Chapter Text
Semua tentang Zhang Zhehan adalah “hal yang pertama” bagi Gong Jun.
Karirnya memang masih belum panjang, dia baru sekitar 5 tahun berkecimpung di industri hiburan. Bergabung dengan banyak tim produksi drama membuatnya berkesempatan bertemu banyak orang, baik senior maupun junior, tapi entah kenapa pertemuannya dengan Zhang Zhehan meninggalkan banyak kesan mendalam yang tak bisa dia pahami. Usia Zhang Zhehan tak begitu jauh namun karirnya lebih lama darinya. Sejak mereka diumumkan menjadi peran utama dalam “Shan He Ling”, Gong Jun tak menyangka orang yang membuatnya gugup karena kelihatannya sulit didekati ternyata bisa mulai bersahabat dengannya setelah Gong Jun menawarinya sup ayam. Kata orang, jika ingin pendekatan dengan gebetan, membuat makanan yang lezat bisa meluluhkan hatinya. Jujur saat itu Gong Jun tidak sama sekali terpikir soal ‘gebetan’ dan semacamnya, di pikirannya hanya ingin memulai interaksi yang baik dengan senior. Tapi siapa sangka, seiring berjalannya waktu status Zhang Zhehan di hatinya sudah naik tingkat, lebih dari sekedar senior.
Senior yang membuatnya merasakan beragam emosi dan hasrat yang baru dan menantang.
Sore itu jadwal syuting mereka tidak terlalu padat. Sebagian besar adegan sudah rampung sejak siang, jadi setelah kelar checking dan sebagainya, mereka sudah bisa beristirahat sejak sore. Gong Jun sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari.
*percakapan WeChat*
Gong Jun: Zhang-laoshi, lagi sibuk, nggak?
Zhang Zhehan: Nggak, kenapa?
Gong Jun: Ada yang mau kutanyakan terkait pekerjaan, apa aku boleh datang ke RV-mu?
Zhang Zhehan: Ooh, boleh. Tapi jangan ke sini, agak berantakan. Aku saja yang ke sana.
Gong Jun menelan ludah dengan gugup. Padahal dia yang minta tolong tapi malah Zhang Zhehan yang repot-repot datang ke tempatnya. Ini bukan pertama kali Gong Jun mengajak Zhang Zhehan mengobrol terkait pekerjaan di waktu istirahat mereka. Sebelumnya pun di sela-sela syuting Zhang Zhehan memberinya banyak saran dan arahan terkait akting terutama adegan-adegan yang akan mereka lakukan. Gong Jun mendengarkannya dengan seksama setiap kali Zhang Zhehan mulai berdialog dengan sutradara. Berdalih ingin diskusi secara pribadi tentang pekerjaan di luar Shan He Ling, Gong Jun memberanikan diri datang ke RV-nya. Saat itu dia benar-benar ingin bertanya tentang pekerjaan, dan Zhang Zhehan menyambutnya dengan baik. Melihat seniornya ini ternyata sangat bersahabat, Gong Jun pun mulai terbiasa mendatanginya di waktu istirahat syuting. Tapi tentu saja dia tak mau terkesan lancang, meski Zhang Zhehan bilang dia boleh datang kapan saja, dia selalu meminta izin lebih dulu.
Gong Jun masih tenggelam dalam lamunannya sampai dia tersadar karena mendengar pintu RV-nya diketuk. Gong Jun membuka pintu RV-nya dengan agak tegang, dia memaksa dirinya untuk tersenyum senatural mungkin. Zhang Zhehan datang dengan kaos putih dan celana selutut, di telinganya ada headset yang menjuntai, dan tangannya memegang handphone. Dia langsung masuk tanpa melihat ke arah Gong Jun begitu pintu terbuka. Gong Jun memperhatikan setiap gerak-gerik Zhang Zhehan sampai dia duduk, lalu menutup pintu, dan menguncinya.
Sungguh, dia tak bermaksud apa-apa. Hanya jaga-jaga saja.
“Zhang-laoshi, tadi aku baru merebus teh herbal. Ini merek baru, aku belum pernah coba, sih. Semoga saja enak,” Gong Jun menyodorkan gelas berisi teh hangat dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang teko kecil.
Zhang Zhehan menyeruput tehnya tanpa melihat ke arah Gong Jun dan masih fokus pada handphone-nya. Gong Jun menarik kursi dan duduk tepat berhadapan dengan seniornya yang sejak tadi tak bertatapan dengannya sedikitpun. Perasaannya agak sedikit tak enak.
Gong Jun jadi bingung harus mulai dari mana, dia gugup karena Zhang-laoshi sejak tadi masih tak memberinya perhatian. Cukup lama mereka terdiam, Gong Jun hanya memperhatikan Zhang Zhehan yang belum juga habis menyeruput tehnya, mungkin karena terlalu panas. Dia menyesal kenapa tidak didinginkan sedikit supaya bisa cepat diminum.
