Work Text:
Kini Jaemin paham betul kata-kata bijak perihal rasa harus diungkapkan sebelum terlanjur menyiksa batin. Pada akhirnya rasa akan berbicara dengan sendirinya, sekalipun tak diucap tapi kata orang mata tak pernah terselip bohong di kedua irisnya. Bagai jendela transparan tempat para manusia berkaca pada ihwal seluk beluk hati, termasuk rahasia yang dibiarkan terpendam atau keinginan-keinginan duniawi hati yang sengaja diredam.
Tapi jika dipikir-pikir kenapa harus hari ini dan bukan hari lain? Kenapa harus detik ini ketika mereka mendarat di Jerman dengan Jeno tepat duduk di sisinya bersama mata terpejam dan kepala bersandar di pundaknya. Kenapa juga harus jatuh lagi pada momen ini? Agaknya waktu memerangkap Jaemin hingga kepayahan kakinya untuk sekedar melangkah ke depan, malah terjebak ia dalam kilas balik masa lalu.
Rasa khawatir ketika melihat kerumunan penggemar di bandara, mengawasi Jeno dengan sengaja berjalan sedikit di belakang agar dirinya bisa melihat pemuda itu lebih jelas. Atau ketika mereka bisa bercengkrama tanpa jarak sambil menunggu pesawat lepas landas.
Jadi, Jaemin menyimpulkan bahwasanya selama ini di balik diam dan pertahanan diri, sebenarnya masih terselip rasa ingin memiliki. Memutar kembali masa silam dan menghadirkannya di titik waktu kini.
"Jen, bangun. Sebentar lagi sampai," Jaemin menepuk lembut lengan Jeno dengan senyum terselip di bilah bibir.
Demi apapun rasanya Jaemin ingin mengecup pipi putih milik pemuda di muka kala Jeno mengucek matanya dengan begitu lucu untuk usir kantuk. Ah, kalau begitu Jaemin ingin salahkan atmosfer Jerman yang mendukung seolah-olah ia teringat di negara dengan luas 357.021 kilometer persegi ini, Jaemin tak perlu memikirkan pandangan sosial dan norma perihal orientasinya yang berbeda.
Jaemin menegak ludah kala maniknya bertemu dengan sang pemuda Lee. Disambut sabit manis yang melengkung indah seturut garis bibirnya yang menekuk ke atas.
"Lelah, hm?"
Jeno menggeleng cepat, "Lelahnya terbayar karena kita bisa bertemu lagi dengan penggemar secara dekat. Jaemin juga pasti merasa seperti itu."
'Lebih dari itu, Jeno. Melihatmu begitu dekat, detik ini aku kembali jatuh dalam jerat,' ucap Jaemin tapi dalam hati. Jantungnya berdegup tak karuan seiring otaknya yang sulit mencerna keadaan.
"Hm! Aku juga merasa seperti itu, Jeno. Bisa bertemu penggemar. Melihat wajah bahagia mereka dari atas panggung. Aku rindu momen masa lalu."
—termasuk momen hidupku denganmu.'
Lagi-lagi dijabarkan dalam batin. Hanya untuk dirinya sendiri.
•••
Entah bagaimana bisa ruang persegi didominasi nuansa putih sanggup jadikan pikirnya berkelana kemana-mana seumpama ia sedang menjejak alam terbuka. Memang simpang siur angannya namun objek penyita pikirnya ialah sama; Lee Jeno seorang.
Bukankah mereka sudah terbiasa berbagi spasial yang sama? Tidur lelap dipisahkan jarang beberapa jengkal saja. Bukankah mereka sudah terlalu handal mengatur perasaan sekalipun terkurung dalam sisi yang satu? Buktinya sekalipun mereka jadi teman sekamar, segala rasa tetap berada di garis batas yang kentara.
Lantas mengapa malam ini terasa berbeda? Jaemin tak banyak ambil pusing saat tahu akan kembali menempati kamar hotel dengan Jeno namun setelah pintu terbuka, sejatinya Jaemin jadi dilanda kikuk dan gugup. Ah, sepertinya Jaemin mau mengarahkan telunjuknya pada satu alasan, menyalahkan kerlap-kerlip lampu Kota Frankfurt yang berkilau laksana taburan bintang; menakjubkan disaksikan dari balik kaca jendela sekaligus datangkan euforia pada rasa seakan-akan percikan romansa meletup tanpa aba-aba.
