Work Text:
Surat terbaru dari Jeongguk tiba sore ini. Isinya sama dengan surat-surat sebelumnya: ceria, membesarkan hati. Hoseok membacanya di dapur sambil menunggu adonan kue mengembang.
Aku cukup makan di sini, tulis Jeongguk. Tidur empat-lima jam saja, sama dengan di rumah. J Aku juga sering bantu-bantu masak dan bikin kue. Iya, sempat, kok! Suplai bahan makanan kami lumayan beragam.
Menyusul nama kue-kue yang biasa dijual Hoseok di tokonya. Seperti biasa, dia takjub oleh kepiawaian Jeongguk menyerap dan menghafal ilmu. Jeon Jeongguk, salah satu pengguna naegong unggulan di kerajaan mereka.
Saat kutulis surat ini, lanjut Jeongguk, sudah sehari penuh tak ada serangan. Lumayan, kami rehat sebentar. Teman-teman senang makan kue buatanku, dan aku bilang dengan bangga: Diajari suamiku, nih! Aku selalu sehat dan kenyang di sini—jangan cemas, Hoseokie! Kamu juga makan dan tidurlah yang banyak. Peluk dan cium dari Jeongguk-mu.
Sambil menghela napas, Hoseok melipat kertas bersisi geripis itu. Dia menyelipkannya ke dalam amplop, lalu melayangkan pandangan ke luar jendela. Rumah sekaligus toko kuenya terletak di wilayah pinggiran ibukota, maka hanya ramai di jam-jam tertentu.
Sekolah baru saja bubar. Anak-anak berseragam putih-jingga melintasi jalanan di samping rumah. Suara mereka yang ingar-bingar terbawa angin semilir. Jadi ingat sewaktu aku sekolah dulu, pikir Hoseok.
Sebagai siswa, dia gemar bergaul, serta aktif di klub masak dan musik. Sebaliknya dengan Jeongguk: giat di klub vokal dan olahraga, tapi jarang bicara. Mereka berdua sering sekelas dan punya teman-teman yang sama.
Ibarat kutub, mereka saling tertarik justru oleh sifat yang bertolak belakang. Setelah beberapa tahun pacaran putus-sambung, akhirnya mereka meneguhkan niat: bersama untuk selamanya. Teman-teman mereka sempat kaget, lalu mendukung penuh keputusan itu.
Begitu lulus sekolah, mereka menikah. Hoseok melanjutkan usaha toko kue orang tuanya. Sementara itu, Kementerian Warga Belia membuka lowongan staf bagi pengguna naegong. Tenaga yang dihasilkan pengaturan aliran darah ini diolah menjadi kekuatan yang setara, bahkan mampu melampaui, tenaga fisik.
Jeongguk, yang sejak kecil mahir menggunakan naegong, mengirim surat lamaran. Hasil tes menunjukkan bahwa sifat dan bakatnya sesuai untuk tugas lapangan. Dia pun diterima sebagai staf junior.
"Baguslah kerjaku bukan di belakang meja," cetus Jeongguk lega. "Bisa kering kerontang aku! Lebih seru keliling ke sekolah-sekolah—ketemu anak-anak, beri contoh cara pakai naegong yang efektif."
Selama dua tahun, kehidupan mereka berjalan nyaris tanpa riak. Hoseok mengelola toko kue, dan Jeongguk pulang kerja tiap sore. Monoton, tapi damai dan aman. Hingga, tiga pekan silam, perbatasan kerajaan diserang.
Seorang penjaga perbatasan tiba-tiba muncul di ibukota dan minta menghadap Maharani. Penjaga itu memerinci situasi, lalu meminta bantuan tentara kerajaan. Tak lama kemudian, pewarta istana membacakan pengumuman di alun-alun ibukota, tempat warga biasa berkerumun.
Sekelompok ahli naegong tak dikenal, entah dari mana asalnya, menyerang perbatasan. Mereka amat kuat dengan jurus beragam. Penjaga perbatasan kewalahan dan mati-matian bertahan.
Maharani mengirimkan pasukan kerajaan dan ahli naegong untuk bala bantuan. Warga diimbau tetap tenang dan menjalani kegiatan sehari-hari. Namun, Hoseok justru berdebar-debar.
Musuh adalah ahli naegong yang kuat. Jika mereka sulit dikalahkan, tentunya makin banyak ahli naegong kerajaan yang dikirim ke perbatasan—termasuk Jeongguk. Jika dia celaka, aku harus bagaimana?
Di depan Jeongguk, Hoseok tak mengungkit kerisauannya. Menuruti imbauan istana, dia melanjutkan hidupnya. Menerima pesanan kue, dan bila senggang memainkan kecapi tua miliknya atau menonton sandiwara di gedung kesenian.
