Actions

Work Header

Daian 大安

Summary:

大安 : dibaca Daian atau Taian yang artinya kedamaian yang luar biasa.
Bagi Jungkook, sepuluh tahun bersama Jimin adalah Daian. Jimin adalah Daian-nya.
Walau ternyata, tidak ada yang bertahan selamanya.

Notes:

Daian 大安 by jeonminah

-----
Contact the author here:
Twitter: @jeonmin_ah
AO3: jeonminah

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:



 

"CERAI aja,” ucap Jimin yang rasanya ada pedang menusuk ulu hati Jungkook. 

“Hah?” tanya Jungkook masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Matanya terbelalak mencoba mencerna kalimat suaminya itu barusan.

“Kamu gak denger? Cerai aja. Aku sama kamu terlalu sering berantem. Aku capek, kamu capek. Kita sudah terlalu lama begini, Jungkook. Aku udah gak kuat.” Jimin semakin memantapkan isi pikirannya.

“Kamu udah gila?” Jungkook masih bertanya lagi. 

“Kamu yang gila. Kamu yang selalu pulang ke rumah bawa keributan. Kamu kerja, aku kerja, sama-sama capek. Bukan kamu aja. Setiap hari kita bertengkar, tidur juga udah pisah.” 

“Kamu yang milih tidur di luar, ya, Jimin. Kenapa jadi nyalahin aku?” protes Jungkook.

“Emang aku yang mau tidur di luar.”

“Kenapa?”

Jimin diam. Matanya berkaca-kaca menatap Jungkook lalu membuang pandangnya ke jendela besar apartemen mereka, menatap gelapnya langit malam di luar. 

I just .… ” Jimin terdiam lagi, lalu dia mengambil jaketnya yang terletak di sofa ruang tamu dan bersiap untuk beranjak pergi.

“Jimin!” Jungkook menahan lengannya. Pria yang sudah menemaninya lebih dari sepuluh tahun, sejak mereka masih kuliah hingga keduanya memutuskan untuk berumah tangga.

“Aku tidur di rumah Mama dulu malam ini. Aku tetap mau cerai, Jungkook,” ucap Jimin sembari menepis tangan Jungkook.

“Cerai, cerai, my ass! Kamu pikir segampang itu? Kita udah sama-sama, Jimin. Sepuluh tahun!” 

“Lalu?”

“Lalu, katamu?”

“Sepuluh tahun, lima puluh tahun, atau dua tahun tidak akan ada bedanya kalau .…” ucapan Jimin kembali terhenti.

“Kamu itu ngomong apa, sih? Kalau apa?!” Suara Jungkook semakin meninggi, menambah panas suasana di antara mereka.

I just fall out of love with you, Jungkook.”

Hening ini terlalu berisik. Jungkook meneteskan air mata. Jika kata ‘cerai’ tadi seperti pedang yang menusuk ulu hatinya, ternyata tidak sesakit saat Jimin mengatakan bahwa dia tak mencintai Jungkook lagi. Cintanya sudah habis, hilang. 

You lied, didn’t you? ” 

“Sayangnya, aku jujur. I’m sorry, Jungkook,” jawab Jimin lirih.

I can give you space. And time. Or anything you need. Bilang aja, Jimin, kamu butuh apa?” Suara Jungkook mulai bergetar. Air matanya menetes lagi, sedangkan Jimin menatapnya dingin.

Too late, Jungkook. I need space, yes, but just … without you.” Jimin melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemen mereka meninggalkan Jungkook seorang diri. 

 


 

Sepuluh tahun yang lalu. Malam tahun baru.

 

“JUNGKOOK! Lihat!” Jimin memanggil nama Jungkook dengan sedikit berteriak di tengah hiruk pikuknya suara manusia lainnya yang sama bersemangatnya dengan dia. Jungkook melihat ke arah jari Jimin menunjuk, ke langit. Pancaran warna-warni di langit malam tahun baru itu disusul dengan suara bising yang memekakkan telinga tak lantas mengurangi binar mata Jimin yang berseri-seri menatap indahnya kembang api di atas kepala mereka. Jimin selalu menyukai kembang api. Seperti Jungkook yang selalu menyukai Jimin. Tak sekali pun Jungkook melihat ke atas. Karena baginya, Jimin jauh lebih indah dari kembang api yang paling canggih di dunia sekalipun.

