Work Text:
Ketika saya menatap minimarket ini, apa orang-orang merasa berterima kasih dengan keberadaan bangunan ini? Berterima kasih dengan keberadaan saya sebagai pegawai di sana? Karena saya yakin, hidup saya ini hanya angin lewat yang menganggu orang lain saja. Setiap saya menyerahkan kunci kepada rekan kerja shift selanjutnya pikiran saya tak berhenti mengucapkan, "Sudahkan kamu membuat orang-orang merasa tertolong hari ini, dengan keberadaanmu itu?"
Sebenarnya saya ragu, apakah hanya saya yang harus merasakan hal seperti ini, atau diluar sana juga banyak orang lain seperti saya?
Rasa resah(?) itu pasti selalu ada bukan?
Pantai Gwakji Gwamul, salah satu pantai di Pulau Jeju, Korea. Saya berdiri di sini atas kemauan saya sendiri, benar, saya bukan orang yang lahir di sini. Kota sibuk dengan bangunan megah berdiri, saat malam hari bintang dan lampu jalan serta gedung bertingkat saling bersaing menunjukkan betapa terangnya mereka. Kota itu, Busan. Kadang saya berpikir saya hidup ditengah-tengah karnaval. Begitu sibuk, pemandangan dipagi hari yang disajikan bukan ketenangan subuh dengan hawa dingin yang sejuk tapi pejalan kaki yang menyebrangi jalan di zebra cross, semuanya mengenakan pakaian formal selayaknya pergi bekerja. Di sore hari setidaknya lebih tenang, dan di malam hari, kesibukan itu kembali saya lihat dari jendela kamar apartemen. Siswa siswi yang baru saja turun dari bus secara berkelompok, mobil pribadi yang membunyikan klaksonnya dan lampu rambu lalu lintas yang mengganti warna berkala. Dulu, ketika saya menganggap itu hal luar biasa, dengan takjub menatap ke bawah dari balkon kamar.
Bagaimana banyak orang dalam satu lingkungan bisa bergerak dengan teratur? Sebuah sistem yang menakjubkan. Saya selalu menyambut Ayah saya yang baru pulang bekerja dengan tangan direntangkan sambil berkata, "Tadi saya lihat lampu rambu lalu lintas bisa berubah warna!" atau mungkin "Banyak orang-orang yang pergi keluar hari ini, saya juga lihat banyak anak sekolah berangkat bersama temannya". Sambil mendengarkan saya yang membangga-banggakan pengelihatan saya, Ayah yang matanya semakin sayu hanya menanggapi ocehan saya dengan mengangguk-angguk. Ibu yang biasanya menyiapkan nasi hangat selalu menghampiri saya dan menggendong saya. Kadang mengusap helai saya kemudian mengatakan, "Hari ini dia senang sampai menghampiriku di dapur dan menceritakan bagaimana ia mendengar suara klakson bus sekolah". Waktu itu saya sangat menantikan tumbuh besar, lalu menyematkan nama 'Lim A-yeong' ke seragam saya yang elegan. Membayangkan seragam warna gelap itu melekat ke tubuh saya yang remaja membuat saya (yang pada saat itu masih kecil) semakin meninggikan harapan.
Tapi kalau dipikir-pikir itu jadi terlihat seperti sebuah lelucon bagi diri saya sendiri sekarang. Dulu yang mengharap seragam sekolah elit, dan sekarang yang saya kenakan sebuah seragam khas pegawai minimarket. Saya tentu saja menempuh pendidikan-bahkan sekarang saya sedang menginjak semester terakhir kuliah-dan tidak pernah tinggal kelas. Bagi saya yang sudah mengecap rasa pahit masa sekolah, seragam itu sekarang hanya secuil dari kenangan buruk. Bukanlah seragam yang saya nantikan untuk kenakan, tapi bukan artinya saya membenci sekolah itu sepenuhnya, ada setengah bagian dari sekolah yang saya tidak sukai. Orang-orang disana. Namun sekarang itu bukan hal yang harusnya saya khawatirkan-tidak, sampai tubuh ini dipenuhi keriput pun saya sudah seharusnya mengkhawatirkan hal itu. Figur yang terlihat sebagai penghancur kesenangan ini tidak akan dilupakan mereka, meski saya berlari ke ujung dunia sekali pun.
Karena manusia tidak bisa lupa, akan terus mengingat semuanya. Semua yang ia sukai dan semua yang ia benci.
Karena saya tidak bisa lari, hanya ini yang saya bisa lakukan. Mengulurkan tangan-meski itu hanya menyerahkan kantong kresek berisi belanjaan pembeli, dengan tekun mengulas senyum, dan membuat orang lain terbantu. Apa saya yang terlalu pesimis menjalani hidup saya? Sampai rela pergi ke Pulau Jeju yang jauh dan berada di kelilingi lautan? Waktu itu, saya masih naif dan berpikir jika saya berlari sejauh mungkin beban saya ikut terjatuh, tapi tidak. Pikiran bodoh itu malah membuat saya makin merasa bersalah. Salah jika saya harus menghancurkan kesenangan yang mereka idamkan di masa muda. Itu terlalu terlambat untuk saya sadari. Kalau saya sadar itu merusak kesenangan mereka sebagai remaja dalam masa sentimental, seharusnya saya bisa memberi jarak kepada mereka. Untuk membiarkan mereka masuk ke dalam kesenangan yang merekan nantikan. Meski saya tahu itu adalah hal yang salah. Atau pemikiran sayalah yang salah, salah jika saya membiarkan mereka terjun ke dalam hal yang tak seharusnya mereka lakukan diumur saat itu?
Saya tidak dapat berpikir jernih lagi ketika dilanda ketidaktenangan. Apa yang lumrah orang rasakan jika berada diposisi saya? Hanyut dan menyesal? Atau meminta maaf?
Ada dua kata yang sulit diucapkan, meski pikiran mereka berteriak untuk menyerukan kedua kata itu kepada lidah. Pertama, maaf. Kedua, terima kasih. Mungkin saya sok-sokan, akan tetapi kata pertama-maaf-hanya akan keluar dengan penuh ketulusan dari hati ketika sang pengucap merasa sangat menyesal. Karena ia akhirnya berada diposisi yang sama seperti orang yang ia minta keikhlasannya.
Ditengah gelombang berat yang berusaha menghanyutkan saya berkali-kali, pintu minimarket terbuka. Pelanggan setia tempat ini, sepasang kakek dan nenek yang selalu datang sore hari untuk membeli persediaan bumbu dapur dan makanan ringan untuk cucu mereka. Setiap saya melihat figur mereka, hati saya tiba-tiba saja menghangat. Betapa irinya saya melihat pemandangan demikian. Bagaimana cerita cinta mereka bisa berjalan sampai saat ini? Dari awal pertemuan sampai ajal mereka menjemput, suatu hal yang manis. Saya teringat figur Ayah dan Ibu saya, bagaimana kabar mereka sekarang? Apa Ibu tetap senang berada di dapur, memanggang kue kering untuk saya dan Ayah setelah makan malam selesai? Tatapan Ayah masihkah sayu seperti biasa? Kedua lansia itu berjalan perlahan menuju rak bumbu dapur, tentu saja saya beranjak dari kasir menuju rak bumbu dapur. Punggung dari lansia yang membungkuk tentu kesulitan meraih belanjaan yang dipajang di atas rak.
"Perlu bantuan, kek, nek?"
Saya membungkuk, berusaha menyamakan tinggi kami. Supaya saya juga bisa mendengar suara mereka. "Kalau kami datang, nona ini selalu ada di sini, ya?" Suara parau yang terdengar lemas dilontarkan sebagai sapaan dari sang nenek. Dibalik wajah beliau yang keriput, ada keramahan khas nenek yang terpancar. Kehangatan sebuah keluarga penyayang dan harmonis. Saya bisa merasakannya dari tatapan matanya. Nenek saya jarang datang ke apartemen tempat saya dan orang tua saya tinggal, sebaliknya orang tua saya dan saya juga jarang mengunjungi rumah mereka. Jadi saya merasa tersentuh, kelembutan nenek dan masakan tradisional yang dimasaknya menjadi khas. Kakek sedari tadi hanya bisa menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan jejeran bumbu dapur. "Iya, kalau Kakek dan Nenek kemari, saya pasti ada disini." Saya mengangguk, mengulas senyum tipis.
"Pasti sulit mengurus tempat ini sendirian."
Tak mengapa, karena saya sendiri sudah membiasakan diri.
Banyak yang singgah dalam hidup saya, kemudian kembali berlabuh ke tempat yang seharusnya. Jika dikatakan, kenapa saya tidak menghentikan mereka yang akan pergi, saya bahkan tidak punya hak untuk itu. Toh, tak lama mereka akan kembali... dengan sendirinya. "Karena sudah terbiasa mengurus hal seperti ini, rasa sulit mengurus minimarket sendirian pun tak terasa," ucap saya. Mungkin ada benarnya, saya yang selalu sendiri ini membawa beban saya tanpa bantuan siapa pun, terlebih saya berada di Pulau Jeju. Tempat yang sangat jauh dari apartemen saya berada. Karena saya terlalu pengecut, menjalani hidup satu hari saja saya harus mengumpulkan keberanian hanya sekedar membuka pintu ruang belajar. Ada yang menghantui saya, tapi bukan hantu yang disering dibicarakan orang-orang. Hantu itu bernama 'penyesalan'. Dibandingkan penampakan wajah hancur, badan hancur, darah yang mengalir segar, dan organ yang keluar dari tempatnya terletak, hantu ini yang menuru saya lebih menyeramkan. Semua orang tidak bisa terlihat tapi ia terus meneror dan menekan keberadaan.
"Sudah, ini saja?" Saya bertanya setelah membantu mereka mengambil bumbu dapur, dan juga makanan ringan yang akan mereka berikan kepada cucunya. Terkadang cucunya berlari kemari, menyusul sang kakek dan nenek dan menghampirinya di dalam minimarket, mungkin anak itu baru berusia 6 tahun. Begitu mendapati kakek dan neneknya di kasir untuk membayar belajaan, dengan tangannya yang mungil itu ia membungkus pinggang sang nenek menggunakan tangannya itu. Dia biasanya akan terkekeh begitu sang kakek mengelus rambutnya lalu berkata, "Yoona menyusul kita lagi, ya?". Anak itu akan mulai mengoceh tentang hari yang ia jalani di sekolahnya, "Tadi Bu Guru membagikan buah stroberi untuk anak-anak yang bisa menjawab pertanyaannya. Terus aku dapet empat buah!", "Temenku ada yang menunjukkan kelinci peliharaannya saat jam olahraga, pas ku pegang lembut bangeet!" atau dia bertanya, "Apa kakek dan nenek tidak lelah jalan kemari untuk membelikan Yoona makanan ringan?", ketika saya mendengar itu semua saya jadi teringat diri saya saat masih kecil. Sosok saya yang bertubuh kecil terus mengamati jalan raya dan pemandangan Busan dari jendela kamar apartemen lalu mengoceh ini-itu ke Ayah saya yang kelelahan sehabis bekerja.
Mungkin-tidak, tapi benar adanya jika saya merindukan kamar apartemen itu. Walau kecil dan memuat tiga orang saja, disana banyak hal yang saya kagumi.
Tentang orang tua saya, masa kecil saya, masa remaja sampai saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Busan dan pergi ke Pulau Jeju.
Banyak yang saya senangi dari sosok Yoona-cucu dari kakek nenek pelanggan setia minimarket sepi ini-karena saya seperti melihat bayangan Lim A-yeong kecil. Nanti saat besar, ia akan jadi orang seperti apa, ya? Saya bertanya dalam hati. Gadis periang itu akan menjadi wanita seperti apa di masa depannya? Tangan saya bergerak mengambil belanjaan, mengecek barcode kemasan kemudian menghitung total belanjaan. Anak bernama Yoona berjinjit di luar minimarket, tangannya berusaha meraih gagang pintu kemudian mendorongnya dengan tenaga yang kecil itu. Seperti biasanya, Yoona langsung memeluk pinggang sang nenek. Saya saja sudah iri dengan kedekatan dan keromantisan dari pasang lansia ini, kalau ditambah dengan keberadaan Yoona saya benar-benar harus tekun berdoa meminta kebahagiaan dalam hidup saya yang seperti kaca pecah di atas lantai-menganggu.
"Hari ini ada pelajaran kesenian, kami belajar melipat origami menjadi bangau. Semua origami yang kami lipat kami gantung di sisi jendela, kalau kakek dan nenek ke kelasku nanti harus lihat, ya!"
"Begitu, ya? Nanti kalau nenek dan kakek ke sekolah Yoona tunjukkan saja pada nenek dan kakek."
Anak kecil memang selalu bersemangat, ya? Meski kakek kelihatan tidak peduli dengan semua ucapan Yoona, tapi sebenarnya ia tekun mendengarkan. Sorot mata dengan banyak kerutan di sana-sini sebenarnya menaruh atensi kepada eksistensi Yoona. Kasih sayang antara kakek dengan cucunya. Selesai memasukkan semua barang belanjaan ke dalam kantong kresek dan menyodorkannya. "Totalnya 30.050 won." Saya mengintrupsi percakapan mereka, sebenarnya tidak nyaman juga menganggu pembicaraan mereka, tapi kelihatannya Yoona dengan kakek neneknya merasa tidak masalah. "Kakak ini kenapa selalu di sini?" Yoona bertanya kepada kakek neneknya sambil menunjuk ke arah saya. Saya bisa memaklumi pertanyaan itu, sebab Yoona sendiri tidak tahu banyak tentang lingkungannya. "Saya bekerja di sini, makanya kalau kau kemari pasti kakak ada di sini," saya menjawab. Dia hanya menatap saya dengan tatapan melongo, bagaimana pun dia juga masih belum sepenuhnya paham. Yoona yang imut, bagaimana dengan sosokmu nanti? "Kakak engga lelah kerja di sore hari?" Anak ini menggemaskan, perhatian juga. "Tidak, karena sudah biasa jadinya tidak lelah." Dia menatap saya kemudian tampak berpikir. "Kata bu guru, kalau ada orang kelelahan harus diberi semangat. Semangat!" Anak kecil itu memberi pose seolah ia cheerleader.
"Begitu, ya?" Lalu saya terkekeh dengan tingkahnya.
"Terima kasih, ya, nak."
Sama-sama, saya senang mendengar kata itu dari Anda.
"Yoona, ayo kembali ke rumah." Kakek Yoona mengenggam tangan Yoona, membimbing anak itu keluar minimarket bersama sang nenek. Kehangatan keluarga kecil itu menyisakan rasa iri pada hati saya. Tentu, saya iri kepada mereka yang hidup dengan damainya. Bagaimana mereka menjalani hari-hari dengan perasaan ringan dalam hati, saya juga mendambakan kehidupan demikian. Supaya saya lepas dari rasa penyesalan ini. Punggung mereka yang semakin mengecil dan menghilang dari pandangan saya, bersamaan dengan langit yang mulai gelap.
Biasanya, pukul tujuh malam ada pelanggan setia yang datang. Seorang pekerja kantoran yang baru saja pulang dari kantornya. Barang yang dibeli biasanya kopi instan. Tampang orang itu terlihat kuyu dan kurang istirahat, kelelahan akibat bekerja terlalu keras. Matanya sayu dan merah mengingatkan saya pada mata Ayah. Ketika ia menghela napas, helaan itu terdengar persis seperti apa yang saya dengar dari mulut Ayah, mereka lelah tapi ada orang yang harus mereka biayai dan beri makan. Saya menunggu pria itu datang sesuai jadwalnya sambil membaca buku saku yang saya bawa. Lampu penerangan jalan dinyalakan satu per satu, tanda langit sudah sangat gelap. Buku saku saya tutup begitu pelanggan setia yang kedua mendorong pintu minimarket. Kali ini, wajahnya sedikit berseri, rasa kantuk itu hilang dari kantung matanya. Bibirnya juga terlihat lebih memancarkan kebahagiaan. Mungkin ada yang membuatnya selalu bersemangat kali ini.
Kalau begitu saya turut berbahagia dengan itu, sudah sepatutnya.
Sesuai dengan perkiraan saya, pria itu berjalan ke rak yang memajang toples besar kopi instan. Sebenarnya saya sedikit khawatir karena dia beli begitu banyak kopi, apa dia punya waktu istirahat kalau harus bekerja sambil minum kopi begitu? Atau kesehatannya baik-baik saja kalau dia banyak minum kopi? Saya sendiri terkadang mencicipi kopi kalau senggang dan membutuhkan minuman itu, tapi kalau dalam jumlah besar saya pasti sudah merasa tidak enak dengan tubuh saya ini. Jadi saya merasa heran dengan pria ini, bagaimana ia bisa bertahan disituasi yang bahkan saya tidak ketahui? Jari saya ketukkan di atas meja kasir, menunggu sang pria datang kemari untuk membayar belajaannya. Kali ini dia lebih lama dari biasanya. Mungkin ada keperluan lain yang harus ia beli juga. Orang itu kembali dengan belanjaan setianya (setoples kopi) dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Rasa syukur saya mengembang dalam dada begitu air mukanya berubah, lebih cerah ketimbang sebelumnya. Setidaknya ada perubahan yang membuat saya sedikit tenang.
Begitu saya mencermatinya, saya baru sadar, tampaknya ia baru saja naik gaji.
"Tampaknya Anda baru saja naik gaji, ya?" Saya berniat memberikan selamat kepadanya. Dia tertawa canggung, lalu menjawab, "Iya, akhirnya gaji saya bisa naik". Saya mengangguk sebagai ucapan selamat. "Baguslah kalau begitu, saya sedikit khawatir kalau Anda terus menerus minum kopi instan saja." Sambil mengecek barcode sebisa mungkin saya mengajaknya bercakap-cakap. Lagi, dia tertawa canggung dengan suaranya yang kering. "Tenang saja, daya tahan tubuh saya terbilang cukup kuat, kok." Dia membanggakan dirinya yang mampu berjuang sampai saat ini. "Setidaknya kali ini saya bisa membelikan adik saya banyak makanan," ucapnya. Tentu saja dia tidak bisa lari dari tanggung jawab yang besar, terlebih itu menyangkut keluarganya. Saya sedikit prihatin dengan keadaan itu. "Kalau begitu berterima kasihlah kepada diri Anda sendiri yang sudah bekerja keras selama ini, bukan begitu?" Kemudian saya menatap matanya sejenak. Tampaknya dia sedikit terkejut.
"Jangan lupakan diri sendiri. Apalagi di lingkungan yang ekstrem seperti ini."
"Padahal Anda lebih muda dari saya, tapi tampaknya Anda yang lebih paham tentang ini." Kali ini ia tertawa tulus.
Karena, Anda mengingatkan saya kepada Ayah saya yang sering menampakan mata sayunya itu begitu pulang. Ayah saya yang terkadang lupa dengan dirinya. Maka dari itu, jangan berjuang sendirian terus menerus, jika ada orang yang mampu membantu mintalah bantuannya. Misalnya, keluarga. Abaikan saya yang kabur karena rasa menyesal ini. Kadang saya berpikir, "Sebaiknya jangan bilang Ayah atau Ibu, mereka sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tidak mungkinkan jika aku menganggu mereka", ketika saya hendak tidur atau saat saya melihat mereka sedang menonton film di ruang tengah kamar apartemen. Hanya karena tidak mau tambah menganggu. Saya membalasnya dengan tertawa ringan. "Saya hanya meniru kata-kata Ayah saya." Bohong. Ayah saya tidak pernah mengatakan hal demikian. Bahkan apa yang saya katakan itu berdasarkan apa yang saya lihat dari Ayah saya.
"Bagi saya, membiayai kehidupan adik saya sudah menjadi bagian dari hidup saya. Keluarga itu terkadang adalah segalanya, sebagai anak pun, sulit hidup tanpa orang tua yang menjadi pedoman selanjutnya. Ah-maaf saya jadi banyak bicara."
"Tak mengapa, kalau hanya diam saja rasanya sepi. Berbicara dengan pelanggan pun juga suatu hal yang menyenangkan."
Kantong kresek penuh belanjaan saya letakkan di depannya. "Totalnya 27.700 won," ujar saya. Dia tersadar kemudian mengambil beberapa lembar uang dari dompet kulitnya. "Sebelum itu, saya hanya punya ini. Berbagilah dengan adik Anda," ucap saya sambil menyodorkan kul-tarae yang dibungkus dengan kotak. Tangannya menerima dengan ragu. "Kalau Anda memberi belanjaan ini untuk menghidupi adik Anda dan Anda sendiri. Saya memberi Anda dan adik Anda kul-tarae sebagai hadiah sudah mau bekerja keras sampai saat ini." Saya yang lebih muda darinya mungkin jadi terlihat sok-sokan memberi orang hadiah atas kerja kerasnya. Tapi, ia layak mendapatkan makanan ini sebagai penghibur kecil-kecilan. Dia akhirnya sepenuhnya menerima kotak berisi kul-tarae, kemudian membungkuk sedikit di hadapan saya. "Terima kasih banyak," katanya. Bahkan kami saling tidak mengenal, tapi rasanya dada saya bisa meledak melihat orang merasa lebih baik. Saya tersenyum kemudian mengangguk. Dia memasukkan kotak itu ke dalam kantong kreseng. Lalu keluar dari minimarket dengan perasaan ringan. Bagi saya, sudah cukup mendengar kata terima kasih yang diucapkan setulus mungkin dari orang lain yang merasa terbantu.
