Work Text:
8:16 p.m.
Hoseok mengusap wajah lelah. Dia sudah terjebak di dalam mobilnya hampir satu setengah jam dan apartemennya masih berjarak sekitar 45 menit dari posisinya kini. Mobilnya hanya bergerak lima ratus meter sejak beberapa menit yang lalu dan Hoseok tidak menginginkan apa pun lagi di dunia selain tiba di rumah secepat mungkin dan mencurahkan segala kekesalan yang dirasakannya sepanjang hari ke Namjoon, sang pacar yang sudah bersamanya tiga tahun belakangan.
Ah, omong-omong tentang pria jangkung dengan dua lesung di masing-masing pipi itu, Hoseok ingat mereka memiliki janji menonton hari ini. Kalau bukan karena dia harus menggantikan rekan kerjanya yang tiba-tiba cuti, ditambah hasil presentasinya yang tidak memuaskan karena dia belum sempat menyiapkan apa pun tadi pagi, mungkin sekarang dia dan Namjoon sedang berjalan keluar dari bioskop dengan tangan tertaut dan senyum di wajah masing-masing sambil mencari tempat makan untuk mengisi perut. Mungkin Namjoon akan memilih untuk makan burger sebagai pilihan makanan yang cepat, atau nasi kari yang lebih mengenyangkan.
“Lapar. Mau kari,” gumam Hoseok ke dirinya sendiri. Tadi siang dia hanya sempat makan sedikit dan belum sempat lagi mengunyah apa pun sampai sekarang. Melihat kondisi jalan yang tidak mengizinkannya untuk sampai di rumah lebih cepat, tampaknya Hoseok harus puas dengan beberapa potong roti sisa dengan olesan selai stroberi karena dia tak lagi memiliki tenaga untuk membeli makanan atau memasak sesampainya ia di rumah nanti.
Menghela napas karena dia harus kembali menekan rem setelah maju beberapa meter, Hoseok meraih ponsel yang tadi dia lempar ke kursi penumpang di sebelah. Dia menekan layarnya beberapa kali, tapi benda itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ah, dia lupa kalau ponselnya kehabisan daya. Untuk memperparah Jumatnya, Hoseok lupa membawa charger dan ponselnya hanya memiliki setengah daya saat dia berangkat kerja. Beruntung tadi dia sempat menghubungi Namjoon untuk membatalkan rencana mereka dan memberitahu kondisinya sebelum meninggalkan ponselnya di pojok meja dan tak membaca pesan Namjoon setelahnya.
Hoseok mengerang saat akhirnya dia berhasil memarkirkan mobil di parkiran apartemen dan berterima kasih kepada dirinya sendiri karena tidak memilih untuk meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan naik kendaraan umum. Setelah mematikan mesin mobil, Hoseok menetap di posisinya selama beberapa menit sambil memikirkan pilihan hidupnya bekerja di kota. Mungkin akan lebih baik jika dia berhenti dari pekerjaannya dan menjual mobil serta apartemennya lalu membeli tanah di desa. Dia bisa menjadi petani atau menjadi peternak sapi dan tidak harus terjebak di jalanan kota Seoul setiap hari saat pulang kerja sampai pantatnya terasa kebas sebelum sampai di rumah.
Kruukk.
Hoseok kembali mengerang sambil memegang perutnya yang berbunyi kencang tanda lapar. Dia ingat tidak memiliki apa pun di kulkas selain beberapa butir telur yang dibelinya pekan lalu. Memesan makanan pun tampaknya akan memakan waktu lama karena dia tak lagi memiliki energi untuk menunggu sekitar 30-45 menit sampai kurir makanan datang. Tampaknya dia harus puas hanya dengan sebungkus mie instan dan telur malam ini.
Dengan sisa tenaga yang ada, Hoseok menarik kakinya menuju lift dan langsung menekan tombol angka lantai unit apartemennya. Beberapa penghuni apartemen yang menyapanya hanya dibalas dengan anggukan kecil. Beruntung mereka tidak mengajak Hoseok untuk mengobrol karena Hoseok yakin dia tidak akan membalas dengan ramah seperti biasanya. Dia terus menatap layar kecil yang menampilkan posisi lift itu berada dengan tatapan datar. Dalam hati dia berdoa agar kendaraan itu bergerak sedikit lebih cepat agar dia bisa segera memeluk bantalnya lebih cepat.
Saat akhirnya lift itu berhenti di lantai unitnya di lantai 7, dengan segera Hoseok keluar dan melangkah cepat ke unit dengan nomor pintu 7013 kemudian menekan kode kunci sebelum membuka pintu. Baru dua langkah masuk, Hoseok berhenti. Hidungnya mencium aroma harum masakan dan suara sutil bertemu wajan dari dapur. Malam-malam begini, hanya ada satu nama yang dapat masuk ke apartemennya. “Namjoon?” panggilnya.
“Hm? Di dapur,” jawab pria yang dipanggil Namjoon sedikit berteriak.
Dengan hanya melepaskan sepatu, Hoseok melangkah menuju area dapur dan mendapati Namjoon sedang membilas beberapa buah wajan yang kemudian ditaruhnya di rak pengering. Hoseok melangkah mendekat sambil melihat dapurnya yang sedikit berantakan, bertanya-tanya apa yang sedang Namjoon lakukan di apartemennya sendirian.
