Work Text:
“Hari-hari membakar habis diriku.
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.
Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan.”
—M. Aan Mansyur
“Dir, kamu tahu, cinta itu membutuhkan kesabaran yang setenang dasar lautan? Cinta itu seperti kesabaran tanpa dasar demi menggenggam diri yang setiap hari akan selalu hancur.”
“Hmm … begitu, ya?”
“Iya. Lalu Dir, andaikan kesabaran itu pupus, menurut kamu apa yang akan terjadi?”
Kala itu, di antara pijar bohlam yang mempersembah remang-remang dan bisikan televisi yang melansir siaran dini hari, di atas karpet hangat dan bantal yang berserakan, Fajar mengutarakan satu tanda tanya tak berujung kepada Nadir, dan tanda tanya itu senantiasa bergaung dalam kepala pemuda tersebut. Seraya berlabuh di atas bahu Nadir yang dinaungi helai rambutnya yang mulai panjang, Fajar bertutur dengan suara lirih setengah meracau, pandangan tertentang hambar, dan kala itu Nadir masih belum memafhumi makna dari tanda tanya Fajar yang sekonyong-konyong merunjam rusuknya di sela kebekuan hawa milik pagi buta.
Fajar mencintai orang tuanya yang serupa bara, menghangatkan, tetapi kuasa membakarnya tanpa sisa sampai menjadi abu. Tubuhnya yang beku acap kali mengais-ngais kehangatan dari belaian lembut ibunya atau tepukan bangga ayahnya. Namun, yang ia dapati justru rasa panas yang menyisakan jejak merah di pipinya, memadam, hitam, lantas merambah ke sekujur tubuhnya.
Fajar memang mencintai orang tuanya dan selamanya akan mencintai mereka berdua. Namun nyatanya, ia jauh lebih mencintai mimpinya; mimpi sederhana yang berkenan tunduk demi mencipta lantunan irama indah melalui dawai gitar. Sebuah cinta pertama yang ia jumpai kala dirinya baru menginjak bangku Sekolah Dasar.
Nadir masih mengingat dengan jelas betapa sepasang netra milik Fajar yang sepekat angkasa malam, serta-merta berbinar dilimpahi gemintang kala pandangannya berjumpa dengan salah satu gitar akustik yang dipajang di etalase toko musik dekat sekolahnya dahulu.
Dan kemudian segenap jagat mengamininya.
Jari jemari lentiknya laksana sebuah mantra yang sinambung berbunga setiap kali mencipta lantunan irama. Lantunan irama indah yang senantiasa ia lagukan kepada Nadir sebelum lelap bertandang. Lantunan irama indah yang kuasa membikin senyum pada paras baharinya menjelma baka.
Maka, tatkala tangan hangat sang ayah kembali menyisakan rasa panas juga jejak merah yang memadam hitam pada tubuh bekunya, dan hal itu terjadi hanya karena cintanya yang ingin sekali ia gapai, Fajar memilih bertahan sedikit lagi. Sedikit lagi, demi mimpinya yang tersirat selaku cinta pertama seorang anak laki-laki, dan demi Nadir-nya yang tersurat selaku cinta terakhir seorang pemuda rapuh.
Fajar sangka ia sanggup bersabar demi menggenggam dirinya yang saban hari hancur menjelma abu. Abu yang saban hari menyingsing dari bayang-bayang kehangatan orang tuanya. Abu yang saban hari dipungut jari jemarinya yang terlampau adun untuk menjamah hinanya suratan dunia.
Namun suatu hari, tatkala sang rawi terlelap dalam dekapan gulita malam, jari jemari itu berubah selaku badai angin. Berhamburan. Malang melintang. Tak berbentuk. Dan di bawah telapak tangannya yang piawai, Fajar meninggalkan bilur abadi atas kesabaran cintanya yang telah pupus.
Pergi.
Fajar memilih pergi; meninggalkan jagat buana supaya mereka tak lagi teperdaya akan kehangatannya yang fana—sebuah kehangatan yang senyap-senyap menyenandungi ratapan malam, juga meninggalkan Nadir bersama janji-janji mereka yang mengirap dalam sekejap—hanyut direguk ombak.
Fajar adalah kepergian pertama bagi Nadir.
Dan Fajar adalah satu-satunya tumpuan bagi Nadir yang kerap diperdaya semesta.
