Actions

Work Header

Langenberg

Summary:

Seandainya Tuhan sudi memberinya waktu sehari, ia bakal berlari. Mengejar apa yang tidak sengaja ia tinggalkan; Jimin di penghujung jalan.

-Jakarta, 1945

Notes:

Langenberg by earthology

-----
Contact the author here:
Twitter: @earthologious
Wattpad: earthology
AO3: earthology

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



 

.  

“Dari yakinku teguh. Hati ikhlasku penuh, akan karuniaMu. Tanah Air Pusaka. Indonesia merdeka. Syukur aku sembahkan kehadiratMu, Tuhan.”

.  

Masa kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dengan huru-hara kemenangan di seluruh penjuru negeri. Kebahagiaan ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di beberapa bagian nusantara. Depok, Jakarta, dan bagian lainnya.

 

Masa Bersiap merupakan satu dari segelintir banyak kejadian kelam yang pernah menggores darah di balik Merah Putih pusaka. Pembantaian besar-besaran terhadap orang Belanda yang masih menetap di Indonesia pasca jatuhnya Kekaisaran Nippon di tangan sekutu. Tidak hanya Belanda, etnis Tionghoa, orang Indo (peranakan Belanda Totok dan Pribumi), dan Manado tidak luput dari sasaran.

 

Semoga seluruh awak yang gugur ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan diberi pengampunan atas segala dosa yang telah mereka perbuat.

.

 


 

 

Depok

1944

 

Jimin

KEDUDUKAN Nippon di Indonesia menjarah seluruh wilayah nusantara. Dua tahun terakhir berjalan bak mimpi buruk yang menidurkan bangsa ini dan enggan lagi bangun. Golongan tua seakan menutup mata. Apa pula lagi yang mereka tunggu tanpa mendesak mundur penggalang kerja paksa tanpa diupah itu? Jimin menduga-duga ada hubungannya dengan kuasa. Manusia mudah tergiur. Uang, kemakmuran, kedudukan, dan beberapa yang tidak lagi diberikan tanah kelahirannya sendiri. Hindia digerus makin kurus. Pribumi tidak lagi bisa mendongak. Melirik barang setitik saja berarti menantang apa yang sudah Nippon gariskan. Propaganda-propaganda dan buai kemerdekaan mungkin sukses menjadikan segelintir orang gelap mata. Anggapan soal pemberian kebebasan itu bakal bisa. Sebuah penantian yang sia-sia. Nestapa. Kehancuran menanti bangsa ini. Sedikit lagi. Hanya tinggal seujung jari.

Nyeri baru mendera setelah Jimin sadar kepingan ubin jatuh di samping tubuhnya. Sesuatu baru saja menabrak kepala lumayan keras. Beruntunglah, ia baru saja fokus mencurahkan kegundahan hati pada selembar kertas putih kosong. Soal nasib-nasib apa yang kiranya bakal terjadi di masa depan. “Siapa dari kalian yang lempar ubin ini padaku?” Jimin baru menoleh setelah kalimat itu selesai. Tidak ada pemuda bersisa di balik tubuhnya. Satu yang berdiri linglung, melihat sekitaran bingung dan mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. “Kau?” tanya Jimin lagi.

Pemuda itu tidak menjawab. Surainya yang pirang pucat dan manik mata keabu-abuan menandakan kalau ia dari golongan Eropa totok. Putra siapa gerangan lelaki ini? Tampan betul. Seingatnya, Depok memang masih selamat dari penjarahan Nippon yang memenjarakan orang Belanda. Pemuda ini jadi salah satu yang lolos, tampaknya. “Sorry,” bisiknya lirih. Dari atas sampai bawah, setelan kemeja putih dan celana panjang kain cokelat tanah itu kelihatan rapi. Kentara kalau bukan dari keluarga sembarangan. Pemilik salah satu gudang beras atau pabrik gula, mungkin.

Waar woon je[1]?” Kalau tidak melompat ke pertanyaan lain, Jimin bakal membawa pulang permintaan maaf sejuta kali saja, rasanya. Dan ia tidak butuh permintaan maaf yang kosong. Ia perlu ketulusan dan bagaimana caranya nanti pemuda ini menebus apa yang sudah ia perbuat.

Nabij[2].” Tepat dugaan. Pemuda ini tidak lagi mencari-cari kawannya yang hilang dimakan angin ketakutan. Ia berdiri menjinjing senyum canggung yang menggantung di ujung bibir. Kulit porselen itu kemerahan, terbakar sinar matahari sore yang mulai menjingga. “Je, meester[3]?” tanyanya.

“Dekat juga,” jawab Jimin, “bisa bahasa Indonesia, ‘kan?”

“Tentu.”

Jimin kumpulkan niat untuk bisa mendekat. Mengelabui pikirannya sendiri dari rasa sakit dan kesal yang masih membatu di dinding batin. “Mengapa kau lempar ubin ini padaku? Berbuat salahkah aku padamu?”

Pemuda itu menggeleng. “Tidak,” katanya kemudian, “tak sengaja pula. Maaf.”

“Bagaimana bisa tak sengaja?”

Tubuh tinggi berperawakan tegap itu menyingkir pelan-pelan dari hadapan. Barulah Jimin tahu kalau tanah di sekitarannya bergambar. Membentuk kotak-kotak panjang dan masih berisikan potongan ubin lain. Bekas pemuda-pemuda melarikan diri yang meninggalkan kawannya untuk bertanggung jawab seorang saja. “Karena ini.” Penggunaan bahasa Indonesia nya masih kasar. Tanda kalau ia juga dipaksa fasih berbicara yang bukan kebiasaan. Kedudukan penduduk Belanda ditekan sampai ke lapisan paling bawah. Aneh. Pemuda ini justru tidak kelihatan seperti orang yang keluarganya dijarah atau diasingkan. Semata-mata bermain ceria seperti anak seusianya.

