Actions

Work Header

Its cold here, comeback and hug me

Summary:

Dia membisik pada diri bahwa semua akan kembali sebagaimana dia yakini.

Atau

Pete menghitung denting pada hening menunggu Vegas untuk kembali dalam rengkuhnya.

Work Text:

Berbisik pada diri, Pete berharap bahwa semua kabut yang melintas di kepalanya hanyalah ilusi semata. Mungkin itu muncul sebagai akibat dari rasa khawatir yang berlebih.

Bukankah segala hal muncul dengan sebab dan akibat.

Keputusannya bukan sebuah ucap yang muncul tanpa sebuah sebab. Dia memutuskan untuk hengkang karena Pete memiliki hati yang ingin dia ikuti.

Pun keputusannya bukanlah tindak tanpa akibat. Ada hal yang harus dikorbankan sebagai ganti dari pengabdian yang telah lama dia lakukan.

Namun tak pernah sedikitpun terlintas dalam bayang bahwa akibat yang harus dia hadapi adalah hal semenakutkan ini.

Masih terdengar jelas bising tiga peluru melintas yang langsung hinggap pada raga Vegas. Dengingnya bahkan masih tersisa hingga dua jam kemudian saat dia terduduk pada koridor rumah sakit.

Pete berusaha tak terlalu memikirkan banyak hal. Dia hanya ingin membawa pergi raga Vegas untuk segera memperoleh petolongan.

"Pergi dari sini. Lari. Tolong,"

Dia tak ingat suara siapa itu. Apa itu dirinya sendiri yang berbisik atau orang lain yang menyuruhnya untuk segera bergerak dalam kalut.

Ingatannya kabur soal bagaimana akhirnya dia bisa membawa Vegas untuk segera memperoleh pertolongan. Yang Pete ingat hanya mobil, setir, tangis, dan Vegas yang diam dalam beku.

Jadi saat kekacauan tak lagi mendekapnya seiring raga Vegas yang dibawa ke ruang tindakan, Pete mulai bisa memilah-milah kusut dalam benaknya.

Tentu saja Vegas menjadi satu yang paling mendominasi kusutnya. Hanya saja tak ada hal yang bisa dia lakukan selain menunggu. Singkirkan terlebih dahulu, mari coba urai kusut lain.

Perkara hengkangnya dia dari posisi bodyguard Main Family. Pete tak lagi memiliki pekerjaan apapun. Statusnya saat ini tak jelas. Setelah ini, dia tak tahu apa hal yang harus dia lakukan untuk menghabiskan waktu. Keputusannya didasari pada pemikiran bahwa apabila dia masih menjadi bagian dari Main Family, memiliki hubungan dengan Vegas merupakan kemustahilan.

Pete tak ingin hal itu terjadi. Perasaannya terlalu membuncah untuk terkurung dalam batasan. Dia ingin menyayangi Vegas dengan bebas.

Mungkin nanti, setelah keadaan Vegas telah jelas, Pete bisa memulai dengan mencari hunian baru untuk dirinya sendiri. Setelah itu mungkin dia akan memulai hal yang tak sempat dia lakukan sebelum-sebelumnya. Membangun sebuah kedai kopi atau teh terdengar tak begitu buruk.

Mungkin hubungannya dengan Vegas juga bisa dia mulai dengan hal biasa yang sederhana. Perlahan saling mengenal detail-detail kecil mengenai diri. Mungkin dia juga bisa mengizinkan Vegas untuk berkunjung dan menginap pada huniannya. Atau Pete juga tak keberatan untuk menghabiskan waktu dimanapun nanti Vegas memutuskan untuk tinggal.

Pete tertegun saat menyadari bahwa masih ada satu yang abai dari kusutnya.

Satu kusut baru muncul.

Vegas tak hanya tinggal berdua dengan ayahnya, yang saat ini tentu telah lebih dari kaku. Vegas masih memiliki satu sosok yang jadi bagian keluarga. Macau. Yang luput dari perhatian orang-orang.

Satu pukulan seakan mampir di kepala Pete begitu menyadari bahwa anak kedua dari Minor Family mungkin saja tak menyadari bahwa ayahnya telah tiada dan kakaknya tengah diambang derita.

Sekarang bagaimana cara mengabarinya?

