Work Text:
Yeonjun mengenang Soobin dalam delapan babak.
I.
Dalam langkah kaki kecil yang melompat riang dan gelak tawa yang menguar pada halaman belakang, Yeonjun menemukan dirinya hampir jatuh menubruk tubuh yang sama kecilnya dengannya.
"Woops!"
Berterimakasih pada refleksnya yang bagus, Yeonjun baru saja menghindari kecelakaan besar yang mungkin akan meninggalkan luka menganga pada kedua tubuh mereka—namun berakhir pada tubuh kecilnya yang ambruk pada rerumputan hijau sembari tanpa sengaja menarik anak lelaki di depannya untuk turut jatuh disampingnya.
"Yeonjun!"
Suara ibunya terdengar lantang dari kejauhan. Yeonjun mengusap hidungnya yang baru saja berciuman langsung dengan tanah. Bibirnya mencebik dengan desisan sakit meluncur pelan.
"Astaga Yang Mulia!"
Yeonjun mengedip pelan mendengar sebutan yang ibunya berikan kepada anak lelaki di sampingnya. Oh tentu saja, masih ada anak laki-laki yang menjadi korban selain dirinya—oke mungkin lebih pantas jika ia disebut sebagai pelaku ketimbang korban.
Tapi tunggu dulu, Yang Mulia?!
Oh Yeonjun pasti akan mati sebentar lagi. Seketika ia memejam takut ketika anak lelaki disampingnya mulai bangkit berdiri. Anak itu pasti akan mengadu ke Duke Choi kemudian ia akan menemukan kepalanya tergantung di gerbang kerajaan esok—
"Kenapa memejam begitu?"
—apa?
Yeonjun membuka matanya takut-takut. Ia mengedip beberapa kali ketika sinar mentari secara langsung jatuh di pelupuk matanya. Ketika awan mulai menutupi surya, barulah ia bisa melihat wajah anak lelaki itu dengan jelas.
'Kelinci?'
Oke, mungkin hal pertama yang ia sadari dari Tuan Muda Choi Duchy bukanlah hal yang sepantasnya. Tapi bagaimana lagi?! Anak laki-laki di depannya benar-benar mengingatkannya akan sesosok kelinci! Terlebih matanya yang bulat bagai kelereng, atau bentuk bibirnya yang menyerupai bibir kelinci, atau pipinya yang tembam kemerahan dan ada sedikit goresan disana.
Oh.
Yeonjun akan mati. Benar-benar akan mati esok hari. Bagaimana mungkin ia melukai calon pewaris keluarga Choi?!
"Yang Mulia! Maafkan saya! Saya sungguh minta maaf!"
"Yang Mulia mohon maafkan anak saya. " Kali ini terdengar suara ibunya yang menimpali kata-katanya. Kedua ibu dan anak itu bersujud dihadapan pewaris keluarga Choi dengan harapan akan sekali saja diberi ampun. Dalam detik-detik hening yang rasanya bisa merebut nyawa Yeonjun kapan saja, gelak tawa anak lelaki di depannya memecah suasana.
Yeonjun sontak menengadahkan kepala melihat bagaimana Tuan Muda Choi itu tertawa hingga matanya berair. Astaga! Apakah kematian Yeonjun merupakan sesuatu yang lucu untuknya? Bocah mengerikan! Yeonjun bergidik seketika. Namun ternyata pemikirannya salah.
"Goresan ini bukan apa-apa, tenang saja! Berdirilah, Julia! Dan kau juga!" Yeonjun mendengar helaan nafas lega dari ibunya. Seketika itu juga mereka berdua kembali pada posisi berdiri dihadapan Tuan Muda Choi.
"Kembalilah duluan, Julia."
"Baik, Yang Mulia."
Yeonjun berharap ibunya tidak pergi meninggalkannya bersama anak yang bisa mengambil nyawanya kapan saja.
"Kau takut padaku?"
Suara lembut Tuan Muda di depannya mengejutkan Yeonjun begitu saja. Ia mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng.
"Tidak, Yang Mulia."
"Ah, bisakah kau tidak terlalu formal padaku? Kita seumuran!"
"Bagaimana mungkin!" Yeonjun membelalak ketika tanpa sadar ia menaikkan nada bicaranya. Kemudian ia berkata lagi dengan nada yang lebih tenang, "Bagaimana mungkin saya bisa melakukannya Yang Mulia?"
Anak lelaki dihadapannya menarik senyum secantik bulan sabit, dengan mata yang menyipit dan rambut kelam yang tertiup angin, ia melontarkan sesuatu yang tak bisa dibantah. "Ini perintah. Kau harus memanggilku Soobin mulai hari ini."
Hari itu, roda takdir mulai berputar.
II.
Musim semi, angin berembus melalui celah jendela yang terbuka. Tirainya yang berwarna putih gading turut menari selaras dengan tiupan angin nakal—kontras dengan bingkai coklat jendela yang kokoh memandang.
"Kau harus mulai mengurangi pasokan dokumen yang kau bawa dan beralih menemaniku saja, Jun."
Deru nafas lelah bertabrakan dengan kekehan kecil dalam ruangan mewah yang merupakan ruang kerja Soobin. Pemuda dengan kemeja putih panjang dipadu dengan vest berwarna hitam serta dasi merah yang menyembul diantara kemeja dan vestnya itu tampak mengerikan dengan kantung mata tebal.
Tuan Muda Choi yang kini telah berumur enam belas membaringkan kepala yang terasa berat dalam lipatan tangan di atas meja. Sedangkan pemuda yang sudah menjadi temannya selama enam tahun hanya mampu melontarkan tawa kecil sebelum merapikan meja kerja Soobin yang bagai kapal pecah.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Sayangnya saya hanya melakukan pekerjaan saya untuk mendapatkan gaji."
Soobin sontak melemparkan tatapan tajam ke arah Yeonjun sembari mendesis keji. "Berhenti memakai panggilan bodoh itu, atau gajimu akan benar-benar lenyap."
Gelak tawa Yeonjun pecah seketika, terdengar lebih keras dibanding kekehan sebelumnya, "Ah! Bagaimana mungkin anda bisa menyalahgunakan wewenang seperti itu?"