Engklek,” kata Jimin, “dan aku duduk jauh lagi darimu. Mengapa sampai padaku?”

“Terlalu kencang.”

“Berhati-hatilah, lain waktu. Tak semua orang masih menganggap bangsamu ada di atas segalanya,” peringat Jimin. Ia tahu bakal menyakiti hati atau pikiran. Tapi cuma ini pilihan yang tersisa. Tidak mungkin ia biarkan nyawa melayang atas perkara sepele seperti ketidaksengajaan yang baru saja terjadi. “Hoe heet je[4]?”

“Jeongguk, meester.”

“Panggil aku Jimin. Jangan kau terlampau formal padaku. Agaknya kita seumuran.”

Pemuda itu memberanikan diri mendongak. Perlahan, sampai rasanya Jimin bisa pastikan kelinci bakal sampai pada tempatnya lebih dulu sewaktu melompat. Dari dekat, barulah ia tahu kalau manik keabu-abuan itu aslinya punya warna biru terang. Secerah langit yang tidak berawan. Surai pirang pucatnya yang membingkai wajah bersanding apik dengan rupa yang tampan, menawan. Hidungnya bangir dan punya mata lebih lebar. “Jimin,” panggilnya.

“Mulai sekarang, kita berteman.”

Momentum ini berbanding terbalik dengan kegaduhan di samping rumah. Jimin bisa lihat seorang Indo diseret keluar dari kediamannya sendiri. Nestapa. Inikah negeri yang kalian impikan untuk merdeka, Indonesia? Bagaimana mungkin kalian gagal memanusiakan hamba Tuhan hanya karena ras dan warna kulitnya? Bukankah kalian jadi tidak ada bedanya dengan orang-orang yang berambisi menguasai dunia itu?

▪️ ▪️ ▪️

 

“INGAT, ‘kan, kau kalau pernah lempar ubin semacam itu padaku? Masih sakit sampai sekarang, Jeongguk.” Jimin sibakkan koran di pangkuan. Menyeruput sisa teh panas tadi pagi yang mulai mendingin. Disajikan oleh adik perempuannya yang menunduk-nunduk malu akibat keberadaan Jeongguk di halaman rumah yang sudah duduk-duduk santai.

“Aku sudah minta maaf, ‘kan? Tak perlu kau besar-besarkan.” Satu cerutu menemani pemuda Eropa itu. Melihat-lihat sekitaran halaman yang penuh dengan beberapa ekor ayam berlalu-lalang. Asap pekat yang muncul dari dasar paru-paru sudah menemani Jeongguk di kali kedua ia menjejak di kediaman Jimin. Setelah meminta izin, jadilah ia menganggap area ini hampir seperti tempat tinggalnya sendiri. “Bagaimana nasib orang Indo yang tiga bulan lalu itu? Haalt hie het[5]?”

Jimin bungkam. Berdiri di hadapan Jeongguk yang mempertanyakan seluruh perbuatan Bangsanya sendiri pada orang Belanda rasanya seperti dilucuti di depan umum. Malu. Rasa itu bercampur dengan kepedihan mendalam dan penyesalan akan dirinya yang tidak mampu berbuat suatu apa. Tidak berguna. Berat rasanya untuk menggeleng. Tapi ia harus beritahukan kenyataan itu.

Lantunan lagu Kimigayo mendendang dari radio di balik dinding ruang tamu. Nada-nada penegas kebesaran Nippon bagaikan momok paling mengerikan yang bisa terpikirkan. Jimin tahu, Jeongguk bakal santai saja tanpa menegang atau lari terbirit-birit. Sembunyi di bawah dipan kasur dan meminta tolong. “Sudah pukulnya,” gumam pemuda itu. Terlampau biasa dengan sensasi merinding dan bulu kuduk meremang di balik leher. Bukan kemegahan yang dirasakan keduanya, justru kengerian dan betapa kejamnya negara penyeru gerakan 3A itu.

“Kau tak apa?” Jimin memastikan.

“Ya.”

“Jarang aku lihat, kau takut pada hal-hal yang berbau Nippon.”

“Apa kiranya yang harus aku takutkan pada mereka?” Pertanyaan itu retoris. Tidak butuh jawaban. Tapi sorot manik kebiruan Jeongguk seakan menantang. Menunggu sang kawan untuk menimpali dengan jawaban apa saja yang bisa membuka gerbang diskusi di antara keduanya. “Banyak orang bilang, Nippon tak akan lama duduk di Hindia.”

“Indonesia,” koreksi Jimin, “negara ini tak akan lagi jatuh pada bangsamu.”

“Tentu tidak.” Jeongguk setuju. “Tapi bagaimana jika Nippon kalah di perang Asia Timur Raya? Akankah Indonesiamu kembali menjadi Hindia atau bertahan dengan keegoisanmu, Jimin?”

“Indonesia tak sekuat Belanda, kuakui.”

Jeongguk manggut-manggut. “Aku tak akan pojokkan apa yang jadi hak bangsamu. Hanya penasaran saja.”

“Jujur, Jeongguk.”

Hm.”

“Aku tak yakin siapa pun mampu membawa tujuh juta orang di nusantara. Menyatukannya saja tak akan sanggup.”

“Hendak ke mana kau lempar Sumpah Palapa Gajah Mada?”

“Ke mana saja,” ujar Jimin, “Siapa saja tak akan bisa tandingi Hayam Wuruk. Kau juga tahu apa yang sudah Nippon perbuat pada golongan tua? Mereka mampu mengambil banyak hati orang. Aku tak yakin masih tersisa pemimpin lagi yang cocok untuk Indonesia.”

Jeongguk bungkam sejenak. “Pemimpin PNI.”

Dengusan dijadikan Jimin sebagai jawaban. Bagaimana mungkin Jeongguk masih terpikirkan sosok yang sudah dibawa ke mana-mana oleh Nippon. Ikut mendirikan PETA, berpartisipasi besar pada Romusha, dan beberapa kali Jimin lihat potretnya yang menodong lurus. Seakan ia punya masa depan cerah di atas pundaknya. “Soekarno,” bisik Jimin.

