Work Text:
Gendang telingaku menangkap dengan jelas bunyi khas pagi hari, yaitu lantangnya suara ayam jantan berkokok. Aku buka sedikit kelopak sebelah kiriku untuk mengintip gorden jendela yang masih tertutup. Sinar matahari pagi mulai tersirat sekilas dari celah kecil di balik gorden. Sudah jelas, aku tutup kembali seluruh tubuhku dengan selimut. Memilih untuk tetap betah dengan rasa malas beranjak dari pelukkan kasur, dan aku tak akan berusaha keras untuk bangkit lebih awal di hari Minggu pagi.
Seluruh indraku sudah mulai tenang, mungkin sebentar lagi akan membuat tidur pagiku nyenyak kembali. Akan tetapi, suara pintu terbuka dan pergerakan pada gorden yang dipaksa terbuka mengenyahkan segala rasa kantukku.
“Selamat pagi menjelang siang Sulungnya, Ibu. Ayo, Pemalas, bangun dulu. Cuci muka, sikat gigi, langsung ke ruang makan, ya, sarapan. Ibu tunggu lima menit. Kalau belum siap, Ibu siram kamu pakai air kamar mandi.” Omelan ibu sudah menyerang indra pendengaranku. Membuat denyut sakit menghampiri kepala sejenak. Lenyap sudah rasa kantuk, dan pupus sudah harapanku untuk bermalas-malasan di hari Minggu.
Mataku masih tertutup rapat, berusaha bangkit dengan malas dari rebahan yang sangat menenangkan. Aku terduduk dan sedikit bersandar pada kepala ranjang, memaksa sedikit kedua kelopakku untuk terbuka. Tentu, hendak membalas omelan pagi hari ibuku. Akan tetapi, saat indra penglihatanku tertuju ke arah ibu yang masih berdiri di depan jendela, semua kalimat sanggahanku hilang seketika. Lihatlah, siapa yang berani melawan seorang perempuan yang bermimik wajah masam dengan sutil kayu pada tangan sebelah kanannya?
“Iya, ini Jimin ke kamar mandi sekarang.” Jelas suara sengaja aku rendahkan, mana berani aku meninggikan suara atau membalasnya dengan nada malas. Aku tak bisa membayangkan jika harus beradu argumen di hari Minggu dengan ibu, apalagi merasakan pukulan dengan sutil kayu yang dibawanya.
Segera mungkin aku melesat ke arah kamar mandi, menyikat bersih seluruh gigiku, dan mencuci wajah dengan benar. Sekilas aku melirik jam dinding yang berada pada pojok kamar, lima menit lebih dua puluh detik waktu sudah berlalu, aku segera melesat ke arah ruang makan. Melihat ibu dan adikku sudah menunggu dengan tenang.
“Lebih 20 detik,” celetuk pelan dari adik laki-lakiku.
“Ya, tidak apa toh, yang penting lima menit.” Aku menyahut sembari mencubit pipinya pelan.
Ibu menyendokkan nasi ke piring milik adikku terlebih dahulu, memang bungsu adalah raja di setiap keluarga. Wajah aku tekuk, dengan mengeluarkan aura murung. Ibu yang memperhatikan malah mengerutkan dahinya, lalu mencubit gemas pahaku yang terpampang jelas karena aku masih memakai celana pendek untuk tidur.
“Aww … sakit, Bu!” Aku bersungut, mengerucutkan bibir secara tak sadar.
“Kak, bibirnya jangan sengaja dimanyunin begitu. Nanti dicubit Ibu lagi, tahu rasa,” kalimat lantang adikku.
“Terserah Kakak, dih.” Aku memeletkan lidah, hendak meledeknya.
“Ini di meja makan, berantemnya bisa nantian aja?” Ibu mulai menengahi setelah selesai meletakkan nasi dan lauk pada piring milikku dan Jihae.
“Adik duluan, ya, Bu? Jimin cemburu kalau apa-apa selalu Jihae duluan. ‘Kan Jimin anak Ibu juga. Jimin juga sulung, Ibu pilih kasih,” keluhku tidak sadar, sembari mengunyah makanan.
“Ya, kalau gitu, Jihae juga mau jadi Kakak. Sehat, tidak perlu sakit. Gak menyusahkan Ibu kalau lagi kejang, bisa main ke mana aja tanpa takut penyakitku kumat. Adik jadi gak perlu malu kalau main ke mana pun, karena bakalan kelihatan normal. Lalu Adik juga gak perlu merasa malu karena penyakit kelainan saraf. Ayo, Kak, tukeran sama Adik, kalau memang Kak Ji cemburu sama Adik.” Jihae bergumam lantang, menyendok makanannya dengan pelan agar tidak terjatuh kembali pada piring.
“Adik makan aja, ya. Pelan-pelan, Sayang. Kakak hanya cemburu, jangan dimasukin hati, ya.” Ibu sekali lagi menengahi, agar tak ada perasaan canggung usai sarapan nantinya.
“Kakak minta maaf, ya, Jihae. Kakak gak bermaksud begitu, kok.” Aku menunduk lemas, sembari memberikan satu potongan ayam goreng milikku ke piring Jihae. “Buat Adik,” kataku.
Aku melihat Jihae tersenyum tulus. “Adik juga minta maaf, ya, Kak. Jihae ngerti kok, Kakak pasti kangen Ibu juga. Ketemunya jarang-jarang, apalagi Ibu jarang perhatiin Kakak juga. Tidak apa kok, Kak Ji.”
Aku hendak mengusap telapak tangan sebelah kirinya untuk memberikan afeksi ketenangan. Akan tetapi, gumaman terakhir Jihae membuatku membeku sebentar. “Maaf, ya, Kakak punya adik sakit kayak Jihae. Bisanya nyusahin aja. Jauhin Ibu dari Kakak.”
Cukup tegas aku menggelengkan kepala, menolak mentah-mentah pernyataan adikku beberapa saat lalu. Dia tidak bersalah, di sini akulah yang terlalu membawa serius segala hal. Seharusnya aku bisa lebih dewasa daripada Jihae, seharusnya aku tak menunjukkan rasa cemburu itu, seharusnya aku tak berujar tanpa berpikir seperti beberapa detik lalu. Aku menyesal? Tentu saja.
“Adik, Kakak. Lanjut sarapan dulu. Nanti lagi aja ngobrol saling salah-menyalahkannya. Ibu tidak suka di meja makan ada pertengkaran.” Nada bicara Ibu cukup tenang, pun guratan halus pada sudut matanya—menandakan bahwa dia merasa khawatir saat itu. Ibu dengan cepat menyudahi makannya, membawa piring kotor pada bak cucian piring.
“Maaf, Bu.” Jawabku dan Jihae berbarengan. Kami melanjutkan makan dengan cukup tenang, tanpa suara, dan hanya dentingan sendok dan piring yang berbunyi.
Saat Jihae hendak bangun untuk menaruh piring kotornya, aku lebih dahulu mengambil alih piring kotor tersebut dan beberapa piring lain yang tertinggal di meja makan.
“Kak Ji aja, Adik sama Ibu dulu. Bisa titip kata maaf buat Ibu?” Jihae tidak menjawab, dia hanya merespons dengan sebuah senyuman dan sesekali menganggukkan kepala.
Aku mencuci segala peralatan kotor yang tadi digunakan ibu untuk memasak dan sarapan. Aku adalah sulung yang berbakti, sebabnya tentu saja karena aku jarang bisa bertemu dengan ibu, dan aku sudah terbiasa melakukan apa pun sendirian. Jadi, hanya membereskan peralatan memasak adalah hal yang cukup mudah bagiku. Aku mencuci piring dalam diam, merenungkan hal-hal yang terjadi beberapa saat lalu. Memang akulah yang harus meminta maaf langsung kepada ibu dan Jihae sebelum keadaan nantinya semakin canggung.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan di dapur, aku putuskan untuk berbicara kepada Jihae dan ibu. Membawa dua botol minuman dingin yang baru saja aku ambil dari kulkas, dan berjalan ke arah ruang tamu. Aku melihat ibu dan Jihae duduk santai pada sofa berbentuk huruf L di sana. Senyumku terbit saat melihat aktivitas mereka, kepala Jihae berada pada kaki Ibu yang sedang bersila. Ibu mengelus rambut pendek Jihae dengan sangat hati-hati.
“Bu ….”
Jihae yang mendengar suara pelanku memanggil ibu langsung terbangun dari tidurnya. Dia menggeser duduknya, agar aku bisa duduk di antara mereka. Aku memberikan minuman yang tadi aku ambil di kulkas kepada mereka, sebelum memulai pembicaraan yang akan sedikit serius.
“Ada apa? Kenapa bawa minuman dingin segala? Pasti Kakak mau kasih tahu sesuatu ke Ibu sama Jihae, ‘kan?” Jihae berbicara cukup lantang, sembari memeletkan lidahnya saat aku melirik dengan sinis. Aku tidak berminat menjawab pertanyaan bercanda dari Jihae, dan langsung berbicara ke intinya saja.
“Ibu, Kakak minta maaf untuk sikap yang tidak dewasa tadi di meja makan. Maaf, sudah buat Ibu marah dan tidak sarapan sampai habis. Kakak tidak melakukan pembelaan, Kakak tahu kalau tadi memang Kakak yang salah.” Aku mengusap pelan telapak tangan ibu, dia tak menyahut karena paham masih ada yang mau aku jelaskan lagi setelah ini.
“Untuk Adik Jihae, Adik Kakak yang paling tampan. Kakak minta maaf, ya. Maaf tidak bisa memberi contoh yang baik untuk bersikap. Maaf, Kakak malah menyinggung, padahal jujur dari lubuk hati yang paling dalam Kakak tidak ada maksud seperti itu. Adik adalah kesayangan Kakak yang paling hebat, sudah bisa bertahan sampai sejauh ini. Maafin kakak, ya, please?”