Sayup bunyi air yang terdengar samar dari kamar mandi justru dengan tega mulai banyak tingkah; hadirkan pikiran-pikiran gila sekaligus hangat dan rona pada pipinya. Kaca transparan yang pisahkan bagian kamar dan kamar mandi juga tidak menolong sama sekali sebab imaji Jaemin kian liar tak berdasar. Di balik tirai abu yang kini tengah menutupi kaca transparan, Jaemin bisa bayangkan fenomena keindahan. Jaemin rasa dirinya sudah mabuk kendati tak ada setetes alkohol yang merasuk. Namun imajinya kini benar-benar jauh dari kata patut, membayangkan sosok pemuda Lee yang tengah dilingkupi uap hangat air panas.
Refleks Jaemin menggeleng cepat dan kuat bermaksud usir pikiran yang kian memalukan, pun menepuk pelan pipi untuk kembalikan nalar.
"Apa yang kamu pikirkan, hah?" racaunya setengah menggumam. Pundak berjengit setelahnya saat dengar pintu kamar mandi terbuka, buru-buru meraih ponsel yang menganggur sejak tadi seraya gulirkan layar ke atas dan bawah.
"Jaem?" Suara berat Jeno menggema di antara hening.
Jaemin pura-pura sibuk memilih beberapa foto kemudian mengunggahnya satu demi satu ke sosial media. Apalagi jika bukan fotonya dengan subjek muara rasa? Lee Jeno yang berhasil membuat akalnya tak bekerja.
"Hm?" Jaemin menjawab seadanya, berpura-pura sibuk dengan urusannya sendiri padahal otak sibuk rapalkan kalimat ajaib 'jangan lihat. jangan lihat atau semuanya akan jadi berantakan'.
Sialnya situasi justru bekerja di luar kendali. Sialnya Jeno justru melangkah kian dekat menghampiri Jaemin yang masih betah menunduk. Sungguhlah Jaemin sudah bisa tebak pemandangan yang akan menyapa pandangnya detik itu juga.
Jeno in his bathrobe. Rambut basah pun bulir-bulir air yang menetes dari ujung surainya aliri ceruk leher putihnya. Jaemin sedang berusaha menjaga waras namun alih-alih segalanya dimudahkan, malah hancur berantakan.
"Kamu sedang apa? Kenapa serius sekali lihat ponselnya?" Jeno berusaha menilik berlandaskan kuriositas sementara Jaemin terpaku tak berkutik. Jantungnya seolah menabuh genderang perang; adu senjata antara hati dan logika yang tak berjalan beriringan.
Mau tak mau Jaemin memberanikan diri tatap Jeno yang tengah memusatkan atensi pada layar ponselnya. Bibirnya mengerucut dengan netra polos yang seakan tak tahu menahu.
Jaemin berdehem, mengusir rasa mengganjal di tenggorokan, "Err. Hmm. Aku habis post foto kita berdua di akun instagram. Bagus, 'kan?"
Sumpah demi semesta dapat ia dengar sendiri pita suaranya yang bergetar sebab dikuasai gugup seturut topik mengada-ada yang begitu garing di telinga.
Sekon berikutnya ia mematung tak berdaya, menelan ludah berkali-kali kala pandang keduanya bertemu dalam radius dekat. Main mata namun sejatinya juga mempermainkan perasaan.
Jeno memberi anggukan singkat sebagai reaksi namun bukan hal itu yang tertangkap netra sang pemuda Na, melainkan bagaimana sang lawan bicara tiba-tiba menggeser titik fokus pandangnya lalu menjauhkan kepala berusaha keras ciptakan jarak. Jaemin bisa lihat dengan jelas bola mata Jeno bergerak kesana kemari mencari distraksi.
Gila. Benar-benar gila.
Riuh ramai suarakan sorak tanpa jeda, timbulkan gemuruh gila dalam dada. Belum lagi jutaan lampu kota jadi saksi bisu, berpendar tanpa jemu menarik pantulannya pada bias-bias suasana berbalut intimasi.
Jaemin agaknya sedang kerahkan tenaga merangkai segala probabilitas yang mungkin terlaksana. Mungkinkah Jeno juga rasakan yang sama? Mungkinkah jantungnya juga berdegup kencang? Mungkinkah hatinya juga ingin menjerit keras? Mungkinkah mereka tengah jadi manusia yang malam ini ditundukkan rasa?
Jaemin bergerak hati-hati, bangkit berdiri menyejajarkan posisi tubuhnya dengan raga pemuda di hadapan.