“Ya. Keponakan Tjokroaminoto.”

“Kau dukung dia maju jadi pemimpin negeri ini, kiraku?”

“Kandidat paling sesuai.”

Kedua manik Jimin memicing. Curiga. Mengapa pula pemuda yang jelas-jelas berdarah Eropa ini justru bisa mendikte bagaimana jadinya nanti jikalau Indonesia bebas. Lepas dari orang-orang yang berambisi mendudukkan, membungkam, dan merendahkan bangsa yang sudah tersiksa ini. “Jeongguk,” tegurnya, “kau inginkan Indonesia merdeka?”

“Harapan apa lagi yang pas untuk Bangsa ini? Terlampau lama aku lihat bangsamu menderita. Bukankah sudah waktunya?”

“Mengapa?”

“Tak ada alasan. Mungkin kemanusiaan.”

“Lalu bagaimana dengan nasib keluargamu sendiri?” Sudah lama hendak Jimin tanyakan persoalan personal pada lelaki yang tidak kelihatan punya rasa takut ini. “Kupikir, kalian yang akan menantikan kejatuhan Kekaisaran Nippon dibandingkan Indonesia.”

Telunjuk Jeongguk mengacung. Menodong Jimin seakan ia adalah dalang dari banyak kasus orang hilang. “Dat is het[6],” katanya penuh penekanan. “Kita berdiri di tanah yang sama. ‘Kan, benar? Kita punya kepentingan yang sama. Membebaskan negeri ini dari Nippon.”

“Dari semuanya, Jeongguk,” sanggah Jimin, “kiraku, negeri ini juga harus bebas dari bangsamu.”

“Kau hendak singkirkan orang-orang sepertiku yang bahkan tak tahu bagaimana Totok-Totok itu menguras habis hukum Hindia dan menjadikan tanah ini milik mereka?”

“Kau juga Totok.”

“Tubuhnya saja. Tapi kau tak pernah tahu apa yang ada di dalam sini.” Telunjuk itu berpindah ke tempurung kepala Jeongguk sendiri. “Aku akan lakukan apa pun supaya kau tak mengecap apa yang sudah Nippon suguhkan di atas tanah ini, Jim.”

“Kau begitu yakin kalau aku membutuhkan bantuanmu.”

“Tak ada yang bilang begitu.”

“Lalu?”

“Kulakukan apa pun untuk kau, dan kau juga harus lakukan apa saja untukku.”

Forceren[7].” Tubuh Jimin diregangkan di atas kursi kayu. Merasakan hawa pagi menjelang siang yang mulai menciumi pelataran kulit. Terlampau berbeda dan dinding di antara keduanya terlalu tinggi. Manik kebiruan yang selalu berujar kebenaran, belah bibir yang tidak pernah absen dari cerutu, sampai setelan baju yang itu-itu saja. Betapa bebas dan terkepungnya pikiran pemuda Totok ini. Begitu kuat dan terlampau rapuh. Indah dan juga lemah.

▪️ ▪️ ▪️

 

WAKTU bersifat mengikat. Merengkuh pertemuan pertamanya dengan Jeongguk yang masih bisa ia ingat di ujung pikiran. Pemuda itu hampir selalu terlihat tidak punya masalah. Entah apa kiranya yang benar-benar ia sembunyikan. Beberapa kali, Jeongguk datang dan menyalami sang ayah. Mengakrabkan diri. Pertemuan lain mengantarkannya dengan sekotak makanan, obat-obatan kecil yang sekiranya dibutuhkan, dan yang paling membikin heran adalah beberapa kotak cokelat, sapu tangan, dan seikat kembang mawar. Jimin mati-matian menolak karena kentara betul kalau laki-laki ini mungkin hendak memperistri adik perempuannya. Berat bagi Jimin memberi restu di tengah medan tempur yang terbuka lebar.

Malam Februari menjelaskan kedatangan lelaki itu dan selembar jarit bermotif batik yang indah. Entah dapat dari mana. Lelaki itu necis. Pakai baju formal dan sepatu pantofel. Menarik Jimin keluar dari rumah, memutarkan lagu iringan piano yang syahdu, di samping rumah. Mengajaknya berdansa. Aneh betul.

Kelakuan tidak terprediksi ini berbanding terbalik dengan pergerakan-pergerakan kecil yang dibuat oleh Nippon di Indonesia. Beberapa kali ayahnya berkata lantang bahwa menolak adanya penyeretan paksa orang Totok di samping rumah keluarganya yang lain. Suara beratnya membahana sampai ke ujung rumah. Dari dapur pun masih bisa Jimin dengar dengan jelas.

Doke[8]!” Beberapa kata bisa diingat di luar kepala. Ayah Jimin dengan senantiasa melempar bahasa yang sama pada serdadu-serdadu tidak tahu malu itu. “Kare wa kodomo da[9]!”

Denting sendok teh dan cangkir mengambang di udara terbuka dapur. Fokus Jimin sudah bukan pada bagaimana caranya kopi itu tidak kemanisan, tidak terlalu pahit pula. Kali ini, ia benar mendengar sang ayah mengamuk pada tentara Nippon yang seakan tidak pernah diajarkan perikemanusiaan sepanjang hidupnya. Mungkin memang benar demikian. Belanda yang duduk di Hindia masih mampu dituntut ini dan itu, tapi Nippon ada di luar kontrol. Mereka terlalu diktator. Kemauannya harus dituruti pakai embel-embel kalau mereka adalah saudara jauh. Tai, pikir Jimin. Manis di bibir saja.

Kalau sudah seperti ini, sekeluarga punya pilihan pasrah saja. Kalau beberapa hari lagi rumah dikepung dan dibumihanguskan tentara-tentara itu, maka lakukanlah. Hendak berlindung di mana lagi juga Jimin tidak terpikirkan. Mungkin ia juga bakal mati terpanggang di sini.

