Work Text:
"Aku kan udah pernah bilang, kalau handuk basah itu taruh di jemuran, Hyuck." Seseorang dengan rambut berwarna kecoklatan itu berujar dengan nada kesal, membuat yang dipanggil 'Hyuck' tadi menoleh, menghentikan kegiatannya yang tengah menyesap secangkir kopi di pagi hari.
Donghyuck terkekeh pelan, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya itu, menumpukan dagunya di atas pundak sempit milik Si Aries yang tengah memasak untuk keduanya sarapan pagi ini. Donghyuck tampak tersenyum melihat kekasihnya tampak cemberut dan mencebikan bibirnya kesal, membuatnya tersenyum gemas melihatnya. "Iya sayang, maaf ya?" ujarnya dengan lembut.
"Itu permintaan maaf kamu yang ke 13 minggu ini." Bukannya luluh, Renjun justru menjawab demikian, membuat Donghyuck mengerti bahwa Renjun pagi ini tampak kesal sekali.
"Oh ya? Buat kesalahan apa aja?" tanyanya dengan nada penasaran. Renjun berdecak kesal, ia melepaskan pelukan Donghyuck pada pinggangnya guna melipir ke lemari es dan mengambil dua buah telur. Dirinya lantas berbalik, menghadap ke arah Donghyuck dan berkacak pinggang.
"Kesalahan karena ninggalin gelas kopi kotor dua kali, lupa angkat jemuran pas aku pergi ke minimarket satu kali, nggak jemur handuk basah dan nyimpen di atas kasur empat kali, lupa makan malam dua kali, ngilangin botol minum satu kali, dan nyimpen barang barang sembarangan tiga kali." Renjun menjawabnya dengan penjabaran yang sangat jelas dan rinci, membuat Donghyuck menganga dibuatnya.
"Oh ya sebanyak itu? Astaga, berarti aku udah bikin kamu kesel banyak banget ya minggu ini?" jawab Donghyuck seraya sedikit tertawa. Renjun memutar bola matanya malas, lanjut fokus pada wajan untuk memasak nasi gorengnya.
"Kamu marah hm? Yah cantik-ku marah, gimana ini?" Donghyuck justru terus menggodanya dan mencubit pipi chubby milik suaminya yang manis itu, lantas dengan gerakan cepat ia mencium pipinya, membuat Renjun menatapnya galak. "Galak banget, jangan marah-marah nanti cantiknya hilang."
"Terus kalau udah nggak cantik kamu ga mau sama aku lagi kah?" tanya Renjun dengan nada ketus. Donghyuck tersenyum, tangannya terulur guna mengelus surai kecoklatan milik Si Aries.
"Bahkan kalau pun dunia ini berakhir besok, aku nggak akan pernah berhenti buat mencintai kamu, ataupun nggak mau sama kamu. Aku bakal selalu sama kamu, dan selamanya sama kamu." kata-kata yang dilontarkan Donghyuck itu sukses membuat pipi Si Aries merona, ia dengan salah tingkah menepis tangan Donghyuck yang berada di kepalanya.
"Ugh, udah sini makan aja! Jangan gombal terus." Renjun memindahkan nasi goreng tersebut ke atas piring, sengaja mengalihkan tatapannya dari Si Gemini karena ia tidak ingin Donghyuck melihat pipinya yang merona hanya karena ucapan sederhana tadi. Donghyuck tertawa, ia suka melihat Renjun yang salah tingkah karena ulahnya, sungguh, Huang Renjun menurutnya adalah yang paling indah di seluruh alam semesta ini.
"Hari ini kamu punya acara apa aja, sayang?" Donghyuck bertanya demikian, membuat Renjun yang tengah melihat-lihat koran pagi ini itu menoleh.
"Pagi ini jam 9 pagi aku harus pergi ke toko kue buat bantu-bantu sedikit di sana. Kata Yuna mereka dapet orderan baru yang lumayan susah. Bayangin deh, ada yang request wedding cake tapi diameter kue-nya harus 50 cm, ada-ada aja orang kaya." Donghyuck mengangguk mengerti, ia tidak berniat memotong ucapan kekasihnya, menunggu ia menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu.
"Terus selesai dari sana sekitar jam setengah dua siang aku harus ngajar les Bahasa China, ada satu anak baru yang gabung di les punya kita, dan aku seneng banget ternyata mereka tertarik belajar Bahasa Mandarin!" Renjun melanjutkan kalimatnya dengan antusias, senyum yang terbit di wajahnya lantas membuat Donghyuck ikut tersenyum karenanya.
"Terakhir, nanti malem aku mau nyelesain naskah tulisan aku biar bisa segera aku kirim ke editor buat diperbaiki, semoga pembaca aku nanti suka sama karya baru aku." Renjun tersenyum cerah, menatap Donghyuck yang balas menatapnya begitu intens.
