Work Text:
Tengah hari ketika Tobio mendaratkan kakinya di lantai bandara, ia baru menyadari kombinasi yang salah di telapak kaki.
Kerumunan di kanan kiri semakin terdengar rusuh seiring waktu. Merajut musik paling pekat di ruang lapang yang orang-orangnya saling renggang. Seperti orkestra tanpa dirigen yang memandu, meregang suara dari organ musikal dengan asal, tanpa aturan, merancang napas di antara tarikan sesuka hati. Tobio merasa sakit di tenggorokan. Enzo beberapa kali menengok layar ponsel setelah menanyainya beberapa kali soal makanan dan barang bawaan. Seribu kali lebih terlihat khawatir daripada Hinata yang hanya meninggalkan stiker dan telepon ketiduran di waktu terlalu pagi. Mereka jarang berkomunikasi sejak Tobio lepas landas ke Italia, namun entah kenapa merasa ingin mengabari Hinata soal kepergiannya ke Bucharest—tidak lama, bukannya menetap—meski tahu betul kawannya itu akan banyak membebaninya dengan urusan cerita dan oleh-oleh (tidak akan ditagih jika terdiktrasi, contohnya jika cerita perjalanannya terlampau seru dan Tobio berhasil mengencani seseorang). Hinata selalu menjadi bagian dari perjalanan, sejauh apa pun mereka berjarak, sedekat apa pun mereka berseteru, seakan lupa pernah berpikir tidak ada bagusnya berbagi sisi net dengan si pendek. Mungkin itulah yang terjadi ketika dirimu terkait dengan banyak latar belakang, Tobio selalu menemukan alasan mengapa harus ada Hinata di dalam ceritanya meski tidak banyak hal yang berubah bahkan jika tidak melibatkan si pria oren.
Enzo kembali menengok ponselnya, kali ini bukan gerakan berulang sebab ia berpamitan mengangkat telepon dari seseorang. Gerak tangannya membuat Tobio mengerti. Menjauh di bangku kosong namun enggan duduk, berbincang tanpa banyak gerak-gerik tubuh, dan terlihat berpadu dengan keramaian hingga Tobio merasa sekali saja ia memalingkan pandangan, ia akan kehilangan orang itu. Tinggi dan atletis, serta berjarak 5 tahun di atas Tobio. Kemampuan di atas rata-rata yang sempat Tobio salah pahami sebagai di bawah rata-rata sebab ia kesulitan berpasangan dengannya sewaktu latihan—terjadi juga saat pertandingan—sampai satu minggu lamanya. Ia saudara yang baik, pengertian, dan mengkhawatirkan keadaan Tobio. Cukup khawatir untuk mengantarnya ke bandara meski Tobio tak meminta, lebih sibuk dari siapa pun dan mengangkat telepon entah dari belahan dunia mana, berpadu dengan keramaian—ia terlihat baik. Tobio menatap punggung itu aneh. Tidak jauh dan tidak dekat, meski menggapai perhatiannya saat ini ia harus berteriak supaya terdengar.
Tobio mencoba membuat dirinya terbiasa tidak ditemani sebelum menginjak sekolah menengah. Sangat menyenangkan memiliki kakak perempuan yang menggemari hal serupa meski ia mendadak tidak lagi serius soal olahraga. Bukan berarti sesi lari paginya yang berakhir seorang diri itu buruk. Tobio hanya merasa kesepian terkadang, dan mengutuk kehampaannya untuk tidak menangis sebanyak apa pun ia merasa kesepian. Namun, ia selalu melihat ke arah Miwa. Melihat gadis kecil yang kemudian menjadi gadis remaja, lalu menjadi wanita, hidup dengan luar biasa di sekitar Tobio, di mana ia tidak pernah melihat sosok gadis kecil dalam diri Miwa sebelum beranjak dua puluh dan menyeringai memandang album foto. Tobio selalu melihat ke arah Miwa, yang selalu menganggapnya adik kecil—dan menilai pembiasaan diri untuk tidak ditemani adalah hal tidak beralasan—terlepas dari setinggi apa Tobio tumbuh, sebagaimana Tobio yang selalu menganggap Miwa sebagai wanita terlepas dari sekonyol apa pun pendapatnya saat masih umur empat. Ia selalu berani, selalu pintar, selalu tegas, selalu cantik, sekaligus mudah marah, meronta di musim panas, menyajikan hidangan untuk Tobio ketika ia sakit dan hanya ingin makan kare, meninggalkan voli dan membuat Tobio seorang diri.
Tidak seperti Fiumicino, Narita melepasnya seperti seorang Ibu. Tobio masih bisa mendengar suara langkah kakinya sendiri di antara ratusan manusia seakan berbisik, sekalipun Tobio hanya seorang diri, ia masih memiliki dirinya sendiri. Dan Jepang akan tetap mendekapnya sekalipun ia pergi selama berjuta-juta tahun, dengan atau tanpa nama, dengan atau tanpa nyawa, dengan atau tanpa ingatan soal bagaimana seorang Ibu mengasihinya. Meninggalkan Jepang seperti meninggalkan satu rumah ke rumah yang lain. Membuat mata Tobio berair kendati tak cukup untuk membuatnya mundur dan kembali pada tanah air lantas bermuara di laut yang selalu akrab meski tak pernah ia berkunjung. Mengingatkan Tobio bahwa tidak masalah untuk pamit dan kembali hanya dengan gelar turis sekalipun. Sebab jika bahkan hal itu terjadi, Jepang akan tetap menjadi dirinya. Negara kesepian yang orang-orangnya mengetuk rumah tetangga dengan beberapa tusuk dango dan ramah tamah, namun beberapa waktu kemudian mengais dan menggila di dalam rumah mereka. Yang bersusah payah mengajarkan bahwa tidak masalah untuk sendirian, tidak masalah jika ia meninggalkan Jepang tanpa berpamitan sebab tanpa pergi pun ia akan dirindukan.
Saat itu Tobio pikir gugur November adalah satu-satunya hal yang ia pamiti sebelum keberangkatan. Terduduk tanpa minat menatap layar ponsel sembari memangkas kurang lebih 15 menit di kursi abu-abu. Ketukan kaki yang tak tinggal diam, bergerak konstan memijat lantai bandara. Tobio pikir. Namun, Miwa jadikan seluruh pijakan di dunia ini seperti anak tangga di rumah. Mengenakan baju paling biru di lemari dan membuat Tobio lupa mereka terlahir dari wanita yang sama. Itulah mengapa meski Enzo sudah cukup untuk Tobio yang terbiasa tidak ditemani, pikirannya terbang ke masa di mana sepasang butir mata serupa miliknya lah yang memindai derap langkah kaki manusia sampai di terminal keberangkatan. Karena ini adalah kedua kalinya Tobio menaiki pesawat.
Itu sebabnya meski Enzo ada di sana, Tobio masih mencari Miwa. Bukan karena ia tidak puas dan tidak bersyukur, namun karena kedua kali selalu mendongak menatap pertama kali. Ia mengingat bagaimana berbicara dengan Miwa untuk mengisi kekosongan mereka dan coba menerapkannya pada Enzo. Ia menyeret koper dan menginjak lantai marmer bandara dengan berdasar pertama kali Miwa memimpin jalan untuknya. Seperti anak kedua kepada anak pertama. Seperti musim dingin yang menepi di ingatan Tobio pertama kali, lalu yang kedua kali. Seperti Miwa yang mengusap bahunya dua kali sebelum Tobio menjauh, pertama kalinya berhenti perlakukan Tobio seperti lima tahun yang merayu di depan pintu dengan bola voli yang terlalu besar untuk dua tangan. Tersenyum anggun karena pada akhirnya ia menjadi wanita, tanpa bisa tumbuh tinggi melampaui Tobio, melihat adiknya sebagai 22 tahun tak lama lagi akan berjarak puluhan kilometer. Pertama kali mengakui Tobio dan terbiasa untuk tidak ditemani, terbang sendirian. Lalu yang kedua kali, meminta Tobio datang ke Bucharest jika memang ia butuh sesuatu. Terbang sendirian.
