Work Text:
"Seandainya sebentar lagi kita gak tinggal di Tokyo, kamu bakal gimana?"
Yoimiya berhenti mengaduk sup misonya dan langsung mengarahkan pandangannya pada pria di hadapannya.
"Maksudnya?"
Pria di hadapannya hanya tersenyum kecil.
"Penasaran doang, sih. Seandainya kita pindah ke negara lain selain Jepang dalam waktu dekat, apa kamu keberatan?" Tanya pria bersurai putih dengan semburat merah yang kemudian memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
"Uhm," Yoimiya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, "mendadak banget, sih. Mungkin bakal jadi pengalaman yang baru dan menarik buat aku, tapi kalau sekarang kayaknya aku belum terlalu siap, Kazu."
Kazuha, atau yang dipanggil Kazu baru saja, mengangguk pelan. Ini adalah kali pertama ia membawa topik ini di meja makan. Wajar saja bila Yoimiya gelagapan saat berusaha mencari jawaban.
Suasana ruang keluarga pun sejenak menjadi hening. Hanya terdengar dentingan mangkuk dengan sumpit dan sesekali suara kunyahan dari mulut Kazuha. Ketika hendak mengambil makanan di hadapannya, Kazuha menghentikan aktivitasnya dengan posisi tangan yang masih menggenggam sumpit di atas piring. Kazuha lalu mencoba membuat eye-contact dengan istrinya, yang kemudian dibalas oleh yang bersangkutan.
"Jadi," ujar Kazuha sambil mengambil daging tumis di piring depannya, "aku baru aja dapat promosi dari kantor buat jadi chief writer and editor."
Yoimiya yang tadinya sibuk mengunyah tamagoyaki langsung cepat-cepat menelannya, sedikit berharap ia tidak tersedak. Ia menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar. Yoimiya meletakkan sumpitnya dengan sedikit tergesa-gesa di atas mangkuknya lalu bertepuk tangan pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah, memang Kaedehara Kazuha tidak pernah mengecewakan! Selamat ya, sayang!" Seru Yoimiya kegirangan.
"Terima kasih, Miya," balas Kazuha, "tapi ada yang perlu kamu tahu juga tentang promosi pekerjaan ini."
"Apa itu?"
Kazuha meletakkan sumpitnya dan meraih segelas air di samping mangkuk.
"Pekerjaannya bukan di Tokyo. Aku bakal dipindah ke kantor pusat yang ada di New York."
Yoimiya hampir saja menyemburkan air yang tengah ia teguk dari gelasnya. Ia tidak salah dengar, kan? Apakah ini halusinasi akibat terlalu banyak melihat percikan terang kembang api? Atau penurunan daya dengar akibat terlalu banyak berurusan dengan petasan? Kalau ini adalah sebuah mimpi, Yoimiya berharap ia jatuh dari tempat tidur sekarang dan segera terbangun.
"Di New York?" Tanya Yoimiya.
"Iya, New York. The Big Apple. Di USA." Jawab Kazuha tanpa keraguan sedikit pun.
Tampaknya Yoimiya terbebas dari bayang-bayang dokter telinga. Giliran otak Yoimiya yang masih berusaha mencerna informasi dari suaminya.
"Aku diberikan waktu satu bulan untuk pikir-pikir dulu. Kalau sudah fix, kita akan pindah dalam waktu delapan bulan."
Kazuha kembali memasukkan sesuap daging ke mulutnya. Masakan Yoimiya terasa enak seperti biasanya. Dari pemilihan bumbu, kualitas bahan-bahan, hingga cara mengolahnya membuat setiap waktu makan bersama menjadi salah satu momen yang paling dinanti-nantikan Kazuha. Bahagia itu sederhana bagi pria berambut putih tersebut: cukup pulang dari kantor dan disambut senyuman istrinya ditambah aroma masakan sudah berhasil membuat Kazuha mensyukuri setiap detik kehidupannya setelah menikah.
Berbeda dengan Kazuha, Yoimiya merasa masakannya mendadak tawar malam ini. Aneh, sepertinya rasanya baik-baik saja ketika ia memasak. Apakah Yoimiya sedang sakit? Atau apakah ia tidak merasakan perbedaan rasa masakannya ketika mencobanya tadi? Sepertinya, Kazuha tampak baik-baik saja dengan makanannya. Berarti, bukan salah masakannya, karena Kazuha terkenal cukup cerewet soal selera makanan.
