Work Text:
Jika diibaratkan, Taeyong layaknya bunga mawar yang tumbuh seadanya di lingkungan dimana tak ada bunga lainnya. Di tempat yang manusia enggan untuk peduli, yang tak disangka-sangka terdapat ciptaan indah memberi warna kontras pada lingkungan penuh warna monokrom. Seolah Tuhan ingin memberi keindahan tak terduga sebagai hadiah bagi kelompok kecil manusia. Dalam hal ini, segelintir orang yang mengenal Taeyong.
Sebaliknya, aku bukanlah bunga yang membawa keindahan di dunia. Namun kupikir setidaknya aku ingin membuat ibarat yang dekat dengan bunga. Apakah pohon merupakan ibarat yang bagus? Mungkin terdengar tidak keren, namun jika agar bisa bersama bunga, tidak apa-apa. Bunga indah ini, harus kulindungi.
Jika boleh jujur, kami sangatlah berbeda. Aku telah terbiasa dengan kemiskinan yang dialami oleh keluarga kami. Segala bentuk pekerjaan yang menghasilkan uang akan kulakukan asal tidak merugikan orang lain. Aku mulai menanamkan pemikiran ini sejak di kepalaku hanya ada Taeyong. Aku tidak melakukan pekerjaan kotor lagi, dengan membayangkan bahwa Taeyong akan membencinya. Sebut saja aku gila.
Berbeda denganku, kurasa kemiskinan bukanlah hal yang pantas dialami oleh Taeyong. Paras ayunya, tutur katanya, lemah lembut perilakunya, akan lebih baik jika ia berasal dari keluarga bangsawan. Entahlah, kurasa ia terlalu indah untuk hidup di lingkungan kumuh penuh risiko kriminal dan kelaparan.
Namun dalam hati aku sedikit mengucap syukur karena ia sama sepertiku. Terjerat lingkaran kemiskinan, bertaruh tentang kemana hidup akan membawa kami pada esok hari, dan menerapkan sikap siaga setiap saat. Memang sulit menjalani kehidupan tak menentu karena kemiskinan, beberapa kali kulihat Taeyong menangis di balkon rumahnya saat tengah malam. Aku yang baru pulang dari pekerjaanku sebagai kasir minimarket malam itu hanya ingin berlari menuju tubuh kecilnya dan merengkuhnya erat. Ingin kubisikkan kalau ia bisa bergantung padaku kapan saja. Namun aku terlampau takut, meski orang-orang kerap mengandalkanku dan memuji keberanianku.
Jeong Jaehyun sebelum mengenal Lee Taeyong hanyalah pemuda urakan yang suka berkelahi dan menghalalkan segala cara demi uang. Bagaimana mungkin aku berani untuk berharap pada Taeyong yang indah bahkan hingga perilakunya yang lembut? Yang bahkan menyakiti lalat saja tidak sanggup.
Diatas itu semua, aku tetap bersyukur dan enggan meminta lebih. Walau rasa syukurku hanya sebatas tentang kami yang tinggal di lingkungan yang sama, tidak apa-apa. Melihatnya dari kejauhan, itu sudah cukup.
Suatu pagi aku dengan sengaja mengambil jalur memutar hanya agar bisa mencuri pandang pada Taeyong yang baru saja membuka pintu rumahnya yang hingga pukul tiga sore akan dipenuhi bunga. Bagian depan rumahnya yang kecil akan difungsikan untuknya menjual berbagai macam bunga, merangkainya ataupun membuatnya menjadi buket. Pekerjaan ini sungguh cocok untuknya, jika aku jujur.
Kami berbincang sekadar bertegur sapa. Aku melambaikan tangan padanya yang sedang mengatur bunga-bunga pada sebuah vas dengan gerakan hati-hati. Dengan senyum yang mengembang, ia menanyakan kabarku dan apakah aku sudah sarapan pagi itu. Aku tidak ingat sama sekali apa yang keluar dari mulutku untuk menjawabnya. Yang kuingat hanya aku berlari tergesa-gesa sambil berpamitan dengan serampangan. Cukup ceroboh tapi mau bagaimana lagi, aku takut jantungku meledak jika terlalu lama disana.
Menyukai Taeyong sudah terlalu berlebihan bagiku, apalagi menginginkannya. Maka adalah sebuah keajaiban bila beberapa hari setelahnya aku mendapati Taeyong pada pukul sembilan pagi di depan pondok kecilku yang kumuh dengan mataku yang bahkan belum sepenuhnya terbuka.
Sialan, dia benar Lee Taeyong.
Dengan gerakan serampangan (lagi), segera kubereskan kekacauan yang kutimbulkan bersama teman dan beberapa penagih utang dari bar semalam. Beberapa botol alkohol, bungkus marijuana yang bahkan aku tidak tahu milik siapa, dan dua bungkus kondom yang salah satunya telah robek menyisakan kemasannya saja.
“Maaf, aku tahu ini sedikit berantakan.”
Fuck Jaehyun, ini SANGAT berantakan.
“Tidak apa, maaf jika aku mengganggu.” Sahutnya dengan senyum tipis dan gestur anggun. Astaga, bagaimana bisa ia begitu indah?
Aku sampai lupa jika belum mengenakan atasan karena terlalu terkejut dan terburu-buru.
Setelah mengenakan t-shirt hitam yang kurasa pantas, kuhampiri Taeyong dengan dua piring ham dan telur, serta sebotol jus.
“Hanya ini yang bisa kutemukan di kulkas.”
“Oh! Kau tidak perlu, sungguh.”
“Well, ham dan telur tidak akan membuatmu terlalu kenyang, sebenarnya.”
“Baiklah.” Ia tersenyum lagi.
Astaga, senyum itu! Mungkin aku benar-benar sudah gila.
“Jadi, aku secara tidak sadar memperhatikan. Sejak saling mengenal dua tahun lalu hingga sekarang, kau seperti menghindar dariku. Apakah aku memiliki hal yang salah denganmu?”
Oh.
Oh!
“Tidak! Maksudku tidak, Taeyong. Aku hanya... kau tahu—”
—sangat menyukaimu.
“Aku hanya sibuk eh, ya aku sibuk.”
Mendengarnya membuat senyum itu sedikit meredup.
“Kau tahu, kupikir kita sudah lama tinggal di lingkungan yang sama tapi hanya itu.”
“Yeah, mungkin aku harus meluangkan waktu.” Jawabku sekenanya.
Diam-diam jantungku berdebar cepat.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu.”
“Seperti yang kau lihat, sangat baik.”
“Okay.”
“Okay?”
Perlahan pipi gembil itu memerah.
“Dengar, jangan potong perkataanku setelah ini. Janji?”
“Okay...”
“Sudah lama sejak kita tiba disini dan memulai kehidupan masing-masing. Selama itu pula aku memperhatikanmu. Sekeras apa kau bertahan untuk dirimu sendiri, untuk kehidupan sekolah adik kecilmu, Jeno. Kau sangat hebat dan kurasa kau harus tahu. Aku tidak pernah tahu apa pekerjaanmu yang sebenarnya, tapi melihatmu pulang setelah beberapa hari dan kadang mendapatkan luka-luka membuat hatiku sakit, Jaehyun. Aku, aku... menyukaimu, Jeong Jaehyun.”
What the actual fuck?
© elixrty.