Bibir Jimin merekah lebar, tersenyum senang atas setiap kembang api yang meluncur malam itu. Terkadang dia mengeluarkan suara takjub dengan antusias. Jungkook tersenyum juga, sama lebarnya, dengan mata berbinar memandangi Jimin.

“Jimin …. ” panggilnya.

“Ya?” jawab Jimin sambil menoleh ke arah Jungkook yang berdiri di sampingnya.

Jungkook tak lantas menjawab. Dia diam sejenak dengan mata yang masih berseri-seri, dengan jantung berdegup kencang, dalam hati dia berterima kasih pada suara bising kembang api yang dia pikir mampu menutupi suara detak jantungnya yang nyaris keluar dari tubuhnya.

“Aku jatuh hati sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Kenal sama kamu bikin aku makin ngerti apa itu artinya bahagia. Aku bahagia sama kamu, Ji. Be mine, please?” Jungkook mengucapkan kalimat yang sudah dia latih ratusan kali di depan cermin untuk momen malam ini. Detik-detik krusial yang berisiko besar baginya, Jimin akan menjadi pacarnya atau justru dia akan kehilangan Jimin sama sekali.

Jimin terdiam sejenak. Matanya tetap berbinar, senyumnya masih merekah, tidak ada bedanya dengan dia memandang kembang api tadi. Dia masih memandang mata bulat Jungkook tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat jantung Jungkook berdegup semakin kencang.

So? ” Desak Jungkook tak sabar. 

“Hahaha. Aku udah nunggu lama momen ini. Tadinya, kalau malam ini kamu gak nembak, aku yang bakal nembak kamu. Makasih udah hadir di hidupku, Jungkook. Aku juga jatuh hati sama kamu. Jatuh banget, nih. And yes, I am yours. Hahahaha.” Tawa Jimin terdengar semakin merdu di telinga Jungkook, mengalahkan suara kembang api dan ingar-bingar ribuan manusia lainnya. Entah siapa yang memulai, atau memang keduanya sudah siap, bibir keduanya saling bertemu untuk pertama kalinya. Jemari Jungkook merengkuh leher pria yang sudah resmi jadi pacarnya itu. Sedangkan Jimin memeluk pinggang ramping Jungkook. Ciuman mereka begitu hangat dan indah, mengabaikan puncak kembang api di malam itu. Tepat di hari yang baru di tahun yang baru, keduanya memulai lembaran yang baru juga sebagai sepasang kekasih. 

I love you, Jimin. So much. You have no idea how much I love you,” ucap Jungkook setelah ciuman pertama mereka. 

Jimin terkekeh. Kali ini kedua tangannya merangkul leher Jungkook.

“Mungkin ini bisa kasih gambaran tentang sayangnya aku ke kamu selama ini,” ucap Jimin sambil tersenyum.

I love this,” ujarnya sambil menyentuh dahi Jungkook dengan telunjuknya.

I love this,” tunjuknya ke kelopak mata pria itu.

I love this,” tunjuknya ke hidung mancungnya sambil mencubitnya gemas.

“Coba senyum,” pinta Jimin dan Jungkook menurut.

I love this!” seru Jimin membenamkan telunjuknya di lesung pipi pria itu.

Jungkook terkekeh, rasanya dia mau menangis saking bahagianya.

“Dan yang paling penting, I’m in love with you and all these little things. The whole of Jeon Jungkook.” Jimin menutup kalimatnya dengan senyuman. Jungkook rasanya mau meledak karena jutaan kupu-kupu sedang beterbangan dengan hebat di dalam tubuhnya.

 

 

I won't let these little things slip out of my mouth

But if I do, it's you

Oh, it's you, they add up to

I'm in love with you

And all these little things

Little Things by One Direction

 


 

Tujuh tahun yang lalu. Satu hari sebelum ulang tahun Jungkook.

 

“OH, beneran gak bisa, ya, Sayang?” Suara Jungkook terdengar kecewa setelah mendengar penjelasan Jimin dari saluran telepon genggamnya.

“Ya udah, hati-hati, ya. Gak apa-apa, ntar kita rayain pas kamu pulang dinas, ya. Lusa juga udah sampai ini. Take care, Honey. You know I love you, right? ” Jungkook sudah terdengar lebih tenang dan memastikan dia mendengar jawaban dari kekasihnya. Tampaknya jawaban Jimin membuatnya tertawa kecil.