Rasa tawar makanan yang disantap Yoimiya kini ditambah dengan sedikit rasa mual yang menggelitik. Padahal, baru saja kemarin ia kedatangan tamu bulanan. Tidak mungkin ada kado mendadak di dalam tubuhnya, kan? Yoimiya menepis kemungkinan tersebut. Perubahan kondisinya ini terjadi terlalu mendadak.
Yoimiya memutuskan untuk mengunyah makanannya dengan perlahan.
Sambil mengunyah, sosok suaminya menjadi sorotan otaknya saat itu. Kaedehara Kazuha. Penulis dan editor di salah satu perusahaan internasional jurnalisme yang ternama. Pria yang menikahinya hampir dua tahun yang lalu setelah memacarinya empat tahun. Cerdas, tampan, optimis, puitis, dan bijaksana. Sifat-sifat itulah yang membuat Yoimiya jatuh hati kepada Kazuha, bonus keisengan yang dilakukan Kazuha padanya ketika mereka hanya berdua.
Kalau Yoimiya disuruh mencari satu kata untuk mendeskripsikan Kazuha, jujur ia tidak bisa. Esai sepuluh halaman pun belum tentu cukup menggambarkan siapa Kaedehara Kazuha dalam hidup Naganohara Yoimiya. Namun, ada satu kata yang muncul di benaknya: bebas. Kazuha hanyalah pria sederhana yang berjiwa bebas. Ia tidak lahir dengan sendok emas di mulutnya, tetapi itu tidak mengurung niatnya untuk menjelajahi dunia ini jika ada kesempatan. Bagi Kazuha, seluruh dunia ini adalah rumahnya. Ke arah mana angin bernyanyi, ke arah situlah Kazuha akan berlari.
Berbeda dengan Kazuha, Yoimiya puas hanya dengan menetap di Tokyo seumur hidupnya. Cukup dengan kehadiran keluarga dan beberapa temannya, Yoimiya sudah bisa menyebut tempat itu rumahnya. Zona nyaman memang menjadi salah satu hal yang didambakan Yoimiya: tidak perlu belajar bahasa baru, tidak perlu beradaptasi dengan cuaca baru, dan tidak perlu mencari pekerjaan baru. Cukup sekali saja ia harus pindah dari kota asalnya ke Tokyo karena tuntutan pekerjaan. Walau begitu, ia bersyukur bahwa keputusannya pergi ke Tokyo mempertemukannya dengan belahan jiwanya.
Yoimiya tidak ingin menjadi istri yang egois. Ia tidak ingin mengekang keinginan suaminya dan melarang keputusannya hanya karena ia ingin menjaga status quo. Jika memang Kazuha bersikeras untuk pindah ke New York, apa alasan baik yang ia punya untuk menghentikan mimpi itu? Bukankah sebagai istri seharusnya ia mendukung mimpi suaminya?
“Miya? Miya? Yoimiya?”
Yoimiya seketika tersentak mendengar suara Kazuha. Cepat-cepat ia menelan makanan yang sedari tadi dikunyah di mulutnya hingga sangat halus.
“Kamu melamun, lho. Ada yang sedang membebanimu? Lagi mikirin tentang pindahan ke New York, kan?”
Yoimiya tidak menjawab. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Kazuha dengan menatap mangkuknya yang masih berisi nasi. Tangan kanannya memainkan sumpit di atas mangkuk, mengambil sedikit nasi, lalu melepaskannya, lalu mengambil sebagian lain, dan melepaskannya kembali.
“Maaf, ya. Aku mendadak banget kasih tahu ke kamunya. Aku cuma mau kamu tahu juga tentang ini secepatnya supaya bisa siapin sama-sama. Keputusan ini kan pengaruhnya gak cuma ke aku, tapi ke kamu juga, sayang.”
Kazuha meneguk sup misonya. Pandangannya masih terkunci pada Yoimiya yang baru saja menyuapkan nasi ke mulutnya. Kazuha tahu istrinya sedang tenggelam dalam pikiran tentang sugesti pindah negara barusan. Tidak perlu dibisikkan oleh angin untuk tahu suasana hati Yoimiya. Kalau Yoimiya adalah sebuah buku, Yoimiya adalah buku favorit Kazuha. Setiap membacanya, Kazuha selalu belajar hal-hal baru tentang dirinya sendiri dan tentang Yoimiya walaupun dari paragraf-paragraf yang sudah dihafalnya. Karena itu, mudah sebenarnya bagi Kazuha untuk menebak perasaan Yoimiya. Ia tahu yang dibutuhkan Yoimiya sekarang, dan pembicaraan yang hangat adalah salah satunya.
