Actions

Work Header

Never Too Late

Summary:

Baekhyun dan Chanyeol punya ambisi menjadi orang tua terbaik sedunia. Baca buku, ikut workshop dan seminar, hingga konseling parenting sudah mereka lalui bersama. Lantas bagaimana caranya menerapkan teori-teori tersebut saat dalam praktiknya mereka terlambat menjemput Aeri?

Notes:

haihaii! cerita ini adalah oneshot marriage life/parenting pertamaku yang sudah pernah aku unggah di medium dan twitter pada 7 Juni 2022, jadi terima kasih kalau kamu mampir lagi :)

cerita ini terinspirasi dari chorus terakhirnya Matilda - Harry Styles. cerita ini FIKSI dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata para tokoh yang dijadikan visualisasi cerita.

apabila terdapat kesamaan ide atau unsur apa pun dalam cerita ini, hal tersebut tentu tidak disengaja. koreksi, kritik, dan saran akan sangat membantu aku. terima kasih banyak, semoga menikmati! <3

Work Text:

 

Lima tahun pernikahan, empat tahun menyelami ilmu parenting, tiga tahun membesarkan anak bersama, dua tahun penuh trial and error, dan satu tahun kewalahan menyesuaikan diri di tengah pandemi membuat Baekhyun merenungi berbagai peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup singkat.

Memutuskan menikah di usia 25 tahun bersama lelaki pilihannya, Chanyeol, membuat Baekhyun harus belajar mengimbangi kehidupan rumah tangga dan karir yang masih dirintisnya. Di sisi lain, Chanyeol yang sudah lebih mapan, menyanggupi dan memenuhi permintaan suaminya dengan syarat di tahun ketiga mereka akan mengusahakan penambahan anggota keluarga.

Maka Baekhyun dan Chanyeol berproses bersama. Berbagai adaptasi dan kompromi mereka lakukan untuk satu sama lain. Dengkuran kecil Baekhyun saat tidur sudah seperti musik di telinga Chanyeol dan Baekhyun tidak lagi mengamuk saat seluruh kerupuk dalam toples melempem karena tidak ditutup rapat oleh suaminya. Semua demi mewujudkan “home sweet home” yang sudah menjadi impian mereka sejak lama.

Di tahun ketiga, seakan mendapat restu dari semesta, proses stratifikasi Baekhyun di tempat kerjanya berjalan lancar; membuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi keluarga utuh. Maka dirinya dan Chanyeol menyusun dan mempersiapkan segalanya baik fisik, mental, finansial, tenaga, hingga waktu. Hanya ingin yang terbaik untuk calon buah hati mereka nanti.

 

👧🏻 👧🏻 👧🏻

 

Hari ini, Baekhyun mengambil lembur dan memforsir dirinya demi ketentraman berleha-leha di akhir pekan bersama keluarga kecilnya. Sebenarnya, ia sudah lupa kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama sejak pandemi melanda dan workload-nya sebagai Finance Section Head di sebuah e-commerce ternama meningkat. Baekhyun rindu suami dan anak manisnya yang bagaikan kertas dan prangko, walaupun ia acapkali menjadi korban kejahilan mereka.

Hal yang paling diinginkan Baekhyun setelah hari panjang yang melelahkan adalah mandi air panas dengan secangkir teh madu dan alunan jazz menenangkan, tetapi sesampainya di rumah, otaknya terlebih dahulu dibuat mendidih oleh ruang TV yang serupa kapal pecah. “Yeol, kamu habis ngapain sih?!”

Baekhyun celingukan mencari batang hidung suaminya yang ternyata masih sibuk berkutat di belakang komputer dalam ruang kerjanya. Chanyeol terlihat kacau, masih menggunakan kaos abu-abu belel kemarin malam dan celana boxer bunga-bunga yang mereka beli di Bali sewaktu bulan madu. Anak-anak rambutnya mencuat sedangkan jari-jarinya sibuk membalik kertas dalam map-map tebal.

“Yeol.”

“Eh, Hyun?! Maaf. Nanti aku beresin!”

Baekhyun berlalu dari hadapannya, entah apa yang sedang dikerjakan sehingga tidak ada waktu untuk berbenah diri. “Ck,” Ia kemudian mengutip satu per satu kertas di lantai, termasuk yang ketumpahan kopi; paling tidak bisa melihat tempat yang berantakan.