Sejak kecil, Nadir menanam gelisah akan kesendirian. Takut. Nadir takut sendirian. Dan di sana, Fajar akan senantiasa mengawaninya; melanglang angkasa belantara yang sembunyi-sembunyi membatin angkara kepada manusia. Mereka berdua merajut janji dan angan yang akan digapai bersama, tetapi seluruhnya binasa hanya dalam semalam.
Demi melipur dirinya sendiri kala itu, Nadir sinambung memandangi gitar akustik milik Fajar yang memang sengaja ditinggalkan pemuda itu di sudut kamarnya, menganggap bahwa Fajar hanya selintas lelap, kemudian kembali menyingsing esok hari demi memupus gulita malam.
Sebab sesungguhnya, Fajar-nya lengkara untuk pergi dan tak kembali. Setidaknya itu anggapan Nadir sebelum ia mafhum apabila di jagat buana ini, fajar masih menyingsing dan hanya selintas lelap. Tetapi pada sepasang netranya, fajar itu tak lagi hangat seperti hari-hari sebelumnya.
Nadir tak kuasa mengingat kapan terakhir kali dirinya menangis.
Apakah ketika ia menyaksikan Fajar yang kemarin masih memeluknya kini terbaring kaku kala dirinya sampai di rumah sakit? Atau ketika ia hanya membatu di gerbang pemakaman demi mengantar kepergian Fajar yang tak akan kembali pulang? Apakah ketika ia terjaga dalam sunyi nan mencekik yang membikin rungunya tuli? Atau ketika ia terlelap dalam lantunan suara Fajar yang berputar ribuan kali melalui rekaman ponselnya? Nadir sama sekali tak mengingatnya.
Sebab selepas kepergian Fajar tiga warsa silam, yang kuasa Nadir rasakan hanyalah hatinya yang lambat-lambat layu, membusuk, lantas berguguran di antara bilur abadi yang menodai pergelangan tangan elok Fajar.
Kata Fajar, cinta itu seperti kesabaran tanpa dasar demi menggenggam diri yang saban hari sinambung hancur. Dan Nadir mafhum bagaimana seluruhnya akan menjadi hancur sia-sia saban harinya.
Diawali dengan cinta Nadir kepada orang tuanya yang membikin Nadir menyerapahi diri tanpa ampun kala pendidikannya gagal berkali-kali. Kemudian cinta Nadir kepada mimpinya yang membikin Nadir sangsi akan keputusannya memuja diksi. Disusul cinta Nadir kepada mendiang neneknya yang memberi kepergian kedua bagi Nadir. Dan cinta Nadir kepada Fajar yang merampas sekujur dunia Nadir di bawah bayang-bayang senyum indahnya.
Nadir hancur.
Nadir bahkan sudah terlampau hancur untuk sekadar menyumpahi jagat raya yang menjadikannya bulan-bulanan.
Seperti saat ini, selepas membesuk kakeknya yang terbaring di rumah sakit, alih-alih kembali ke kediaman kakek dan mendiang neneknya yang beraroma debu, Nadir memutuskan beralih arah untuk menyepi di lautan; bersemayam di kaki pesisir yang sedikit mengotori celana denimnya, pemuda itu menjumput setangkai sigaret dan menyelitkannya di bilah bibir, lantas menyulut sigaret tersebut demi mengasih kelun tembakaunya kepada lautan.
“Fajar, kamu bilang cinta itu membutuhkan kesabaran yang setenang dasar lautan, bukan?” monolog Nadir setelah membiarkan bibirnya mencumbu tiga sesap sigaret. “Kamu benar, Jar. Cinta itu seperti kesabaran tanpa dasar demi menggenggam diri yang setiap hari akan selalu hancur, sebab aku merasa seperti sedang menghancurkan diriku sendiri.” Tangannya menjentikkan abu sigaret tepat di atas sepatu usangnya. “Atau aku ini hanya membiarkan diriku sendiri dihancurkan?”
Hening. Memandang hampa lautan luas tanpa kilau sang rawi, Nadir berbisik lirih di sela debur alun yang mengelebukan keputusasaannya. “Lalu apa bedanya dengan pasrah, hm? Jawab aku, Jar.”