“Marah sama Kakak sih tidak, tapi kalau Kakak memaksa untuk minta maaf … Ya, Adik maafin.” Jihae memberikan senyuman lebar dan membuatku sedikit takut untuk mendengar kalimat apa yang akan keluar selanjutnya. Karena aku sudah cukup hafal dengan sifat adikku yang satu ini, dia mudah melupakan dengan cara meminta sesuatu sebagai jaminan. Tipikal sosok adik yang suka menguras harta kakaknya memang, tetapi aku tak pernah bisa menolak keinginannya.
“Mau album Proof BTS yang terbaru, Kak. Satu set, ya. Adik mau standard version sama compact version. Dari weverse shop belinya nanti, supaya Adik dapat special gift. Tenang saja, Jihae sudah pasti memaafkan Kak Ji.” Sudah aku duga, keinginan adikku sangatlah menyebalkan dan pasti akan membobol tabunganku. Jihae yang kesenangan semakin tersenyum pongah, karena dia tahu aku tidak mungkin berkata tidak untuk permintaannya. Dasar bungsu menyebalkan.
“Ibu, itu Jihae mau beli album lagi kok dikasih? Beberapa bulan lalu beli album Butter dua version . Itu rak kamar Jihae bentar lagi roboh kebanyakan album.” Aku mencoba mengeluh dan mencari pertolongan kepada ibu. Akan tetapi, aku tahu, ibu tidak akan membelaku atau menyelamatkanku dari permintaan Jihae.
“Apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai. Jadi, itu kesimpulan dari Ibu. Derita seorang sulung sih itu. Selagi Jihae tidak meminta uang pada Ibu untuk membeli album, ya, Ibu tak akan melarang untuk Jihae yang mau mengoleksi album.” Aku hanya meresponsnya dengan senyuman getir. Ibu dan Jihae benar-benar memerasku untuk sebuah permintaan maaf. Dasar mulut, hati, dan otakku yang tak pernah bisa diajak bekerja sama, hanya membuat kesialan untuk tabungan dan diriku sendiri saja.
“Okay, album Proof satu set, kakak belikan. Asalkan permintaan maaf kakak diterima oleh Ibu dan Adik.” Tawa Jihae dan Ibu meledak. Mereka benar-benar sangat bisa mengerjai dan memerasku dalam sekali waktu. Pun permintaan Jihae hanya bahan bercandaan, tetapi aku akan tetap membelikan apa yang dia inginkan.
“Yipiiyyyyy …. ”
“Kalau gitu, adik minum obat lalu istirahat dulu, ya. Kakak diam saja beristirahat di sofa, biarkan Ibu yang mengantar ke kamar sekalian memelukku agar tidur nyenyak.” Jihae merentangkan tangannya untuk memudahkan ibu membantunya berjalan dengan seimbang.
“Dasar, bayi besar.” Aku memeletkan lidah ketika Jihae menengok ke arahku setelah aku mengejeknya. Mereka berjalan dengan pelan menjauhi ruang tamu untuk masuk pada pintu berwarna putih—kamar Jihae. Setelah pintu kayu tersebut tertutup dan tak ada suara lagi, aku ikut bangkit dan masuk ke dalam kamarku.
Aku melihat jam yang bertengger pada pojok kamarku, pukul sebelas siang lebih sedikit. Waktu dengan cepat berlalu, dan aku juga bersiap untuk mengganti pakaian yang lebih santai. Pun hari ini Minggu, hari liburku yang berharga. Biasanya selalu aku gunakan untuk minum kopi dan membaca buku. Aku mematut diri pada cermin, kaus lengan panjang berwarna abu dan celana kain selutut. Setelan sederhana yang akan aku gunakan hari ini untuk mencari kopi.
Satu kebiasaan unikku setiap hari Minggu siang adalah berkeliling kota untuk mencari cafe yang menjual kopi. Mungkin jika bisa dihitung seperempat dari seluruh cafe yang ada di pusat kota pernah aku cicipi americano -nya. Kopi adalah salah satu hal yang aku cintai di dunia ini.
Pesan aku tuliskan pada sticky note yang sebentar lagi akan aku tempelkan di depan pintu kamar Jihae. Tak berisi pesan yang penting, hanya pamit keluar beberapa jam saja untuk mencari kopi. Tak bisa aku bayangkan bagaimana murkanya ibu saat membaca pesanku nanti. Beliau adalah salah satu orang yang menentangku untuk meminum kopi. Akan tetapi, untuk hal tersebut tak bisa aku kabulkan, aku menulikan telinga jika ibu sudah bersabda bahwa aku anak yang durhaka. Kopi lebih berharga dari diriku sendiri, itulah yang aku tanam dalam diriku selama ini.
Langkahku pelan tak bersuara, dan aku pun menutup pintu dengan pelan. Si hitam aku dorong perlahan keluar dari halaman depan, setelahnya aku menutup gerbang. Berusaha sekuat tenaga untuk tak mengeluarkan suara. Aku berhasil kabur tanpa mengeluarkan suara berisik, dan motor kesayanganku baru aku nyalakan setelah mendorongnya sejauh dua blok dari rumah tetangga.
Jalanan siang ini cukup padat. Bagaimana tidak? Ini hari Minggu, hari libur. Pasti banyak keluarga yang keluar untuk menghabiskan waktu bersama. Aku berkendara tanpa tujuan, hanya mengandalkan insting saat harus berbelok atau jalan lurus mengikuti arus lalu lintas. Siang ini tidak begitu terik, padahal sebentar lagi matahari akan tepat berada di atas kepalaku. Mungkin, para awan sedang berbaik hati kepadaku, jadi ia menyelimuti matahari sebagian.
Si hitam bergerak dengan pelan saat memasuki Jalan Tukad Barito, aku memperhatikan bagian sisi kanan dan kiri jalanan. Membaca plang cafe dan toko dengan cepat, tanpa berpikir panjang plang cafe yang bertuliskan “Covfee” mengalihkan atensiku. Segera aku menggeser tombol sein ke arah kanan, memperhatikan sebentar kendaraan dari arah depan. Saat aku yakin sudah cukup aman, aku menyeberang dan memarkirkan si hitam pada parkiran cafe.
Tanpa berlama-lama aku memesan satu ice americano dan croissant butter. Dua menu andalanku setiap menjelajahi cafe-cafe di pusat kota. Entah mengapa, perpaduan antara americano dan croissant sangatlah cocok dan tentu saja aku menyukainya.
Cafe ini cukup nyaman, ada bagian indoor dan outdoor-nya. Tak usah diragukan lagi, pun siang ini tidak begitu terik aku tetap memilih untuk duduk pada ruangan indoor. Benar-benar merasakan nyaman, duduk seorang diri dengan menu makanan dan minuman kesukaan, dan bangku tempatku duduk mengarah ke arah taman kecil cafe. Rasanya aku mendapatkan jackpot untuk mengistirahatkan otak, bersantai tanpa memikirkan apa pun.
Aku akan beritahu satu hal lagi yang aku sukai selain kopi, yaitu buku. Saat ini aku sedang membalik halaman buku untuk membaca bagian setelahnya, memahami tiap aksara yang tertuang dan menyimpan rapat pesan dari buku tersebut pada sudut ingatanku. Aku sangat menyukai tiap bab dalam buku ini, setiap intisarinya seakan menamparku dengan sangat keras. Buku milik Ajahn Brahm yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” adalah salah satu buku self love yang sangat menakjubkan. Rasanya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Kak Yunhee karena sudah merekomendasikan diriku untuk membeli buku ini sebulan yang lalu, dan benar saja aku tak menyesal sama sekali setiap membaca setiap halamannya.
Karena terlalu asik dengan duniaku sendiri; membaca, meminum kopi, sesekali mengunyah roti. Aku tidak mengamati bahwa waktu sudah lama berlalu. Dan bodohnya lagi, aku mengaktifkan mode sunyi pada ponselku, sehingga tidak tahu bahwa ibu sempat menelepon lima kali. Sudah pasti akan tamat riwayatku saat sampai rumah nanti. Aku bereskan semua barangku yang hanya berupa buku saja, membayar pesananku pada kasir lalu menaiki si hitam untuk kembali pulang.
Benar saja, saat aku hendak mendorong pintu gerbang dengan pelan, ibu sudah menunggu di halaman rumah sembari menyiram rumput dan beberapa tanaman pada kebun kecilku. Beliau menyunggingkan senyumnya—cukup menyeramkan—dan aku tahu kali ini kedua telingaku tidak akan selamat dari omelannya. Aku menarik napas panjang, mendorong si hitam untuk masuk ke halaman rumah. Aku menyapanya dengan senyuman manis, memberikan kantong belanjaan yang berisi donat sebagai sogokan. Ibu mengambilnya tanpa berkata sepatah kata pun lalu mematikan keran air. Telunjuknya menunjuk ke arahku lalu bergerak ke pintu depan rumah yang artinya aku harus masuk segera ke dalam. Percuma saja sogokanku, itu semua tidak merubah kenyataan bahwa aku bisa terbebas kali ini dari omelannya. Hendak hati pergi untuk bersantai sendirian, malah berujung pembantaian. Sedikit hiperbola, tetapi ibu sudah pasti akan mengomel dan Jihae mengamati sambil memakan donat dengan nikmat.
Aku mengekori ibu ke arah ruang tamu. Aku melihat Jihae dengan posisi telentang menikmati tayangan televisi, dia melirik sekilas lalu melambaikan tangan untuk menyapaku. Aku tak membalasnya, masih terfokus dengan punggung ibu yang bergerak ke arah dapur. Dia meletakkan buah tanganku pada meja pantry, mengambil piring pada rak dan memindahkan donat dari tempatnya pada piring.
Ibu membalik tubuhnya, tentu saja aku masih diam di belakangnya dengan senyum memelas, “Diam sebentar, ibu mau antar donat untuk Jihae.”