“Ada apa?” tegur Jimin dari dalam rumah. Halus dan enggan mengganggu.

Otou-san ga ….[10]

Doushite[11]? ‘Kan, dia sudah lakukan hal yang benar?”

Jawaban yang didapat Jimin adalah kerlingan mata. Dari empat orang tentara yang ada, cuma satu yang membuat Jimin geram. Hampir-hampir naik pitam. Sosok yang masih menggenggam pergelangan tangan bocah kecil berkulit secerah awan dan mata seteduh batu giok.

Ah, wasureteta. Indonesia-go o hanasu koto ga dekimasen yo nee[12]?” Maksud hati memang merendahkan. Jimin setengah mati menekan nada congkak di setiap kalimat yang ia lontarkan. Sekalian saja, pikirnya. Kalau memang besok atau lusa ia sudah jadi satu dengan tanah, biarlah ia lakukan apa yang ia inginkan sekali seumur hidup. Merendahkan orang yang dengan gamblang menjejak di Indonesia dan menginjak apa saja tanpa pikir panjang. “Sampaikan ini pada atasan kalian. Kimitachi wa saiaku[13].”

Lemparan ludah diterima ujung jari kaki Jimin yang cuma beralas sandal jepit. Lengket dan menjijikkan. Mungkin ini mendeskripsikan pula Nippon dan kelakuannya. Cermin yang luar biasa pas.

Dari jajaran orang berseragam lengkap, Jimin tangkap bayangan fatamorgana yang dekat dengan semak-semak. Setelan kemeja putih dan celana cokelat tua. Surai pirang pucat dan mata biru sebebas langit. Mengamatinya dari jauh dan bungkam, tidak berkutik. Selaras dengan derap kaki yang mulai menjauh, sosok itu mendekat perlahan. Seakan menyambut Jimin di tepi jembatan yang sepi. “Goed. Je deed het goed[14],” gumamnya.

“Beruntunglah kau masih mau ada di balik semak itu. Kalau kau muncul, kau mungkin juga akan mereka bawa.”

“Aku tak masalah.” Jeongguk main-main. Merentangkan kedua tangannya seolah ia menyerah. “Tak ada yang bisa mereka bawa dariku. Tak ada pula yang berguna, ‘kan?”

Sang ayah masuk. Meninggalkan anak lelakinya bersama sang kawan yang sudah beberapa kali mampir. Siluetnya dimakan matahari sore yang mulai berpulang di ufuk barat. Menandakan bahwa suasana bakal menggelap, beberapa jam lagi. “Apa yang hendak kau lakukan kemari?” tanya Jimin yang sudah mengambil satu kursi santai dan memilih untuk duduk di tepian teras rumah.

“Menyambangi kawan.”

“Kau tak pernah anggap aku kawan.” Satu cerutu dilemparkannya pada Jeongguk yang dengan lihai ditangkap. “Kau sudah tulis surat pada keluargamu di Netherland? ‘Kan, kau bilang kalau hendak pulang?”

Jeongguk hisap dalam-dalam sebatang cerutu di sela jemarinya. Mengepulkan asap pekat dari dasar paru-parunya yang entah bakal baik-baik saja atau tidak. “Akankah kau pergi denganku, Jim?”

“Ke mana hendak kau bawa aku?”

“Ke Netherland.”

“Kau memang sudah hilang akal.”

“Aku tidak,” kilah Jeongguk, “katakan aku hilang akal, tapi kau lebih lagi.”

“Mengapa begitu?”

“Karena kau tanggapi saja orang hilang akal ini.”

Jimin jadi menyesal bertanya. “Kau sudah lama jadi kurang waras, begini?”

“Apanya dariku yang kurang waras?”

“Memberikan aku bunga, sapu tangan, dan mengajakku berdansa.”

Kekehan bisa Jimin dengar terlontar. “Kau pintar betul, kulihat dari semak-semak tadi. Tapi soal seperti ini kau justru bertanya padaku?” tanyanya. “Kau tahu apa yang hendak aku utarakan, Jim.”

Sesulit keadaan yang berlalu saat ini. Peperangan ini berbanding terbalik pada apa yang terjadi pada kedua insan di bawah langit Depok ini. Terlampau tabu dan kurang ajar. Bagaimana bisa batin ini menari-nari kegirangan di atas jejak-jejak darah kemerdekaan? Mengapa takdir terlampau tidak tahu diri dan mengasingkan keduanya di tempat yang tidak bisa lagi terjamah, tidak terselamatkan.

 


 

Jakarta

1945

 

Jeongguk

PERS berdatangan di ruang tamu. Momentum terjadi begitu cepat. Terburu-buru. Gaung kemerdekaan masih memekakan telinga. Jeongguk dengar betul berita kekalahan Nippon yang disiarkan lewat radio. Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan. Nippon tidak berkutik. Inilah akhir dari seluruh penderitaan yang ada. Akhir dari orang-orang berambisi tidak masuk akal itu. Awal baru untuk bangsa yang telah berikan Belanda segalanya. Sejak pertama menjejak sampai harus mangkat satu per satu.

Berjajar kumpulan orang yang berkeliling di kompleks pemukiman. Berteriak merdeka, merdeka, merdeka. Buntut dari kegagahan Golongan Tua yang berani mengambil tindakan. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya terstruktur rapi dan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan.

“Jeongguk,” panggil kakak laki-lakinya dari balik pintu. Telapaknya menggapai-gapai dinding guna mencari sakelar lampu. “Makan,” ujarnya dalam bahasa Indonesia. “Kita bicarakan kepulangan ke Netherland juga.”

Ja[15].” Kumpulan buku dan kertas di atas meja, ditata ala kadarnya. Selama sang kakak tidak masuk dan melihat-lihat, ia aman. Tidak akan ia biarkan siapa pun tahu maksudnya datang dan menetap lama di tanah Hindia. “Kau yang masak?” tanyanya.