Debur alun sinambung menyapu lembut pesisir, beriringan dengan sang bayu yang membujuk bunga-bunga miskantus di sekitar lautan supaya turut berbisik; mengisi kesunyian yang senantiasa Nadir dapati setiap ia melayangkan tanda tanya kepada Fajar.
Terkekeh miris tatkala kelun tembakau membubung halus dari sela bibirnya, Nadir kembali bermonolog, “Mengapa rasanya sakit, Jar? Apakah rasanya memang semenyakitkan ini, sebab itu kamu memilih pergi?” lirihnya. “Mengapa kita harus seperti ini, Jar? Apakah mencintai adalah sebuah dosa yang patut disumpahi alam semesta?”
Di bawah angkasa biru yang bersilir-silir menggabak, Nadir hanya mampu berharap abu tubuhnya melebur bersama pesisir yang akan mengantarnya hanyut ke dasar lautan. Setidaknya ia mampu berteduh di dasar sana kendati badai angin memorakporandakan jagat buana dan menjarah sang rawi. Setidaknya … setidaknya ia mampu meluruhkan duka pada sepasang netranya yang dirajam rindu.
“Fajar, haruskah aku berhenti dan menyusulmu?”
Selepas kepergian Fajar yang masih menjadi mimpi buruk tak berkesudahan, Nadir kerap mengindahkan berjebah tanda tanya tak masuk akal ketimbang ungkapan rindu akan sosok Fajar dari orang-orang sekitarnya. Seperti—mengapa Fajar yang selalu menaburkan kelopak tawa lebih memilih untuk layu? Mengapa Fajar memutuskan untuk melukis memori kuyup yang menyilukan? Atau mengapa Fajar lekas memupuskan kesabarannya akan suratan dunia yang memang sengsara ini?
Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Dan Nadir muak akan tanda tanya yang hanya mempersaksikan konotasi negatif tersebut, tanpa peduli denyut menduri macam apa yang telah Fajar lakoni saban detiknya.
Nyatanya mereka tak memafhumi apa pun tentang Fajar.
Mereka yang tak mencecap bagaimana rasanya ditinggalkan dan kehilangan hanya mampu menghakimi kematian Fajar. Mereka bahkan tak memafhumi bahwasanya keputusan Fajar untuk memupuskan segenap cintanya dua kali lipat jauh lebih sulit; terlampau sulit sampai ia harus mengorbankan denyutnya demi melelapkan lara-lara menyembilu tersebut.
Sedangkan seluruh kematian itu serupa sakitnya, entah mereka yang dijemput untuk pulang ataupun mereka yang memilih pulang lebih awal.
Sore itu, tatkala binar jingga berupaya menghunjam awan kelabu, Nadir kembali memijakkan tungkainya di rumah ini untuk mengantar kepergian mendiang kakeknya yang berpulang beberapa jam yang lalu; sebuah rumah terakhir bagi anak-anak Adam, sebuah rumah yang masih mengguncang batinnya kendati Nadir sudah dua kali mengantar cintanya pulang.
Bagai déjà vu, seluruhnya kembali berputar serupa rekaman kaset lawas tatkala Nadir hanya kuasa mengindahkan laungan nestapa yang menggema, menghidu aroma tanah basah serta bunga-bunga yang bergumul tak karuan, lantas memandangi kedua tungkainya yang kembali membatu di gerbang pemakaman.
Hampa.
Rasanya hanya ada ruang hampa yang membikin sepasang netra Nadir kian menggersang, mengasih hamparan sungkawa demi menyelami duka yang kembali mati di hatinya.
Nadir tak kuasa—ia tak kuasa memintasi gerbang ini.
Mengikuti tungkainya yang masih menyisakan kewarasan, Nadir merelakan langkahnya mengambil alih duka yang mati-matian ingin ia hindari. Bersama pikiran hampa belaka, ia membiarkan langkahnya yang agak terhuyung-huyung itu menaiki bus antarkota terakhir. Tak memedulikan keluarganya yang mungkin akan mencari-cari Nadir, atau skenario lebih buruknya ia akan dimaki habis-habisan lantaran dianggap tak berbakti kepada mendiang kakeknya yang senantiasa menjadikan Nadir selaku cucu tercintanya.
Persetan.