Namun, kegiatan itu terhenti ketika Chanyeol berseru, “Yang, kamu tau gak surat-surat perjanjian kontrak yang lama di mana?”

“Di kamar kalau itu, kan kamu yang request sendiri disimpen di sana.”

“Sumpah, Hyun! Aku udah bongkar tapi gak ketemu!”

Mereka berjalan beriringan menuju kamar tidur utama dan Baekhyun membelalak saat menyadari bentuknya sudah tak karuan. Ia mengambil napas sedalam mungkin sebelum mencarikan kebutuhan Chanyeol, dan... ketemu. “Ini apa? Kamu tuh ya.”

“Hehehe maaf,” Chanyeol mencium puncak kepala Baekhyun, “tadi tuh email-nya masuk ke spam gitu, Yang, terus gak kebaca padahal deadline-nya hari ini, hectic sendiri aku jadi nyari apa pun ga nemu. Lagian kamu kenapa pulangnya malem banget? Lembur terus perasaan.”

“Ya udah kamu mau gantiin aku ngantor?!” Ujar Baekhyun sewot sembari melangkah melewati Chanyeol.

“Hyun..?”

“Aku juga pengennya pulang jam lima teng, tapi kamu sih masukin Aeri ke sekolah mahal.”

“Ini aku ada kemungkinan tender proyek baru kok, aku juga gak pengen lantang-luntung di rumah dan biarin kamu capek sendiri kayak gini.” Baekhyun terdiam hingga Chanyeol menambahkan. “Ya kamu kan juga setuju Aeri masuk sana. Kita sama-sama mau yang terbaik buat anak kan? Eh..? Aeri… mana?”

“Hah?” Baekhyun langsung berbalik menghadap lawan bicaranya.

“Kamu kok gak bareng Aeri?”

“HAH? Aeri belum dijemput?!” Netra Baekhyun membola, “kan tadi aku minta tolong kamu karena aku lembur?!”

“Kapan? Orang tadi pagi kamu janjinya jemput!”

Baekhyun menjambak rambutnya frustasi. “Gimana sih, Yeol? Makanya, handphone tuh dilihat! Aku udah chat kamu dari jam satu!”

“Ya maaf, aku juga seharian urus berkas, Hyun.”

“Alasan. Lihat handphone juga gak sampe lima menit.” Baekhyun memutar bola matanya sebal. “Lagian berkas apaan sih? Kayak orang bener aja.” Ia bergegas keluar kamar dan menyambar tas serta kunci mobilnya.

Dengan langkah besar, Chanyeol menghadang suaminya tepat sebelum ia melangkah keluar rumah. “Hyun? Kamu kenapa sih?”

“Aku panik anakku belum pulang. Gak kayak bapaknya yang satu lagi!” Nyalang mata Baekhyun membuat Chanyeol sedikit ciut. “Minggir!”

Setelah melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Ms. Nana, guru Aeri, Baekhyun melemas; menyesali keputusan dan merutuki kebodohannya lembur hari ini. Ia pun memastikan posisi dan kondisi anaknya sebelum membuka pagar dengan terburu-buru dan mengeluarkan mobilnya, tetapi berhasil dicegat Chanyeol yang mengetuk-ngetuk kaca mobil. “Hyun! Hyun, tunggu!”

Kepala Baekhyun jelas menyerupai bom yang beberapa detik lagi akan meledak, “apa lagi sih?!”

“Aku aja yang nyetir.”

“Gak usah! Awas! Aku mau mundur,”

Chanyeol akhirnya membuka paksa pintu mobil, “Hyun. Aku tau kamu capek. Pindah.”

Mendengar titah yang tidak bisa diganggu gugat itu, Baekhyun dengan cepat berpindah, digantikan oleh suaminya yang kemudian memundurkan kursi pengemudi, memasang sabuk pengaman, dan mengatur spion dalam. Saat mereka sudah siap berangkat, Baekhyun tiba-tiba berteriak. “REALLY, CHANYEOL?!”

Lelaki di sampingnya terkejut dan hanya bisa melotot kebingungan.