"Nggak capek kan sayang? Jangan terlalu bebani diri kamu ya?" Renjun tertawa pelan, ia mengangguk. "Aku capek tapi aku seneng jalaninnya, kan lumayan juga penghasilannya buat bantu kebutuhan rumah tangga kita! Kamu ga lupa kan kita punya rencana pergi ke Switzerland?" Donghyuck tertawa, bagaimana mungkin ia melupakan impian kekasihnya sejak lama itu? Mustahil.
"Engga dong, sayang. I always remember that, you know?" Renjun tersenyum hangat, ia benar-benar senang bisa dipertemukan dengan seseorang seperti Donghyuck.
Donghyuck beranjak, mengambil dua piring kotor yang berada di atas meja lantas hendak pergi ke wastafel untuk mencuci piring. "Eh udah biar aku aja yang nyuci, Hyuck." tegur Renjun dan hendak berdiri menghentikan suaminya.
"Sst, udah kamu selesain teka teki silang yang ada di koran aja, cantik. Biar aku yang cuci piring pagi ini, lagian ga banyak kok." Donghyuck tersenyum, merunduk lalu mengecup puncak kepalanya. Renjun tersenyum, menggeleng pelan lantas meraih bolpoin dan membuka lembaran teka teki silang yang berada di koran, sedangkan Donghyuck sendiri kini mencuci piring.
Ah tunggu, bukankah hubungan keduanya ini terlalu sempurna?
•••
Lee Donghyuck adalah seorang putra sulung dari keluarga Lee. Ia memiliki satu adik perempuan dan satu adik laki-laki. Sejak dulu, ayahnya selalu membanggakan dirinya kepada semua orang. Entah itu kerabat jauhnya, rekan kerjanya, atau bahkan tetangganya.
Donghyuck lahir di keluarga yang berada, ia lahir dengan sendok emas, sejak dulu hidup tidaklah lebih sulit dari menyelesaikan permainan Sogi bersama kakeknya. Menurutnya hidupnya selalu berjalan mudah, karena sejak dahulu pun, uang selalu berada di atas segalanya, sehingga keluarganya tidak perlu bersusah payah untuk menyelesaikan masalah jika mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan uang.
Selain itu, ia dilahirkan dengan otak yang cerdas. Sejak sekolah dasar, dirinya selalu menarik perhatian para guru karena kepandaiannya, juga wajahnya yang bak seorang pangeran membuatnya tidak heran jika semua mata tertuju padanya ketika ia melangkah kemanapun ia pergi. Bahkan latar belakang keluarganya yang diketahui semua orang membuat Donghyuck menjadi salah satu orang yang disegani, semua orang tua murid selalu memberi tahu anak anak mereka agar tidak mencari gara gara dengan Lee Donghyuck, jadilah temannya, tapi jangan pernah menjadi musuhnya, begitu kata mereka.
Seiring berjalannya waktu, Donghyuck tumbuh menjadi orang yang ramah dan baik hati, ia mewarisi senyuman ibunya yang sangat manis dan tulus, ia juga mewarisi kebaikan dan sifat baik dari ibunya, tidak seperti ayahnya yang keras dan dingin, Donghyuck justru berbanding terbalik dengannya.
"Bagaimana kuliah kamu hari ini? Semester depan sudah sidang skripsi ya?" tanya sang ayah ketika mereka bertiga tengah berada di meja makan; ayah, ibu, dan Donghyuck.
Donghyuck mendongak, mengalihkan perhatiannya dari piring yang menjadi pusat fokusnya. Donghyuck mengangguk, "Selalu bagus, ayah. Mau ayah bertanya hal itu setiap hari pun, jawabannya selalu sama."
Ayahnya terkekeh, "Maaf, ayah tidak punya topik lain selain itu." Donghyuck mengerutkan keningnya bingung, ia tidak mengerti mengapa ayahnya secara tiba tiba meminta maaf. "Ayah baru lihat coretan milik Chunsung, ternyata ayah memang kurang perhatian dan jarang bertanya kepada kalian semua karena ayah sibuk. Maaf, ya?" lanjutnya.
Donghyuck tersenyum tipis, meski ayahnya memang sosok pribadi yang dingin, ayahnya selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya, dan bagi Donghyuck hal itu sudah lebih dari cukup. "Nggak apa apa, Ayah. Terima kasih karena mau meluangkan waktu, Hyuck tahu ayah sibuk." ujarnya.
Ayahnya tersenyum, begitu pula sang ibunda yang merasa senang melihat keluarganya yang hangat dan rukun.
Kehidupan Donghyuck di kampus begitu biasa saja, tidak ada yang istimewa selain orang orang yang selalu berdecak kagum ketika melihat ke arahnya. Sejak kecil ia selalu menerima tatapan memuja itu, ia selalu melihat orang orang yang segan menatap ke arahnya, dan lama kelamaan hal itu menjadi hal yang biasa saja untuknya.
Hari Rabu, hari itu matahari sedang panas terik, bahkan ruangan kelas dari mata kuliah terakhirnya hari itu benar benar terasa panas karena AC-nya tengah rusak. Donghyuck keluar dari kelas dengan wajah bete-nya. Ia harap dirinya bisa dengan segera pergi ke mobil dan pulang ke rumah karena sumpah, panasnya benar benar membuatnya sesak.
