Work Text:
Bel pulang berbunyi nyaring, disambut sorak sorai siswa dan siswi, tetapi mereka langsung mendesah sebal karena tetes demi tetes air hujan turun membasahi lapang basket mereka, semakin lama semakin deras.
Namun remaja tetaplah remaja yang tidak takut menerjang hujan lebat. Mereka justru tampak bahagia, mendekap tas ransel, dengan sepatu ditengteng. Tapi— banyak juga yang memilih menunggu reda, menunggu di kelas sembari berbincang, atau makan, bahkan yang rajin memilih untuk membaca ulang materi.
Salah satu dari mereka tampak memandang ke luar jendela, dengan tangan bermain dikacanya. Menggambar seekor kucing, lalu tersenyum kecil. Di pojok ruang kelas yang sama, ada satu siswa yang memandang dengan senyum terukir juga. Dia hanya menatap setiap gerak-geriknya. Tapi saat si dia yang ditatap menengok, anak laki-laki bongsor tersebut langsung bepura-pura tidur.
Perlahan ia membuka matanya, dan terkaget saat siswa yang dipandangnya tadi masih memandang. Seolah menjadi aktor yang memenangkan piala Oscar, dia berakting menguap lebar sembari meregangkan otot tangannya ke atas.
Dia masih memandangnya.
Tak lama ada senyuman malu-malu dari si dia. Tangannya saling menaut gugup, lalu bangkit dan berjalan cepat keluar kelas. Sontak dia meraih ranselnya juga, sedikit ceroboh karena buku paket pelajarannya berjatuhan. Mereka berjalan dengan langkah seirama. Menembus lorong kelas yang sepi, berdua saja.
“Mingyuuuu!”
Pemuda yang ranselnya terbuka itu menghela nafas. Lalu membalikan tubuh bongsornya.
“Galak amat sih wajahnya! Gue baik hati nih mau menawarkan diri ngajak lo bareng, gue bawa bebem!” ucap seorang siswa seusianya dengan hidung mancung bak pinokio.
Mingyu— namanya— dia akan senang hati menerima, namun— ada yang jauh lebih prioritas ketimbang nebeng temannya itu.
“Gak dulu ya, Seokmin! Duluan! Besok aja bareng! Motor gue masih dijabel ibun soalnya!” Mingyu menepuk bahunya lalu pergi dengan tergesa-gesa.
“Serius? Hey! Mingyu tumben ujan nolak ajakan gue!” Seokmin mengejarnya.
Namun langkahnya tak jadi mendekat saat Mingyu berdiri di belakang seorang siswa manis berkacamata kotak. Seokmin langsung tersenyum dan tak jadi menghampiri Mingyu. Pantas. Bintang hatinya sedang terjebak hujan.
“Kapan redanya…” gumam Mingyu. Dia menengok dan hanya memandang sekilas.
Tangannya berusaha menyembunyikan payung lipat yang biasa ia simpan di tas. Beberapa siswa dan siswi lain ikut menunggu hujan reda di depan sekolah. Beberapa menit kemudian, hujan mulai tidak sederas tadi. Satu persatu mereka yang tengah menunggu jemputan atau yang membawa payung pulang.
Mingyu masih diam dibelakangnya. Tidak ada obrolan apa pun. Mereka bisu, namun dalam hati begitu berisik penuh jeritan bahagia layaknya remaja jatuh cinta.
Perlahan sebuah payung lipat terbuka, Mingyu melihatnya berjalan, ada perasaan kecewa karena harus berpisah. Namun baru saja lima detik ia sedih, hatinya kembali berbunga. Si dia membalikan tubuhnya, dan lalu mendekat.
“Mingyu— mau bareng?” ucapnya gugup.
Tangan kurus yang memegang erat payung tersebut tampak bergetar. Entah ia kedinginan atau sedang melawan gugup. Mingyu raih payung tersebut, lalu tanpa ragu merangkul bahunya.
“Ikut yah, Wonwoo. Sampai halte saja, nanti gue pesen grab kok!”
Si dia yang Mingyu tatap itu adalah Wonwoo. Bintang yang selalu bersinar dimatanya.
Minggu depan, sekolah mereka kembali diguyur hujan. Wonwoo menengok ke baris belakang, awalnya ia tersenyum, namun langsung luntur. Mingyu tidak ada ternyata. Setelah membereskan buku paket dan piket terlebih dahulu, Wonwoo pulang. Ia keluarkan payung lipat putihnya. Berjalan pelan menuruni tangga. Membalas sapaan teman-temannya yang masih menunggu reda.
Wonwoo sudah di jemput ayahnya, jadi bisa pulang cepat. Saat dia membuka payungnya, seseorang gesit merebut. Wonwoo hapal wangi orang ini. Senyumannya langsung mengembang.
“Won, nebeng lagi yah?? Abang gue di depan udah jemput!” ucap Mingyu.