Banyak yang telah berubah setelah 4 tahun. Termasuk Tobio. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas bercukur setiap dua minggu, pisau mengkilat tidak lagi menakutinya. Ia berkomunikasi dengan baik, meski dengan wajah oriental yang sering diragukan. Tobio sudah menjadi bagian dari Roma selama 4 tahun. Ia diakui. Dan selama itu terjadi, seseorang membuat Miwa angkat kaki dari Jepang. Meskipun kabar itu cukup mengejutkan, datang di pukul delapan malam ketika Tobio berbenah dan hendak tidur. Bayang-bayang notifikasi yang mengatakan ia telah mendapat pesan itu sejak siang hari, dan subjeknya, dan isi pesan yang tertempel di dalamnya. Tentang Miwa yang jatuh cinta. Tentang pria yang membuatnya kembali menjadi 17 tahun.
"Aku gatau apa aku bisa datang ke pernikahan," gumam Tobio. Matanya tersesat. Kesulitan memutuskan harus menatap ke arah mana.
"Kamu ga harus datang." Jawaban Miwa menghentikan rotasi mata Tobio. Pada akhirnya berhenti untuk menjatuhkan tatapannya pada bingkai foto. Satu-satunya yang ia bawa sebagai kenang-kenangan semasa sekolah dasar.
"Aku punya kewajiban buat kasih tau kamu, tapi kamu gapunya kewajiban buat dateng."
Dan tidak ada gunanya jika Tobio datang hanya untuk Miwa. Karena acara itu milik dua orang, Tobio harus bahagia untuk keduanya.
"Oke." Bunyi klik satu kali. Tobio menutup telepon.
Satu bulan kemudian, Tobio benar-benar tidak datang. Pernikahannya jatuh di musim semi, dan Tobio adalah satu-satunya ciptaan yang tengah gugur. Ketika pria itu mendapatkan Miwa, Tobio kehilangan Miwa. Rasanya sedikit curang jika Miwa pergi disaat Tobio tidak ada di sana. Mendadak ia ingin mengungkapkan hal yang ia katakan sendiri sesaat setelah menutup telepon. Paragraf paling jujur. Tentang saat mereka masih memiliki satu sama lain. Tentang dalam sekejap Tobio ketakutan dengan perasaan manusia. Tentang jatuh cinta yang bisa merenggut orang berharga darinya. Tentang Miwa. Tentang Tobio. Tentang Tsukishima Kei yang menangis di seberang telepon.
Bagaimana jika memiliki Tsukishima Kei sama dengan merenggut ia dari seseorang? Bagaimana jika saat ia memiliki Kei, di saat yang sama ada seseorang yang kehilangan Kei?
★
Satu bulan, Tobio tidak menghubungi Miwa. Ia hanya tahu pestanya berjalan dengan baik lewat postingan yang tak sengaja lewat. Terlihat seperti pernikahan mereka diterpa angin baik, terbayang akan seberbeda apa suasana di sana jika Tobio datang. Miwa tidak pernah suka dengan riasan yang kelewat tebal, ia berdandan seperti hendak pergi berkencan. Lebih terlihat seperti kebahagiaanlah yang membuat wajahnya berseri selayaknya pemeran utama. Tobio bahkan tidak menyadari pesta itu hanya dihadiri beberapa teman dan saudara, di area terbuka, dinaungi patio.
Tengah hari ketika Tobio mendaratkan kakinya di lantai bandara, ia baru menyadari kombinasi yang salah di telapak kaki. Ia punya dua pasang sandal selop dengan model yang sama dan warna yang berbeda. Tampaknya, Tobio mengenakan pasangan yang salah. Biru di kanan, dan merah di kiri. Perbedaan yang mencolok, namun ia merasa baik-baik saja. Keramaian yang acuh itu tidak akan peduli dan semakin waktu berjalan, semakin mengingatkan Tobio bahwa ia hanya orang asing. Tanpa jersey Ali Roma, tidak ada seorang pun yang akan mengenalinya. Tobio hanya peran seumpama ratusan orang lain yang tengah menghidupkan bandara. Meskipun ia mengenakan sandal yang salah, baju terbalik, atau topi dua tahun lalu yang tidak lagi muat, tidak ada seorang pun yang akan peduli. Namun, 4 tahun lalu, ketika Miwa tidak dimiliki orang lain. Cantik dan bebas memasuki area bandara dengan Tobio yang mengekor di belakang sembari menyeret koper, ia menyadari rambut depan Tobio yang memanjang. Sesuatu yang bahkan Tobio sendiri tidak sadari sebelum Miwa menyinggung.
Itu saja sudah sangat cukup. Untuk Tobio kembali peduli dan menelepon Miwa dengan segala maaf. Maaf karena menjadi satu-satunya yang tidak turut bahagia. Maaf sempat tidak meyakini pilihan Miwa dan mengutuk seseorang yang membuat Miwa meninggalkan Jepang.
Selain Tsukishima Kei, semua kejadian di musim semi mendapatkan maaf.
Seolah jiwa Tobio memutar lima menit percakapan tak berarti dua hari yang lalu. Bersamaan dengan Enzo yang mengantarnya hingga terminal keberangkatan, tersenyum seperti biasa dan tidak meninggalkan tempatnya sampai punggung Tobio menghilang. Kei memintanya menjaga diri meski ia tahu betul bahwa Bucharest hanya satu jam setengah lewat jalur udara. Intonasinya asing dan ia berbicara terlalu cepat, hampir tidak bernapas seakan takut membuang-buang waktu Tobio. Pukul 5 lewat di Roma, yang berarti di Tokyo sudah tengah malam. Harusnya Tobio yang merasa bersalah dan terburu, ia kelewat tahu sesibuk apa Kei dan pekerjaannya. Namun, terlepas dari itu semua, tetap Kei yang merasa menjadi pengganggu. Tetap Kei yang masih terjebak situasi musim semi yang tidak pernah Tobio bahas lagi.
Tobio mendengar tiap baris kalimat yang mengalun di telinganya. Tanpa bisa membalas apa pun selain mereka ulang kata demi kata dalam mode lambat, semakin melambat seiring waktu, hingga bisa ia tangkap tiap tarikan dan intonasi dan spasi yang nyaris nihil. Tobio bernapas putus-putus. Masalah yang tunasnya ia seorang diri, turut membawa Kei ke dalamnya dengan kurang ajar. Menghancurkan mereka dan membangun dinding kaca yang mana hanya hubungkan keduanya lewat pandangan mata. Tak bisa menyentuh. Tak bisa mendengar. Ditinggalkan frasa, dibatasi waktu. Berakhir sebelum dunia sempat bergumuruh ingin dimusnahkan.
Ruangan Tobio kembali menjadi sepi. Selalu sepi. Hanya kepalanya yang membuat atraksi dan asumsi patah hati, serta wisata masa lalu saat sekolah menengah. Mengenai Tsukishima Kei selalu bagian terbaiknya. Ia tersenyum seorang diri. Terbahak seorang diri. Mendadak kenyang di tengah hidangan. Sangat jauh berbeda di malam itu ketika ia tidak sanggup lagi tersenyum sekalipun kepalanya memutar tayangan masa lalu yang sama.
Suara debum barang jatuh mengingatkan Tobio soal hari yang semakin dingin. Ironi yang baru ia terima ketika beranjak dewasa. Bahwa meski ia berduka, dingin akan tetap mampir sesuai jadwalnya. Entah dengan bermaksud atau tidak, membuat yang bersedih semakin berderai menangisi fakta bahwa mereka hanya sekelompok atom yang tidak akan pengaruhi cuaca. Tobio yang harus menyembuhkan diri sendiri sebab Roma tidak akan menghangat hanya karena salah satu manusianya tengah patah hati.
Gemuruh terdengar samar-samar mengawal si burung besi. Tobio pejamkan matanya meski tidak benar-benar tidur. Ia butuh buta sesaat, hanya melihat hitam, dan akan terbangun di tempat yang lebih asing.