Namun siapa sangka ia justru terhenti ketika mendapati seorang mahasiswa dengan rambut cokelat terang tengah berjongkok di pinggiran trotoar di mana ia hendak pergi meninggalkan kampus. Donghyuck benar benar menghentikan mobilnya ketika melihat orang itu sibuk memberi minum pada seekor kucing dewasa juga dua ekor anak kucing yang selalu mengikuti ibunya.
Bahkan ia tampak tidak peduli dengan teriknya sinar matahari yang menyengat tepat di atas kepalanya, ia justru sibuk memberi minum kucing kucing itu dan mengeluarkan sebungkus makanan kucing dari tasnya—makanan kucing itu tampak tinggal sedikit, dan ia menyisihkan semuanya untuk ketiga kucing itu.
Donghyuck tampak menyunggingkan senyum tipisnya, entah bagaimana bisa seorang laki laki berambut cokelat dengan setelan sederhana yang di mana ia hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan garis garis putih juga celana jeans yang melekat pada kaki jenjangnya itu tampak menarik perhatiannya hanya karena ia tengah memberi makan kucing jalanan.
Entah orang itu sadar atau tidak bahwa Donghyuck masih memperhatikannya bahkan hingga ia berlalu pergi dari sana dan memasuki area kampus. Rasanya terik sinar matahari siang ini tidak hanya membuat kepalanya pusing namun juga menarik kewarasannya tepat dari ubun-ubunnya. Donghyuck terpana, pada sosok sederhana yang ia temui beberapa saat lalu.
"Aku ingin tahu siapa namanya." gumamnya, bertekad penuh semangat. Keputusannya sudah bulat.
Esok harinya, Donghyuck datang dua jam lebih awal dari mata kuliah yang ia punya hari ini. Selain pandai dan cerdas, Donghyuck juga begitu gigih, ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dari dulu, jadi hari ini pun ia harus begitu.
"Aku ingin tahu siapa dia, kemarin aku melihatnya mengenakan kemeja berwarna biru bergaris garis putih," ujar Donghyuck pada teman dekatnya yang menurutnya social butterfly, jadi akan lebih mudah jika bertanya padanya.
Jeno berdecak kesal, "Mana aku tahu kalau ciri cirinya begitu, bodoh. Siapa tahu ada orang yang memakai pakaian seperti itu lebih dari satu kemarin!" tukas Jeno dengan nada tidak bersahabat.
Donghyuck terdiam, benar juga. "Dia cantik, dan tampan juga, sih. Rambutnya berwarna kecoklatan, kalau tertimpa sinar matahari warna rambutnya jadi coklat terang, pokoknya begitu deh! Dia juga ga begitu tinggi," lanjut Donghyuck masih berusaha memberi gambaran mengenai laki laki yang ia lihat kemarin itu.
Jeno tampak berpikir sejenak, "Apa di gantungan tasnya ada gantungan kunci berbentuk kepala rubah?" tanya Jeno pada akhirnya. Donghyuck tidak yakin, ia tidak memperhatikan tas anak itu. "Kalau iya, itu mungkin Huang Renjun, dari fakultas seni. Coba cari aja orang itu." lanjutnya.
Donghyuck mengangguk mengerti, "Yaudah, kalau orangnya bukan dia nanti aku tanya lagi." Jeno mengangguk sekilas. Donghyuck menepuk bahu teman dekatnya itu lantas mengucap terima kasih dan pergi dari sana.
Fakultas Seni. Itu tujuannya saat ini. Memastikan apakah benar orang yang ia lihat kemarin bernama Huang Renjun atau bukan.
Kepopuleran Lee Donghyuck membuat ia harus beberapa kali tersenyum dan menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya hingga akhirnya bisa mencapai gedung fakultas yang ia tuju.
"Ah, kamu Lee Minju kan? Anak jurusan seni?" tanya Donghyuck secara tiba tiba ketika mendapati seseorang yang ia kenal karena pernah satu SMA dengannya, seingatnya Minju berada di fakultas seni.
Minju yang terkejut karena tiba-tiba ditanya oleh Donghyuck itu sontak tersenyum ramah, ia tampak sedikit mengedarkan pandangannya karena rasanya dirinya menarik perhatian beberapa orang karena Donghyuck mengajaknya bicara.
"Ah iya, aku anak seni. Kenapa, Hyuck?" jawab Minju pada akhirnya. Donghyuck tampak tersenyum cerah.
"Kenal yang namanya Huang Renjun ga?" tanya Donghyuck pada akhirnya dengan raut bersemangat yang tidak bisa ia sembunyikan.
Minju mengangguk sebagai jawaban, "Kenal kok, dia temenku juga." jawab Minju yang merasa sedikit bingung mengapa Donghyuck tampak seantusias ini, bahkan ia juga bingung mengapa Donghyuck mencari Renjun, karena seingatnya Renjun tidaklah populer, dan setahunya teman-teman Donghyuck itu berasal dari kalangan kelas atas yang juga pasti sama sama populer di kampus.