Wonwoo dengan senang hati mengangguk dan melirik tangan Mingyu yang merangkul dia. Hatinya bergemuruh bahagia, dan begitu cerah wajah Wonwoo. Bahkan langit mendung pun tak bisa mengalahkannya.
“Mobil ayah aku itu—” Wonwoo menunjuk mobil putih yang terdengar menyalakan klakson.
“Mobil abang kamu— mana?” Wonwoo memandang Mingyu.
Mingyu menunjuk mobil sedan silver yang parkir cukup jauh dari mobil ayah Wonwoo.
“Gue bisa lari! Masuk sana—”
“Ambil saja! Gak papa!”
“Serius?”
“Kan— senin juga kit—kita ketemu….”
Wonwoo di antarkan Mingyu menuju mobilnya, lalu mengangkat tinggi sedikit saat ia masuk. Sekilas sang ayah terdengar bertanya kepada putranya itu.
“Siapa itu?”
“Temen sekelas, Mingyu namanya.”
Mingyu melambaikan tangan dari luar kaca mobil. Wonwoo membalasnya. Lalu mobil itu pergi. Tinggal Mingyu yang terus tersenyum sembari menatap payung itu.
“DEK!?”
Suara abangnya membuat Mingyu kaget. Ternyata mobil sedan silver itu sudah parkir di belakangnya.
“Lo bukannya bawa payung?” si abang heran. Mingyu menaruh payung putih itu hati-hati.
“Bawa sih. Tapi entar gak bisa pdkt!” Mingyu menaruh ranselnya. Si abang menganga kaget.
“IDIH ABG UDAH CINTA-CINTAAN!”
Ternyata hujan menyapa pagi hari senin tersebut. Wonwoo melepaskan sabuk pengamannya, lalu mencium tangan sang ayah. Ia sangat bersemangat untuk sekolah beberapa waktu terakhir.
“Itu teman kamu?” ayahnya menunjuk Mingyu yang berjalan cepat menuju mobilnya. Ia tampak dadah kecil lalu membuka pintu mobil putih itu.
“Pagi! Untung bareng datangnya yah?” sapanya ceria.
Wonwoo padahal sudah membawa payung lain, namun ia kembali taruh di dashboard, membuat ayahnya heran.
“Kak payungnya kenapa disimpan lagi?”
“Aku sama Mingyu saja!”
Wonwoo turun dengan riang, padahal selama perjalanan dia tidak mood karena takut kesiangan. Ayahnya menggeleng pelan, peka jika putranya sedang pubertas, dan mulai tahu perasaan cinta.
“Hati-hati ya om nyetirnya!” Mingyu senyum lebar lalu menutup pintu.
Ayah Wonwoo melihat sulungnya berjalan bersama teman sekelasnya dengan bahu yang dirangkul. Pria itu tertawa pelan saat melihat bahu Mingyu yang kebasahan karena payungnya lebih condong ke putranya.
“Sandara, anak kita sudah besar.” gumam ayah Wonwoo.
Wonwoo mencebik kesal saat menatap langit yang cerah tak ada awan, sinar mentari menghangatkan bumi. Tidak ada air hujan yang selalu ia nantikan.
“Mingyu ayo!”
Wonwoo menoleh saat mendengar nama si dia dipanggil. Mingyu melangkah mendekat, dan tersenyum menyapa. Wonwoo membenarkan letak kacamata, dan senyum juga.
“Belum pulang?” tanyanya. Wonwoo menggeleng.
“Ayah lo gak jemput?”
“Sama bunda, dia masih di jalan— kamu?”
Mingyu menunjuk motor Seokmin yang sudah nangkring di depannya. Wonwoo mengangguk pelan dan hatinya kecewa.
“Duluan yah?” Mingyu menepuk bahunya.
“Okay….” Wonwoo bergumam pelan.
“Dadah Wonwoo!” Seokmin melambaikan tangan saat motornya dibawa Mingyu mulai berjalan.
Wonwoo menutup pintu mobilnya sedikit keras. Sang bunda menatap heran, lalu ia menjalankan mobil.
“Kenapa kak?”
“Kok gak hujan ya bun, kan kita masih musim hujan.”
“Loh… dua hari kita diguyur hujan terus, mau kebanjiran kamu?”
Wonwoo menatap lalu lalang kendaraan dengan wajah cemberut. Mobil bundanya berhenti saat lampu merah menyala. Beberapa kendaraan lain ikut berhenti. Wonwoo yang masih sebal hanya menangkup pipi dan menutup mata.
Entah setengah sadar atau— memang ada Mingyu di depan mobilnya. Tapi ia sendirian. Mobil bunda Wonwoo berjalan lagi, Wonwoo duduk tegak dan senyuman mengembang saat yakin jika itu Mingyu. Ranselnya, motor Seokmin, helm juga.
“Wonwoo?”
“Huh?”
“Kamu lihat siapa? Kok girang gitu?”
“Enggak!”