Saat Pete tengah berpikir dengan kepala yang tenggelam seakan ingin menyatu dengan lutut, seseorang menarik kerah bajunya. Kejadian begitu cepat hingga Pete tak siap. Satu pukulan, kali ini nyata, mampir ke pipi kirinya. Tak begitu kuat tapi mampi membuat Pete yang masih dihinggapi kelelahan, limbung.

Pete bukan satu-satunya yang limbung. Pelaku pemukulan pun sedikit terhuyung. Dua langkah mundur dan pelaku itu kembali berdiri teguh.

"Bisa kau pergi dari sini?"

Ada getar pada suaranya. Meski Pete tahu, pemuda dihadapannya itu tengah mencoba untuk tampil semengintimidasi kakaknya. Dan tampaknya dia berhasil, bila menyingkirkan ketakutan pada pupilnya.

"Tuan Macau,"

Pete masih tahu diri untuk membungkukkan badan. Memberi hormat pada adik dari pria yang dia sayangi.

"Kau tuli?"

Pete menggeleng. Memikirkan sebaris kalimat yang mungkin saja bisa meredam sedikit amarah Macau.

"Saya bukan lagi bagian dari Main Family apabila itu yang Tuan khawatirkan,"

"Lalu kau pikir aku percaya?"

Macau mendecih. Masih sangsi mengenai keberadaan Pete yang menurutnya ganjal.

"Saya tidak memaksa Tuan untuk percaya. Tapi saya disini atas kemauan saya, saya hadir sebagai diri saya. Sebagai Pete yang bukan bagian dari mana pun. Saya hanya ingin mengantar Vegas dan memastikan keadaannya baik-baik saja,"

Macau menatap sosok dihadapannya yang masih menunduk dengan dua tangan saling menggenggam. Posisi sebagaimana bodyguard menghadapi bagian dari family.

"Memang siapa kau untuk Vegas?"

Pete menggigit pipi bagian dalam. Pertanyaan ini terlalu tak terduga. Sebagaimana pun Pete berpikir, jawabannya terlalu sulit untuk ditemukan. Dia tak tahu siapa dia untuk Vegas. A pet? Mungkin iya, tapi itu mustahil untuk diucapkan pada Macau. Vegas pun tak pernah benar-benar menjelaskan label hubungan. Vegas hanya berucap mencintainya, itu pun sebelum lari meninggalkan dia di tengah perkelahian.

Hanya saja ada satu hal yang dia tahu. Bahwa dia pun mencintai Vegas. Pete tak keberatan dilabeli peliharaan. Asalkan Vegas masih bersamanya dan mencintainya. Perasaannya merupakan sesuatu yang nyata, hal yang ingin berbalas, dan berhasil terbalas.

"Saya seseorang yang mencintainya. Yang berharap dia memperoleh kebahagiaan setelah banyak hal dia korbankan,"

"Ayah bukan hal yang layak disebut pengorbanan. Dia layak dihilangkan,"

Untuk pertama kalinya, Pete menatap Macau secara langsung. Remaja itu tak tampak seperti biasanya. Dia tampak lebih kuat, atau mungkin tengah mencoba tampak seperti itu.

"Vegas akan baik-baik saja,"

Pete berbisik, entah untuk dia sendiri atau pada Macau.

"Dia harus. Dia tak akan cukup berani untuk meninggalkanku sendiri di dunia ini,"

Lalu Macau berlalu untuk duduk pada bangku koridor dengan jarak yang cukup jauh darinya. Remaja itu masih coba untuk membangun batas dengannya. Tentu saja, Pete masihlah sosok asing yang tak langsung layak masuk dalam lingkar yang Macau miliki.

Oleh karena itu, Pete hanya biarkan. Kembali duduk sambil sesekali melirik pada Macau yang tampak mengadah dan mengusap wajah dengan kedua tangannya.

Pete sendiri sudah cukup bosan dengan gestur itu. Gestur yang sudah dia lakukan puluhan kali pada kesendiriannya beberapa jam tadi.

Sekarang dia kembali pada kusut yang dimilikinya sendiri. Abaikan sekeliling, lagi. Biarkan Macau dengan pikirannya sendiri. Toh remaja itu ditemani dua bodyguard yang tampak mumpuni.

Melirik pada pintu yang masih setia tertutup rapat, Pete berharap bahwa Vegas di dalam sana tahu. Ada dua orang dengan cinta yang membuncah, menunggu Vegas. Bahwa masih ada alasan untuk dia bertahan.

Vegas, cepat kembali. Aku tak tahu harus bagaimana dengan adikmu.