Pelanggan setia minimarket diwaktu shift saya hanya dua orang itu, mungkin lebih banyak orang yang kemari saat pagi sampai siang menjelang sore hari. Selebihnya saya hanya berharap setidaknya ada pelanggan lain yang tertarik kemari. Saya kembali membuka buku saku yang saya bawa, duduk di dekat kasir sambil menunggu, terkadang saya mengamati keadaan di luar minimarket yang gelap gulita meski lampu penerangan dinyalakan. Tetap ada perasaan ngeri dan takut jika ada sesuatu terjadi di luar sana. Bagaimana jika terjadi ini-itu yang tak pernah saya harapkan? Tapi rasa takut terhadap hal itu bukanlah apa-apa dibandingkan ketakutan saya akan masa-masa sekolah yang saya jalani selama dua belas tahun lamanya. Saat itu, bahkan saya takut untuk datang ke sekolah, walau saya harus tetap datang karena ujian semakin dekat.
“Kau, tahu tidak, tidak baik mencampuri urusan orang lain.”
“Sekarang kau ingin berdalih kalau kau itu sedang memperingati kita, iya?”
“Kau ini kenapa sih? Bukannya kita sedang menikmati masa remaja kita, santai aja kali! Toh, yang melakukan kita begini kenapa kau yang harus repot?”
"Tuh, kan! Gara-gara kau!"
Gara-gara saya? Gara-gara saya?
Gara-gara saya? Apa ini benar-benar karena saya semata?
Karena saya yang menyebabkan itu semua, gara-gara saya bertindak demikian.
INI SEMUA GARA-GARA SAYA, YA?
Percakapan tu pecah membuat pikiran saya berantakan, apa ini sejenis trauma? Apa hanya khayalan saya belaka? Atau ini sebenarnya bukan apa-apa tapi saya saja yang terlalu memasukkannya ke dalam hati? Saya hanya ingin membuang hal ‘yang bukan apa-apa’ ini ke Pantai Gwakji Gwamul dan membuatnya tenggelam ke dasar laut.
Saat saya menyerahkan kunci minimarket kepada rekan kerja shift berikutnya, kepala saya tak berhenti mengingatkan saya dengan kata-kata itu. Kata-kata yang membuat saya harus merasakan hambar dalam dunia SMA yang saya jalani, seolah memutar lagu kesukaan saya. Andai saja ini, andai saja itu, kalau saya tidak begini, dan kalau saya tidak begitu, saya terus berkata demikian dalam hati. Dalam gelapnya malam hari, saya mengayuh sepeda menyusuri jalan yang sepi sambil menikmati pemandangan sepi dari Pantai Gwakji Gwamul. Angin malam yang berhembus dari arah laut membuat saya bisa merasakan betapa segar dan dinginnya air laut Pantai Gwakji Gwamul. Terkadang saya bersantai sebentar di pantai ini, sambil memandang bulan dan ombak pantai yang menyapu pasir dalam ketenangan malam. Lampu yang menyinari malam saya bukan lagi meriahnya lampu dari bangunan pencakar langit, tapi benda indah bernama Bulan yang cantik dan sederhana. Suara bising yang saya dengar bukan bising knalpot kendaraan, hal itu digantikan deburan ombak alami Pantai Gwakji Gwamul.
Alam indah inilah yang menyambut saya di malam yang dingin tanpa dekapan. Saya berharap Yeon Buk ada disini juga supaya bisa merasakan udara bebas di pinggir laut dan menikmati keindahan dari Pulau Jeju.
Pemandangan ini selalu indah ketika saya yang selalu sendirian ketika datang demi menatap Bulan di sini.
Kadang melihat ombak membuat saya terpukau, tapi saya kadang lupa ombak bisa menghancurkan juga .
Seragam yang saya bayangkan sejak dulu akhirnya bisa saya kenakan di hari pertama masuk SMA. Saya sudah menantikan hal ini sejak lama, sejak saya mengamati banyak siswa siswi berangkat dan pulang menggunakan bus sekolah. Saya selalu menantikannya. Bahkan saya menyemprotkan parfum saya beberapa semprot sampai Ayah saya berkomentar, "Lim A-yeong, kau terlalu banyak menyemprotkan parfum. Tiga semprot itu sudah cukup", kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Selesai mengenakan jaket, saya hanya memasang cengiran biasa. Saya membalasnya dengan santai. "Saya tidak ingin dicap berpenampilan buruk di hari pertama sekolah," balas saya sambil mengendong tas sekolah saya. Bagaimana rasanya jadi anak SMA? Naik bus sekolah bersama teman sekolah, merasakan drama menyenangkan dalam kehidupan itu, menikmati pembicaraan ala anak puber yang sibuk dengan ujian masuk universitas, dan membuat janji pergi setelah ujian usai. Bagaimana rasanya itu semua? Sedari kecil saya bertanya-tanya tentang itu kepada Ayah dan Ibu.
"Bu, apa perasaan Ibu waktu Ibu bersekolah? Seru?"
Saya ingat ketika saya bertanya demikian kepada Ibu yang sedang memanggang spiku untuk kue tar. Ibu dengan apron dan wajah terkena sedikit tepung memandang hangat kepada saya, dengan tangan berbalut mitten mengelus pipi saya. "Nanti Lim A-yeong bakal sibuk dengan tugas dan ujian-ujian ketika sekolah. Tapi nanti Lim A-yeong juga bakal belajar berinteraksi dengan teman yang lain. Ada bagian enak dan tidaknya, semua yang terjadi dalam kehidupan pasti punya sisi miring dan baiknya," ujar Ibu. Saya hanya mengangguk seolah paham kemudian memandang Ibu yang mengoleskan krim kocok ke atas spiku. Setelah sekian lama, waktu yang saya nantikan telah tiba. Karena ini pertama kalinya saya berangkat menggunakan bus sekolah, Ayah saya mengantar saya sampai halte bus sekolah dekat apartemen. Kemudian beliau akan berangkat ke kantor bersama dengan rekan kerjanya menggunakan mobil temannya.
Begitu bus berhenti tepat di halte tempat saya menunggu, pipi saya memanas. Saya memacu semangat saya begitu duduk di bangku kosong bus. Aliran udara dari AC bus menyejukkan dan menenangkan, seperti berkata kepada saya supaya tenang. Pemandangan yang saya lihat berbeda, anak-anak sejawat menggunakan earphone dan membaca buku teks. Beginikah rasanya menjalani hari-hari sebagai siswi SMA? Kesenangan itu bertambah tepat saat bus berhenti di sekolah saya sekarang. Gerbang hitam berkilau yang tinggi, plat nama sekolah digosok sampai memantulkan bayangan, lapangan begitu luas dari tempat saya berdiri saat ini. Bagaimana pun, ini sudah sangat indah jika dikatakan sebagai kulit luar dari sebuah sekolah! Kecerahan dan kualitas peserta didik terasa dari tatapan mereka. Rasa penasaran saya terhadap sistem pengajaran di tempat ini membuncah, terlebih melihat pengumuman kelulusan kakak kelas yang masuk ke universitas ternama di Busan. Ujian harian saja terkadang terasa sulit, bagaimana dengan ujian masuk universitas?
Kertas bercetakkan nama-nama peserta didik baru dan kelas yang mereka masuki terpajang di mading dengan ukuran font besar dan tebal. Setiap koridor ditempel arah kelas bagi anak-anak kelas 10 yang masih bingung dengan peta sekolah. Koridor ini tak jauh beda dengan koridor SD dan SMP saya, rasanya familiar tapi terasa lebih berat. Apa mungkin karena jenjang yang saya tempuh semakin tinggi? Setelah berbelok ke kanan, saya menemukan kelas saya, tempat yang sedikit strategis. Dekat dengan tangga dan toilet, pencahayaan alami pun tercukupi dan tidak begitu tertutup. Lebih dari setengah siswa kelas ini menempati tempat duduk secara acak, saya sedikit kebingungan begitu melihat jajaran kursi rapi dalam kelas ini. Barisan ketiga, pojok kanan, saya menempati tempat duduk di sana. Pemandangan kelas seperti pada umumnya ini anehnya membuat saya kagum dan merasa duduk di bangku teater Bolshoi sambil menikmati keindahan seni kelas tinggi.
Apa ini karena saya terlalu bahagia? Saya dengan naifnya berpikir pendek seperti itu.
Hari pertama yang melelahkan, saya sudah menduga kalau peraturan di sekolah ini ketatnya minta ampun. Tapi saya mengerti semua itu dibuat untuk kebaikan peserta didik. Ada sesi perkenalan diri, sesi yang melunakkan suasana canggung dalam kelas berjalan lancar. Saya juga sudah mendapat beberapa teman bicara (meski belum terlalu dekat) di kelas, setidaknya saya tidak perlu bertindak terlalu kaku kedepannya. Waktu pulang sekolah saya berpikir naif, kalau-kalau hari selanjutnya, tahun selanjutnya, sampai saya lulus dari tempat ini saya tidak perlu khawatir dengan apa pun di lingkungan ini.
Tapi, begitu saya kelas 11 semester dua, waktu untuk kami mempersiapkan diri di kelas 12 demi menghadapi ujian masuk universitas, saya sadar apa yang saya nantikan bukanlah hal yang sepenuhnya baik. "Ada bagian enak dan tidaknya, semua yang terjadi dalam kehidupan pasti punya sisi miring dan baiknya." Saya akhirnya paham, benar-benar paham. Sistem yang dulu saya lihat dari balik jendela kamar apartemen ternyata semengerikan ini. Harusnya saya menarik kata-kata itu, tapi sudahlah. Saya juga akhirnya tahu mengapa Ayah berkomentar saat saya menyemprotkan parfum secara berlebihan ke seragam saya. Ada sebuah peraturan tak tertulis dalam sistem itu. Sebuah peraturan yang ternyata saya langgar sejak dahulu.
Jangan menjadikan dirimu itu mencolok.
Jangan mengalihkan atensi publik kepada eksistensimu yang berbeda dari mereka.
Seharusnya saya mempelajari hal itu semenjak saya mengamati ke'ajaib'an sistem lingkungan ekstrem ini. Padahal saya sudah berangan-angan setiap malam, bagaimana rasanya menjadi siswi SMA yang saya inginkan? Rasanya, takut. Semangat saat awal masuk ke sini tersedot sepenuhnya. Kelas 10 saya lalui dengan baik, nilai-nilai saya juga setidaknya cukup memuaskan untuk tahun pertama SMA, saya punya teman bicara dan teman yang menemani saya pulang dan pergi dengan bus sekolah karena halte tempat kami turun kebetulan sama. Guru yang mengajar tidak buruk dan membimbing kami dengan detail, saya merasa puas dengan sekolah ini. Saya naik kelas 11 tanpa ada mata pelajaran yang nilainya terbilang sangat rendah. Waktu hari pembagian rapot, malamnya Ibu saya memanggang madelein kesukaan saya, memakannya sebagai perayaan kenaikan kelas. Ibu menyambut saya dan Ayah-yang baru saja kembali dari sekolah-dengan harumnya madelein yang baru saja matang dari oven. "Karena Lim A-yeong sudah berjuang keras untuk naik kelas 11 dengan sangat baik, hari ini kita akan merayakannya!" Begitu kata Ibu saya, tangannya yang selalu tercium wangi perisa vanilli mengelus rambut saya. Ayah tidak banyak mengatakan kata-kata pujian seperti Ibu, begitu sampai Ayah hanya merebahkan diri di atas sofa.
Malam itu terasa kasual, tidak ada kue dari bakeri populer, hanya ada kue buatan Ibu yang selalu saya sukai. Madelein yang saya kecap di lidah mungkin senilai dengan hasil kerja keras saya. Ibu banyak bertanya ketika kami bertiga berkumpul di meja makan, "Bagaimana satu tahun bersekolah di sana?", "Teman-teman di sana semuanya baik-baik kepadamu?" dan banyak lainnya, sampai saya bingung ingin menjawab yang mana. Di samping Ibu, Ayah hanya memakan sedikit madelein yang ada di piring dalam diam. Matanya semakin sayu. Saya terlalu khawatir kalau Ayah tertidur di meja makan selagi mengunyah makanan manis. "Bagaimana pun hasilnya, yang terpenting itu murni hasil belajarmu, berterima kasihlah kepada diri sendiri karena sudah mau berjuang di lingkungan seperti itu." Ayah hanya mengatakan hal itu kemudian meneguk segelas air dan pergi ke ruang tengah.
Kamar yang memuat tiga orang. Saya tumbuh dan besar di ruang kecil yang nyaman, ada kasih sayang dari kedua orang tua. Setiap saya melangkah ke dapur, ada aroma kue yang dipanggang atau mungkin wangi dari rum. Ketika saya melangkah ke ruang tengah, ada buku klasik milik Ayah dan televisi yang menyediakan tontonan, terdapat sofa empuk bagi siapa yang mau beristirahat. Begitu ke kamar tidur, ada banyak post it yang saya tempelkan di dinding dekat meja belajar. Kamar apartemen yang sempat menjadi bahan tawaan, tapi saya selalu membanggakan kehangatan keluarga yang hadir.
Tahun ajaran baru, saya naik kelas dan menjadi kakak kelas bagi anak kelas 10 yang baru diterima di sekolah itu. Saya kembali memperbarui niat saya ke sekolah. Pembagian kelas diacak kembali, kali ini saya bertemu dengan teman baru, beberapa teman yang saya sudah kenal dari kelas 10 berada di kelas yang sama dengan saya. Udara pagi bulan Maret sekilas menyejukkan, menerpa kulit dan helai saya yang baru saja saya rapikan keadaannya. Bangunannya tak berubah, masih sama dengan satu tahun yang lalu. Kelas 11 yang saya tempati berada di lantai tiga, butuh tenaga ekstra untuk mencapai kelas. Separuh lebih isi kelas, anak-anak yang baru saya lihat. "Kita sekelas lagi, Lim A-yeong!" Di saat kesunyian kelas mengambil alih, anak perempuan yang duduk berkumpul dengan temannya-dua perempuan dan dua anak laki-laki-berseru memanggil nama saya, seruan yang membuat seluruh mata tertuju ke arah saya. Karena kaget saya hanya menganggukkan kepala saya patah-patah sambil tersenyum kikuk. Dalam benak saya terputar pertanyaan, 'kenapa dia malah membuat saya menjadi pusat perhatian kelas?' Anak bernama Hwa-Young itu berbicara dengan temannya-yang entah bagaimana ia mendapatkannya secepat itu-sambil sesekali melirik saya dan melempar senyum.
Saya tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba bersikap begitu. Tapi bagaimana pun juga saya tidak punya hak untuk mencurigai aksinya itu hanya dengan menilainya dari satu sisi saja. Mungkin memang ia ingin menyapa saya yang kebetulan berada di kelas yang sama lagi. Hanya saja, rasa dari tatapan itu membuat saya tersentak, terlalu tajam jika hanya dikatakan 'tatapan yang penasaran akan sosok yang dimaksud'. Saya tidak punya pilihan lain selain membaca buku teks dan melihat ulang catatan yang telah saya buat selama liburan. "Lim A-yeong ternyata rajin sekali, ya?" Yeon Buk-saya melihat papan namanya yang ada di seragamnya-bertanya sambil melongokan kepalanya ke sisi kiri saya. "Untuk berjaga-jaga, saya selalu buat catatan pertama sebelum mendapat materi." Saya menyodorkan kepadanya catatan yang saya buka itu. Entah itu terlalu menarik perhatian atau tidak, tapi Hwa-Young kembali memekik, "Lim A-yeong ternyata anak rajin, ya!" Bukan hanya saya saja yang sedikit panik, tapi Yeon Buk yang menerima catatan saya ikut terkejut. Lagi-lagi, tatapan itu tertuju kepada saya. Apa yang sebenarnya Hwa-Young lakukan kepada saya? Sebuah perisakan secara tidak langsung?
"Hanya mencatat saja, tidak serajin itu, kok," sanggah saya.
Tidak ada yang saya rasakan setelah itu selain sebuah rasa khawatir. Sebenarnya apa yang perlu saya khawatirkan? Tidak ada, tidak ada yang seharusnya saya pikirkan sepanjang hari. Mungkin ini hanya pikiran negatif yang kadang kala menyelimuti benak. Saya berpikir demikian, tapi saat istirahat hal itu terjadi, namun 'penonton' berkurang. Jumlahnya dapat dihitung dengan jari. "Lim A-yeong dari kelas sepuluh selalu bawa pastry, apa kau selalu pergi bakeri?" Meski ia bertanya, nadanya terlalu kencang. Saya tidak nyaman dengannya yang selalu mengomentari apa yang saya lakukan. "Ini buatan tangan Ibu saya," saya membalas. Tampangnya sedikit heran, kemudian ia mengelus dagunya. "Aku baru mendengar siswi SMA yang menunjuk dirinya dengan 'saya' bukan 'aku' atau bahasa gaul," komentar Hwa-Young.
Sebenarnya di kelas ini yang menunjuk diri dengan ‘saya’ hanya saya sendiri, jadi besar kemungkinan mereka bingung kenapa saya menunjuk diri dengan sebutan sopan itu. “Lim A-yeong itu anak penuh sopan santun, ya?” Dia lagi-lagi berusaha menyorotkan cahaya kepada saya yang bahkan tak menginginkannya menggunakan suaranya yang lantang, seolah membaca petisi penting. “Tidak, saya hanya terbiasa dengan kata itu,” kilah saya, Yeon Buk terlihat risih dengan percakapan yang kami lakukan. Kalau saya cepat menyadari suasana itu, seharusnya setelah menaruh tas saya di kursi saya keluar kelas dan pergi ke ruangan ekskul atau halaman sekolah. ‘Kau berbuat itu untuk mendapat sedikit perhatian?’, suasana kelas seolah berkata demikian, kepada saya yang bahkan tidak menyadarinya.
Anak bodoh atau anak yang polos tentang lingkungan? Benak saya mempertanyakan perilaku saya barusan.
Hari pertama di kelas 11 berjalan (sedikit) mulus dari bayangan saya. Seperti biasa, sekolah selesai petang menjelang malam, begitu keluar kelas langit sudah berangsur-angsur biru gelap yang pekat, di sana juga muncul bintang-bintang redup. Saya akan kembali ke rumah menggunakan bus—seperti biasa—tapi kali ini teman yang biasa pulang bersama kebetulan tidak bisa menemani saya, jadi saya pulang sendirian. Lapangan begitu ramai saat saya menginjakkan kaki di sana. Banyak dari mereka yang akhirnya melangkah ke tempat jajanan atau berjalan ke tempat bimbel. Karena biaya bimbel yang cukup tinggi, saya tidak bisa mengikuti kegiatan seperti itu dan berakhir membeli satu atau dua buku bank soal. Tapi semua itu sudah cukup, lagi pula saya tidak bisa memaksakan kondisi ekonomi kedua orang tua saya yang bisa dikatakan rendah. Kaki saya melangkah menuju halte bus terletak, menunggu kedatang bus yang sering saya naiki untuk pulang.
Pemandangan yang saya lihat benar-benar persis seperti apa yang saya saksikan ketika kecil. Bagaimana mobil pribadi membunyikan klaksonnya, ramai dari pejalan kaki yang melewati jalur yang sama, bunyi yang berasal dari pertokoan menyatu menjadi sebuah detak jantung kota Busan. Saya menyaksikan ini dari dekat, dan merasakan betapa lekatnya suara itu satu sama lain. Dari kecil sampai sekarang pun saya tidak dapat melepas pengalaman saya tentang apa yang saya rasakan saat pulang. Di sekolah juga memiliki detak yang berbeda, lebih tenang layaknya seseorang yang tertidur. Namun darahnya tetap mengalir, saya pikir sekolah memiliki atmosfer demikian. Tenang namun tetap berjalan sesuai aturan, tapi sepertinya orang yang tertidur itu sedang mengalami mimpi buruk.
Dihantui sesuatu, dan sejenak tenang mengambil napas. Tapi ia sadar bahwa mimpi buruknya itu juga berlangsung saat ia bangun. Apakah kamu mendeskripsikan dirimu, Lim A-yeong? Bukankah tidak baik untuk memperburuk pikiran sendiri? Mungkin saat sampai nanti aku akan makan mandu banyak-banyak dan membaca buku klasik Ayah, pikir saya sambil melangkahkan kaki naik ke tangga bus yang baru saja datang di halte.
Malamnya saya benar-benar makan banyak mandu kemudian mengambil buku klasik milik Ayah dari ruang tengah untuk saya baca di kamar. Pride and Prejudice, karya klasik yang overrated itu saya baca dengan bahasa asli—Inggris—dengan sedikit kesulitan, gaya tulis Inggris lama membuat saya pusing mencernanya. Saya juga ingin memiliki kisah cinta seperti Elizabeth dan Mr. Darcy, manis sekali jika dibayangkan apalagi latarnya adalah Britania Raya pada akhir abad ke delapan belas dan pakaian-pakaian yang mereka kenakan masih terkesan bangsawan. Tidak hanya itu, saya juga ingin memiliki ending seperti mereka, bukankah itu impian setiap gadis muda? Tapi tampaknya saya terlalu berharap dengan mimpi itu, setidaknya saya punya mimpi untuk saya capai—meski itu adalah hal yang mustahil.
