Actions

Work Header

Di Masa Depan, Aku Ingin Menikah dengan Lili-Sensei!

Summary:

Yang Jeongin meyakini bahwa dirinya adalah a man with his word. Tujuannya hidup adalah untuk menepati janjinya, termasuk pada Lili-sensei yang bahkan tak mengingatnya saat mereka bertemu kembali setelah belasan tahun berpisah.

Notes:

Cerita ini hanya fiksi dan tidak berhubungan dengan kehidupan asli dari karakter yang digunakan.

Tulisan ini tidak dibeta.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“PR Matematika udah?”

Kalau saja bukan Beomgyu yang menepuk pundaknya sembari menyapa dengan sapaan yang tak membuat tenang, tentu saat ini Jeongin masih berjalan santai di koridor kelas, atau mengobrol sebentar dengan anak kelas lain, atau berbelok dulu ke kantin buat sekadar jajan gorengan yang masih mengepul panas dan harum. Bukannya lari tunggang langgang menuju kelasnya karena lupa tak mengerjakan PR dari mata pelajaran paling membuatnya alergi.

Beomgyu di belakangnya lari tergopoh-gopoh, napasnya satu dua karena jarang olah raga, beda sekali dengan Jeongin yang kalau saja ada kompetisi lomba lari lawan cheetah, Jeongin percaya diri akan menang.

Dibukanya pintu kelas dengan taksabar, mata Jeongin langsung menangkap gerombolan siswa di satu titik, bangku Kim Seungmin, si pintar yang tak pernah pelit berbagi pekerjaan rumah pada anak-anak lelaki yang kena tolak waktu minta contek sama teman-teman perempuan di kelas.

“Jeongin mau lihat punyaku?”

Namun rupanya Jeongin lebih beruntung dari anak lelaki lain karena disukai para gadis. Pemuda itu bahkan tak perlu susah-susah bertanya kalau nyatanya ditawari lebih dulu.

Di sampingnya, Beomgyu sudah tersenyum sumringah karena merasa tak perlu ikut mengantre buat mencontek pekerjaan Seungmin.

“Terima kasih, Yuna, tapi sepertinya aku mau menyalin punya Seungmin saja.”

Senyum Beomgyu secara praktis langsung hilang, ia tak mengerti dengan Jeongin yang selalu menolak keberuntungan.

Gadis bernama Yuna melipat bibir, terlihat agak kecewa, tapi akhirnya mengangguk tanpa memaksa Jeongin menerima tawarannya.

“Yang Jeongin begooooo!!!!!”

Jeongin tak menghiraukan Beomgyu, pemuda itu cepat-cepat mengeluarkan semua yang dibutuhkan karena bel masuk akan berdering sepuluh menit lagi. Yang menambah adrenalin, guru mapel matematika itu terlalu tepat waktu! Pak Changbin akan muncul di pintu kelas tepat setelah bel selesai berdering.

Sialnya, Jeongin dan Beomgyu gagal menyalin pekerjaan Seungmin sampai selesai saat guru paling killer seantero kelas dua belas itu berdaham di bingkai pintu kelas.

“Saya tidak menoleransi kecurangan, silakan semua yang menyalin pekerjaan Kim Seungmin untuk keluar dari kelas saya.”

Hanya dengan kehadirannya saja, Pak Changbin bisa mengubah suasana kelas jadi mencekam. Saat ia berucap, nada dingin dari suaranya bisa membuat seluruh siswa tegang dan terintimidasi. Pokoknya waktu pelajaran sedang berjalan, jangan sampai menarik perhatian Pak Changbin kalau gak mau tiba-tiba ditanya.

Hampir setengah dari jumlah anak lelaki di kelas keluar setelah pak Changbin berucap. Termasuk Kim Seungmin, ia bahkan diberi sanksi mengerjakan soal tambahan dan membimbing anak-anak yang menyontek pekerjaannya.

“Aku lebih suka hukuman lari keliling lapangan daripada disuruh ngerjain tugas lagi!” Beomgyu mendengkus di perjalanan mereka menuju perpustakaan. “Gara-gara kamu sih, Jeong, kalo aja tadi tawarannya Yuna diterima,” tapi Jeongin tetap abai.