"Boleh bantu aku ketemu dia, ga? Aku ada perlu." Donghyuck berkata langsung pada tujuannya. Minju lagi lagi hanya mengangguk, sedikit meremat binder yang ia pegang karena merasa gugup diperhatikan beberapa mahasiswi yang lewat karena berbicara dengan Donghyuck.
"Boleh." Donghyuck tampak mengucap syukur dengan senyuman yang tidak luntur. Lantas ia mengikuti Minju yang mengajaknya menghampiri dimana letak Renjun berada. Minju akhirnya menunjukkan letak Renjun duduk di salah satu bangku di taman yang berada di sana, "Aku mau ketemu Renjun, tapi karena kamu minta ketemu dia, jadi sekalian aja ayo."
Donghyuck tampak terdiam beberapa saat, entah bagaimana bisa jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya ketika mengetahui bahwa Renjun yang ditunjuk oleh Minju adalah orang yang sama yang membuatnya kepikiran sejak kemarin siang.
Donghyuck tersenyum kikuk dan mengangguk, keduanya kini melangkah mendekat menuju Renjun. "Renjun! Maaf aku lama ya," Minju menyapanya duluan, membuat orang yang dipanggil tadi mendongakkan kepalanya dan tersenyum hingga gingsul di giginya tampak terlihat berderet rapi dengan barisan giginya yang lain.
"Nggak apa apa kok Minju," jawabnya dengan suara yang- ah sial, halus sekali di telinga Donghyuck, membuatnya seakan tersihir mendengarnya.
"Oh iya, Renjun. Ini ada Donghyuck mau ketemu kamu katanya," lanjut Minju padanya. Renjun seketika mengalihkan pandangannya pada sosok yang berdiri tepat di sebelah Minju. Renjun menatap Donghyuck selama beberapa saat. Laki laki Gemini dengan balutan crewneck berwarna coklat itu dengan tatapan polos.
"Pacarmu, Minju?" tanya Renjun polos pada Minju. Donghyuck dan Minju sontak terkejut, sedangkan Minju langsung menggeleng ribut, "Bukan! Dia mau ketemu kamu, bukan aku mau ngenalin dia karena dia pacarku, duh." Renjun membulatkan mulutnya lantas mengangguk pelan.
Renjun berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Donghyuck, Donghyuck sendiri tampak berdiri gugup ketika Renjun mengulurkan tangannya guna berjabat tangan, "Lee Donghyuck ya? Namaku Huang Renjun." ujarnya ketika tangan keduanya saling bertautan.
Donghyuck tersenyum, "Iya, tahu." Renjun mengangguk mengerti, melepaskan tautan tangan keduanya. "Terus ada apa nyari aku?" tanya Renjun penasaran, ia takut hal itu adalah hal yang penting oleh karena itu ia langsung bertanya secara to the point.
Donghyuck tidak menjawab, ia memberi kode pada Minju lewat tatapan matanya yang langsung dimengerti oleh gadis itu, "Ah iya Renjun aku ada urusan kalian ngobrol berdua aja ya hehe, bye!" Belum sempat Renjun menjawab ucapannya, Minju dengan segera berlalu pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua yang berada di bawah pohon rindang yang menghalau teriknya sinar matahari. Tidak ada yang kembali membuka percakapan, Donghyuck masih sibuk memandang pahatan Tuhan yang berada di hadapannya. Begitu indah, cantik dan tampan beradu menjadi satu. Rambut kecoklatan miliknya itu tampak tertiup semilir angin, sedangkan Si Aries menatap Donghyuck bingung.
"Huang Renjun, I think I fall for you at the first sight."
•••
Kekurangan satu satunya milik Lee Donghyuck hari itu adalah ketika ia tidak bisa menghentikan mulutnya untuk asal bicara, menghasilkan tatapan terkejut dari Si Aries ketika Donghyuck berkata demikian, membuat Donghyuck meringis merutuki dirinya sendiri yang asal bicara.
"Tunggu ... apa?" Renjun membeo, sedangkan Donghyuck tersenyum kikuk. "Aku tertarik sama kamu, Renjun. Ya begitu pokoknya ..." jawab Donghyuck salah tingkah. Renjun mengerjapkan matanya beberapa kali, ia rasa ini adalah sebuah mimpi di siang hari yang panas ini. Sungguh ia tidak bisa menutup keterkejutannya ketika seorang Lee Donghyuck tiba tiba datang ke hadapannya dan mengatakan bahwa ia tertarik padanya, omong kosong!
"Sejak kapan?" tanya Renjun pada akhirnya mencoba mewaraskan dirinya sendiri agar tidak terlihat begitu bodoh di hadapan Donghyuck yang secara tidak sengaja justru mengutarakan perasaannya dengan cara yang tidak keren.