"Jen?" Jaemin ingin dapatkan atensi Jeno kembali. Ia ingin tatap manik kelam itu sekali lagi, biar larut di sebingkai irisnya bak lautan memabukkan.
Yang diajak bicara masih coba hindari netra sang pemuda Na, mengedarkan pandang lalu melabuhkannya pada hamparan lampu kota yang bercahaya temaram seumpama pemandangan luar jadi satu-satunya hal menarik.
Serupa terkungkung pada lingkaran candu, tetaplah Jaemin berputar-putar di dalamnya. Begitulah yang ia lakukan manakala tatapnya lurus ke depan tak bergeser sama sekali untuk kagumi sisi wajah Jeno.
Sempurna.
Jeno selayaknya mahakarya paling luar biasa yang takkan tergantikan oleh siapapun juga.
Maka ia injak batasan-batasan yang menyesakkan. Maka tak pedulilah ia pada titik berat salah siapa perihal mengapa dirinya berperangai tak terkendali. Maka mantaplah langkah yang ia ambil demi mengikis jarak tersisa, tatap pantulan siluet Jeno pada kaca untuk lihat reaksi sang lawan bicara.
Konfrontasi batin dan logika sudah dimenangkan dengan begitu adil. Dieksekusi begitu nyata lewat uluran lengan yang tengah menggapai sang lawan bicara lantas menyentuh lembut pipinya seraya berucap pelan, "Jen? Can you look me in the eyes?"
Jeno menggigit bibirnya sendiri berusaha redam detak jantungnya yang berdebar tak beraturan. Menyerah kalah pada pertahanan saat telapak tangan Jaemin menyentuh wajahnya hangat. Sekilas kelopaknya terpejam hanyut dalam tiap sentuhan sarat afeksi. Maka biarlah presensi Jaemin mengaburkan garis hitam putih yang ia gambar begitu tapi. Maka biarlah rasa lucuti segenap titik kendalinya tanpa terkecuali.
Jeno mengalihkan atensinya lantas mengunci tatapnya pada manik Jaemin yang senandungkan afeksi begitu lantang.
"Aku tak tahu harus menyalahkan siapa setelah aku menahannya dengan begitu mahir selama ini. Aku ingin menyalahkan suasana Jerman yang membuatku merasa bebas tanpa halangan seakan ada tempat untuk orang seperti aku—kita. Aku juga ingin menyalahkan pendar-pendar lampu Kota Frankfurt yang seolah membuat aku terbawa suasana. Atau ingin menyalahkan kamu yang memiliki efek sedahsyat ini untuk seorang Na Jaemin. Tapi, mencari-cari salah adalah percuma di saat aku memang sudah jatuh sejak dulu. Tak diungkapkan pada akhirnya menyiksa aku hingga sejauh ini. I love you, Lee Jeno. I always love you. Kamu membuatku gila, Jeno. Gila dan tak berdaya." Jaemin memberi elusan lembut di pipi Jeno seraya guratkan senyum teduh.
Sempat Jeno mematung dalam beku. Lidah kelu tak sanggup untai kata. Hanyut begitu jauh seumpama Jaemin adalah samudra luas yang belum mampu ia taklukkan. Namun Jeno paham lebih dari itu; lebih daripada detak jantung yang selalu bergemuruh tiap kali pandang mereka bertemu, lebih daripada euforia yang melanda tiap kali jarak raga begitu dekat, pun lebih daripada desir nadi yang memanas tiap kali mereka bersentuhan baik sengaja ataupun tidak sengaja. Sejatinya Jeno paham ia telah jatuh. Jatuh sedalam-dalamnya pada sang pemuda Na, entitas raga pemikat hati dan jiwa.
Dengan gerak ragu Jeno menyentuh punggung tangan Jaemin yang melekat di pipi lalu merematnya erat. Detik berikutnya ia beri kecup singkat lalu meletakkannya pada dada, "Kamu bisa rasakan, 'kan? This heart beats for you, Jaemin."
Durja Jaemin merekah bak bunga musim semi, senyum terlukis lebar di sudut bibir kala tabir perasaan terbuka secara gamblang. Bagaimana dua hati selaras rapalkan harap yang senada lalu berakhir dalam barisan partitur yang sama; lantunkan melodi cinta nan syahdu.
Jaemin menarik raga Jeno tanpa ragu, membawanya berlabuh dalam dekapan kuat runtuhkan sekat-sekat mengikat. Senyum kemenangan terpatri kala lengan Jeno melingkari pinggangnya begitu natural, terasa begitu sesuai seakan Jeno memanglah tercipta bagi dirinya si manusia fana.