Nadir segera menyilangkan kedua tangannya tatkala kebekuan milik awan kelabu menjelma bayu, lantas menyapu tubuhnya yang hanya dibalut kemeja hitam. Sepasang netra pemuda itu memandang lurus ke arah luar jendela bus di sampingnya, mengamati para petani yang membajak sawah bersama kerbaunya, lalu para pedagang yang berjalan kaki seraya memanggul sisa-sisa dagangan mereka. Pandangannya kemudian beralih memandangi anak-anak desa yang bermain lumpur di pinggir sawah bersama air muka bahagia. Mereka semua tergelak sedemikian lepas, seakan tak ada pikulan pada batinnya demi menyambut hari esok. Dan hal itu membikin Nadir menghela napas pelan.
Ia rindu.
Ia rindu masa kecilnya.
Nadir begitu merindukan masa di mana dirinya pertama kali mengenal sosok Fajar yang lugu dan ceria bak mentari yang menyingsing. Nadir begitu merindukan masa di mana kakek dan neneknya menyambut dan menghamparkan pelukan hangat setiap ia pulang ke desa. Nadir merindukan masa di mana dirinya hanya bermain dan tergelak sedemikian lepas tanpa harus menghindari berjebah kegagalan maupun memikul gelebah.
Setengah jam membiarkan reminisensi masa kecilnya melanglang bersama jalanan yang hanyut dari balik jendela bus. Nadir kembali melabuhkan dirinya di sebuah jalan setapak yang mengantarnya pada lautan biru. Lautan yang mungkin saja memberinya ketenangan seperti yang Fajar katakan kala itu.
Maka tatkala aroma garam yang pekat merunjam indra penciumannya, Nadir menarik langkah menghampiri tepi laut tanpa ragu. Lautan sedang pasang dan meninggalkan kerang-kerang kecil di setiap kunjungannya, tetapi Nadir tetap bungkam di sana; memperkenankan sepatu usangnya sesekali dijamah bekunya air laut yang membikin lembap.
Diam. Nadir hanya mematung dengan pandangannya yang hampa. Tak ada satu pun dinamika nyata dari pemuda itu selain jari jemarinya yang merogoh bungkus sigaret dari saku celana dan menjumput setangkai untuk disesap.
Satu tangkai.
Dua tangkai.
Lima tangkai.
Delapan tangkai.
Satu bungkus.
Dalam waktu satu jam Nadir hanya mengulang-ulang dinamika tersebut sampai binar jingga dan awan kelabu kian pekat.
Dan di tangkai sigaret terakhirnya, pandangan Nadir beralih pada benda di rumpang jemarinya yang kini tinggal seperdua. Memandang bagaimana kelun tembakau itu mengudara menuju lautan, ia kemudian berbisik lirih. “Biasanya, ketika seseorang merindukan cintanya yang telah berpulang, mereka akan memohon kepada Tuhan untuk dipertemukan di dalam mimpi.” Sudut bibirnya tertarik getir. “Tapi aku enggak, Jar. Aku enggak pernah dan enggak mau bertemu kamu di dalam mimpi.”
Debur alun di pesisir yang menjamah sepatunya menuntun kedua tungkai Nadir supaya mencipta satu langkah, memercik mata kakinya yang sembunyi-sembunyi memendam guratan luka lantaran beberapa hari ini tungkainya terus-menerus berjalan tanpa kaus kaki. Kepalanya tak mengingat. Atau barangkali tungkainya memang sengaja enggan mengingat lantaran terbiasa ditegur Fajar untuk selalu memakai kaus kaki setiap dirinya mengenakan sepatu.
“Aku takut, Jar,” monolognya sedikit parau. “Sebab aku terlalu takut untuk melepaskanmu apabila kita bertemu di dalam mimpi.”
Tangkai sigaret di rumpang jemarinya kini telah serupa dengan anak jari. Namun, alih-alih menyesapnya kembali, Nadir sekonyong-konyong menjatuhkan benda tersebut tepat di atas sepatu usangnya; merelakan tangkai terakhir sigaretnya dijemput debur alun demi hanyut ke dasar lautan. Padam beriring pandangannya yang mengejam. Lenyap beriring deru napasnya yang tertahan. “Dan kamu sungguh-sungguh menuruti perkataanku, Jar. Kamu sama sekali enggak menemuiku di dalam mimpi.”