Hari demi hari berlalu. Para ahli naegong asing tetap bercokol di perbatasan. Tenaga mereka seolah tak ada habisnya, hingga stamina ahli naegong kerajaan nyaris terkuras.
Momen yang ditakuti Hoseok pun tiba: turunnya perintah untuk mengirim lebih banyak ahli naegong ke perbatasan. Nama Jeongguk tercantum dalam daftar yang dirilis pihak kerajaan. Meski dia telah menduganya, perasaan Hoseok tetap tak keruan.
"Perbatasan jauh, hampir sehari dari sini," katanya cemas. Dia dan Jeongguk tengah mengemasi barang-barang; besok, pagi-pagi sekali, Jeongguk berangkat ke perbatasan. "Kalau kamu kenapa-kenapa, aku tak bisa menolong!"
"Tak usah khawatir, Hoseokie," jawab Jeongguk mantap. "Aku tidak sendirian. Banyak ahli naegong lain yang bahkan lebih kuat. Percayalah pada kami!"
Jeongguk jenis orang yang yakin pada kemahirannya tanpa menjadi sombong. Keyakinan diri itulah yang disukai Hoseok—dan yang kini dia harapkan akan membantu Jeongguk. Namun, dia tetap kesal: pada diri sendiri yang tak dapat mendampingi Jeongguk, dan pada para penyerang.
Menurut desas-desus, para penyerang bukanlah orang asing. Dahulu, kakek dari Maharani yang sekarang merampas takhta dari abangnya yang lebih berhak. Dia membuang abangnya ke daerah pegunungan yang jauh. Dan para ahli naegong asing itu adalah anak-cucu sang abang.
Apa tujuan mereka? Merampas takhta? Apa mereka didukung kerajaan lain, dan serangan ini hanya permulaan? Makin lama dugaan yang berkembang makin liar dan mengusutkan otak Hoseok.
Fokus ke Jeongguk, katanya pada diri sendiri. Kirimkan doa untuk keselamatannya, dan percaya pada ahli naegong kerajaan. Siapa pun para penyerang itu, kuharap mereka lekas enyah.
"Hoseok?"
Tersentak, Hoseok berpaling ke belakang. Namjoon berdiri di ambang pintu dapur. Dia memandang Hoseok dengan ragu, seperti enggan mengganggu.
"Maaf, nyelonong," kata Namjoon. "Aku ketuk-ketuk dari tadi, tidak dijawab."
"Astaga, masuk saja!" seru Hoseok. Tangannya masih memegang amplop berisi surat Jeongguk, dan dia menaruh amplop di meja dapur. "Kita kenal dari bayi, jangan kayak tamu."
Namjoon mengiakan sambil maju selangkah ke dalam dapur.
"Mau ambil pesananmu? Masih diproses. Maaf lama." Hoseok menuding baskom yang dibungkus kain basah agar adonan di dalamnya mengembang.
"Pesananku bisa kapan saja, tidak buru-buru. Seok.... kamu tidak apa-apa?"
Hoseok memiringkan kepala. "Apanya?"
Sorot mata Namjoon berubah waswas. "Jadi kamu belum dengar berita?"
Jantung Hoseok bagai dicengkeram sulur-sulur es. "Berita?" ulangnya. "Tidak. Dari pagi aku bikin dan mengantar pesanan. Tidak sempat setel radio. Berita apa?"
Namjoon tampak sangsi. "Yang kudengar baru sepotong-sepotong, sih."
"Katakan saja." Hoseok mengepalkan satu tangan. Jantungnya, yang tak lagi dingin, kini berdenyut lamban. Tiap detaknya mengetuk-ngetuk gendang telinga. "Seburuk apa pun beritanya, aku harus tahu."
"Baiklah," ujar Namjoon. Dia memelankan suara, seakan berupaya tidak makin mengejutkan Hoseok. "Duduk dulu, Seok."
Tanpa menyahut, Hoseok menyeret bangku ke dekatnya, lalu duduk pelan-pelan.
"Tadi pagi pecah pertempuran dengan kelompok asing," lanjut Namjoon. "Sengit dan lama sekali. Mereka mengerahkan tenaga dan segala ilmu habis-habisan. Ahli naegong kita melawan dan tetap bertahan. Tapi telanjur jatuh korban, dan Jeongguk salah satunya."
***
Tok, tok. Bunyi ketukan di pintu depan. Jeda sejenak, lalu sekali lagi: Tok, tok.