Perpustakaan sekolah sebenarnya merupakan salah satu tempat nyaman buat membolos. Anak-anak lelaki dari kelas 12 IPS 3 itu bisa saja memilih rebahan daripada mengerjakan hukuman, kalau saja hukuman itu bukan datang dari Pak Changbin.

“Cewek yang kamu suka itu kayak gimana sih, Jeong? Greget banget tiap liat kamu nolak tiap ada yang nembak!” Kali ini Sunwoo yang bertanya, “Apa jangan-jangan kamu ga suka cewek?”

Beomgyu terkejut dengan ucapan Sunwoo buru-buru menoleh pada sahabat sepercontekannya, Jeongin mengerutkan kening, “Aku suka cewek, kok.” Beomgyu menghela napas lega.

“Kalaupun aku suka lelaki, tentu aku akan pilih-pilih!” Jeongin menyeringai, menatap sahabatnya dengan tatapan remeh.

“Terus? Siapa cewek gak beruntung yang kamu suka itu?”

.

.

“Menurutmu gimana Pak Changbin kalau di rumahnya?”

Biarpun dikenal galak, obrolan tentang guru matematika kelas dua belas itu tetap menarik. Atau memang menarik karena itu tentang pak Changbin si guru “killer”. Jeongin memilih tak ikut menimbrung, tapi telinganya tetap ikut mendengarkan.

“Katanya kalau bapak-bapak galak modelan pak Changbin itu anaknya cantik.”

“Istrinya juga cantik gak?”

“Biasanya begitu.”

“Memangnya pak Changbin sudah menikah?”

“Loh, emangnya pak Changbin gak kelihatan kayak udah nikah?”

Obrolan tentang pak Changbin makin seru saja di dalam lingkaran gadis-gadis tukang gosip di kelas, apalagi kalau ada Beomgyu di dalamnya. Jeongin yang berteman dengan anak itu praktis dapat info juga.

“Pak Changbin biar killer begitu tapi cara ngajarnya emang bikin ngerti, sih.”

“Setuju! Beda banget sama guru yang terlalu baik tapi pelajarannya ga ngerti.”

“Kalau disuruh buat vote siapa guru terbaik dalam mengajar, aku pasti pilih pak Changbin, sih.”

“Bener, bener! Kalau aja si bapak ramah dikit, auto jadi idola seantero sekolah!”

“Eh, Jeongin udah mau pulang?”

Memang sudah waktunya pulang bagi siapa saja yang tidak ada jadwal ekstrakurikuler. Jeongin menjawab pertanyaan Beomgyu dengan anggukan sesaat sebelum ia pergi.

Pukul empat sore, masih terlalu awal bagi Jeongin untuk pulang ke rumah. Ekskul lari atletiknya tak ada jadwal dan Beomgyu masih keasyikan menggosip. Mungkin Jeongin akan memanfaatkan waktu kosong sepulang sekolah seperti ini untuk kencan kalau-kalau ia punya kekasih―sayangnya, itu seperti tak mungkin― atau main game di netcafe. Ah, tapi Jeongin sedang malas.

Maka saat Kim Seungmin menyapanya di gerbang sekolah, Jeongin mengiyakan ajakan anak itu untuk sekadar berjalan-jalan di pinggiran sungai.

“Kamu gak ada ekskul?”

“Bolos. Lagi malas.”

“Oh, wow, aku baru tahu kalau Kim Seungmin bisa malas.”

Satu tepukan mendarat di kening Jeongin, Seungmin pelakunya. “Aku juga manusia.”

Sebelum memutuskan untuk duduk di atas rumput di samping sungai, Jeongin dan Seungmin sempat membeli makanan ringan. Keduanya tak banyak bicara, sibuk dengan makanan masing-masing.

Tempat mereka duduk adalah sebuah lapangan berumput yang selalu ramai di sore hari. Kebanyakan pengunjungnya adalah keluarga kecil atau pasangan kekasih. Agak jarang ditemui dua siswa yang masih berseragam duduk-duduk di sana, karena biasanya anak sekolah seperti Jeongin dan Seungmin lebih suka nongkrong di café internet atau game master.