“Kazu sendiri sudah ada persiapan belum? Untuk tempat tinggalnya, apakah Kazu udah cari?” tanya Yoimiya.
“Aku sudah tanya-tanya. Nanti kalau pindah ke sana, kita akan tinggal di hotel dulu kalau dokumen-dokumen tempat tinggalnya belum selesai diurus. Biayanya akan ditanggung perusahaan maksimal satu bulan. Rekan-rekan kantor cabang New York yang nantinya akan membantu kita juga. Aku ada kenal dengan mereka karena pernah beberapa kali kolaborasi bersama di projek-projek kantor. Tabungan kita juga cukup untuk menyewa apartemen sederhana di kawasan yang cukup bagus di sana. Untuk transportasi, nanti bisa naik transportasi umum,” jawab Kazuha.
“Untuk urusan pekerjaan, apakah dari kantor sudah ada yang bantu, Kazu?” tanya Yoimiya.
Kazuha mengangguk.
“Iya. Izin kerjanya akan diurus oleh perusahaan. Kalau kita sudah setuju dengan keputusan ini, aku akan mulai mengurusnya. Ada beberapa proses yang harus diikuti, tetapi semua tertera cukup jelas di internet. Tomo juga nanti akan membantu aku dalam mengurusnya.”
Mendengar nama Tomo, Yoimiya jadi teringat akan sahabat suaminya tersebut. Tomo sudah terlebih dahulu tinggal di Amerika cukup lama, tepatnya di San Fransisco. Terakhir mereka bertemu beberapa bulan lalu ketika Tomo berkunjung ke Jepang.
“Apa orang tua Kazu sudah tahu tentang ini? Teman-teman lain juga apakah sudah tahu?”
“Orang tuaku sudah, tetapi hanya formalitas. Aku tahu mereka pasti akan mendukung. Keputusanku adalah keputusan mereka juga. Kalau teman-teman, aku belum memberi tahu mereka. Aku mau kamu jadi orang pertama yang tahu tentang ini, Miya.”
Jawaban Kazuha barusan ibarat paku terakhir yang ditancapkan di peti. Keputusan Kazuha sudah bulat tentang ini, dan ia sudah mempersiapkan dengan cukup matang.
Yoimiya merasa menanggung beban yang cukup berat. Ia tersenyum sedih mendengar tekad suaminya untuk pindah dan segala persiapan yang telah dilakukannya. Yoimiya hanya mengangguk kecil tanda ia mengiyakan perkataan Kazuha. Melihat itu, Kazuha mengangkat tangan kanannya dan mengusap-usap kepala Yoimiya.
“Seperti yang aku bilang tadi, ini bukan cuma tentang aku. Keputusan ini adalah keputusan kita bersama. Kalau menurut Miya sendiri gimana?”
Yoimiya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
“Aku, “ Yoimiya terdiam sebentar, “cuma takut jadi beban. Aku gak mau keinginan Kazuha yang sudah dipersiapkan baik-baik jadi hancur cuma gara-gara aku.”
Yoimiya meletakkan sumpitnya di atas mangkuk, tanda mengakhiri makan malamnya. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan percakapannya.
“Aku gak terlalu bisa Bahasa Inggris. Kalaupun belajar sekarang, pasti bakal butuh waktu lama. Aku gak pintar banget seperti Ayaka yang bisa belajar apapun dalam waktu sekejap. Aku juga bukan Lumine yang bisa berbagai macam bahasa. Kazu mungkin sudah cukup nyaman pakai Bahasa Inggris. Tapi, karena itu juga aku gak mau membebani Kazu karena masalah bahasa doang.”
Yoimiya meletakkan sikunya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di atas telapak tangannya. Tatapannya masih tertuju ke arah Kazuha, tatapan yang tulus dan penuh rasa percaya, siap untuk mencurahkan seluruh isi hatinya karena ia tahu tidak akan pernah dihujat oleh yang bersangkutan.
