada Wonwoo terasa penuh. Dalam beberapa menit yang mereka habiskan dalam posisi itu, segalanya terasa baik-baik saja.

“I’m okay now! Thank you, mini me and mini Mingyu.”

“It’s okay!” 

“Kita foto-foto aja yuk? Biar bisa ditempel di bukunya Mingu!”

Di dunia ini dengan Mingyu dan Wonwoo yang hanya satu-satunya, mereka punya hobi yang mereka bagi bersama: fotografi. Sementara Mingyu suka membawanya ke daerah terpencil dengan udara yang jauh lebih sehat ketimbang tempat mereka tinggal, Wonwoo lebih suka mengitari jalan setapak untuk menemukan objek sederhana yang dekat dengan kita, namun punya makna. Dia tidak punya ide mengenai bagaimana Mingyu dan Wonwoo lain di dunia paralel seberang, apakah mereka menyukai fotografi sebesar dirinya atau bahkan memanfaatkannya sebagai mata pencaharian. Namun di depannya kini, dengan dua anak kecil yang sibuk mengintip Mingyu yang tengah menyetel kameranya, Wonwoo rasa akan lucu jika tiap-tiap dari mereka juga punya hobi yang sama. 

“Mr. Wonwoo!” Kamera di tangan Mingu langsung mengarah ke dia, ada cahaya yang menyala setelahnya. 

Setelahnya, hanya ada gelak tawa yang memenuhi setiap sudut ruangan. Mingu yang berusaha menguasai kamera dengan Wonyu yang tidak mau kalah. Hingga Mingyu turut memanfaatkan kamera dari handphonenya untuk mengambil gambar mereka berdua, ruang kamar mereka malam ini menjadi hidup sekali, seakan ingin menyaingi cerahnya bulan dan bintang di luar sana.

Sampai ketika Mingu dan Wonwoo sama-sama berbaring dengan napas yang berat dengan dada yang naik turun, masih ada flash kamera yang kembali menyilaukan mata hingga Mingu perlu menghapus air mata dari netranya. Butuh beberapa menit hingga Mingyu kembali ke atas tempat tidur, menyerahkan 4 lembar polaroid ke arah anak-anak.

“Kok bisa diprint di sini…?” Matanya melebar sembari menerima polaroid itu, mengeceknya satu-satu dengan Wonyu untuk menemukan bahwa ini adalah foto-foto yang sama dengan yang tadi mereka ambil.

“Iya dong, kan rumah keren.” 

“Mr. Mingyu kerjanya ngeprint foto?”

“Bukan, Ngu. Kalau di sini, mesin buat print foto banyak yang jual, jadi enggak perlu keluar rumah.”

Matanya masih berbinar. Mungkin benar kata orang-orang soal kejernihan mata anak-anak yang lagi-lagi turut berhubungan dengan perasaan mereka, masih jernih dan masih bersih. Lampu kamar mereka yang telah agak redup ini tidak pula mampu untuk menyembunyikan gemilangnya. Ada mulut yang menggumam dengan kepala yang mengangguk pelan. Kemudian, Mingu melesat untuk turun dari tempat tidur dan memasukkan foto-foto itu ke dalam tasnya sebelum kembali melesat dan masuk ke dalam selimut. 

“Thank you, Mr. Mingyu and Mr. Wonwoo!”

“Hu’uh! Thank you, Mr. Mingyu and Mr. Wonwoo!”

Mingyu dan Wonwoo tidur jauh lebih dini dibanding hampir tiap harinya, mungkin juga lebih tenang ketimbang malam-malam lainnya. Hingga pagi menjelang, masih ada Mingu dan Wonyu yang tertidur di tengah mereka dengan rambut yang mencuat ke sana dan kemari. Ada senyum yang langsung melebar ketika netra Mingyu menangkap pemandangan seperti ini di pagi hari, seperti diberikan gambaran akan seperti apa kehidupannya dalam tujuh hingga sepuluh tahun dari sekarang. Mungkin anak-anaknya kelak akan tetap berlarian dan menyelinap untuk tidur di antara dia dan Wonwoo di berbagai kesempatan, mengkudeta bagiannya di kasurnya sendiri. Lalu, Mingyu akan jadi yang menyiapkan sarapan, sebagaimana hari biasa, namun dengan tambahan porsi kecil. Mungkin ketiganya akan keluar dari kamar dengan muka mengantuk, bisa juga dengan wajah semringah karena mendapati sarapan kali ini adalah kesukaan mereka.

Untuk menghidupkan khayalan kecilnya, Mingyu mengelus kepala mereka satu per satu sebelum bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi, kemudian melesat ke dapur untuk menyiapkan apa pun yang ada di pikirannya kelak. 

Dan hari itu berjalan dengan lebih tenang ketimbang hari kemarin. 