Tidak ada hubungannya dengan tapak yang seakan dua kali lebih berat dari Fiumicino. Tidak ada pula hubungannya dengan buah leher pegal berkat ketiduran di menit-menit terakhir. Tobio merasa kepalanya sangat penuh sekaligus lega akan fakta bahwa ia tidak lagi menjauh dari tanah dalam ketinggian ribuan kaki, walau tidak dapat dipungkiri perasaannya saat turun jauh lebih payah daripada saat berada di dalam sana. Samar-samar lidahnya mengecap sisa hidangan ringan dari pesawat yang enggan meninggalkan rongga mulut. Bukan rasa yang buruk, bukan juga rasa yang mengenakkan. Lebih kepada asam lambungnya yang naik dan membuat Tobio sedikit ingin muntah. Belum lagi perasaan tidak nyaman yang menyambutnya sejenak menghirup udara Otopeni. Daripada mengisi paru-parunya dengan udara segar, Tobio justru tercekat. Tidak sanggup menarik napas besar-besar dan berusaha menghubungi Miwa. Ia mual. Meski kabur, ia bisa melihat tangannya bergetar.
"Ya, Tobio? Uh... Gue hampir tidur, baru pulang dan mau istirahat." Tobio mengumpat. Kini telinganya berdengung. Dari sekian banyak kontak di ponselnya, ia harus salah menghubungi Kei. Bahkan tidak berurutan secara alfabet atau pun tergolong histori aktivitas terakhir yang secara logika bisa membuat Tobio salah menekan. Namun, kepalanya sedang gila-gilaan yang mana mempengaruhi penglihataannya. Menghubungi Kei adalah kesalahan, kini Tobio harus menanggung masalah lain demi mencari alasan atas kecerobohannya. Yang jelas harus dengan sopan dan tidak menyinggung, juga tidak membuat Kei merasa dijahili. Sedikit perih menyadari betapa sulit hubungan keduanya saat ini lewat intonasi bicara Kei yang sudah lama ia campakkan kini kembali muncul ke permukaan. Berbicara padanya seperti bicara pada klien yang membuat ia buang-buang waktu, plin-plan, dan tidak kompeten. "Maaf, gue—cara redain mual tanpa obat gimana ya, Kei?" Kei. Bahkan menyebut namanya terasa pahit. Betapa antagonis Tobio melihat dirinya ketika sadar tanpa menyebut nama Kei pun, pertanyaannya masih masuk akal.
"Lo di mana? Baru turun dari pesawat? Duduk aja. Jangan ngos-ngosan, jangan bikin dada lo penuh. Breath easy." Dan Tobio melakukannya. Visinya tidak serta merta kembali normal. Pun dadanya masih mengetat tiap kali loloskan satu atau dua napas. Namun, berbicara dengan Kei sedikit banyak mengembalikan kontrolnya untuk bisa kembali berpikir dan mencari tempat duduk. Bukan berarti Otopeni dua kali lipat lebih ramai dari Fiumicino, Tobio tidak mengharapkan apa pun dari tempat umum yang banyak orang lalu lalang. Hanya saja Otopeni memberi kesan yang jauh lebih asing daripada Fiumicino. Bahkan lebih asing dari pertama kali menginjakkan kakinya di Roma. Bukan saja ia merasa tidak dipedulikan, lebih buruk lagi justru negara kunjungannya ini memperlakukan Tobio seperti ia tidak berwujud sama sekali. Terlalu menakutkan sampai otak Tobio memuat sugesti akan ada pria besar yang berjalan lurus tanpa peduli keberadaannya di sana. Membuat Tobio terlempar dan menyedihkan. Tobio pikir hal ini cukup menjelaskan sebesar apa kekhawatirannya.
Sebab faktanya, Tobio tidak berarti apa pun di sini. Di negara yang ia sendiri tidak tahu cara memesan makanan, atau bahkan memulai pembicaraan dengan baru. Kemudian Tobio tersadar bahwa satu-satunya hal yang ia butuhkan untuk mengatasi kepanikan ini adalah menghubungi seseorang yang familiar. Harusnya Miwa, jika Tobio menekan nomor dengan benar. Bukannya Kei yang menegaskan ia hendak tidur dan dalam kondisi baru usai dengan pekerjaan, mencuri waktu pria itu demi mengatasi terjangan mual dan sakit kepala efek tertekan atmosfer baru. Meski begitu, tetap saja Tobio tidak ragu untuk mengakui. Miwa sekalipun tidak akan sanggup melakukan hal yang sama dalam kurun waktu sesingkat itu. Pria itu hanya meninggalkan instruksi satu kali. Memintanya bernapas dengan tenang dan tidak panik. Lebih ampuh dari obat kimia. Selanjutnya hanya diisi oleh keduanya saling bernapas di telinga masing-masing. Terasa dekat namun jauh. Suara pergerakan kecil Kei di seberang sana membuat Tobio merasa aman dan pulang. Masih terlukis dengan jelas tiap potongan keseharian yang tanpa perlu dihapal pun sudah bersarang di ingatan Tobio. Kei menaikkan selimut. Kei melepas kacamatanya. Kei menghela napas dan merendahkan bantal hingga nyaris tidak menyangga kepalanya sama sekali.
Kei.
Kei tertidur. Terlupa akan sambungan teleponnya dengan Tobio.
...
Sehari sebelumnya, Miwa sempat menyinggung soal selera makan Tobio selama tinggal di Roma. Pembahasan yang terbilang percuma, namun mengindikasikan perhatian sebab selama hidupnya, Tobio tidak pernah kerepotan dengan hidangan dari mana pun. Ia beradaptasi cukup cepat dan dan tidak ragu bertanya. Contohnya saat sarapan pertamanya di Roma adalah roti dengan terlalu banyak mentega, Tobio tidak berekspektasi seseorang akan sanggup menelan terlalu banyak omega 3 semelimpah itu di pagi hari. Dan benar saja, salah seorang yang bertanggung jawab dalam urusan dapur mereka melakukan kesalahan. Ia harus menegak satu gelas susu ekstra setelahnya untuk mengatasi sensasi tidak nyaman di langit-langit mulut. Alasan lainnya, sebab Miwa adalah koki yang handal. Pondasi mengapa ia memiliki nafsu makan yang besar, dan tidak pernah sekali pun khawatir pada apa pun yang masuk ke mulutnya karena terbiasa dengan kualitas masakan Miwa. Sebab itu, pertanyaan Miwa sangat tidak beralasan. Mungkin saja hanya bermaksud menambal waktu-waktu di mana mereka tidak cukup mampu saling berkomunikasi.
Ngomong-ngomong soal menu sarapan, penduduk Bucharest tidak jauh berbeda dengan Roma. Penggemar makanan berbahan dasar tepung untuk sarapan, didampingi kopi pahit atau susu. Bisa dikatakan Tobio sudah terbiasa dengan selera macam itu, bukan dalam artian akan turut mengikuti cara mereka hidup, Tobio lebih memilih memasak nasi dan telur untuk dirinya sendiri sebagaimana yang ia lakukan di Tokyo. Old habit die hard, hanya di beberapa waktu ia akan mengonsumsi roti dan gandum. Cukup untuk tenaga kurang lebih 3 jam setelah lari pagi. Sebab seasing apa pun semangkuk sarapan, sama sekali tidak patut dilewatkan. Makanan adalah makanan, dan Tobio senang jika perutnya kenyang.
Rasanya seperti ia menghabiskan waktu satu hari penuh meski pada kenyataannya tidak lebih dari seratus dua puluh menit. Tobio bersumpah ia tidak ketakutan ataupun gugup, namun padatnya manusia di sekitar sekali lagi membuatnya kerepotan. Setidaknya satu jam dengan kereta untuk akhirnya sampai di pusat kota Bucharest. Sekaligus ekstra sepuluh menit untuk lolos dengan urusan pertiketan, karena Miwa hanya memberi instruksi dasar dan tidak menjawab teleponnya. Masih jelas tatapan orang-orang di sana penasaran dengan keberadaan Tobio, yang untuk beberapa waktu, akhirnya mengakui dan memusatkan perhatian padanya. Cukup memakan waktu untuk kembali yakin bahwa ia tidak transparan dan sejatinya terlihat oleh orang-orang di sana. Bahwa meski asing, tidak seasing itu.