Aku menurut saja, mencoba menjadi anak yang baik. Karena aku tahu kesalahanku. Bisa-bisanya aku berdiam lama di cafe, kalau aku hitung ulang mungkin sekitar tiga jam. Aku menarik napas sejenak, bergerak cepat ke arah dispenser untuk meminum air. Sebelum memulai semua penderitaan, aku harus memberikan asupan kepada kerongkonganku yang kering.
“Duduk,” ujar ibu.
“Uhuukk ….” aku tersedak. Bagaimana tidak? Aku belum menelan habis semua air pada gelas yang baru saja kuisi. Aku berjalan mengikuti arah ibu yang duduk pada kursi meja makan.
“Ngopi sampai berapa gelas hari ini? Ibu telepon puluhan kali, diangkat satu kali pun tak ada,” ujarnya.
“Lima kali aja, ya, Bu. Tidak sampai puluhan kali Ibu menelepon,” elakku.
“Bukannya dijawab, malah ngelawan kamu?” Suara ibu sama sekali tak meninggi. Tetapi cukup tegas hingga membuat telapak tanganku gemetar.
“Maaf, Bu. Ngopinya segelas aja kok. Jimin gak jawab telepon karena tadi ponsel mode sunyi, Bu. Terus keasyikan baca buku. Maaf, Jimin minta maaf.” Aku sama sekali tak berani melihat mata ibu, aku berbicara dengan kepala menunduk sembari memainkan dua jempol tanganku.
“Ibu maafkan kali ini.”
Saat itu juga aku mengangkat kepalaku, melihat ibu dengan mata berbinar. Ini pertama kalinya ibu langsung memaafkan kesalahanku tanpa mengomel. “Terima kasih, Ibu cantik, deh.”
“Heleh ….”
“Tapi, Kak .…” Ibu diam sejenak, aku meresponsnya dengan mengangkat satu alisku sembari menunggu ibu melanjutkan kalimatnya.
“Bantu ibu beres-beres baju sama barang-barang Jihae, ya. Nenek sempat menelepon ibu tadi. Ibu dan Jihae tidak diizinkan menginap lebih lama di sini. Nenek berujar dia kesepian karena dua hari kami tinggal. Kakak tak apa, ‘kan, jika ibu dan Jihae pulang hari ini?” suara ibu memelan, aku merasa ada perasaan bersalah di lubuk hati ibu. Atau itu hanya sebuah alasanku untuk aku menenangkan diri dari rasa sedih? Entahlah.
“Ya, tidak apa, Bu. Ya sudah, ayo Jimin bantu sekarang beresin barang adik sama barang Ibu. Supaya nanti gak keburu-buru dapat kabar dari nenek kalau beliau sudah di jalan.” Aku menggamit lengan Ibu untuk masuk ke kamar Jihae. Senyum aku sunggingkan dengan tulus untuk ibu, agar dia tidak terlalu memikirkan anak sulungnya akan sendirian kembali setelah ditinggal nantinya.
Aku menikmati suasana sore hari, kala matahari mulai merendahkan diri ke arah barat. Mungkin jam sudah menunjukkan pukul empat sore kali ini. Aku, ibu, dan Jihae berjalan santai ke arah ujung gang. Sebab, nenek sempat menelepon ibu, bahwa beliau sudah mulai dekat. Sebagai sulung yang kuat, aku menggeret tas koper hitam milik ibu dan menggendong tas ransel milik Jihae.
Selepas sampai pada ujung gang, benar saja, sedan hitam sudah mulai menepi ke sebelah kiri. Menurut tebakanku, itu pasti sedan hitam milik nenek. Aku cukup gesit berlari ke arah belakang mobil, menaruh koper ibu dan ransel Jihae. Lalu berlari kembali pada bagian kiri mobil untuk membantu Jihae masuk ke dalam mobil tanpa terantuk atap mobil.
Aku melepas mereka dengan senyum dan lambaian tangan. Jika sudah berhadapan dengan nenek, tak ada satu pun dari kami yang akan mengeluarkan salam perpisahan. Aku memandangi sedan hitam itu melaju dan hilang pada pertigaan jalan utama. Perasaanku saat itu membingungkan, seakan ada yang hilang dari relung hatiku, tetapi aku tak tahu apa itu.
Aku menyusuri gang untuk kembali ke rumah, aku bawa langkah dalam diam. Menendang kerikil kecil untuk mencari fokus agar tidak merasa terlalu sedih. “Satu, dua, tiga ….” Entah mengapa, aku mempunyai kebiasaan selalu menghitung langkah saat harus mengantar ibu dan Jihae yang dijemput nenek untuk pulang. Menghitung seberapa kuat kedua tungkaiku melangkah untuk menjemput kesendirian nantinya.
Saat hitungan sudah mencapai angka tiga puluh, aku membelokkan langkah ke arah kanan, dan rumah sederhana dengan nomor tujuh tampak berdiri kokoh. Aku membuka pagar tanpa susah payah, menutupnya kembali dan menggembok gerbang supaya lebih aman karena aku kali ini sendirian kembali. Aku menengok sekilas pada kebun kecilku, tanaman jeruk sudah mulai memperlihatkan satu buahnya di sana. Aku hanya tersenyum sekilas lalu berjalan ke arah teras rumah. Pintu rumah aku buka, sunyi adalah sapaan utama yang aku dapatkan. Rumah ini kembali sepi, hanya tertinggal cerita, kenangan, dan diriku sendiri. Mataku menatap sekeliling, mengamati berbagai barang-barang kecil yang mungkin ibu atau Jihae tambahkan di sekitar ruang tamu.
Senyum kecut menjadi ekspresi andalanku saat ini. Langkahku gontai, terlalu pelan, dan terlihat mengada-ngada. Pintu berwarna cokelat bata aku buka untuk mencari barang kesayanganku, yaitu kasur empukku. Aku merebahkan diri seakan energiku terkuras habis, padahal hanya mengantar ibu dan Jihae ke depan gang. Mereka harus kembali pulang ke rumah mereka, tentu kehidupan mereka bukan hanya tentang aku saja, apalagi aku tak mau membuat nenek sampai menunggu begitu lama.
Aku terlalu memikirkan perasaan orang, mementingkan perasaan orang tanpa pernah mau tahu apa yang hati kecilku inginkan. Apa yang salah dengan itu? Akan tetapi, mengapa rasanya berat dan melelahkan sekali? Entahlah, aku tak pernah menemukan jawaban untuk semua itu.
Perasaan ini benar-benar melelahkan. Harus mengalah untuk sesuatu hal yang tak perlu. Sebenarnya jika bisa bersikap egois, aku sangat tidak ingin merasa kesepian. Aku ingin ada Ibu di rumah ini, seperti dia yang selalu menemani Jihae di rumahnya. Mengapa dunia seakan mengkhianatiku beberapa tahun terakhir? Bukankah ini sudah mulai melelahkan?
Aku bergerak pelan dengan keadaan tengkurap, menggerakkan lengan sebelah kananku untuk menarik laci yang ada di sebelah kasur. Aku mencari senjata andalanku, benda kecil yang menenangkan. Saat jariku tak sengaja mengenai matanya, aku merasakan darah keluar dari telunjukku. Aku mengambil silet tersebut, menggoresnya pelan pada lengan sebelah kiriku. Aku menganggap lenganku adalah sebuah kanvas yang harus diberi hiasan berupa tinta berwarna merah. Tak terhitung sudah berapa sayatan aku lakukan, aku terlalu menikmatinya hingga rasa tenang dan kantuk mulai merasuki seluruh lorong jiwaku.
Aku terbangun akibat suara berisik dari klakson mobil yang terdengar sampai dalam kamarku, tetangga sebelah memang seperti alarm malam untukku yang sering tertidur tiba-tiba setelah melakukan hal-hal yang bisa membuatku menjadi tenang. Aku melangkah gontai, bangun dari tempat tidur, membuka pintu kamar dan tujuanku adalah air dingin yang berada di kulkas. Aku tandaskan satu botol penuh. Aku melirik sekilas jam yang berada pada dinding ruang tamu, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Ini masih terlalu dini untuk melanjutkan tidur kembali, pun besok adalah hari yang paling melelahkan yaitu Senin. Aku memutuskan untuk mandi dan pergi mengunjungi tempat lain yang sangat aku sukai selain cafe-cafe di pusat kota. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, aku menengok sekilas pada jendela rumah, dan bulan purnama menyapa penuh dengan penerangannya. Selalu terlihat cantik seperti malam bulan lalu, purnama memang malam yang tidak bisa di lewatkan untuk melakukan hal menyenangkan.
Warna kelabu kelam mulai menguasai langit, tetapi tak menutupi keindahan purnama di atas sana. Debur ombak layaknya nyanyian harapan. Aku biarkan saja bulir-bulir pasir pantai menyelimuti telapak kakiku yang telanjang. Pandanganku jauh ke arah depan, menatap ujung jembatan batu. Ombak menghantam karang-karang kokoh yang mulai keropos oleh waktu silih berganti. Ujung jembatan batu tersebut adalah tujuan utamaku datang kemari pada saat petang mulai menyapa.
Langkahku pelan, menikmati denyut sakit yang sesekali menyapa telapak kakiku saat mencumbu jembatan setapak dari batu karang. Semakin banyak langkah yang kuhitung, sendu itu mulai menguasai relung. Aku melihatnya dengan sangat jelas, bagaimana ombak itu memberi tanda jangan mendekat. Dengarlah besarnya bunyi dentuman ketika air yang bergabung tersebut menghantam karang batu di bawah jembatan.
Tidak ada rasa takut sedikit pun, karena memang tujuan utamaku adalah ujung jembatan karang tersebut. Aku menarik napas panjang, saat ujung jembatan sudah menyapa telapak kaki telanjangku. Ombak tak menyapa ganas seperti beberapa detik lalu, deburannya cukup tenang. Aku menyunggingkan sebuah senyuman senang, apakah ombak mulai mengenaliku kali ini? Sampai ia tak menghantarkan ombak ganas. Apa ia mengerti bahwa laut kelam adalah hal yang aku butuhkan saat ini? Mungkin saja, alam mengerti apa mau hatiku saat ini.