"Kemarin, aku lihat kamu lagi ngasih makan kucing dan yap, aku ada di sini nyari kamu, Huang Renjun. Aku tertarik sama kamu," Donghyuck yang sudah terlanjur berucap tadi lantas memilih untuk berkata jujur. Donghyuck benar benar nol besar dalam bidang asmara, tidak seperti Jeno yang sudah kelewat handal bahkan mantan kekasihnya ada di mana mana, hanya saja kali ini hubungannya dengan Na Jaemin tampak cukup langgeng, membuat Donghyuck berpikir bahwa Jeno sudah sadar dan memilih menjadi pribadi yang lebih baik.
Renjun mengangguk mengerti lantas menyunggingkan senyum manisnya, "Terima kasih ya Donghyuck sudah mau menyukaiku, err aku rasa itu hanya rasa tertarik sesaat karena bahkan kamu baru melihatku satu kali kemarin, tapi aku benar benar memuji keberanianmu, sungguh aku sangat berterima kasih. Jujur aku rasa ini mimpi karena bagaimana bisa seorang Lee Donghyuck yang dielu-elukan semua orang jatuh hati padaku? Tapi di luar itu semua, sungguh, terima kasih." jawaban yang keluar dari mulut Si Aries benar-benar di luar ekspektasinya, membuat Donghyuck tersenyum hari itu.
Rasa tertarik sesaat? Salah besar, karena nyatanya hingga satu bulan kemudian Donghyuck masih senantiasa mencoba mengenal Renjun lebih jauh. Awalnya Renjun merasa keberatan atas keberadaan Donghyuck di sekitarnya karena ugh, mahasiswa kupu kupu yang tidak pernah menarik perhatian siapapun kini justru mencuri beberapa pasang mata yang selalu tertuju ke arahnya setiap kali Donghyuck menyapanya hangat dan mengobrol dengannya. Renjun tidak nyaman, ia benci tatapan mata itu.
"Donghyuck sungguh aku benar benar tidak suka ketika orang orang menatapku menghakimi, aku rasa aku tahu apa yang mereka pikirkan. Seperti, 'Oh, bagaimana bisa Huang Renjun dekat dengan Lee Donghyuck' atau 'Ia tidak pantas berjalan beriringan dengannya' semacam itu." sungut Renjun kesal pada Donghyuck yang kini tengah menyantap roti isi di depannya.
"Oh ya? Mereka berkata begitu?" tanya Donghyuck dengan lembut, ia sempat tersenyum melihat wajah kesal Renjun. Renjun menggeleng, "Nggak, ih. Kan aku bilang 'aku rasa aku tahu' tadi." balasnya.
"Itu artinya mereka nggak bilang begitu, tapi kamu sendiri yang bilang begitu, isi kepalamu yang bilang." timpal Donghyuck yang lantas kembali melahap roti isinya.
Renjun mencebikan bibirnya kesal, "Tapi tatapan mereka seram sekali, aku jadi takut."
"Kenapa harus takut?" sanggah Donghyuck, ia sempat mengambil minumannya dan meminumnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. "Kan ada aku, Ren. Lagipula kalau mereka berpikir begitu mereka bisa apa? Aku deketin kamu karena aku yang mau, nggak ada istilah 'ga pantas' memangnya mereka siapa bisa mengomentari aku pantasnya dengan siapa? Kalau aku maunya kamu, ya pokoknya kamu." ia meneruskan kalimatnya.
Entah Donghyuck sadar atau tidak, pipi Renjun merona dibuatnya, membuat Renjun dengan segera membuang wajahnya, tidak ingin Donghyuck melihat pipinya yang memerah hanya karena kalimat sederhana yang ia lontarkan barusan. Donghyuck tertawa, "Astaga Renjun, bisa tidak berhenti bikin aku makin suka sama kamu?" kelakarnya yang kembali diselingi tawa ketika Renjun memukul punggung tangannya pelan, salah tingkah.
•••
Semuanya berjalan baik, sungguh. Selain karena Donghyuck sudah terang terangan membangun batas antara orang orang di luar sana dengan Renjun agar Renjun tidak merasa terganggu, Renjun sendiri sudah merasa lebih nyaman bersama dengan Donghyuck. Berbulan bulan berlalu mereka menjalani hubungan keduanya dengan baik, meski beberapa kali kerap berselisih paham, hal itu tidak membuat hubungan yang sudah mereka bangun goyah begitu saya. Hyuck fell first, but both of them are fell harder.
"Kamu ini sok-sokan nonton film horror padahal sepanjang film kerjaannya nempelin aku terus sama tutup mata," cibir Donghyuck, mengejek. Renjun tampak memutar bola matanya malas, "Tapi seru, tahu."
Donghyuck terkekeh, tangannya kembali bergerak menyisir rambut milik Renjun dengan lembut. "Nggak apa apa sih, toh aku seneng karena kamu jadi nempel terus di bahu aku."