Yes, I know it, you idiot! Don’t forget I love you even more.” 

Jungkook mematikan koneksi telepon mereka. Dia memandang layar komputernya sambil menghela napas dan kembali bekerja. 

“Ayo kerja yang giat, Jungkook. Nikah butuh uang,” ucapnya pada dirinya sendiri.

Tak terasa dia sudah bekerja hingga larut malam. Karena Jimin ke luar kota, maka dia akan mengambil lembur malam ini dan memutuskan untuk pulang larut malam. 

Layar ponselnya menyala, dia melihat ada pemberitahuan pesan masuk.

 

 

Jimin

Udah pulang, Sayang?

Jungkook

Belum nih. Hehe. Dikit lagi nanggung.

Jimin

Pulang cepat! Udah malam! 

Jungkook

Kamu udah di hotel belum? Pap.

Jimin

Gak ada pap2 kalo kamu belum pulang. Pulang sekarang atau aku telpon bosmu.

Jungkook

Hiii, galak bener. Untung sayang. Iya ini pulang. Nanti kirim pap.

Jimin

Good boy. U will get ur pap later.

Pokoknya nyampe apart dulu. Aku kangen mau VC.

Jungkook

VCS sekalian gak? Kan aku ultah.

Jimin

VCS matamu.



Jungkook tergelak membaca pesan Jimin. Dia segera merapikan perlengkapannya dan bersiap untuk pulang. Pria itu begitu rajin bekerja hingga dalam dua tahun dia bisa mendapatkan promosi dan atasannya sangat menyukainya. Walau begitu, bosnya itu tetap melarangnya mengambil lembur terlalu banyak karena khawatir karyawan kesayangannya itu sakit. Jimin mengetahui hal itu sehingga sering dia menjadikannya sebagai ancaman untuk menyuruh Jungkook pulang. Jungkook menurut, lagi pula jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia juga khawatir dia akan tertinggal bus terakhir. Pria itu mempercepat gerakannya.

Ada sedikit rasa kecewa karena ulang tahunnya kali ini tidak ada Jimin di sisinya untuk merayakan bersama karena kekasihnya itu sedang perjalanan dinas di luar kota. Jimin sebagai seorang auditor memang sering bepergian untuk bekerja. Jungkook sebagai ahli IT lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. 

Tahun lalu mereka menghabiskan malam ulang tahunnya dengan berkemah di pinggir pantai. Memandangi bintang dengan diiringi suara deburan ombak. Jungkook sambil berjalan ke halte bus tersenyum saat mengingat masa itu. Jimin mengatakan jika dia mati, dia ingin reinkarnasi menjadi bintang agar bisa melihat Jungkook terus dari atas langit. Jungkook waktu itu protes, karena dia tidak ingin ditinggal sendirian.

“Ya udah, kita jadi bintang aja berdua, gimana?”

“Gak mau, ish, kan jadinya jauh-jauhan. Emang kamu gak tau jarak bintang tuh sebenernya sejauh apa?”

“Tau, sih. Terus jadi apa, dong?”

“Ya jadi Jimin dan Jungkook lagi aja.”

“Oh, iya juga.”

“Emang kamu gak mau barengan sama aku terus, Ji?”

“Hahaha. Ya, mau, dong. Aku dan kamu akan terus bareng, bahkan di kehidupan-kehidupan selanjutnya.”

Jungkook seperti orang gila karena tersenyum sepanjang jalan, hingga dia benar-benar nyaris ketinggalan bus terakhir jika sang supir bus tidak menyapanya dan membuatnya tersadar. 

Sepanjang jalan, Jungkook memejamkan mata. Mengingat dia sebentar lagi berulang tahun, maka dia pikir dia mau memanjatkan doanya saat itu dengan sederhana. Selain doa, tentunya ucapan syukur karena dia memiliki seorang Park Jimin yang selalu ada di sisinya, dalam keadaan sesulit dan sesenang apa pun. 

“Aish, cinta banget aku sama dia,” gumam Jungkook lalu terkekeh sendiri. Untungnya bus itu sepi, hanya ada beberapa orang yang terlihat kelelahan sepulang bekerja sehingga tidak begitu memperhatikannya.