“Itu pintu rumah belum ditutuuup!!” Rengek Baekhyun menahan geram.

“YA AMPUN, IYA!”

 

 

👧🏻 👧🏻 👧🏻

 

Hanya lagu lawas dari radio mengisi mobil SUV yang tengah membelah jalanan itu. Tidak ada yang berminat memulai percakapan, saling paham bahwa akal mereka tidak sedang dalam kondisi prima, yang pasti misi mereka saat ini hanya satu: segera menjemput Aeri.

Akan tetapi, kendaraan yang semakin bertambah mampu membuat tensi Baekhyun naik. “Ngebut, Yeol! Gimana sih?!”

“Macet ini, Hyun.”

“Ya biasanya juga nyelip-nyelip!”

“Coba lihat ke depan, ada celahnya gak?”

Baekhyun langsung membisu, memilih memalingkan wajahnya ke jendela, menyaksikan rintik-rintik hujan. Seharusnya ia paham bahwa hari ini adalah malam Sabtu dan kemacetan bukanlah sesuatu yang bisa Chanyeol kendalikan; bahwa perdebatan apa pun tidak akan mempercepat mereka sampai pada tujuan.

“Hyun, aku ngerti kamu khawatir sama Aeri, aku juga. Sekarang kamu telepon gurunya dulu bilang kita udah di jalan.”

“Udah tadi, kamu gak denger apa? Oh sibuk sama berkas yaaaa.”

“Hyun?”

Baekhyun mendesah pelan, “maaf.”

Hening canggung tidak terhindarkan sepanjang sisa perjalanan hingga mobil mereka terparkir di halaman sekolah sekaligus day care Aeri. Setelah menarik napas dalam dan menebalkan wajahnya, Baekhyun membuka pintu mobil. “Kamu yang ngomong, aku yang gendong.”

Baekhyun keluar dengan percaya diri walau Chanyeol tahu lelaki itu tengah mengutuk diri, terbukti dari langkahnya yang terhenti tepat sebelum pagar, menunggu dirinya menyusul. Saat raga mereka akhirnya bersebelahan, lelaki yang lebih kecil mengamit ujung kaos yang satunya. Chanyeol meremas balik jemari lentik yang tengah bergetar itu, menoleh, dan tersenyum menenangkan.

 

 

👧🏻 👧🏻 👧🏻

 

Sesampainya di rumah, Baekhyun bergegas menggendong Aeri hingga ke kamar, tetap berhati-hati agar malaikat kecilnya itu tidak terbangun. Ia merebahkannya di kasur, melepas sepatu dan kaos kaki, serta menarik selimut bergambar My Melody hingga batas perut. Ia pun berlalu untuk menyiapkan air hangat, kemudian mengelap wajah, tangan, serta kaki anak perempuannya itu. Tidak lupa mencium lama keningnya dan menggumamkan maaf berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut bergelung dalam selimut, memeluk Aeri dan menepuk-nepuk lembut lengannya dengan tempo lambat.

Di sisi lain, Chanyeol tengah berkontemplasi; menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan selanjutnya agar tidak menyakiti Baekhyun atau dirinya. Kalau biasanya Chanyeol dengan mudah memberikan waktu dan jarak seperti yang diminta suaminya, hari ini ia tidak mampu. Tidak setelah kritik pedas yang mereka terima, tidak setelah Baekhyun yang menangis dalam diam sepanjang perjalanan pulang.

Pada akhirnya, kekhawatirannya menang. Bak bekerja secara otomatis, tungkai kakinya sampai di depan pintu kamar Aeri. Mengetuk halus dan membukanya perlahan, mendapati dua manusia sumber kebahagiaannya pulas terlelap. Dengan perlahan, ia menyingkirkan blazer yang masih Baekhyun kenakan serta membuka kancing kemeja teratas agar tidurnya lebih nyaman. Dengan seutas senyum yang menghiasi wajahnya, Chanyeol mengelus rambut Aeri dan Baekhyun, termenung lama di samping tempat tidur, sebelum akhirnya  membubuhkan kecupan penuh kasih sayang dan meninggalkan ruangan. 