Jeongin baru saja akan menyuapkan sepotong telur gulung ke mulutnya saat seorang anak jatuh tepat di depan matanya.

“Aduh, kamu gak apa-apa?”

Masih dengan posisi jatuhnya, bocah itu menoleh lalu menggeleng. “Boki ndak apa-apa.”

Biar begitu Jeongin tetap mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan pada bocah itu sesaat sebelum seseorang yang lebih dewasa datang sembari memanggil nama anak itu.

“Yongboki― eh?”

“Pak Changbin?”

Mereka saling tunjuk, tapi pak Changbin mengerutkan kening, mungkin lupa dengan nama dua muridnya yang tadi pagi dia hukum dengan tugas tambahan.

“Oh, Kim Seungmin!”

Orang-orang bilang, guru-guru akan lebih mudah mengingat siswa pintar dan nakal. Rupanya itu memang terjadi, karena dibandingkan dengan Seungmin, Jeongin terlalu biasa untuk bisa diingat guru.

Pak Changbin masih menggunakan setelan kerjanya, mungkin belum sampai rumah anaknya ini sudah merengek ingin main di taman. Tapi jujur saja Jeongin sedikit pangling, guru matematikanya ini terlihat lain saat di luar sekolah.

“Saya ingat kamu, yang tadi pagi mencontek pekerjaan Seungmin, kan?”

Jeongin tak bisa mengelak selain tersenyum canggung sembari mengangguk.

“Ini anak saya, Yongbokie coba kenalan sama murid ayah,”

Yang dipanggil Yongbokkie mengangguk malu-malu lalu memperkenalkan diri. Anak pak Changbin rupanya berusia enam tahun, tubuhnya terlihat kecil untuk anak seusianya, Pak Changbin bilang Yongbokkie memang susah makan. Seungmin dan Jeongin lagi-lagi terkejut karena Pak Changbin tiba-tiba memberi informasi terlalu banyak.

“Kalian mau ketemu dengan istri saya?”

Jeongin baru saja akan menolak ketika Seungmin mengiyakan dan tersenyum jahil padanya. Tahu-tahu saja tangannya sudah menggandeng tangan kecil Yongbok, berbagi dengan Seungmin yang menggandeng tangan lainnya milik si bocah.

Tempat keluarga kecil Pak Changbin menggelar karpet piknik rupanya tak terlalu jauh dari tempat dua siswa kelas 12 itu duduk. Dari jarak lima meter, mata Jeongin menangkap siluet seorang perempuan dengan rambut cokelat sepunggung duduk memunggungi arah datang mereka.

Entah mengapa, Jeongin tiba-tiba merasa sesak di dadanya, seperti déjà vu, padahal jelas-jelas ia belum pernah bertemu istri dari gurunya itu sama sekali. Tapi rasanya terlalu familiar.

“Bunda,” Pak Changbin menepuk pelan pundak sempit istrinya, suaranya begitu lembut sampai-sampai Seungmin dan Jeongin tak percaya kalau laki-laki itu adalah orang yang disebut-sebut sebagai guru killer. “Ada murid ayah.”

Saat itu juga dada Jeongin mencelos berbarengan dengan berbaliknya wanita itu dengan bibir yang mengelim senyum.

“Oh, muridnya ayah?”

Rasa-rasanya dada Jeongin ingin meledak saat itu juga. Suara itu masih sama, wajah itu masih sama walaupun terlihat lebih dewasa, orang itu adalah dia.

“Lili sensei?”

.

.

“Istrinya pak Changbin beneran cantik banget loh,”

“Anaknya juga cantik!”

Pagi hari selanjutnya Seungmin mendadak jadi biang gosip baru. Topik yang ia bawa benar-benar membawa atensi satu kelas untuk mengerubungi mejanya.

Berbanding balik dengan Jeongin yang menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan. Kepalanya pusing karena tak bisa tidur semalaman. Wajah istri Pak Changbin yang kebingungan saat ia menyebut panggilannya dulu cukup membuat rasa kecewa muncul. Rasanya dada Jeongin sesak sekali sampai ia ingin menangis.

