Work Text:
Hari ini hari Sabtu. Hari yang biasa dimanfaatkan untuk beristirahat, melepas penat, atau bahkan bermalas-malasan.
Tsurumaru yang saat itu sedang bosan (dan tidak ada kerjaan) mengajak Namazuo untuk bermain tebak-tebakan dengannya.
“Yo, Namazuo. Mau main tebak-tebakan denganku?”
Namazuo menaikkan sebelah alisnya.
“...Tebak-tebakan?”
Tsurumaru mengangguk seraya memamerkan giginya.
“Kalau jawabanmu benar, nanti kuberi hadiah.”
Bagai ikan yang termakan umpan, Namazuo merespon perkataan Tsurumaru dengan antusias.
“Eh, yang benar?”
“Tentu saja, sayang...!” Ujar Tsurumaru sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit—membuat ia harus menerima sebuah cubitan yang cukup menyakitkan di bagian pipinya.
Usai mengelus-ngelus pipinya yang habis dicubit dengan penuh cinta oleh Namazuo, Tsurumaru memulai permainan kecilnya.
“Oke, aku mulai dari tebak-tebakan yang pertama.” Tsurumaru berdeham untuk membangun kesan serius, “Di manakah tempat tinggal lele?”
Tanpa pikir panjang, Namazuo langsung menjawab, “Di dalam air atau lumpur...?”
Tsurumaru tersenyum lebar. “Salah! Jawaban yang benar adalah ‘di hatiku’!”
Namazuo menonjok bahu Tsurumaru tanpa mengurangi sedikitpun tenaganya, membuat sebuah “adaww!!” lolos dari mulut Tsurumaru—meski di saat yang bersamaan ia terlihat cukup menikmatinya. Mungkinkah Tsurumaru itu seorang masokis...?
Usai mengelus-ngelus bahunya yang habis ditonjok dengan penuh kasih sayang oleh Namazuo, Tsurumaru kembali melajutkan permainan kecilnya.
“Sekarang, tebak-tebakan yang kedua.” Tsurumaru buru-buru menambahkan kalimatnya sebelum Namazuo sempat membuka mulutnya, “—Tenang saja, kali ini pertanyaannya lebih serius.”
Tsurumaru kembali berdeham untuk mengembalikan kesan serius di wajahnya, “Apa kau tahu hari ini hari apa?”
Pertanyaan yang terdengar sangat normal itu sukses membuat Namazuo mengerutkan keningnya.
“Err, Hari Sabtu tanggal 23 Mei?”
“Tepat!!“ Ujar Tsurumaru seraya menjentikkan jarinya, “—Tapi jangan senang dulu, sebab bukan itu jawaban yang kucari.”
Namazuo mendengus sebal karena lagi-lagi jawabannya meleset, “Kalau begitu, apa?”
Tsurumaru kembali memamerkan senyum lebarnya. “Kau mau tahu jawabannya?”
Namazuo jujur menjawab, “Iya, habisnya aku jadi penasaran dengan jawabannya.”
“Sungguh?”
Namazuo mengangguk yakin.
Senyum di wajah Tsurumaru berubah menjadi seringai tipis. Ia lalu menutup kedua mata Namazuo menggunakan telapak tangannya.
“...Tapi, anak kecil tidak boleh melihatnya—”
Usai berbisik demikian tepat di dekat daun telinga Namazuo, Tsurumaru melekatkan bibirnya pada bibir hangat nan lembut milik Namazuo.
“—sebab hari ini adalah Kiss Day.”