Wonwoo dan bundanya sampai di rumah mereka. Saat menaiki tangga menuju teras, telinga Wonwoo menangkap deru knalpot cukup bising. Bundanya menatap ke arah pemuda dengan helm full face, turun dari motor trail.
“Maaf, Wonwoo—”
“Kenapa Mingyu?”
Bundanya kaget karena si sulung keluarganya sudah berdiri di depannya lagi. Mingyu membuka helm, lalu senyum.
“Buku paket ketinggalan, nih!” Mingyu memberikan buku paket matematika itu.
“Ohh— makasih!”
“Kak gak mau kenalkan ke bunda dulu temannya?”
Wonwoo mundur dan Mingyu mencium tangan bunda Wonwoo yang senyum manis.
“Mingyu, tante, teman sekelas Wonwoo!”
“Mampir dulu saja yuk, kita makan siang bareng!”
“Ehh— gak papa, mau pulang—”
“Ayo Gyu! Bunda masak sop iga!”
Wonwoo menarik Mingyu masuk, dan tak bisa menolak lagi. Tangan Wonwoo menarik jari telunjuk Mingyu begitu gemas, mengajaknya untuk duduk di meja makan.
“Sebentar ya, aku ganti baju dulu!” Wonwoo dengan langkah lebar menaiki tangga menuju lantai dua.
Mingyu menggaruk tengkuk, dan senyum canggung saat melihat kepala keluarga rumah itu muncul. Ayah Wonwoo, hari ini WFH, jadi— Mingyu apes.
“Kamu ojek payung Wonwoo?” sapanya. Mingyu senyum malu.
“Ehh— jadi kamu anaknya? Pantas Wonwoo badmood karena gak hujan!”
Mingyu salah tingkah. Tak tahu jika kedua orang tua Wonwoo memerhatikan hubungannya dengan putra mereka.
“Kami cuma teman….” Mingyu gugup, dia langsung minum.
“Berteman dulu saja, kalian masih anak sekolah nanti lagi pacar—” ucapan ayah Wonwoo terpotong oleh sang istri.
“Hush! Jangan gitu juga. Kamu kalau mau pacaran sama si kakak tembak saja— anaknya pemalu gak akan berani—”
Wonwoo duduk langsung di samping Mingyu. Bajunya terlalu rapih untuk anak rumahan seperti Wonwoo. Ayahnya menilik penampilan putra sulung yang masih ABG tersebut. Memang sudah jelas semuanya, mereka sedang jatuh cinta.
“Mau main kalian?” tanya bunda Wonwoo.
“Ohh— tadi rencananya memang ngantar buku Wonwoo—”
Padahal niat Mingyu itu ingin tahu rumah Wonwoo saja. Tapi— dia ternyata melangkahi 10 anak tangga sekaligus.
“Ajak main aja dia, di rumah terus mainnya sama konsol gim saja.” ujar ayah Wonwoo.
“Enggak juga! Aku les jam tiga!” seru Wonwoo.
“Berarti di antar saja nanti ke tempat les sama Mingyu?” Bundanya menaruh nasi di atas piring mereka.
Mingyu melirik Wonwoo yang ternyata melirik juga. Ternyata saat di rumah Wonwoo melepaskan kacamatanya. Mata rubah itu terlihat lebih elok tanpa bingkai kotak hitam tersebut.
“Boleh, ayo aku antar ya Wonwoo.”
“Tiap hari juga boleh di antar saja, dia gak bisa bawa kendaraan—”
“Bun!!! Kan bunda yang larang aku belajar bawa motor atau mobil!”
Bunda Wonwoo tertawa, dan Mingyu hanya senyum menggoda kepadanya. Setelah itu mereka makan bersama dengan tenang.
“Ini aku naik motor kamu?” Wonwoo bingung karena tidak ada stepnya.
“Iyaa— gak ada tempat yah??” Mingyu menengok ke belakang.
“Ayah aku punya motor— mau? Pakai?” Wonwoo menunjuk motor matic hitam milik ayahnya.
Akhirnya mereka tukar motor dulu. Wonwoo bingung mau menaruh tangan di mana, kebiasaan saat di bonceng ayahnya dia akan meluk. Tapi ini Mingyu— dia canggung.
“Pegangan aja, gue gak bau!” teriak Mingyu karena takut suaranya tak terdengar.
“Ohh— ohh okay….”
Wonwoo meremas saku jaket plaka Mingyu. Pipinya memerah bukan karena kepanasan, tapi— Wonwoo suka dengan aroma Mingyu.
Perjalanan ke tempat les Wonwoo terasa lebih cepat dari biasanya. Pemuda manis yang dibonceng Mingyu turun, lalu memberikan helm putihnya.
“Jam berapa pulangnya?” tanya Mingyu. Wonwoo mengedip cepat, lalu menunduk.
“Jam lima….”
“Nanti gue chat ya?”