“Seperti biasa.” Seokjin kelihatan lebih segar di bawah lampu oranye ruang makan. Tubuhnya yang tinggi dengan perawakan hampir serupa seperti sang adik menjadikan lelaki itu pusat dari dunia Jeongguk, kali ini dan nanti. Pemuda ini satu-satunya orang yang menahan Jeongguk untuk tetap menjejak di tanah Hindia. Memperjuangkan hak-hak bangsanya selayaknya manusia pada umumnya. “Kenal kau dengan orang kompleks sebelah, itu?”

Satu nama saja yang terlintas di dalam otak. Satu insan saja yang bisa berdamai dengannya yang punya darah Totok kental. Cangkang ini tidak mengizinkan Jeongguk untuk menjejak di tanah lainnya. Seakan dunianya cuma sebatas pelataran rumah dan melompat, melejit ke kediaman laki-laki yang mungkin sedang berbincang dengan keluarganya soal beberapa poin yang dituduhkan atas dasar ketiadaan. Hal ini juga membuat Jeongguk kepayahan. Posisinya serba salah, sekarang. “Jimin,” bisiknya. Satu suap tumis kangkung dikunyahnya pelan-pelan. Merasakan bumbu sarat rempah itu berjalan lewat kerongkongan.

Ken je hem[16], Jeongguk?”

“Tidak terlalu.”

“Kau tak temui dia?”

“Mengapa harus?”

Seokjin diam beberapa detik. Membiarkan kedua tangannya sibuk dengan hidangan di atas meja. Beberapa potong tahu yang digoreng hangat memang jadi kesukaannya. Laki-laki itu kadang memperlakukan makanan layaknya kitab suci. Diagungkan dan siapa saja harus khidmat ketika ada di hadapan sang makanan. Aneh betul. “Ajak dia ke pasar malam. Dekat dengan kantorku.”

“Kau balik ke kantor?” Jeongguk hampir tersedak. “Weet je het zeker[17]? Mampu kau, kiranya, lari-larian kalau dikejar orang-orang Nippon yang kadang masih jalan-jalan di depan pintu itu?”

“Musuh kita tak hanya Nippon.”

“Apa hendak kau singgung, sekarang?”

“Kawanmu baru diseret keluar rumah, kemarin.”

“Kawan?” Jeongguk ingat-ingat. “Yoongi? Taehyung?”

De andere[18].”

Wie[19]?” Jeongguk tidak berniat naik pitam di atas meja makan. Tetapi Seokjin hampir selalu seperti ini. Membiarkan adik lelakinya menebak-nebak meski ada di dalam situasi yang genting. “Yugyeom? Bambam?” terkanya lagi.

“Yugyeom.” Telunjuk pemuda itu yang panjang mengacung pada Jeongguk seperti seorang terdakwa bersalah. “Orang lain juga. Kita? Tinggal tunggu waktu.”

“‘Kan, aku juga sudah katakan. Kau gila kalau balik ke kantor dan kau benar-benar balik. Yang mengundang jagal itu kemari, kau sendiri.”

“Jangan kekang pergerakanku. Aku tak takut pada mereka.”

“Kau harus tahu batasnya juga,” sanggah Jeongguk, “mengapa kau bersikukuh datang ke kantor?”

“Aku harus cari keadilan, Jeongguk.”

“Untuk?” Jeongguk mendengus. Beruntunglah tumis kangkung itu tidak lolos dan keluar dari lubang hidung. “Kau tahu kalau kita ini tak akan pernah selamat, Seokjin. Yang bisa kita lakukan adalah pulang. Terug naar[20] Nederlands,” gugatnya.

“Kau bisa lindungi kakakmu ini, ‘kan? Kau dekat dengan pemuda di kompleks sebelah dan bisa ambil hati orang-orang Nippon yang bekerja di sekitar sini.”

Niet[21].” Bukan karena Jeongguk bisa bercakap ringan dengan banyak orang, beberapa mampu ia toleransi keberadaannya, dan beberapa hal lain jadi faktor mengapa kakaknya gegabah. Seokjin punya maksud lain dan Jeongguk benci mengakui kalau ia tidak tahu-menahu soal apa yang ada di dalam otak kakak lelakinya, sekarang. “Kau tak tahu bagaimana otakku ini ...” Jeongguk tunjuk pelipisnya yang mulai pening, “beputar untuk sekadar bisa jalan lewat di depan mereka tanpa mencoreng harga diri tapi kepalaku tetap ada di posisi ini.”

“Jeongguk, kau bahkan bisa lindungi pemuda pribumi itu.”

Sudah tidak selera rasanya hidangan di atas meja. Perut yang sedari tadi meronta-ronta minta diisi, kini menolak sesuap pun. “Kau hendak katakan kalau derajat mereka masih ada di bawah kita, begitu?”

Seokjin tidak menjawab.

“Ingat, kita ada di sini atas belas kasih orang-orang yang kau anggap tak lebih rendah dari sepatumu itu, Seokjin. Hati-hati merangkai kalimat. Aku sendiri yang bakal tanam peluru itu di dalam otakmu, nanti.” Perundingan itu berakhir sepihak. Tidak pula Jeongguk dengar derap langkah sang kakak laki-laki mengikutinya sampai ke dalam kamar. Ia sengaja inginkan kebebasan sendiri. Untuk sementara, SeokJin harus tahu kalau ia tidak lagi setinggi langit. Kalau semua sudah berubah seiring berjalannya masa. Seokjin harus tahu jika keberadaan mereka tidak lebihnya seutas benang yang hampir putus. Entah bakal dipotong atau digulung kembali menuju ke Netherland.

▪️ ▪️ ▪️

 

JEONGGUK terima lembar demi lembar surat yang datang padanya. Satu bulan terakhir bergulir layaknya mimpi buruk yang tidak membiarkannya bangkit dan bangun. Kenyataan-kenyataan itu mengalir bak air bah yang tidak terbendung. Mulai dari pergerakan bangsanya yang terbatas, begitu kewalahannya pedagang Tiongkok mencari jalan pulang, bising di sebelah-sebelah rumah, sampai di kediaman Jimin yang tidak lagi bisa terjamah.