Jungkook turun di halte terdekat dengan apartemennya. Dia hanya tinggal berjalan beberapa puluh meter untuk sampai. Langkahnya gontai memencet tombol lift menuju unitnya.

Bunyi bip terdengar saat Jungkook memasukkan kata sandi di pintu unitnya, dan begitu lampu otomatis menyala, terdengar suara ledakan konfeti. Siapa lagi jika bukan sang kekasih hatinya, Jimin, yang menyambutnya dengan senyum lebar dan menghadapkannya kue bersama lilin yang sudah menyala.

Make a wish dulu,” kata Jimin mengingatkan.

“Aku mau hidup bahagia sama Jimin, selamanya,” ujar Jungkook lalu meniup api lilinnya hingga padam.

Jimin meletakkan kue itu di meja, dan kemudian berlutut yang membuat Jungkook keheranan.

As your wish. Jungkook-ah, would you like to spend the rest of your life and live happily ever after with me? ” tanya Jimin sambil memperlihatkan kotak kecil yang berisi cincin emas berwarna putih itu ke hadapan Jungkook. 

“Secepat itu?” tanya Jungkook.

“Apanya? Ya, kita baru tiga tahun, sih. Tapi emang kecepetan?” Jimin bertanya heran, masih di posisinya, jantungnya berdegup kencang tak karuan. 

“Bukan. Bukan. Secepat itu doaku dijawab???” Suara Jungkook meninggi antusias nan girang.

“Iya, Sayang. So, would you marry me? ” tanya Jimin lagi.

OF COURSE IT’S A BIG YES YES YES!!!! I WILL MARRY YOU, PARK JIMIN!! ” seru Jungkook. Dia meraih tubuh Jimin dan memeluknya erat.

“Hari ini Daian,” ucap Jungkook sambil memeluk erat calon suaminya itu.

Daian? ” tanya Jimin tak mengerti. 

Daian itu artinya kedamaian yang luar biasa. Hari ini katanya hari Daian. Apa pun yang dilakukan pasti berhasil. Tapi Daian yang kumaksud bukan hanya hari ini adalah hari yang beruntung, tapi karena kamu itu Daian- ku, kedamaian luar biasaku, dari kamu, Park Jimin,” ucap Jungkook sambil melepas pelukannya. Dia mencium kening Jimin dan kemudian mengecup bibirnya. Bibir favoritnya sepanjang masa. Satu-satunya bibir yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya, karena Jimin adalah pacar dan juga cinta pertamanya. 

“Aku gak tahu mau jawab apa. Tapi aku juga merasakan hal yang sama. Pakai dulu ini cincinnya. Kita resmi menjadi calon suami, ya, mulai hari ini,” jawab Jimin antusias.

“Makasih buat kado ulang tahunnya, Sayang.”

“Justru aku, dong, yang dapat kado. Kadonya kamu, yang udah mau nikah sama aku.”

“Jimin and Jungkook against the world. Let’s live together forever! ” Jungkook berseru lalu kembali mencumbu bibir Jimin, melumatnya hingga keduanya larut dalam cinta yang lebih dalam dan juga lebih panas malam itu.

 

 

Cause this love is only getting stronger

So I don't wanna wait any longer

I just wanna tell the world that you're mine

They Don’t Know About Us by One Direction

 


 

Lima tahun yang lalu. Hari pernikahan.

 

KETIKA mereka dinobatkan resmi menjadi sepasang suami, senyuman di bibir keduanya merekah, disambut tepuk tangan dan sorakan bahagia dari keluarga dan para sahabat. Tidak mudah meyakinkan keluarga keduanya untuk merestui hubungan mereka, hingga membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk akhirnya mewujudkan mimpi mereka untuk hidup bersama dan terikat dalam sebuah pernikahan. Keduanya sama kerasnya, namun juga sama gigihnya, memperjuangkan hubungan mereka yang sulit. Termasuk meyakinkan keluarga Jimin bahwa Jungkook akan bekerja lebih giat lagi untuk bisa menghasilkan lebih banyak uang karena dia saat itu hanyalah seorang pegawai biasa dan bukan dari keluarga berada. Berbeda dengan Jimin yang status sosialnya lebih tinggi, dengan latar belakang keluarga akademisi. Tetapi cinta Jungkook dan Jimin begitu kuat hingga akhirnya mampu membuat keluarga kedua belah pihak memutuskan merestui pernikahan tersebut. 