“Aku gak punya teman di sana. Aku cuma kenal Tomo, itupun dia tinggalnya di San Fransisco, yang setahu aku jauh banget dari New York. Aku gak tahu budaya di Amerika gimana, pasti jauh beda dengan Jepang. Terus, soal makanan. Makanan di sana pasti banyak mengandung susu atau keju. Setiap minum susu aja perutku sudah seperti festival kembang api, meledak-ledak gak karuan. Kalau makan seperti pizza keju atau sejenisnya, perutku mungkin juga akan meledak-ledak lagi. Kazuha gak bisa keliling kuliner di sana bareng aku, dong.”
Kazuha tertawa kecil mendengar istilah yang dipakai Yoimiya untuk menggambarkan lactose intolerance. Sisi ekspresif Yoimiya tidak pernah tidak berhasil membuat Kazuha setidaknya tersenyum. Mendengar Kazuha tertawa, Yoimiya balas dengan tawaan kecil juga lalu kembali menghela napas.
“Aku ini cuma perempuan dari kota kecil di Osaka. Untuk bicara bahasa Jepang aja logat Kansaiku masih kental banget, apalagi Inggris. Waktu pertama kali datang ke Tokyo sama papa, aku masih ingat aku gak terlalu cepat beradaptasi di sini. Butuh waktu bertahun-tahun sampai aku bisa nyaman dan punya teman-teman baru. Aku tahu di New York nanti ada Kazu, dan aku percaya Kazu bakal selalu bantu aku. Tapi, kalau Kazu pergi kerja, aku bakal gimana? Apa aku bakal di rumah terus aja karena mau pergi-pergi juga susah? Terus nanti kalau kita punya anak di sana, aku harus gimana? Aku juga mau bicara pakai Bahasa Inggris sama anak kita, mau tahu ceritanya dia di sekolah, sama teman-temannya, sama kegiatannya. Aku mau belajar mandiri juga, Kazu.”
Kazuha meneguk airnya. Ia meletakkan gelasnya kembali di atas meja sembari menunduk sejenak, mencerna segala yang telah dikatakan istrinya. Kazuha menghela napas dan mengangkat kepalanya, kembali memusatkan pandangannya kepada wanita bersurai strawberry blonde yang duduk di depannya. Yoimiya tidak bergeming. Ia melihat ke arah bawah, mengabaikan tatapan suaminya. Mata Yoimiya kini fokus kepada jari telunjuk kirinya yang tengah mengukir-ukir lingkaran transparan di atas meja.
“Yang mungkin paling susah,” Yoimiya kembali terdiam sebentar, “itu berpisah sama orang-orang di sini. Papa sudah hampir pensiun, dan aku tidak mungkin meninggalkan papa sendirian di sini, apalagi bisnis kembang api kita juga masih ada. Bagaimana dengan pelanggan-pelanggan yang ada? Memang masih ada beberapa bulan untuk memikirkan, sih, tapi berat juga kalau usaha yang sudah papa bangun dari nol dan pelanggan-pelanggan yang sudah seperti keluarga sendiri harus aku tinggalkan begitu aja. Terus, aku juga gak siap meninggalkan anak-anak di kompleks kita. Aku masih ingin bermain dan bercerita bersama mereka. Waktu orang tua mereka pergi bekerja dan gak ada yang menemani, siapa yang akan bersama mereka?”
Yoimiya menengadahkan pandangannya kembali kepada Kazuha sambil memberikan senyuman sedih.
“Tapi akhirnya, aku tetap percaya sama Kazuha. Aku tahu Kazuha pasti memikirkan yang terbaik buat kita berdua. Pasti ada beberapa hal yang membuat Kazuha yakin yang aku belum sadar sekarang. Apapun keputusan Kazuha, aku akan dukung sepenuhnya. Aku cuma butuh waktu lebih banyak untuk memikirkan semua hal ini dan mengurusnya,” tutup Yoimiya yang dibalas dengan anggukan pelan dan senyuman dari Kazuha, yang menutup matanya ketika menundukkan kepalanya tanda ia telah mendengar setiap kata istrinya dan sangat menghargai setiap ceritanya.
Dengan berakhirnya ceritanya, Yoimiya berdiri dari kursinya dan mulai membereskan piring dan mangkuk di atas meja. Kazuha dengan sigap ikut membantu membawa piring-piring kotor ke atas bak cuci.