Soobin beralih menyenderkan berat tubuhnya pada kursi sembari melipat tangan di depan dada. Senyum dan kerlingan matanya jenaka ketika ia berujar, "Oh? Aku hanya berlaku sesuai sebutanmu padaku. Apa tadi? Ahh, Yang Mulia, kan?"
Pemuda yang memakai kemeja hitam dengan celana bahan senada itu memindahkan tumpukan dokumen ke dalam lemari di sebelah meja. Ia berjalan ke depan Soobin kemudian memberikan ekspresi jenaka yang selaras dengan pria di depannya.
"Baiklah Soobin. Karena tuanku ini sudah hampir mirip dengan mayat hidup, maka sebaiknya anda tidur saja sekarang."
Decakan kesal keluar dari belah bibir Soobin, "Kau gila? Ini bahkan masih pukul lima sore, Yeonjun!"
"Lalu anda ingin kembali bekerja?"
"Tidak!"
Melihat tingkah laku temannya yang sepertinya memang sengaja bercanda, Soobin segera mengambil tindakan dengan menarik tangan lelaki di depannya. Senyum puas terpatri di wajahnya yang tampan ketika melihat raut terkejut Yeonjun dan teriakan protes yang temannya lontarkan.
"Kita mau kemana?!"
Tapi berontakan dan pertanyaan Yeonjun tak diindahkannya—tak pula ketika mereka menjadi pusat perhatian pelayan-pelayan di kediaman Choi.
"Kalau kau masih berisik seperti ini aku akan mengendongmu seperti karung beras saat ini juga."
Dan ternyata ancamannya cukup manjur untuk membuat bibir Yeonjun tertutup rapat hingga mereka mencapai rumah kaca di halaman belakang Choi Duchy.
"How sweet of you, my Lord. Ternyata kau punya sisi romantis juga ya?"
Yeonjun tersenyum lebar ketika ia menyadari bahwa Soobin membawanya untuk menikmati teh di tengah taman mawar yang Duchess Choi rawat. Tubuhnya berputar riang sembari ujung jemarinya menyentuh kelopak warna warni dari ratusan bunga yang ada di depannya.
"Berisik, Yeonjun."
Pria itu mengalihkan pandang darinya, sibuk berbicara dengan pelayan untuk menyiapkan teh bagi mereka berdua. Kendati demikian, ia bisa melihat bagaimana telinga Soobin memerah pekat. Netranya mengamati lekat-lekat bagaimana Soobin melonggarkan dasi yang terlihat mencekik leher, serta menggulung lengannya sebatas siku.
"Ungkapan terimakasih karena kau selalu membantuku selama ini," suara Soobin terdengar ketus, tapi Yeonjun paling tahu bahwa Tuan Muda Choi itu sungguh-sungguh mengatakannya.
Senyum dan garis matanya melembut ketika Soobin melirik ke arahnya. Bagaimanapun, pria di depannya paling tahu bagaimana Yeonjun mencintai musim semi. Bersama kicau burung bernyanyi, hijau rumput menggesek kaki, dan mekar bunga yang tertimpa kilau mentari.
"Terimakasih kembali, Soobin."
Dengusan kecil terdengar sebagai balas pernyataannya, Tuan Muda Choi itu memejamkan mata sembari menumpu wajahnya dengan satu tangan—tapi Yeonjun bisa melihat bagaimana garis bibir Soobin tertarik membentuk seulas senyum kecil.
Sore ini, di temani secangkir teh hangat dan semilir angin yang berembus nakal, Yeonjun mendapati dirinya tidak bisa berhenti tersenyum dalam perbincangan tak pentingnya bersama pewaris keluarga Choi.
III.
"Apa yang kau lakukan?"
Malam ke tujuh di bulan September, Soobin mengalihkan pandang pada sesosok pria yang membuka pintu kamarnya. Pemuda yang kini lebih cocok dipanggil pria mengingat umurnya yang sudah menginjak duapuluh tahun itu mengisyaratkan temannya untuk masuk.
"Bulannya cantik," celetuknya tiba-tiba. Tepat setelah Yeonjun menutup pintu kamar.
Pria yang masih mengenakan kemeja kerjanya beserta celana kain hitam semata kaki itu menyandar pada kusen jendela, membelakangi langit malam dengan bulan purnama menggantung di ujung cakrawala. Penerangan yang temaram membuat Yeonjun tak mampu menangkap jelas raut wajah Soobin yang menatap lurus ke arahnya.
Yeonjun memutuskan untuk mengabaikan celetukan Soobin setelah beberapa saat terdiam dalam hening.
"Aku membawakanmu cokelat panas." Pria yang lebih tua bergerak ke nakas disamping kasur Soobin, meletakkan secangkir cokelat yang masih mengepulkan asap.
Ia mendengar derap langkah kaki mendekatinya, sebelum pelukan dan deru nafas hangat menerpa tengkuknya secara tiba-tiba. Yeonjun bergidik geli, tangannya meraba kaitan jemari Soobin pada pinggangnya untuk berusaha melepaskan diri sebelum ia merasakan beban di pundaknya.
"Soobin?"
"Sebentar lagi kau sudah berumur duapuluh dua tahun."
Yeonjun membalik tubuhnya menghadap Soobin, menangkup rupa pria yang sudah sepuluh tahun menjadi temannya dalam dekapan dua tangan hangat.
"Apa yang kau katakan tiba-tiba?"
Soobin menarik tubuh mereka untuk jatuh di atas kasur yang tepat berada di belakang tubuh Tuan Muda Choi itu—membuat kini Yeonjun terjatuh di atas pangkuannya. Kemeja putih yang membalut tubuh keduanya saling bergesekan, membuktikan betapa dekat posisi keduanya.
"Dan sebentar lagi aku akan berumur duapuluh satu."
"Aku tahu. Kau sudah dewasa rupanya."
Soobin mendengus kesal, cebikan kekanakan muncul pada bibirnya. "Kau masih menganggapku sebagai anak kecil?"
"Tentu saja. Yang Mulia kan tidak bisa apa-apa tanpa saya."
Sekali lagi, Soobin menarik hembusan nafas lelah sebelum menjatuhkan kepalanya diperpotongan leher Yeonjun. "Kau benar. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpamu."
"Aku hanya bercanda Soobin."
"Tidak terdengar seperti candaan jika itu faktanya."
