Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-06-27
Words:
2,027
Chapters:
1/1
Kudos:
18
Hits:
240

sisi baru

Summary:

[S-Savers Contest: Banjir TomatCeri] Perjalanan panjang yang dilalui Sasuke dan Sakura telah dicukupkan dan mereka memutuskan untuk kembali ke Konoha dengan kehadiran putri mereka yang baru dua bulan. Dalam pembangunan kembali hidup mereka di sana, Sasuke membawa sisi yang belum pernah Sakura lihat dari dirinya di dalam sebuah kotak. [Contoh resmi karya untuk BTC2022]

Notes:

sisi baru

by daffodeela

Naruto by Masashi Kishimoto. I don't take any material advantage by writing this story.

T rated

Prompt #50

Contoh karya untuk kategori SasuSaku Canon Banjir TomatCeri 2022

[S-Savers Contest: Banjir TomatCeri] Perjalanan panjang yang dilalui Sasuke dan Sakura telah dicukupkan dan mereka memutuskan untuk kembali ke Konoha dengan kehadiran putri mereka yang baru dua bulan. Dalam pembangunan kembali hidup mereka di sana, Sasuke membawa sisi yang belum pernah Sakura lihat dari dirinya di dalam sebuah kotak.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Rumah besar itu masih relatif kosong. Entah Sakura yang merasa mendramatisasi situasi di sekitarnya, atau memang derap langkahnya yang sampai menggema besar karena lengang ruangan yang mendekapnya. Suara pintu yang terbuka pun terdengar dengan sangat jelas. Dia otomatis menengok ke arah pintu utama rumah dan seperti yang sudah diduga, Sasuke berada di sana. Matanya otomatis berbinar-binar dan senyumnya melebar. Dia segera melangkah mendekati Sasuke bahkan sebelum lelaki itu berbalik dari menutup pintu.

"Tadaima," ucap Sasuke. Pandangan Sasuke melembut ketika menatap Sakura. Apabila tangannya bebas, dia akan menepuk kepala istrinya sekarang juga.

Sakura berseri-seri. "Okaeri." Matanya tertuju pada kotak yang menutupi setengah badan Sasuke di dalam dekapan lelaki itu. "Ini apa?"

"Barang-barang lamaku yang masih ada. Tidak apa-apa 'kan aku bawa ke sini?"

"Oh, tentu saja boleh! Ayo, sini, kita bongkar!"

Sebelah alis Sasuke naik melihat Sakura yang tampak semangat. Perempuan itu menarik kardus itu dari dirinya dan membawanya sendiri, melangkah dengan lompatan kecil menuju ruang tengah. Kini kardus itu ditemani oleh kardus-kardus lain, baik yang sudah maupun belum dibuka.

Sasuke langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Sarada tidak ada di sejauh matanya memandang. Pandangannya kembali lagi pada Sakura yang kini tengah berjongkok, mulai membuka kotak penyimpanan barang lama milik Sasuke. Lelaki itu turut berjongkok di sisi Sakura.

"Sarada sedang tidur?"

"Iya. Nyenyak sekali. Padahal tadi saat kau pergi, dia sempat sangat rewel." Sakura mengembuskan napas panjang dan mengusap keningnya. "Ini melelahkan. Tapi aku bahagia."

Sasuke menepuk kepala Sakura sebelum mengecupnya. Aroma manis dari rambut perempuan itu menyeruak ke dalam indra penciumannya. Ini adalah aroma yang berbeda dengan yang terhirup olehnya selama mereka dalam perjalanan bersama, dan wajar apabila raksinya lebih manis karena yang kini Sakura gunakan adalah shampo untuk perawatan rambut lagi—bukan dalam travel size yang sangat terbatas.

"Terima kasih," ucap Sasuke. Dia pun bahagia dengan eksistensinya di dunia saat ini, bersama Sakura, dan kehadiran Sarada yang baru dua bulan. Hidupnya tidak selalu berjalan mulus, tetapi segala yang dimilikinya sekarang adalah hal-hal yang sangat dia syukuri.