Ini Korea bukan Britania Raya.
Sekarang itu abad ke dua puluh satu, jauh dari akhir abad ke delapan belas.
Pakaiannya pun lebih modern dan sederhana ketimbang zaman itu.
Lalu, memangnya ada orang seperti Mr. Darcy di seantro Korea Selatan ini?
Lucu sekali saya membayangkan kisah itu diputar dalam latar Korea. Saya juga ingin, punya cerita yang meski berliku, tapi punya akhir yang saya nantikan. Bisakah saya menggantikan Jane saja? Tanpa sadar saya menertawakan diri saya sendiri yang bisa-bisanya berpikir demikian, padahal saya semestinya merasakan kekhawatiran untuk hari esok.
Saya pergi ke sekolah dengan bus, seperti biasanya. Padahal tanah bus berjalan rata, tapi dalam bayangan saya, bus ini berjalan terbalik. Seolah bus ini melayang, saya hanya terlalu khawatir dengan hari ini. Tenang, semuanya akan seperti biasa, pikiran saya menenangkan diri sendiri. Apakah benar? Apakah Hwa-Young tidak akan menyorotkan cahaya kepada saya lagi hari ini dan seterusnya? Saya tidak pernah dan tidak akan pernah nyaman dengan tatapan sekitar ketika dia mulai mengeraskan suara saat berbicara kepada saya. Memangnya dia ingin menggebar-gemborkan apa tentang kehidupan saya? Jalan yang tadinya terbalik itu sekarang malah miring dalam bayangan, penyakit apa ini? Sebelumnya pun saya tidak pernah mengira melewati jalan yang miring ini.
Perut saya pun tidak diobrak-abrik secara brutal seperti halnya mabuk darat. Mungkin ini hanyalah kekhawatiran di pagi hari yang terlalu saya dramatisir.
Berterima kasih kepada minyak aroma saat pengelihatan saya tiba-tiba aneh rasanya kurang cukup. Tidak ada yang terjadi seperti apa yang kemarin terjadi, saya hanya bisa mengatakan kata penyemangat yang sebenarnya tak punya efek apa pun.
Pemandangan yang biasa, saya berharap tak ada lagi ucapan Hwa-Young yang ditujukan kepada saya. Mata saya sudah terlalu menyipit ketika ia menyiram saya dengan cahaya. Mungkin yang lain juga, sudah terlalu muak dengan cahaya yang terlalu terang sampai-sampai memohon cahaya itu dimatikan saya.
Lagi-lagi pijakan saya terasa miring sampai saya rasa mampu menjungkirbalikan posisi saya yang sedang duduk ini. Mungkin kalau jiwa saya yang sekarang berada disana, sudah seharusnya saya menghentikan hal itu dan menghilangkan rasa bersalah yang tak sepantasnya saya tanggung.
Tapi saya masih naif untuk bergabung dalam lingkungan. Sekarang pun yan tertinggal hanyalah sebuah teror dari masa lalu yang tak saya harapkan pernah terjadi. Sekarang ini, saya berdoa dan membiarkan waktu berjalan sesuai kehendak. Tak perlu khawatir, tak perlu panik dan tenang.
Bunyi dari bel pertanda masuk kelas membuyarkan kepanikan. Pemandangan kelas yang saya sandingkan dengan teater Bolshoi itu berubah dengan cepat menjadi sebuah sinema yang lampunya mati tak kembali berfungsi dan hanya audio yang bekerja.
Hari ini, mau tidak mau saya harus menjalaninya, jika ada yang berjalan tak sesuai harapan anggap saja itu tak pernah terjadi. Toh, orang lain pasti menutup mata mereka rapat-rapat jika di depannya itu tersaji hidangan buruk rupa. Cara mudah jika ada masalah tapi itu tidak menyangkut dirimu, tunjukkan saja punggungmu itu kepada mereka dan tutup rapat kedua mata serta telinga sambil membisikkan, “Aku sendiri juga gak tahu kalau hal itu bisa terjadi, lho.” Kadang masyarakat memang tak mau repot.
Tampaknya doa saya terkabul, hari ini Hwa-Young sama sekali tak tertarik membuat saya naik ke panggung luas. Saya bisa sepenuhnya tenang, seperti saat kelas 10 dulu, menikmati makanan kantin dan pergi ke halaman bersama Yeon Buk sambil membicarakan topik aneh. Hari ini saya patut membanggakan ketenangannya, saya bisa menikmati suasananya. Ah, bagaimana kalau tempat bersantai kami ini berlatar abad ke delapan belas? Kami duduk sambil menyesap teh kelas atas, makanan manis pun tersaji. Bergurau ala gadis bangsawan semua itu tampak sempurna, saya menertawakan bayangan saya. Bagaimana pun, itu tidak akan terjadi dan tidak realistis.
Perlu diingat lagi, saya Lim A-yeong.
Tidak ada hal spesial dalam diri saya. Yang saya punya hanyalah keluarga yang hangat, teman yang ingin menemani saya saat jam istirahat dan pendidikan yang cukup berkualitas.
Cerita saya tak sama seperti Pride and Prejudice. Cerita ini memuat saya—seorang siswi biasa yang ceroboh dan begitu menggagumi lingkungannya dengan pikiran tolol. Jika dibuat sinopsis mungkin hanya itu inti dari cerita saya. Meski pun ada sebuah konflik di cerita ini, konflik itu tak lebih dari anak-anak yang sedang berada di masa puber mereka. Konflik yang bisa dikatakan terlalu drama. Saking menggelikannya orang-orang akan memalingkan wajahnya, dan para aktor akan merobek wajah mereka sendiri. Bukankah dalam berinteraksi wajah setiap persona akan dipertaruhkan, apakah itu akan diinjak atau ditunjukkan penuh kebanggaan?
"Kalau lulus, ayo coba ke luar Busan." Yeon Buk memberi usul, dia tampak tenang memakan makan siang dari kantin. "Aku ingin lihat Korea dari kota lainnya." Alangkah indahnya pemandangan Korea dari sudut lain, bagaimana prespektifnya? Saya ikut membayangkannya, bagaimana dengan Seoul, kota pusat itu punya kenampakan seperti apa, ya kira-kira? Pulau Jeju yang eskotis? Daegu, Changwon dan Incheon yang juga perkotaan luas? Oh, Tuhan, Korea dengan pemandangan indah, tapi apa sama dengan masyarakatnya? Tinggi gedung yang dibangun disandingkan dengan betapa tingginya standar negara kami. Pintar, bakat dari lahir, kaya dan rupawan, Tuhan, ini terlalu 'cantik'. Terlalu teratur, tak jauh seperti menggenakan korset untuk pertunjukkan seni di teater kelas atas. Kami mematahkan rusuk untuk tampil ramping. Tak mudah.
"Memangnya Yeon Buk ingin kemana?" Sambil mencomot kimchi saya bertanya, di Korea ada banyak kota terkenal dan popularitasnya tak begitu menonjol. "Kemana saja, pokoknya keluar kota." Dia memang terkesan mendadak, tapi masih ada satu tahun lagi sebelum kami lulus. Pemandangan seperti apa yang akan mendatangi saya juga Yeon Buk nanti? Keindahan seperti apa yang akan tampil? Kemudian saya tersenyum tipis, seperti merasakan udara sejuk dari bukit tinggi. Kami yang bermimpi menjelajahi Korea bersama, melihat prespektif lain dari Korea tentunya melewati perjalanan panjang sebelum semua itu bisa terwujudkan. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, enam bulan, delapan bulan hingga tersisa satu bulan sebelum ujian kenaikan kelas. Tentu saya berjuang keras, memeras otak saya lebih dari sebelumnya. Terkadang belajar di perpustakaan sampai jam sepuluh atau sebelas malam, mengerjakan soal latihan gila-gilaan.
Hari menuju ujian kenaikan semakin menipis, pagi ini saya berangkat seperti biasa dengan bus sekolah. Jalanan yang biasanya ramai dengan klakson kini sedikit tenang meski masih ada sejumlah kendaraan yang masih melintas. Dari kaca bus, manik saya menatap jalan yang dilalui, sudah berapa tahun, ya saya terus melihat jalan yang sama? Saya ingat ketika Yeon Buk berceloteh ingin pergi ke luar Busan. Saya juga ingin mencobanya, melihat pemandangan yang berbeda, saya menantikannya. Entah kapan itu. Toko dan gedung terlihat cerah, memantulkan sinar matahari yang hangat. Hari ini juga akan sama seperti kemarin, berjalan lancar, Hwa-Young tampaknya sudah bosan menarik figur saya untuk menaiki panggung. Ia juga lebih sering bermain dengan kelompoknya, entah di kantin, saat pulang sekolah pun mereka biasanya mampir ke cafe atau karaoke poin untuk sekedar beristirahat sejenak. Kami sering berpas-pasan jika saya pergi ke cafe belajar, tapi saya tak ingin terlihat darinya jadi saya langsung mengalihkan pandangan. Pada dasarnya mereka memang anak yang suka kebebasan, khas anak muda di masa-masa yang penuh memori.
Kehangatan dari panas matahari menembus kaca bening bus, menenangkan seolah sinar itu mencengkeram pergelangan tangan saya dengan lembut. Saya menatap kedua tangan saya yang jemarinnya terkait, seperti hendak berdoa. Mungkin benar, saya harus berdoa dengan khusyuk di pagi yang syahdu ini. Gerbang tinggi yang tetap mengkilap ikut memantulkan sinar matahari, membuat saya sadar sudah sampai tujuan. Andai saja tahun berikutnya berjalan seperti ini, alangkah indahnya tiga tahun di SMA yang saya jalani. Saya dengan naif berpikir semua akan tenang seperti yang saya harapkan. Lingkungan ini, tak buruk, tak jauh berbeda dengan pemandangan yang saya lihat beberapa tahun silam. Riuh di sekolah kembali saya dengar, suara yang akan menemani saya setahun lagi. "Lim A-yeong!" Hwa-Young berseru memanggil saya sambil mengejar langkah saya. Kenapa ia malah menghampiri saya? Batin saya tak lepas dari pikiran itu, lagipula dimana teman-temannya?
Pagi yang cerah, dan kedatangan Hwa-Young, kira-kira hari ini akan lancar atau tidak, ya? Saya malah mempertanyakan rasa tenang saya tadi, apa benar-benar aman untuk saya menjalani rutinitas ini dengan rasa lega? "Ujian semakin dekat, ya. Pasti kau lagi rajin-rajinnya belajar." Hwa-Young terlalu membesar-besarkan suatu hal yang tak perlu diangkat terlalu tinggi, kenapa saya panik hanya dengan itu? Saya bahkan bisa merasakan aliran darah yang mengalir di pembuluh darah saya, mengalir pelan disertai rasa menggelitik yang tak nyaman, kepala saya terasa diputar. Tapi saya sudah merasakan ini beberapa kali, saya akan terbiasa, saya akan melewatinya seperti biasa.
Akankah semua rasa ini berakhir?
Akankah saya akan merasakan rasa tenang dari kekhawatir saat ini?
Langkah kami seirama, terkadang ia melempar sebuah lelucon yang bahkan tak bisa dikatakan sebuah lelucon tapi saya tetap memaksakan diri untuk terlihat tertawa. Figur saya dan Hwa-Young memasuki kelas, ranah yang saya kira membuat saya lebih baik malah membuat saya merasakan sesuatu yang baru. Sebuah rasa yang tak seharusnya (mungkin) saya pikirkan sejauh ini.
Jam pertama, istirahat pertama, istirahat kedua, jam terakhir kemudian jam kepulangan. Semua itu membutuhkan waktu lama sampai-sampai saya harus pulang jam setengah sebelas malam, belum lagi saya harus mampir sebentar ke perpustakaan untuk mencatat materi dan mengulangnya kembali meski hanya sebentar. Tentu, sepanjang sekolah saya hampir menghabiskan banyak waktu bersama Yeon Buk, satu-satunya orang yang mau ikut dengan saya kemana pun. Waktu istirahat yang tersedia kami gunakan untuk makan siang atau pergi ke halaman belakang hanya sekedar berbincang, tentang harapan kami ke luar Busan. "Bagaimana kalau kita ke Ulsan?", "Aku suka dengan pemandangan menenangkan alam, kota yang berbaur dengan alam itu terlihat menekan stres, Lim A-yeong suka kota yang seperti apa?" dan "Setelah semua ini selesai, kita akan sama-sama menikmati hidup masing-masing." Setiap hari saya menantikan hari dimana kami bisa pergi bersama, sama seperti hari itu, kala saya menantikan bisa mengenakan seragam yang imut.
"Hari ini kau akan ke cafe belajar atau perpustakaan?"
"Saya akan ke perpustakaan sebentar jika sempat."
Di tengah ribut kelas sebelum bel pulang menggema menindih percakapan kami, anak-anak merencanakan kegiatan mereka selanjutnya atau rencana setelah ujian berakhir. Pergi ke taman bermain bertema Disneyland, pergi ke luar Busan atau menginap bersama di rumah teman, terdengar seperti hal yang tak boleh dilewatkan. Saya sendiri tak punya rencana apa-apa dengan Yeon Buk, hanya menikmati waktu masing-masing dan menceritakannya jika kami bertemu di sekolah. Tidak ada kegiatan yang spesial untuk istirahat dari ujian. Biasanya Ibu akan memasak makanan seperti steak Salisbury jika persediaan ada dan malamnya Ibu akan menyiapkan bagel dan cheese cake sebagai perayaan kecil-kecilan.
"Ujian semakin dekat, jaga kesehatan kalian dan jangan terlalu memaksakan diri kalian. Kenaikan kelas juga penting seperti kelulusan."
"Baik!"
Semuanya berlomba siapa yang paling cepat memasukkan barang ke dalam tas, kemudian berlari keluar kelas saat mendengar bel, seperti sebuah rutinitas hal itu terjadi tetapi saya juga menikmati pemandangan kasual seperti itu. Hari ini saya akan mampir ke perpustakaan untuk belajar tambahan, tapi jika sudah sangat larut saya akan langsung pulang. Saya berpisah dengan Yeon Buk setelah ia mengatakan, "Selamat malam, besok kita bertemu lagi!" sambil melambaikan tangannya. Hari ini telah saya lewati dengan tenang dari kekhawatiran yang sempat saya takuti, selanjutnya pun saya hanya harus fokus ke ujian yang menjadi tembok tinggi. Jalanan ramai oleh orang-orang, kebanyakan dari mereka sama seperti sama dan pekerja kantoran. Kesibukan kota Busan masih terlihat meski waktu sudah malam, lampu gedung bertingkat, toko dan kendaraan bersaing menunjukkan siapa yang paling megah. Ribut suara pengeras dari toko yang terpantul keluar, knalpot kendaraan dan bisik-bisik pejalan ikut memeriahkan malam seolah mereka tak akan pernah lelah untuk hari esok. Di antara mereka yang berjalan menyebrangi jalan, saya ikut dalam keramaian.
Perpustakaan letakkannya cukup jauh jika ditempuh berjalan kaki saja, malam ini tak buruk jika dilihat-lihat. Potret saya masuk ke dalam lingkungan seperti ini, sebuah pemandangan yang saya sering lihat, sekarang saya berada di dalamnya. Angin membawa hawa dingin, seperti mendorong saya supaya lebih cepat berjalan. Di tengah keramaian itu, sayup-sayup saya mendengar suara heboh yang saya kenal. Suara tinggi Hwa-Young, saya menangkap suara familiar itu tak jauh dari tempat saya berhenti. Untuk memastikan saya menolehkan kepala mengarah ke suara Hwa-Young, dugaan saya tepat sasaran rupanya. Hwa-Young dan temannya-yang tadi saya tak lihat di sekolah ternyata ada di sini-asik mengobrol dengan heboh di tengah trotoar, hal yang dibicarakan pun bukan soal ujian mendatang tapi entah apa yang bahkan saya tak begitu pahami. Mereka berjalan ke arah tempat yang mungkin adalah bar. Bagaimana pun, tidak boleh sampai mereka tersesat ke sana.
Awalnya saya hendak ke perpustakaan, tapi arah langkah saya berlawanan dari tujuan utama. Tahun ini-meski saya tidak begitu suka dengan mereka-kita harus naik kelas bersama, seperti apa yang wali kelas katakan. "Hwa-Young," panggil saya lirih sambil meraih lengannya. Ayo, hentikan semua ini, kita harus berjuang untuk kelas terakhir juga. "Wah, Lim A-yeong juga ingin ikut bersenang-senang?" Hwa-Young tampak girang, sebaliknya dengan saya yang tak mengerti apa yang ia maksud. Bersenang-senang di bar? Minum dan melakukan hal selayaknya orang dewasa di luar lakukan? "Tampaknya baru pertama kali begini, ya? Kalau begitu kami ajari!" Tidak, tolong, sungguh jangan bermain terlalu dalam. Tidakkah kalian berpikir untuk naik ke daratan setelah puas menjelajahi isi laut? Tidakkah kalian berpikir jika kalian bisa saja mati jika kalian terlalu dalam menyelam tanpa oksigen cukup? Jangan lupa jika ada daratan untuk kalian kembali. Ada yang harus kalian ingat di daratan.
"Bukannya kita akan menghadapi ujian, bukankah kita juga belum cukup umur untuk ini?" Suara saya terdengar bergetar karena kaget. Bagaimana pun saya baru pertama kali melihat secara langsung hal seperti ini. Ayah bahkan tak pernah pulang dalam keadaan mabuk, Ibu juga tak pernah menyimpan soju dan semacamnya. Tidak-mungkin mereka pernah, tapi hanya saja saya yang tak mengetahui itu.
Saya tak pernah mengira semua ini ada dalam satu lingkungan. Bagaimana dengan siswa dan siswi yang baru saja turun dari bus, apa mereka benar-benar pergi belajar? Lalu, pekerja kantoran, apa mereka benar-benar pergi mencari nafkah? Tiba-tiba saya mempertanyakan semua itu begitu melihat sebuah kebenaran yang menampar saya, ternyata semengerikan ini, lingkungan yang saya dambakan ternyata punya sisi seperti ini. Apa mereka tak punya niat untuk kembali? Kembali ke rumah untuk beristirahat, saat sekolah kembali ke rutinitas seorang murid. "Apa kalian tidak berpikir untuk melangkah kembali?" Bolehkah saya mencegat mereka, meski hanya sekali saja? Salah satu diantara mereka memutar bola matanya, tampaknya ini terlalu membosankan seperti opera sabun, ya?
“Kau, tahu tidak, tidak baik mencampuri urusan orang lain.”
“Sekarang kau ingin berdalih kalau kau itu sedang memperingati kita, iya?”
"Kau ini kenapa, sih? Bukannya kita sedang menikmati masa remaja kita, santai aja kali! Toh, yang melakukan kita begini kenapa kau yang harus repot?"
Ah, kenapa begini? Apa semenjak awal kami hidup dari dunia yang berbeda? Seharusnya saya menyadari ini lebih awal, mereka tidak tinggal dan dibesarkan di sebuah apartemen yang memuat tiga orang, mereka tidak tumbuh dengan cara yang sama seperti saya. Mereka tidak hanya melihat lingkungan dengan mata berbinar ketika muncul keteraturan yang memanjakan mata. Bagi mereka, yang mereka lihat juga keasikan malam seperti ini. Saya yang bodoh. "Anak rajin yang ingin lulus dengan nilai baik meski berada di keluarga yang tak begitu diberkahi dengan kekayaan cukup pulang dan belajar, ya?" Hwa-Young melambaikan tangannya kepada saya sebelum menunjukkan punggungnya. Haruskah saya juga membalikkan punggung saya sambil menutup kedua telinga dan mata sambil membisikkan, "Saya tidak pernah tahu, dan tak menyangka hal seperti itu bisa terjadi"? Selanjutnya apa yang harus saya lakukan?
Malam ini, dan hari ini.. padahal saya berpikir semuanya akan baik-baik saja dan penuh ketenangan. Tapi ternyata sebaliknya, ya?
Rencana pergi ke perpustakaan sepenuhnya gagal total dan saya langsung kembali ke apartemen. Selanjutnya yang perlu saya pikirkan adalah bagaimana saya menanggapi pertemuan ini, haruskah saya mengganggapnya tak pernah terjadi atau mengganggap ini semua terjadi dan melaporkannya?
"Mungkinkah saya sebuah guci yang jatuh karena ketidakhati-hatian dan akhirnya hanya menjadi kepingan tak berharga?"
Matahari menyambut mengusir kantuk, tapi mata saya tetap tak mau terbuka sepenuhnya karena silau akan dunia ini. Meski figur saya berdiri di depan ruang guru, bukan berarti jiwa saya benar-benar berada di tempat yang sama. Saya terasa tersapu oleh arus lalu lintas yang ramai lancar. Berkali-kali saya merasa ragu, apa yang saya akan lakukan ini benar, kan? Tidak melanggar peraturan apa pun, kan? Barulah saya menggeser pintu ruang guru dan mengambil napas sedalam-dalamnya, "Permisi, di sini ada Bu Ghie?" Wali kelas yang saya panggil namanya menolehkan kepala dan memanggil saya supaya mendekat. Benarkah tindakan saya? Bisakah tindakan ini disebut dengan sebuah kebenaran? Masih sempatkah untuk saya membatalkan niat ini, lalu bilang saja, "Maaf, bu setelah saya pikir-pikir ini bukan sebuah hal yang patut saya laporkan"? Di masyarakat demikian, tindakan seperti apa yang harusnya dilakukan orang-orang? Saya sendiri kebingungan setengah mati sejak sampai di rumah.