Wonwoo mengangguk malu-malu. Walau pun mereka satu kelas, Mingyu dan Wonwoo tak pernah bertukar pesan secara pribadi. Mereka hanya saling interaksi di chat grup kelas saja.
“Kamu— mau jemput— aku?” Wonwoo bertanya dengan mata penuh binar.
“Boleh sih kalau lo mau, gue chat kalau otw jemput!” Mingyu mengangguk cepat.
“Nanti pulangnya— aku mau beli dulu mcfloat boleh?”
Berakhir hari itu Wonwoo sampai rumah jam 21.00 malam, tentunya seizin kedua orang tua mereka. Karena Mingyu tiba-tiba beli tiket bioskop, lalu mereka nonton dulu. Selepas itu makan pizza, dan menemani Wonwoo yang mendadak ingin beli buku.
“Sampai jumpa besok?” Wonwoo melambaikan tangan saat Mingyu akan pulang.
“Maaf yaa gue gak bisa jemput kalau berangkat sekolah, soalnya ini juga pake motor Jaehyun hehehe….”
Wonwoo paham, lalu mereka adu tinju, kemudian Mingyu pulang. Setelah selesai mandi dan menyiapkan buku untuk pelajaran besok, Wonwoo tidak tidur. Dia malah sibuk face time dengan Mingyu yang katanya bosan main PS kalah terus.
Bahkan saat bunda Wonwoo mengecek kedua putra apakah sudah tidur, si sulung saja yang masih asyik ketawa dengan iPad digenggamnya.
“Kak, tidur! Jam dua belas besok lagi vcnya!” tegur bunda Wonwoo.
Wonwoo bergegas menutup iPad-nya. Namun kala bunda dia pergi, Wonwoo kembali melanjutkan mendengar ocehan Mingyu. Perdana, malam itu mereka mengobrol hingga jam 03.15 pagi dini hari.
Kedua teman sekelas itu semakin akrab, semakin terlihat menghabiskan waktu bersama. Mingyu akan rela pinjam motor temannya untuk mengantarkan Wonwoo pulang ke rumah, berangkat les, pulang les juga. Sebab, motor dia masih ditahan ibun Mingyu. Akibat dulu pernah nabrak orang sampai kakinya patah karena ugal-ugalan.
Namun satu hari, Wonwoo melihat Mingyu membonceng adik kelas mereka, Seungkwan. Wonwoo cuma tahu namanya karena anak itu cukup punya pamor di sekolah mereka. Keduanya terlihat jauh lebih akrab dari dia dan Mingyu itu sendiri. Bahkan Mingyu tak bilang jika dia harus mengantarkan dulu Seungkwan baru Wonwoo setelah itu.
Wonwoo— cemburu. Namun ia memilih memendam, dan sedikit menjauhi Mingyu.
“Aku gak usah di antar jemput lagi yah, mau sama bunda saja sekarang,” ucap Wonwoo suatu hari saat Mingyu menjemputnya dari les.
“Kenapa??” Mingyu bingung.
“Gak papa, aku udah banyak repotin kamu, makasih Mingyu.”
Mingyu menekuk alis bingung dan heran dengan perubahan sikap Wonwoo. Namun anak itu seperti abai, dan tetap menjemput Wonwoo pulang les. Tetapi— Wonwoo benar malah pulang sama bundanya. Mingyu ditinggal sendirian.
Wonwoo terus menghindar, tak mau lagi berbagi payung kala hujan turun. Mingyu melihat Wonwoo kini membawa jas hujan, dan selalu pulang buru-buru. Apa yang terjadi sebenarnya, Mingyu masih bingung.
“Biasanya kalau gitu ada api cemburu tuh!” ucap Jaehyun.
Mingyu dan dua sahabatnya, Seokmin dan Jaehyun sedang tiduran di atas matras bekas kelas lain olahraga senam lantai.
“Sama siapa? Gue kagak deket lagi sama orang perasaan kecuali dia?” Mingyu merenggut.
“Kalau tanpa sebab gitu biasanya gak secara langsung melakukannya, Gyu!” ucap Seokmin.
“Ohh— jadi gue ngelakuin kesalahan secara tidak sadar?” Mingyu menunjuk dadanya sendiri.
“Mungkin, gue gak tahu isi kepala—”
Chaeyoung datang berlari menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah.
“MINGYU!! WONWOO PINGSAN!!”
Bak tersambar petir, Mingyu bergegas mengenakan sepatu, namun sepatu yang ia pakai itu sebelah kanan punya Seokmin yang kiri punya Jaehyun.
“BEGO SEPATUNYA!!!” Seokmin langsung menyusulnya bersama Jaehyun.
Mingyu melihat Wonwoo kepalanya berdarah karena jatuh pingsan ditangga. Perawat yang berjaga di UKS tengah mengobatinya. Mingyu melihat Wonwoo begitu pucat, apa dia belum makan? Atau telat makan?
“Belum makan kayaknya, nanti kalau bangun kasih obat ini ya dek!” tutur perawat itu. Mingyu mengangguk cepat.