Oke, mungkin memang faktanya Yeonjun telah banyak membantu Soobin sepanjang waktu mereka tumbuh bersama. Baik dalam sisi pekerjaannya sebagai pewaris Choi Duchy maupun dalam sisi perteman mereka berdua—Yeonjun tidak akan pernah membiarkan Soobin merasa kesepian, seolah ia sendiri yang harus menanggung beban berat sebagai calon Duke di usia muda. Tentu, statusnya masih tak lebih dari anak seorang pelayan, tapi Yeonjun membuktikan dirinya layak berada di samping Soobin dengan mendapat beasiswa dan lulus di usia belia. Kerja kerasnya terbayar ketika ia diakui oleh Duke Choi dan ditugaskan untuk membantu Soobin mengelola tanah dan properti milik keluarga Choi.
Tapi itu tak sedikitpun mengurangi fakta bahwa Soobin sendiri yang telah berusaha keras hingga kini Choi Duchy bisa menjadi tangan kanan kerajaan.
"Kau terlalu meremehkan dirimu sendiri."
"Kau selalu saja seperti itu. Selalu ada untukku, selalu menjadi tempatku untuk bersandar. Bagaimana mungkin aku bisa tidak jatuh cinta?" Kalimat terakhirnya muncul sebagai bisikan yang terbawa hembusan angin dan gemerisik pepohonan.
Yeonjun tak mampu menangkap kata-katanya, maka ia berusaha memastikan kembali apa yang coba Soobin katakan.
"Apa?"
Namun yang ia dapat hanya gelengan dan kecupan kecil tepat pada bagian belakang telinganya.
"Soobin! Itu geli!"
Yeonjun berusaha mendorong kepala temannya untuk menjauh dari lehernya. Tapi kepala bersurai hitam itu tetap saja acuh tak bergeming.
"Kau tidak akan pergi kan?"
".....Apa?"
Pertanyaan tiba-tiba Soobin membuatnya tersentak. Pria Choi itu pada akhirnya mengangkat wajah dari ceruk leher Yeonjun. Ketika kedua netra mereka bertubrukan, Yeonjun mengamati ekspresi wajah Soobin yang seperti bayi kelinci sedang memelas.
"Apa yang kau katakan, Soobin? Tentu saja aku tidak akan pergi."
"Kau janji?"
"Ya."
"Bahkan setelah aku melakukan ini?"
Yeonjun bahkan tak sempat bertanya ketika tiba-tiba ia merasakan lembut bibir Soobin menabrak bibirnya. It was messy. Dengan gigi yang saling bertabrakan dan lidah yang tergigit—jelas sekali Soobin tidak memiliki pengalaman. Oh, sejujurnya Yeonjun tidak jauh berbeda. Kendati demikian, yang bisa ia lakukan adalah mengalungkan tangan pada leher kokoh pria yang memangkunya.
Yeonjun membiarkan Soobin mengambil kendali, menciumnya seolah ia berusaha mengambil nafasnya. Yeonjun meremat surai malam Tuan Muda Choi itu hingga berantakan, sedangkan pria yang sedang menciumnya menekan belakang kepala Yeonjun untuk semakin memperdalam ciuman.
"Aku menyukaimu," adalah hal pertama yang diungkapkan Soobin tepat setelah tautan bibir keduanya terlepas. Berbisik tepat di depan ranum Yeonjun yang masih terengah menarik nafas.
"Aku tahu."
Yeonjun menarik senyum kian lebar hingga matanya menghilang dibalik kelopak. Seolah ada ledakan dalam dadanya mendengar pernyataan Soobin.
"Kau tidak akan lari setelah mengetahui hal itu?"
"Bodoh."
Satu kecupan kecil mendarat pada belah bibir Soobin—pelakunya tak lain tentu saja Yeonjun.
"Aku juga menyukaimu."
IV.
Yeonjun mensyukuri hidupnya sebagaimana adanya, ia menerima banyak cinta dan berkah sepanjang hidup—namun ada saat dimana ia mengandai dilahirkan sebagai seorang bangsawan.
Selain semi, musim dingin selalu menjadi favoritnya—mengingatkannya akan pria yang begitu ia cintai. Hari ini, tepatnya hari kelima di minggu pertama bulan Desember, Soobin merayakan umurnya yang beranjak matang.
Duapuluh satu tahun.
Anak kecil yang ia temui sebelas tahun lalu benar-benar telah berubah menjadi pria dewasa. Yeonjun mengulum senyum bangga dalam diam—tapi sorot matanya sarat akan damba yang tak hingga.
Di dalam, pesta sedang berlangsung untuk merayakan kelahiran Tuan Muda dari Choi Duchy. Yeonjun tentunya merasa bahagia, bagaimanapun laki-laki yang ia cintai diberkahi dengan banyak cinta di hari kelahirannya—Soobin deserves no less than that.
Seharusnya Yeonjun ada disana.
Turut tersenyum merayakan, kemudian menggenggam tangan Soobin untuk tarian pertama. Tapi ia bukan bangsawan.
Yeonjun tidak memiliki hak untuk itu. Maka disinilah ia sekarang, pada halaman belakang kediaman Choi, meninggalkan hingar bingar pesta di belakang punggungnya. Sendirian menatap galaksi yang terpapar di depan mata. Kanvas penuh gurat tinta hitam dan bercak bintang sebagai penghias. Cantik, tapi tak pula mengobati sesak di hatinya.
"Yeonjun?"
Suara lembut yang familiar sontak membuat tubuh Yeonjun berbalik ke sumber suara. Disana, nampak pria dengan jubah hitam melingkupi bahu kanannya, jatuh hingga ke lutut sang pemakai. Tubuhnya yang tegap dibalut kemeja putih, tersembunyi diantara lapisan vest berwarna biru tua dan jas berwarna hitam dengan aksen emas pada kerah dan lengannya. Dasi berwarna ungu menyembul dibalik vest nya. Celana kain sutra berwarna hitam jatuh begitu saja mempertegas jenjang kakinya. Surainya yang kelam disisir kebelakang, mempertunjukkan garis wajahnya yang tegas tanpa halangan.
Soobin tampak luarbiasa tampan. Tapi King of the Party tak seharusnya berada di luar saat ini.