“Ayah … anakmu datang!” teriakku sambil tersenyum. Tentu dengan satu air mata gendut di ujung mata kiriku.
Aku duduk pada penghujung jembatan, menekuk kedua kakiku dengan cukup nyaman. Gerakanku cukup pelan saat menabur bunga ke arah laut, membiarkan kelopak-kelopak harum tersebut hanyut hingga penghujung laut.
Ombak tanpa henti menyapa karang dengan tenang, airnya kadang bercipratan dan menyentuh wajahku. Tak basah sepenuhnya, tetapi cukup perih saat terkena mata. Perihnya amat sangat mengganggu sampai tanpa sadar air mataku perlahan keluar, sehingga isak tak sengaja juga aku keluarkan. Aku mulai bingung, mengapa isak tangisku bercucuran tanpa henti? Apakah ini karena efek perihnya air laut yang tak sengaja masuk ke kedua mataku? Atau ini efek dari rasa rindu yang membuncah kepada ayah? Entahlah, aku juga tak mengetahui alasan pasti dari hatiku ini. Masih dengan air mata yang berderai semakin deras, aku memandangi satu kelopak putih dengan cukup serius. Ia menari di lautan, hanyut bersamaan dengan arus yang semakin menjauhkannya dari pantai. Apakah ia akan menemui ayahku di penghujung laut sana? Mungkin saja, mungkin ia bisa menyampaikan pesan rinduku untuk ayah di sana saat bertemu nantinya.
“Hari ini tidak berat, aku hanya rindu,” keluhku pada debur ombak malam hari. Akan tetapi, aku tahu, ayah pasti mendengarnya di ujung laut sana.
Tak pernah aku amati seberapa banyak waktu terkikis saat aku mengunjungi tempat kesukaanku yaitu ujung jembatan Pantai Sanur. Desir angin juga tak pernah aku hiraukan, pun imun tubuhku tak sebagus orang-orang lainnya. Akan tetapi, aku sangat membutuhkan laut dan malam untuk melepas duri dalam hatiku yang terus tumbuh dengan liar.
“Aku tidak bohong. Sebagian hari Minggu aku habiskan bersama Jihae dan ibu. Hariku cukup baik, ‘kan? Apalagi hari ini aku sudah makan dua kali, karena ibu memasak sarapan dan makan siang dengan makanan yang enak.” Tentu saja isak tangisku masih betah bertahan. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan untuk menahan teriakan yang mungkin saja sebentar lagi akan aku keluarkan.
“Ayah! Jika hidup memang seberat ini, mengapa ayah biarkan anakmu ini berjuang seorang diri? Jawab!” Benar saja bukan, teriakkanku keluar begitu saja. Aku harus mengeluarkan keluh kesahku untuk bisa pulang dengan perasaan tenang nantinya.
“Bahu siapa yang harus aku jadikan tempat sandaran saat merasa lelah? Ibu? Aku tidak segila itu untuk memberi dia lebih banyak beban derita lagi. Seharusnya …” suaraku tercekat sejenak.
“Seharusnya ayah bertanggung jawab untuk semua derita yang tertinggal di dunia ini! Mengapa tega sekali? Seakan menghukum diriku dengan amat berat untuk menderita sendirian tanpa bisa beristirahat atau bersandar sejenak.” Pecah sudah emosiku malam ini. Aku usap kasar derai air mata yang masih deras turun tak berhenti.
“Ahh…! Mengapa aku harus marah? Mengapa aku harus meluapkan semua emosi untuk suatu jawaban yang tak akan pernah aku dapatkan jawabannya?” keluhku, kepada siapa? Tentu saja kepada diriku sendiri. Tak mungkin kepada ayahku, karena aku cukup paham jawaban yang aku dapatkan hanya akan berupa embusan angin malam saja.
“Akan tetapi, aku masih ingin menangis untuk hari ini. Padahal besok adalah hari tersibukku, tetapi aku harus mengeluarkan semua keluh hatiku. Dengarkan!” Benar saja, celotehku yang mendapat jawaban berupa embusan angin pelan yang melalui telinga sebelah kananku
“Aku ingat betul pada peristiwa itu, saat aku diberitahu bahwa napasmu sudah berhenti di rumah sakit sana tanpa kutemani. Ayah tahu bagaimana mimik wajahku yang berubah dalam sepersekian detik? Cukup aneh mungkin. Rasanya separuh napas, separuh hidup, dan separuh nyawaku hilang begitu saja. Aku menunggu raga tanpa atma milikmu pulang, tanpa menangis tentunya. Kamu tahu, ‘kan? Anakmu ini adalah seseorang yang paling kuat menahan ego di muka bumi ini. Aku ingat betul sore itu, langit pun ikut menyendu dengan warna abunya. Ragamu pulang di antar mobil dengan bunyian sirine berisik. Sanak saudara mengangkatmu untuk ditidurkan pada bale Bali. Aku juga ingat, saat ikut membantu menaruh es batu pada ragamu yang sudah mendingin. Banyak kerabat yang bertanya, mengapa ragamu tak disuntikkan formalin saja? Aku jawab dengan lugas, karena itu kemauan ayah sendiri, bukan? Aku juga membacanya, pesan singkat yang ayah tuliskan pada secarik kertas yang tertinggal di meja rumah sakit untuk tidak menyuntikkan formalin kepada mayatmu kelak. Jujur, sebenarnya apa yang ayah pikirkan saat itu? Mengapa ayah dengan gampangnya berpikir untuk mengakhiri hidup dengan tanganmu sendiri? Dengan mudahnya pergi tanpa memikirkan bagaimana kehidupan anakmu seorang diri dalam jangka panjang?” Pada ujung kalimat sengaja aku tinggikan intonasi suaraku. Semoga saja atma ayah di penghujung laut sana bisa mendengar lalu menjawab pertanyaanku, pun aku tak akan pernah bisa terima dengan jawaban yang akan dia utarakan, aku tak bisa mengerti bahasa orang yang sudah meninggal. Bercanda.
“Aku selalu mengeraskan egoku pada hari itu. Untuk apa merasa sedih? Itu akan memperlihatkan bagaimana kelemahanku nantinya. Aku terlihat tangguh saat itu, bahuku bahkan tak bergetar sekalipun saat harus melihat ragamu, pun dalam hati aku masih berharap kelak ayah akan membuka kedua kelopak mata. Tetapi, aku tahu itu hanya harapan yang terlalu mustahil akan terkabulkan. Aku cukup rajin mengganti es batu pada ragamu. Aku dan sanak saudara menjaga ragamu sangat baik saat itu, bukan? Aku selalu bertanya-tanya, apakah tidak sakit mengiris kedua pergelangan tanganmu dalam dinginnya air kamar mandi? Aku yang membayangkan saja selalu merasa kesepian, kesakitan, dan kedinginan seperti malam ini.” Pemantik aku nyalakan untuk menghidupkan sebatang rokok yang sudah menempel di bibirku. Aku merasakan bagaimana nikotin mulai menguasai relung otakku. Air mataku tanpa sadar sudah mulai mengering, tergantikan oleh senyum getir. Asap rokok aku embuskan begitu saja, kubiarkan ia mengikuti arah embusan angin malam.
“Berhari-hari aku harus berbohong untuk terlihat kuat, merawat raga tanpa jiwamu dengan sangat telaten. Hingga hari baik itu tiba, upacara ngaben yang prosesinya terasa sangat lama dan menyiksaku satu hari itu. Aku melihatnya dengan sangat jelas, bagaimana ragamu dilahap habis oleh api dan yang tersisa hanya abu, tulang, dan kenangan. Semua keluarga mengantar abumu untuk ditaburkan pada luasnya air laut. Seperti hari ini, aku mengunjungimu lagi karena sudah menyatu dengan luasnya laut kelam. Apakah air laut dingin, Yah?” Sekali lagi aku hisap kuat batang nikotin tersebut, mengembuskannya asal. Mataku tak sengaja menatap arah bulan yang bentuknya bulat sempurna
“Ayah. Bukan hanya aku yang paling kuat dan tegar saat kehilangan dirimu, tetapi ibu—mantan istrimu—cinta pertamamu juga sangat kuat. Aku tak dapat merangkai kata jika mengingat hari itu, dia sungguh tangguh. Tak menangis, tidak mengeluh sedikit pun, ibu hanya lebih banyak diam. Dalam sunyinya aku paham makna keikhlasan tanpa lisan. Kehilangan dirimu tentu saja menyakitkan untuknya, pun dia sudah mempunyai keluarga baru saat itu. Mungkin dalam benak ibu, ayah tak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, melakukan hal dengan mudah tanpa berpikir panjang. Itu bukanlah seperti dirimu yang selalu berpikir kritis tentang kehidupan, Yah. Ibu yang hancur, kehilangan cinta pertamanya kala itu, terus memelukku, mengelus surai hitamku yang mulai lepek. Aku ingat betul saat dia berujar bahwa aku tidak ditinggal sendirian, ibu berujar dia akan menemaniku. Tetapi, aku cukup tahu diri dan paham bahwa itu hanya akan menjadi bualan semata. Karena aku cukup tahu apa yang akan terjadi pada diriku setelah ini. Aku akan berada di puncak kesendirian pada pusat semesta; antara terus hidup dalam sepi atau menunggu kematian menghampiri.” Aku menyulut asal batang rokok pada salah satu karang, mengantongi puntungnya karena tidak boleh membuang puntung rokok sembarangan.