Harus pergi ke pintu, batin Hoseok. Sekarang juga. Mustahil aku mendekam di dalam terus. Namun, telapak kakinya terpaku di lantai, belum sudi bergeser.
"Hoseok."
Suara Namjoon. Teduh, akrab, dan menerbitkan keberanian. Punya sahabat yang selalu mendukung Hoseok benar-benar berkah baginya, dan keresahannya agak mereda.
"Seok? Ini Jeongguk. Dia sudah pulang. Ayo, sambut dia."
Hoseok menghirup udara dalam-dalam. Tadinya dia menyangka, pada momen ini perasaannya sudah kebas. Sedih dan takut telah sirna, menyisakan tekad dan kepala dingin. Nyatanya, ucapan Namjoon memicu gemetar di sekujur badan.
Setop. Ini bukan waktunya ciut! Aku harus kuat, demi Jeongguk dan aku sendiri.
Kemarin, begitu Namjoon selesai bercerita, Hoseok langsung memasang tanda Tutup di pintu toko. Dia menyalakan radio dan memantau semua berita tentang situasi di perbatasan. Demi menenangkan diri, dia menyeduh teh mint sambil menyimak siaran radio.
Laporan dari perbatasan memastikan bahwa telah jatuh dua korban dalam pertempuran tadi pagi. Saat nama-nama mereka disebut, cangkir teh nyaris terlepas dari tangan Hoseok. Dia memejamkan mata—Jeonggukie, Jeonggukie—menyuruh diri sendiri agar tabah.
Kedua korban sedang dibawa ke rumah masing-masing. Anggota tim medis mengawal mereka selama perjalanan. Untuk sementara, kata penyiar, perbatasan dinyatakan aman. Ahli naegong kerajaan mampu memukul mundur lawan dan akan terus berjaga.
Hoseok meneguk habis tehnya dan mematikan radio. Dia sudah mendengar semua yang perlu diketahui tentang situasi perbatasan. Urusannya mulai saat ini hanya Jeongguk seorang.
Kini, seraya menahan gemetar, dia melangkah ke pintu depan. Namjoon berdiri di sana, sosoknya yang besar memenuhi ambang pintu. Perut Hoseok melilit dan kakinya makin berat.
Namjoon berkata, "Jeongguk, ini Hoseok."
Dia menepi, dan pandangan Hoseok langsung tertuju ke teras rumah. Di sana berdiri Jeongguk, berselubung jubah hitam lusuh. Lengan kirinya dibalut ambin yang terpasang rapi. Kepalanya terkulai, tapi tetap tampak wajahnya yang kuyu.
Hoseok menelan ludah. Sosok ini begitu lunglai, tanpa tenaga. Amat berbeda dengan Jeongguk yang lincah, bersemangat, menatap dunia dengan mata berbinar. Jeonggukie, cedera macam apa yang kamu tanggung?
Seakan membaca pikiran Hoseok, Namjoon berbisik, "Aku sempat bicara dengan tenaga medis yang mengantar Jeongguk. Luka luarnya, lengan patah dan memar-memar. Luka dalam itu yang agak serius. Secepatnya bawa dia ke tabib untuk diperiksa ulang. Jeongguk juga butuh banyak istirahat dan makan."
Makan. Masakan. Alias kemahiran utama Hoseok. Secercah rasa optimis mulai menyeruak, meluluhkan bingung dan pilu.
"Beres," sahut Hoseok. Otot-otot pipinya kaku akibat tegang, tapi dia sanggup tersenyum pada Namjoon. "Aku bakal belanja, lalu masak yang enak-enak. Supaya Jeonggukie kenyang dan bahagia."
"Masak untuk kamu juga," balas Namjoon. "Biar bahagianya berdua."
"Ha, iya, ya. Terima kasih sudah diingatkan, Joon."
Setelah Namjoon pergi, Hoseok meraih tas Jeongguk yang tergeletak di teras. "Yuk, kita masuk," ujarnya lembut. Dia menggamit siku Jeongguk, lalu menuntunnya ke dalam rumah. Jeongguk mengikuti tanpa sepatah kata, dan Hoseok mengizinkan dirinya merasa sedikit lega.
***
Menurut tabib, luka dalam Jeongguk berupa aliran darah yang kacau. "Dampak dari pengerahan naegong secara berlebihan dan terkena serangan lawan," imbuh beliau. Untuk saat ini, Jeongguk dilarang mengerahkan naegong sampai kondisinya pulih. Tabib pun meresepkan obat untuk luka-luka luar dan dalam.