"Aku sayang kamu, Jeno. Sayang, cinta dan definisi apapun untuk segala bentuk rasa yang ada di dunia." Jaemin mengecup pucuk kepala pemuda dalam dekapan seiring rengkuhannya yang semakin erat tak rela melepaskan.
"I'm meant to love you, Jaem." Jeno membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jaemin, menghirup aroma leather residu dari parfum yang melekat pada permukaan kulitnya.
Jaemin pejamkan mata nikmati hangat tubuh Jeno yang bersatu dengan raga. Sesekali menggoyangkan tubuh keduanya laksana tengah menjelajah lantai dansa.
Lama dekapan penuh afeksi mereka bagi bermandikan sunyi yang tetap terasa nyaman sebelum suara Jeno memecah hening, "Can we go out tonight? Strolling around the streets, enjoy the night."
Jaemin melepaskan pelukan, beralih meraih pergelangan tangan Jeno lalu menautkan jemari keduanya, "Di sini, kita bisa lakukan apa saja. We can enjoy the night view, hold your hands freely in the street. Tell the world how much I love you."
Semu merah muda merayapi pipi putih Jeno, begitu kontras namun indah menurut pandang Jaemin.
Kata orang-orang cinta tak bisa dijelaskan secara mudah. Tidak sekedar satu tambah satu sama dengan dua, atau arah utara dan selatan. Namun Jaemin tak ingin menjadikannya rumit. Bagi dirinya, cinta adalah ketika memandang Jeno dan memastikan bahwa pemuda April itu bahagia. Tersenyum tulus tanpa paksaan, biar kelopaknya tenggelam laksana sabit di malam kelam.
•••
Membelah malam di antara lautan manusia yang haus akan semarak kehidupan. Beberapa mencari dalam obrolan ringan, beberapa penuhi bar dengan segelas bir dalam genggaman. Beberapa nikmati angin malam yang berhembus perlahan, beberapa memilih hanyut dalam ruang sepi sendiri.
Jaemin mengabsen beberapa aktivitas yang terperangkap netra. Manusia-manusia yang mencari euforia dalam manifestasinya masing-masing. Tak ayal atensinya tertambat pada beberapa pasangan sesama jenis yang bergandengan tangan, bahkan tak ragu berbagi pelukan juga kecupan.
Seringai muncul di sudut bibirnya lantas menoleh ke sisi kiri, mencari wajah Jeno yang tampak sibuk berkutat dengan pemandangan kota. Berikutnya bisikan tersiar lembut, "I wanna kiss you so badly. Seperti yang dilakukan lainnya."
Manik Jeno membelalak kala Jaemin ucapkan kalimat tersebut tanpa sejumput ragu. Malah dengan bangga menunjuk dengan wajah beberapa entitas raga yang tengah larut dalam cumbu mesra.
"Kamu tidak berpikir untuk melakukannya sekarang, 'kan?" Jeno bertanya sangsi. Masalahnya Jaemin adalah manusia dengan pikiran tak terduga. Barangkali ia sudah berubah nekat.
"Bagaimana kalau iya?"
"J-Jaem." Jeno tergugu seolah lidahnya jadi kaku. Bagaimanapun ada hal-hal yang tetap tak bisa mereka lakukan sekalipun berada di negara lain selama title public figure masih melekat.
Jaemin terkekeh kala menyadari ekspresi terkejut Jeno lalu menyentuh punggungny, "Bercanda. Aku tahu batasan, Jeno. We can do it later. In our room."
Jeno bergidik ngeri kala dapat ia rasakan hawa seduktif yang menguar pekat dari bilah bibir Jaemin sekaligus binar netra yang dipenuhi percikan bara.
"Apa yang kamu pikirkan sebenarnya, Jaem?"
Jaemin tertawa sekilas lalu meraih tangan Jeno, menautkannya sekilas seraya memberi elusan singkat. Perlahan kembali dekatkan wajah hingga hembusan nafas hangat sanggup buat Jeno meremang.
"Banyak hal yang kupikirkan, Jeno dan semuanya bukanlah hal yang patut untuk diucap sekarang," bisik Jaemin rendah diselingi intonasi penuh goda.
Jelas Jeno mengerti maksud perkataan Jaemin sekalipun terkesan ambigu.
Oh, God.
Malam ini akan menjadi malam panjang bukan?
Tinggal nyalakan saja pemantiknya, niscaya percikan bara meletup tanpa jeda bersamaa hasrat yang merajalela.