 

👧🏻 👧🏻 👧🏻

 

Baekhyun keluar dari kamar Aeri untuk buang air kecil. Ia melirik jam di atas televisi, pukul setengah tiga dini hari dan Chanyeol masih berjalan mondar-mandir di dekat jendela, sarat akan gelisah.

Kehadiran Baekhyun yang memang ditunggu-tunggu membuat Chanyeol bersuara. “Hey, bisa ngobrol sebentar?”

“Yeol… Boleh nanti aja? Aku capek banget.”

Chanyeol menunduk, memperhatikan kakinya yang tidak menarik. “Oke, masih butuh waktu sendiri? Biar aku tidur di sofa.”

Baekhyun menatapnya tidak enak hati, “boleh?”

Chanyeol hanya mengangguk sambil tersenyum kecil dan Baekhyun berlalu menuju kamar utama. Terlintas dalam benaknya untuk membawakan suaminya bantal dan selimut tambahan, tapi langkahnya terasa berat sekali. Saat tangannya sudah menggenggam gagang pintu, suara Chanyeol kembali menghentikannya. “Hyun, maaf ya.”

Baekhyun menggigit bibirnya kuat, memejamkan matanya lama, mengerutkan keningnya dalam, ia menyerah; memutuskan untuk berbalik dan berhambur ke dalam hangat pelukan pujaan hatinya. Ia mengusakkan wajahnya pada dada Chanyeol yang mendekapnya jauh lebih erat lalu menuntunnya menuju sofa.

Keheningan tidak lagi mencekam saat Chanyeol merasakan detak jantung mereka yang seirama, ia pun mengusap punggung Baekhyun yang kini sibuk membaui ceruk lehernya. “Aku… merasa… gagal, Yeol.” Cicit lelaki dalam pangkuannya itu. “Jelas-jelas kita yang milih Aeri, tapi gak ada tanggung jawabnya. Apalagi Ms. Nana tadi nyindir-nyindir, hatiku sakit, Yeol. Aku tau aku bukan orang tua yang terbaik tapi aku juga gak mau jadi yang terburuk.”

Pikiran Chanyeol terbawa ke masa lampau. Di bawah atap sederhana sebuah panti asuhan pinggiran kota, mereka bertemu dengan Aeri. Seorang bayi perempuan yang masih merah, terbungkus kain lampin tipis, makhluk paling manis yang membuat Baekhyun dan Chanyeol percaya bahwa cinta pandangan pertama memang benar adanya. Saat mata bulat itu mengerjap, segala keraguan dan ketakutan seakan sirna, bergantikan harapan dan kekuatan baru.

Baekhyun memainkan ujung kaos suaminya dan menambahkan, “kita berdua sama-sama datang dari keluarga yang gak bisa dijadikan contoh dalam merawat dan membesarkan anak, ngasuh Aeri dengan baik dan benar seharusnya bikin kita sembuh.”

“Kita juga baru pertama kali jadi orang tua kan, Sayang. Gapapa ya, ini ilmunya seumur hidup.” Chanyeol berusaha menghibur suaminya yang seringkali cukup keras terhadap dirinya sendiri.

“Iya Yeol, aku paham. Tapi kita kan pernah jadi anak, kita paham rasanya gimana ditelantarkan, ditinggal, bahkan… dibuang. Apa yang enak apa yang enggak, apa yang bikin kesel apa yang bikin seneng…”

Elusan Chanyeol kini berpindah pada surai Baekhyun. “Iya sayang… iya. Aku minta maaf ya kalau belum jadi rekan yang baik buat kamu selama ini. Salah itu pasti, tapi menurut aku yang penting adalah gimana kita make up for it ke Aeri.”

Chanyeol membelai pipi laki-laki yang terus membuatnya jatuh cinta setiap hari. “Ini hanya satu dari banyaknya kesalahan yang bakal sengaja atau tidak sengaja kita lakukan, Hyun. Memang tidak bisa dihindari tapi bisa diminimalisasi. Kita hebat karena saling percaya, saling dukung, saling cover.”

Baekhyun masih saja menunduk hingga Chanyeol meraih dagu dan mencium ujung hidungnya. “Hey, gapapa ya, Yang, learning by doing ini mah.”