Otot lengan atas Tobio terasa kaku. Telapak tangannya menekan kursi kereta dengan posisi badan menjorok ke depan. Ia punya banyak rencana dalam kepalanya setelah turun dari kereta dan bayangan itu memberi beban tiada akhir bahkan sebelum ia memulai. Seperti saat ini ia merasa lapar, namun khawatir saat sampai penginapan ia justru mengantuk dan menggulung diri di kamar, kehilangan selera makan sebelum sampai ke Cismigiu dan bertemu Miwa. Kembali menjadi lima tahun yang merindukan kakaknya di suatu kota asing, tempat di mana ia tidak pernah sekalipun bermalam. Ia juga khawatir akan kemungkinan penjaga penginapan yang menyiapkan makanan sebab menyangka ia akan kelaparan setelah perjalanan jauh, sementara ia tidak memenuhi ekspektasi dan berangkat tertidur. Begitu banyak hal-hal kecil yang Tobio khawatirkan.
Seolah ia tidak menantikan apa pun selain Miwa. Selain bertemu dengan kakak kandungnya yang tidak sempat ia temui saat pernikahan, dan seolah ia datang demi Miwa, bukannya demi dirinya sendiri. Meski pada kenyataannya, ia datang sebab kesulitan menangani sesuatu. Bercerita pada Miwa lewat telepon pun tidak cukup, lalu memutuskan untuk terbang seperti yang Miwa bilang di kala ia butuh sesuatu. Serta masih terbayang jelas di ingatan bagaimana Miwa mendadak mengubah topik soal pretzel yang bisa ia temui tiap kali turun stasiun karena Tobio terdengar frustasi, ia khawatir bukan main dan mulai mengatakan informasi yang tidak ada penting-pentingnya soal Bucharest. Tobio akan baik-baik saja di Bucharest sampai ia bisa menemui Miwa. Lupakan soal kejadian tiket, normal untuk turis mengalaminya. Pun, Tobio tetap bisa duduk di kursi kereta dan menanti 40 menit sampai berhenti di pusat kota.
Detik ketika Tobio turun dan keluar dari area stasiun, akurat seperti yang Miwa bilang, toko roti dengan aksen coklat tua dan penjualnya yang ramah, meski Tobio tidak banyak tahu soal nilai mata uang lei, pada akhirnya ia menyerahkan sejumlah uang untuk sebuah pretzel yang lebarnya dua telapak tangan. Mengisi perut setelah yakin ia jauh lebih lapar daripada mengantuk.
Di gigitan ketiga, sebuah pesan masuk. 2 jam berlalu sejak kelepasan tertidur, Tsukishima Kei.
"Have a great trip."
Meski Miwa menyebutnya penginapan, tempat itu tidak lebih dari sebuah rumah yang ditinggali sepasang suami-istri paruh baya. Mereka kebetulan memang menyewakan dua kamar kosong untuk turis yang butuh tempat tinggal sementara. Sehingga daripada menginap, Tobio lebih merasa diadopsi dengan sejumlah uang sebagai bayaran. Bukan berarti ia memprotes, Jessica adalah koki yang handal. Ia mengenakan dress sepanjang lutut sejak sore pertama Tobio menyapa. Sesuai dugaan telah menyiapkan makanan untuk tamunya, dalam porsi besar dan beragam seakan Tobio membawa puluhan pasukan, yang tanpa diduga membuat perutnya kembali berbunyi meski baru saja habiskan satu porsi pretzel selama perjalanan. Ia bahkan terlupa bahwa alas kakinya tidak sepasang, sontak menanggalkan di teras dan membuat Jessica kebingungan saat hendak membereskan area depan rumah.
Bagian yang Tobio syukuri soal penginapan itu adalah mereka rupanya mempelajari banyak hal soal kampung halaman Tobio. Tempat tidurnya dibuat ala tradisional Jepang dengan hanya matras dan selimut, serta meja kecil untuk minuman hangat dan makanan kecil. Pelayanan semacam ini membuat Tobio mempertanyakan seakrab apa Miwa sebenernya dengan sepasang suami-istri itu. Mereka terlihat sedang menikmati masa tua dan hidup dengan uang pensiunan. Jessica gemar membuat hidangan, dan beberapa kali mengirimkan sepiring kecil buah dan manisan dalam satu malam. Suaminya sendiri, Alex, tidak banyak berinteraksi dengan Tobio selain menyapanya di depan pintu masuk. Selebihnya, ia berada di kebun belakang sampai hari petang untuk bergabung dengan makan malam.
Meski sudah sangat lama sejak terakhir kali Tobio tertidur dengan alas rendah, ia melemas sejenak baringkan tubuh di matras. Mengejutkan teringat kondisinya yang prihatin di bandara mendadak merasa bisa tidur sekejap pejamkan mata dalam kurun waktu kurang dari satu hari. Seperti pulang dan disambut, dan Tobio sebenarnya hanya kehilangan ingatannya. Pemilik penginapan itu terlampau ramah, jauh dari bayangannya soal Bucharest yang ia pikir akan jauh dari kata akrab jika menyangkut orang asing. Ia merasa lebih dari kata baik. Ia makan makanan enak setibanya di penginapan, meski alas kakinya tertukar, meski ia tidak banyak berbicara dengan Kei belakangan, meski ia melakukan kesalahan. Meski barangkali kalimat have a great trip memiliki arti lain di baliknya. Semacam sarkasme sebab di tengah kerancuan keadaan mereka saat ini, Tobio malah berlibur. Meski ia tidak bermaksud—
Kenyataan bahwa Kei masih bisa menghadiahinya kalimat have a great trip terlepas dari kejengkelannya soal Tobio, pasti membutuhkan bertahun-tahun pengalaman sampai ia kebal dan menggunakan cara paling berterus terang untuk menjelaskan bahwa ia kecewa. Seperti Tobio beberapa kali melakukan kesalahan, keputusan, di depan matanya. Tobio si pengagum lukisan Girl with a Pearl Earring di rumah Kei yang tidak pernah dipajang di ruang bebas di rumah, mendekam di gudang bertahun-tahun sebab Kei percaya lukisan itu hanya tiruan. Namun, Tobio tetap menyukainya. Tanpa bermasalah sama sekali, sebab ia menyukai si gadis dalam lukisan terlepas dari tiruan atau tidak. Yang mana menurut Kei salah, dan mereka sangat berkebalikan. Belum lagi bagian di mana Tobio tidak tergerak sama sekali oleh karya Leonardo Da Vinci saat justru Kei selalu kagum pada sang polimatik. Terkadang Tobio berpikir hal itu bukan masalah besar, pun Kei selalu menggeser topik itu dengan urusan yang mereka berdua saling setuju. Namun, sekarang. Melihat ke belakang dan bagaimana hubungan mereka berjalan, Tobio merasa rumit. Hal sederhana seperti preferensi menjadi sangat sensitif saat Tobio mengingatnya lagi.
Baik Tobio dan Kei, bagian terbaik sekaligus buruknya adalah mereka tidak pesimis atau pun menyerah. Kei tidak mencoba menghilang, atau Tobio mencoba memperkeruh keadaan. Namun juga berarti mereka tengah mencekik satu sama lain tanpa memiliki kemampuan untuk melepaskan diri, seolah percaya mencintai dengan cara terburuk sekalipun masih terbilang mencintai. Dan jika menjadikan mereka sekarat berarti bisa menjaga Tobio untuk Kei seorang diri, mereka lebih dari sanggup untuk melakukannya.
Apakah eksistensi ganjil seperti cinta patut diperjuangkan sepayah ini?
Tobio merapatkan selimutnya dan berusaha tidur. Mengabaikan desau halus dari pendingin ruangan yang merayap di dinding. Terlalu lelah untuk menunggu hingga empat jam sampai makanannya berhasil dicerna, meski Tobio tidak yakin hitungannya benar berakhir sampai tiga. Ia tetap memejamkan mata berusaha berkelana sejauh mungkin kendati hanya jalur mimpi, berharap ada di tempat di mana ada Tsukishima Kei. Memeluknya erat tanpa memiliki hal yang harus mereka benahi. Dipeluk erat tanpa Tobio pernah bersalah dan cacat. Meski keesokan hari tidak menjanjikan apa pun, jika ia berhenti bernapas di pelukan Kei, tidak akan jadi masalah.
.