Mingyu usap kepala Wonwoo yang dibalut plester. Lalu dia duduk disamping Wonwoo, dan mengipasinya dengan tangan. Sampai jam pulang pun Wonwoo tak kunjung bangun, dan bundanya sedang diperjalanan untuk menjemput Wonwoo.
Saat tersadar— Wonwoo merasa tangannya memberat, dan— ada Mingyu yang tidur sembari menggenggam tangannya. Wonwoo tidak di UKS lagi, dia sekarang ada di rumah sakit. Ia tak ingat bagaimana cerita bisa sampai disini.
“Won? Wonwoo?” Mingyu yang bangun langsung sumringah menatapnya.
“Kenapa disini? Bukannya tadi UKS yah….” lirih Wonwoo.
“Lo pingsan, dan gak bangun sampai jam tujuh malam, makanya…. lo disini sekarang.”
Wonwoo membulat kaget. Selama itu? Mingyu memberikan ia air minum hangat, dan Wonwoo langsung meminumnya.
“Ayah lo lagi antar bunda ke rumah jemput Chan, adek lo.” Ujar Mingyu.
“Kamu disini— ngapain?” Wonwoo tak berani menatapnya.
“Lo sakit, masa gue malah main sih?”
Wonwoo memilin selimutnya, rona bersemu merah menjalar dipipi dia.
“Aku besok juga pulang, gak papa gak ditemani—”
“Won kalau ada sesuatu yang janggal tentang gue, tanyain saja, jangan menghindar, gue— gue bingung….”
Wonwoo menggeleng pelan, dan masih menghindari tatapan Mingyu.
“Kalau gitu kenapa lo menjauh? Bahkan gak mau gue antar jemput lagi….”
Wonwoo menutup rapat bibirnya. Mingyu menghela nafas, lalu ia kemudian bangkit dan mencium pipi Wonwoo lama. Pemiliknya langsung membeku, tak bisa bergerak.
“Kata ibun kalau gue sakit terus dicium besoknya bisa sembuh langsung!” kata Mingyu polos.
“Gue pulangnya kalau bunda lo udah datang—”
“Gak boleh!”
Mingyu perlahan tersenyum, dan Wonwoo kini menatapnya.
“Kalau bunda— dia suka peluk aku— kalau sakit….” gumam Wonwoo pelan.
Mingyu langsung memeluknya, dan Wonwoo dengan senyuman manis membalasnya. Mereka cukup lama berpelukan, Mingyu mengusap kepala Wonwoo pelan, sementara pemiliknya memejamkan mata karena begitu nyaman.
“Lekas sembuh, Wonwoo, bintangku.” Bisik Mingyu.
Bintangnya mendengar ucapan itu.
Wonwoo dan Mingyu sedang berjalan bersama dengan tiang infus yang didorong Mingyu. Tadi Wonwoo diminta untuk tes lab dan enggak mau kalau naik kursi roda.
“Mingyu sama Seungkwan kenal dekat yah?” celetuk Wonwoo.
Mingyu mengangguk lalu menatap Wonwoo.
“Iya, tetangga gue Won.”
“Ohh…..”
Mingyu langsung ngeh. Apa ini alasan Wonwoo menjauhinya? Karena beberapa hari ini Seungkwan selalu minta di antar karena pacarnya sedang pulang ke Amerika.
“Dia pacarnya di Amerika sementara, jadi kalau ada apa-apa minta tolong ke gue, emang dia gitu, ada butuhnya saja.”
Wonwoo diam-diam tersenyum, Mingyu pun tersenyum juga. Selesai sudah perkara Wonwoo yang tiba-tiba menghindarinya.
Besoknya setelah hasil lab keluar, Wonwoo diizinkan pulang. Mingyu bahkan bolos sekolah demi menjemput Wonwoo, padahal ada bundanya. Tapi ya— remaja. Ingin selalu sigap dalam semua kondisi.
“Won gue minta Lisa buat bikin rangkuman materi selama lo sakit, gue juga buat tapi kayaknya gak lengkap.”
Mingyu memberikan sebuah buku kepada Wonwoo.
“Padahal gak papa, aku bisa buat sendiri….” Wonwoo senang walau agak tidak enak.
“Nanti saja tapi ya belajarnya. Sekarang istirahat!”
Mingyu membantu Wonwoo untuk merebahkan tubuhnya. Namun— teman sekelas mereka menyusul ke rumah Wonwoo.
“Wonwoo kita bawa parsel buah premium!” seru Soonyoung.
“Lihat melon kotaaakkk!” tunjuk Junhui.
“Wonwoonya mau tidur sih—”
Wonwoo malah tertawa melihat Mingyu yang meminta mereka untuk tidak berisik. Jadi hari itu, rumah Wonwoo ramai. Mingyu senang melihat si bintang hatinya tertawa lagi, walau seperti masih lemas dan cukup pucat.