"Modus." Donghyuck tertawa, ia mencium pipi milik Si Aries kemudian tanpa aba aba memeluk tubuhnya erat. "Renjun," panggilnya pelan. Renjun berdehem pelan sebagai jawaban, "When you feeling low, I will be there too." Renjun mengerutkan dahinya bingung ketika mendengar ucapan Donghyuck barusan.
Donghyuck melepaskan pelukannya, tersenyum tipis dan menghela nafas pelan. "I promise." Renjun semakin dibuat khawatir karenanya, ia menatap Donghyuck dengan tatapan bingung bercampur khawatir. "Hyuck is everything okay?" tanyanya, tangannya mengelus rahang tegas milik Si Gemini, membuatnya memejamkan mata ketika menerima sentuhan halus itu.
"Aku usahain biar semuanya baik baik aja, Renjun. Jangan khawatir, ya?"
Namun nyatanya tidak semudah itu. Donghyuck saat ini duduk di hadapan ayahnya yang terdiam seribu kata ketika mendengar penuturan Donghyuck bahwa ia mempunyai seorang kekasih, dan hal itu memicu pertanyaan yang amat sangat dibenci Donghyuck. "Dari keluarga mana ia berasal? Satu kasta dengan kita?" dan saat pertanyaan itu dilontarkan padanya, Donghyuck tidak menjawab dan justru menunduk, membuat ayahnya sudah bisa menilai jawaban apa yang Donghyuck miliki untuk pertanyaan itu.
Renjun bukanlah dari keluarga yang kaya raya, ia justru seorang mahasiswa yang merantau jauh dari kampung halamannya yakni di China, mengandalkan pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi kebutuhannya sehari hari. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia hanya bisa menghidupi dirinya sendiri.
Dan kalian tahu bagaimana reaksi ayahnya ketika mendengar penjelasan itu? Ia marah. "Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan orang dari kasta rendah seperti mereka Donghyuck?" tanyanya dengan nada tinggi. Ibunya yang berdiri di belakang ayahnya itu tampak terkejut ketika ia tiba tiba membentak putra sulungnya. "Kamu tahu kan bagaimana tradisi keluarga kita? Kita hanya bisa menjalin hubungan dan relasi dengan orang orang dari kasta tinggi, apalagi ini soal hubungan asmara yang berujung pernikahan, tidak bisa asal pilih!"
"Donghyuck mencintai Renjun, ayah. Aku ga peduli dia dari kasta manapun, aku cuman mau Renjun." jawab Donghyuck dengan tegas, membuat ayahnya tampak bungkam dengan dada yang naik turun menahan emosi.
"Kalau begitu kamu bisa memilih, tetap tinggal disini, atau pergi bersama orang itu." ucapan ayahnya barusan sukses membuat Donghyuck bungkam. Donghyuck sempat melirik ke arah ibunya yang matanya berkaca-kaca melihat keduanya.
"Maaf, ayah. Aku memilih Renjun."
•••
Jangan tanya bagaimana reaksi Renjun saat itu, ia sungguh marah besar dan menampar wajah Donghyuck cukup keras hingga wajahnya tertoleh ke samping. "Kamu gila ya? Kamu ninggalin orang tua yang udah besarin kamu selama ini demi aku?" tanyanya dengan nada bicara yang meninggi, matanya berkaca-kaca sedangkan Donghyuck tidak menjawab sepatah katapun.
"Jangan gila Donghyuck, aku cuman orang baru buat kamu sedangkan keluarga kamu selalu ada buat kamu dari dulu!" lanjut Renjun yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menunduk, terisak.
Donghyuck yang mendengar isakan Renjun itu sontak menoleh, melangkah mendekat dan berusaha memeluk tubuhnya, namun Renjun menolak pelukan itu, ia menggeleng. "Renjun, aku bahagia bisa sama kamu, dan hal yang mustahil buat aku ninggalin kamu, Renjun. I will never fall for someone else anymore."
"Tapi Hyuck—"
"Sst, It's okay darling, everything is fine. Selama kamu sama aku, maka aku bakal selalu baik baik aja, Renjun." lantas percobaannya yang kedua untuk memeluk tubuh mungil milik Si Aries itu tidak ditolak lagi, Renjun balas memeluknya erat, menumpahkan tangisannya di atas dada kekasihnya. Donghyuck berulang kali menggumamkan kalimat kalimat penenang untuknya, mengelus rambut kecoklatan miliknya, menciumi dahinya.
Jika boleh jujur, Renjun teramat bersyukur bisa bertemu dengan seseorang seperti Lee Donghyuck, sungguh. Ia juga tidak ingin kehilangan Donghyuck, ia ingin selalu bersamanya. Namun bukankah itu adalah hal yang egois? Menariknya menjauh dari keluarganya, dari seorang ayah yang selalu membanggakannya, dari seorang ibu yang selalu menyayanginya, dari saudara yang selalu ada untuknya?
"Renjun, even the world was ending, you'll come over right? That's why I choose you, because all I need is you, only you."