“Aku aja yang cuci,” tawar Kazuha.
“Gak perlu, sayang. Aku aja. Kazu lap meja aja, ya?”
Sementara Kazuha pergi mengambil lap untuk membersihkan meja, Yoimiya menyalakan keran air, merasakan aliran air dingin membasahi tangannya sebelum meraih spons untuk membersihkan alat makan. Percakapannya dengan Kazuha yang masih hangat kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Banyak sekali yang harus dipertimbangkan. Pindah negara itu bukan sesuatu yang bisa terjadi dalam sekejap, yang bisa selesai dalam sekali jentikan jari. Pindah negara adalah suatu proses rumit yang bisa mengeliminasi segalanya, yang mengubah hidup seseorang selamanya. Bohong kalau bilang bahwa Yoimiya tidak takut dengan kemungkinan yang akan terjadi. Keputusan ini lebih susah baginya daripada ujian apapun yang pernah ia lewati ketika sekolah dulu. Tanpa sadar, kedua matanya terasa panas. Bulir-bulir air mata mulai mengalir membasahi pipinya dan turun ke dagunya. Dadanya terasa agak sesak. Sesekali, ia mengeluarkan rasa sesak di dadanya dengan suara isakan.
Mendengar suara tangis Yoimiya yang sesenggukan, Kazuha berhenti mengelap meja. Ia meletakkan barang-barang pembersih di atas meja lalu berjalan ke arah bak cuci. Kazuha perlahan merangkulkan tangannya di pinggang ramping istrinya dan membenamkan hidungnya di rambutnya. Yoimiya langsung menutup keran yang tengah mengalir. Masih dengan tangan yang basah, ia berbalik badan dan balas merangkul Kazuha. Suara tangis Yoimiya menjadi sedikit lebih kencang. Ia menyandarkan wajahnya ke dada Kazuha, mencoba mencari ketenangan di tengah hatinya yang tengah terombang-ambing badai. Kazuha mengusap-usap pelan kepala Yoimiya untuk menenangkannya.
“Maaf sudah membuat kamu menangis, sayang,” ucap Kazuha dengan lembut.
“Gak apa-apa, Kazu. Bukan salah Kazu, kok. Aku takut, itu aja. Aku gak tahu harus ngapain,” ucap Yoimiya.
“Jujur, kalau aku bilang aku gak takut, itu kesalahan besar.”
Kazuha melepaskan pelukannya. Ia mengangkat tangan kanannya untuk mengelus pelan kepala Yoimiya.
“Miya ingat kan aku juga bukan dari Tokyo. Aku sama Tomo asalnya dari Yamanashi. Kami berdua sama-sama gak pernah tahu Tokyo itu seperti apa dulu, cuma tahu dari televisi atau koran. Waktu sampai sini, jujur aku kaget. Banyak banget gedung-gedung tinggi dan juga kendaraan. Rasanya seperti berada di dunia lain, padahal cuma tetangga dengan Yamanashi. Aku juga awalnya takut tidak bisa bertahan hidup di kota metropolitan seperti Tokyo karena sudah terbiasa dengan kota yang kecil.”
Yoimiya mengangguk sedikit untuk memberi tanggapan terhadap cerita Kazuha.
“Tapi, mungkin memang benar bahwa cahaya itu seperti air. Kalau kerannya dibuka, ia akan mengalir. Lalu, kita akan sama-sama belajar untuk bermain-main dengan cahaya, entah bagaimanapun caranya. Entah itu dengan berenang ataupun mengayuh perahu di atas cahaya.”
Yoimiya memiringkan kepalanya ke samping. Jiwa puitis Kazuha lagi-lagi keluar. Entah kiasan apa kali ini yang ia gunakan. Yoimiya mengernyitkan alisnya dan sedikit membuka mulutnya, memberikan sinyal kepada Kazuha untuk menjelaskan perkataannya.
Kazuha sekali lagi tersenyum.
“Ini cuma mengutip cerita yang pernah aku baca. Memang aneh kedengarannya kalau cahaya disamakan dengan air karena mereka berdua sangat berbeda. Penulisnya bercerita tentang dua anak yang pindah ke sebuah kota besar dari kota yang lebih kecil, sama seperti kita berdua. Tidak seperti kota yang kecil, di kota yang lebih besar tidak ada perairan di mana anak-anak tersebut bisa berenang dan bermain-main. Sehingga, yang mereka lakukan adalah memecahkan bola lampu untuk menghasilkan cahaya lalu bermain-main dengan cahaya itu. Kutipan tadi itu dikatakan oleh kakek kedua anak itu kepada mereka,” jelas Kazuha.