Lili sensei, begitu Jeongin memanggil wanita itu saat ia kecil.

Jeongin kecil menghabiskan waktunya di tempat penitipan anak karena kedua orang tuanya bekerja. Ia selalu datang paling pertama dan pulang paling terakhir dibanding dengan anak-anak lain. Jeongin bahkan pernah datang ketika penitipan anak belum buka. Entah sesibuk apa orang tuanya itu, Jeongin kecil tak mengerti, ia hanya menurut ketika diminta untuk menunggu di depan pintu sampai pegawai penitipan datang.

Anak itu sudah terbiasa sendiri, sampai suatu hari, seorang gadis dengan wajah tak ramah datang memperkenalkan diri sebagai pegawai baru di penitipan itu.

Bagi Jeongin kecil, Lili sensei itu keren. Wajahnya bisa tiba-tiba berubah menjadi cantik sekali ketika berbicara dengan anak kecil, tubuhnya juga wangi sekali membuat Jeongin ingin selalu memeluknya. Lili sensei juga jago sulap, dia bisa memanggil kucing-kucing datang ke penitipan ketika Jeongin tinggal sendirian menunggu jemputan.

Sejak kedatangan Lili sensei, Jeongin tak pernah lagi takut kesepian menunggu. Lili sensei selalu ada ketika ia datang, dan menemaninya sampai ia pulang.

Tapi rupanya, ingatan itu malah membuat Jeongin yang sudah tumbuh menjadi remaja tanggung, merasa sesak.

Teman-teman sekelasnya masih asyik membicarakan keluarga kecil Pak Changbin, tak akan ada yang sadar kalau Jeongin berjalan dengan lunglai menuju ruang kesehatan.

Mungkin hari ini ia akan membolos dulu.

.

.

Di hari yang lain Seungmin mengajak Jeongin mengunjungi rumah Pak Changbin karena gurunya itu mengundang mereka datang.

“Katanya Yongbokkie ingin main sama kita,” jelas Seungmin. Ingin sekali Jeongin mengatakan tidak, tapi sisi lain hatinya ingin kembali melihat Lili sensei-nya. Ia ingin lebih banyak mengingat garis wajah wanita yang diam-diam ia simpan perasaan untuknya selama belasan tahun.

Maka saat dua pemuda itu sampai di depan rumah guru mereka di akhir pekan, istri kepala keluarga kecil itu yang menyambut.

“Pak Changbin tadi ditelfon pihak sekolah, katanya ada urusan mendadak.”

Dalam hari Jeongin mendecih. Urusan mendadak apa di akhir pekan ini, paling-paling Pak Changbin cuma diajak mancing oleh kepala sekolah.

Jeongin tidak tahu Seungmin suka anak kecil, tapi Yongbok terlihat menempel dengan pemuda itu. Jeongin yang pada dasarnya memang kaku sulit untuk berbaur dengan dunia anak kecil, meskipun yang ia lihat, Yongbok adalah tipikal bocah yang tidak menyebalkan dan sopan.

Maka pemuda tujuh belas tahun itu hanya bisa membeku di tempatnya, sampai istri Pak Changbin datang dengan senampan minuman dan kudapan.

“Jeonginnie― atau mungkin, Iyenie?”

Sontak mata sipit Jeongin membulat.

“Maaf ya, Iyen, saya nggak langsung ingat kamu di pertemuan pertama.”

Tolong jangan menampakkan wajah merasa bersalah seperti itu, Lili sensei! Teriak Jeongin dalam hati.

“A-ah, itu bukan masalah besar, Li― maksud saya, Ibu Seo,”

“Oh, tak apa kalau Iyenie masih mau panggil saya Lili sensei,” kemudia wanita itu terkekeh dengan cantik, membuat Jeongin ingin menangis sekaligus marah.

Marah karena pada nyatanya, senyuman itu bukan miliknya. Dan terlalu mustahil untuk ia dapatkan.

.

.