Jika di Drama Our Blues disebutkan definisi kebahagiaan adalah ketika tersenyum saat memandang satu sama lain, maka itulah yang bisa digambarkan tentang Jungkook dan Jimin. Tidak pernah ada hari yang lebih bahagia daripada hari itu. Hari di mana keduanya saling mengucap janji setia sehidup semati, saling mencintai di kala susah maupun senang, di saat sehat maupun sakit. 

Bulan madu mereka dihabiskan di Jepang, di sebuah desa kecil bernama Tsurui. Letaknya di timur kota Hokkaido. Jimin yang menyukai salju, memilih desa itu. Karena dia juga ingin melihat hewan langka, terlangka nomor dua di dunia, yaitu bangau mahkota merah. Jungkook setuju (walau apa pun yang diusulkan Jimin dia akan menyetujuinya), tapi karena dia sudah mencari tahu bahwa bangau mahkota merah adalah simbol dari keberuntungan dan kesetiaan. Dia semakin giat bekerja, mengejar lemburannya untuk mendapatkan penghasilan tambahan, mengerjakan proyek di luar kantor untuk menambah pundi-pundi tabungan rumah tangga kecil mereka. Keduanya bekerja lebih giat lagi sepulangnya dari Jepang. Mereka sepakat untuk bekerja keras, agar bisa mendapatkan anak, dan memilih melalui cara surrogate mother atau ibu pengganti. Jelas tidak murah, tetapi mereka mau melakukannya.

 


 

JUNGKOOK saat ini hanya terduduk di sofa cokelat tua di ruang tamunya, termenung dengan apa yang baru saja terjadi. Jimin pergi meninggalkannya, dengan kalimat yang tak pernah sekali pun terpikirkan di benak Jungkook seumur hidupnya semenjak bertemu dengan suaminya itu. 

Bagaimana bisa dia gak cinta lagi sama aku?

Bagaimana bisa dia minta cerai?

Dunia Jungkook terasa begitu gelap dan suram. Untuk pertama kalinya dia melihat sinar matahari yang menyenangkan itu meninggalkan hidupnya. Hatinya begitu gusar, masih dengan tidak percaya. Dia bahkan begitu mencintai Jimin, tidak berubah sama sekali, namun kenapa Jimin justru sebaliknya? 

Apa karena aku belum ngehasilin banyak uang?

Apa dia capek nunggu?

Berantem terus, tapi bukannya berantem itu wajar?

Kenapa, Ji?

Ratusan pertanyaan berputar berkali-kali di kepala Jungkook tanpa henti hingga membuat pria itu kelelahan dan tertidur di sofa dengan masih mengenakan pakaian kerja. Tentunya dengan mata sembab karena semalaman dia menangis, merasa tak mampu untuk mengerti apa yang membuat Jimin berhenti mencintainya. 

 

▪️ ▪️ ▪️

 

JIMIN sampai di kamar hotelnya. Dia tidak ke rumah orang tuanya seperti yang dia katakan pada Jungkook. Dia memang butuh waktu sendiri, memantapkan diri bahwa apa yang sudah dia ucapkan pada suaminya tadi adalah sebuah keputusan yang tepat setelah selama ini dia pendam. 

Jimin merebahkan tubuhnya di kasur dengan menekuk tangannya sebagai alas kepalanya. Matanya menatap langit-langit, mengulang kembali kejadian tadi di apartemen mereka seperti memasang film dokumenter dalam benaknya. Ini pertengkaran ke sekian kalinya dalam dua tahun terakhir rumah tangga mereka. Semua hal menjadi masalah. Jimin yang sibuk ke luar kota, Jungkook yang pulang larut malam, atau bahkan hal sepele soal tugas membersihkan apartemen. Entah siapa yang memulai, Jimin tidak ingat. Yang dia tahu, dia menyadari bahwa perasaannya pada Jungkook sudah tak sama lagi.