“Peduli setan harus mengemis kepada Tuhan, bahkan kepadamu.” Jeda semejang. Nadir mencengkam kuat sisi kemejanya. “Tapi bisakah kali ini kamu datang, Jar? Sekali saja. Tolong sekali ini saja datang temui aku, Jar.”
Dan di detik ketika awan kelabu mengenyahkan binar jingga dan sang bayu membubuh kecupan apatis pada paras bekunya, Nadir merasakan sebuah tangan yang selama ini menyisakan ruang hampa nan berdebu pada napasnya, kini mendekap tubuh pemuda itu dari belakang.
Fajar-nya datang.
Nadir tahu mungkin saat ini ia hanya bermimpi—atau barangkali ini hanya ilusi yang diciptakannya semata, tetapi sentuhan yang selama tiga warsa belakangan ini dirindunya setengah mati terlampau nyata untuk sekadar dipertanyakan realitasnya.
Betapa hangat kulit Fajar merangkum tubuhnya yang beku. Betapa deru napas merdu Fajar memayungi rungunya yang berdengung. Dan betapa raksi tubuh Fajar meneduhkan debar jantungnya yang berdenyut nyeri. Nadir bersumpah tak akan menyibak pandangannya apabila segenap ilusi ini mengirap dalam sekejap.
Namun, tatkala pemuda di belakangnya menenggelamkan perpotongan wajah pada bahu Nadir seraya menggumamkan nama kecil pemuda itu dengan suara lirih, Nadir mafhum apabila selama ini Fajar yang justru menanti dirinya.
Lagi.
Lagi-lagi Fajar yang selalu menanti.
Pemuda itu lambat-lambat menyibak pandang, menampak lautan yang turut menggabak serupa angkasa yang dicampakkan biru, sebelum akhirnya membelah kesenyapan. “Mau sampai kapan kamu bersembunyi di bahuku?”
Hening.
Tak mendapati sahutan apa pun, Nadir kemudian menoleh ke samping. Namun, belum sempat pandangannya menjamah sosok pemuda di belakangnya, seruan tegas Fajar serta-merta membikin Nadir stagnan.
“Jangan lihat ke belakang.” Mempererat dekapannya, Fajar lantas kembali berujar, “Tetap seperti ini saja, Dir. Kumohon.”
Entah Nadir harus berlega hati atau tidak mendengar pinta Fajar, sebab Nadir terlampau takut menyambut kembali mimpi buruk tak berkesudahannya bilamana ia memandang wajah pemuda tersebut. Namun, Nadir pun tak kuasa mendustai rindunya yang meratapi sosok Fajar saban malam menuntunnya pada pagi buta.
Ia rindu senyum jenaka Fajar yang memulihkan hari-hari memuakkannya.
Ia rindu gelak merdu Fajar yang kadang kala menjelma syair-syair indah.
Ia rindu pandangan meneduhkan Fajar yang sepekat angkasa malam.
Ia merindu segenap presensi Fajar di sampingnya.
Dan seluruhnya Nadir bendung sampai detik ini; detik di mana Fajar mendekapnya dan membinasakan pertahanannya hanya dengan perhatian kecil Fajar yang sama sekali tak berubah.
“Kamu kenapa enggak pakai kaus kaki, Dir? Mata kakimu luka.”
Hancur.
Pertahan Nadir hancur total menjelma lautan yang lengkara dibendung riaknya.
Maka tatkala duka yang telah lama menggersang kembali bernapas—melebur bersama gaung bahana milik debur alun yang mengiringi ratapan pilunya, Fajar kian erat mendekap tubuh Nadir yang bergetar. “Menangislah.” Kedua tangannya menepuk-nepuk lembut bahu Nadir. “Kamu sudah berupaya menahan semuanya. Menangislah, Dir. Kamu boleh menangis.”
Benar adanya apabila Nadir tak mengingat dengan pasti kapan terakhir kali dirinya menangis. Nadir tak kuasa mengingatnya sama sekali. Sebab ingatan pemuda itu hanya merekam keping-keping fragmen di mana Fajar yang dahulu akan senantiasa berada di sampingnya, melelapkan air matanya, lantas mendekapnya diiringi senandung yang melipur purnama.
“Pasti sakit sekali ya, Dir?” Suaranya bergetar. Suara Fajar terlampau begetar demi mengelebukan rasa bersalahnya, dan hal itu membikin Nadir sesak setengah mati. “Maaf, ya? Maaf kamu harus menghadapi semua ini sendirian, Dir.”