"Soobin? Apa yang kau lakukan? Kau tak seharusnya ada disini!"
Melihat pria kecil di depannya panik adalah hal yang lucu bagi Soobin, sayangnya ia tak punya waktu untuk menikmatinya.
"Ini hari ulang tahunku."
"Aku tahu itu. Tolong jangan mengatakan hal-hal yang sudah jelas seperti itu, Yang Mulia."
Soobin melihat bagaimana Yeonjun mengurut dahinya seolah ia sedang pusing—atau mungkin ia memang benar-benar sedang pusing. Senyumnya terbit melihat penampilan Yeonjun saat ini. Kendati tak datang ke pesta, nampaknya kekasihnya juga berdandan. Terlihat dari pakaiannya yang sangat berbeda dari biasanya. Kemeja putih dengan dasi merah, di tutup dengan vest dan jas berwarna hitam. Dilihat secara sekilaspun nampak jika pakaian mereka terlihat sangat serasi.
"Aku ingin berdansa."
"Kalau begitu sebaiknya anda segera kembali ke dalam."
"Denganmu."
".....Apa?"
Yeonjun menatap Soobin seolah pria itu baru saja melontarkan joke of the year yang sama sekali tidak lucu. Namun uluran tangan Soobin yang dibalut sarung tangan putih itu menandakan bahwa sang pemilik tidak bermain-main dengan kata-katanya.
"Aku ingin dansa pertamaku bersama orang yang kucintai."
Berhadapan dengan netra Soobin yang menatap mantab, Yeonjun masih tetap membisu terdiam. Karena sejujurnya, ia tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan luapan perasaan yang membuncah dalam dadanya saat ini.
"Jadi, may i have this dance?"
Ketika ia membalas uluran tangan Soobin, tangisnya hampir pecah ketika pria itu memberi kecup hangat pada punggung tangannya sebelum membimbing tangan Yeonjun untuk melingkari lehernya. Seolah satu gestur kecil itu telah mampu menghapuskan sepi yang Yeonjun rasakan sesaat lalu.
"Kau tahu aku tidak bisa berdansa." Yeonjun membisik singkat sembari menghindari pandang Soobin, semburat malu muncul pada kedua pipinya. Namun hal itu tak berlangsung lama ketika Soobin menangkup wajahnya untuk berbalik menatap sang pria.
"Percaya padaku."
Yeonjun menarik senyum lebar sebelum mengangguk mantab. Tentu saja, ia telah mempercayakan hidupnya pada Soobin semenjak pertemuan pertama—ia akan terus melakukannya hingga akhir hidupnya.
"Bagaimana jika aku menginjak kakimu?"
"Kau boleh menginjaknya kapan saja. Ini hak istimewa yang kuberikan padamu seorang."
Yeonjun pecah dalam tawa. Walau tak pernah mengikuti kelas dansa secara khusus, entah bagaimana tubuhnya menari mengikuti alunan tubuh Soobin. Berputar mengelilingi taman, tanpa melodi, hanya mereka berdua.
Di bawah temaram lampu taman, beralaskan rerumputan hijau dan disinari cahaya rembulan, Yeonjun pikir dansa pertamanya dengan Soobin terasa jauh lebih sempurna ketimbang dalam sorot lampu terang, beralaskan karpet sutra dan tepuk tangan para bangsawan.
V .
Surai kelam yang berkibar terbawa tiupan angin nakal menutupi jarak pandang Yeonjun sepenuhnya—sebelum Soobin membawa jemarinya untuk menyelipkan helai anak rambut Yeonjun ke belakang telinga.
Pria yang baru sebulan menyandang gelar sebagai Duke itu tersenyum lembut ketika mengalungkan syal merah di leher kekasihnya, kemudian membubuhkan sekecup sayang di pipi Yeonjun yang memerah.
"Kau tidak boleh sakit."
Dalam rintikan hujan salju dan gemerisik angin yang dinginnya menusuk tulang—Yeonjun merasakan kehangatan dari rajutan kain wol yang baru saja Soobin lingkarkan di lehernya.
"Terimakasih."
Tubuhnya menyandar pada dinding jembatan yang warnanya sudah memudar—kini berwarna abu-abu tua sedangkan beberapa bagian lain masih berwarna hitam pekat. Di sebrang sana, aliran sungai membeku seutuhnya membuat lintasan es berkilauan bak permata.
"Kemarikan tanganmu."
"Hm?"
Yeonjun membiarkan Soobin mengambil tangannya untuk ia genggam di dalam kantung mantel yang pria itu kenakan.
"Cukup hangat?"
Pertanyaannya membuat Yeonjun melontarkan kekehan kecil—kepulan asap putih terbentuk selaras dengan udara yang tertiup di depan ranum sang pria.
"Yang Mulia?"
Cara Soobin melepas genggaman tangannya secara tergesa ketika mendengar suara kepala pelayan hampir membuat hati Yeonjun berdenyut sakit—sebelum ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa mungkin Soobin belum siap jika hubungan keduanya diketahui orang lain.
"Ada apa?"
"Undangan untuk anda."
Dua lembar surat berada dalam genggaman Soobin. Satu memiliki stempel berwarna hijau, sedangkan yang satunya memiliki stempel cap berwarna ungu pertanda bahwa surat itu adalah royal letter.
"Terimakasih, kau boleh pergi."
Ketika kepala pelayan telah membungkuk hormat kemudian membalikkan tubuh untuk berjalan masuk ke kediaman Choi, Yeonjun diam-diam mencuri lihat isi surat yang ditujukan untuk Duke baru Choi Duchy.
"Royal party?"
"Ya."
"Kapan?"
"Minggu depan."
Yeonjun mengamati perubahan pada ekpresi wajah Soobin ketika membuka surat kedua yang berstempel hijau—Yeonjun tak begitu mengingat milik keluarga mana stempel itu berasal. Namun rasa penasarannya telah dijawab terlebih dulu oleh Soobin, bahkan sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan.
"Dari Marquess Lee."
"Hm? Untuk apa ia mengirim surat?"
"Tampaknya Marquess mengaharapkan agar anaknya bisa pergi bersamaku ke Royal Party."
"Oh."