Jimin menghela napasnya panjang. Dia mulai menyadari perasaannya selama ini ada yang aneh dalam enam bulan terakhir. Dia tidak bersemangat bertemu dengan suaminya, menyukai bekerja di luar kota, juga menyukai waktu-waktunya sendirian. Jimin menyukai kegiatan macam apa pun yang tidak melibatkan Jungkook. Dia merutuki dirinya selama berbulan-bulan, merasa sebagai pengkhianat di hubungan mereka, hingga dia memutuskan ke psikolog untuk berkonsultasi. Tidak ada orang ketiga. Dia hanya merasa bahwa rasa cinta itu hilang begitu saja, bahkan sebelum mereka mencari ibu pengganti untuk melahirkan anak mereka. Padahal uang tabungan mereka sudah terkumpul. Namun, entah kenapa keduanya tidak mau membahas itu seolah mereka lupa dengan alasan mereka bekerja terlalu keras selama ini. 

Harusnya di kala lelah sepulang bekerja, keduanya menjadi rumah bagi masing-masing. Tetapi kenyataannya tidak seindah itu. Pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi, mereka saling mengeluh capek tanpa ada yang mau mengalah atau mengusulkan solusi tentang langkah apa yang harus mereka ambil. Hingga Jimin menyadari bahwa semuanya sudah terlambat ….  Terlalu terlambat. Jimin tak bisa memandang Jungkook sama seperti dia memandang pria itu di malam tahun baru satu dekade yang lalu. 

 

 

Jungkook

Ji? Mau pulang kapan, Sayang?

Jimin

Besok aku pulang buat ambil baju.

Jungkook

Bisa sekalian kita ngobrol?

Jimin

Aku sudah hubungin pengacaraku untuk memproses perceraian kita.

Jungkook

Ji… Kita ngobrol ya? Please? I beg you. 

Gak gini caranya, Ji. I am so sorry. 

Jimin

And I am sorry for disappointing you, Jungkook. I just can’t do this anymore.

 

Jungkook mengacak-acak rambutnya. Begitu frustrasi karena Jimin menolak menemui dan berbicara dengannya. Dia masih ingin mendengar kalimat yang sama yang dilontarkan oleh Jimin padanya, memastikan bahwa itu benar adanya, walau dia akan kembali merasakan sakit yang luar biasa.

Terngiang semua memori tentang Jimin di kepalanya. Jimin yang mengatakan bahwa di semua kehidupan mereka akan selalu bersama. Jimin yang mencintainya dengan segala hal kecil dan celah di hidupnya. Jimin yang mau hidup bahagia selamanya dengannya. Jimin yang sudah berjanji sehidup semati dengannya. Memorinya hanya membuat kepala pria itu semakin pening. Memori indah yang harusnya membuatnya tersenyum, kali ini bak perasan lemon di atas lukanya. Dunianya gelap, dalam sekejap.

 

 

And it kills me 'cause I know we've run out of things we can say

What am I now? What am I now?

What if I'm someone I don't want around?

I'm falling again, I'm falling again, I'm falling

What if I'm down?

What if I'm out?

What if I'm someone you won't talk about?

I'm falling again, I'm falling again, I'm falling

 

And I get the feeling that you'll never need me again

Falling  by Harry Styles

▪️ ▪️ ▪️

 

PAGI ini, keduanya bertemu. Dengan segala cara, termasuk semalaman menunggu di depan hotel tempat Jimin menginap. Jungkook memastikan Jimin bisa melihatnya dari kamar. Dia berdiri di sana, nyaris mati kedinginan, hingga akhirnya Jimin menyerah dan memutuskan untuk mau bertemu dengannya. Mereka duduk di bangku kayu, ada sedikit jarak di antara keduanya. Jimin yang memilih tempat. Pilihannya membuat Jungkook terkejut, karena ini adalah taman yang sama di tempat mereka berciuman untuk pertama kalinya sepuluh tahun yang lalu. Jungkook tersenyum pahit, berpikir keras menebak apa tujuan Jimin mengajaknya ke sini. Apakah akan ada kabar baik untuknya dan hubungan mereka?

“Sejak kapan kamu tau kalau semuanya sudah berakhir?” tanya Jungkook memecah keheningan.

Jimin tidak langsung menjawab. Matanya hanya memandang ke depan, melihat anak-anak kecil yang berlarian bermain dengan orangtua mereka. Sejenak terbersit di benaknya bahwa dia dan Jungkook yang berencana untuk memiliki anak. Mereka yang sudah bekerja terlalu keras untuk mewujudkan itu. 

“Kamu ingat tempat ini, kan, Jung?” tanya Jimin tanpa menjawab pertanyaan pria yang masih menjadi suaminya itu.

“Gak akan pernah lupa. Tempat kita jadian. Ciuman pertama kita di bawah kembang api,” jawab Jungkook cepat.