“Enggak,” bantahnya seraya menggeleng kuat. “Jangan minta maaf. Jangan pernah minta maaf.” Nadir menyeka kasar jejak air matanya lantas kembali menyahut, “Seandainya rasa bersalah yang menciptakan pertemuan ini, seharusnya kata maaf itu diciptakan untukku.”
Rindu yang dikebumikan Nadir memang tak kuasa ia dustai, tetapi tak dipungkiri penyesalan Nadir nyatanya jauh lebih melimpah kala dahulu seluruh cintanya tak pernah ia bubuhkan secara tersurat kepada Fajar.
Fajar terlampau sempurna untuk Nadir yang terpecah-belah, pula terlampau hangat untuk Nadir yang keras hati. Setidaknya seperti itu sosok Fajar di mata Nadir sebelum senyum pemuda itu berlayar jauh; mendamparkan segenap anggapan Nadir yang luput.
Fajar dan Nadir serupa terpecah-belahnya, hanya saja Nadir melengahkan satu realitas bahwasanya kehangatan yang digenggam Fajar dapat padam kapan saja.
Dan Nadir meratapi hatinya yang keras kepala.
“Maaf, Fajar. Maafkan aku yang gagal mendekap abu tubuhmu, maafkan aku yang gagal mengecupi jari-jarimu yang hancur, maafkan aku yang gagal memulihkan bilur pada pergelangan tanganmu.” Nadir menggigit bibir bawahnya kuat. “Aku tahu betapa sakitnya denyut menduri yang kamu rasakan selama ini. Terima kasih, terima kasih sudah berupaya untuk bertahan dari semua rasa sakit ini, Jar. Terima kasih sudah bersabar mengatasi kehancuranmu demi Ayah dan Ibu, demi mimpimu, dan,” jeda sejenak, “demi aku. Terima kasih.”
Awan hitam yang sejak tadi menyaksi selaku saksi lantas menanggalkan rintiknya setelah beberapa hari ini hanya memelihara kelabu; mendamparkan bahana debur alun yang menjelma ombak, membenamkan ratapan pilu Nadir juga isakan tertahan Fajar di bahunya.
Membiarkan ratapan awan hitam mengungkung lengang di antara keduanya, Nadir kemudian menautkan jari jemarinya pada milik Fajar yang masih mendekap tubuhnya, sebelum mengejam tatkala namanya dilagukan Fajar dengan begitu merdu.
“Dir.”
Fajar melagukan nama Nadir setengah berbisik. Nama yang mungkin lengkara Nadir dengar dari bibir Fajar setelah denyut yang membuai ini rampung. Bersama jari jemari Fajar yang menyambut tautan genggaman Nadir, pemuda itu kembali melagukan namanya.
“Nadir.”
Suara merdu Fajar kian melirih, seolah dapat melenyap kapan saja dan Nadir takut untuk menyambut kembali sunyi di malam-malam sesudahnya.
“Kamu selalu menjadi orang pertama yang mendukungku, Dir. Selalu kamu. Kamu adalah salah satu dalih apa sebab aku enggak sepenuh hati membenci alam semesta. Sebab nyatanya, mereka memberiku ribuan kemungkinan untuk bertemu denganmu dan merasakan bagaimana rasanya dikasihi olehmu.” Ada hela napas lembut di sela-sela suara Fajar yang bergetar. “Kamu enggak pernah salah, Dir. apalagi gagal, jadi,” jeda sejenak, “jangan berhenti dan jangan pernah menyusulku ya, Dir? Seluruh cintamu masih menanti untuk membubuhkan kebahagiaan di sana, mereka masih bersedia menanti meski kamu kelelahan, meski kamu jatuh berkali-kali, meski kamu menangis putus asa, dan meski kamu hancur berkeping-keping. Mereka akan selalu bersedia menanti dan memelukmu suatu hari nanti.”
Sang rawi melingsir direguk lautan tanpa binar jingga. Sebuah perpisahan kelabu yang hanya dikawani para rintik milik nestapa awan hitam yang bercerai-berai. Tetapi setidaknya, awan hitam lengkara mencecap kesendirian yang mencekik, beliau masih memiliki lautan yang bersedia melelapkan ratapannya kendati beliau telah memadamkan binar jingga yang kuasa menyempurnakan lautan.