“Gue pulang yah?” Mingyu pamit dan Wonwoo hanya melambaikan tangan dari teras rumah.
“Hati-hati, mau hujan!” ucapnya sedikit serak.
Mingyu tiba-tiba kembali lagi, lalu mencium pipi Wonwoo lama sekali.
“Biar gak lemes.” Godanya. Wonwoo kaget dan tak bisa bergerak sepersekian detik.
Tapi— tak lama ia menggigit bibir bawahnya, lalu mengusap bekas kecupan itu. Bukannya tambah segar, Wonwoo malah merasa lutut dia lemas setelah dicium Mingyu.
Kedekatan Wonwoo dan Mingyu semakin menunjukan ke mana arah hubungan mereka. Mungkin hampir satu bulan dari pertama kali mereka mulai dekat. Keduanya tak ragu menunjukan kedekatan di depan teman-teman sekelas. Mingyu bahkan memaksa Yerin untuk pindah tempat duduk, karena ingin sebangku dengan Wonwoo di depan.
“Guu! Bangun!” Wonwoo mengguncangkan lengan Mingyu.
“Walau jamkos, bobo di kelas itu gak boleh—”
Wonwoo terpaku melihat Mingyu menatapnya dengan mata setengah mengantuk. Keramaian kelas yang tengah heboh karena menonton film horor bersama perlahan menghilang dari pendengaran Wonwoo. Fokusnya hanya kepada manik elang Mingyu.
“Aku ganggu?” Wonwoo gugup.
“Usapin kepala dong.” Mingyu memejamkan matanya lagi.
Wonwoo nurut. Ia usap surai legam yang lebat milik Mingyu. Pemiliknya mendengkur pelan dan bernafas teratur. Bahkan disaat yang lain menjerit karena terkena jumpscare, Mingyu dan Wonwoo tetap di dunia keduanya.
“Mingyu… aku suka kamu…”
Pulang sekolah, Wonwoo menunggu Mingyu yang pergi ke toilet dulu. Dia membalas sapaan teman-temannya yang pulang lebih dulu. Tak lama Mingyu keluar dengan rambut setengah basah. Dia barangkali sudah cuci muka.
“Lama?” Mingyu meraih jemari Wonwoo untuk bertaut dengan miliknya.
“Kamu cuci muka yah? Rambutnya basah sedikit!”
Wonwoo merapihkan rambut Mingyu sambil keduanya berjalan menuju parkiran sekolah.
“Pakai helmnya.”
Wonwoo mengenakan helm ungu yang Mingyu belikan khusus untuknya.
“Mau langsung pulang apa jajan dulu?” tanya Mingyu.
“Pulang saja, di rumah gak ada siapa-siapa, bunda nemenin ayah dinas luar seminggu, Chan study tour tiga hari!” jawab Wonwoo.
“Jadi aku aja yang ke rumah gitu?” Mingyu menggodanya.
“Aku gak…. minta….” Wonwoo mencubit pinggang Mingyu pelan.
Tanpa menunggu persetujuan Wonwoo, Mingyu benar bermain di rumah calon pacarnya tersebut. Sebenarnya udah dari lama Mingyu ingin menyatakan persaannya tapi— waktunya tidak tepat terus.
Mungkin sekarang adalah waktunya.
“Kamu sama Chan beda berapa tahun?” Mingyu bertanya sambil melihat foto album keluarga Wonwoo.
“Tiga?? Dia kelas 8 aku kelas 11!” jawabnya.
“Senang gak punya adek?” Mingyu bertanya lagi sambil tersenyum melihat foto Wonwoo merangkul Chan yang nangis.
“Banyak kesalnya. Tapi kalau dia jauh dari aku, aku kangen….”
Berarti perasaan abangnya Mingyu pun sama. Saat dia jauh bawel nyuruh pulang pas di rumah diajak berantem terus.
“Mingyu ada adek juga?” Wonwoo duduk didepannya.
“Aku bungsu, kakak aku satu.” Mingyu senyum kecil lalu menaruh album foto itu.
Wonwoo gugup saat wajah Mingyu perlahan mendekat, bahkan nafasnya terasa menerpa, begitu hangat. Tangan Mingyu mengusap pipi Wonwoo lembut semakin menambah jelas rona merahnya.
“Boleh aku cium kamu?” bisiknya.
Wonwoo susah menelan ludah. Ia merasa tubuhnya memanas, dan bingung antara takut juga gugup yang kini ia rasakan.
“Min—gyu aku—” Wonwoo menggeleng.
“Okay, maaf….” Mingyu perlahan menjauh.
Lalu mereka canggung, Mingyu duduk diatas karpet kamar Wonwoo dan hanya memandang ke segala arah. Wonwoo meremat jemarinya yang tremor dan sesekali mencuri pandang Mingyu.
"Mingyu mau eskrim? Semalam aku buat eskrim vanilla..." Wonwoo bermaksud mencairkan suasana.