Kali terakhir mereka bisa bertemu tatap adalah ketika Seokjin mengizinkan Jeongguk menemani Jimin ke pasar malam, dekat dengan tempat kerja sang kakak yang sudah tercoreng tinta merah bertulis ‘Milik Indonesia’. Entah siapa yang mengguratnya. Jelasnya, Jeongguk enggan mengambil keputusan sendiri. Bangsanya sudah lama hendak melangkah pergi dari Hindia yang jadi jajahannya, beberapa abad yang lalu. Tidak tersisa apa-apa selain kematian yang menggantung di depan mata. Jeongguk susun kalimat-kalimat yang menggoyahkan batinnya sehingga bisa diterima oleh telinga orang lain. Terutama oleh Jimin yang beberapa kali berkata bahwa ayahnya dicurigai sebagai Andjing Nica. Sebutan untuk orang-orang yang masih berkaitan dengan Batalyon Infanteri V.

“Mengapa tak kau katakan padaku lebih awal, Jim?” tanya Jeongguk, kala itu. Kedua tangannya menggenggam erat garis jahit celana panjang yang dikenakannya. Menahan amarah atas segalanya. Semuanya. Pada bangsanya, pada keluarganya yang tidak mampu membawanya lari dari situasi ini. Kalau saja Jeongguk diselamatkan lebih awal, mungkin perasaan bersalah ini tidak perlu mengendap lama-lama di dalam batin. Tapi angan memanglah cuma sebatas pikiran. Yang tersisa adalah kenyataan yang harus Jeongguk hadapi seorang diri. “Ke mana kiranya, keluargamu saat ini?”

“Aku tak bisa katakan padamu.”

“Karena aku Totok. Aku paham.” Jeongguk manggut-manggut. “Tak sepantasnya pula aku bertanya.”

“Jeongguk,” panggil lelaki bersurai kelam di hadapan Jeongguk. “Kau memang tak bisa temui keluargaku, tapi kau masih bisa menemuiku. ‘Kan, tak apa? ‘Kan, sama saja?” Sungguh. Jimin benar-benar seakan tidak mau tahu soal apa yang menghantui pikiran Jeongguk akhir-akhir ini. Betapa ia susah untuk melewatkan malam tanpa membayangkan hari bahagia akan tiba. Suatu saat, ia akan bersenda gurau. Tanpa adanya dinding penghalang yang membatasi kedua Bangsa yang sudah merdeka ini. Hari di mana Jeongguk tidak perlu bersembunyi di balik rumah yang sudah membesarkannya, beberapa tahun terakhir. Keadaan menariknya menjauh. Membawanya pada kenyataan saat ini. Jeongguk dengan asanya yang tetap enggan padam dan Jimin dengan ketidaktahuannya soal apa yang baru saja ia katakan.

Hoe kon je[22], Jim.”

Aan jou[23]?”

“Pada semuanya.”

“Aku telah usahakan kau dan keluargaku untuk tak lagi bertemu dan menyelamatkan kalian berdua. Dan kau masih tega berkata bahwa aku begitu tega?” Jimin mendengus geli. Meratapi apa yang sudah terjadi. “Tak mampukah, kau lihat betapa lelahnya aku, Jeongguk?”

Jeongguk bungkam. Tidak punya daya menginterupsi. Manik matanya cuma berpendar gusar. Ia harus akui kalau saat ini adalah titik paling rancu dalam hidupnya. Bergerak membela bangsa sendiri sudah pasti ia bakal kembali ke Netherland dengan tubuh yang terbelah jadi dua, mencoba mengutarakan isi pikiran dan berpendapat soal Indonesia juga sama saja menggali lubang kuburan sendiri. Situasi ini membingungkan. Memuakkan.

“Dari Senin aku usahakan datang dan menemui kau yang masih di Depok.” Jeongguk bisa lihat getar jajar jemari mungil itu. Bergerak ke sana-kemari menghindari tatapan yang bakal diperolehnya kalau diam saja. “Id work gek[24], Jeongguk. Aku di keadaan yang sulit.” Ya. Memang bukan hanya Jeongguk yang dihadapkan pada pilihan yang mustahil.

“Lalu mengapa kau memaksa untuk bertemu denganku?” tanyanya kemudian. Setengah penasaran juga, rupanya. “Bukankah lebih baik kalau kau di dalam rumah dan bersama dengan keluargamu dulu?”

“Lalu kau bagaimana? Hendak menghilang dan tak akan kembali, begitu? Tanpa aku tahu? Tanpa kau berpamit pada siapa-siapa yang kukenal?”

“Aku bisa kirimkan surat.”

“Kau tak tahu di mana aku tinggal dan aku tak akan pernah sudi memberitahu.”

Onrechtvaardig[25],” gumam Jeongguk untuk dirinya sendiri. Tidak peduli Jimin nanti curi dengar atau tidak. “Aku harus kembali ke Netherland secepatnya.”

“Kapan, kiranya?”

“Aku tak bisa pastikan.”

Helaan napas panjang yang bisa Jeongguk dengar sebagai jawaban. Seolah itu adalah keputusan terbaik dibanding dengan merangkai jutaan kata tidak bermakna. Dari redupnya cahaya lampu pasar malam yang mulai tutup, Jimin bak satu-satunya cahaya tersisa yang mampu menerangi Jeongguk di dalam kegelapan. Jurang di antara keduanya tidak akan mampu memisah, tekad Jeongguk. Dua tebing yang berdiri kokoh dan merangkul satu sama lain. Begitu berbeda, terlampau sama. Kali ini, keputusan terbaik adalah menjauh dan memilih untuk mengamankan diri masing-masing. Mungkin ini jauh lebih penting.