Lelaki yang lebih mungil itu tersipu, “seneng deh kamu ngomongnya manis begini, nanti aku beliin buku baru ya!” Ia kemudian tersenyum usil, menggoda Chanyeol yang sebenarnya ogah-ogahan kalau soal membaca.

“Duh, kayak biasa aja kenapa sih, Yang? Aku tinggal denger kesimpulannya dari kamu, aduhaiii rindunya sama suara seksi suamiku kalau ngantuk-ngantuk tipis!”

“Dih! Itu mah enak di elo! Udah ah aku mau bobo,” Baekhyun tertawa lalu berakhir membenamkan diri dalam tempat favoritnya, dekapan Chanyeol.

Baekhyun dan Chanyeol kecil tidak akan menyangka jika dua puluh tahun kemudian mereka akan tertidur nyenyak dalam pelukan satu sama lain di bawah satu atap. Berangkat dari keluarga disfungsional, mereka melabel diri sebagai “produk gagal” dan tidak pernah merasa pantas untuk bahagia. Namun, mereka kini percaya bahwa kehadiran Aeri adalah kesempatan kedua; adalah giliran mereka untuk mewujudkan rumah nyaman yang selalu diimpi-impikan.

Kala sinar mentari mulai mengintip dari celah gorden, celotehan Aeri pun mulai terdengar. Anak manis dengan rambut hitam sebahu itu memanjat tubuh Chanyeol dan menyusup di ketiaknya, turut membangunkan kedua orang tuanya. “Eh, Sayaaang, cantiknya Papa! Tidurnya nyenyak?”

“Iyah!” Aeri mengangguk semangat dan mencium pipi Chanyeol, “sikat gigi dulu yuk sama Papa!” Lelaki itu mengambil alih tugas Baekhyun yang tampaknya masih sedikit canggung dan bingung.

Sekembalinya dari kamar mandi, Baekhyun sudah siap dengan dua cangkir kopi dan segelas dot susu untuk Aeri. Setelah mendapat aba-aba dari Baekhyun, Chanyeol segera memangku gadis kecilnya. “Sayang, Papa minta maaf ya kemarin terlambat jemput Aeri. Papa kerja dan gak lihat jam. Aeri kemarin bosan ya nunggunya?”

“He’eh! Aeri bingung Papi dan Papa di mana tapi enggak apa-apa soalnya abis itu ada Stella yang lama juga dijemputnya jadi Aeri bisa temenin! Terus Ms. Nana punya anjing lucu namanya Bonbon terus Aeri main terus Aeri dijilatin mukanya sampai geliii!” Gadis kecil itu cekikikan, mengukir senyum lega di wajah kedua orang tuanya.

“Hyun,” Chanyeol menyikut halus lengan Baekhyun, menginstruksikannya untuk melakukan hal yang sama.

Baekhyun meremas ujung kaos Chanyeol sebelum berujar, “papi juga minta maaf ya, Cantik. Terima kasih sudah jadi anak baik nemenin Stella dan nurut sama Ms. Nana.” Ia merentangkan tangannya, “boleh minta hug kalau Papi sudah dimaafin?”

Saat Baekhyun mencium harum sampo stroberi dan merasakan tangan-tangan kecil memeluk lehernya, setetes air mata lolos begitu saja tanpa bisa ia cegah. Saat Chanyeol dan Aeri berlomba memberikannya ciuman terbanyak, kemudian tawa renyah anaknya yang terdengar karena gelitikan suaminya, Baekhyun tahu, bahwa ia tidak bisa lebih bahagia dari ini.

Jika ada yang berargumen bahwa lima tahun awal pernikahan adalah masa yang tersulit apakah Baekhyun akan setuju? Mungkin saja. Namun, ia tidak akan berkilah bahwa dalam waktu sesingkat lima tahun pun jauh lebih membahagiakan dari dua puluh lima tahunnya yang ia habiskan sendirian.

Lima tahun pernikahan serta empat tahun menyelami ilmu parenting membuat Baekhyun dan Chanyeol menyimpulkan tiga hal pokok, yaitu pengertian, konsistensi, dan keteladanan. Karena pada akhirnya, mereka hanyalah dua manusia yang mengerahkan seluruh jiwa raga untuk Aeri, dengan satu ambisi dalam hati, menjadi orang tua paling baik se-Bumi.