"Kalau kau lelah, biar aku saja yang bereskan semua ini. Kau bisa istirahat dulu … di kamar Sarada?" Sasuke bertanya dengan tidak yakin, karena sejak mereka memutuskan untuk tinggal di rumah besar ini, kamar Sarada adalah hal pertama yang mereka urusi.

"Tidak! Tidak apa-apa!" Sakura mengibaskan tangannya dan menepuk-nepuk kotak penyimpanan yang Sasuke bawa. "Selama Sarada masih tidur, aku juga mau mengurus tata letak perabot di rumah ini. Walaupun yah, sofa saja kita belum punya, sih. Katanya nanti sore akan sampai. Dan yang terpenting, aku penasaran apa isi dari kotak ini." Dia menyengir ke arah Sasuke sebelum menujukan perhatiannya pada kotak. "Boleh kubuka?"

Sasuke hanya menanggapi dengan sebuah gumaman. Gesit adalah satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan pergerakan Sakura. Sasuke belum sempat memperingati Sakura soal debu yang mungkin menumpuk di dalam kotak dan Sakura sudah terbatuk-batuk duluan.

Wajah Sakura ditenggelamkan ke dalam lipatan sikunya selagi masih terbatuk. Sasuke dengan sigap mengusap punggung Sakura sembari menanyakan kondisinya, kemudian diikuti keluhan, "Dasar kau ini."

Sakura berdeham sampai tenggorokannya terasa nyaman. Dia mendengus karena malu telah ceroboh. "Maaf. Aku sangat penasaran dengan barang lama Sasuke-kun soalnya. Ini barang-barangmu sejak kecil yang masih utuh dan bisa kautemukan, 'kan? Kita memang sudah menikah dan aku sudah tahu banyak soal Sasuke-kun, tapi kotak ini akan membawaku mengenalmu lebih dalam lagi–melalui hal-hal yang belum pernah kulihat atau kurasakan."

"Tch." Sasuke memutar bola mata. "Kau selalu saja begitu. Bukan berarti aku masih menyembunyikan sesuatu darimu."

"Hee? Aku tidak bilang atau berpikiran begitu!"

"Iya, iya. Sudah, lihat saja isinya. Tapi sini, biar kubersihkan dulu." Sasuke menarik kotak tersebut ke dekatnya, berdiri, dan mencari sebuah kemoceng. Tangannya langsung mengambil sesuatu dari sana, berpaling dari Sakura saat menaruh benda tersebut di atas lantai untuk diusap kemoceng, kemudian diberikan kepada Sakura. "Aku rasa yang ini tidak mengejutkan buatmu."

Yang kini sudah sampai ke tangan Sakura adalah pigura berisi foto Tim Tujuh. Seluruh antusias Sakura lenyap dari wajahnya. Perempuan itu menatap foto tersebut sembari menggigit bibir. Ibu jarinya mengusap permukaan kaca yang melapisi foto.

"Kau masih menyimpan ini …."

"Hn." Sasuke mengernyit. "Kenapa kau tiba-tiba jadi emosional?"

Raut muka Sakura sontak berubah menyalang. Matanya menyipit. "Ya ampun! Mana mungkin aku bisa tidak emosional!" Pandangannya sudah dikaburkan oleh air mata yang tertahan. "Aku selalu berpikir kau mungkin sudah membuang ini, tahu?"

Sasuke menunduk. Dia mengalihkan pandangan dari Sakura. "Aku tidak pernah bisa membuangnya. Kupikir kutinggalkan dalam kondisi terbalik saja sudah cukup. Tak kusangka benda ini masih utuh setelah penyerangan Pain."

"Kenapa bicaramu kontradiktif begitu?"

"Maksudmu?"

"Kau mengatakan kau tidak bisa membuangnya seolah-olah ini benda penting. Tapi di kalimatmu yang kedua, kau merujuknya sebagai 'benda ini', seolah-olah foto ini tidak artinya. Jadi yang benar yang mana?"