Benar.
Setidaknya sampai malam belum bertandang, dan Nadir masih mampu menyaksikan siluet dirinya dengan Fajar yang terbentang di permukaan laut.
“Jar.”
Setidaknya Nadir masih mampu melagukan namanya.
“Fajar.”
Setidaknya Fajar masih mampu mengindahkan betapa namanya dilagukan oleh Nadir bersama rindu-rindunya yang abadi.
“Jawabannya enggak ada, enggak ada hal apa pun yang terjadi apabila kesabaran itu pupus, Jar. Kesabaran mustahil untuk pupus, sebab kesabaran bukan tentang akhir, tapi tentang berupaya. Kamu sudah berupaya sebisa mungkin untuk mempertahankan cintamu, kamu bahkan sudah berupaya melakukan segalanya, jadi,” jeda sejenak, Nadir perlahan mengejam, "Istirahat ya, Jar? Tolong istirahat dengan tenang dan tunggu aku di sana.”
Ada belaian lembut di puncak kepala Nadir yang dahulu senantiasa ia dapati setiap Fajar berpamitan dengannya. Belaian lembut sarat kegetiran yang membikin pemuda itu kian mengejam tatkala Fajar berbisik lirih, “Di kehidupan selanjutnya, jadi temanku lagi ya, Dir? Teman yang nanti akan menerima cintaku lagi. Tolong sambut aku dengan senyum, seperti kamu yang dulu diam-diam menyambutku dengan senyum ketika kita pertama kali saling mengenal.” Fajar perlahan melepas tautan jemarinya dengan milik Nadir. “Hiduplah dengan bahagia. Kali ini biarkan aku yang mendukungmu, Dir. Mendukung seluruh mimpi-mimpimu."
Dan tatkala Nadir menyibak pandang, ia mendapati tubuhnya terbaring dalam dekapan pesisir yang membikin linu setiap persendiannya. Memandang hampa bunga-bunga miskantus yang turut terlelap di sampingnya, Nadir tahu ia baru saja terlelap dalam panjangnya bunga tidur yang berkisah dengan cepat.
Petang itu, di kaki senja raya yang menyisakan rona ijas demi menerangi jalan setapak, Nadir dijemput ayahnya setelah menerima panggilan telepon dan menyambangi sejenak makam kakeknya.
Menangis.
Nadir akhirnya menangis. Tetapi bukan tangisan putus asa, melainkan tangisan selaku upaya dirinya bertahan di hari esok. Pemuda itu mengakui sebuah ungkapan bahwa waktu nyatanya lengkara memulihkan. Sebab Nadir mungkin akan hancur saban hari, terjebak di hari dirinya kehilangan orang-orang yang dicintanya, dan melakoni waktu yang sinambung melangkah.
Namun, Nadir akan berupaya mempertahankan jari jemari tersebut demi mengumpulkan abu tubuhnya yang hancur.
Begitu pun Fajar.
Kendati Fajar memilih untuk berhenti dan pulang lebih awal, kesabarannya akan cinta yang saban hari menghancurkan pemuda itu jauh lebih dalam dibandingkan dasar lautan. Sebab batasan sebuah kesabaran bukan semata-mata sampai kapan ia kuasa bertahan, tetapi bagaimana upayanya demi bertahan sampai akhir.
aku senantiasa melucuti kedua tungkai
ini; mengecupi para bunga melati yang
layu di tanah demi menyambangi
tempatmu berteduh.
dan tatkala selarap pandang kita
bersua di kaki senja yang menggabak,
aku menanya kepada rintik pertama yang
lingsir di pipiku; haruskah aku mengikuti
bilurmu?
aku masih di tempat ini, dihujani ribuan
rindu dan jutaan penyesalan yang
membikin pandangan ini kuyup, dan aku
kembali menanya kepada rintik-rintik yang
lingsir di tubuhku; apakah di sana kamu
mengampuniku?
aku akan memberimu cinta lebih
banyak dan memayungimu dari
sunyi yang melumpuhkan di
kehidupan selanjutnya.
di sana mari kita berteduh bersama, tanpa
perlu memayungi rintik-rintik duka, yang
dilabuhkan oleh awan kelabu.
FIN.