“Kamu udah makan?” Namjoon tersenyum lebar saat Hoseok menggeleng. “ Perfect! Makan dulu, yuk! Aku tadi bikin kari. Dijamin rasanya enak soalnya diajarin langsung sama Kak Seokjin!” jelas Namjoon sambil memasukkan dua mangkok nasi instan ke dalam microwave . “Nasi instan gapapa, ya? Aku ga jago masak nasi. Tadi Kak Seokjin keburu matiin telepon.”
Perlahan Hoseok menarik kursi dan duduk di atasnya, memerhatikan Namjoon yang sedang sibuk mengatur microwave . “Kamu masak kari?” tanyanya.
“Iya. Pakai bumbu instan, sih. Kemarin-kemarin Kak Seokjin sempat masak terus enak banget. Kamu katanya lembur, terus pasti ga bakal sempat makan. Jadi aku ngide buat bikin, deh. Untung Kak Seokjin mau ajarin.”
Hoseok mengangguk. Seokjin adalah sepupu Namjoon yang juga Hoseok kenal sebagai temannya di klub tenis. Dari dia lah Hoseok pertama kali bertemu Namjoon dan setelah beberapa kali bertemu, mereka semakin dekat hingga akhirnya berpacaran sampai sekarang.
Tak butuh waktu lama sampai di depan Hoseok terhidang sepiring nasi yang disiram kuah kari berikut dengan beberapa potong katsu ayam. Hoseok menelan ludah. Aroma nasi kari itu sangat menggoda, membuat perutnya semakin lapar.
“ Katsu -nya tadi aku beli yang siap goreng aja. Khawatir kamunya jadi sakit perut kalau aku bikin sendiri,” ujar Namjoon sambil menaruh alat makan di sebelah piring Hoseok. “Cobain, gih.”
Hoseok mengangguk lalu menatap makanan di depannya sambil mengambil sendok. Senyum tipis terbentuk di bibirnya melihat potongan wortel dan kentang yang tidak rata, ada yang kecil dan ada yang besar. Namun dinilai dari aroma, Hoseok yakin rasanya tak kalah jauh dari yang tersedia di restoran. Dia kemudian menyendok bagian nasi yang disiram kuah kari dan memasukkannya ke mulut. Matanya membola menatap Namjoon yang menunggu dengan cemas, dengan jempol terangkat menandakan masakannya enak.
“Beneran?” tanya Namjoon dengan mata berbinar.
Hoseok mengangguk. “Kalah yang biasa kita beli kalau gini, sih,” pujinya.
Namjoon tersenyum puas mendengarnya. Dia kemudian ikut melahap makanannya sambil bercerita tentang harinya kepada Hoseok.
Tak butuh waktu lama sampai Hoseok menghabiskan lebih dari setengah isi piringnya. Dia terus mengunyah sambil mengangguk untuk merespon cerita Namjoon. Sesekali ditatapnya pria yang umurnya hanya berbeda 7 bulan dengannya itu. Matanya selalu berbinar dengan ekspresi yang berubah-ubah sesuai dengan ceritanya. Namjoon itu seperti mesin, sekalinya dia bercerita, dia tidak akan berhenti sekalipun dengan pipi yang terisi penuh oleh makanan.
Cerita Namjoon tentang keanehan rekan kerjanya sebelum dia pulang berhasil membuat Hoseok tertawa untuk pertama kalinya hari ini. Ekspresi Namjoon dan gerakan tangannya yang sengaja terlihat berlebihan membuat Hoseok tertawa lebih kencang. Tawanya tiba-tiba berhenti saat perhatiannya tertuju pada telunjuk kiri Namjoon yang dibungkus oleh plester luka.
“Jari kamu kenapa?” tanya Hoseok meraih tangan kiri Namjoon dan memerhatikannya lekat-lekat.
“Oh, ini. Gapapa. Berdarah sedikit pas motong wortel. I’m fine, though! ” ucap Namjoon memamerkan kehati-hatiannya membalut lukanya sendiri.
“Hati-hati, Sayang,” ujar Hoseok khawatir.
“Iya, Hobi.”
Hoseok tersenyum tipis. ‘Hobi’ adalah panggilan sayang yang ditujukan padanya dan hanya akan Namjoon gunakan saat dia ingin dimanja, atau saat dia merasa bersalah seperti sekarang.
“Kasihan, kamu, sampai luka karena masak buat aku. Kenapa ga delivery aja, deh? Pulang kerja kamu bukannya istirahat, malah belanja dulu terus jadi makin capek masak,” ujar Hoseok.
Namjoon mengangkat bahu. “ Wanna make it special . Kamu kayanya juga capek banget hari ini, ya? Rough day? ”
Hoseok menggigit bibir. Seharian ini dia tidak membalas pesan Namjoon dan hanya mengabari bahwa dia akan lembur dan tidak diikuti dengan cerita singkat tentang betapa menyebalkannya manajer dan rekan kerjanya. Bahkan sejak sampai di apartemen, Hoseok belum sempat membicarakan tentang apa pun dan hanya mendengarkan Namjoon selagi perutnya diisi. Dia tidak yakin tentang apakah isi hatinya yang terlalu mudah untuk dibaca, atau Namjoon adalah orang yang paling mengerti dia bahkan saat tak mengucapkan apa-apa. Hoseok merasa dadanya penuh. Hatinya yang sejak pagi tadi hanya tahu amarah dan kesal, berubah menjadi sejuta rasa sayang yang meluap kepada pria manis yang menunggu jawabannya dari ujung meja.
“Namjoon, kita nikah, yuk?”
Pertanyaan itu sukses membuat Namjoon tersedak ludahnya sendiri.