“Aku cinta banget sama kenangan itu, Jungkook. Aku suka dengan semua memori kita. Aku sadar ternyata cintaku hilang, ketika aku lebih mencintai semua kenangan itu daripada kehidupan yang kita jalani sekarang, bahkan daripada kamu …. ” Suara Jimin semakin terdengar lirih di ujung kalimatnya.

Ucapan lirih itu terdengar begitu kencang di telinga Jungkook. Hanya ada rasa pedih yang semakin dalam menghunus di hatinya. Dia tak sanggup menahan air matanya. 

Jungkook kembali tersenyum kecut, merutuki bodohnya dia yang masih berharap ada kabar baik yang akan dia terima pagi ini ketika Jimin mengajaknya ke tempat ini. Tetapi justru kalimat yang tak pernah dia sangka, begitu menyakitkan yang dia terima.

I love you, Jimin. Too much. ” Jungkook hanya mampu mengucapkan kalimat itu. Suaranya bergetar, dan dia hanya menunduk sambil memainkan kuku ibu jarinya.

And I loved you, I really did. You were the love of my life.” Jawaban Jimin semakin melukai hati Jungkook ketika Jimin menggunakan kalimat past tense, yang artinya semuanya hanya masa lalu. Jimin mencintainya, tetapi dulu. Bukan sekarang. 

Jungkook mulai menangis, sebisa mungkin dia menahan tangisannya, tetapi dia tak mampu. Dia menekuk tubuhnya ke depan, membenamkan wajahnya di pangkuannya. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Hatinya hancur, begitu hancur hingga rasanya begitu sakit. Kenyataan bahwa Jimin tak lagi mencintainya membuatnya begitu sakit. Terlalu sakit hingga sekujur tubuhnya bergetar.

Jimin memandang suaminya itu dengan wajah sendu. Sejenak ia mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung pria itu, tetapi dia mengurungkan niatnya. Dia berpikir sudah cukup untuk menyakiti pria itu, dan dia tak mau lagi menyakitinya. Menyadari bahwa Jungkook masih begitu mencintainya membuat dirinya merasakan sakit itu. 

Maafkan aku, Jungkook. Aku sungguh minta maaf.

Satu kalimat yang tak bisa dia ucapkan karena lidahnya kelu. Jimin tak mampu lagi melihat Jungkook yang begitu terpuruk hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan pria itu. Jungkook memeluk dirinya sendiri tanpa menyadari sosok Jimin yang sudah pergi dari sisinya, dan juga hidupnya.

 


 

Dua tahun kemudian.

 

 

I'm alone in my head

Looking for love in a stranger's bed

But I don't think I'll find it

'Cause only you could fill this empty space

 

I wanna tell all my friends

But I don't think they would understand

It's something l've decided

'Cause only you could fill this empty space

 

Space, space

This empty space

Space, space

This

'Cause only you could fill this empty space

Empty Spaces by James Arthur

 

JIMIN berusaha menata hidupnya kembali. Sepuluh tahun lebih bersama Jungkook, lalu kembali sendirian ternyata tidak mudah. Orang-orang baru yang mencoba mengisi harinya, tidak ada yang bisa bertahan lama dalam kurun waktu yang sangat cepat. Hatinya kosong, hanya tidak bisa diisi oleh siapa pun. Jimin merebahkan diri di atas kasur miliknya, menatap ke langit-langit. Kembali terputar di ingatannya, segala kenangan indah bersama mantan suaminya. Jimin tersenyum, dia hanya merindukan kenangannya, bukan sosoknya. Sosok pria yang pernah dia cintai sebegitu dalam melebihi dirinya sendiri. 

“Wah, segitunya aku cinta sama Jungkook,” gumamnya. Dia mengingat bagaimana dia melamar Jungkook untuk hidup bersamanya selamanya. 

“Kamu apa kabar, Jung? Aku harap kamu baik-baik saja ya,” ucapnya lagi. Matanya berair. 

Sedangkan di lain tempat, Jeon Jungkook, yang masih terus merindukan mantan suaminya dengan murung. Daian-nya sudah hilang, ketika pernikahannya mereka berakhir.

 

 

Fin

 

 

Notes:

Thank you for reading, please leave some comments and kudos to support the author! ❤
Also follow our Review Event on Twitter^^