Setelah mengantar Jeongguk pulang, Hoseok pergi ke toko obat dan menebus resep. Sesampainya di rumah lagi, dia meracik sup kaldu campur jamur. Sambil membawa nasi, sup, air putih, dan obat, Hoseok masuk ke kamar.
Jeongguk duduk di tempat tidur sambil bersandar pada bantal. Hoseok meletakkan nampan di nakas dan duduk di samping suaminya. Dia mengambil mangkuk, lalu meniup-niup sup yang masih mengepul.
"Kita bersabar sama-sama, ya," ujarnya. "Tabib bilang, dalam sebulan kamu pulih. Selama itu jangan lelah, harus makan dan tidur yang banyak."
"Satu bulan," kata Jeongguk serak. Ini kali pertama dia bersuara sejak pulang. "Bosan. Tidak bisa apa-apa."
"Tidak juga. Kamu bisa dikunjungi teman-teman dan keluarga. Main catur atau yang lain kalau hujan. Bantu aku bikin kue. Menonton sandiwara begitu badanmu lebih kuat. Nah, macam-macam, kan?"
Perlahan Jeongguk menoleh. Sepasang matanya yang besar menatap wajah Hoseok. "Aku tidak bisa bantu jaga perbatasan."
Ah. Tentu saja. Bagi Jeongguk, diserahi kepercayaan bukanlah hal main-main. Pasti dia amat gelisah karena gagal menuntaskan tugas.
"Jangan dipikirkan, Guk." Hoseok menaruh mangkuk di atas nampan. "Kamu sendiri yang bilang, ahli naegong lain banyak yang kuat. Mereka pasti sanggup mengatasi kelompok asing itu. Yang penting, kamu sembuh dan kita kembali bahagia."
"Tapi—"
"Jeonggukie." Hoseok menggenggam tangan Jeongguk. "Mundur dari pertempuran bukan aib. Tapi bukti bahwa kamu berjuang maksimal. Cedera dalam pertempuran juga wajar, tak mengurangi nilai dirimu atau rasa sayang kami padamu."
Jeongguk tidak bereaksi. Hoseok ikut diam, memberinya waktu. Kemudian dia melepaskan tangan Jeongguk dan kembali mengambil mangkuk.
"Sudah rada hangat, nih," cetusnya sambil mengaduk kaldu. "Mau makan sendiri atau disuapi?"
Biasanya Jeongguk mengotot untuk mandiri dalam segala hal. Sedang sakit sekalipun, dia berusaha mengerjakan semuanya dengan tangan sendiri. Namjoon pernah berkomentar: Anak itu memang kelewat tangguh. Kalau ditanya, pasti dia bilang—kan, masih punya tangan.
Kadang Hoseok gemas dan hampir memprotes: Sekali-sekali dimanjakan suami sendiri, kenapa, sih? Aku, kan, ingin tahu rasanya memanjakan kamu! Dia menyimpan sendiri ucapan itu sebab Jeongguk pasti hanya akan menyengir.
Jeongguk melirik mangkuk di tangan Hoseok. Hidungnya kembang kempis, menghidu wangi kaldu. Lirikannya berpindah ke wajah Hoseok dan dia mendeham. "Disuapi."
"Siap," jawab Hoseok. Seraya menyendok kaldu, dia menunduk untuk menyembunyikan senyum kemenangan.
***
Malamnya, saat Hoseok mendusin, dia mendapati Jeongguk memandangi langit-langit. Dalam kamar yang gelap, tampak setetes air mata berlinang jatuh ke telinganya. Ketika Hoseok berguling menyamping dan menghadapnya, Jeongguk berbisik.
"Barusan.... aku mimpi buruk. Terluka, tak kuat berdiri. Tapi tak ada yang bisa mengantarkan pulang. Ahli naegong, prajurit, sampai tenaga medis, semuanya sibuk bertarung. Aku berteriak, 'Bawa aku pulang! Siapa saja, tolong! Sebelum mati, aku harus ketemu Hoseokie!'"
"Sssh." Hoseok mengulurkan tangan. Dia merangkul Jeongguk, mengelus-elus lengannya. "Cuma mimpi, Sayang. Sudah berlalu. Kamu di sini, di rumah kita. Di sampingku."
Jeongguk hanya mengangguk. Terkadang, pikir Hoseok, kata-kata tak memadai untuk mewadahi luapan perasaan. Dia mengeratkan pelukan, dan Jeongguk merapat padanya. Selama beberapa menit, mereka sama-sama bergeming.
"Aromamu," gumam Jeongguk.
"Ya?"
"Kangen aromamu." Seraya menjaga posisi lengannya yang patah, Jeongguk ikut menggulingkan badan ke samping. Dia menyurukkan hidung ke ceruk leher Hoseok, dan menarik napas panjang. "Mmm. Selama di perbatasan, aku selalu terbayang aroma ini."