Sejujurnya, Yeonjun tak tahu harus menanggapi seperti apa, hingga hanya satu kata afirmasi yang meluncur dari celah bibirnya. Jemarinya yang tersembunyi dalam saku mantel coklat tua yang ia kenakan tanpa sadar ia remas kuat.
"Jadi, apa kau memutuskan untuk pergi bersamanya?"
Soobin menatap Yeonjun dengan sendu yang tak dapat ia sembunyikan dari sorot matanya—Yeonjun membencinya, ia tak suka tatapan itu.
Pria yang lebih tinggi menarik tangan Yeonjun ke dalam genggamannya, mengurai kepalan tangannya yang terasa menyakitkan.
"Maaf."
"Apa yang kau katakan? Tentu saja itu keputusan yang bagus, Soobin. Kau tak bisa menolak Marquess Lee tanpa alasan, terlebih kau memang tak memiliki calon lain untuk menemanimu menghadiri pesta."
Yeonjun memaksakan seulas tawa yang bahkan tak terdengar separuh tulus—tapi paling tidak ia telah berusaha untuk meringankan sesal yang Soobin tunjukkan padanya. Mau bagaimana lagi? Yeonjun tak akan pernah bisa mendampinginya menghadiri Royal Party sampai kapanpun, maka keputusan Soobin untuk datang bersama Lady Lee adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil sebagai Duke Choi.
"Yeonjun—"
"Tolong jangan katakan apa-apa. Kau hanya akan membuatku terlihat menyedihkan."
Soobin mengatupkan bibir rapat-rapat, tapi ia menarik Yeonjun mendekat dalam dekapannya yang hangat. Mengusak pucuk kepala Yeonjun lamat-lamat, berusaha mengungkapkan rasa sayangnya tanpa kata-kata. Sedangkan pria dalam dekapannya hanya menunduk berusaha menenangkan gemuruh badai dalam hatinya.
VI.
Yeonjun tak tahu harus memasang ekspresi seperti apa ketika ia menemui Lady Lee Jisu datang ke kediaman Choi dua minggu setelah Royal Party diadakan. Namun ia memutuskan untuk menarik senyum seramah mungkin sebelum membungkuk dengan satu tangan di depan perutnya yang berbalut jas hitam.
"Selamat pagi, Lady."
Soobin berada disebelah wanita itu, menampilkan wajah tersenyumnya yang seolah menyiratkan ia benar-benar menyukai kehadiran Lady Lee dipagi hari itu.
"Selamat pagi Tuan—"
"Yeonjun, dia tangan kananku."
Soobin menyahut cepat ketika Jisu tampak ragu saat hendak menyebut nama Yeonjun. Title yang Soobin berikan padanya tak sepenuhnya salah, namun bagian kecil hatinya berharap Soobin menyebutnya lebih dari sekadar teman dihadapan wanita yang menjadi teman dansa kekasihnya dua minggu lalu. Mungkin, itu hanya sisi egois Yeonjun yang sedang berbicara.
"Ah, Selamat pagi Tuan Yeonjun."
Jisu memang wanita yang memukau, Yeonjun akan mengakuinya. Senyumnya cemerlang, mampu menghidupkan suasana dimanapun ia berada. Gaun merah muda yang ia kenakan dihari ini mempertegas warna kulitnya yang seputih salju. Serta garis matanya yang tertarik cantik ketika ia melepaskan seulas tawa.
"Yeonjun, bisa kau katakan pada kepala pelayan bahwa aku dan Lady Lee akan menikmati teh di taman tengah?"
"Baik, Yang Mulia. Ada lagi yang bisa saya lakukan?"
"Segera menyusul setelah kau selesai dengan pekerjaanmu."
Yeonjun memberikan anggukan kecil pada Soobin maupun Jisu sebelum ia meninggalkan keduanya untuk beranjak menemui kepala pelayan. Dari sudut matanya, Yeonjun melihat bagaimana Soobin membiarkan Jisu mengaitakan tangan keduanya—like a gentleman that he is. Seharusnya rasanya tak sesakit itu.
Ketika Yeonjun sampai di taman tengah dengan didampingi pelayan yang menyiapkan teh untuk dua bangsawan yang duduk di depan meja bundar, ia segera mengerti bahwa ia tak seharusnya berada disitu saat ini.
Ia seolah tengah melihat sepintas adegan dalam lukisan—pria tampan dengan rambut yang disibak kebelakang, pakaiannya meneriakkan bahwa ia merupakan bangsawan kelas atas, sedangkan sang wanita yang rambutnya terpita dibagian tengah tak jauh berbeda, seolah menegaskan bahwa mereka berasal dari kelas yang sama. Kehadirannya tak lebih sebagai dekorasi yang mendengar canda tawa kedua Tuan dan Nona masing-masing keluarga—seperti orang bodoh.
"Terimakasih telah menemani saya di Royal Party dua pekan lalu, Duke Choi."
"Tidak masalah, Lady. Suatu kehormatan bagi saya."
Yeonjun hampir mendecih mendengar jawaban Soobin yang sangat tipikal—penuh sopan santun yang memuakkan.
"Duke, apakah anda telah mempertimbangkan tawaran ayah saya?"
Raut wajah malu-malu yang Jisu tampilkan ketika mengatakannya serta topik pembicaraan baru ini telah sukses menarik atensi Yeonjun, karena Soobin sendiri tak pernah membicarakan apapun tentang harinya bersama Lady Lee, terlebih tawaran yang Marquess Lee berikan pada kekasihnya.
Namun gurat wajah Soobin yang memucat dan matanya yang melirik gelisah kearahnya mengatakan pada Yeonjun bahwa tawaran ini tak seharusnya ia ketahui.
"Ah, Nona, sepertinya hal seperti ini tak pantas untuk dibicarakan disini."
Yeonjun melihat bagaimana jari-jari tangan Soobin berkaitan satu sama lain—suatu kebiasaan yang ia lakukan ketika ia sedang sangat gugup. Kakinya bergoyang-goyang kecil, sebuah gestur yang tak layak dilakukan oleh seorang bangsawan di waktu minum teh. Maka ia mengambil kendali dengan berdehem singkat untuk menyadarkan Soobin dari entah apa yang ia pikirkan.
"Maaf, Duke. Saya tak berpikir bahwa pembahasan tentang pertunangan adalah sesuatu yang sensitif untuk anda."