"Ha? Kau selalu saja begitu, membaca terlalu dalam akan sesuatu yang kulakukan atau kukatakan."

Sakura mencebik. "Itu tidak menjawab pertanyaanku."

Sasuke mengembuskan napas panjang. "Benda ini penting buatku, Sakura. Itu hanya caraku bicara. Benda ini sepenting …," dia menyodorkan sebuah pigura lain, "... ini."

Kerutan di alis Sakura menghilang sepenuhnya. Dia terdiam menatap benda lain yang Sasuke berikan kepadanya. Terdapat foto Sasuke di masa kecil dan dia tidak sendiri. Ayah, ibu, dan kakaknya pun berada di sana. Kini air mata Sakura sama sekali tidak bisa ditahan dari mengalir di pipi.

"Syukurlah foto ini tidak rusak walaupun kacanya retak. Kita bisa menggantinya dengan yang baru. Yang penting isinya." Dengan tangan kiri yang masih memegang erat pigura kedua itu, tangan kanannya menyentuh pipi Sasuke. Diusapnya wajah lelaki itu menggunakan ibu jari. "Ini pasti amat sangat penting buatmu."

Sasuke mengangguk. "Itu satu-satunya foto keluargaku yang tersisa. Yang lain sudah tak bisa kutemukan sama sekali." Tangannya turut memegang pigura. "Karena foto ini masih ada, kau bisa melihat wajah mertuamu."

"Sasuke-kun …."

Pegangan Sakura lepas dari pigura dan langsung dilingkarkan pada tubuh Sasuke. Wajah lelaki itu tampak tenang, tapi sebagai seorang manusia yang punya rasa, tentu ada kesedihan yang menyelimuti hati Sasuke. Dia merasakan suaminya mengecup puncak kepalanya dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Terima kasih, Sakura." Tangan Sasuke menepuk punggung Sakura dua kali. "Lihatlah barang yang lain."

Sakura menggeleng sebelum menarik diri. "Izinkan aku melihat yang ini lebih lama."

Pigura foto keluarga Sasuke kembali lagi ke tangan Sakura. Sakura mengusapnya kembali tepat di bagian retakan kaca. Entah kebetulan macam apa, pola retakan itu memisahkan Sasuke dari keluarganya yang lain. Dia meminta izin untuk mengeluarkan foto dari pigura agar bisa dilihat lebih jelas dan izin sudah digenggam. Foto tersebut dikeluarkan dengan sangat hati-hati, seolah-olah itu adalah benda rapuh. Kini air mata Sakura dibersamai oleh senyum.

"Kau memang sudah tampan sejak kecil, ya."

Sakura terkekeh sendiri karena tak mendengar respons Sasuke. Selalu saja begitu setiap kali tampangnya dipuji. Wajahnya diangkat dan pandangannya beralih bolak-balik dari foto dengan sosok Sasuke yang berada di hadapannya. Dia menyugar rambut Sasuke yang menutupi mata kiri lelaki itu untuk melihat wajahnya lebih jelas.

"Kau mirip sekali dengan ibumu."

Sorot mata Sasuke melembut. "Memang dulu banyak yang bilang begitu."

"Kakakmu lebih mirip ayahmu."

"Itu juga."

"Kau tahu? Selama ini, ketika kau menceritakan soal keluargamu, aku selalu membayangkan bagaimana sosok ibu dan ayahmu. Aku sama sekali belum pernah melihat mereka meskipun nama Uchiha Fugaku begitu terkenal sebagai kepala klan Uchiha." Sakura mengusap foto itu lagi. "Dan sosok mereka cocok dengan bayanganku berdasarkan ceritamu. Ayahmu yang tegas dan gagah. Ibumu yang cantik dan anggun. Kau sadar tidak bahwa ceritamu begitu hidup ketika menyampaikan tentang seseorang yang kausayangi? Semuanya bisa cocok karena betapa hidupnya ceritamu."