Sepertinya saya telah menggali kuburan saya sendiri sekarang. Bahkan saya tak yakin jika saya punya keberanian untuk muncul setelah ini, harus memasang muka seperti apa di depan mereka? Saya membuka mulut saya dan merendahkan suara saya, sedari malam saya sudah memikirkan ini semua, kemudian yang harus dilakukan adalah menundukkan kepala dengan punggung sedikit membungkuk. Bu Ghie tersenyum, menepuk lengan saya demi memberi semangat. "Terima kasih sudah melaporkannya, tindakan selanjutnya akan diselesaikan pihak sekolah. Yang kau lakukan sudah benar, jangan terlalu pedulikan ucapan mereka jika mereka bertemu denganmu, ya, Nak Lim A-Yeong?" Muncul setitik rasa nyaman dan tenang, setidaknya.. jika satu orang mengakui itu sudah benar, mungkin akan cukup. Bu Ghie menyuruh saya kembali ke kelas, langkah saya terlalu ringan sampai saya sendiri lupa saya berjalan di atas lantai koridor. Setelahnya mereka akan bagaimana?
Apa yang akan mereka katakan kepada saya?
Saat itu kepala saya terasa ringan layaknya kapas, kemudian hembus karena angin kencang. Ingatan saya seperti dipercepat sepuluh kali lipat, sebab saya sendiri tak mau terlalu mengingatnya.
Sekarang jam menunjukkan pukul sembilan malam, hari ini saya harus berjuang keras untuk ujian kenaikan nanti. Tinggal satu tahun lagi dan saya bisa ke luar Busan bersama Yeon Buk. Penentuannya dimulai di hari pengumuman. "Nanti saat ujian dimulai, ayo berjuang bersama-sama untuk ujian. Untuk jalan-jalan keluar Busan juga." Yeon Buk berkata demikian untuk menyemangati saya, tapi pikiran saya juga tak bisa lepas dari perasaan apa yang harus saya rasakan jika mereka sudah mendapat hukuman. "Tentu saja, ini juga demi rencana kita," balas saya, sebenarnya pikiran saya kusut walau mengatakan kata-kata tersebut dengan ringan.
Semoga saja, tidak bertemu mereka dimana pun saya berjalan. Tidak bertemu mereka kapan pun. Kalau bisa hanyutkan saja saya ke laut kemudian ditelan gelapnya dasar laut. Entah dinanti makhluk apa. Hari ini pun saya tak punya rencana pergi ke cafe belajar maupun perpustakaan, demi mengalihkan pandangan saya dari mereka. Pelajaran di jam terakhir terasa seperti angin lewat bagi saya yang terus-terusan menatap kosong lembaran buku teks. Sampai bel pulang berdering, memukul kepala saya yang hampa. Malam ini, akankah berakhir seperti waktu itu? Saat yang mana saya mengharapkan hari damai dan tenang, tapi berakhir dramatis menggelikan. Namun, Tuhan sepertinya ingin memberikan saya sebuah sentilan keras, ketika Tuhan mengalihkan doa saya.
Jalan menuju apartemen yang bising karena persoalan masing-masing terdengar seperti cemoohan dari mereka kepada saya. Sebisa mungkin, semampu mungkin, dan sekuat mungkin saya berusaha menyamakan diri dengan orang-orang yang melintas dengan saya. Jangan membuat dirimu mencolok di sini. Tapi Tuhan senang membuat hamba-Nya terus berdoa kepada-Nya dengan diberi keadaan terjepit. Lengan saya digenggam kuat-kuat Hwa-Young saat hendak menyebrang zebra cross, hampir saja saya memekik terkejut. "Ikut dulu pokoknya!" Mukanya menunjukkan raut marah. Mati.. mati saya, mati saja, saya pesimis menghadapi keadaan ini dan selanjutnya. Langkahnya terburu-buru melewati toko-toko dan gang kecil. Jalan yang cukup jauh dari zebra cross tadi. Napasnya terdengar sekali berderu kesal bak seseorang yang tercekik kencang. Tempat ini sepi, hanya ada udara yang menyapu helai kami, kemudian dia berteriak kesal kepada saya. Gara-gara saya. Semua ini karena ada saya.
"Tuh, kan! Gara-gara kau!"
"Gara-gara kau! Pokoknya ini gara-gara kau!"
"Aku dan yang lain dapat hukuman fisik seminggu penuh dan skors dua minggu!"
Apa ini namanya penghakiman? Apa ini karena saya terlalu ikut campur? Apa hal yang saya lakukan itu terlarang? Saya bertanya-tanya ketika mendengar semua itu. Ya, karena saya menghampiri kalian. Karena saya keras kepala memeringati kalian. Karena saya dengan egoisme saya. Padahal saya tak mau mencolok karena ini. Waktu Hwa-Young menyorotkan cahaya kepada saya, saya tak menyukainya.. tapi sekarang saya tak jauh berbeda dengannya bukan? Gara-gara saya dia jadi mendapat label tak menyenangkan. Sisi hati saya mengatakan, ia pantas menerimanya. Namun, di sisi lain hati saya mengatakan, tidak bagaimana pun itu ia tak boleh dianggap dengan label itu. Inikah rasa bersalah? Karena saya mereka mendapat hukuman skors dua minggu, ditambah mereka minum dibawah umur. Saya menatap gelapnya langit malam dengan tatapan tak fokus, apa yang seharusnya saya rasakan? Dia meninggalkan tempat itu, menyisakan saya sendirian dikesepian malam. Lagi-lagi kepala saya terasa ringan, saya ingin juga melupakan ini semua dengan mudah. Suatu tempat, tempat untuk berteduh diudara dingin; halte. Kaki saya ayunkan demi mengusir rasa tak bernama ini. Di bawah halte bus yang memberi saya tempat dan penerangan, seperti hendak mendekap saya dalam kebingungan.
Rasa bersalah yang tak sepatutnya saya tanggung ini menggerogoti hati saya. Perasaan goyah akan pemikiran sendiri membuat saya harus bertanya-tanya dalam hati, tanpa ada jawaban pasti. Salah atau benar?
Ada yang membenarkan tapi ada yang menyalahkan. Bu Ghie.. Ibu.. Ayah.. yang harus kuambil yang mana? Yang harus kutanggapi yang mana?
Mungkin hari itu adalah hari dimana saya tak berharap lagi masuk ke dalam lingkungan itu. Hari saya berharap mengubah pikiran saya saat saya masih memandang pemandangan ini dari jendela kamar dengan perasaan bodoh meluap dari hati saya. Untuk lenyap dari pemandangan itu, saya berpikir supaya merantau ke Jeju, tempat eksotis yang menenangkan karena alam. Mungkin saya sudah lenyap, tapi perasaan saya atas semua kejadian itu—perasaan bersalah yang seharusnya tak pernah ada—masih terus mengikuti saya bahkan sampai saya memutuskan kerja sambilan di sebuah minimarket. Saya bahkan tak bisa berguna sebagai manusia, meski saya hidup berapa lama lagi, tak akan ada yang berubah.
Yeon Buk yang akhirnya tahu kejadian ini mengambil jarak dengan saya, saya pun juga sudah sering mendengar, "Bukannya kau bersalah karena membuat Hwa-Young dan temannya diskors?", "Wah, padahal sedikit lagi mau ujian kenaikan malah kena kasus. Kalau laporan itu ditahan sebentar setidaknya mereka punya kesempat ikut dulu", atau "Gara-gara kau mereka jadi kena skors, padahal hal begitu juga pasti ada yang melakukan juga, kenapa yang lain gak dilaporkan? Apa jangan-jangan kau hanya melaporkan mereka karena kau sendiri pernah begitu dan akhirnya menjadikan mereka kambing hitam?". Di pihak lain saya juga mendengar, "Mau dekat dengan ujian atau tidak memang sebaiknya melapor secepatnya, kalau lama-lama bisa-bisa mereka akan keterusan, kan?", "Apa pun yang mereka ucapkan, jangan terlalu diambil hati. Tindakan melapor atas kesalahan adalah benar", dan "Bagaimana pun alasan mereka pergi ke sana, itu bukan tindakan yang bagus apalagi sebagai siswa."
Rencana saya dan Yeon Buk soal keluar Busan saat lulus lenyap, selayaknya kami tak pernah membahas hal tersebut saat jam istirahat. Benar, ini cerita saya, Lim A-yeong. Tak ada gunanya juga waktu malam itu saya berharap menggantikan diri saya sebagai Elizabeth yang berakhir bahagia dengan Mr. Darcy dan mengharapkan kehidupan seperti Elizabeth. Sampai usia senja saya pun, mereka tak akan melupakan bahwa saya ada dalam cerita itu.
Entah saya yang terlalu pesimis atau mendramatisir ini, tapi sepertinya ada benarnya.. semua ini karena saya.
Keramik elok produksi Cina sudah pecah, dan sayangnya tak bisa diperbaiki dan hanya akan menjadi butiran debu tak berharga.
Friable; sesuatu yang hancur, dan menjadi sesuatu yang tak berguna.
Ketika saya hidup untuk mendengarkan rasa terima kasih yang tulus, saya malah mengucapkan hal itu sepenuh hati.
"Jangan main terlalu jauh! Kalian harus ada dalam pengawasan Ibu, ya!"
"Iya, ya."
"Tolong foto yang bagus, ya! Buat kenang-kenangan nih!"
"Oi, oi tunggu aku dulu dong!"
Begitu mengayuhkan sepeda ke Pantai Gwakji Gwamul saya mendengar keramaian yang khas, seperti mendengar keramaian Busan, tapi saya rasa ramai Pulau Jeju dan Busan adalah hal yang berbeda. Biru laut yang cantik sebab terpantul sinar matahari yang hangat, suasana yang ceria membangkitkan kesan tertentu bagi saya. Saya biasa mengujungi Pantai Gwakji Gwamul untuk mencari ketenangan, tapi ada kalanya saya datang ke sini di siang hari untuk mencari alasan bahwasanya saya tidak selalu sendiri. Ada anak-anak yang membangun istana pasir atau menggumpulkan kerang di pinggir laut, ada remaja yang menikmati liburan mereka sambil bercakap-cakap seru, orang tua yang berdiri di dekat anak-anak mereka, ada pula mereka yang hanya sekedar berkeliling tanpa tujuan jelas. Di sini ramai, mengingatkan pada saya, saya tidaklah sendiri di tempat ini. Memang jika kau berdiri di sini pada malam hari pasti akan sepi, tapi bekas keramaian itu akan melekat di butiran pasir, deburan ombak, atau mungkin di kerang yang terinjak. Mereka akan menyisakan bekas yang tersapu waktu. Siang hari ini saya baru saja pulang dari kampus setelah kelas pagi, jadi saya bisa menjaga minimarket seperti biasa.
Kira-kira Yoona akan menceritakan apa, ya nanti? Pekerja kantoran itu juga akan membeli kebutuhan lainnya kah setelah gajinya naik? Saya mempertanyakan kondisi mereka, seperti biota di pantai ini yang menyisakan bekas pada setiap jengkalnya, jika saya kembali ke Busan mereka juga akan menyisakan bekas pada saya, sebuah bekas yang nanti akan termakan waktu sampai tiba saatnya untuk saya lupa pada mereka meski saya tak ingin sepenuhnya lupa. Sepeda yang saya kayuh berhenti di depan sebuah vending machine, beristirahat sejenak sambil mengarahkan pandangan ke Pantai Gwakji Gwamul. "Indah," tanpa sadar saya menggumamkan satu kata itu. "Kau suka dengan Pantai Gwakji Gwamul juga?" Lelaki dengan helai hitam panjang sebahu digerai menyeletuk, awalnya saya diam sampai ia mengatakan, "Aku berbicara denganmu, kok." Barulah saya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata apa pun. "Ya, setiap hari saya hampir datang kemari," balas saya setelah memutuskan menjawabnya.
"Tapi kau tidak terlihat seperti orang asli Jeju."
"Saya dari Busan, lalu memutuskan kemari."
"Pasti untuk sekolah dan liburan, ya?"
Tidak, untuk kabur.
"Iya." Kali ini saya berbohong dulu, ya, entah siapa.
Dia hanya mengangguk-angguk, kemudian pamit kepada saya sambil melambaikan tangannya. Tidakkah kau berpikir lebih baik meninggalkan namamu kepadaku, wahai pemuda? Diam-diam saya mengamati punggungnya yang semakin menjauh dari tempat saya beristirahat. Saya bahkan tak mengenal siapa pemuda itu, darimana dia berasal, untuk apa ia ke Pantai Gwakji Gwamul dan kenapa dia menyapa saya dan lainnya. Benar-benar asing. Tanpa adanya perkenalan kami berdua menyapa dan bercakap-cakap sebentar. Dalam hati saya sedikit berharap nanti malam dia akan berkunjung ke minimarket, hanya untuk mengetahui namanya. Mungkin saya sedikit berharap akan itu, kemudian kembali mengayuh sepeda saya untuk pergi ke tempat lain. Udara khas siang hari menyapu seluruh tubuh saya yang berbalut pakaian kasual, perlahan suara ramai itu teredam setelah saya mengayuh lebih jauh lagi, sudah menjadi kebiasaan jika selesai kelas saya berkeliling di sekitar Pantai Gwakji Gwamul dan minimarket tempat saya bekerja. Hanya sekedar menghirup udara sebelum akhirnya saya kembali menghirup dinginnya pendingin ruangan di kamar apartemen sambil makan siang dihadapan laptop menyala. Sepanjang perjalanan ini hanya pemandangan yang sama, kakek-kakek yang berkumpul di depan rumah sambil berbincang, pemilik toko yang sibuk membereskan display mereka dan turis yang baru sampai di Jeju. Semua keteraturan ini lebih menyenangkan, mungkin saya saja yang tidak melihatnya dari sisi lain atau memang benar ini semua hal yang normal berjalan. "Pasti untuk sekolah dan liburan, ya?" Tiba-tiba saja saya teringat pertanyaan sang pemuda tadi.
Mana mungkin saya bisa berlibur kalau mereka masih bisa mengingat saya?
Mana boleh saya beristirahat dengan tenang setelah membuat orang lain mendapatkan hukuman dan label tak menyenangkan yang mungkin saja sampai saat ini masih berlaku bagi mereka?
Hei, pemuda, boleh lain kali kita berbincang lagi? Bisakah kita saling bertukar cerita kepadamu setelah bertukar nama? Sambil menikmati pemandangan Pantai Gwakjil Gwamul entah siang atau malam. Saya berhenti di depan sebuah apartemen setelah puas berkeliling, tempat ini mungkin lebih baik disebut sebagai tempat untuk menyembunyikan eksistensi saya, lebih senyap ketimbang dengan apartemen saya dulu tinggal. Mungkin faktor lingkungan juga, di sini bukan lokasi yang dipenuhi gedung mewah bertingkat dengan lampu terang, di sini tenang dan minimalis. Sambil melangkah ke kamar saya, saya merongoh saku celana demi mencari kunci kamar. Bunyi 'krek' terdengar setelah saya memutar kunci, pintu kamar itu terbuka lebih lebar saat saya mendorongnya lebih. Kamar itu tertata sama seperti sebelum saya meninggalkannya. Tidak ada apa-apa yang menyambut saya, atau sebenarnya angin yang masuk mendekap saya ini menyambut saya yang baru pulang? Langkah saya membawa saya masuk ke kamar, tangan saya bekerja mangunci pintu kamar sebelum menurunkan tas yang saya bawa sedari tadi.
Helaan napas lolos dari mulut saya secara otomatis. Kalau dibilang lelah tentu, saya menjalankan kelas pagi dan menyicil tugas di perpustakaan kemudian mengikuti kegiatan organisasi juga. Tapi saya juga merasa hanya dengan tidur, hari libur dan istirahat kelas tidak bisa menghapuskan rasa lelah ini. Apa ini dampak dari stress? Lim A-yeong, apa perasaan itu terus-terusan membuatmu berpikir keras sampai batinmu terkuras? Meski itu kejadian beberapa tahun yang lalu, tetap saja rasa itu tak akan diam di satu tahun, tapi terus mengikuti saya sampai ke tahun berikutnya. Di sini hampa sekali, saya mungkin bisa merasakan sepinya suasana kamar apartemen jika saya dan Ayah pergi untuk urusan masing-masing. Kadang-kadang Ibu menyambut saya yang baru kembali dari sekolah, saya jadi terpikir bagaimana Ibu biasa dengan kesepian di dalam ruangan-abaikan suara bising kendaraan dari luar.
"Hari ini Ibu membuat cokelat, hari ini sekolah berat, 'kan? Lebih baik makan yang manis-manis untuk menurunkan stress."
"Tadi ulangannya bagaimana, lancar?"
"Di kamar sepi karena Lim A-yeong sudah fokus bersekolah, Ibu jadi kesepian."
Ibu, sekarang saya yang kesepian. Sekarang saya bisa mengerti saat Ibu bilang "Di sini sepi, Ayah kerja dan Lim A-yeong sekolah sampai malam", di sini bahkan tak ada yang menyapa saya ketika kembali. Kalau Ibu dan Ayah di sini mungkin saya akan bicara kepada mereka, "Saya menemukan lelaki yang mirip dengan lelaki impian saya tadi." Lelaki dengan surai hitam panjang sebahu, mempunyai suara tenang bak angin di Pantai Gwakjil Gwamul-tempat kami bertemu, dan wajah yang samar-samar ditampilkan. Untuk sementara waktu saya menalihkan pikiran saya kepada pemuda yang bahkan saya tak kenal, sebelum akhirnya saya sadar bukan perasaan senang yang harusnya mendominasi hati saya. Setidaknya sebelum saya beristirahat dari kegiatan ini saya ingin mendengar, "Hari ini Lim A-yeong sudah bekerja keras, jadi istirahatlah setelah itu mari makan bersama."
Lagi-lagi saya terlalu berharap.
Saya terlalu sering berharap sampai saya sendiri jatuh terlalu keras karena harapan itu sendiri.
Bisakah kali ini saya berharap?
Gorden bergerak pelan karena hembusan dari angin, sebab saya membuka sedikit jendela. Pemandangan yang menyejukkan, berbeda dari Busan. Mungkin keinginan saya untuk keluar kota bisa terlaksana tapi tidak ada Yeon Buk di samping saya, kalau saja kejadian itu tidak terjadi mungkin kami menjadi roommate sekarang, kerja part-time di tempat yang sama dan mengoceh ini-itu saat tengah malam, saat-saat kami tidak bisa tidur cepat. Harusnya itu bisa terjadi, tapi saya juga mengerti kenapa Yeon Buk mengambil jarak dengan saya, akan sulit baginya juga ikut kena getah. Akan sulit baginya jika dia ikut kena cemooh orang-orang karena dia dekat dengan saya. Sekarang bagaimana kebarnya, ya? Bisakah saya menghubunginya kembali dengan diri saya yang seperti ini? Apa dia akan menerima saya karena itu semua sudah berlalu? Saya mengoperasikan ponsel saya, melihat nama-nama yang ada di kontak saya, Ayah, Ibu, dosen-dosen di kampus, rekan kerja part-time, pengelola minimarket tempat saya bekerja, lalu Yeon Buk.
Bolehkah saya menghubunginya?
Bolehkah saya memberi kabar kepadanya?
Bolehkah saya menyapanya lagi?
Boleh atau tidak? Bisa diterima atau tertolak?
Keraguan tumbuh merambat, saya dilema, banyak orang yang mengabaikan orang lain yang sekarang dan hanya fokus ke bagian belakang mereka kemudian membuat perbandingannya dengan cermat. Memberi label dan memanggilnya dengan label itu. Saya takut, saya khawatir, saya cemas kalau ia memalingkan wajahnya karena mengingat saya sebagai 'Perempuan yang Melaporkan Kejadian Lumrah, Pahlawan Kesiangan di Sekolah.' Apa mereka pantas mendapatkan label juga? Apa saya juga pantas mendapatkannya? Tubuh saya yang sedari tadi terbaring kini mengubah posisi, perlahan memejamkan mata, sementara ini saya ingin membuat semua kekawatiran yang menggumpal dalam hati menjadi sekedar mimpi yang akan saya lupakan ketika bangun.
Matahari perlahan turun, digantikan oleh cahaya oranye dan kuning yang indah, untuk menutup hari yang cerah ke waktu istirahat dengan perlahan. Saya membersihkan tubuh dan berendam setelah dua minggu lamanya tak berendam kemudian menyiapkan makanan untuk saya santap selagi mengerjakan tugas. Suara minyak yang panas di atas wajan, ditumpuk dengan tiga mandu, aroma yang keluar tak begitu pekat namun mampu membuat lambung saya meraung. Begitu matang saya mengangkatnya dan meletakannya di piring yang sama dengan nasi goreng kimchi. Makanan yang begitu sederhana, minumnya pun hanya segelas air mineral. Ketenangan-atau mungkin harusnya disebut dengan keheningan-sore tanpa kendaraan bermotor yang berisik menyapu lembut, di kamar apartemen yang dapat memuat dua orang ini diliputi suara keyboard yang saya tekan sambil mengunyah makan sore.