"Boleh— enak tuh kayaknya." Mingyu mengangguk canggung.
Wonwoo turun menuju dapur, lalu mengambil wada persegi sedang berisi eskrim vanilla buatannya. Mereka memakannya dalam keadaan hening, hanya ada suara dari dr. Strange dan Wanda dari smart tv. Mingyu fokus menonton, Wonwoo terus memandanginya. Sebenarnya Mingyu sadar, tapi ia malu untuk melirik Wonwoo walau sedikipun.
"Pulang yah? Nanti aku chat kalau sampai rumah." Mingyu mengenakan jaketnya. Wonwoo hanya mengangguk pelan.
"Hati-hati..." Wonwoo senyum tipis.
Saat akan mengenakan helm, Mingyu ditahan Wonwoo. Hanya terasa sekilas, tapi itu membuat jantung Mingyu seperti pecah, karena bibir Wonwoo mendarat dibibirnya.
"Sampai jumpa besok."
Wonwoo menutup pagarnya dengan buru-buru, lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Mingyu diam beberapa menit karena masih mencerna situasi. Dia dicium. Dia dicium Wonwoo.
Walau semalam keinginan Mingyu tercapai, yakni mencium Wonwoo, tapi— mereka masih saja canggung. Mingyu banyak diam, sementara Wonwoo selalu berusaha membuat semuanya kembali normal. Tapi efek kecupan kilas Wonwoo di malam kemarin itu, masih cukup mengguncang Mingyu.
"Mingyu aku salah ya semalam?" Wonwoo menatap sendu. Mingyu langsung salah tingkah.
"Huh— agak kaget saja." Mingyu menggaruk pelipisnya.
"Maaf ya... aku gak maksud—"
Mingyu menggeleng cepat. Di kelas hanya ada mereka karena yang lain sudah pergi ke lab komputer. Wonwoo bermaksud menyusul ke lab juga, namun ditahan.
"Won— aku suka kamu."
Wonwoo tersenyum, semakin lama semakin cerah bahkan mata rubahnya ikut tersenyum. Mingyu langsung merasakan ledakan kembang api dikepalanya, dan semakin keras suara kembang apinya kala Wonwoo mengangguk dan berkata:
"Aku juga— aku suka Mingyu."
"PACARAN TEROS!!! JAM PELAJARAN INI!!! AYO KE LABKOM!!!" Teriak KM kelas mereka, Doyoung.
Mingyu dan Wonwoo saling merangkul lalu mereka pergi ke lab dan ditemani ceramah Doyoung sepanjang lorong.
Semenjak hari itu— semenjak mereka saling mengetahui perasaan satu sama lain, Wonwoo dan Mingyu resmi bersama sebagai pasangan. Singkatnya mereka berpacaran. Informasi ini membuat teman sekelas heboh, namun ada juga yang udah menebak mereka berpacaran. Jadi ketika Mingyu tak masuk jam pelajar, Wonwoo akan menjadi sasaran.
'Won, di mana cowok lo? Pinjem buku gue gak dibalikin!'
'Won!!! Charger gue katanya sama lo ya?? Makasiii udah bawain!'
'Wonwoo! Mingyu belum bayar kas udah mau dua bulan tagih dong!'
Walau awalnya Wonwoo risih, tapi lama-lama ia terbiasa juga. Toh— dia senang karena di akui semua orang bahwa dirinya adalah pacar Mingyu. Semua siswa dan siswi satu sekolah tahu, dia pacar Mingyu. Wonwoo bangga.
Dan waktu terus berputar, hubungan mereka layaknya pasangan lain, adakalanya bertengkar karena kurang komunikasi, namun selalu berakhir Mingyu yang minta maaf duluan mau siapapun yang salah. Wonwoo sudah Mingyu kenalkan ke ibun dan papapnya, juga abang dia. Hubungan mereka disambut baik, karena Wonwoo yang begitu baik dan tipe ibun Mingyu katanya.
Wonwoo sabar menunggu Mingyu yang terlambat datang di hari kelulusan mereka. Bahkan baju togannya ada pada Wonwoo karena Mingyu takut lupa. Acara di mulai beberapa saat lagi, tapi Mingyu tak kunjung datang. Wonwoo habis kesabarannya, ia memilih masuk ke dalam auditorium sekolah, dan malas dengan kelakuan lelet Mingyu.
"YAAANGGG!!!"
Baru saja Wonwoo mendengus sebal, Mingyu datang dengan dasi yang belum disimpul, jas hitamnya tampak kusut karena digenggam bukan dipakai.
"Bisa-bisanya mau telat pas acara kelulusan itu apa maksud—"
"Bawel."
Mingyu merapihkan rambutnya sementara Wonwoo memasangkan dasi, dan memberikan toga Mingyu,
"Ganteng?" Mingyu senyum sok ganteng.
"Buat apa kalau tukang telat." Wonwoo melengos pergi. Padahal dalam hati beteriak karena— Mingyu selalu tampan dimatanya.