Sasuke mengalihkan pandangan. "Aku tidak merasa begitu."

Sakura tersenyum setelah menghapus sisa air mata di ujung matanya. "Artinya mereka selalu hidup di dalam hatimu."

Sasuke menunduk dan meneguk ludah. Dia menatap tangannya sendiri dengan gambar buram foto keluarganya di belakangnya. Kata-kata Sakura membuat dadanya terasa tentram, walaupun pedih karena rasa rindu berdenyut keras di antaranya.

Atensi mereka pada foto tersebut tertuju begitu lama sampai Sasuke kembali menengok ke dalam kotak. Sakura segera mengamankan foto itu. Sebuah pigura baru masuk ke dalam daftar belanjanya.

Beberapa gulungan dari klan Uchiha diamankan dan tidak dilihat lebih jauh karena hanya dapat dibaca oleh sharingan. Ada satu gulungan yang langsung Sasuke simpan di atas tangan Sakura. Sakura mengernyit dan tampak murung.

"Percuma saja. Aku tidak bisa membacanya."

"Gulungan ini berisi sesuatu tentang medis. Kau simpan saja dulu. Akan kubuatkan salinannya saat rumah kita sudah selesai."

Semringah kembali ke wajah Sakura. Dia memegang gulungan itu erat-erat dan menambatkan sebuah tekad di hatinya untuk segera mempelajari gulungan tersebut setelah Sasuke membuat salinannya. Punggungnya yang kini ditempeli lambang klan Uchiha terasa hangat. Meskipun Sasuke adalah satu-satunya Uchiha yang tersisa, bentuk penerimaan terhadap Sakura setrivial apa pun berarti begitu besar baginya. Terlebih, ini adalah gulungan yang mestinya hanya bisa dibaca oleh Uchiha.

"Mestinya masih banyak gulungan soal medis dan cakra yang lain, tapi sejauh ini hanya itu yang bisa kutemukan."

Janji pembuatan salinan gulungan lain pun sudah diutarakan oleh Sasuke. Setelah itu, Sakuralah yang langsung menengok lagi ke dalam kardus. Dia sudah terkekeh sebelum benda itu disentuhnya.

"Kok bisa kepikiran membawa ini?"

Sasuke mengedik. "Aku bukan lelaki humoris. Dan kupikir ini akan membuatmu tertawa karena kau beberapa kali membahas bajuku yang ini terlihat aneh."

Tawa Sakura meledak. Dia membentangkan sebuah pakaian berbentuk jumpsuit yang dulu sempat diam-diam Sakura pertanyakan bagaimana cara menggunakannya. Sasuke menunjukkan eksistensi resleting di samping pakaian hitam tersebut dan mendemonstrasikan cara memakainya pada sebuah boneka dinosaurus berwarna hijau.

Decakan jengkel Sasuke terdengar berkali-kali meskipun dia menikmati derai tawa Sakura yang menabuh gendang telinganya.

"Tunggu." Tawa Sakura berhenti ketika tangannya memegang boneka dinosaurus itu. "Ini milikmu?"

"Aku ingat sangat menyukai boneka ini dan kondisinya masih bagus."

"Kau berpikir ini bisa diwariskan kepada Sarada?"

Sasuke terdiam sejenak dan memperhatikan wajah Sakura. Dia mencoba membaca ekspresi perempuan itu, tetapi dia tidak mendapatkan petunjuk apa pun. "... apakah itu sesuatu yang salah?"

Sakura tertawa lagi, kali ini lebih lembut; terdengar keibuan. "Tidak! Tidak sama sekali. Kalau dibersihkan, boneka ini bisa menjadi milik Sarada. Untukku pribadi, mewarisi barang milik orang tua itu rasanya menentramkan … ah, bagaimana, ya, menjelaskannya? Intinya aku senang." Tangan Sakura meraba lehernya sendiri dan menarik kalung berbentuk bunga Sakura. "Ini diwariskan dari ayahku. Katanya, ayahku pun dapat dari nenekku yang sudah meninggal. Ayah memutuskan untuk memberikannya padaku begitu melihat warna rambutku yang pink saat aku baru lahir. Aku harap Sarada pun bisa merasakan sesuatu menyenangkan yang tak bisa kujelaskan dalam kata-kata ini melalui boneka itu. Apalagi, bonekanya manis."