"Nanti Lim A-yeong ingin makan kudapan?"
"Makan yang banyak, kalau masih lapar nambah aja."
"Hari ini masakan Ibu enak gak?"
"Makanlah perlahan-lahan, tidak akan ada yang mencuri lauk milikimu, Lim A-yeong."
Saya teringat percakapan di meja makan ketika saya masih di apartemen kedua orang tua saya. Saya merindukan suasana itu, kehangatan dan percakapan monoton yang kita lakukan. Detik itu juga saya sadar, di ruangan kecil ini saya hanya sendiri—mungkin bersama kenangan yang melekat dalam benak. Bagaimana kabar mereka sekarang, saya berinisiatif memberi kabar mereka atau juga mendengar suara mereka dari telepon. Keadaan Busan yang sekarang bagaimana? Apa masih sama dengan dulu? Saya menyendokkan suapan terakhir makan sore kemudian mematikan laptop, sebenarnya belum sepenuhnya selesai tapi saya memutuskan untuk melanjutkannya nanti dan mengambil waktu untuk istirahat sejenak sebelum berangkat part-time.
Dulu, saya akan memutar kaset film lama dan menontonnya kalau sempat, film seperti ‘Sayat Nova: The Color of Pomegranate’, serial Harry Potter, film animasi ‘Up’ dan ‘Finding Dory’ jadi kesukaan saya, saya tahu semua film itu terlihat seperti selera anak kecil yang baru masuk Tanam Kanak-kanak. Sayat Nova yang syahdu dan dalam, Harry Potter yang menegangkan dan memompa adrenalin, Up yang menyentuh tapi sederhana dan Finding Dory yang menguras air mata dan penuh kehangatan sebuah keluarga kecil. Terkadang Ayah saya mengatakan, "Padahal cuman film ya, tapi kenapa orang-orang bisa menangis karena menontonnya?" ketika saya menangis menyaksikan Up dan Finding Dory.
Karena kami membayangkan, bagaimana jadinya kalau kami kehilangan?
Apa rasanya jika kami harus berjuang demi mereka yang bahkan tak pernah sadar kami berjuang untuk mereka?
Saya menangis karena sang Kakek yang ternyata hatinya itu hangat, meluangkan waktu yang panjang untuk keinginan mendiang istrinya bersama seorang bocah pramuka yang memintanya bantuan untuk mendapat lencana atau semacamnya. Saya menangis karena Dory yang pelupa itu berjuang untuk kembali ke dekapan orang tuanya. Tapi begitu saya bersemangat dan antusias menyaksikan Harry Potter Ayah saya menyeletuk, "Semangat yang dibatasi layar kaca itu ternyata terlalu kuat sampai penontonnya ikut bersemangat, ya." Karena hati kami tergerak oleh hati kami, keinginan kuat yang terpendam. Saya juga kagum dengan alurnya, rasanya semua mantar yang mereka ucapkan itu ikut menyihir hati saya supaya tak melepaskan pendangan dari layar kaca.
Ayah juga menimpali begitu saya dengan tenang menikmati alur abstrak Sayat Nova, kadang juga saya takjub dengan kecantikan puisi yang tersaji. Tentang kematian, tentang cinta, dan tentang kehidupan. Sarat akan makna, dibagian pendeta lama mengembuskan napas terakhirnya begitu indah, terlalu indah. Ketika Sayat Nova berdoa, terlalu khidmat. Saya seperti mampir ke sebuah gereja tua yang berkesan klasik di Armenia. Orang akan merasakan emosi ketika mereka bisa mengerti apa yang membuat sesuatu itu mengeluarkan emosi. Saat mereka paham sepenuhnya, mereka akan memberi reaksi tertentu atau mungkin menutupi reaksi itu.
Waktu itu tak terpikir jika saya harusnya membawa satu atau dua kaset film untuk hiburan setelah mengerjakan tugas. Tapi jika dipikir-pikir tak ada waktu untuk itu, jadwal part-time sebentar lagi tiba, saya pun harus berbenah dari sekarang. Dengan sedikit terburu-buru, saya mengenakan seragam, membawa beberapa barang yang saya perlukan, dan mengikat rambut saya. Kali ini saya tidak bisa bertemu Kakek Nenek Yoona karena saya sedikit terlambat hari ini, jadi saya hanya bisa bertemu dengan pria kantoran itu, setelah itu menunggu pelanggan lain. Saya juga akan pulang lebih lama dari biasanya, karena sekarang pukul 5.50 saya akan pulang sekitar 8.55 malam. Uang yang diperoleh juga cukup untuk saya sendiri sebagai uang tambahan jika ada keperluan mendadak. Saya bergegas menuju parkiran dan mengambil sepeda yang saya parkiran dengan mengunci bannya. Setelah membuka kuncinya, saya bergegas menaikinya dan mengayuh secepat mungkin menuju minimarket.
Selama perjalanan, terdengar suara kerikil bertubrukan dengan ban sepeda, lampu yang dinyalakan perlahan dan keramaian Pantai Gwakjil Gwamul yang sayup-sayup.
Langit pun juga berubah warna dengan indahnya. Begitu saya hendak turun dari sepeda dan membawanya ke belakang minimarket, suara Yoona yang cempreng itu menyapa pendengaran saya. "Kakak baru datang!" Pekiknya sambil menunjuk saya, saya menolehkan kepala ke arah suaranya kemudian menundukkan kepala, mengulas senyum dan membalas, "Selamat sore, Yoona, Kek, Nek." Sepasang lansia itu mengulas senyum, membuat wajah mereka semakin berkerut di bagian pipi. Lantas ketiga anggota keluarga itu membalikkan tubuhnya, berjalan kembali menuju rumah. Saya pun membawa sepeda ke belakang minimarket dan berjalan cepat menuju ruangan staff. "Hari ini kau terlambat, ya? Tumben," ucap rekan kerja saya, karena tidak enak telah membuatnya bekerja lebih lama dari biasanya saya membungkuk dan mengucapkan maaf. Perempuan yang lebih tua lima tahun dari saya itu mengibaskan tangannya, seolah berkata, "Orang pasti pernah terlambat, jangan dipikirin banget." Ia menggulurkan kunci minimarket kepada saya, tubuhnya berjalan menjauhi saya yang melangkah ke arah kasir, menunggu pria kantoran itu datang jam delapan nanti.
Display makanan, minuman dan kebutuhan lainnya sudah diatur kembali oleh rekan saya yang tadi. Saya mengecek kembali persediaan disetiap rak, begitu menemukan celah kosong saya berjalan ke gudang penyimpanan dan mengisi kembali. Kegiatan menunggu saya isi dengan bolak-balik dari gudang ke rak setidaknya ini lebih baik ketimbang berdiam diri di kasir sambil menoleh ke pintu setiap tiga menit sekali. Saya ingat tadi saya berdoa bertemu lagi dengan pemuda yang saya temui siang hari di Pantai Gwakjil Gwamul, bagaimana kalau kami benar-benar bertemu disini seperti pada cerita-cerita romansa bertema gadis minimarket? Bisa saja pikiran ini berakhir sama seperti pikiran saya ketika beranggapan saya bisa memiliki kehidupan selayaknya Elizabeth. Meski ini pertemuan yang tak begitu romantis saya akan merasa senang jika kita bertukar kata sesekali.
Tepat jam tujuh, pria kantoran itu membuka pintu minimarket. Dia menghadapkan wajahnya ke saya, kemudian menunduk sedikit, saya membalasnya sama seperti yang ia lakukan. Meski gajinya sudah lebih baik dari sebelumnya kebiasaannya masih melekat. Dari kasir saya bisa melihatnya ke arah rak yang menjual nasi kotak dan ramyun. Begitu ia membawa belanjaannya, ia bekata, "Ramyunnya akan saya makan di sini." Saya memisahkan ramyun itu ketika selesai mengecek barcode dan memasukkan belanjaan lainnya ke kantung plastik. "Lapar sehabis bekerja?" Saya iseng bertanya. "Begitulah, saya tadi hanya makan siang dengan nasi kotak juga, jadi tak begitu kenyang." Kantung plastik itu saya serahkan kepadanya, mendengar hal itu saya berpikir kenapa ia tidak makan nasi kotak lagi? Tapi ia sepertinya bisa membaca pikiran saya lantas ia berkata, "Nasi kotaknya untuk adik saya." Kepala saya mengangguk mendengarnya. Sosoknya berjalan ke arah tempat untuk memasak ramyun dan memanaskan samgak kimbap.
"Anda banyak mengalah, ya."
"Ini cuman tanggung jawab sebagai seorang kakak, tidak perlu membesarkannya." Pria itu memasang senyum canggung.
Sudah lama tak melihat ada pelanggan yang makan langsung di sini membuat saya ingin mengisi perut lagi. Harum dari kuah ramyun menguar sampai ke kasir, saya melihatnya meniup ramyun yang hendak ia suapkan ke dalam mulutnya lalu melahapnya. Tidak etis jika saya menatapnya karena tergoda dengan aroma kuah yang munggugah selera, lantas saya menyusun dan memeriksa kembali uang yang ada di mesin kasir kemudian membaca buku saku yang saya bawa-meski sudah saya baca berkali-kali. Malam ini saya dan pria kantoran yang sedang makan malam lebih banyak berdiam diri. Tak butuh waktu lama ia menghabiskan ramyun kemasan, ia membuang bungkusnya dan menenteng kantung belanjaan. Pria itu berjalan keluar, semakin jauh punggungnya semakin tak terlihat sampai saya kira-atau memang benar-dia ditelan gelap malam.
Begitu pria kantoran itu benar-benar pergi dari minimarket, saya hanya bisa menunggu adanya pelanggan lain yang sekiranya tertarik. Menggantikan heningnya malam di sini saya menyetel musik dengan volume rendah supaya tak begitu menganggu, saya juga kehilangan minat membaca buku saku saat ini. Saya hanya berdiam diri atau sesekali mengecek lagi persediaan yang tersedia di rak, tidak begitu banyak yang berkurang karena sudah diisi ulang atau membuang produk yang sudah kadaluarsa dan membuangnya ke belakang. Kurang lebih lima belas menit saya habiskan hanya dengan kegiatan seperti itu sambil menunggu pelanggan masuk. Karena tidak ada lagi yang sepertinya bisa saya lakukan saya kembali ke kasir, bertepatan dengan itu pintu di dorong dari luar oleh pelanggan.
Awalnya saya tak percaya, tapi doa saya ternyata didengar oleh Tuhan dan dikabulkan!
Pemuda yang saya temui siang hari, surai hitam itu diikat, pakaiannya pun juga lebih kasual dari pertemuan sebelumnya di depan vending machine. Tampaknya ia juga masih mengingat wajah saya, kami sempat bertatapan sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya. "Kau yang tadi di vending machine, ya?" Sambil menunjuk saya yang sedikit memasang wajah mengidentifikasi, kemudian baru mengangguk. "Mencari uang tambahan rupanya," ucapnya lalu melangkah ke arah kulkas minuman energi. "Begitulah," balas saya sambil tersenyum getir. Pemuda itu berpikir lama di depan kulkas yang terbuka, memang tempat itu berhasil membuat banyak pelanggan dilema berat untuk mengambil minuman. Dari kasir terlihat ia sudah mengambil minumannya dan hendak membayarnya ke kasir. Posturnya tegap, menunjukkan kepercayaan dirinya, matanya seperti orang Korea pada umumnya tapi sedikit lebih mirip almond, alis yang tegas dan hidung yang pas dengan proporsi wajahnya. Saya tak mengira wajahnya punya pahatan yang rapi. Tidak ada gaya sok-sokan begitu ia meletakan minuman berenergi di meja kasir.
"Minimarket di sini-Jeju-jarang-jarang ada, ya."
Dia mengeluh, minimarket tempat saya bekerja memang agak jauh dari Pantai Gwakji Gwamul, tapi masih bisa melihat indahnya pantai tersebut. Eksistensinya pun terlihat tertimpa cafe dan sekolah dasar yang berdekatan. Apartemen tempat saya tinggal berdekatan supaya memudahkan saya ketika bekerja, tapi ternyata jaraknya cukup jauh-atau malah sangat jauh?-dari kampus. Pulau yang dikelilingi lautan luas, pemandangan yang nyaman dan udara sejuk untuk meredakan stress beraktivitas.
"Tapi bener-bener gak kepikiran kalau ternyata kau part-time jadi kasir di sebuah minimarket."
"Supaya saya bisa mengulurkan tangan ke orang lain."
Saya sudah menduga dia akan sedikit bingung, tapi ia berdehem baru membuka percakapan lagi. Mungkin ia baru ingat kami belum saling berbagi nama.
"Bagaimana dengan berkenalan dahulu, supaya aku bisa ingat namamu itu. Kalau begitu, siapa namamu?" Pemuda itu mengulurkan tangannya, hendak mengajak saya berjabat tangan.
"Lim A-yeong. Anda sendiri?" Saya meletakkan kaleng minuman berenergi di tengah-tengah kami lalu menjabat tangannya yang terasa kasar.
"Il Yeong. Senang bertemu denganmu." Matanya ikut tersenyum saat bibirnya membentuk senyuman.
Tiga hari sebelum kita [bagian hilang].
Kemarin malam saya baru kembali saat jam menunjukkan 9.10 karena perjalanan ke apartemen, lebih sepuluh menit dari waktu yang seharusnya. Saya juga bertukar beberapa kata pada Il Yeong sebelum ia keluar dari minimarket. Malam itu kami bicara seputar hal umum, 'berapa umurmu?', 'darimana asalmu?' dan lainnya. Namanya Il Yeong, umur 26 tahun (dia lebih tua 2 tahun dari saya), asal Busan (sama seperti saya), punya satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki, sedang melanjutkan studinya di sebuah universitas di Busan (S2) dan ke Pulau Jeju untuk menjenguk kerabat yang sedang sakit, mewakili keluarganya. Orang yang cukup ramah untuk pertama kali bercakap-cakap, di pertemuan pertama ia tak begitu menampakkan wajahnya-mungkin karena rambutnya digerai dan angin sedikit berhembus-kali ini saya bisa menatap wajahnya secara keseluruhan. Saat masih di Busan saya jarang menemui lelaki dengan helai yang sengaja dipanjangkan sebahu, jadi begitu melihatnya terasa tak familiar.
"Kenapa kau menatap rambutku segitu penasarannya."
"Tak begitu banyak laki-laki yang memanjangkan rambutnya, baru pertama kali saya melihatnya sedekat ini."
"Banyak orang yang berkomentar begitu. Aku sengaja memanjangkannya karena malas memotongnya, tapi ternyata cocok juga. Bagaimana menurutmu?"
"Tak buruk, tapi lebih indah jika digerai, itu bisa jadi poin Anda."
"Begitu, ya? Kalau begitu akan ku coba gerai dan rapikan. Karena tak bisa lama-lama di sini aku akan pulang, sampai jumpa."
Begitulah percakapan kami, sebenarnya saya sendiri tak tahu harus membahas apa jika saya tak keheranan dengan gaya rambutnya. Mungkin saya berharap jika saya bisa lebih dekat dengannya nanti, sama seperti Kakek Nenek Yoona dan pria kantoran yang jadi pelanggan setia minimarket ini, saya berharap bisa menjadi teman biacaranya. Pagi butanya saya bangun, melakukan rutinitas sebelum berangkat menuju universitas tempat saya belajar jaraknya dengan Pantai Gwakji Gwamul cukup jauh dan tak begitu banyak jumlahnya maka dari itu saya bangun pagi buta. Universitas di Jeju terbilang cukup sedikit karena luas dan penduduknya juga tak begitu banyak dibanding kota lain. Boleh saya akui kuliah di sini juga cukup menyenangkan karena alamnya menyejukkan pikiran, terlebih selesai ujian kami bisa menghirup udara alami dan menyambut asrinya pemandangan. Kadang ada beberapa mahasiswa yang mengajak makan-makan di halaman rumahnya (halamannya cukup luas dan punya keteraturan menenangkan) untuk merayakan ujian yang berakhir, biasanya mereka memanggang barbeque di malam hari sambil bercakap riang. Saya hanya pernah satu kali mengikuti acara itu di semester ke empat, malamnya pun saya pulang sangat larut (saya mulai part-time di semester lima, jadi tidak perlu ke minimarket saat itu).
Dengan mata yang masih ingin tertutup saya berjalan menuju wastafel dan menyikat gigi, sesekali menguap. Rutinitas yang sama seperti sebelumnya, sikat gigi, bersihkan kasur dan kamar, membersihkan tubuh dan masak sarapan. Masih ada banyak waktu sebelum saya berangkat, sambil sarapan saya mengerjakan tugas yang belum sepenuhnya terselesaikan, sebenarnya masih terlalu pagi untuk saya menatap layar laptop. Hari ini kegiatannya tak jauh berbeda dengan kemarin, hanya saja siang ini saya menemani teman saya pergi ke toko dan makan siang bersamanya.
Satu suapan. Dua suapan.
Sampai saya tak sadar piring sudah tak menyisakan apa-apa. Tugas yang saya kerjakan juga tak terasa sudah selesai, yang saya harus lakukan sekarang berganti pakaian dan cepat-cepat pergi ke kampus. Jaraknya jauh dan tak mungkin saya tempuh dengan sepeda, biasanya saya akan naik transportasi umum sebanyak dua kali untuk menghemat waktu di pagi buta. Mungkin perjalanannya akan memakan waktu satu jam lebih mengingat jaraknya. Begitu selesai menggenakan sepatu saya langsung bergegas keluar dan pergi menggunakan kereta pagi. Begitu tiba di stasiun terakhir saya akan berjalan sekitar tujuh menit sebelum sampai di kampus. Melewati 39 peberhentian begitu melelahkan, ditambah perjalanan tanpa kendaraan, tapi saya bersyukur masih bisa masuk kampus tanpa terlambat. Saya menginjakkan kaki saya masuk, melihat pemandangan yang sama seperti tahun pertama. Sedikit lagi saya akan kembali ke Busan setelah menyelesaikan studi saya di sini, sebentar lagi saya akan merindukan pemandangan ini, Pantai Gwakji Gwamul dan bangunan minimarket yang kerap saya kunjungi. Tak akan saya cium lagi udara khas lautan, merasakan butiran pasir yang menggelitik, tidak lagi saya mendengar deburan ombak.
Kenyamanan khas Pulau Jeju akan saya tinggalkan dan kembali ke tempat semula saya berada.
Kembali ke kota dengan kenangan yang campur aduk.
Mungkin memang tempat saya kembali hanyalah itu, sebuah kamar apartemen yang begitu familiar dengan saya. Gedung bercat putih, mobil terparkir sejajar dan hijaunya rumput di lapangan menjadi pemandangan yang menenangkan. Sejumlah kelompok mahasiswa berlalu-lalang sambil membahas sesuatu misalnya, tugas atau rencana personal mereka. Mahasiswa lokal dan internasional dicampur adukkan di sini, kami menjalin percakapan dan interaksi lainnya. Seperti dulu, ketika di Busan, semuanya mengalir tanpa hambatan-sebuah keteraturan yang saya kagumi. Tapi saya berpikir kembali saat menatap mereka yang berlalu-lalang melewati saya yang menaiki tangga menuju kelas, apa setelah ini mereka akan melakukan kegiatan yang mahasiswa pada umumnya lakukan? Apa mereka semua memiliki niat teguh untuk mengejar pendidikan di sini? Saya sendiri tidak bisa menyebut perasaan ini sebagai kekhawatiran atau penasaran. Rasanya memang kurang etis memikirkan hal demikian. Namun, saya tak ingin melihat salah satu dari mereka melenceng seperti Hwa-Young, saya mengerti kami semua sudah legal secara nasional, tapi kemungkinan manusia terseret ke dalam lubang penghisap kesalahan itu tetap ada.
"Bagaimana perjalanan kali ini?" Teman saya melempar pertanyaan berisi candaan, tentu saja perjalanan kali ini sama seperti sebelumnya: panjang dan melelahkan. Saya memasang senyum getir, barulah menjawab, "Seperti biasa, tapi melegakan karena ini Jeju yang eksotis." Dia sama-sama mahasiswa yang datang dari luar Jeju, Ansan. Pertama kali berbincang dengannya saya bertanya mengapa ia melanjutkan studi di Jeju lantas ia menjawabnya dengan santai, "Cuman mau lihat pemandangan Jeju, pantainya cantik terus kotanya juga lebih segar-mungkin?" Seolah dia sedang merencanakan liburan akhir pekan, bukan menentukan studinya. Entah dirundung rasa rindu atau hanya perasaan saya saja, ketika dia menjawabnya demikian saya terbayang Yeon Buk saat tiba-tiba ia mengatakan ingin keluar Busan setelah lulus. Yeon Buk, sekarang kau benar-benar pergi keluar kota atau masih berada di lingkup Busan? Dalam hati saya bertanya selagi menanggapi teman sekelas saya ini.
Setelah mendapat gelar sarjana di sini, saya akan kembali, mungkin itu pilihan yang tepat. Sudah waktunya saya berdamai dan melupakan situasi itu.
Sudah momennya saya menjadi lebih dewasa. Teguh dengan romantisme yang saya inginkan.
"Hari ini, setelah kelas mari rayakan dengan pergi ke toko dekat Pantai Gwakji!" Seperti mengungkapkan petisi, ia mengatakan rencana kami sebelum kelas dimulai.
Kelas ini diisi beberapa orang dengan setiap tempat duduk memuat empat orang. Jam pertama di kelas pagi berakhir sesuai jadwal, kami disibukkan dengan SKS yang harus dipenuhi supaya bisa lulus. Sistem kuliah di Korea tidak mengadakan skirpsi sebagai tugas akhirnya, kami hanya perlu memenuhi SKS yang ada untuk lulus. Teman saya ini, Minjee, tiba-tiba bertanya, "Setelah lulus kau akan kembali ke Busan?" Saya memikirkannya kembali, kalau pun saya kembali batin saya sudah harus berdamai dengan kejadian lalu. Kepala saya anggukkan sebagai jawaban dan berkata, "Saya akan kembali ke Busan jika sudah lulus, sudah lama tidak pulang kampung." Masih ada orang yang menunggu saya kembali; orang tua saya. Apa mereka masih sehat seperti dulu? Pikiran saya bertanya-tanya, saat ini waktu untuk menghubungi mereka hampir tidak ada meski saya ingin memberi mereka kabar walau itu hanya 'Aku baik-baik saja di sini, studinya juga baik-baik saja.' Saya juga ingin bercengkerama dengan Ayah dan Ibu sembari membicarakan masa-masa yang telah lalu, bernostalgia. "Terus kau kuliah di sini kenapa? Padahal di Busan banyak universitas yang bagus dan ternama, lho," kata Minjee mengadapkan wajahnya ke saya yang membuka buku catatan, buku yang sama seperti yang saya bawa sewaktu SMA.
Untuk kabur dan menenangan diri, saya berpikiran dangkal dulu.
"Ingin kuliah sambil lihat pemandangan Jeju juga."
"Tapi lebih terasa kabur untuk mencari udara segar ketimbang fokus belajar, mungkin karena atmosfernya lebih bebas?"
Mungkin ada benarnya, mungkin karena waktu itu saya berpikir menghilang dari lingkungan itu beberapa waktu.
Minjee terus berusaha membuat saya tetap bercakap-cakap selagi menunggu jam berikutnya tiba, tapi tak bisa dipungkiri saya tenggelam dalam nostalgia abstrak ketika ia membicarakan masa lalunya. Apa mereka yang pernah satu lingkungan dengan saya masih mengingat saya bahkan jika itu hanyalah marga saya? Apa saya benar-benar sudah dilupakan atau mereka sudah bisa berdamai dengan kejadiannya? Sekarang mereka bagaimana, apa sudah menjadi lebih baik atau mungkin sebaliknya? Pintu terbuka, dosen jam kedua memasuki ruang kelas. Saya ingat dan akan melupakan semua ini di usia senja saya nanti.
Sudah saatnya rasa bersalah yang tak seharusnya saya tanggung ini lepas dari pundak.
Menit berlalu menyusun satuan jam, satu jam yang tersusun menimbun menit sampai durasinya cukup menghentikan keseluruhan kelas pagi. Minjee yang sudah tak sabar dengan kegiatan kami-pergi bersama ke sebuah toko dan makan siang bersama di dekat pantai Gwakji. Kami menggunakan kereta, perjalanannya akan memakan waktu banyak, sekitar 2 jam 16 menit. Jadi kami akan sampai di sana sekitar jam satu siang. "Tak mengapa kalau memakan waktu?" Saya bertanya, takut jika Minjee ternyata keberatan dengan perjalanan itu, tapi syukurlah dia tak keberatan dengan hal tersebut. Kami menyamakan langkah dan menuruni tangga bersama, perempuan yang ada di sebelah saya ini menyeletuk demi membuat suasanannya tidak canggung. "Sebelumnya kau pernah pergi berdua dengan teman seperti ini?" tanya Minjee, lalu kami saling mengaitkan lengan, mungkin memang terlihat kekanak-kanakan namun saya menyukainya. Dulu, waktu saya dekat dengan Yeon Buk, saya tidak pernah berjalan beriringan dengan tangan saling mengait dan banyak berbicara. Kepala saya gelengkan sebagai jawaban 'tidak', tidak banyak teman dekat yang bisa saya ajak.
"Eeh.. Ku pikir kau anak yang sering jalan bersama teman."
Sebenarnya definisi teman itu apa?
Yang benar-benar bisa kau katakan dengan penuh kebanggan itu rupa dan jiwanya seperti apa? Apa yang saya lakukan dengan Yeon Buk bisa dikatakan kami adalah teman? Saya kehilangan arti dari teman yang masuk dalam kamus. "Dulu saya terlalu sibuk, mungin juga tidak kepikiran untuk melakukan hal demikian," jawab saya. Orang-orang yang saling membantu dalam kebaikan bisa disebut dengan teman, bukan? Kalau begitu, orang-orang yang saling membantu dalam kesalahan juga disebut sebagai teman-seperti partner in crime? "Kalau ke karaoke poin atau sekedar ke taman hiburan?" Banyak siswa yang mengambil pilihan itu jika mereka ingin merayakan selesainya ujian atau berakhirnya semester. Menghabiskan waktu dengan teman, hal yang pada dasarnya menyenangkan dan penuh kenangan. Untuk kedua kalinya saya menggeleng, saya hanya pernah mendengarnya belum pernah merasakannya. "Tidak juga, tapi saya pernah mendengarnya." Tampaknya ia sedikit heran, raut wajahnya bertanya 'Lalu masa di SMA itu kau habiskan dengan apa?', dengan perasaan tak tenang dan ragu.
"Kalau begitu, serahkan kepadaku untuk membuat beberapa minggu terakhir kuliahmu di sini sedikit berwarna!" Dia membusungkan dadanya, berlaga seperti kapten yang berdiri di depan kendali perahu. Saya hanya terkekeh, kami melanjutkan langkah kami sampai berhenti di stasiun, sebelum kami benar-benar tiba di tujuan.
Bejalan sekitar lima menit, menaiki kereta dengan banyak (lebih banyak dari waktu berangkat) titik peberhentian, lalu berjalan kembali beberapa menit sampai akhirnya kami bisa sampai di tempat tujuan. Sebuah cafe yang berdiri menghadap Pantai Gwakji Gwamul, cahaya Matahari menyorot dengan pas, pengunjungnya pun tidak membeludak. Pemandangan menenangkan ini memang cocok untuk menyegarkan pikiran, hamparan laut yang jernih, beberapa titik dipenuhi pengunjung. Cafe itu dikunjungi sejumlah pelanggan tapi tidak berlebihan sampai membuat kami kesulitan memasuki tempat itu. Minimalis, cahaya lampu tidak membuat retina saya perih sehabis dari luar, nyaman meski untuk bersantai beberapa menit. Setelah perjalanan panjang akhirnya saya bisa beristirahat, pendingin ruangan untungnya bekerja dengan baik, suhu tubuh saya meningkat karena beberapa jam di ruangan tertutup dan terpapar cahaya matahari. Mungkin juga karena sudah ingin memasuki bulan Juni. "Sudah mau bulan Juni, ya? Hawa panasnya kerasa banget," keluh Minjee, tangannya mengipasi ceruk leher dan keningnya, rambutnya pun dikuncir karena tidak nyaman.
"Sedikit lagi sudah mau bulan Juni, jadi musim panas akan datang sebentar lagi," timpal saya.
"Acara kelulusan juga sudah dekat, ya. Gak kerasa udah empat tahun, ya," ujarnya.
Ah, benar, sudah empat tahun saya pergi dari Busan. Tak terasa, waktu cepat berlalu ternyata. Sambil melihat-lihat menu dan mempertimbangkan apa yang akan kami pesan, Minjee terus berceloteh, menceritakan apa saja yang pernah ia alami dulu. "Di Busan yang penuh gedung pencakar langit itu, kau tinggal dimana?" tanyanya, saya agak ragu menjawabnya. "Di sebuah apartemen." Hidup di apartemen rasanya cocok dengan perumpamaan 'Dunia yang sempit', kalau kami keluar kamar, langsung berada di ruang tengah yang diberdekatan dapur, hanya dengan beberapa langkah pun kami bisa sampai di kamar mandi yang agak sempit. Layaknya akuarium dengan lautan (mengingatkan saya pada film Finding Nemo, tapi kenyataannya saya mengambil perumpamaan tadi karena teringat film ini), perbandingannya terlalu jauh tapi bagaimana pun juga rumah; tempat ternyaman setiap orang berbeda. "Ah, tapi apartemen di sana tak buruk juga, bagaimana rasanya bisa tumbuh ditempat seperti itu?" Sebenarnya saya heran dan bersyukur bukan tanggapan seperti, 'Eh, di apartemen toh.'
"Menyenangkan." Karena saya bisa tumbuh dengan kehangatan yang ada. Saya bisa merasakan kehangatan dari keluarga kecil, yang dibentuk di lingkungan yang sempit.
Percakapan yang sedikit menguras waktu itu terpotong saat kami memutuskan memesan naengmyeon-mie dingin-dan lemonade, sekedar menyegarkan kerongkongan yang kering. Makan siang kami habiskan sembari bertukar kata, kalau kami kelelahan berbicara kami meneguk lomenade yang segar atau menyeruput kuah naengyeom. Saya ingin terus menghabiskan waktu bersama Minjee demikian, rasanya familiar dengan makan siang di kantin bersama Yeon Buk. Kami-saya dan Minjee-yang sekarang mengilas kenangan yang kami bisa ceritakan, dan kami-saya dan Yeon Buk-yang dulu merencanakan apa yang akan kami lakukan nantinya. Mangkuk berisi naengmyeon dan segelas lemonade habis kami santap, Minjee menghela napas lega setelahnya, menyandarkan punggungnya di punggung kursi. "Ku rasa, pergi ke toko yang ku beri tahu itu dibatalkan dulu saja, ya? Kau tak keberatan?" Saya mengangguk, jika itu keputusannya saya tak mengapa. Kami beristirahat sejenak setelah makan, saya mengalihkan pandangan keluar cafe. Sosok Il Yeong yang berjalan sendirian bisa terlihat dari tempat saya duduk, tampaknya ia menikmati Pantai Gwakji Gwamul dan mengabadikannya ke lensa kamera.
Ia memotret pemandangan beberapa kali sampai ia melepas kamera itu dan mengalungkannya di leher, pandangannya beralih ke arah cafe ini berada. Mata kami bertatapan, saling menyapa lewat kontak mata.
'Kita bertemu lagi di sini, ya. Kalau begitu selamat siang.'
'Selamat siang, Il Yeong. Menikmati pemandangannya?'
'Lain kali coba kita lihat pemandangan ini bersama.'
'Akan saya tunggu kapan pun itu.'
"Ada orang yang kau kenal?" tanya Minjee begitu saya memutuskan kontak mata dengan Il Yeong. Mungkin kontak mata itu tak begitu lama, tapi itu sudah cukup membuat Minjee heran, dengan siapa Lim A-yeong bertatapan? "Mungkin. Mungkin iya atau saya yang salah kira," dusta saya, saya masih belum nyaman jika membicarakan Il Yeong kepada Minjee, yang notabenenya adalah orang asing yang saya temui sehari lalu. Masih sangat asing. Saya mengalihkan pandangan saya dari luar cafe, "Ayo, kita pulang," ucap Minjee. Acara makan siang sederhana kami selesai kemudian kami membayarnya (sistem patungan) dan keluar dari tempat itu, Matahari masih memegang takhtanya sembari membuat kami kepanasan di bawahnya. Angin laut berhembus, deburan ombak menyambut, pasir yang bersih berkilau memantulkan cahaya Matahari. "Sampai bertemu besok di kelas!" Minjee berseru, langkah kami bertolak belakang, saya ke arah kiri sedangkan dia ke arah kanan. Keramaian yang sayup-sayup itu saya dekati, semakin marak suaranya, suara penuh kegembiraan dan kesenangan. Kadang jika saya pergi ke cafe tadi saya akan kembali dengan berjalan kaki untuk menghemat ongkos.
Ada baiknya jika saya membawa Ayah dan Ibu berlibur di sini, adan baiknya juga saya menceritakannya kepada mereka.
Yeon Buk, beginilah pemandangan salah satu sudut di Pulau Jeju yang indah nan eksotis.
Saya menghentikan langkah saya begitu Il Yeong melambaikan tangannya kepada saya, meminta saya mendekati figurnya. "Kita bertemu lagi di sini, Pantai Gwakji. Apa sudah ditakdirkan begitu?" sapanya, tangannya terulur memberi isyarat supaya kami bersalaman. "Entahlah, Tuhan tentunya punya susatu yang Dia rencanakan," balas saya. Padahal malam itu saya memberi saran yang terkesan terlalu mendadak dan sok tahu, seolah saya mempelajari tatanan rambut yang baik dan cocok, tapi dia benar-benar menggerainya dan merapikannya-seperti yang saya katakan padanya. "Ternyata cocok juga kalau dilihat-lihat," ungkapnya, jarinya menari di sela-sela rambut hitamnya. Persona ini terlihat begitu murni disiram cahaya Matahari yang lembut menerpa, angin yang berhembus membawa serpihan kecantikan. Saya iri sekaligus takjub, dia persona yang akan terus menampilkan wajahnya dengan bangga.
Seketika saya malu, diri yang seperti ini berhadapan dengannya. Pantaskah? Bolehkah? Dia seperti Gabriel, rasanya saya seperti disiram air suci. Tapi saya berpikir saya adalah orang yang kerjanya memuji Gabriel atau bernyanyi untuknya, tapi eksistensi itu dipendam pamor Aphrodite.
"Malam ini kau ada di minimarket?" Dia bertanya sambil membenarkan kameranya.
"Tentu, saya ada di sana seperti kemarin." Ketika itu, saya hanya bisa memeluk diri saya sendiri.
"Kalau begitu mari bertemu di sana lagi setelah ini," ajaknya.
Alangkah baiknya jika kami bisa terus bertukar kata di bawah lindungan atap minimarket yang kokoh. Di saat malam menyapa dan sang jangkrik ikut berbicara. Bagaimana pendapatmu, Il Yeong? Bukankah ide yang bagus jika kita bisa terus bercengkerama selayaknya teman yang bernostalgia akan masa lalu? Saya mengangguk dan berpamitan dengannya yang masih ingin di sana, tangan kanannya melambai kecil sedangkan tangan kirinya memegang kamera. Yang saya senangi dari wajahnya itu ketika bibirnya tersenyum, matanya ikut tersenyum. Ekspresi yang kaya dan memesona, cerah.
Di Pantai Gwakji Gwamul saya berharap dan melangkah menuju apartemen.
Dua hari sebelum kita [bagian hilang].
Deburan biru laut dipadu buih putih samar-samar begitu cantik. Saya sesekali memandangnya sambil mengayuh sepeda.
Jika di bawah ada pemandangan maritim, di atas ada keindahan yang sulit di sentuh. Langitnya menghasilkan warna tenang yang memesona, kadang ada burung laut yang terbang melintas. Seekor, kemudian seekornya lagi menyusul. Saya pribadi suka pada ketentraman seperti ini.
Seperti biasa saya memarkirkan sepeda terlebih dahulu sebelum masuk lewat pintu belakang.
Kali ini saya datang tiga menit lebih awal dari shift, meski begitu saya menunggu di ruang staff sampai waktu berganti shift tiba. "Hei, giliranmu sudah tiba," ucap partner saya seraya membuka pintu ruang staff. Figur saya langsung menggantikan figurnya untuk menyambut pelanggan, kali ini saya berkesempatan menyambut Kakek dan Nenek Yoona (mungkin Yoona akan menghampiri mereka nanti) dan pekerja kantoran yang datang jam tujuh. Mungkin juga saya bisa kembali bertemu dengan Il Yeong kalau dia ingin kemari karena punya kebutuhan. Dari kaca pembatas bisa saya lihat pemandangan sore hari menjelang musim panas, sepasang lansia-Kakek dan Nenek Yoona-berjalan lambat ke arah pintu minimarket. Saya tetap berdiri di tempat kemudian menyambutkan ketika sang Kakek membuka pintu (meski hanya dengan senyum tipis). Seperti biasa mereka pergi ke tempat bumbu dapur dan makanan ringan, tapi saya berpikir apa mereka selalu menghabiskan persediaan makanan secepat itu? Sebuah keluarga yang tinggal bersama dalam satu atap, tampak seperti keluarga bahagia.
Suatu saat nanti, jika saya sudah membentuk keluarga, saya ingin keluarga itu sederhana dan penuh kehangatan. Keluarga yang dekat satu sama lain, saya ingin meniru kedekatan pasangan lansia ini dengan cucunya.
Tapi apa jadinya kalau seseorang menginginkan keluarga yang bahagia jika dirinya itu sendiri tidak bahagia?
Bisakah hal demikian lahir? Menumbuhkan kasih sayang yang layak dan membentuk impiannya itu, bisakah tercapai?
Tanpa saya sadari, pasangan lansia itu tengah melangkah ke kasir, barang belanjaannya normal tetapi ada obat herbal, mentol dan permen pelega tenggorokan di dalam keranjang belanjaan. Tangan saya terulur membantu sang Nenek meletakkan keranjang itu di kasir, mengeluarkan satu per satu isinya dan mengecek barcode. "Totalnya 10.950 won," ujar saya seraya mengulurkan kantung plastik kepada mereka. Saya tidak melihat tanda-tanda Yoona akan datang menyusul, apa dia sedang tidak ingin menyusul atau sakit (karena tumbennya Kakek dan Nenek ini membeli perlengkapan dan obat)? Meski saya mengalihkan pandangan saya ke kaca pembatas tidak ada sosok anak kecil perempuan yang setengah berlari kemari. "Apa hari ini Yoona sedang tidak ingin menyusul Kakek dan Nenek?" Setelah memikirkannya akhirnya saya bertanya. Sang Nenek terkekeh sebab saya menyanyakan keberadaan cucu mereka. Saya yang konteksnya bukan anggota keluarga atau kerabat jauh ini malah menanyakan hal yang tidak berkaitan.
"Sayang sekali tadi sehabis pulang sekolah dia langsung demam."
"Dia anak yang hiperaktif, sampai-sampai sakit karena kebanyakan main dengan temannya."
"Bagaimana pun dia masih di masa aktifnya, tidak masalah kalau dia ingin bermain bersama temannya itu."
Tidak ada nada menyalahkan atau kesal dengan Yoona yang aktif itu, yang saya tangkap ialah nada sayang seolah-olah perkataan mereka tadi bermakna seperti ini: 'Dia anak yang tumbuh aktif dan sehat, setidaknya kami bersyukur karena dia bisa merasakan bahagianya menjadi anak kecil.' Memang Yoona sedang beristirahat untuk memulihkan keadaannya akan tetapi saya ikut senang kalau dia bisa merasakan sukanya menjalani masa anak kecil-saat-saat yang diirikan oleh orang dewasa. "Semoga Yoona bisa cepat sembuh, ya." Yang saya bisa lakukan hanya ini, tak lebih. "Terima kasih banyak, Nak. Padahal Yoona juga ingin bertemu denganmu jika bisa kemari. Katanya, 'Aku ingin coba main dengan kakak di minimarket kalau bertemu, itu diperbolehkan, kan?' begitulah." Tak lama dari itu, mereka keluar ketika langit sore sudah ingin cepat-cepat merubah kenampakannya, padahal ini menjelang musim panas, seharusnya langit berubah agak lebih lama.
Saya sedikit bersyukur selagi saya menanti kedatangan pria kantoran ada beberapa pelanggan yang saya tertarik memasuki minimarket. Seorang perempuan yang tengah membawa anjingnya jalan-jalan, beberapa pelajar yang mencari makanan sampingan dan kakak beradik yang sekedar mampir membeli minuman. Setidaknya mnimarket ini tetap bisa memiliki pelanggan meskipun eksistensinya hampir tertiban dengan tempat di sekitarnya. Sesekali terdengar kendaraan bermotor melintas, satu mobil lalu beberapa menit kemudian juga ada satu mobil lagi. Tentu saja bukan ke arah minimarket ini, tapi mereka pergi ke arah Pantai Gwakji. Pemandangan laut itu menjadi daya tarik dan nailai tambah di Aewol-eup, saya sedikit bersyukur sejumlah pelancong mau pergi ke sudut ini dan tidak melihat Korea dari kota Seoul dan kota besar lainnya. Ada baiknya jika semua sudut sebuah kota bisa dinikmati, suatu hari nanti mungkin saya akan mengunjungi sejumlah kota di Korea-seperti yang kami rencanakan dulu, tanpa Yeon Buk di samping saya.
Padahal dialah yang memiliki niat demikian, namun sayalah yang berkehendak menwujudkannya. Tapi memangnya dia masih ingat hal kecil seperti itu?
Apa karena kejadian saat SMA itu dia sungguh telah melupakan keinginannya sendiri, melupakan saya yang waktu itu bersamanya?
Saya tidak ingin dilupakan segitu mudahnya, tapi bukan berarti saya ingin diingat karena kesan jelek.
Kalau manusia sungguh bisa berubah apa sudut pandang mereka ikut berubah? Jika hati mereka tersadar apa mereka juga bisa menyadarkan pikiran mereka?
Saya sungguh-sungguh berharap. Titik dimana manusia bisa diubah, semua manusia bisa berubah dari situ. Lantas dimana letaknya?
"Totalnya 2.000 won," ujar saya seraya menyerahkan dua kaleng minuman bersoda kepada anak muda (saya menyebutkan demikian karena dia masih SMA, tentu lebih muda ketimbang saya). Anak muda itu menyerahkan uang lembar dengan total 2.000 won kepada saya, sambil menerima uang kertas itu saya mengucapkan terima kasih. Karena menjelang musim panas banyak yang berkunjung kemari-menikmati suasana pantai dan bermain dengan biru lautnya serta putihnya pasir yang elok atau sekedar bersantai di tempat makan sambil memesan minuman es, menyesapnya sambil menolehkan wajah ke arah pantai yang ramai-kawasan wisata jadi dipenuhi wisatawan, untungnya jumlahnya tidak sampai meledak-ledak. Setelah anak muda itu keluar minimarket suasana kembali senyap, kali ini tidak ada kendaraan bermotor yang lewat karena langit malam sudah sepenuhnya mengambil alih. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang, artinya pria kantoran itu akan tiba di sini sedikit lagi.
Jemari saya mengetuk kasir bergantian, sok-sokan ingin membuat irama dari ketukan tak beraturan itu selagi menunggu eksistensi pria kantoran yang sebentar lagi tiba. Sosok yang saya tunggu membuka pintu minimarket. Matanya lebih suntuk daripada kemarin, bisa saja ia dibebankan kembali oleh perusahaannya. Kembali ke rutinitasnya, di kunjungannya ini dia membeli toples kopi tanpa membeli belanjaan lainnya. Kalau sudah seumuran dengan pria ini, apa saya akan terus kelelahan sepertinya? Selalu terbebani dengan tugas sebagai orang dewasa? Saya khawatir kalau saya belum siap dengan tugas itu dan akhirnya menyerah tanpa memperoleh apa-apa, tapi saya juga khawatir kalau saja pria ini menghentikan langkahnya dengan tanggung jawab yang masih berada di pundaknya. "Totalnya 5.000 won." Selesai mengecek barcode dan menghitung totalnya saya menyerahkan toples kopi kepadanya yang menatap lelah ke benda itu. Tatapan yang saya bisa lihat setiap kali Ayah pulang.
Ah, sekarang Ayah masih memiliki tatapan itu? Atau tatapannya sudah segar?
Pernahkah beliau terpikir sudah lelah menafkahi Ibu dan saya?
Walau kemarin malam saya berkesempatan menghubungi katanya mereka masih tinggal di apartemen yang sama, saya tidak tahu apa mereka masih sama seperti terakhir kali saya melihat raut wajah mereka. Mungkinkah mereka sepenuhnya berubah? "Terima kasih," katanya, nadanya terdengar agak kering. Seharusnya sayalah yang mengucapkan itu, namun kali ini dialah yang mengucapkan kata terima kasih. "Terima kasih juga," timpal saya dengan tubuh sedikit membungkuk. Tidak ada percakapan berarti yang terlaksana, benar-benar kering dan senyap. Kalau pun saya tidak menginginkan menjadi orang dewasa yang sudah memfokuskan diri bekerja, pekerjaan ini sangat sepi, apakah saya tahan jika terus-terusan begini? Tapi apa saya juga tahan menjadi orang dewasa seutuhnya? Dilema menjelang usia matang ternyata memang agak menyulitkan bagi saya yang masih bimbang. Sulit untuk menentukan, sulit bagi saya untuk menjalakannya pula. Karena sedari dulu saya tidak dibekali persiapan, bekal yang saya siapkan hanya seperti sekantung biskuit untuk mengganjal lapar semata. Padahal perjalan kami itu layaknya tersesat di tengah lautan, dua pilihan: pertama, mengayuhkan rakit tanpa arah dan kedua, tidak melakukan apa-apa.
Begitu pria kantoran sepenuhnya menghilang dari pandangan saya, minimarket ini kembali sunyi. Saya kehilangan sebuah figur yang bisa mengisi kekosongan tempat di sini, entah itu pelanggan asing atau pelanggan yang sering datang ke sini, yang berdiri hanya saya seorang.
Pukul delapan lebih lima belas menit pintu terbuka setelah sekian penantian. "Kita ketemu lagi nih," celetuk Il Yeong sambil menjentikkan jarinya. Kali ini rambutnya ditata dan dikuncir, karena hawa panas yang menguar tak sabar sebelum waktunya benar-benar tiba, di lehernya menggantung sebuah kamera. "Sudah ke berapa kalinya, ya, kita bertemu?" Saya menyahut, sekedar basa basi ringan, sebenarnya saya tidak tahu harus memulai percakapan dengan topik apa. Dia berjalan ke rak secara bergantian, membeli banyak keperluan. Rak makanan, lemari pendingin minuman dan es krim, seolah-olah ia akan menginap di rumah teman sejawat. Nasi kotak juga tak lupa ia ambil dari tempatnya sebelum Il Yeong membawanya ke kasir. "Udara sekarang sudah agak panas, tapi mataharinya masih belum seperti musim panas," komentar Il Yeong, dia mengipasi ceruk leher dengan tangannya selagi saya mengecek barcode. "Bukankah ini juga kesempatan Anda menikmati musim panas sementara waktu?" Mengingat bahwa Il Yeong kemari untuk menjenguk kerabat.
"Uwah, sayang sekali tidak bisa begitu! Kau sendiri tahu kuliah itu agak sibuk, kan?"
"Padahal memang enak kalau musim panas ke Jeju begini." Rautnya terlihat seolah ia kecewa berat. "Tapi kau enak, ya, bisa liburan musim panas di sini sambil fokus studi."
Saya mempertanyakannya. Memang, Jeju itu gudang pemandangan alam, kalau pun hidup di tempat tenang nan tentram tapi hati Anda itu tidak tentram atau tenang apa Anda bisa memasukkan hal tersebut ke dalam definisi tadi? Saya berpikir untuk menjawabnya, apa saya sendiri mengganggap ini menyenangkan-padahal saya berpikir untuk tidak menampilakn wajah setelah merobeknya saat SMA. Atau saya tidak mengganggapnya menyenangkan-tetapi di sini saya bisa sedikit membangun diri saya yang baru, menikmati kehidupan didampingi ketenangan. Supaya bangkit dan lepas dari kepompong masa lalu. Saya sendiri bingung memutuskan sebuah jawaban, lantas saya angkat kedua bahu saya.
Di sini semua perasaan saya campur aduk. Tidak ada yang jelas jika saya harus mengungkapkannya secara jelas.
Bahagia? Iya, tapi saya tetap diliputi rasa bersalah dan kekhawatiran.
Frustasi dan kebingungan? Tentu, tapi saya merasa bahwasanya saya juga mengalami kegiatan yang menyenangkan. Di Pulau Jeju ini, saya betemu pelipur lara.
"Saya pikir itu tergantung bagaimana setiap orang menikmati setiap detik dari hidup mereka. Perumpamaannya seperti orang yang tertidur belum tentu bisa merasakan mimpi indah, bukan begitu?" Dia sedikit tersentak dengan perkataan saya. Yang saya rasakan adalah sebuah perasaan yang tak bisa dideskripsikan segitu mudahnya, perasaan itu dilapisi rasa bersalah di atasnya. "Kau punya pemikiran begitu juga?" Giliran ini sayalah yang tersentak mendengarnya, apa dia juga seperti saya? Merasakan perasaan yang sama. "Saya rasa ini hanya sebuah pemikiran yang tiba-tiba ada saja," balas saya. Saya menyerahkan semua belanjaannya, dia pun menerimanya dengan tangan penuh.
"Shift-mu itu kapan selesainya?" tanya Il Yeong, memiringkan kepalanya sampai rambut yang tak bisa terikat menutupi sedikit sisi wajahnya. Ah, indahnya.
"Mungkin tiga puluh lima menit lagi, ada apa?" Saya balik bertanya.
Sambil mengatur benda-benda yang harus dia bawa, raut wajahnya menampakkan dia sedikit berpikir menata kalimat yang pas. "Ayo bersantai di sekitar Pantai Gwakji, ada yang ingin ku tunjukkan padamu nanti," jawabnya. Tampaknya yang ia ingin tunjukkan itu adalah hasil potretannya kemarin, mungkin juga ada hal yang lain. "Baiklah, tak apa menunggu agak lama?" Lantas dia menunjukkan ekspresi tak keberatan. Il Yeong berjalan keluar minimarket, menunggu saya di sana sambil memakan beberapa jajanan yang ia beli tadi. Padahal menunggu saya yang kerjanya juga menunggu pelanggan itu terlihat sia-sia, Il Yeong, apa Anda tidak sadar dengan hal itu? Atau pura-pura tidak sadar saja? Dari sini saya melihatnya yang melahap es krim, sesekali meneguk air kemasan untuk membasahi tenggorokannya. Saya tidak melakukan apa-apa, tidak pula membantunya dalam keadaan sulit, tapi saya diberi waktu untuk meluangkan waktu dengan pria ini. Seharusnya saya merasa bahagia, seharusnya saya bisa senang.. Tapi saya tidak nyaman jika terus membuatnya kerepotan dengan menunggu.
Apa ini sebuah kenikmatan dan berkah dari Tuhan?
Atau malah sebaliknya, sebuah pelajaran dari Tuhan?
Kenapa harus saya yang menerimanya? Saya merasa tak pantas.
Waktu sedikit demi sedikit terkikis, melahap habis waktu kerja shift saya. Setelah berganti shift, saya pergi ke raung staff untuk istirahat sejenak-meneguk setengah air dari botol yang saya bawa-kemudian membawa barang bawaan saya sebelum akhirnya keluar ruang staff dan meninggalkan minimarket lewat pintu belakang. Sambil memapah sepeda. Perlahan-lahan jarak saya dan Il Yeong menipis, dia menyadari eksistensi saya mendekat lantas berdiri tegap. Es krimnya sudah habis, air kemasannya tersisa seperempat bagian. "Apa selama itu Anda menunggu saya?" Saya merasa tak enak hati kalau terus-terusan membuatnya kerepotan. "Tidak, kok, gak kerasa karena dari tadi aku makan terus," jawabnya. Tangannya memberi isyarat bagi saya untuk mendekat. "Kita lanjutkan percakapannya di dekat Pantai Gwakji saja, yuk," ajaknya. Suara itu lembut, seperti busa sabun di bak mandi. Pada akhirnya kami pergi ke Pantai Gwakji menggunakan sepeda saya, saya yang mengayuh sedangkan dia duduk di belakang. Udara malam hari mengalir semilir mengelus helai kami bersamaan.
Bulan cantik di atas kami menjadi saksi atas perjalanan menuju Pantai Gwakji. Begitu sampai kami tidak sepenuhnya berada dalam lingkup pantai tersebut, hanya berada di dekat garisnya saja. "Di sini saja," katanya, memberi tahu saya seupaya memarkirkannya di titik yang dia maksud. Debur ombak terdengar dari jarak kami berdiri, sama sekali tidak terdengar menyeramkan, malah memiliki sensasi berbeda ketika mendengarnya di pagi atau siang hari. "Menurutmu ini bagus tidak?" Il Yeong bertanya sambil memeperlihatkan saya potret dari Pantai Gwakji kemarin. Cahayanya tidak terlihat berlebihan, hasilnya pun juga jernih. "Cantik, Anda belajar fotografi?" Dia menganggu bergitu saya bertanya. "Dari sini apa kau melihat perbedaan yang dari Pantai Gwakji yang sekarang?" Giliran dialah yang bertanya, yang terpikir di benak saya hanyalah waktu mengambil fotonya saja. "Waktu?" jawab saya ragu-ragu, saya merasa ini bukan jawaban tepat. Benar saja, dia langsung menggeleng sebagai ganti ucapan, 'Salah! Bukan itu, tahu!' Saya sendiri tidak mengerti, lantas apa yang berbeda?
"Sebenarnya tidak ada yang salah jika kau menganggap perbedaannya adalah waktu pemotretannya. Tapi ku rasa ada yang berbeda. Kenapa tidak ada yang datang di saat malam untuk menikmati pemandangannya?" katanya.
"Bukankah sudah jelas jika pantai sudah tutup dan kalau malam pun pengunjung bisa bahaya jika menyelam atau sekedar berenang di pinggirnya? Tidak ada yang ingin mengambil resiko demikian," balas saya sedikit bertanya-tanya.
"Ini pemandangan yang indah, kan? Seharusnya juga mereka bisa menikmatinya, di pagi atau siang hari juga bukan berarti sepenuhnya aman. Jadi ku pikir yang berbeda bagaimana setiap orang di sini rasakan ketika datang kemari dan bagaimana mereka menikmatinya di waktu berbeda. Mereka merasa ancaman bahaya akan reda kalau mereka pergi pagi atau siang, tapi merasa sangat tidak aman kalau mereka berangkat di waktu sekarang. 'Airnya cantik, pasirnya putih, nyaman dan begitu asli,' itu yang mereka katakan di waktu Matahari masih naik dan 'Bahaya, jangan dekat ke sana' ketika Bulan menggeser posisi Matahari. Tapi kadang ada saja yang beranggapan sebaliknya, 'kan? Aku berpikir seperti itu saat mendengar kau berkata, 'Saya pikir itu tergantung bagaimana setiap orang menikmati setiap detik dari hidup mereka. Perumpamaannya seperti orang yang tertidur belum tentu bisa merasakan mimpi indah, bukan begitu?' tadi," jelasnya.
"Meski cantik setiap saat, di saat tertentu rasanya jadi tidak aman. Meski orang itu tertidur lelap bukan berarti dia bisa lepas dari pikiran yang berat, mungkin saja dia terkena mimpi buruk karena itu. Atau mungkin dia terkena sleep paralysis karenanya," tambah Il Yeong sambil menunjukkan dua potret lagi. "Perbedaannya memang tidak muncul kentara di potret ini, tapi tidak mungkin aku tidak menyadarinya," dia kembali berkata.
Sementara di sini saya hanya termenung mendengarnya, tidak ada yang kemari padahal Bulan bersinar cantik. Tidak ada yang mau menikmati keindahan dalam gelap misterius malam hari, ketika mereka gemerlap dengan berbeda, hampir semua orang memilih untuk tidur. "Bagaimana menurutmu? Perumpamaan itu cocok tidak?" Saya hanya bisa terkekeh kemudian menggeleng samar. "Tidak buruk juga, 'Meski cantik setiap saat, di saat tertentu rasanya jadi tidak aman' yang itu saya suka." Cahaya rembulan yang terpantul membuat saya bisa melihat senyum yang ia tunjukkan. Jantung saya seperti berbenturan dengan karang. "Ngomong-ngomong kalau kau sudah menyelesaikan studi di sini kau akan kembali ke Busan?" tanyanya, kemudian saya mengangguk sebagai jawaban. "Rumah memang enak, ya, tempatnya nyaman walau berantakan sekali pun," ucap Il Yeong, tangannya menyodorkan sebuah susu pisang minimarket kepada saya.
"Empat tahun ini kau belum pernah pulang kampung?" Saya menggeleng.
"Lho? Kenapa?"
"Hanya.. Ya, tidak ingin saja." Sambil menggosokkan tangan ke lengan atas saya menjawab canggung.
"Sayang sekali, sesekali kau harus pulang lho. Pasti ada orang yang menunggumu menjenguk mereka."
Selesai dia berkata demikian, ponsel di kantung celananya menampilkan panggilan masuk. Dari keluarganya. Entah mengapa saya seperti tertampar, dan sosok yang menampar saya berkata lantang, 'Pulang. Ada orang yang menunggu.' Kakek Nenek Yoona dan Yoona, pria kantoran dan adiknya, Il Yeong dan suara percakapannya dari ponsel. Semuanya keluarga yang sudah punya tugas berbagi, meski hal yang mereka bagi adalah sebuah masalah pribadi. Saya tak pernah bilang apa-apa kepada Ayah dan Ibu soal SMA, saya tidak enak kalau menambah pikiran mereka karena masalah batin yang saya alami. Sebuah keluarga yang dijadikan tempat bersandar.
Tapi kau punya tempat pulang. Di sana ada yang rela lari dan tidak mau pulang karena rumah mereka tidak bisa dikatakan rumah yang seharusnya. Di sana ada yang mengharapkan rumah yang baik. Kau punya rumah yang kau banggakan, kenapa sungkan, Lim A-yeong? Tapi di sana ada segumpal hal yang tak ingin saya lihat. Akan tetapi, di sana ada secercah harapan, sesuatu yang kau lupa kau bisa intip. 'Saya pikir itu tergantung bagaimana setiap orang menikmati setiap detik dari hidup mereka. Perumpamaannya seperti orang yang tertidur belum tentu bisa merasakan mimpi indah, bukan begitu?'
"Hei, ayo kembali ke percakapannya lagi." Hei, kalau studi itu sudah selesai, kembalilah ke rumah.
Itulah yang terdengar bagi saya.
Satu hari sebelum kita [bagian hilang].
Sore ini lebih terlihat seperti siang hari, sebab Matahari masih berada di atas. Ini sudah masuk musim panas. Saat musim panas Matahari di sini akan tenggelam jam delapan (terkadang jam sembilan), malam pun juga sangat pendek. Durasinya sekitar empat jam saja, tidur di jam delapan pun terasa seperti tidur siang.
Langitnya perlahan menunjukkan bahwa hari akan gelap. Pengunjung pun berbalik dari pantai ke atas, begitu dengan burung camar yang terbang ke arah berlawanan dari pantai. Keramaian yang menipis dan cahaya yang sedikit redup. Dari tempat saya berdiri-rak kebutuhan rumah tangga-sesekali terdengar celoteh dari pengunjung yang akan kembali, suara mobil lewat atau bel dari sepeda tua milik warga setempat. Irama dari Aewol-eup. Kardus yang saya letakkan di samping sudah kosong karena isinya sudah diletakkan sesuai display. Di ruang kecil ini yang diputar hanya musik dari band ternama dalam volume rendah. Itu pun terdengar agak sayup-sayup dan bukan lagu yang bisa saya nikmati. Shift yang saya isi kali ini berdurasi pendek-seperti malam berjalan di musim panas, mungkin hanya dua atau tiga jam saja-shift saya akan diperpanjang kalau pekerja shift selanjutnya belum datang. Selesai mengatur display saya kembali ke kasir dan merapikan kardus.
Pelanggan yang datang kebanyakan adalah turis dari luar kota, ada juga beberapa dari mereka dari luar negeri. Hari itu pun saya sibuk di kasir, seharusnya saya sedikit bersyukur tapi saya juga ingin istirahat di sela-sela waktu, saya juga harus teliti supaya tidak ada minus uang ketika membuat laporan nantinya. Karena ini sudah jam tujuh kurang (saya memulai shift pukul lima sore) dan saya melihat pekerja shift selanjutnya sedang kemari-lewat kaca tentunya-shift saya hanya akan berlangsung sampai jam tujuh, tepat ketika pria kantoran itu datang. Kemungkinan saya tidak bisa berhadapan dengan pria itu nanti, namun herannya Kakek Nenek Yoona tidak ke sini-mungkin sibuk merawat Yoona yang masih demam, begitu pikir saya-seperti biasa.
Ketika minimarket sunyi dan musik mengambil alih, riuh di depan minimarket ikut terdengar. Sesekali saya keluar dari kasir dan berjalan mengelilingi minimarket dengan agak bosan dan kembali saat saya tidak menemukan sesuatu yang menarik. "Nona kasir ini mondar mandir karena bosan, ya?" Il Yeong masuk dengan wajah agak memerah, pakaiannya pun sedikit basah karena keringat. Rambutnya lepek dan sendal yang digunakan terlihat sejumlah kecil pasir menempel. "Sehabis dari Pantai Gwakji-lagi?" Saya memberi jeda ketika mengucapkan 'lagi', dia hanya cengar-cengir dan berjalan ke rak minuman. Meski pergi agak sore ke pantai tapi kalau orang itu menghabiskan waktunya dengan energi yang banyak pasti akan lelah dan banjir keringat juga.
"Shift-mu selesai kapan?" Seperti kemarin, dia bertanya lagi.
"Sepuluh menit lagi. Seperti kemarin?" Kalau dia bertanya soal kapan shift saya berakhir artinya dia ingin berbincang sebentar. Lantas Il Yeong menggangguk dan berkata kalau dia akan menunggu saya di depan minimarket. Saya hanya mengangguk, sebelum itu saya bertanya 'Tak apa-apa menunggu di luar?' dia membalas dengan gelenggan kepala seolah berkata, "Kau ini seperti dengan siapa saja, sih." Kalau begitu saya akan bertanya kepadamu, memangnya kita ini apa? Apa yang membuat saya harus menghilangkan rasa sungkan ini? Di antara kita tidak ada kejelasan yang bisa saya lihat, apa kau tidak melihat ketidakjelasaan yang ada di antara kita? Atau kau mengabaikannya?