Jendela kamarnya dibuka pukul tujuh. Tidak disangka Tobio akan terbangun oleh telepon dari Miwa saat matahari sudah cukup meninggi. Biasanya pukul lima telah masuk batas maksimal Tobio memulai hari, mungkin karena lingkungan yang tidak familiar, ia tidak bisa menakar pagi buta dan pagi dan bangun seperti biasa. Belum lagi fakta bahwa ia terbangun karena dering telepon, entah akan selambat apa jadinya jika Miwa tidak menghubunginya. Kehilangan sarapan mungkin tidak termasuk hal yang harus dikhawatirkan, namun Tobio memiliki jadwal dan tujuan untuk dilakukan hari itu. Cukup banyak persiapan yang dimulainya sejak masih di Roma. Sebab itu alasan Miwa menelepon membuatnya dua kali lipat lebih bangun. Tidak cukup mengejutkan, Tobio hanya menggenggam ponselnya terlalu erat sembari mendengar Miwa dari seberang. Matanya berotasi melihat ke luar jendela, tampak berkabut sekarang sebab kabar tidak menyenangkan mendadak menghalangi rutenya.
"Aku gamau kamu kenapa-kenapa. Jadi, jangan." Miwa terdengar santai. Suara denting sendok dan gelas terdengar dari kejauhan.
"Tapi aku cuma punya 3 hari."
"Kalo gitu." Miwa menjeda. "Pulang kalo udah waktunya pulang." Tobio sama sekali tidak mengerti. Apa esensi perkataan Miwa beberapa bulan lalu jika ia datang dan pulang tanpa membawa apa pun?
"Rute yang harus dilewatin buat sampe ke tempat aku semuanya ditutup siang ini. Orang-orang juga udah mulai membatasi kegiatan. Kalaupun kamu bisa sampe ke sini pagi ini, kamu gabakal bisa pulang setelahnya. Aku gatau unjuk rasanya bakal selesai kapan, yang penting sekarang lagi ga aman. Aku minta maaf udah bikin kamu berangkat di waktu kaya gini."
Sejujurnya sangat memuakkan mendengar Miwa harus meminta maaf. Cismigiu adalah permukiman yang padat, dan ia tidak berkuasa atas apa pun yang akan terjadi selama perjalanan. Lokasinya saat ini tidak jauh dan dekat dari Cismigiu, namun jika Miwa begitu mengkhawatirkan kejadian di masa depan, Tobio tidak bisa banyak berkilah. Selain ia yang belum terlalu mengenal Bucharest kecuali panas dan dinginnya, orang-orang individualisnya, tentu bukan opsi jika menyangkut perasaan Miwa. Ia yang paling sensitif, dan sebenarnya sangat menenangkan jika Miwa memperingatinya tanpa terdengar tergesa atau panik. Maka Tobio menutup telepon setelah meyakinkan kakaknya bahwa ia tidak akan gegabah dan menembus gerombolan orang-orang. Pun ia banyak mendengar masalah yang disebabkan oleh pemilihan presiden. Orang-orang memberontak, terlampau kokoh oleh pilihan yang mereka coretkan, tidak ingin mengalah—perasaan yang bisa Tobio mengerti—karena mereka sangat mengabdi. Meski bagian yang tidak Tobio mengerti, bagaimana bisa seseorang percaya dengan orang lain untuk urusan kemakmurannya? Apa mereka pikir satu orang bisa memikul beban puluhan di bawahnya? Apa mereka merasa yakin akan diistimewakan?
Tobio mengangkat bahu. Bersiap keluar untuk sarapan sebelum berpikir mengenai kegiatan apa yang harus ia lakukan saat ini selain berdiam diri di kamar? Bukan ide buruk bergabung dengan keseharian Jessica dan Alex selama tiga hari penuh, namun setelah banyak pertimbangan, ia memilih untuk tidak melakukannya. Tidak jika harus menjadi orang ketiga bagi pasangan paruh baya yang sedang menghabiskan waktunya dengan satu sama lain. Orang tua Tobio masih membuat diri mereka sibuk, meski begitu ia sedikit mengerti soal orang-orang yang bersantai di usia pertengahan. Begitu pula orang-orang yang tidak punya kesempatan bersantai, Tobio belajar banyak.
Jessica menghidangkan dua jenis acar pagi itu. Tobio menutup sarapannya dengan semangkuk kecil yang rasanya asam dan pedas. Cita rasanya meninggalkan sesi bergidik dan membuat ketagihan, jadi ia memutuskan mengambil beberapa sebagai teman membersihkan kamar tidur. Jessica menepuk pundaknya beberapa kali, terlihat sangat bersenang-senang melihat nafsu makan Tobio. Hari itu pun, ia mengenakan gaun selutut. Menjuntai ke bawah dan berhenti di perpotongan betis, mengagumkan di usia lima puluh.
"Kamu harus hati-hati kalo ke luar hari ini." Jessica menyampaikan pesan yang sama dengan Miwa. Bedanya ia bisa melihat Jessica terlihat tidak tenang, berkebalikan dengan nada bicara Miwa yang ia yakini sambil mengunyah stroberi saat meneleponnya di pagi hari. Bisa Tobio dengar di antara percakapan mereka kakaknya itu mengeluh soal kualitas stroberi yang buruk, kemudian seseorang mengatakan sesuatu soal musim.
"Aku rencananya cuma jalan-jalan di sekitar sini." Bisa Tobio tangkap wajah terkejut Jessica, lebih tahu dari yang Tobio kira. Mungkin ia juga cukup paham kapan Tobio akan pulang. Jessica tersenyum lembut, "Banyak yang bisa dilihat di sini." Langkahnya kemudian menghilang di konter dapur.
Ya. Tobio menantikannya. Warna apa yang bisa ia lihat di negara yang kemarin hari masih abu-abu. Terlalu kusam hingga Tobio kebingungan dan dan lebih banyak memejamkan mata sepanjang jalan. Tidak bisa menemui Miwa bukan berarti akhir dari dunia. Ia yakin kakaknya itu akan sangat senang mendengar Tobio bersenang-senang, mampir ke negara yang menghabiskan satu jam setengah dengan pesawat tanpa tujuan dan membuat rencana perjalanan tiga hari. Meski menurut Tobio terlalu dini untuk menyebutnya rencana perjalanan.
Ia pergi setelah sore hari. Hari sudah gelap dan lampu jalan menata diri sepanjang jalan. Tobio membawa langkahnya sendirian tanpa seseorang yang menuntun, ia tidak akan tersesat selama jalanan masih sangat terang di beberapa spot. Belokannya memiliki aksen sama, namun memiliki perasaan berbeda tiap kali ia mengubah navigasi. Seperti saat ini, tanpa panduan siapa pun, hanya lewat memindai suasana yang banyak lampu dan orang dibanding belokan lain, Tobio memutuskan membawa kakinya menuju tempat yang semakin berisik ketika didekati. Tiap-tiap orang di sana memiliki segelas minuman di meja mereka. Sekali lihat saja ia sudah bisa menebak tempat itu adalah bar. Baiklah. Ia sudah lebih dari cukup umur. Maka Tobio menghempaskan tubuhnya di salah satu bangku panjang. Ada seorang gadis di sampingnya tengah sibuk dengan ponsel, ia tidak akan peduli. Tobio pikir.
Barista berpakaian kelam menyajikan sebotol bir dan segelas yang sudah dituang di hadapannnya bahkan sebelum Tobio sempat memesan. Ia sedang terlibat percakapan dengan salah satu pelanggan, Tobio pikir mungkin distraksi macam itu membuatnya salah meja, dan ia tidak yakin bisa menengahi percakapan mereka di situasi saat ini Tak lama kemudian, barista itu kembali mengambil botol bir dengan wajah kebingungan melihat wajah orang-orang. Tobio menyembunyikan eksistensinya dengan meneguk segelas bir di hadapan. Asam dan pahit. Kurang lebih sama dengan Mel Gibson, namun terasa ada yang asing pula. Tertulis 5% alkohol di botol kaca, Tobio meneguk satu kali. Seiring waktu rasa asam dan pahitnya tidak semudah itu dibedakan. Pahitnya hanya kejutan di awal, kemudian asam mendominasi sebelum sengatan setelahnya adalah pahit yang membuat Tobio meneguk lagi dan lagi. Jika Tobio boleh berpendapat, meski bukan yang sangat mewah serta hanya terasa segar saat dingin, ia akan dengan percaya diri mengatakan bahwa Timisoreana patut diprioritaskan daripada ajakan menonton sepakbola. Atau jika akhirnya ia turut andil, Tobio akan memilih meneguk sebotol penuh Timisoreana daripada menonton pertandingan di depan matanya.