•••
Sang dominan itu kini tengah sibuk mengelusi punggung Si Aries yang bergetar karena menangis sesenggukan. Hari ini, setelah pulang dari tempat les dan menyelesaikan beberapa paragraf dari tulisannya yang belum rampung, Renjun menyempatkan diri untuk membaca satu buku yang baru saja Ia beli tiga hari yang lalu karena bosan menunggu Donghyuck pulang dari tempat kerjanya. Sayangnya, ia justru menangis terisak hebat karena buku yang ia baca beberapa saat lalu begitu menyayat hati, membuatnya berakhir dengan air mata mengalir dari sepasang netra.
"Astaga Renjun, kamu sampe susah nafas gini," tegur Donghyuck karena mendengar suara isakan Renjun justru makin parah adanya. Ia jadi penasaran memangnya semenyedihkan apa cerita yang ditulis sang penulis itu hingga suaminya bisa menangis sehebat ini?
"Hyuck kamu harus baca— hiks, masa akhirnya tragis banget aku bener bener ga sanggup, ga rela banget ending-nya kayak begitu!" jawab Renjun dengan terbata-bata. Sesungguhnya Donghyuck ingin sekali tertawa saat ini karena menurutnya Renjun terdengar lucu, namun yang ada ia akan mendapat pukulan di tangannya karena dianggap usil. Ya tapi bagaimana ya, Donghyuck tidak kuasa menahan rasa gemasnya terhadap si cantik.
"Ya ampun iya iya, sayang. Sekarang minum dulu ya biar lebih enakan, aku juga belum mandi dan ganti baju tapi kamu udah main peluk begini, nggak kebauan apa?" Donghyuck berkata dengan intonasi bicara yang amat lembut. Renjun menggeleng, akhirnya ia menarik wajahnya dari dada kekasihnya itu dan menyeka pipinya yang basah karena air mata.
"Nggak kok, kamu masih wangi," jawab Renjun dengan jujur, membuat Donghyuck tertawa mendengarnya.
"Astaga cantik-ku menangis sampai sebegininya," omel Donghyuck sembari kedua ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap kedua kelopak mata milik Renjun yang sembab bukan main. Renjun membiarkannya, ia merasa malu ketika melihat kemeja berwarna biru langit milik Donghyuck tampak basah karena air matanya.
"Udah jangan nangis lagi sayang, mending kita makan malem yuk? Kamu pasti belum makan karena nungguin aku kan?" Donghyuck beranjak dari duduknya. Sofa sederhana di rumah yang sama sederhananya itu menjadi salah satu tempat favorit baginya untuk berduaan dengan Renjun selain kamarnya yang hangat. Renjun ikut berdiri, ia mengangguk pelan.
"Iya, aku nungguin kamu, tapi aku udah sempet masak kok tadi. Hari ini menu makan malamnya cuman ayam bumbu aja tahu, nggak apa apa kan?" tanya Renjun memastikan. Donghyuck tersenyum tipis, ia mengelus puncak kepala milik Renjun dengan lembut.
"Aku harus bilang berapa kali sih kalau aku sama sekali nggak keberatan sama apapun yang kamu masak, sayang." Renjun terkekeh, ia tahu Donghyuck pasti sama sekali tidak keberatan, tapi tetap saja sejak kecil ia pasti sangat dimanja oleh ibunya dengan masakan masakan enak dan mahal. Pernikahan yang sudah berumur tiga tahun ini tetap membuat Renjun berpikir bahwa itu sama sekali tidaklah cukup untuk menggantikan itu semua.
Tidak, hidup mereka tidak sesusah itu sebenarnya. Keduanya menempuh pekerjaan di bidang masing masing, dan penghasilan mereka sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Namun, mimpi yang Renjun punya untuk pergi ke Switzerland membuat Donghyuck selalu mengingatkan mereka untuk berhemat. Itu bukanlah hal yang sulit untuk Renjun, toh dari dulu hidupnya memang selalu biasa saja, tapi ia selalu memikirkan Donghyuck, meskipun Donghyuck selalu berkata bahwa ia sudah terbiasa dengan semuanya, pikiran negatif itu masih kerap kali menghampiri kepalanya.
Donghyuck diusir dari rumah setelah ia lulus kuliah. Ah tidak, sebenarnya Donghyuck sendirilah yang memutuskan untuk pergi karena sekali lagi, ia memilih Renjun untuk hidup bersamanya. Ayahnya sama sekali tidak menahannya, ia dengan raut dingin membiarkan Donghyuck melangkah keluar dari rumah, sedangkan Ibunya memohon dan menangis agar Donghyuck tetap tinggal. Kedua adiknya masih berkomunikasi dengannya sampai sekarang. Juga meski Donghyuck sudah tidak lagi menjadi bagian resmi dari keluarga mereka, orang orang di luar sana tetaplah segan padanya.