“Ayah, sesi bercerita dan berbagi keluh kesah kita akhiri sampai sini. Kantukku sudah mulai menyerang sedikit demi sedikit, apakah ayah melihatnya? Aku sudah menguap sebanyak tiga kali. Sebelumnya, Jimin minta maaf karena sudah memaki beberapa kali. Dan apa lagi, ya? Ah iya, tenang saja, Jimin akan baik-baik saja. Selamat tinggal ayah, besok aku mampir lagi kalau tidak sibuk dengan deadline laporan kantor. Hahaha .…”
Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak jembatan yang terbuat dari karang, mengambil tisu basah di dalam tas untuk mengelap seluruh bagian wajahku. Bukankah sebelum pulang aku harus terlihat baik-baik saja? Pun sudah tak akan ada orang lagi yang menunggu atau menanyakan dari mana saja aku malam ini. Saat aku sudah keluar dari area pantai untuk mencari motor kesayanganku, sesekali aku mengecek jam pada pergelangan tangan kiri. Sudah pukul sepuluh kurang tiga puluh menit.
“Tiga puluh menit bisa sampai rumah tidak, ya, hari ini?” monologku pada diri sendiri.
Motorku melaju tidak begitu cepat, saat ini aku ingin sedikit menikmati angin malam. Pun aku sangat tahu, angin malam bukanlah sesuatu yang baik untuk kesehatan. Saat lampu lalu lintas pada persimpangan jalan menyala berwarna merah, aku menggamit rem perlahan. Mengamati jalanan Kota Denpasar pada malam hari yang ternyata tidak begitu ramai, mungkin karena hari sudah sedikit larut.
Aku menguap sesekali. Ah … ternyata tubuh muda ini cukup renta juga. Niat bergadang aku batalkan karena kantuk sudah mulai menyapa saat aku di jalan. “Cepat sampai rumah, cepat istirahat. Besok Senin, tidak bekerja tidak ada uang. Tidak ada uang berarti tidak akan bahagia,” gumamku setelah melihat lampu lalu lintas berganti warna hijau.
Kalut bersemayam betah pada lorong akalku. Membuat tubuh tanpa jiwa ini selalu bepergian tanpa arah. Mencari jawaban dari setiap pertanyaan abu yang tak pernah menemui titik ujungnya. Detik terus bertalu pada jam tangan yang melingkar setia di pergelangan tangan milikku. Membabat habis waktu dalam perjalanannya menuju rumah.
Si hitam masih aku kendarai dalam diam, klakson dari beberapa kendaraan yang berada di sekitarku memecah sunyi sehingga fokus bisa kembali aku kendalikan. Aku cukup terkejut karena aku sudah memasuki area Jalan Udayana, dan Lapangan Puputan Badung menjadi pemandangan di sebelah kanan jalan yang aku lalui. Satu kebiasaan buruk yang tak bisa aku ubah adalah selalu hilang fokus, dan berkendara melupakan tujuan utamaku. Padahal beberapa menit lalu, saat di perempatan Pantai Sanur, aku sudah sangat ingin cepat sampai rumah. Akan tetapi, si hitam malah aku kendarai sampai sini, untuk pulang saja aku harus jalan memutar.
“Depan Catur Muka, belok kiri. Pulang lewat Jalan Sulawesi saja supaya tak terlalu memutar,” monologku, sembari mengelus spion si hitam.
Lampu lalu lintas pada perempatan jalan menunjukkan warna merah terang, rem tangan aku cengkeram hingga berhenti sebelum tanda zebra cross. Patung Catur Muka menjadi satu-satunya pemandanganku saat ini. Sayang sekali air mancurnya tidak dihidupkan, mungkin akan lebih indah jika air mancur dan lampu warna-warni itu dihidupkan.
Mataku tentu berbinar, saat menengok ke atas untuk menemukan sahabat malam yang masih terukir bulat sempurna. Mataku tak berkedip karena terlalu takjub. Terkadang aku sangat mendambakan bulan purnama, entah, aku tak mengetahui alasan pastinya. Ia hanya terlalu indah saat bersanding bersama bintang-bintang kecil di sekelilingnya.
Aku merasakan orang di sebelahku memperhatikan kegiatanku mengamati bulan dalam diam. Aku menengok ke sebelah kanan untuk memperhatikan siapa kiranya yang memperhatikanku. Aku sampai memiringkan kepalaku, karena di saat aku melihatnya, mata bulat itu masih terus memperhatikanku. Aku tidak bisa menebak siapa kiranya sosok laki-laki tinggi menggunakan motor KLX 250 tersebut, karena sebagian wajahnya tertutup oleh helm full face.
Tiba-tiba saja dia menyerahkan ponsel ke arahku. “Nomormu, bolehkah?” gumaman pelan aku dengar bahwa dia meminta nomor teleponku. Tanpa berpikir panjang aku berikan saja. Bukan karena aku gampangan atau terlalu polos untuk memberikan nomor ke semua orang, aku hanya merasa sangat mengenal dan cukup dekat pada sosok laki-laki di sebelahku ini. Akan tetapi, aku melupakannya. Siapa dia sebenarnya?
Setelah aku mengembalikan ponsel tersebut, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Aku melepas cengkeraman rem dan mengegas si hitam dengan hati-hati. Lampu sein aku geser ke sebelah kiri dan berbelok begitu saja. Sudut mataku melihat motor KLX hitam tersebut melaju cukup kencang lurus ke arah Jalan Veteran.
Si hitam melaju dengan cukup tenang, aku masih menaruh prinsip berkendara dengan aman malam ini. Karena perasaanku masih tak keruan setelah pulang dari Pantai Sanur tadi. Setelah berbelok kiri sehabis jembatan di Jalan Sulawesi, aku mengingat-ingat kembali, siapa sosok yang baru saja aku temui di perempatan Jalan Catur Muka.
Saat aku memperhatikan area jalanan kecil yang kini sudah aku masuki, sebentar lagi gerbang rumahku akan tampak. Dan saat aku mendongkrak si hitam untuk membuka gerbang rumah, sekelebat bayangan—pemilik mata bambi tersebut muncul, aku sudah mulai mengingatnya. “Sial, dia sudah pulang?” monologku. Sesekali memukul bagian ujung gerbang dengan main-main.
Aku memasukkan si hitam pada halaman rumah. Mengunci gerbang dengan benar, lalu masuk ke dalam rumahku. Tentunya setelah itu aku juga harus mengunci pintu dan jendela rumah dengan sangat rapat. Karena hari ini, dan seterusnya aku hanya sendirian di rumah kecil ini.
Setelah pintu kamar berwarna cokelat bata aku buka, aku berjalan ke arah kiri untuk mengambil kalender kecil yang menjadi hiasan pada meja kerja milikku. Aku mewarnai tanggal hari ini dengan stabilo berwarna merah.
“Hari Minggu, tanggal 5 Februari 2023 adalah hari terkutuk dan hari tersial seorang Jimin,” ujarku pelan.
Selepas menandai kalender kecil, aku berniat untuk membersihkan diri agar tidur malamku bisa lebih tenang dan tidak merasakan lengket. Aku menggunakan piama berbahan kain yang nyaman, lalu sedikit melompat ke arah kasur. Tubuhku sedikit memantul dan aku menyukai sensasinya.
Sebenarnya isi kepalaku penuh, hari Minggu ini benar-benar memuakkan. Aku memukul-mukul tembok dengan keras, tak aku pedulikan bagaimana rasa kebas telapak tanganku. Aku hanya ingin menyalurkan rasa amarahku yang tertahan. Indra pendengaranku tak sengaja menangkap bunyi detik yang bergerak dari jam dinding yang berada di pojok kamarku. “Berisik,” keluhku.
“Tadi itu benar-benar si mata bambi, ‘kan? Kenapa aku berikan nomorku dengan mudahnya? Sialan, memang Jeongguk sialan! Awas saja nanti dia berani menghubungiku, akan kumaki dengan kasar dia,” celotehku panjang lebar. Memukul-mukul bantal dengan sembarangan, saking kesalnya aku melempar boneka Tata kesayangan Jihae yang sengaja diletakkan di kasurku.
Aku akan memberitahu. Satu sosok yang sangat ingin aku hindari di muka bumi ini adalah Jeongguk, dia laki-laki menyebalkan setelah Jihae. Akan tetapi, aku menyayangi Jihae, dan tak akan pernah menyayangi Jeongguk.
Nada dering ponselku berbunyi. Malas sekali rasanya beranjak dari atas kasur untuk berjalan ke arah meja kerja, karena aku mengisi daya ponselku di atas meja. Aku biarkan saja benda pintar berbentuk persegi itu berisik beberapa saat. Saat bunyian itu sudah mati, aku hendak langsung memejamkan kedua kelopakku. Akan tetapi, nada dering tersebut berbunyi kembali dan membuat diriku merasa geram. “Siapa yang menelepon hampir tengah malam begini? Seperti tak tahu sopan santun saja.” Aku mengomel, sembari menggeret langkahku untuk menjawab panggilan yang sudah berbunyi untuk ketiga kalinya saat ini.
“Hallo .…” sapaku pelan.
“...”
“Hmm, lalu? Apa dirimu tak punya pekerjaan lain selain menggangguku? Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam Jeongguk, dan aku mengantuk! Bisakah kamu menggangguku besok saja?” keluhku, sembari meninggikan suara.
“...”
“Waktuku? Aku tak akan pernah mau mengosongkan jadwalku untuk bertemu denganmu. Melihat mata bambimu seperti tadi saja sudah membuatku muak.” Sesekali aku menghentakkan kaki karena kesal. Niatku tak ingin merespons lagi, tetapi kalimat akhirnya sebelum menutup panggilan semakin membuat emosiku memuncak.
“Berengsek! Jika berani dia mendatangi rumahku tiba-tiba, akan aku jambak rambutnya. Sial, Jeongguk sialan!” ujarku marah.
Aku melangkah perlahan untuk mematikan lampu kamar, lalu bergerak mendekati kasur kesayangan. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan memukul kepalaku dua kali sebagai pelampiasan akan emosiku yang tak terkendali. “Awas saja kau, Jeongguk, akan aku patahkan lehermu nanti!” ujarku kembali.
Kantuk mulai menyerangku. Badanku dalam hitungan detik sudah mulai rileks dan terlelap begitu saja. Pun Jeongguk masih ada dalam bayang-bayang malamku. Aku berharap malam ini dia tidak akan datang ke dalam mimpiku. Jangan sampai.
Hari-hari yang aku lalui cukup monoton. Bangun pagi, bekerja, membereskan laporanku sesuai tenggat waktu, setelah itu pulang untuk beristirahat. Tidak ada hari bersenang-senang atau hari yang spesial untuk bersantai, karena kini aku hidup tanpa tujuan dan tanpa impian. Aku melalui hari sebagaimana mestinya hanya untuk menyambung hidup sampai umurku terputus.
Lelah sudah pasti bersarang betah pada pundakku. Beban masalah tak ada, tetapi pundak ini rasanya berat sekali. Seakan aku memikul beban seberat sepuluh kilo. Punggung dan pinggangku mudah nyeri karena lebih banyak duduk di kantor daripada bergerak atau beraktivitas aktif lainnya. Aku tidak merasa membutuhkan apa pun selain uang untuk saat ini, karena uang bisa membantuku untuk mendapatkan apa yang dulunya tak pernah aku punya atau miliki.
Seperti biasa, aku tak pernah menghitung seberapa banyak waktu sudah berlalu. Jika aku tengok kalender pada meja kantor, hari ini Kamis dan aku ada meeting dengan satu client saja. Apakah hari ini aku cukup beruntung? Karena tak harus menemui dan berbicara dengan banyak orang, sebab menurutku itu sesuatu hal yang sangat melelahkan. Teman satu divisiku mengajak untuk pergi makan siang, tetapi aku menolaknya karena masih harus menyiapkan beberapa berkas sebelum meeting nanti sore.
Aku terlalu menyukai pekerjaanku saat ini, pun ada beratnya juga. Akan tetapi, itu tidak terlalu memberatkanku sama sekali. Setelah beberapa berkas sudah aku print, dan mengecek satu kali lagi penawaran yang sudah aku buat, tentunya senyuman puas aku sunggingkan. Aku meregangkan sebentar tulang-tulangku yang terasa kaku, lantas mengambil dompet pada tas kerjaku untuk pergi makan siang seorang diri. Tak apa bukan pergi seorang diri? Karena aku tentunya lebih menyukai makan seorang diri daripada ditemani oleh siapa pun. Apakah itu aneh? Tetapi, aku rasa itu hal yang biasa saja jika melakukan sesuatu seorang diri. Dan aku hanya sudah terbiasa.
Lift terbuka, langkah aku bawa pelan untuk menyusuri lobby kantor. Sebelum pintu keluar menyambutku, aku biarkan pikiranku berkecamuk untuk memilih menu makanan yang bisa aku nikmati siang hari ini. Jentikan jari aku lakukan, ketika satu menu dari restoran kesayanganku menjadi pilihan yang tepat untuk mengganjal perut keronconganku saat ini. Security kantor membantuku untuk membuka pintu lobby. “Terima kasih,” ujarku pelan sembari membungkuk.
Saat hendak berjalan keluar dari area halaman kantor, aku cukup terkejut saat melihat motor KLX 250 berwarna hitam sudah menungguku pada jalan masuk kantor. Aku melihat jelas mata bambi itu seakan mengejekku dari jauh. Apakah Jeongguk benar-benar akan mengganggu kehidupanku lagi kali ini? Seperti janjinya saat berbicara di telepon beberapa hari lalu. Aku harus menyiapkan tenaga ekstra mulai hari ini.
Belum sempat aku melewatinya untuk menghindar, lenganku sudah dicekalnya begitu saja. Sedikit memaksaku untuk naik ke atas motornya. Karena tenaga hari ini harus aku simpan untuk meeting nanti, aku menurut saja dengan apa yang dia lakukan. Saat dia hendak memasangkan aku helm, aku tak bersuara apalagi melawannya. Aku hanya diam dan menatap dalam mata kelam yang sudah sangat lama tak pernah kulihat kembali.
“Kita ke Hokben aja, ya? Makan,” ujarnya.
“Cenayang, ya?” tanyaku, karena jujur saja aku benar-benar kaget bahwa dia mengetahui aku saat ini sangat ingin makan bento special 4 dari Hokben.
“Tertulis jelas tuh di dahi kamu tadi. Pegangan yang benar, kalau jatuh aku tak mau tanggung jawab,” ocehnya sembari menjalankan motor kesayangannya.
“Berisik,” gumamku pelan.
Setelah selesai dengan makan siang, Jeongguk mengajakku untuk minum kopi sejenak. Karena aku pikir waktu istirahatku sebelum meeting masih panjang jadi aku tidak begitu masalah. Bukan karena ingin berlama-lama dengan dia, ya, aku hanya tak bisa melewatkan kopi apalagi itu gratis.
Jeongguk tak banyak berubah, dia masih sama seperti tiga tahun lalu. Selalu memperhatikanku saat melakukan hal apa pun, selalu sigap saat aku membutuhkan apa pun, dan selalu mendengar dengan saksama apa pun yang aku ucapkan. Biasanya dia akan menjawabnya setelah aku selesai berbicara, jika itu adalah sebuah pertanyaan. Dia masih sosok yang sama seperti tiga tahun lalu. Tak banyak berubah. Kecuali wajahnya yang semakin tampan dan bentuk tubuhnya yang semakin besar.
“Croissant bagi dua kayak biasa, ya, Ji.” Belum sempat aku menjawab, Jeongguk sudah membagi dua croissant begitu saja. Dengan refleks tanganku yang tak bisa kuhentikan, aku jambak saja rambutnya, pun sedikit kesusahan karena Jeongguk duduk di hadapanku saat ini.
“Sakiiitt … siapa yang ngajarin jadi kasar begini, sih? Croissantnya bagi dua aja, ya, kamu pelit banget sama yang beliin. Ini punya aku, ya, bukan punya kamu. Nurut coba sekali aja sama aku.” Dia merobek bagian croissant miliknya, lalu mengunyahnya begitu saja.
“Terserah.” Aku menyeruput kopi dengan asal, tak mau berdebat banyak dengannya.
“Ngambek? Buka mulut, buruan.” Dia menyodorkan robekan croissant ke arah mulutku, aku membuka mulut begitu saja dan ikut mengunyah dengan nikmat.
Entah mengapa, setelah sekian tahun tak bertemu Jeongguk, rasa amarah yang memang sempat membuncah di awal jadi mereda. Terlebih saat berhadapan langsung dan menghabiskan waktu seperti ini. Rasanya aku kembali seperti menemukan sosokku yang pernah hilang. Jimin yang lebih teratur dalam melakukan hal apa pun, Jimin yang tahu apa ingin hatinya tanpa kebingungan. Jeongguk benar-benar membuatku bingung untuk saat ini.
“Gimana di kantor hari ini?” tanyanya basa-basi.
“Ya begitu-begitu saja. Tidak berat, ya, tidak ringan juga. Seperti biasa, bisa dihadapi tetapi tetap melelahkan,” jawabku sambil menyeruput kembali americano ice milikku yang sudah setengah gelas.
“Ke kantor sama siapa? Si hitam di rumah, ‘kan?” tanyanya tiba-tiba.
“Kamu pergi tiga tahun beneran buat belajar atau mendalami ilmu membaca pikiran, sih? Kok tahu? Tadi aku ke kantor naik gojek, malas berkendara sendiri,” ujarku dengan jujur.
“Aku antar pulang, ya? Kamu nanti balik kantor jam berapa? Telepon aku saja kalau urusan kantor sudah beres. Kebetulan proyek cafe pertama yang lagi aku bangun ada di dekat kantor kamu. Mau? Jawab iya, cepat!” Dia memaksa sambil mencubit-cubit kecil telapak tanganku. Aku meresponsnya dengan anggukkan kepala, dan aku lihat wajah sumringah tercetak jelas seakan memenangkan lotre ratusan juta.
“Ya sudah. Ayo, aku antar ke kantor sekarang. Tapi sebelum berangkat, ambil croissant nya di meja kasir sana, pas pesan kopi tadi aku sudah pesankan 2 croissant untuk take away. Aku tunggu di parkiran. Buruan, ya, Ji.” Jeongguk mengusap kepalaku, dan berlalu begitu saja. Aku yang mendengar kalimatnya barusan langsung mendekati meja kasir dan menagih croissant milikku. Mata bulat Jeongguk sedikit menyipit, mungkin dia tersenyum melihatku yang mulai membuka pintu cafe dengan senyuman lebar.
Dia membantuku untuk menggunakan helm dan naik ke atas motornya. Tak ada pembicaraan, hanya sunyi dan suara angin saja. Setelah sepuluh menit berlalu, gedung kantorku sudah mulai tampak. Jeongguk mulai masuk ke area parkiran motor untuk menurunkanku, aku turun dari motor dan melepaskan helm miliknya. Tentu saja aku tak melupakan ucapan, “Terima kasih,” untuk segala hal yang sudah dia berikan kepadaku hari ini.
“Semangat meetingnya!” ujar Jeongguk sembari mengepalkan kedua tangan, aku membalasnya dengan tawa renyah karena dia masih tetap lucu seperti dulu.
Wajahku tertekuk masam, kaki sebelah kananku sedari tadi tak berhenti menghentak-hentak lantai. Ternyata meeting dengan client sore tadi pembicaraannya cukup alot dan membuat lelahku semakin menjadi-jadi. Aku melihat motor Jeongguk mulai memasuki area kantor, dan berhenti tepat di depan pintu lobby. Aku menghampirinya tanpa berbicara sepatah kata pun, dan aku juga tahu Jeongguk pasti paham jika aku baru saja melalui hari yang sangat melelahkan.
Jeongguk berkendara dengan sangat gesit, dia tahu … di saat kondisi seperti ini yang aku butuhkan adalah sampai rumah dengan cepat. Rasanya aku sangat bersyukur sekali pagi tadi memilih untuk naik gojek, bukan berkendara seorang diri ke kantor. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kondisiku saat harus berkendara dengan pikiran yang sangat jenuh.
Aku tak bisa menahannya lagi, tangisku pecah pada pertigaan jalan utama. Tak begitu keras, tetapi Jeongguk masih bisa mendengar isak tangisku pastinya. Dia mengelus perlahan tangan kiriku yang bertengger setia pada pinggangnya.
“Menangis saja, aku tak mendengarnya kok.”
“Uhuuukk ….”
Jeongguk berteriak sehingga membuatku tersedak oleh tangisku sendiri. Mengapa dia harus bercanda saat kondisi seperti ini? Tanpa ragu aku keluarkan kekuatan penuh, aku cubit perutnya dengan sangat keras, dan tentu saja dia membalasnya dengan teriakan, “Aduhh … sakit, Ji.”
“Biar, nakal, sih,” keluhku. Dan hanya dia respons dengan kekehan.
“Mau mampir ke rumahku atau langsung pulang?” tanya Jeongguk, karena pertigaan jalan depan gang rumahku sudah mulai terlihat.
“Langsung pulang aja, mau mandi terus istirahat. Aku capek banget,” keluhku. Dan hanya direspons dengan sebuah anggukkan.
Jeongguk benar-benar mengantarku sampai depan rumah. Dia membantuku untuk menggeser pagar rumah setelah membuka kunci gemboknya. “Kamu mau mampir atau gimana?” tanyaku main-main. Karena dia mengekoriku masuk sampai teras rumah. Menungguku memutar kunci rumah dan ikut masuk ke ruang tamu.
“Aku mampir nanti jam 8 atau 9, boleh? Sekalian aku bawa sate ayam dan lontong kesukaan kamu di perempatan jalan sana. Mau?” tanya Jeongguk dengan suara teduh.
“Ya mau kalau gratis. Sekalian kopi sama croissant di cafe sebelah rumah kamu, boleh?”
“Boleh dong. Ada lagi?” tanyanya.
“Kamu pulang nanti, mandi dulu juga, ‘kan? Boleh sekalian tanya kakak kamu, gak? Aku lagi mau baca buku kumpulan sajak gitu, Kak Yunhee banyak kan punya. Tanyain dong, boleh pinjam dua buku saja, gak? Tolong, ya, Jeongguk ganteng.” Telapak tanganku menyatu, seakan memohon kepadanya. Aku dengar gelak tawanya yang melihat tingkah lakuku.
“Kalau udah perihal buku aja, baru mengakui aku ganteng. Ya sudah, aku pulang sekarang. Supaya nanti tidak kemalaman kemari. Kunci aja gerbang, aku masih ada kunci serepnya, kok. Kamu langsung mandi terus istirahat, ya. Nanti kalau makanan sudah siap aku bangunin kamu.” Aku menjawabnya dengan anggukkan saja, mengantarnya keluar untuk pulang.
“Aku balik sekarang, jangan lupa dikunci gerbangnya.” Aku melambai tanpa menjawab karena sudah sangat lelah sekali. Tentu aku mengikuti apa yang dikatakan Jeongguk, mengunci pintu gerbang lalu masuk dan menutup pintu rumah.
Aku menggeret tas kerjaku, membuangnya asal ke atas kursi yang berada di sebelah meja kerja. Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan kembali isi kepala dan tubuhku. Aku benar-benar mendengarkan dan melakukan saran Jeongguk beberapa saat lalu. Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan diri, aku mengenakan pakaian tidur yang senyaman mungkin. Sebelum merebahkan tubuh pada kasur tersayangku, aku berjalan ke arah dapur untuk meminum segelas air dan meminum obat sakit kepala. Aku bergerak kembali ke dalam kamar untuk merebahkan diri, dan membiarkan pusing menguasai kepalaku saat ini. Tak ada salahnya beristirahat lebih awal terlebih dahulu, karena pusing ini sudah cukup mengganggu.
Belum ada sepuluh menit aku memejamkan kedua mataku, bunyi berisik dari ponsel berhasil mengganggu kantukku. Aku bergerak malas, sembari memegang lemari yang berada di dekat meja kerja. Aku pindahkan tas kerjaku ke atas meja dan duduk diam sebentar, aku biarkan seseorang yang meneleponku menunggu lebih lama untuk mendengar suaraku. Saat nama yang tertera di layar ponsel aku baca, tanpa sadar tanganku gemetar. Aku mengangkatnya dan menyapa dengan sangat pelan. “Halloo, Nek ….”
Telingaku sedikit sakit saat mendengar ceramah panjang dari mertua ibu satu ini, dia tak ada urusannya dengan kehidupanku, tetapi dia selalu berhasil membuat kondisi mentalku berada di bawah jurang. Aku berusaha sekuat tenaga menahan tangis, apakah tua bangka ini pernah berpikir saat berbicara dengan seseorang? Rasanya beliau yang merasa dirinya bermartabat itu tak pernah belajar sopan santun sama sekali.
“Jimin tidak pernah memaksa Jihae ataupun ibu untuk menginap. Jimin bahkan tidak pernah tahu jika mereka datang atau pulang. Apa Nenek bilang? Salah Jimin? Seharusnya Nenek melarang menantu dan cucu nenek untuk datang kemari, bukan menyalahkan Jimin seakan Jimin-lah tersangka di sini.” Napasku sudah naik-turun menahan luapan emosi yang sudah kupendam sejak lama.
“Apa Nenek pernah diajarkan etika saat menelepon? Apakah pantas orang tua berujar seperti itu? Aku tak butuh ibu ataupun adik tiriku lagi. Jika memang Anda melarangnya kemari seumur hidup, itu hak Anda. Saya tidak butuh siapa pun untuk kehidupan saya. Saya sudah merasa cukup untuk hidup dengan diri saya sendiri. Jadi, saya sudahi perbincangan tak berguna ini. Selamat malam, saya benar-benar sudah mulai muak dengan kuasa Anda atas kehidupan seseorang. Doa saya semoga Anda selamat dari karma buruk Anda sendiri. Saya tutup.” Aku sudah tak bisa lagi menahan semuanya lagi. Mengapa harus aku yang selalu mengalah untuk kehidupan seseorang? Tak bisakah, satu kali saja aku merasakan bahagia seperti orang lain?
Aku membanting bingkai foto kami bertiga ke arah dinding. Pecahan kacanya ada yang terpantul ke bawah kakiku. Pecahan yang paling besar aku ambil tanpa rasa takut akan tergores. Aku lihat lagi lenganku, luka beberapa hari lalu sudah membekas dan itu terlihat tak cantik lagi. Isi kepalaku saat ini hanya ingin menghias kanvas bekas ini dengan cat berwarna merah untuk mencari tenangku. Aku menggoresnya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Dan napasku perlahan mulai teratur. Akan tetapi, tangan sebelah kananku masih gemetar, karena aku tahu bahwa aku kembali kalah dengan diriku sendiri. Tanganku bekerja secara bergantian, menggores abstract yang berujung dengan rasa menjijikkan. Tetapi, aku membutuhkan ini, aku membutuhkan luka-luka ini untuk memberhentikan rasa sakit. Ya, memang benar, rasa sakit harus ditutupi dengan rasa sakit yang lain, bukan dengan tawa atau kebahagiaan yang palsu.
Aku sudah melampaui batas tenagaku, aku merosot dari bangku untuk membiarkan tubuh ini telentang begitu saja pada lantai. Tidak memedulikan jika ada pecahan kaca yang mungkin saja akan menyakiti kulit tubuhku yang lain. Aku tertawa cukup kencang, mentertawakan lucunya kehidupanku yang sudah aku lalui selama ini. Air mataku berderai deras tetapi aku tetap ingin tertawa. Semakin lama tawa itu sumbang dan menjadi isakan kencang. Seakan duri-duri dalam tubuhku ini mulai tumbuh dan ingin menembus seluruh daging dan kulit tubuhku dari dalam. Ini menyakitkan, yang aku lalui ini sangat-sangat menyakitkan. Aku tak kuat untuk bertahan walaupun itu hanya sebentar saja, aku saat ini sangat ingin benar-benar menyerah.
Mengapa harus aku yang mengalah untuk sesuatu yang sangat aku inginkan? Mengapa harus aku yang menjaga perasaan orang lain untuk tetap baik-baik saja? Mengapa harus aku yang bertanggung jawab untuk hidup orang lain?
Aku bahkan sampai tak pernah tahu apa yang sebenarnya diriku butuhkan, aku bahkan tak pernah tahu mimpi apa yang ingin aku capai, dan bahkan aku tak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.
“Kenapa kehidupan harus serumit ini?” gumamku pelan. Aku biarkan rasa sedih menguasai, aku biarkan tangis semakin pecah. Aku harus mengeluarkan semua luka-luka hatiku hari ini.
“Hei ….” Karena terlalu kalut dengan perasaanku sendiri, aku sampai tak sadar bahwa ada Jeongguk dalam kamarku saat ini.
“Kamu pasti sudah nunggu aku lama, ya? Kamu jijik pasti lihat aku yang sekarang, iya, ‘kan?” aku mencercanya dengan dua pertanyaan sekaligus. Sembari terkikik pelan di akhir kalimat pun air mataku masih bercucuran sangat deras.
“Aku baru saja datang, semuanya sudah ada di meja dapur. Aku tidak jijik, siniin dulu pecahan kacanya,” jawabnya dengan nada tenang. Dia membantuku untuk bangun lalu memapahku untuk berbaring di atas kasur, lalu Jeongguk duduk pada pinggiran kasur dengan tangan kanan yang masih terus meminta pecahan kaca.
“Aku mau gores tangan lagi, boleh?” tanyaku dengan air mata yang masih deras turun.
“Boleh. Tapi aku juga boleh coba, ya?”
Aku menggeleng dengan cepat.
“Kamu ajari aku caranya. Kamu gores sekali, nanti aku gores tangan aku juga sekali.”
“No! Tidak boleh! Tangan Jeongguk bukan kanvas seperti tangan Jimin, kamu tidak boleh terluka.” Jawabku cukup tegas di sela-sela tangisku.
“Ya kemarikan pecahannya. Jimin anak baik, ‘kan? Jimin sayang Jeongguk, ‘kan? Jadi kemarikan pecahan kacanya, cepat, Sayang.” Dengan perlahan aku berikan dia pecahan kaca yang sedang aku genggam. Aku melihat Jeongguk membuang benda tersebut pada tempat sampah yang berada di kamarku.
“Kamu rebahan dulu, jangan bangun. Aku mau beresin kamar kamu sebentar. Nanti aku bantu kamu obati luka, jangan bantah aku. Sekarang istirahat dulu.” Dia mengecup keningku perlahan dan aku biarkan saja Jeongguk melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku memejamkan mata untuk menghalau silau dan pusing sekaligus. Tangisku masih betah bertahan pun tak sekeras beberapa saat lalu.
Aku merasakan rambutku diusap perlahan. Aku mendengar Jeongguk berbisik pelan. “Kamu mau aku obati tangannya sambil makan atau mau lanjut tidur lagi?”
“Mau makan, tapi boleh gendong ke ruang tamu?” Aku memintanya tanpa rasa sungkan.
“Ya boleh, angkat tangannya biar aku gampang gendongnya, Sayang.” Aku hanya mengangguk, menuruti yang Jeongguk ucapkan.
Aku cukup takjub dengan Jeongguk, semua sudah siap di atas meja ruang tamu. Sate yang sudah diletakkan di atas piring, air minum, dan buah. Ada air infus, mangkuk, dan kapas juga. Jeongguk benar-benar sigap kali ini. Ah … rasanya rindu sekali dengan masa lalu saat masih bersama. Memang hanya Jeongguk yang bisa aku andalkan untuk segalanya dalam kehidupan ini.
“Minum dulu.” Jeongguk membantuku untuk meneguk air dari gelas hingga tandas.
“Piringnya aku taruh di sebelah kanan kamu, aku bersihin luka kamu yang di tangan kiri dulu.” Dia membersihkannya dengan sangat telaten, meniupnya untuk menghalau perih yang aku rasakan. Aku hanya tersenyum melihat bagaimana tulusnya dia saat merawatku seperti ini.
“Maaf, aku perginya terlalu lama, ya? Tiga tahun. Maaf, kamu harus lalui semua ini sendirian,” ujarnya. Jeongguk masih fokus membersihkan luka goresan yang terlalu banyak tetapi luka-luka tersebut tidak terlalu dalam pada tangan sebelah kiriku.
“Tidak mau memaafkan. Kamu jahat, pergi. Akunya jadi benci,” jawabku sambil mengunyah makanan.
“Maaf,” gumamnya.
“Kamu pergi akunya jadi lemah, tidak punya pegangan, tidak punya tumpuan. Apa-apa sendirian, biasanya selalu ada kamu. Aku sih tidak masalah, tetapi aku hanya tidak terbiasa. Kita kenal hampir dua puluh tahun kalau kamu lupa, pacaran tujuh tahun dan harus putus tiga tahun lalu karena aku sama kamu tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Ayah aku sama papa kamu berteman, kita juga awalnya berteman. Bagaimana bisa yang awalnya aku punya ayah dan kamu sebagai tumpuan, silih berganti aku malah ditinggal pergi. Memang masih ada ibu, tetapi ibu kan punya kehidupan dengan keluarga barunya,” ocehku. Sesekali dia mengelap sisa-sisa saus kacang yang tertinggal di sudut bibirku.
“Aku harus mengerti kehidupan orang, aku harus memahami kemauan orang. Bahkan ini rumah peninggalan ayah, tetapi ada satu ruangan khusus untuk anak tirinya. Aku menyayangi ibu, sangat bahkan. Tetapi rasanya menyakitkan jika aku semakin menambah rasa sayangku kepadanya, satu sisi serakahku menguasai dan satu sisi kelemahanku yang harus menahan setiap perkataan kasar dari mertua ibu. Bukankah beliau ibuku juga? Bukan hanya milik Jihae, tetapi milik Jimin juga. Aku sangat membenci tua bangka itu, dan kamu juga. Mengapa kamu tak menghubungiku atau mencariku saat sudah sampai Bali terlebih dahulu? Jadi, jangan salahkan aku kalau berucap membencimu.” Aku memukul pelan kepala Jeongguk, karena posisinya yang duduk di lantai, posisinya agak lebih rendah dan agar mempermudahnya untuk membersihkan luka di tanganku.
“Iya, ibu memang punya kamu dan Jihae. Tetapi, sekarang ‘kan pangeran berkuda putihmu sudah pulang. Relakan ibu bersama keluarganya dulu, ya? Ada di posisi ibu yang ditekan oleh keluarga suaminya juga pasti berat. Dan untuk alasan mengapa aku tak menghubungi terlebih dahulu, karena aku sengaja dan ingin melihat respons seperti apa yang aku dapatkan jika tiba-tiba kita berpapasan di jalan tanpa sengaja.” Jeongguk mengecup telapak tangan kiriku, memberikan senyuman terbaiknya yang sangat aku sukai.
“Dunia seperti mengkhianatiku. Dari ayah dan ibu yang bercerai, ibu menikah lagi, kepergian ayah, Jihae yang mulai mengambil alih seluruh atensi ibu, kamu pergi untuk belajar, dan penekanan dari keluarga tiriku. Ah, iya, tidak ketinggalan masalah-masalah yang terkadang aku harus hadapi dan selesaikan seorang diri di kantor. Rasanya aku benar-benar sudah mulai muak dengan kehidupan.” Ini adalah yang selama ini aku inginkan. Mengeluh sebagai korban kejamnya dunia, bukan menjadi sosok yang selalu mengalah saja dari beban masalah yang diberikan dunia.
“Tukar tangannya sebentar, Sayang. Siniin luka tangan kanannya. Wah kamu ini benar-benar, ya,” Jeongguk lugas berujar, disertai decakkan heran karena melihat banyaknya luka gores pada kedua lenganku.
“Kamu anak hebat, bisa bertahan sejauh ini sendirian. Kamu hebat, bisa kuat menahan semua ini sendirian. Kamu hebat, bisa melanjutkan hidup sendirian. Sebelumnya, maafkan aku yang pergi tiga tahun tanpa memikirkan kondisimu saat aku tidak ada di samping kamu. Maafkan Kak Yunhee dan mama yang jarang juga menemani kamu saat aku pergi untuk belajar jauh di negeri orang. Sekarang aku sudah pulang, menepati janjiku kembali kepada kamu, pulang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, untuk diri sendiri dan kamu nantinya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata sendirian, Sayang. Itu semua proses pendewasaan. Sudah, jangan menyalahkan diri kamu sendiri untuk sesuatu yang tak pernah kamu lakukan, dan jangan pernah lagi menghilangkan rasa sakit dengan rasa sakit yang lain. Kamu punya aku sekarang, jadi kamu sudah punya tumpuan lagi, sudah punya sandaran lagi. Dan kamu tidak sendirian lagi.” Jeongguk mengecup kedua kelopak mataku secara bergantian. Jangan ditanya lagi alasannya mengapa, karena selama bercerita aku menangis diam-diam. Selain karena menahan rasa sakit akibat luka-luka yang aku buat sendiri, aku juga merasakan lega karena akhirnya bisa mengeluarkan apa yang ingin aku ungkapkan kepada orang yang tepat.
“Sudah nangisnya. Nanti kamu tersedak, kan tidak enak rasanya menangis sambil makan. Minum dulu.” Jeongguk sekali lagi membantuku untuk minum secara perlahan.
“Ini kamu mau menerima kembali pangeran berkuda putihmu pulang kepelukkan kamu atau tidak? Kalau aku ditolak, biar benar aku balik pulang saat ini juga,” ujarnya main-main.
“Ya, menurut kamu? Mana bisa aku menolak, untuk membantah saja aku berpikir ribuan kali apalagi menolak. Jadi, kita pacaran lagi, ya?” tanyaku dengan percaya diri.
“Kamu baik banget, mau nerima aku lagi. Mana jawaban kamu cepat, lugas, dan percaya diri pula. Pasti ada maunya ini.” Jeongguk menyipitkan matanya bercanda, aku meresponsnya dengan tawa kencang. Karena pernyataan Jeongguk sangat tepat sekali, ada udang di balik batu.
“Sabtu sama Minggu kan aku libur. Terus besok itu Jumat, cariin aku surat DC dong, Sayang. Ke Dokter sekarang, yuk? Please. Aku mau sama kamu besok seharian.” Aku menyatukan kedua telapak tanganku memohon dengan mata kecilku yang memandangnya dengan penuh harap.
“Ya, kalau mau surat DC sakit, ‘kan, tinggal telepon Kak Yunhee saja, sekalian aku mau minta obat dan rekomendasi ke psikiater untuk kamu. Kamu mau, ‘kan, sehat lagi untuk kamu sendiri dan untuk aku? Kalau kamu mau, aku hubungi kak Yunhee setelah menggendongmu ke kasur.” Jeongguk membuat penawaran yang sangat menyulitkan batinku sebenarnya. Tetapi karena ini untuk kebaikan hubungan kita berdua juga, aku menyetujuinya saja.
“Okay, aku mau sehat lagi. Jadi, teruntuk pangeranku yang tampan, cepat gendong aku ke kasur kesayanganku. Aku sudah mengantuk,” keluhku. Segera aku merentangkan tangan untuk memudahkanya saat menggendongku, sesekali aku terkikik pelan kerana Jeongguk mencium area pipi dan telingaku secara main-main, dan itu sangat geli.
Fin