“Jadi, kita harus memecahkan bola lampu juga?” tanya Yoimiya dengan polos yang sukses membuat Kazuha tertawa kembali.
“Jelas bukan, sayang. Setiap kita pindah pasti ada hal-hal yang kita rindukan yang tidak akan kita temukan di tempat baru nanti. Namun, yang bisa kita lakukan adalah bermain-main dengan hal-hal baru yang akan kita temui. Mungkin seperti anak-anak di cerita itu, kita berdua telah berhasil mengayuh perahu di atas cahaya Tokyo. Tetapi cahaya New York? Kita belum tahu. Sepertinya, yang kita butuhkan hanyalah sedikit keajaiban.”
“Keajaiban?”
“Iya, keajaiban. Keajaiban untuk pindah ke tempat yang asing. Keajaiban untuk bertahan hidup di sana. Keajaiban untuk berenang di atas cahaya di kota di mana tidak ada seorang pun yang menguasai hal seperti itu.”
Kazuha memegang pipi Yoimiya dan mendekatkan wajahnya. Yoimiya sontak terkejut dan mengambil satu langkah mundur. Kazuha refleks merangkul tubuh Yoimiya dengan tangan satunya agar ia tidak terjatuh.
“Dan keajaiban ini, hanya kita berdua yang bisa mencarinya, yang bisa menemukannya. Mungkin kurang cocok kalau dibilang kita akan belajar berenang. Kita akan belajar menari bersama di atas cahaya New York, bagaimana?”
Yoimiya tersenyum. Keputusan untuk pindah ke New York masih belum pasti. Kegelisahannya belum hilang. Segala hal yang perlu dipikiran dan diurusnya masih harus dilalui. Namun, entah mengapa ia merasa lebih tenang. Dengan Kazuha, semuanya terasa seperti akan baik-baik saja. Ia merasa ada seseorang yang akan menuntunnya, menuntun setiap langkah tariannya berdua bersama, suatu tarian baru yang hanya mereka berdua yang akan tahu dan menguasainya.
“Kalau kita jadi ke New York,” seru Yoimiya sambil merentangkan tangannya, “aku mau lihat kembang api yang besar banget!”
“Pasti. Pasti akan aku bawa untuk lihat kembang api yang besar di sana. Selangkah demi selangkah ya kita pikirinnya? Aku pasti akan bantu kamu.”
“Terima kasih, Kazu.”
“Aku yang harusnya berterima kasih, Miya.”
Kazuha tersenyum, dan begitu pula Yoimiya. Seketika ruangan itu menjadi hening, namun keheningan ini bukan sesuatu yang mereka permasalahkan. Sepasang suami-istri itu pun berpelukan, dan mereka dapat merasakan detak jantung dari pasangan mereka masing-masing menjadi melodi yang mengisi keheningan ruangan.
Masih banyak yang harus mereka bicarakan. Masih banyak yang harus mereka pertimbangkan. Masa depan sepertinya tidak terlalu jelas. Namun, seperti kata Kazuha, mereka berdua akan belajar untuk menari di antara cahaya New York, di antara hiruk-pikuk masyarakat sana, di antara kumpulan gedung pencakar langit. Baik itu letusan kembang api dari Toko Naganohara yang sederhana, maupun letusan kembang api di Time Square tatkala tahun baru tiba, semuanya bagaikan Letusan Kambrium yang menghasilkan berbagai macam peristiwa muncul dalam waktu sekejap. Mungkin sekarang, mereka berada di Tokyo. Satu langkah selanjutnya, mereka akan berada di New York. Satu langkah ke samping, mereka sudah di Shanghai. Satu lompatan kemudian, mungkin mereka akan menjelajahi Mars. Siapa yang akan tahu? Hanya Kazuha dan Yoimiya yang bisa menguasai tarian tersebut: tarian di atas cahaya.
Bagaimana jika kita menutup cerita ini dengan sebuah haiku?
Light is like water
And we shall learn how to float
No, to dance on light