Tubuh Yeonjun menegang seketika, terlebih wajah pias Soobin menjadi bukti kebenaran perkataan yang Jisu lontarkan persekon lalu. Lidahnya kelu, ia tak tahu harus mengatakan apa—tidak, ia tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Ia tak memiliki hak untuk menyela di tengah percakapan dua bangsawan.
Maka, jalan terbaik yang bisa lakukan adalah tetap berdiri di samping Soobin seolah ia tak mendengar apapun, meskipun dua kepalan tangan di belakang punggungnya mulai lengket oleh darah.
"Nona, lebih baik kita membahas hal lain. Bagaimana dengan rencana perdagangan Marquess Lee di daerah Utara?"
Sisa percakapan berlangsung seperti kabur, Yeonjun tak lagi mendengar apapun yang kedua orang itu bicarakan. Barulah ketika pelayan datang untuk mengantarkan kudapan manis bagi Soobin dan Jisu, Yeonjun melihat celahnya untuk kabur.
"Mohon maaf, Yang Mulia, Lady Lee, sepertinya saya sedikit tidak enak badan. Kepala pelayan akan menggantikan saya menemani anda berdua."
Yeonjun memasang senyum yang bahkan tak mencapai matanya ketika ia segera berbalik meninggalkan tempat yang menjadi titik kehancurannya.
Mungkin, fairytail yang Yeonjun dambakan sudah runtuh mulai saat itu.
VII.
Sejak kecil, Yeonjun memimpikan happy ending seperti kisah dongeng yang selalu ibunya bacakan untuknya tiap malam. Pertemuan pertamanya dengan Soobin bagai prolog dalam cerita fantasi, pangeran tampan berambut kelam yang Tuhan jatuhkan untuknya dari surga.
Soobin mengabulkan mimpi-mimpinya, berada bersama Soobin seolah ia tengah memetik bintang di angkasa, magical, tapi Yeonjun tak pernah tahu kapan ia akan jatuh.
Mungkin semua bermula ketika Yeonjun berani untuk bermimpi terlalu besar tanpa mengingat statusnya, mungkin Yeonjun terlalu mengharapkan hal yang muluk-muluk.
Tapi apa yang salah?
Kecupan-kecupan kecil yang mereka curi disela-sela pekerjaan, atau tatapan-tatapan ketika tak ada orang yang melihat—Yeonjun selalu merasa cukup hanya dengan itu, yang ia inginkan hanyalah happily ever after miliknya sendiri, bersama pria yang ia cintai. Atau mungkin mencintai pria yang tak berada dalam jangkauannya adalah kesalahan pertama dan terbesar yang Yeonjun perbuat.
Dua pekan berlalu begitu saja, musim semi mekar secara cepat. Dalam musim yang selalu berhasil membuatnya tertawa bahagia bersama kuncup bunga yang menampilkan kembali warnanya, Yeonjun merasa kosong.
Ia tak pernah menemui Soobin semenjak hari itu, tak pula mengindahkan ketukan beruntun di pintu kamarnya pun bisikan putus asa yang pria itu lontarkan untuknya.
Yeonjun tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa, namun bedanya ia membagi dokumen yang akan ia dan Soobin kerjakan dalam tumpukan berbeda. Kemudian mengantarkan dokumen Soobin ke ruang kerjanya di jam yang ia yakini Duke Choi itu tengah terlelap.
Namun, sepandai-pandainya Yeonjun menghindar, akan ada hari dimana Soobin menangkapnya—seperti yang selalu pria itu lakukan. Soobin selalu berhasil menemukan Yeonjun sejauh apapun ia bersembunyi. Hal itu sudah berlangsung semenjak keduanya masih berumur sebelas dan duabelas tahun, dalam permainan petak umpet yang berkembang menjadi peristiwa malang.
Yeonjun dalam sifat alaminya yang tak ingin kalah memutuskan untuk bersembunyi di bagian Barat kediaman Choi—tempat yang tak seharusnya bocah sepertinya masuki karena merupakan bangunan kosong yang tak lagi dihuni semenjak segala aktivitas dipindahkan ke bagian Timur.
Yeonjun menunggu dan terus menunggu sampai mentari tenggelam tergantikan bulan. Kiranya Soobin sudah pasti lelah mencarinya dan memutuskan untuk melakukan hal lain. Namun ketika melihat wajah penuh debu dan keringat pewaris keluarga Choi itu ketika menemukannya, Yeonjun menyadari bahwa Soobin tak berhenti mencarinya sedari siang.
"Kumohon jangan bersembunyi terlalu jauh dariku lagi," adalah kalimat pertama yang Soobin katakan padanya sembari memeluknya erat kala itu.
Kali ini, kalimat yang mirip meluncur dari belah bibir yang sama ketika Soobin menemui Yeonjun di ruang kerjanya pukul empat dini hari.
"Kumohon jangan bersembunyi dariku lagi."
Yeonjun seketika membalikkan badannya ke arah pintu, dimana suara lelah Soobin berasal. Pria itu menutup pintu rapat-rapat sebelum menekan saklar yang terletak tepat di samping pintu. Barulah Yeonjun bisa melihat betapa kacau penampilan Duke Choi itu.
Pipinya tak memancarkan rona seperti biasanya, kantung matanya hitam dan tebal, jauh lebih parah ketimbang hari dimana Soobin tak tidur selama dua hari sekalipun untuk menyiapkan banquet—sejujurnya sudah berapa lama pria itu tidak tidur hingga kantung matanya separah ini?
"Yang Mulia—"
"Soobin, panggil aku Soobin."
Tanpa Yeonjun sadari, Soobin kini telah berada dihadapannya, menatap penuh mohon sebelum memeluk erat-erat tubuh Yeonjun seolah Yeonjun adalah ilusi yang akan hilang kapan saja.
Deru nafas Soobin yang terasa panas menerpa tengkuk Yeonjun, kontras dengan jemarinya yang dingin ketika membelai pipinya.
"Aku merindukanmu. Jika ada kata yang melebihi rindu, aku pasti akan mengungkapkannya padamu."
"Soob—"
"Yeonjun, kumohon jangan pergi."
Yeonjun terdiam sejenak, membiarkan pria yang tengah mendekapnya menghirup harum tubuhnya bak pria kelaparan.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa?"