Obrolan manusia di sekitar terdengar acap kali, Tobio menulikan telinganya sejak tadi kemudian menyadari betapa orang-orang tidak banyak bersuara. Entah mereka sangat menjaga privasi, namun Tobio tidak bisa menangkap topik yang tengah segerombol orang di meja paling ujung sedang bicarakan. Benar-benar tempat yang manjur untuk berdiam diri di kala jengah, saat tidak ingin berhubungan dengan manusia. Bayangan dunia malam di kepala Tobio selalu menyeramkan mengingat tingkat kriminal di negaranya, namun bukan berarti ia tidak mencoba bagian gemerlapan yang penuh orang gila. Meneguk alkohol sampai mabuk, lalu menari entah dengan siapa, lantas pulang keesokan pagi ketika matahari masih terlalu malas untuk terbit.
"Kageyama Tobio."
Lampu di atasnya berjajar dengan rasio yang sama, Tobio pikir. Tidak terlalu terang untuk menyakiti mata, justru memeberi penerangan yang cukup untuk melihat bayangan absurdnya sendiri di gelas kaca. Barista berpakaian kelam mengenakan topinya sedikit miring, mengapa pula ia memakai topi di ruangan beratap. Lalu, suara seseorang menyebut nama lengkapnya. Bukan hanya Tobio. Bukan hanya Kageyama. Tapi, Kageyama Tobio. Cukup jelas dan fasih, nyaris sama seperti cara Miwa membaca namanya di halaman depan buku sebelum memeriksa tugas matematika. Jelas dan lumayan kencang meski terbenam musik jazz dari piringan hitam.
Untuk beberapa detik, Tobio gagal memproses informasi yang baru diterima oleh indra dengarnya. Ia menoleh ke arah kanan dan kembali menatap bayangannya sendiri di botol kaca, menghalau panggilan yang disangka hanya imajinasi. Baru setelahnya ketika Tobio menoleh ke arah kanan, bersamaan dengan seorang wanita bergaun merah memasuki bar dengan rokok di tangan, Tobio menyadari keberadaan perempuan lain yang sejak tadi duduk di sampingnya. Wajahnya familiar meski setelah bertahun-tahun, seolah tidak mendapatkan cukup tidur. Seolah musim dingin terjadi di rumahnya sepanjang waktu dan ia butuh hibernasi.
Tobio mengerutkan kening. Gadis di hadapannya kini mulai melambaikan satu tangan sambil melantunkan "Kageyama Tobio." berulang kali. Nada bicaranya mulai bersenang-senang, sementara Tobio berdebar sebab ini pertama kalinya seseorang memanggil namanya selain Miwa selama berada di Bucharest. Sampai di menit berikutnya ia ditarik ke dunia nyata oleh tingkah wanita itu yang mendadak menuang cairan terakhir di botol ke gelasnya sendiri. "Shirofuku," bisiknya.
Gadis bernama Shirofuku terbahak. Sekali lagi mengingatkan Tobio akan Miwa. "Udah lama banget sejak terakhir kali ada yang manggil gue Shirofuku." Ia kemudian menenggak seluruh isi gelasnya, lalu kembali melirik Tobio penuh atensi. Saat tertawa, matanya tidak menghilang, membuat Tobio yakin bahwa ia memliki mata besar. Hanya saja mereka selalu tampak mengantuk. Caranya tertawa juga bukan sesuatu yang familiar untuk Tobio. Seingatnya, mereka tidak pernah benar-benar mengobrol selama sekolah. Mungkin hanya secara tidak langsung, saat Shirofuku dan beberapa murid perempuan dari tim lain mengingatkan soal makan malam di waktu latihan gabungan semasa sekolah akhir.
"Yukie aja." Ia berujar penuh perhatian. Senyum tidak menghilang sejak mendapati keberadaan Tobio. "Shirofuku," balas Tobio.
Sangat tidak mungkin bagi Tobio memanggil seorang gadis dengan nama depan mereka. Bahkan Yachi sekalipun, yang sudah berteman selama bertahun-tahun, masih Tobio sapa dengan nama belakang. Pengalaman terbaik Tobio dengan seorang gadis hanyalah Miwa seorang. Yachi, meskipun cukup dekat, Tobio sebisa mungkin berusaha untuk tidak pernah membuatnya marah. Yang mana berarti hanya Miwa perempuan yang bisa ia atasi. Tobio mengenal makhluk bernama 'perempuan' Miwa, cukup menjelaskan kenapa segala tingkah laku Shirofuku selalu mengingatkan pada kakak perempuannya.
"Oke, terserah kalo gitu. Maaf udah ngambil minum lo, mau pesen lagi?"
Tobio menggeleng, memperhatikan gerak-gerik Shirofuku tanpa berkedip. Ia tidak percaya mantan manager tim voli Fukurodani sedang berbicara padanya. "Ya?" "Nanya aja."
"Lo tinggal di sini?" Tobio akhirnya mengatakan sesuatu lebih dari satu kata setelah Shirofuku cukup menanti lewat kode dari tatapannya. "No."
"And don't feel bad for asking!" Meja di hadapan mereka sedikit berguncang karena Shirofuku mendadak mengubah haluan duduknya. Kini menghadap Tobio. Bisa ia lihat mata gadis itu kebiru-biruan, mungkin lensa kontak, sangat cantik seperti musim dingin. Meski ia lebih tertarik dengan mata senada musim gugur.
"Daripada gue, lebih ke ngapain atlet voli Italia ada di sini? Gue selalu up to date soal cowok-cowok cakep, apa gue mulai tua dan ketinggalan berita?" Semakin dilihat, Tobio merasa Shirofuku sangat mengantuk. Ia berkedip dengan lambat, namun lewat nada bicaranya ia yakin bahwa gadis itu 100% terjaga.
"Ada urusan. Hari ini baru hari pertama."
Tobio berkeringat. Mungkin ide Shirofuku soal memesan bir baru beberapa menit lalu ada benarnya. Rupanya tensi udara mendadak rendah saat ia melihat Shirofuku pertama kali, tidak merasa butuh tegukan bir lagi kendati ia terlena dengan sensasi asam pahit lada rongga mulut.
Tobio meminta dua botol sekaligus setelahnya. Obrolannya dengan Shirofuku mengalir meski baru pertama kali mereka terlibat percakapan dua orang. Tobio sudah menyangka gadis mengantuk itu cukup mudah berkawan, yang tidak ia sangka adalah bagaimana ia merasa nyaman dengan orang yang dulunya asing. Yang dulu hanya ia kenal sebagai gadis dari Fukurodani, bertanya banyak hal dan mengulik cerita perjalanan karir voli Tobio. Dimulai sejak masih menjadi atlet dalam negeri, sampai mencuri perhatian tim sebesar seperti Ali Roma, membawa aset Jepang bersama mereka dengan janji mengharumkan negara tempat ia terlahir. Meninggalkan satu-satunya kakak perempuan hingga Miwa pun turut meninggalkan Jepang, dengan tujuan yang berbeda. Miwa tidak pernah menyinggung soal mengubah kewarganegaraan, namun ia cukup yakin hal itu akan terjadi tidak lama lagi. Alasan Miwa tidak pernah menyinggung hal itu pula mungkin sebab ia percaya Tobio telah cukup dewasa untuk menyadari perkara itu.
Bahkan Shirofuku sekalipun, pasti menyadari Tobio yang berbeda dari dirinya semasa sekolah. Ia yang ragu untuk terlalu dekat dengan murid laki-laki lain selain anggota Fukurodani, merasa keberadaan Tobio terlalu sulit didekati. Lagipula pelatihan itu membawa nama Fukurodani sebagai tuan rumah, ekspektasi semacam interaksi dari tim lain pun tidak akan mengecewakan. Meski hal itu berarti tidak menyangkut Kageyama Tobio. Terlebih lagi laki-laki dan perempuan cenderung membuat lingkaran mereka sendiri di luar urusan pertandingan. Namun, di kesempatan ini, Shirofuku yang tidak tahu banyak tentang Tobio pun mengerti bahwa relasi nihil mereka semasa sekolah tidak lagi ada hubungannya dengan masa depannya. Tobio telah tumbuh dan bertemu dengan banyak orang, tidak perlu lagi ragu untuk mengutarakan satu atau dua pertanyaan. Tiga atau empat. Atau sepanjang malam.