Telapak mungil Jimin saling menggosok satu sama lain. Tanda kalau pemuda itu mulai kedinginan. Manik kecokelatannya menerka-nerka. Kiranya apa yang bakal terjadi setelah pertemuan ini, nantinya. “Ayahku dicap sebagai antek-antekmu, Jeongguk,” bisik Jimin di bawah napasnya yang panas.

Andjing NICA.”

“Ya.”

“Apa sudah beliau perbuat di pemerintahan?”

“Tak ada,” sela Jimin, “dia hanya suarakan apa yang menurut dia benar.”

“Dan itu?”

“Apa yang bangsaku lakukan pada kalian adalah kejahatan, Jeongguk.” Dari bidik mata, Jeongguk bisa baca kegundahan dalam batin Jimin yang mulai goyah. Anak itu perlahan bangkit dari keterpurukan. Mulai menyadari mana kiranya yang harus dibenarkan dan mana yang tidak. “Bukan merdeka seperti ini yang aku dan keluargaku inginkan. Tak ada merdeka yang menginjak hak orang lain. Terlebih yang tak bersalah.”

“Kau anggap kalau bangsaku yang tersisa di sini ini tak bersalah?”

“Golongan atas sudah kembali ke Netherland, hampir semuanya. ‘Kan, aku benar?”

“Ya.”

“Bangsamu sudah ditindas waktu Nippon duduk di Indonesia. Aku tak bisa lihat anak-anak tak bersalah itu harus masuk dalam penjara. Kau tak tahu kalau mereka diseret-seret dan ada pula yang diperkosa?”

Jeongguk benci mengakui kalau ia tahu. Hampir semuanya yang sudah terjadi; setiap insan yang diseret paksa dari dalam rumah; Yugyeom, Taehyung, dan Yoongi yang menanggalkan paras wajah pasrah karena melawan pun mereka seolah tidak punya hak. Menjejak di tanah orang, tidak pernah sesengsara ini. “Ik weet het[26],” bisiknya, “dan aku tak bisa tentukan siapa yang bersalah, Jim. Bangsamu atau bangsaku?”

Jimin bungkam beberapa detik. Ia biarkan embus angin malam yang menghantar kedai-kedai untuk segera tutup mengambil alih. “Tak ada. Kita berdua sama-sama tahu kalau tak ada yang tak berdosa, saat ini. Bangsamu dengan hukum Eropa dan segalanya yang telah kalian perbuat atas Indonesia, dan bangsaku yang juga turut andil menyengsarakan rakyatnya sendiri. Mengapa harus kau labeli mana hitam dan mana yang putih, Jeongguk? Bukankah kita ada di kubangan pendosa yang sama?”

“Ya. Pendosa memang tak berhak hakimi pendosa lainnya,” final Jeongguk, “lalu apa hendak kau lakukan setelah kita bertemu begini? Memberitahu kalau aku tak perlu merasa berdosa atas apa yang yang telah bangsaku lakukan pada kalian atau sebaliknya?”

“Berhati-hatilah. Kompleksmu mungkin aman untuk sekarang, tapi aku tak bisa pastikan besok, lusa, atau minggu depan.”

“Kau tak punya pesan lainnya?”

“Kemarilah, Jeongguk.” Tubuh mungil itu justru yang mendekat lebih dahulu. Mengikis jarak yang ada dan hampir-hampir bersentuh satu permukaan kulit hidung dengan lainnya. “Berjanjilah kalau kau akan menemuiku di ujung jalan. Kita bangun ideologi baru dan menyejahterakan apa yang menurut kita benar.”

Keterbatasan Bahasa kadang membuat Jeongguk muak. Tapi kali ini, ia berhasil memetik kembang amanah yang disematkan Jimin lewat lisannya. Dari bibir yang tiada henti mengingatkannya dan senantiasa berdiskusi. Tidak ada yang baik dan jahat, benar dan salah, semua manusia sama adanya. “Waktu kita terbatas. Apa hendak kau lakukan dengan itu?” tanyanya.

“Bawa aku ke suatu tempat. Untuk malam ini saja.”

“Bagaimana keluargamu?”

“Mereka tak akan khawatirkan aku, percayalah.”

Sisa kalimat terakhir itu menggantung di kotak kenangan. Yang masih bisa Jeongguk usahakan adalah menuruti saja apa kata pemuda paling egois itu. Dari derai air matanya tanda tidak ingin berpisah, potong kain pakaian yang berserakan di penginapan murah ujung kota Jakarta. Redupnya lampu dan ketidakmampuan Jeongguk menahan Jimin untuk meledakkan semua yang ia rasakan. Mengapa waktu begitu membenci dua insan yang memperjuangkan satu sama lainnya?

Memori itu membawa Jeongguk berdiri di teras rumah. Mengantarkannya seorang diri menghadapi belasan pemuda seumuran dengan sorot kebencian. Berat, rasanya. Ia lihat refleksi Jimin pada setiap awak yang menghadangnya untuk keluar. Sorot mata pemberani dan tegar, gigih melawan apa yang menurutnya tidak sejalan. Surai legamnya yang hitam indah dan memerak ketika memantulkan sinar rembulan. Setelan kemeja putih dan celana sepadan juga tidak ketinggalan.

“Panggil semua yang ada di dalam!” salah seorang di antaranya memekik. “Jangan sampai tersisa Totok seperti ini di Bumi Pertiwi!”

Jeongguk tidak bergeming. Memilih untuk menunduk dan tidak berkutik. Ini akan membawanya pada perpisahan damai tanpa penyiksaan. Semakin minim ia menyela, semakin besar kesempatan tubuhnya untuk ditinggalkan dalam keadaan nyaris sempurna.

“Tak ada orang lagi di rumah ini, Bung!” teriak lainnya dari dalam rumah. Jeongguk bisa dengar denting beberapa barang dan guci yang sengaja dibawa pergi. Biarlah pemuda-pemuda ini ambil apa yang mereka inginkan. Jeongguk tidak lagi punya pikiran hendak ia pertahankan.