Hari-harinya kemudian berubah menjadi bulan-bulan di mana Pak Changbin makin sering mengundang dua muridnya datang ke rumah. Entah karena memang permintaan anaknya atau Pak Changbin saja yang berdalih karena ingin bertemu teman-temannya di akhir pekan setelah seminggu sibuk bekerja.

Mau tak mau Jeongin juga meningkatkan nilainya di mata pelajaran yang ia benci. Biar bagaimanapun ia bisa merasa malu dan sungkan. Guru matematikanya sudah hapal nama dan wajahnya, ia tak bisa sembunyi lagi kalau tak mengerjakan PR atau diminta mengerjakan soal di papan tulis.

Hal itu juga membuat intensitas pertemuannya dengan istri Pak Changbin meningkat.

Sejauh ini yang ia tahu Lili sensei menjadi seorang ibu penuh waktu. Sesekali saja wanita itu mengikuti kelas memasak atau baking untuk menunjang hobinya. Pak Changbin juga punya usaha lain sebagai pemasukan pasif. Anak mereka tumbuh jadi gadis cantik yang cerdas dan sopan. Sungguh keluarga kecil yang bahagia.

Namun sialnya, Jeongin benci melihat itu.

Jeongin berpikir kalau perasaan yang ia jaga sedari kecil itu bisa berakhir sesuai harapannya. Ia pikir Lili sensei juga akan menunggunya jadi pemuda dewasa dengan sebuket janji untuk bahagia bersama. Jeongin pikir―

Ah, rupanya dia terlalu naif.

Maka di suatu waktu mereka duduk bersama, pemuda itu berniat mengungkapkan semua perasaan yang telah ia pendam dua belas tahun lamanya.

“Ada yang mau Iyeni sampaikan pada sensei?”

Bahkan saat wanita itu menyebut dirinya dengan sensei, Jeongin ingin melompat dan merengkuhnya kuat-kuat. Menjadikan miliknya sepenuhnya.

Hari itu Lili sensei terlihat cantik―tidak, karena nyatanya Lili sensei selalu tampak cantik di mata Jeongin―tapi kali ini terlihat berkali lipat lebih cantik.

Mereka duduk berhadapan di salah satu meja pujasera sebuah mall. Yongbok sibuk bermain di playground ditemani Seungmin.  Mereka benar-benar hanya berdua.

Perlu waktu untuk Jeongin memulai ucapannya. Ia mempersilakan ibu muda di depannya berbicara lebih dulu, ia bercerita tentang kelas memasaknya minggu lalu, tentang anak lelaki teman sekolah Yongbok yang sering menempeli anaknya itu, atau bertanya apakah suaminya masih galak saat mengajar matematika di kelas terakhirnya bulan lalu. Tapi Jeongin selalu kehilangan fokus. Pemuda itu lebih banyak mendengar dan merespons iya tidak ketika si wanita bertanya.

Jeongin melakukannya. Ia berniat merekam banyak-banyak rupa Lili sensei dalam ingatannya.

Karena bulan depan Jeongin akan pergi lagi. Kali ini ia pastikan akan pergi tanpa menyimpan sedikitpun harapan lagi pada Lili sensei. Cinta pertamanya.

“Jadi Iyennie akan berangkat bulan depan?”

Jeongin mengangguk.

“Kalau sempat, tetap kirimi kami kabar, ya?”

Lelaki muda itu mengelim senyum, lalu mengangguk.

“nanti aku akan kirimkan foto bersama bunga sakura. Katanya musim semi di Jepang itu cantik sekali,” seperti sensei.

Lili sensei membalas senyumannya, “Terima kasih, Iyennie, Yongbokkie pasti senang sekali.”

Jauh di lubuk hati Jeongin, ia tak ingin pergi, ia ingin terus melihat senyuman Lili sensei secara langsung.

“Oh, iya, sensei punya kabar bahagia,” Wanita itu terlihat antusias, senyumnya mengembang makin lebar, “Yongbokkie akan segera punya adik!”

Deg.

Suara dadanya itu terdengar terlalu keras di telinga Jeongin.