"Lo suka Timisoreana."
Tobio mengangkat bahu. "Enak." Dibalas dengan anggukan dari Shirofuku. "Gue agak sial waktu pertama sampe ke Bucharest," lanjutnya kemudian. Memutar ulang adegan mual dan pusing sendirian di tengah keramaian. Mempercayakan dirinya pada Kei yang begitu jauh di kala hubungan mereka yang tidak baik-baik saja. Mengingat sekali lagi benang antara ia dan Tsukishima Kei. Cara mereka percaya dan sekarat.
"Setelah diinget lagi, orang-orang sini gaada bedanya sama orang Jepang. Tapi gue malah panik begitu sampe di sini."
"Karena lo kenal Jepang lah." Shirofuku memutar mata. Nada berbicaranya jauh lebih santai sekarang, hal yang baru bagi Tobio. "Ga peduli mau secuek apa pun orang Jepang, lo kenal Jepang dengan baik. Lo tau ke mana harus lari kalo ada yang ngejar, lo lahir dan liat dunia sebelum liat orang tua lo. Walaupun jadi gelandangan sekalipun, lo masih bisa bertahan hidup. Sementara di sini, lo ga kenal siapa-siapa dan lo ga expect bakal dicuekin, lo perlu pertolongan di sini. Hal kaya gitu terjadi sama banyak orang, Kags."
Tobio berhenti di tempat. Hampir mengangkat gelas lagi padahal isinya sudah kosong. Tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata setepat apa perkataan Shirofuku. Namun, semakin ia memikirkan, gadis itu tepat sasaran. Tobio pikir tanpa orang lain menjelaskan memang ia tidak akan mengerti dan akan tetap menyalahkan Bucharest dan kehidupan mereka yang menekan pada individualisme. Yang mana pada kenyataannya tidak, Tobiolah yang bersalah. Hanya karena objeknya bukan manusia, bukan berarti ia bisa bebas berprasangka buruk, bukan?
Tiba-tiba ia mengingat Jessica, sosok yang tidak berada di bandara. Memperlakukannya dengan layak seperti kabar baik, membuat nafsu makannya kembali.
"Ada cowok yang ganteng banget di Ali Roma." Si gadis memulai sekali lagi percakapan. Kepalanya jatuh ke meja dan kali ini benar-benar mengantuk. Tobio memasang wajah bingung, memorinya sontak menayangkan wajah Enzo. "Hah?"
"Gue udah bilang kalo gue up to date, kan?" Ia mengatakannya seolah hal itu adalah alasan yang benar untuk menggosipi orang lain. Tobio hanya meringis.
"Hm, lo masih sama Tsukishima itu, gak?"
Momen itulah yang membuat Tobio tersedak ludahnya sendiri. Shirofuku tertawa puas dengan reaksi Tobio, meja mereka bergetar lebih kencang dari sebelumnya. "Gue udah bilang gue up to date, kan?" Kalimat itu lagi, dengan nada lebih menyebalkan.
"Lo tau kebanyakan!" Hampir Tobio beranjak dari tempatnya duduk sebelum dihentikan oleh Shirofuku. Gadis itu kemudian bertingkah seolah ia ingin membisikkan sesuatu. Tobio yang jengah hanya menurut dan kembali memposisikan diri, lantas mengikuti arah mata Shirofuku yang melihat ke arah barista berpakaian kelam. "Dia punya bisnis lodging, gue bingung kenapa dia malah kerja jadi barista."
"Gausah ngalihin pembicaraan." Shirofuku terbahak sambil membanting kepalanya ke belakang. Menertawai Tobio yang wajahnya masam dan benar-benar seperti ingin pergi dari tempat itu.
Tepat pukul sepuluh, seorang pria menjemput Shirofuku. Ia pulang lebih dahulu daripada Tobio. Biru pada matanya hampir menghilang ketika mengatakan selamat tinggal, terlampau cemerlang sampai tanpa Tobio sadari, ia turut melambaikan tangan.
Seakan belum juga selesai dengan hal mengejutkan yang dilempar berturut-turut tepat di muka, pagi selanjutnya Tobio menuju ruang makan dengan rambut setengah basah. Menatap nanar pada meja makan yang hanya ada Alex, serta pesan dari Jessica untuk makan apa yang ada di meja. Kabar buruk karena Tobio adalah penggemar masakan Jessica, sementara wanita paruh baya itu sedang menghadiri acara wanita seumurannya sampai sore hari. Alex yang tidak banyak bicara pun memasang wajah memelas sembari menyendok nasi. Mereka terlihat seperti kehilangan matahari dan terpaksa melanjutkan shift malam berkat hari masih petang. Sama seperti Tobio, Alex juga tentu saja penggemar masakan Jessica. Siapa yang tidak gundah jika mereka harus menelan makanan dingin yang dimasak pukul tiga pagi?
Sebelum meninggalkan bar dan menemui pria di samping pintu, Tobio sempat bertanya soal kesempatan mereka bisa bertemu di tempat yang sama. Hanya dijawab dengan kedikan dagu dan, "gue suka berpetualang." Musafir sekalipun pasti punya rumah, jadi Tobio sedikit percaya ia akan melihat Shirofuku lagi hari ini, malam ini.
Berujung dengan keputusan tidak akan ke luar sama sekali. Harinya sudah dimulai dengan buruk, tidak ada sarapan kaya rasa dari Jessica, unjuk rasa juga masih berlanjut ketika ia menelepon Miwa pagi itu. Desas-desus mengatakan, lautan manusia tidak akan melebar lebih jauh lagi sebab jalan yang ditutup, tetap tidak mengubah kemungkinan kegiatan orang-orang banyak terganggu. Dan Tobio akan sangat kesal jika melihat kerusuhan dengan mata kepalanya sendiri. Mengapa negara ini tidak memperlakukan tamu sepertinya dengan baik? Malah menyambut dengan keributan politik yang membuat ia harus putar balik.
Tobio menggaruk pelipis begitu sadar ia kembali berburuk sangka.
Meski mereka nyaris tidak pernah bicara pada satu sama lain sejak pertama kali Tobio datang ke penginapan, ia tahu betul Alex adalah orang yang baik. Sepanjang hari ia habiskan di dalam rumah, menggerakkan hati Tobio untuk melakukan sesuatu yang berjasa untuk negara demi kesejahteraannya di masa tua. Seperi Alex, yang hanya bermain dengan kebun dan radio namun tetap bisa mengisi kulkas dan bahan dapur. Membiayai Jessica yang gemar mengotak-atik buku resep, lalu berbahagia di setiap obrolan yang mereka bangun. Mereka terlihat lebih bahagia daripada pengantin baru. Jessica selalu cantik tanpa harus banyak berdandan. Menggemari gaun sepanjang lutut dan betis, memasang senyum hangat setiap hari. Seakan memberi alasan yang jelas soal kenapa Alex begitu jatuh cinta.
Sekarang pria itu sedang membongkar radio lamanya di ruang tamu. Bukan di taman belakang seperti biasa. Sejenak Tobio mendengar suara patah-patah, kemudian kembali hening dan digantikan dengan denting perkakas. Seharusnya radio itu tidak lagi bekerja dengan baik di masa sekarang. Harusnya mengganti dengan perangkat yang lebih baru. Sayangnya, saran semacam itu tidak akan bekerja untuk orang yang sudah hidup lama. Mereka ingin bergaul dengan dunia di masa mereka masih muda, tanpa terganggu perkembangan teknologi selagi uang makan tidak terkena pengaruh. Sebab itu Alex masih sering memperbaiki radionya tiap kali mengalami malfungsi.
Alex punya mata cokelat muda. Melirik Tobio kendati nampak fokus pada perkakas di tangannya. "Tuningnya rusak," ucapnya. Sekaligus undangan meminta Tobio bergabung dengannya di ruang tamu. Di saat tidak ada Jessica seperti ini, Tobio merasa berasal dari era yang sama dengan Alex. Detik itulah ia sadar kalau ia sangat manja.