"Oh iya Hyuck, besok penulis dari buku yang aku baca tadi bakal ngadain meet and great gitu, aku beneran pengen dateng kesana soalnya aku suka banget sama bukunya," Renjun membuka percakapan di antara mereka setelah ia selesai mencuci piring dan kini keduanya tengah duduk di meja makan, memakan cupcake yang sempat dibeli oleh Donghyuck sebelum pulang tadi. Si Gemini sudah dengan penampilan yang lebih baik karena sudah selesai membersihkan diri.
"Yaudah dateng aja," Donghyuck menanggapinya. Renjun cemberut, ia berdecak pelan.
"Justru itu, besok aku harus pergi ke toko lagi karena kue yang tadi belum didekorasi, terus besok kan aku masih punya jadwal buat ngajar les sedangkan acaranya tuh jam 10 pagi, aku nggak akan bisa pergi." jelas Renjun dengan wajah muram.
Donghyuck terkekeh, "Aku aja yang pergi kalo gitu." Donghyuck mengajukan diri, membuat Renjun sontak mengangkat kepalanya dengan wajah terkejut.
"Tapi kan kamu kerja?" Si Gemini itu tersenyum, ia lantas menatap Renjun dan menggeleng. "Kamu lupa ya? Apapun itu, kamu selalu jadi skala prioritas aku, dan aku sama sekali belum ambil jatah cuti, jadi bisa aku pakai besok." Renjun kehilangan kata katanya untuk bicara, pipinya terasa memanas karena Donghyuck selalu seperhatian ini.
"Kirim ke aku aja alamatnya, nanti aku datang kesana dan minta tanda tangan penulis itu. Setuju?" Renjun tersenyum hangat, mengangguk. "Setuju!" serunya.
Donghyuck tersenyum senang, "Tapi ini nggak gratis lho." lanjutnya, membuat Renjun mengerutkan dahinya mendengar kalimat itu. Donghyuck berdiri dari duduknya, menghampiri Renjun yang berada di seberang meja sana, lantas tangannya terulur, dengan satu kaki yang ia silangkan ke belakang dan sedikit merunduk bak seorang pangeran kerajaan. "Ayo berdansa, sayang."
Renjun membeku, namun detik selanjutnya ia tertawa halus, tangannya menerima uluran dari Donghyuck dan ikut berdiri. Punggung tangan dengan tanda lahir di atasnya itu ia kecup singkat, sebelum Donghyuck menarik Renjun ke dalam rengkuhannya, melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang ramping milik Si Aries.
Sedangkan Si Aries itu menautkan salah satu tangan mereka, juga tangannya yang lain ia simpan di pundak milik Donghyuck. Donghyuck sempat menyalakan lagu dari ponselnya yang sudah tersambung dengan sebuah pengeras suara, saat ini lagu yang mereka putar adalah Je te laisserai des mots oleh Patrick Watson.
Keduanya mulai bergerak diiringi irama yang indah itu, kaki mereka bergerak melangkah maju dan mundur seirama, memutari rumah yang luasnya tidak seberapa itu. Suasana rumah yang cukup hangat membuat euforia yang terbangun di antara mereka membuat jantungnya berdebar. Wangi dari pengharum ruangan berperisa kayu manis itu membuat suasana semakin tenang adanya.
Mata keduanya saling menatap dalam, gerakan dansa yang indah sama sekali tidak memutuskan tatapan mata penuh cinta dari kedua insan yang umur pernikahannya sudah tidak lagi dibilang muda. Renjun tersenyum bahagia, entah apa kebaikan di masa lalu yang pernah ia perbuat hingga ia bisa bertemu seseorang seperti Donghyuck yang begitu mencintainya. Tanpa sadar mata Renjun berkaca-kaca, ia jatuh sejatuh-jatuhnya. Begitu pula dengan Donghyuck, rasanya semakin hari cinta di antara mereka berdua semakin erat adanya.
Gerakan dansa mereka berdua berhenti, keduanya terdiam bagaikan patung, namun kedua pasang mata itu sama sekali tidak memutus kontak, terdengar suara nafas yang teramat dekat. Suara musik yang masih memenuhi ruangan. Detik berikutnya, wajah mereka berdua kian dekat hingga mereka bisa mendengar deru nafas masing masing, hingga bibirnya saling bersentuhan; bertaut, melumat, memejamkan mata.
Tangan Renjun kini berpindah, menjadi mengalung di leher milik kekasihnya, sedangkan Donghyuck kini mengeratkan kedua tangannya di pinggang milik Si Aries. Mereka berdua berciuman tanpa nafsu di dalamnya, hanya ada cinta dan kasih sayang.
Donghyuck menjadi orang pertama yang memutus tautan keduanya. Matanya yang terpejam perlahan terbuka, kembali menatap Renjun yang juga telah membuka mata. Mata hitam legam miliknya menatap netra indah milik Renjun yang dipenuhi bintang bintang di dalamnya, begitu indah, menawan.
"Renjun, sampai kapanpun aku akan selalu menyayangi kamu, selalu." Renjun tersenyum haru, ia mencium rahang tegas milik Si Gemini secara singkat.
"Aku juga, Donghyuck. Aku juga."