Niatnya untuk menyampaikan perasaannya urung. Ia mendadak merasa kurang ajar jika tetap bersikukuh untuk memberitahukannya di saat wanita itu sedang dipeluk bahagia oleh keluarga kecilnya.

Jeongin mengelim senyum. Ia mengucapkan selamat.

.

.

Satu bulan berlalu terlalu cepat.

Jeongin tak ingat sudah melakukan apa saja sampai baru sadar kalau hari itu adalah keberangkatannya menuju negeri matahari terbit.

Tanpa disangka-sangka, keluarga kecil Pak Changbin datang mengantar. Mereka bilang Yongbok juga ingin mengantar Jeongin setelah dua hari yang lalu mengantar Seungmin berangkat ke negeri di bumi bagian barat. Ada Lili sensei di sana, tersenyum bahagia dengan wajah cantiknya yang teduh.

Jeongin mendapatkan sebuah pelukan yang telah lama ia rindu. Pelukan yang selalu ia dapatkan dua kali sehari dua belas tahun lalu, setiap ia datang dan pulang dari tempat penitipan anak.

Pelukan yang dulu terasa sangat besar, kini menyempit karena tubuhnya lebih besar dari sensei. Tapi hangat pelukan itu masih sama.

“Sukses untuk sekolahmu di sana ya, Iyennie,”

“Iya, sensei, doakan aku, ya!”

Tepat setelah pesawat lepas landas, lepas juga pertahanan Jeongin.

Ia menangis dalam diam sembari meremat dadanya yang tak pernah sembuh dari sesak.

“Kenapa orang dewasa sering meremehkan janji dari anak kecil? Apa mereka hanya menganggap kami sebuah lelucon?”

.

.

“Sensei … Lili sensei!”

“Iya, Iyennie, ada apa?”

“Mari kita membuat janji,”

“Janji apa itu?”

“Aku akan jadi laki-laki dewasa yang keren!”

“Oke!”

“Terus, aku akan menikah dengan sensei!”

“Ahahaha … oke, oke!”

“Sampai saat itu tiba, maukah sensei menunggu?”

“Tentu!”

“Janji jari kelingking?”

“Janji!”

Tamat.

.

.

.

Omake

“Eh, Bunda, hati-hati …”

“Ah, terima kasih, sayang, untungnya ada kamu.”

Jeongin tersenyum, tangannya menuntun tangan cinta pertamanya itu dengan sangat hati-hati.

“Bagaimana kampus barumu? Mahasiswanya baik-baik, kan?”

Dan Jeongin membalasnya dengan kekehan, “Yaaa begitulah, aku baru satu minggu di sana, mereka belum kelihatan jelek-jeleknya.”

“Hush, jangan begitu, ah, kamu harus jadi dosen yang mengayomi, ya?”

“Siap, Bunda.”

Dari jauh, seorang anak laki-laki berjalan sembari berteriak papa ke arah Jeongin. Anak itu membawa nampan berisi sepiring kue brownies yang masih hangat.

“Hati-hati, Jungwonnie, oh, browniesnya masih panas.”

Setelah nampannya diambil alih oleh si papa, anak bernama Jungwon itu naik ke atas pangkuan wanita yang ada di sana.

“Nenek, tadi aku bantu mama bikin kue, loh!”

“Benarkah? Jungwonnie memang cucu nenek yang paling hebat!”

Hati Jeongin menghangat melihat pemandangan di hadapannya.

Ia pernah membayangkan berada di posisi ini bersama Lili sensei. Dan hal itu benar-benar terjadi, walaupun tak sepenuhnya sesuai dengan apa yang ia inginnya.

Namun setidaknya, ia bisa terus berada di dekat cinta pertamanya itu, walaupun bukan dengan perasaan yang dulu ia punya.

Notes:

Cerita ini didedikasikan untuk kawanku Linnnnnnnnn skskkskskks maaf karena baru aku post sekarang huhuhu
masih ada beberapa cerita yang aku tulis buat kamoooo jadi tolong jangan bosan untuk berteman dengan diriku :'D

semoga kamu suka dengan ceritanya ehe

Series this work belongs to: