Actions

Work Header

in another life with you

Summary:

Sisa-sisa kesadaran dan jiwa Haruchiyo mulai berpindah ke sebuah tempat baru. Tempat yang menenangkan dan membuat dirinya merasa aman. Sebuah taman bunga yang sepi, yang dihuni oleh dirinya dan Mucho saja.

Terinspirasi dari unggahan bagian terbaru Tokyo Revengers nomor 258 dan beberapa fanart MuSan yang bertebaran di beranda.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ah, jadi ini akhirnya. Abdomennya serasa hancur setelah ditabrak oleh Harley Davidson Shiba tertua. Sakit, perih, tubuhnya mati rasa. Darah merah hitam mulai mengucur, kesadarannya mulai mengabur, Haruchiyo Akashi jatuh tersungkur.

Saat ia membuka mata, hanya ada hamparan bunga berwarna-warni. Ia melihat tubuhnya sendiri. Utuh, tanpa cela, kecuali luka dari Manjiro yang ada di kedua ujung bibirnya. Tubuhnya dibalut kardigan dan terusan berwarna gelap. Ia menyentuh rambutnya yang tergerai di bahu. Platinum blond yang halus dan lembut. Rasanya ia kembali ke masa-masa Toman yang begitu ia cintai. Masa-masa ia bergabung di geng yang memiliki visi terbaik, dengan kapten terbaik pula.

"Haruchiyo."

Suara yang familiar. Haruchiyo menoleh. Jantungnya berdegup kencang. Si pemanggil tersenyum. Mutou Yasuhiro, orang yang sudah ia tebas dengan katana kesayangannya, muncul di hadapan matanya lagi. Pakaiannya masih sama dengan waktu itu. Namun Mutou kini terlihat sangat amat sehat dan nyata.

"Kapten—"

"Lama tidak berjumpa." balasnya, melambai pada Haruchiyo.

Air mata Haruchiyo mulai mengalir. Orang yang paling ia sayangi. Orang yang menerima dia apa adanya. 'Kakak'nya. Mutou masih tersenyum di ujung sana, memberi kode pada Haruchiyo untuk mendekat padanya. Ia langsung berlari kencang. Persetan. Ia harus memegang Mutou. Ia harus kembali mendekat padanya. Ia membutuhkannya.

"Hahaha, ga usah lari. Aku selalu ada disini kok."

"Kapten!!!"

Air mata Haruchiyo tidak bisa berhenti. Saat itu ia menjadi dirinya sendiri. Ia mengeluarkan semua emosi yang tidak ia tunjukkan. Kelemahannya, kesakitannya, keputusasaannya. Haruchiyo menangis, merengkuh tubuh orang yang menjadi panutan dirinya itu. Tangan besar Mutou mengelus punggungnya. Hangat. Ia selalu suka perasaan ini bersama Mutou. Mutou tertawa kecil, membawa tubuh ramping Haruchiyo di pelukannya, dan berputar-putar di taman bunga yang harum.

"Mau main?" tanyanya, menggandeng tangan Haruchiyo yang sudah mulai tenang ke sebuah gazebo yang juga dihiasi bunga serta tanaman rambat di sekelilingnya.

"Shogi?"

Ia mengangguk. Tercium pula wangi kopi dan harum khas kue keju dari dalam gazebo. Apa ini rasanya surga? Main shogi dengan Mutou sambil minum kopi dan makan kue ditemani pemandangan taman bunga. Haruchiyo bahagia. Walaupun mereka hanya berdua, ia sangat bersyukur pada Dewa karena sudah mempertemukannya dengan Mutou di tempat ini. Semua akan baik-baik saja. Betul begitu, bukan?

Notes:

Halo semua! Terima kasih sudah baca tulisan pertamaku yang dipublikasikan disini ya! Jujur, agak takut juga buat taruh tulisanku disini karena banyak penulis yang bagus-bagus. Jadi, mohon kritik dan saran di kolom komentar dan jangan lupa untuk kasih 'kudos' kalau kalian suka cerita dari aku!