Mereka tidak bisa membangun percakapan. Mungkin karena sarapan pagi itu, mungkin karena langit seperti mendung sementara Alex berpikir Jessica tidak membawa payung. Yang ia yakini, musik dari radio yang akhirnya memutar saluran hiburan menyetel instrumen yang nadanya kebanyakan mendaki. Selera yang aneh meski Tobio sanksi Alex sendiri sudi mendengar musik itu. Sebab tuningnya tidak bekerja mereka terpaksa mendengarkan satu saluran. Dari saluran yang memberitakan unjuk rasa, sampai olahra dalam negeri, baru di saluran hiburan yang memutar lagu acak.
"Apa Jessica selalu suka masak?" Tobio bertanya tiba-tiba. Dirinya sendiri tidak menyangka bisa membuka suara pertama kali. Serta topik yang mereka bisa bahas hanya Jessica, karena secara mengejutkan mereka memiliki bagian yang berada pada satu frekuensi.
Alex tersenyum. Celananya digulung dua kali di bagian bawah. Kira-kira pria itu 5 tahun lebih tua dari Jessica.
"Lebih cinta sama memasak daripada saya." Adalah yang ia katakan untuk menjawab Tobio.
Baik. Tobio bergumam. Tidak berniat bertanya lebih lanjut kecuali jika Alex memang ingin membahas lebih jauh. Soal istrinya yang mantan koki kapal pesiar. Bertemu Alex yang tengah mengawal keluarga berpengaruh, lantas mempersunting wanita yang mencintai dapur lebih dari apa pun. Kisah itu seperti dongeng dan film. Tobio nyaris tidak percaya jika tidak ditunjukkan album foto kapal yang hanya memotret separuh wajah Jessica di dalamnya. Memberikan seluruh ruang pada kertas foto untuk tempat favorit.
"Kalau Jessica ga menikah sama saya, itu bukan masalah. Dia bisa masak, dia bahagia. Hanya saja saya ga akan bahagia, sebab orang lainlah yang dibahagiakan oleh masakan Jessica."
Betapa murni. Alex berbicara seakan keputusan Jessica untuk menerima pinangannya adalah salah. Kendati sudah sangat jelas kesulitan berkomunikasi yang mereka lalui sangatlah menguji, terlalu sering kehilangan satu sama lain karena faktor pekerjaan. Dan terlepas dari itu semua, Jessica tetap memilih seorang Alex. Lantas berhenti menyajikan makanan untuk banyak orang, memasak untuk Alex seorang diri. Menjadikan Alex satu-satunya pelanggan yang ia manjakan dengan masakannya sejak pagi hingga petang.
Hening membalut ruangan itu kemudian. Dengan Alex yang memutar kaset di kepalanya sampai lupa radio satu saluran, dan Tobio yang menelan satu demi satu pesan-pesan dari kalimat Alex.
Lipatan selimut Tobio terlihat seperti karya seseorang yang ulet. Jelas bukan miliknya. Adalah milik musim panas setelah ujian akhir dan seseorang yang tidak ingin pulang ke rumah. Merengkuh Tobio lebih erat hingga dua kali lipat lebih kepanasan.
Ruangan Tobio berantakan di musim ujian. Kei menggeram tiap kali melihat keadaan kamar Tobio yang jauh dari kata manusiawi. Selalu berakhir mereka menanggalkan baju dan membereskan segala kerusuhan yang menimbun sejak minggu lalu. Terutama selimut, Tobio tidak bisa melipatnya dengan rapi. Kei yang mengajarinya menata agar tidak terlalu memakan ruang dan membuat sumpek pemandangan. Disimpan dua tumpukan di lemari sebab mereka tidak butuh lagi selama beberapa waktu. Seusainya, Kei akan menangkap Tobio yang terhuyung karena cuaca panas. Menempelkan kulit mereka yang sama-sama lengket, lalu menderita ketakutan dengan nilai ujian.
Kembali mengingat masa-masa itu, Tobio tidak menyangka ilmu melipat selimut itu berguna. Berguna di penghujung hari saat baik Tobio maupun Kei tidak sanggup menatap satu sama lain sesering dahulu. Dipisahkan oleh jarak meski masih menatap langit yang sama dan bangun oleh matahari yang sama. Menelepon saat manusia lain tertidur lelap, sementara mereka dililit rindu tak berkesudahan. Lalu seakan hal itu belum cukup, mereka kembali dipisahkan oleh jarak yang lebih lebar lagi. Tobio membagi ilmu melipat selimutnya kepada benua lain. Kepada ruangan yang hanya muat untuk dirinya sendiri. Berusaha mengingat Kei lewat lekuk demi lekuk.
Alex bilang asal Jessica memasak, wanita itu bisa bahagia. Dan Tobio benci seakurat apa hal itu. Sekali lagi. Bucharest memberi banyak hal. Shirofuku, Alex, Jessica. Orang-orang itu membisikkan hal yang ia belum mengerti. Hanya karena tidak ada yang peduli padanya di bandara hari itu, bukan berarti ia boleh tersinggung dengan cara orang lain hidup. Pada kenyataannya, Tobio selalu hidup dengan cara itu. Shirofuku juga, berpetualang seperti yang ia bilang. Tidak memberi Tobio jawaban yang benar. Membuat kakinya berlari untuk memastikan untuk disambut dengan nihil. Shirofuku tidak kembali ke bar. Petualang tidak kembali ke tempat yang sama. Mereka hanya akan kembali jika membawa orang lain, untuk memberi tahu mata lain tentang keberadaan asing.
Lalu, Tsukishima Kei.
Kei bukan milik orang lain. Lebih tepatnya, Kei bukan milik siapa pun. Ia dimiliki oleh dirinya sendiri. Seperti yang Alex bilang soal Jessica. Lantas mengapa ia harus khawatir merebut Kei dari seseorang? Mengapa ia takut kehilangan Miwa? Sekalipun pernikahan itu digelar, tidak jua membuat Tobio kehilangan posisinya sebagai adik Miwa. Apakah selama ini ia masih menjadi bocah kecil tak beralasan? Apa rencana Miwa? Apakah ia benar-benar tidak tahu apa pun soal unjuk rasa? Padahal Miwa adalah orang yang paling peduli.
Bucharest mungkin bukan tempat terbaik untuk belajar. Ia asing, di satu waktu mengolok, di satu waktu menyajikan hidangan satu meja penuh. Miwa membuatnya datang dan kehilangan pijakannya di bandara, tidak berniat menemui Tobio sejak awal. Sebab ia percaya Tobio sudah cukup dewasa. Bucharest asing, karena tidak ada ruang mana pun yang menawarkan kebahagiaan instan. Seperti konflik di stasiun kereta dan pretzel selebar ukuran tangan. Aroma kaldu di penginapan. Matras dan futon. Pasangan paruh baya. Gadis mengantuk. Terakhir, radio yang hanya memutar satu saluran.
"Jam berapa di sana, Tobio? Lo gatau kalo di sini lagi jam sibuk?" Sekarang ini keluhan Kei tidak terdengar menyedihkan sama sekali. Tidak lagi mengingatkan Tobio bahwa ia tidak mampu dan sempat menjadi bajingan. Tobio justru tertawa, ia hampir tidak berpikir saat menekan tombol panggilan tadi.
"Gimana keadaannya?"
Tidak ada jawaban dari Kei. Entah ia kesal atau menyadari sesuatu. "Lo pulang besok? Hati-hati." Nadanya berubah menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Tanpa sadar berbicara seperti hari-hari mereka seperti biasa, yang sialnya Tobio juga tidak menyadari lebih awal. Tahu begitu ia akan mendengar dengan seksama.
"Iya. Gue pulang. Do'ain ga mual setelah 17 jam penerbangan."
Dari seberang sana terdengar Kei mendengus, nyaris meloloskan tawa. Tanpa sanggahan berarti apa pun lagi, seolah hanya reaksi sepersekian detik itu yang ia siapkan.
Tobio menggenggam erat ponselnya, menatap lurus pada selimut yang dilipat bak karya orang telaten sembari menikmati serangan ingatan sekolah menengah yang kembali. Mengingat Kei, merindukan Kei, sambil mendengar bising museum dari kejauhan dan terlelap oleh bunyi-bunyian itu.
.