Dalam waktu sepuluh menit itu saya berhasil menangani sejumlah pelanggan-jumlahnya bisa dihitung dengan satu tangan saja-dan menyelesaikan shhift tepat waktunya, setidaknya dengan begini saya tidak perlu membuat Il Yeong menunggu lama. Dia menyender sambil berusaha menghapus keringatnya yang selalu turun ke keningnya, rambunta pun terlihat diikat kencang tak nyaman. "Pakai ini, walau malam memang masih agak panas," ujar saya sambil menyerahkan kipas lipat. Saya sudah mengambil sepeda dan langsung menghampirinya begitu keluar dari minimarket. "Makasih, ya, kau tampaknya sangat bisa diandalkan," balasnya, tangannya mengulur menyambut kipas lipat. Il Yeong mengipasi wajahnya yang-mungkin-terbakar itu dengan cepat sesekali menguyur rambut dan wajahnya dengan air mineral dingin untuk menteralkan suhu.
"Kalau mau duduklah dulu di jok belakang, aku yang akan mengayuh seperti kemarin."
Il Yeong berjalan menuju jok belakang dan duduk kelelahan di sana. Dia meneguk minuman dingin selagi saya mengipasinya, ah, jadinya terlihat seperti tukang suruh yang bersama dengan pesuruhnya, ya? "Aku tidak menyangka kalau panasnya awet banget," gerutunya, dia berkali-kali mengusap wajahnya kasar karena hawa panasnya tak hilang semudah yang dia kira. "Bagaimana dengan cari angin, mungkin itu bisa meredakan panas dengan angin sepoi-sepoi di sini," usul saya, dia mengangguk, menyetujui usul saya dan tetap berada di jok belakang. Saya naik dan mulai mengayuh tanpa destinasi tetap, yang saya lakukan hanya membawanya memutari beberapa bagian Aewol-eup di malam hari yang tak begitu gelap. "Ceritanya seperti midnight drive, nih?" Il Yeong menyeletuk dari jok belakang, kepalanya sedikit di miringkan kepada saya yang fokus mengayuh. Midnight drive terdengar romantis, menyusuri jalanan tanpa tujuan pasti-hanya menghabiskan waktu bersama di kendaraan-menyetel musik yang disukai seperti musik genre Arctic Monkeys, Cigarettes After Sex atau mungkin The Weeknd lalu memesan makanan drive thru dari restoran cepat saji.
"Anggap saja begitu." Dia terkekeh sambil menyipitkan matanya.
Kami menyusuri kelokan, beberapa kali bertemu dengan cafe dan beristirahat sejenak. Udaranya memang lebih baik daripada waktu pagi dan siang, tapi tidak bisa dikatakan panasnya menghilang total. Il Yeong juga sesekali melepas kuncirannya dan mengikatnya kembali, tapi dia tampak menikmati perjalanan absurd ini. "Tak mengapa kalau hanya mutar-mutar sekitar sini saja?" tanya saya, saya tetap duduk di sepeda menghadapnya sedangkan dia duduk di trotoar. "Tak mengapa, di Busan jarang-jarang kita bisa begini pakai sepeda, kan?" Dia kelihatan sangat menikmatinya, meski ini tidak seperti midnight drive dalam artian sebenarnya. Apa yang dia katakan tidak ada salahnya juga, di Busan kemungkinan untuk keluar malam-malam untuk berkendara tidak jelas. Di sini pun juga sepi, suasananya juga nyaman.
"Aku agak bingung waktu kau bilang 'Supaya saya bisa mengulurkan tangan ke orang lain' saat aku tidak menyangka kau part-time jadi kasir minimarket."
"Kau mau membantu siapa memangnya? Lagipula kau kenapa berpikir begitu?" Sambil menggaruk tengkuk dan mencari jawaban yang tepat saya menghindari sebentar pertanyaannya itu. Sebenarnya saya tidak ingin menyinggung perihal ini dengan orang lain-sekalipun itu adalah Ayah dan Ibu. 'Itu kan kaunya yang terlalu perasa, sedikit-sedikit dimasukkan ke hati. Hal begitu menghambatmu, tahu.' Jangan-jangan itu yang dia katakan kalau sudah mendengar cerita saya? "Kenapa itu menjadi alasannya cerita agak panjang kalau saya ceritakan dari awal sampai akhir, cerita yang tidak menarik Anda," kilah saya. Saya menghindari kontak mata dengannya ketika dia terlihat agak penasaran-bukan, bukan penasaran tapi lebih ke tatapan 'Mari bercerita seperti biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.'
"Cerita panjang di malam yang pendek, kenapa tidak?"
Terdengar paradoks tapi saya suka ketika dia berkata demikian, tapi saya masih memikirkannya. Lantas saya menghela napas sebab tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. "Tapi ini semua terserah kau, kalau kau mau dan bersedia aku akan mendengarkannya. Tapi kalau tidak mau pun tidak mengapa," ungkapnya. Namun, saya butuh sebuah wadah untuk menampung perasaan saya yang sewaktu-waktu dapat meluap lagi. "Mungkin tidak detail tapi saya akan menjelaskan garis besarnya saja," balas saya. "Bagi Anda mungkin ini cuman konflik yang... aneh? Secara inti saya merasa dilema-apa ini bisa dikatakan sebagai dilema? Apa saya harus merasakan rasa bersalah atau tidak, apa yang saya lakukan benar atau tidak. Saya sendiri bingung, jadi kejadian waktu itu apa bisa dikatakan saya menolong mereka dari kemungkinan terburuk ketika mereka sudah umur segini atau tidak?" Saya berkata ragu. Raut wajahnya agak tidak mengerti, tapi sebisa mungkin dia mencerna setiap perkataan saya dengan teliti. Mungkin sudah saatnya saya bercerita meski itu bukan kepada orang terdekat-orang yang bahkan baru kenal dekat.
"Waktu sekolah dulu, ada teman yang.. Yah, melenceng dari jalan seharusnya, saya sudah bilang kepada mereka supaya berpikir dua kali sebelum itu tapi ternyata tidak ada gunanya saya mencegahnya. Jadi saya melaporkannya ke pihak yang mungkin mampu meluruskan mereka, salah satu dari mereka menemui saya dan berteriak marah kepada saya, katanya 'Gara-gara kau! Gara-gara kau kami dapat hukuman fisik dan diskors.' Sampai saat ini saya merasa agak bersalah-saya berpikir salah jika saya mendorong mereka ke hukuman, salah kalau sampai mereka mendapat cap jelek setelah saya laporkan. Bagaimana kalau cap itu, rasa disudutkan karena bersalah tetap berlanjut? Bagaimanapun sayalah yang membuat mereka begitu-mendapatkan cap, jadi saya merasa saya mengambil peran sebagai orang yang salah karena itu."
"Dari situ saya berpikir sebaiknya tidak menampilkan wajah saya dan menutupi dosa diri saya dengan pekerjaan ini."
Saya mengakhiri cerita itu, tidak detail. Tidak sampai saya menceritakan setelahnya dan sebelumnya. Cerita itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Il Yeong tidak memotong atau mengomentari keluhan yang saya, saya menghargai tindakan itu. "Begitu, ya.." Il Yeong bergumam, tetapi gumamannya itu bisa saya dengar dengan jelas. Tampangannya yang terlihat ragu harus mengatakan apa yang sekiranya bisa menimpali cerita saya. Bagi saya, kalau pun dia tidak tahu harus menjawab atau menanggapi dengan apa, sudah mau mendengarkan tanpa memotong atau mengomentari dengan kata yang tak ingin saya dengar. Itu sudah sangat cukup bagi saya, tidak harus memberi tanggapan, tidak harus memberi saya kata-kata manis di saat keadaan ini begitu pahit, terkadang manusia hanya butuh telinga yang mendengarkan tanpa ada mulut yang mencerca.
"Tidak ada yang salah jika kalau melaporkan hal tersebut, tidak salah. Malah itu benar."
"Tak mengapa kalau kau tiba-tiba saja merasa bersalah begitu, kau masih punya hati yang berfungsi dan akal yang memikirkan nasib mereka. Setidaknya waktu itu kau sudah mengeluarkan kartu peringatan. Tidak ada yang salah denganmu, tapi memang sulit kalau berada di posisi begitu. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk itu."
"Sekarang karena kita-aku dan kau-sudah berusia dua kepala, ayo berjuang untuk lupakan hal yang sudah terjadi. Itu masa lalu, masa lalu yang sulit, masa lalu yang sulit dilupakan juga. Tapi cobalah berpikir hal yang lain kehidupan yang kau rakit bukan hanya disana, di Jeju ini juga, lho. Cobalah perlahan dulu kalau kau sudah merasa bisa melakukannya kapan-kapan bilang kepadaku, ya, Lim A-yeong?"
Il Yeong bangkit dan menepuk-nepuk bokongnya setelah duduk lama di trotoar, dia mengusahakan dirinya duduk di jok belakang kembali. Begitu saya menatapnya, profil sampingnya begitu memesona. Saya pun terlena karenanya. Wajah yang disiram sinar rembulan, bayangannya itu seperti lukisan indah. Il Yeong, jangan-jangan kau ini malaikat yang jatuh, ya? Kami akhirnya kembali melanjutkan midnight drive (sebenarnya tidak terlihat seperti itu) dengan percakapan sekilas, setelah itu saya fokus mengayuh dan Il Yeong menghadapkan wajahnya ke laut Gwakji.
Jantung saya berdetak lebih cepat ketika mata kami bertatapan sejenak. Orang asing yang saya kagumi, kemudian orang asing yang saya sukai.
Saya suka mendengar suaranya yang bertumpukkan dengan suara malam hari.
Apa ini yang orang-orang sebut dengan jatuh cinta? Rasanya begitu mendebarkan, saat saya mengingat bahwasanya saya sedang berhadapan dengannya wajah saya menghangat. Bahkan ia tak lebih dari orang asing yang kebetulan saja bertemu, tak lebih dari seorang pelanggan di minimarket. Dan saya adalah segelintir dari wanita yang pernah ia temui, tidak jelas juga apa dia sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita atau tidak. Tapi rasanya saya memang tidak akan pantas untuk mengungkapkan perasaan saya, sebab saya bisa saja merusak kesenangannya seperti saya merusak kesenangan Hwa-Young dan yang lain. Pantas jika saya harus merasa getar tentang ini. Karena saya tak lebih dari seorang wanita biasa saja, tanpa kepopuleran, tanpa prestasi berharga, tanpa harta bergelimpangan atau kehidupan mewah, dan tanpa wajah serta tubuh yang mampu memikat setiap pria yang melintas. Saya adalah saya; wanita bernama Lim A-yeong.
Saya dengan jiwa saya.
Saya dengan pemikiran saya. Dan saya dengan masa lalu saya. Kalau dipikirkan, saya tidak melihat ada bagian dari diri saya yang bisa memikat pria, tidak ada.
Sekelebat bisikan, saya tidak pantas, lupakan saja dia bersama masa lalumu itu.
Kami berhenti di dekat Pantai Gwakji karena dia meminta saya berhenti di sana. Tempat kami bertemu pertama kali, padahal itu beberapa hari lalu tapi saya merindukan momen tersebut seperti sudah lama terjadi. Dia melambaikan tangannya kepada saya, rambutnya dielus angin membuatnya sedikit berantakan.
"Sampai jumpa, Lim A-yeong!" serunya. Jarak kami semakin lebar, saya melambaikan tangan ke arahnya sebelum kami menunjukkan punggung kami masing-masing.
Besok kami akan bertemu di tempat biasa-mungkin?
Hari kita akhirnya menghilang dari pandangan masing-masing.
Sudah seminggu Il Yeong tidak kemari, saya yang anehnya ini malah mencari eksistensinya. Berharap jika kami bertemu lagi di sini dan berbincang seperti sebelumnya.
Namun terlitas di benak saya bahwa dia itu pelanggan yang datang sesuka hati.
Dan saya seorang pegawai minimarket yang menunggunya sepenuh hati.
Seharusnya saya bisa mengerti dari penampilan, sikap, cara bicara dan segala yang Il Yeong miliki. Tidak ada ruang ataupun kesempatan yang bisa saya raih. Sudah pada dasarnya kami ini berbeda. Dunia, teman, tempat tinggal dan kacamata kami untuk melihat dunia ini sudah sepenuhnya berbeda, jadi tak ada bagian dimana ranah bagi kami bisa menyatukan takdir yang bertolak belakang.
Saya bertanya-tanya dalam hati, apa di luar sana ada orang-orang seperti saya yang senantiasa memikirkan hal ini? Memikirkan apa pandangan orang lain terhadap saya, memikirkan apa saya layak menumbuhkan rasa cinta terhadap seseorang, serta memikirkan apa saya pantas melupakan masa lalu saya. Arus yang memusingkan saya sendiri merasa seperti diceburkan ke laut yang terus menggulung ombak, hampir tidak ada kesempatan untuk saya bisa berenang menjauh seinchi pun. Nyaris tidak ada kesempatan bagi saya berhenti memikirkannya. Saya yang semakin dewasa semakin lelah memikirkan semuanya. Dia itu seperti langkah kaki yang meninggalkan bekas di pasir, jejak kaki yang tak tersapu ombak, si pemilik kaki itu memang sudah melangkah pergi tapi tidak dengan tandanya. Il Yeong-pria yang saya sukai-memang sudah kembali ke tempatnya, tapi jejaknya yang tertinggal di sini masih bisa saya rasakan.
Hei, pemuda dari kota yang sama, Anda berhasil membuat saya jatuh cinta. Selamat (meski saya tak mengerti kenapa saya harus mengucapkan ini).
Selamat atas segalanya yang membuat saya baru sadar. Baru sadar jika saya juga butuh suaramu untuk didengar ketika kesepian.
Selama ini kami hanya berbincang, tanpa sadar kami-atau hanya saya saja?-merajut sebuah cerita. Cerita singkat yang akan dikenang dalam waktu lama.
Ah, apa urusannya kemari sudah selesai? Sekarang pun Il Yeong sudah kembali ke rengkuhan keluarga. Ya, skenarionya pasti demikian. Tapi apa pun skenario atau kemungkinan lainnya, saya tetap tidak bisa berkata padanya untuk menetap sementara waktu. Karena memangnya saya ini punya hubungan apa dengannya? Bahkan saya sendiri tidak tahu hubungan apa yang bisa saya katakan untuk mendeksripsikannya, hampir tidak ada kata yang tepat dalam kamus sekali pun. Kadang kala saya mengingat ini saya sedikit frustasi, sebenarnya kita yang berbaur ini apa? Kadang juga saya merasa senang bisa bertemu dengannya dalam hidup saya. Orang yang bisa mengerti saya selain Ayah dan Ibu, seseorang yang bisa saya ajak berlarut dalam percakapan dalam. Perasaan ragu yang waktu itu menyergap saya di segala arah hilang ketika dia memberi sepatah kata yang bisa menghapus ragu itu.
Namun saya sedikit ragu, bolehkah saya menaruh rasa kepadanya? Kepada makhluk yang indah dan idaman semua makhluk itu?
Saya merasa tak pantas-apakah in juga pernah dirasakan orang lain yang sedang berada dalam fase romansanya?
Seberapa lama saya berdiri di kasir pun tidak akan membuatnya kembali ke sini, saya bukan alasan baginya untuk berkunjung ke Jeju. Kami hanya dua manusia yang kebetulan dipertemukan takdir dan pergi karena takdir pula. Seminggu, lamanya waktu saya menanti kehadirannya. Minimarket ini diisi beberapa pelanggan yang masih menikmati musim panasnya, kebanyakan mengambil es dan minuman dingin atau membuat es kopi dan meminumnya langsung sambil berbincang. Kakek Nenek Yoona juga tadi sempat kemari, Yoona juga menyusul-seperti kebiasaannya itu-ketika sang Kakek dan Nenek hendak membayar di kasir, pria kantoran itu belum kemari pukul tujuh atau mungkin dia langsung pulang dan menemani adiknya. Musik yang dinyalakan suaranya agak terpendam karena ramainya suara lain dari pelanggan, setidaknya tempat ini agak hidup.
"Bagaimana dengan berkenalan dahulu, supaya aku bisa ingat namamu itu. Kalau begitu, siapa namamu?"
Meski saya sudah terlepas dari bayangan masa lalu bukan berarti saya bisa kembali mendapatkan apa yang orang lain bisa dapatkan, bukan berarti saya kembali seperti sedia kala, dan bukan berarti saya bisa menjadi orang yang dianggap kembali. Walau saya pulih tapi saya tetap bukanlah apa-apa.. Tindakan yang saya lakukan-menunggu Il Yeong datang ke minimarket-itu sebenarnya konyol dan aneh. Untuk apa saya menunggunya? Tidak tahu, tapi saya tetap ingin bertemu dengannya. Saat kami bercakap-cakap di pembatas Pantai Gwakji sambil menikmati makanan ringan minimarket (dan itu pertama kalinya saya mencicipi makanan yang dijual di minimarket) sudah sangat tidak mungkin saya memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Yang dia cintai itu keluarganya.
Bukan saya. Bukan saya yang seorang wanita kasir di sebuah minimarket Pulau Jeju.
Bukanlah saya yang bukan apa-apa ini.
Satu per satu pelanggan pergi keluar setelah menikmati udara sejuk minimarket dan minuman yang diteguknya, kini musik yang tadinya sayup-sayup saja terdengar lebi jelas ketimbang sebelumnya. Di ambang pintu itu tidak ada Il Yeong yang berdiri. Apa saya rindu? Rambut ikoniknya tidak terlihat di mata saya, wajah yang saya kenali darinya tidak muncul meski saya menanti dari kasir. Ini tidak ada gunanya, tidak ada manfaatnya. Biarkanlah dia pulang, kembali ke tempat seharusnya dia berada dan menikmati setiap detiknya di sana. Lalu saya juga kembali dan tetap melanjutkan hidup saya-untuk diri sendiri.
Saat dia melambaikan tangannya dan berkata 'Sampai jumpa' saya awalnya heran kenapa dia tak mengatakannya 'Sampai jumpa besok'? Ternyata esoknya Il Yeong benar-benar kembali ke kampung halamannya-Busan-tetapi saya masih ingin bertemu dengannya. Kenapa? Shift saya telah berakhir, saya berjalan menuju ruang staff untuk menyerahkan kunci minimarket kepada pekerja shift terakhir, pikiran saya kembali mengucapkan hal yang sama seperti pertama kali saya kemari, 'Sudahkah kamu membantu orang lain dengan tanganmu itu'-mungkin sudah. Kenapa kau ingin bertemu dengannya? Dia sudah pasti lupa walau waktu itu dia bilang 'supaya aku bisa ingat namamu itu'. Kenapa, ya? Aneh, benak saya malah bertanya kepada saya. Sembari menguncir rambut yang tergerai-saat berada di belakang minimarket hawanya lebih panas-hati saya menanti kehadiran Il Yeong yang berkata, 'Shift-mu itu kapan selesainya?' ketika bertemu. Benak saya mengulangi pertanyaan yang sama seperti tadi.
Sederhana saja, ketika saya kemari untuk mendengarkan rasa terima kasih sudah terbantu dengan uluran tangan saya, sayalah yang malah mengucapkannya (dalam hati) kepadanya. Dia juga mengulurkan tangannya kepada saya untuk melupakan rasa bersalah yang tak seharusnya saya tanggung di benak saya ini dengan sebuah percakapan ringan. Tentu saja saya merasa terbantu dengan itu, merasa sangat terbantu. Mungkin saja kami bisa bertemu di Busan-entah dimana itu nantinya, seperti kami bertemu di Jeju, untuk bercakap-cakap santai selayaknya teman yang lama tak berjumpa. Kapan-kapan, bisa saja itu terjadi, bukan? Sepeda kesayangan saya melaju ketika saya mengayuhnya menuju bagian depan minimarket, pemandangan laut biru tersaji di depan mata. Pantai Gwakji terlihat saat saya menolehkan kepala dan mengayuh ke arahnya. Di sana, di Pantai Gwakji Gwamul saya bertemu dengannya. Di sana pula kami berpisah.
Layaknya buih di ombak, tergulung, terikat satu sama lain begitu mencapai daratan mereka hilang.
Kami dipertemukan, bercakap-cakap, bertemu beberapa kali juga dan pergi.
Untuk pertama dan terakhir kalinya. Tak pernah terpikir kalau romansa saya akan terjadi seperti ini, memang bukan yang seperti saya baca di buku Pride and Prejudice, tapi mungkin saya menemukan sebuah titik bahagia saya dalam hidup selain kehangatan keluarga.
"Kalau begitu mari bertemu lagi setelah ini."
Anda sudah berkata begitu kepada saya beberapa kali, giliran sayalah yang mengajak Anda bertemu.
Entah kapan itu akan terjadi, tetapi saya sedikit menanti.
Atau itu tidak akan pernah terjadi.
Lim A-yeong, Tuhan itu pasti punya rencana untukmu. Tuhan selalu punya pilihan untuk hamba-Nya.
"Kita bertemu lagi, apa kau mengingatku?"
.
"Saat itu kita bertemu di Pantai Gwakji, biasanya di minimarket dekat cafe dan sekolah dasar itu."
.
"Mau kita reka ulang hal yang kita lakukan selama di Jeju? Kita buat kenangan itu di Busan ini, tempat kita dilahirkan."
.
tamat.