“Di mana kau sembunyikan kawanmu itu? Andjing-andjing Nica! Bedebah!”

“Tak ada orang selain aku di rumah ini,” jawab Jeongguk.

“Aku pernah lihat Totok lain di sini,” tantang yang lainnya.

“Namanya Seokjin. Dia kembali ke Netherland, bulan lalu.”

“Mengapa dia, rupanya? Takut?” Kekehan meremehkan muncul. Jeongguk merasa begitu ironi. Bukankah justru kumpulan mereka yang lebih takut karena harus bergerombol untuk bisa membawa satu Totok keluar dari dalam kediamannya sendiri? “Gantung dia seperti lainnya! Kuberi sama seperti apa yang sudah kau lakukan pada pemuda-pemuda di Malang.”

Digantung dan diseret. Jeongguk sudah bisa bayangkan rupa tubuhnya di jalanan. Ah, mengapa ia sia-siakan waktu bersama Jimin, kemarin lusa? Ia bisa memeluk tubuh hangat itu beberapa detik lebih lama. Jeongguk mampu memberinya salam perpisahan yang lebih benar, lebih terkenang. Seandainya Tuhan sudi memberinya waktu sehari, ia bakal berlari. Mengejar apa yang tidak sengaja ia tinggalkan; Jimin di penghujung jalan.

 


 

Surabaya

1960

 

Jimin

SATU buku berjudul Perburuan digenggam Jimin lebih lama. Novel yang ditulis oleh Pramoedya semasa dalam penjara sewaktu pendudukan Nippon di Indonesia. Belum lagi lama masa itu berakhir. Gejolak revolusi juga masih terasa. Perpindahan kekuasaan dari Nippon ke tangan pemimpin utama kali ini, berjalan tidak terlalu mulus. Mulai dari Agresi Militer, sampai pada hak-hak masyarakat Tionghoa yang masih harus diperjuangkan. Bak ombak pantai selatan yang tidak menentu, demokrasi Indonesia kian hari kian bangkit lebih tinggi.

“Abang tak makan?” Adik perempuannya datang dari dapur. Berkebaya rapi dan bersanggul rendah. Ia tidak lagi tampak kesulitan mengenakan jarit yang mengekang kedua kakinya supaya tidak melangkah terlalu lebar. “Aku sudah siapkan lauk di atas meja. Cepatlah makan.”

Cuma anggukan yang bisa Jimin berikan sebagai jawaban. Tidak lagi tersisa tenaga untuk bersikap seolah ia telah ikut andil menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Dilihat dari pantulan cermin juga ia menyerah membaur dengan tetangga sekitar. Mengurung diri, tidak terlalu bisa selalu bersentuh dengan air kamar mandi, dan malas betul mencukur kumis.

“Jangan lupa hidupkan lampu depan, Bang. Aku hendak keluar sebentar.”

“Ke mana? Sudah malam. Tak seharusnya anak perempuan keluar.”

“Sebentar saja.” Derap langkah sang adik berhenti di depan pintu. Tidak lagi terdengar. “Bang,” panggilnya, “Bang!”

“Harus kau berteriak begitu?” Enggan cepat-cepat, Jimin berjalan dengan malas. Menembus lorong dan sampai di ruang tamu yang lengang. Siluet sang adik membendung siluet lainnya yang lebih tinggi. Mungkin seseorang hendak bertamu. Tapi ini terlampau larut. “Siapa? Sudah punya kekasih kau .... ” kalimat itu tidak bakal selesai sampai kapan pun.

Sinar rembulan berbaik hati menabur dan jatuh pada siluet seseorang yang tidak bakal Jimin sangka kembali. Tubuhnya masih tinggi, surainya tetap pirang pucat dengan binar mata kebiruan yang lumayan redup. Secuil tulang daun telinganya hilang entah ke mana, beberapa bekas luka dipahat dengan paksa di atas kulitnya yang seputih salju. Selain perbedaan yang tidak diinginkan, pemuda itu masih sama. Membawa senyum sehangat sinar mentari pagi. Ia bergumam, “Meester.”

Bak balon yang bisa meletus kapan saja, Jimin bisa rasakan gelembung di dalam dadanya. Hendak melambung dan hancur berkeping-keping, kalau dibiarkan. Tidak ada waktu memproses semuanya. Biarlah apa yang jadi pertanyaan di dalam otak, dijawabnya nanti. “Waar woon je?[27]” tanyanya terbata. Masih ia ingat kalimat awal yang membawanya bertemu dengan siluet ini.

Nabij[28].”

Kali kedua memang tidak bakal sama. Pertemuan tidak terduga ini membawa Jimin mengukir satu kenangan baru. Ia bertemu dengan janjinya yang telah lama ia lupakan. Jeongguk benar-benar menantinya di ujung jalan kehidupan.

 

 

Fin

 

 

 

 

 


Catatan kaki:

[1] Di mana rumahmu?

[2] Dekat

[3] Ya, Tuan

[4] Siapa namamu?

[5] Bagaimana keadaannya?

[6] Itulah

[7] Pemaksa

[8] Menyingkir

[9] Dia masih anak-anak

[10] Ayahmu ...

[11] Kenapa?

[12] Ah, aku lupa. Kalian tidak bisa bahasa Indonesia, ‘kan?

[13] Kalian yang terburuk

[14] Bagus. Kerja bagus

[15] Ya

[16] Kau kenal dia

[17] Kau yakin?

[18] Bukan keduanya

[19] Siapa?

[20] Kembali ke

[21] Tidak

[22] Kau begitu kejam

[23] Padamu?

[24] Aku hampir gila

[25] Curang

[26] Aku tahu

[27] Di mana rumahmu?

[28] Dekat

Notes:

Thank you for reading, please leave some comments and kudos to support the author! ❤
Also follow our Review Event on Twitter^^