"Yeonjun aku—"
"Apa kau akan menolak pertunangan dengan Lady Lee jika aku memintanya?"
Hening tak pernah terasa lebih menyakitkan dibanding saat ini.
"Soobin, sebenarnya untuk apa kau menemuiku jika pada akhirnya kau hanya akan menghancurkanku lagi?" Yeonjun melontarkan kekehan sarkas, tangannya bahkan tak bergerak untuk sekadar membalas peluk Soobin, tergantung tak berdaya di sisian tubuhnya.
"Yeonjun, aku pria egois," suara Soobin terdengar putus asa—seperti anak kecil yang tak tahu harus melakukan apa, ia terlihat hilang.
"Aku tidak bisa kehilanganmu, tapi aku juga harus mengemban tanggung jawabku sebagai pemimpin keluarga Choi—," cengkraman Soobin pada pinggangnya kini terasa menyakitkan, "—tolong aku Yeonjun, aku tersesat tanpamu."
"Kau tak mengatakan apapun padaku!" Kata-kata Yeonjun keluar sebagai teriakan ketika ia tak mampu menampung perasaannya, "Bagaimana aku bisa membantumu jika kau bahkan tak mengatakan apapun padaku?!"
Yeonjun mendorong tubuh Soobin menjauh untuk menatap wajah pria yang sejujurnya masih ia cintai sepenuh hati. "Apa yang harus kulakukan jika bahkan berita pertunanganmu harus aku dengar dari bibir wanita yang akan menjadi Duchess Choi dimasa depan?"
Dibandingkan rasa sakit mengetahui kekasihnya akan menjadi milik wanita lain—Yeonjun lebih merasakan sakit ketika Soobin bahkan tak mengatakan apapun padanya, seolah ia tak mempercayai Yeonjun, seseorang yang telah menemaninya belasan tahun lamanya. Sorot mata Soobin menyiratkan keputusasaan, tapi Yeonjun tidak bisa membawa dirinya untuk peduli ketika ia sendiri telah mengaku kalah—pada takdir, pada happy ending.
"Saya mohon maaf, Yang Mulia. Tapi saya tak bisa selalu berada disisi anda sebagai 'dirty little secret' anda."
Yeonjun melepaskan dirinya dari Soobin yang merosot jatuh ke lantai. Berjalan meninggalkan pria Choi itu tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, tanpa menyadari bahwa lelehan air mata pada pipinya jatuh bersamaan dengan air mata pria yang tengah meringkuk pada dinginnya lantai ruang kerjanya.
VIII.
Yeonjun mengenang setiap sudut kediaman Choi seolah ia tengah mengenang Soobin. Karena setiap sisinya menyimpan sejengkal ceritanya bersama sang pemilik kediaman.
Yeonjun ada disana, duabelas tahun lalu pada gerbang utama kediaman Choi. Langkah kecilnya terseret untuk mengikuti jejak ibunya yang lebih lebar sementara tangannya berkeringat di dalam genggaman sang ibu. Yeonjun masih mengingat terlalu jelas bagaimana matanya berbinar cerah mengamati kediaman yang begitu mewah bak istana juga perasaan penuh antisipasi akan hidup barunya.
Yeonjun ada disana, pada kamarnya yang jauh lebih mewah ketimbang kamar dirumah aslinya—tanpa tahu bahwa itu adalah kamar paling kecil di kediaman Choi. Yeonjun masih mengingat terlalu jelas bagaimana ia tak bisa tidur semalaman suntuk karena tak terbiasa tidur beralaskan kasur empuk.
Kemudian Yeonjun juga ada disana, pada halaman belakang kediaman Choi ketika ia bertemu Soobin untuk pertama kalinya. Dan Yeonjun masih mengingat terlalu jelas hangat yang ia rasakan ketika menyebut nama Soobin untuk pertama kalinya—karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memiliki seseorang untuk ia panggil teman.
Yeonjun ada disana, pada sentuhan tangan mereka yang pertama dan bagaimana rasanya seolah ada aliran listrik mengalir ke sekujur tubuhnya dari sentuhan yang begitu polos dan singkat.
Yeonjun ada pada setiap memorinya bersama Soobin, pada pelukan pertama, ciuman pertama, kata-kata cinta pertama. Dan ia mengingat semuanya terlalu jelas hingga Yeonjun tak tahu harus bagaimana caranya untuk meninggalkan semuanya.
Kotak hitam yang berada pada genggamannya terasa begitu berat ketika ia mengingat bahwa ini adalah hari terakhirnya boleh mengenang Soobin beserta ribuan memori dimana Soobin ada di dalamnya.
Yeonjun menyeret langkahnya untuk menaiki tangga menuju pintu ruang kerja Soobin. Dua ketukan singkat ia lontarkan pada kayu oak bersama harumnya yang familiar. Suara pria di dalamnya yang memberikan afirmasi untuk masuk memberikan keberanian pada Yeonjun untuk mendorong pintu hingga menimbulkan bunyi berdecit karena materialnya yang sudah tua.
"Yeonjun?"
Sang pemilik nama bisa melihat bahwa pria di depannya tengah menilai penampilannya saat ini. Kemeja biru, vest putih, jas hitam dan mantel berwarna coklat, tak lupa sekotak koper besar berwarna hitam digenggamannya. Semua orang yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya kemana ia akan pergi dengan penampilan seperti itu.
"Kau—kau mau kemana?" Raut wajah Soobin nampak kebingungan, karena ia memang tidak memberikan perintah untuk pergi kemanapun pada Yeonjun.
Tapi pria yang ditanya tetap diam dan maju kedepan untuk memberikan sepucuk surat pada Soobin, tak sedetikpun melepaskan pandangan dari netra sang Duke.
"Ini apa?"
"Pengunduran diri. Saya telah mendapatkan izin dari Tuan dan Nyonya Choi."
Soobin merasakan bagaimana jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia melontarkan pandangan pada Yeonjun dan berharap kekasihnya akan meledak dalam tawa pada ekspresinya yang konyol dan berkata bahwa hal ini hanyalah lelucon semata serta betapa bodohnya Soobin untuk hampir mempercayainya.