Mereka hidup di dalam ruang tinggal ini seakan empat memang benar-benar merupakan jumlah anggota keluarga penghuni rumah, seakan mereka telah hidup begitu lama di sana hingga Mingu dan Wonyu juga memiliki kemampuan untuk mengklaim tempat itu sebagai rumah. Tawa yang bersahut ketika menonton film anak-anak di Netflix bersama, pujian lain yang Mingyu terima atas masakan yang ia buat. Wonwoo adalah yang paling bahagia karena punya teman-teman kecil di sisinya yang mampu tertawa lepas dan memicunya untuk melakukan hal sama. 

Kehadiran anak-anak di dalam genggamannya ini membuat segalanya menjadi menghangat, memberikan definisi baru mengenai apa itu rumah dan siapa saja yang Wonwoo inginkan di dalamnya. Pelukan yang dia terima maupun bagi dalam satu hari ini turut memberi lebih banyak lagi alasan untuknya menjalani hari, membuatnya meyakini bahwa hari akan berjalan dengan baik-baik saja. Selalu ada banyak orang di dunia ini yang sayang dengan dia.

Namun, sekitar pukul empat sore ketika cicitan kecil Mingu keluar dari mulutnya.

“Aku sama Wonwoo harus pulang.”

Dan itu menciptakan liang lain pada dada masing-masing dari mereka, seakan kekosongan spontan hadir di dalam sana. Segalanya yang terasa begitu pas pada tempatnya itu menjadikan mereka terlena hingga abai kalau tempat dua belia ini bukan lah di dunia mereka berdiri. 

“Harus pulang sekarang?”

Wonyu mengangguk, kepalanya sedikit tertunduk.

Sampai ketika Mingyu menyampirkan tas mereka pada punggung masing-masing, yang hadir di wajah mereka adalah kontras. Jiwa-jiwa muda itu selalu dengan senyum mereka yang menenangkan, sementara yang dewasa, sebagai yang telah melewati berbagai selamat tinggal semasa hidupnya, tidak semerta-merta menjadikan mereka andal dalam perpisahan semacam ini. Tetap ada yang menyelekit di dada Mingyu ketika versi kecilnya itu menunjukkan taring kecil di mulutnya, baru menyadari kalau di belakangnya lagi, ada tempat kosong tempat gigi baru akan tumbuh. 

“Aku seneng ketemu Mr. Wonwoo and Mr. Mingyu.” Ujar Wonyu dengan senyum lebarnya. Matanya menyipit, seperti bulan sabit.

“Uhm! Mr. Wonwoo and Mr. Mingyu bakal jadi papa yang keren!”

Baru juga perasaan kaget sampai di hati mereka, sudah hadir pelukan yang datang pada kaki masing-masing, membuat mereka akhirnya ikut berjongkok untuk menyamakan tinggi. Ada pelukan yang saling mereka bagi ketika Mingu dan Wonyu mengucapkan salam perpisahannya sekali lagi. Tangan kecil mereka itu kembali memeluk balik, meski tubuh mereka sama-sama hilang di dalam rengkuhan. 

“Kapan-kapan main lagi ke sini.” Ujar Mingyu sebelum melepas pelukannya. 

Tetapi Mingu hanya tersenyum tanpa mengucap sepatah kata apa pun. Dia hanya melengos untuk bergantian memeluk Wonwoo, seakan sifatnya yang penuh semangat itu hilang ditelan bumi, bersamaan dengan rencana kepergiannya, untuk pulang. Mingyu pikir, mungkin dia juga sedih dan mungkin dengan meminimalisir pembicaraan, kesedihannya lebih mudah dikendalikan. Namun, bagi anak-anak ekspresif yang tengah ada di dalam pelukan mereka ini, rasa-rasanya agak membingungkan jika kalimat mereka hanya dijawab anggukan. 

“Bener, enggak mau dianter?”

Wonyu langsung menggeleng, “enggak. Mr. Wonwoo dan Mr. Mingyu enggak tau tempatnya di mana.”

“Kita bisa jalan bareng-bareng.”

Gelengannya semakin kencang.

Kemudian, Mingu menggenggam tangan Wonyu sebelum mereka sama-sama membungkukkan badan, mengucapkan kata “terima kasih” secara unisono sebelum kembali berdiri tegak dengan senyum manis di wajah masing-masing. 

Baru ketika Mingyu ingin bangkit dan menjawabnya, ujung jari-jari kecil Mingu menyentuh dahinya. Dan sebelum dia punya kesempatan untuk memikirkan kemungkinan apa pun yang anak kecil itu ingin lakukan, segalanya terlanjur gelap. 

 

✶ 𓂋

 

Langit di atas mereka sedang berwarna sebiru-birunya ketika mereka kembali menginjak tanahnya. 

“Kamu beneran udah hapus foto-fotonya dari handphone dan kamera Mr. Mingyu dan Mr. Wonwoo?”

“Uhm!”

“Mereka juga enggak ingat kita?”

“Yup!”

“Aku suka Mr. Mingyu dan Mr. Wonwoo.”

“Aku juga. Mereka bakal jadi papa yang keren!”

“Mereka bakal jadi papa?”

“Uhm! Abis kita pergi. Aku liat itu juga di mimpi aku.”