“Tehnya enak juga. Nanti aku minta sedikit, boleh?” Akhirnya Zhang Zhehan memecah kecanggungan di antara mereka. Wajah Gong Jun berubah menjadi lebih cerah, dia langsung bangkit, mengambil plastik kecil dan memasukkan beberapa kantong teh, lalu kembali ke kursinya.
“Ini, sudah kubungkuskan. Nanti kalau kurang bilang saja, aku masih punya banyak stok,”
“Heh, aku nggak minta sekarang, nanti saja pas aku mau balik ke tempatku. Sigap sekali langsung disiapkan begitu…” Zhang Zhehan tertawa kecil.
Gong Jun tersipu malu. Setelah dia merasa suasana sudah mulai mencair, Gong Jun membalikkan badan, mengambil tasnya lalu mengeluarkan sesuatu. Ternyata itu naskah drama. Zhang Zhehan sudah melepas headset dan menaruh handphone-nya di meja kecil sampingnya, dia melihat naskah yang dipegang Gong Jun.
“Ini… aku dapat tawaran proyek baru…”
“Wah!! Mantap! Habis syuting ini selesai berarti langsung ada kerjaan menanti, dong! Syukurlah kalau begitu!” Zhang Zhehan menepuk-nepuk lengan Gong Jun dengan antusias.
Gong Jun semakin tersipu, terlebih lagi mengingat permintaan yang akan dia katakan setelah ini.
“Drama ini… saat kubaca naskahnya sampai habis, temanya heavy romance, jadi akan banyak adegan mesra antara aku dan female lead… Sebelum ini aku pernah cerita denganmu ‘kan kalau aku…”
“Sering dikritik gara-gara adegan ciumanmu yang kaku itu?” Zhang Zhehan langsung masuk ke inti permasalahan tanpa basa-basi.
Gong Jun tersenyum canggung, hatinya berdebar keras antara malu dan perasaan lainnya, “Uhm, jangan terlalu keras menyebut soal itu, ya…”
Zhang Zhehan tertawa, “Jangan malu-malu sama aku, aku paham kok rasanya. Aku sendiri juga pernah mengalami kritikan serupa, semuanya ada proses, trial and error, pasti ada kegagalan di tengah proses itu. Berusahalah tetap positif dan banyak belajar,” ujarnya sambil menepuk Gong Jun lagi, kali ini di paha.
Mendapat banyak skinship begitu, Gong Jun agak menegang. Dia masih maju mundur untuk mengungkapkan tujuan utamanya kali ini.
Dia tahu Zhang Zhehan tipe yang cukup open-minded, tapi apakah seniornya ini cukup toleran untuk menerima permintaannya?
“Jadi,” Zhang Zhehan seperti tahu Gong Jun sedang ragu-ragu, “Hari ini kau butuh saran apa dariku? Apakah terkait adegan romantis?”
Mata Gong Jun membesar, sementara Zhang Zhehan menyipitkan matanya sambil nyengir lebar. Oh sepertinya tebakanku tepat.
“Tapi… jangan ketawa, ya…” Gong Jun berujar pelan.
“Gimana mau ketawa, dengar apapun saja belum,” Zhang Zhehan mendengus geli.
“Zhang-laoshi,”
“Hm?”
“Bisakah kau mengajariku cara ciuman?”
Raut jenaka di wajah Zhang Zhehan menghilang. Dia melihat Gong Jun dengan tatapan tak terdefinisikan. Gong Jun mengerahkan seluruh keberaniannya untuk membalas tatapan orang di hadapannya ini. Lalu dia buru-buru menambahkan, “A-aku tahu permintaanku ini sangat absurd dan membuatmu nggak nyaman, tapi aku cuma berani bilang seperti ini padamu, karena… kau selalu baik padaku dan mengajariku macam-macam selama ini, jadi… ah, maaf kalau aku terkesan sangat lancang, lupakan saja Dage, tolong jangan diambil hati…”
Gong Jun yang tadinya berusaha keras menatap mata Zhang Zhehan, ternyata tak kuasa menahannya dan akhirnya dia menyelesaikan kalimatnya sambil mengalihkan pandangan ke bawah.
Zhang Zhehan yang sejak tadi masih terdiam, tiba-tiba menepuk lengan Gong Jun lalu bangkit berdiri, “Heh, aku belum bilang apa-apa, kau sudah berasumsi macam-macam,”
Kepala Gong Jun perlahan mendongak ke atas, menatap Zhang Zhehan yang kini berdiri di depannya dengan tatapan tak percaya tapi masih menyisakan selenting harapan.
“Boleh saja, aku akan coba beritahu sebisaku,”
Jantung Gong Jun serasa mau meledak.