"Eyyy— salting!"
Mingyu menyusul, Wonwoo duduk dibarisan depan karena masuk jajaran siswa berprestasi, sementara Mingyu ketiga dari depan, karena masuk ranking sepuluh besar di kelasnya. Acara dimulai, dan berlangsung lancar sesuai rundown. Saat Wonwoo maju untuk berpidato sebagai perwakilan angkatan, Mingyu membusungkan dada, sombong, pamer jika yang tengah berbicara diatas podium itu adalah kekasihnya.
"Pacar gue!" Mingyu menepuk bahu Jaehyun.
"Satu jagat raya juga tahu!" Jaehyun memutar matanya malas.
"Gue bantu dia nulis pidatonya loh!" ucap Mingyu sombong.
"Nulis doang.... laganya," dengus Lisa.
"Biarin, yang penting cowok gue keren!!"
Tepuk tangan Mingyu yang paling kencang saat Wonwoo selesai berpidato. Lalu mereka berfoto bersama, dan acara kelulusan selesai. Wonwoo berlari menghambur memeluk orang tua dan adiknya, Mingyu pun sama. Lalu mereka bertukar pelukan, Mingyu memeluk bunda Wonwoo, Wonwoo mencium tangan ibun Mingyu. Lalu dilanjut sesi berfoto bersama keluarga, bahkan dua keluarga itu berfoto bersama juga. Soal restu, Wonwoo dan Mingyu sudah mendapatkannya, tinggal menunggu waktu yang tepat.
"Mau S2 dulu, apa nikah abis wisuda?"
Wonwoo tersedak minumannya saat Mingyu enteng bertanya seperti itu.
"Mingyu kita baru lulus SMA loh...." gumam Wonwoo.
"Ya gak papa— namanya juga rencana, kita harus punya." Mingyu menyantap ayam bakarnya sedikit belepotan.
Keluarga Mingyu memutuskan mampir ke rumah keluarga Wonwoo untuk makan bersama. Para orang tua sibuk berbincang di teras, Chan sedang diajak main PS oleh abang Mingyu. Sementara si pemeran utama sedang makan di dapur.
"Aku takut rencananya gagal..." Wonwoo membereskan bekas makannya, lalu ia cuci piring. Mingyu diam.
"Kita beda kampus, beda kota juga.... kamu gak takut... kita putus nanti?" Ucap Wonwoo.
Mingyu menghampirinya, lalu cuci tangan dan membantu Wonwoo menyelesaikan cuci piring kotor bekas mereka.
"Kalau hati kamu yakinnya sama aku, mau jarak 200 km memisahkan kita harusnya gak takut sih." Mingyu mengelap tangannya.
"Tapi— memang hati manusia bisa Tuhan bolak-balik sebagaimana dia mau, namun selama aku mampu jaga untuk kamu, aku akan tetap yakin sama kamu, Wonwoo."
Wonwoo tersentuh, dia menatap Mingyu dengan binar begitu jelas dan kerlap-kerlipnya selalu membuat Mingyu betah memandang.
"Kalau kamu gimana? Mau tetap yakin sama aku?" tanya Mingyu. Wonwoo mengangguk cepat ia sedikit menangis.
"Maaf— jelek banget ya pikiranku?" Wonwoo menghapusnya langsung.
"Gak papa— itu wajar. Asal kamu lebih banyak berpikir positif pada hubungan kita sekarang dan kedepannya. Kalau kamu yakin untuk menjaga hati kamu buat aku— kurasa kita bisa menjalaninya sampai kapanpun."
Wonwoo memeluk Mingyu, dia sangat, sangat sayang kepada kekasihnya itu. Juga sebaliknya. Mingyu sayang Wonwoo, selamanya bintang hati dia itu Wonwoo.
"Kita bisa untuk terus bersama,kan?" Mingyu menatap Wonwoo penuh puja.
"Hmm! Tentu, kita bisa, karena aku juga yakin sama kamu, Mingyu sayang." Wonwoo mencuri satu kecupan dibibir bawah Mingyu.
Mingyu melihat keadaan sekitar, dapur sunyi karena yang lain di halaman belakang dan ruang keluarga. Lalu ia mencium kening Wonwoo, pipinya, kemudian mereka berciuman manis. Tak lama hanya beberapa detik, dengan gelitikan kupu-kupu diperut mereka. Mingyu dan Wonwoo tertawa pelan, dan lagi menyatukan bibirnya.
"Kalau waktu itu aku gak nawarin kamu satu payung, kita gimana yah?"
"Tetap pacaran sih. Soalnya aku juga udah niat nyusul kamu pura-pura nebeng sampai halte!"
"Ohh udah ada rencana??"
"Iyalah— sudah ada skenario dikepala aku!"
"Mingyuuuuu!! Jangan gombal!"
"Mana kata-kata aku yang gombal, Wonwoo!"
Fin.