Boneka itu menerima beberapa tepukan lagi sampai Sakura puas dengan debu yang sudah berterbangan. Dia tersenyum geli ketika mengangkat boneka tersebut ke udara dan memandangnya dengan saksama.

"Ngomong-ngomong, aku tidak menduga Sang Uchiha Sasuke pernah bermain dengan boneka manis seperti ini." Terdengar teriakan gemas yang berusaha ditahan lepas dari mulut Sakura. "Bayangan keimutan ini terlalu berlebihan untukku! Aaaah, aku mau lihat Sasuke-kun kecil bermain dengan boneka ini!"

Sasuke mendecak. "Kau selalu saja heboh untuk hal-hal sepele begini. Sarada bisa bangun."

Sakura lekas membekap mulutnya. Namun, peringatan Sasuke terlambat disampaikan karena sudah terdengar tangisan Sarada yang langsung terdengar keras. Keduanya lekas berdiri sembari menepuk-nepuk bagian depan pakaian mereka agar bebas dari debu. Sasuke melirik ke arahnya Sakura. "Tuh. Salahmu."

Sakura menjulurkan lidahnya. "Lihat saja, dia pasti langsung diam setelah melihatku."

"Oh, ya? Aku yakin dia akan diam setelah melihatku."

Wajah Sakura mengerut sebal sebelum dia lekas melangkah ke kamar Sarada. Sasuke menyusulnya dan mereka melangkah bersisian. Keduanya berdiri di samping boks bayi di saat yang sama dan tangisan Sarada mereda setelah mereka hadir di sana. Mereka saling berbagi pandangan dan tersenyum karena pada akhirnya tidak tahu siapa yang membuat Sarada berhenti menangis.

Sasuke langsung menghentikan Sakura ketika perempuan itu hendak menggendong anak mereka. Dia membuka pakaiannya sendiri dan Sakura melotot dengan wajah memerah.

"M-maksudmu?!"

"Apa?" Kaus hitam tersebut Sasuke taruh di lantai. "Kita baru saja bertemu banyak debu. Karena itu, lebih baik aku menggendongnya dengan kondisi begini, 'kan?"

Sakura menepuk jidatnya sembari menggeleng pada dirinya sendiri. Dia tidak habis pikir akan isi otaknya yang sempat memikirkan hal lain. Wajahnya masih terasa panas dan dia nyaris menyemprot Sasuke karena dia pikir Sasukelah yang memikirkan soal gairah di situasi begini–di depan anak mereka yang baru saja terbangun dan menangis. Namun, semprotan itu lebih layak ditujukan pada diri sendiri.

Sarada tampak tenang dalam gendongan Sasuke yang sudah terbiasa mendekap putrinya menggunakan satu tangan. Pemandangan itu membuat dada Sakura berdesir hangat, apalagi setelah dia melihat sisi baru dari Sasuke berdasarkan isi kotak penyimpanan barang lama miliknya.

Notes:

a/n:

halooo udah lama banget gak nulis sasusaku fdsfhsjkdhfuiyhfuewfh kangen! thank you Banjir TomatCeri for giving me an opportunity and a push to write a fanfic about them again T_T huhu seneng banget... kangen banget. btw! Banjir TomatCeri ada lagi, lho! Dan karya ini adalah contoh karya untuk kategori canon.

Banjir TomatCeri atau disingkat BTC tuh apaan sih? BTC adalah kontes fanfic dan fanart yang berpusat di sekitar sasusaku! penasaran? info lebih lanjut cek aja twitter @banjirtomatceri atau banjirtomatceri.carrd.co :)