"Oh," gumam Hoseok. Embusan napas Jeongguk menggelitik kulitnya—sensasi yang familier, dan entah mengapa menimbulkan haru. "Aku juga kangen kamu endus-endus begini."
Jeongguk tertawa kecil. "Di sana, aku selalu ingat kamu. Rumah kita. Sebal karena kami boleh kirim surat, tapi dilarang terima surat. Tapi semuanya sudah lewat. Aku tak usah mengingat-ingat kamu lagi—aku sudah di sini, dalam pelukanmu. Sakit sebulan juga tak apa."
"Turuti kata tabib, siapa tahu sembuhnya kurang dari sebulan." Hoseok menekuk lengan dan ganti membelai rambut Jeongguk. Dengan penuh syukur, dia berbisik, "Selamat pulang kembali, Jeonggukie."
***
Secara rutin Hoseok mengganti ambin Jeongguk dan mengobati memar-memarnya. Dengan tangan yang sehat, Jeongguk membantu Hoseok: menyapu rumah, mengumpulkan bahan-bahan kue. Pada teman-teman yang membesuknya, dia berkata dengan gagah: Lenganku cuma sakit kalau kesenggol, kok! Dan Hoseok menggeleng-geleng dengan geli.
Pertarungan di perbatasan terus berlanjut. Kelompok asing tetap gigih menyerang tanpa berhasil menembus pertahanan pasukan kerajaan. Sebelum mengirim ahli naegong tambahan, pihak kerajaan membekali mereka dengan taktik baru.
"Kira-kira apa kelompok asing itu bakal menang?" tanya Jeongguk. Mereka sedang mengudap jeruk dan prem segar yang baru dibeli di pasar. "Habisnya, stamina mereka gila-gilaan. Baru mundur kalau terluka. Rada seram rasanya, kayak bukan melawan manusia."
Hoseok menaruh jeruk yang sudah dikupas di depan Jeongguk. "Sudah ada yang urus mereka, Guk. Jangan ikut-ikutan berpikir, lambat sembuhmu nanti."
Jeongguk memajukan bibir bawah. "Susah! Soalnya aku mengalami sendiri situasi di perbatasan. Aku takut kita kalah seperti batu terkikis air, saking mengototnya kelompok asing itu." Melihat air muka Hoseok, dia buru-buru menambahkan, "Tapi ahli naegong kerajaan cerdas dan banyak pengalaman, mereka pasti punya akal."
"Ya sudah, jangan dibahas lagi. Ingat apa yang kubilang kemarin?"
"Yang mana? Kamu banyak ngomong, seharusnya aku catat satu-satu."
Hoseok tersenyum simpul. "Rumah ini ibarat oasis bagi kita berdua. Jauh dari segala hal, termasuk konflik dan pertempuran. Di sini, kita ciptakan surga kecil sendiri semampunya."
"Dan aku jawab, kamu naif."
"Mungkin benar," gumam Hoseok. Senyumnya luruh, dan suaranya kian lirih. "Mungkin, begitu sembuh, kamu dikirim lagi ke perbatasan. Entah kapan pulang, atau malah...." Dia tak menamatkan kalimat itu, bahkan tak tega membayangkannya.
Sebelum mati, aku harus ketemu Hoseokie! seru Jeongguk dalam mimpinya. Itu pula ketakutan terbesar Hoseok: mereka terpisah saat ajal menjemput. Dia pun menghibur diri bahwa kelompok asing itu tak akan sampai menyerang ibukota, sebab jumlah mereka amat jauh di bawah jumlah pasukan istana.
Kecuali mereka benar didukung kerajaan lain, yang akan mengutus pasukannya sendiri. Maka akan pecah perang antara dua kubu yang seimbang, serta jatuh banyak korban. Namun, Hoseok menepis kemungkinan itu—terlalu menyedihkan.
Pandangan Hoseok menelusuri wajah Jeongguk lekat-lekat, seolah merekam tiap detailnya. Jeongguk balas menatapnya dengan sungguh-sungguh. Kelak, jika Hoseok kembali sendirian di rumah, hari ini akan menjadi kenangan manis bercampur pahit.
"Sampai saat itu tiba," kata Hoseok, "sampai kamu bertugas lagi, masih ada waktu bagi kita. Hanya beberapa pekan, atau lebih singkat lagi. Tapi justru waktu singkat yang menjadikan saat-saat kita bersama penuh makna. Makanya, kita isi tiap momen dengan memori indah, termasuk hari ini. Mau prem lagi?"