Namun detik demi detik berlalu dan ekspresi Yeonjun tidak berubah, masih wajah tanpa ekspresi yang sama. Ia bahkan tak sedikitpun menampilkan kesedihan ketika menyatakan pengunduran dirinya dari Choi Duchy.
"Yeonjun, kau bercanda kan?"
"Saya sangat serius, Yang Mulia. Kalau sudah tidak ada yang ingin anda katakan, maka izinkan saya untuk mengundurkan diri. Kereta kuda saya telah menunggu di depan."
Gebrakan pada meja dan sang pelaku yang terlihat begitu marah bahkan tak menggoyahkan posisi Yeonjun saat ini.
"YEONJUN!"
"Yang Mulia—"
"Kau—Bagaimana bisa kau meninggalkanku seperti ini?!"
Pupil Soobin bergetar ketika ia berusaha mengontrol emosinya. Ketimbang marah, rasa sedih dan takut lebih mendominasinya saat ini. Takut bahwa ia benar-benar tidak akan bisa lagi melihat Yeonjun setelah ini. Ia hendak meraih Yeonjun, namun dalam satu langkah yang ia ambil, pria itu mundur dua langkah menjauhinya.
"Yang Mulia, saya mohon—"
"—katamu kau tak akan pergi, kau berjanji Yeonjun!"
Soobin jatuh berlutut di depan Yeonjun. Seorang Duke tidak boleh berlutut di depan siapapun kecuali Yang Mulia Raja, namun Soobin melakukannya untuk Yeonjun.
"Yang Mulia, jangan seperti ini."
"Kau berjanji tidak akan pergi, Yeonjun." Suaranya pecah, Soobin tak lagi mampu menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. Wujudnya terlihat begitu menyedihkan ketika tangannya menangkap pergelangan kaki Yeonjun dalam usaha terakhir untuk mencegah prianya pergi.
"Soobin, aku tidak bisa."
Pada akhirnya, pertahanan Yeonjun turut runtuh melihat pria yang dicintainya merendahkan diri sebegitu rendah hanya demi menahannya pergi. Ia meringkuk untuk memeluk tubuh Soobin, air matanya jatuh membasahi jas yang sang Duke kenakan, tapi tak ada dari mereka yang peduli saat ini.
"Katakan apa yang harus kulakukan agar kau tetap disisiku, Yeonjun."
"Soobin, sudah cukup. Kumohon jangan seperti ini."
"Aku tidak bisa—aku tidak bisa tanpa kau."
Yeonjun menangkup wajah Soobin dan membawanya untuk menatap matanya, kedua ibu jarinya ia bawa untuk menghapus lelehan air mata yang mengalir deras di pipi Soobin.
"Soobin, aku berharap di kehidupan lainnya aku akan dilahirkan sebagai seorang bangsawan—atau kita berdua sebagai rakyat biasa. Saat itu, aku akan benar-benar berjanji untuk terus bersamamu sampai aku mati."
"Lalu bagaimana denganku di kehidupan ini? Aku juga membutuhkanmu, Yeonjun!"
"Dikehidupan ini, takdir tidak berpihak kepada kita."
"Omong kosong!"
Soobin memeluk Yeonjun erat-erat—begitu takut bahwa ketika ia melonggarkan pelukannya barang sedikit saja, Yeonjun akan menghilang dari hadapannya.
"Kumohon, jika kau mencintaiku, kau harus melepaskanku. Untuk aku, kau, dan Choi Duchy."
Soobin terdiam sejenak, terlihat jelas bahwa ia tengah berusaha mengatur emosinya. Dalam keheningan yang terasa begitu menyesakkan, pada akhirnya Soobin yang memecahkannya.
"Kau boleh pergi—," Yeonjun baru saja menghembuskan nafas lega, meski hatinya teremas kuat karena pada akhirnya ia akan benar-benar pergi meninggalkan Soobin, sebelum pria itu menambahkan,"—tapi pegang perkaatanku. Aku akan menemukanmu lagi, sejauh apapun kau bersembunyi, aku akan menemukanmu dan menjadikanmu milikku sekali lagi."
Determinasi pada mata Soobin membuat Yeonjun menarik senyum kecil, ia akan melihat dan menunggu bagaimana dimasa depan Soobin akan menepati perkataannya.
Yeonjun menemukan dirinya berada di bawah tangga—menatap ke atas pada Soobin yang berdiri gagah dengan senyum kecil pada bibirnya. Ia melihat Soobin mengatakan, 'Tunggu aku,' tanpa suara—sebelum membalikkan tubuh dan menutup pintu kediaman Choi tanpa sekalipun melirik kebelakang.
Yeonjun mengenang Soobin dalam delapan babak, dan satu babak Soobin menemukan Yeonjun.
IX.
Ketukan tak sabar pada pintu rumahnya membuat Yeonjun berlari tergesa ke arah depan, meninggalkan masakannya yang masih setengah jadi.
Hal pertama yang ia lihat ketika membuka pintu adalah top hat yang menutupi wajah sang pemakai, namun Yeonjun mengenali syal merah yang menyembul dari mantel hitamnya.
"Soobin?"
Pria yang dipanggil mengangkat topinya—sebelum membawanya kebelakang tubuh kemudian membungkuk kecil. Kini Yeonjun bisa melihat jelas wajahnya, masih tak berubah kendati dua tahun telah berlalu. Hanya saja kini rahangnya tampak lebih tegas, dengan rambut-rambut halus yang tumbuh di atas bibir dan sekitaran dagunya.
"Aku menepati janjiku."
Yeonjun pecah dalam tawa dan tangis bahagia. Ia bahkan tak mampu mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia harus segera membawa pria itu dalam pelukan—maka Yeonjun melakukannya. Ia mendekap erat-erat Soobin dalam pelukan yang bisa saja meremukkan tulang.
"Kau lama."
"Maaf, banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu."
Soobin membalas pelukan Yeonjun tak kalah erat sebelum membenamkan kepala pada rambut kelam pria didekapannya—menyesap wangi yang hampir membuatnya mati akan rindu.
"Kali ini, tak akan kulepaskan lagi."
Dan keduanya mengamini janji yang mengalun dari belah bibir Soobin pada minggu kedua di bulan Maret.
Musim semi selamanya akan selalu menjadi favorit Yeonjun.
Sacred prayer and we'd swear, to remember it all too well.
Selesai.
