Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-08-06
Words:
969
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
8
Bookmarks:
3
Hits:
99

Mamihlapinatapai

Summary:

Tachikawa menemukan Jin yang tertidur di sudut tak tersentuh Border. Rindu yang terkunci rapat pun menyeruak dari sana. / Didedikasikan untuk Augustrope Day 6. RnR?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Title: Mamihlapinatapai

Disclaimer: World Trigger milik Daisuke Ashihara dan saya tidak mendapat keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini. Fanfiksi ini didedikasikan untuk #Augustrope Day 6 dengan tema mutual pining.

Warning: BL, canon compliant, saltik, dan berbagai kekurangan lain.

Hope you enjoy it!

.

.

Tachikawa tetap bertegur sapa dengan Jin selama ia vakum dari rank wars, tetapi hanya sekali waktu mereka pernah bertemu berdua saja tanpa siapapun yang mengganggu.

Tachikawa menemukan pemuda itu terlelap di sudut ruangan, duduk pada kursi terpojok dan bersandar pada dindingnya. Tachikawa mengurungkan niat untuk membeli minum dari vending machine, memerhatikan lelaki itu dari kejauhan terlampau lekat. Rindu menyeruak, diikuti segudang kalimat yang tak pernah terkata.

Mereka sudah tak lagi bertanding di lapangan, tak jua bersisian sebagai saingan. Tak ada alasan untuk memenggal jarak yang telah terbentuk sebegini lebar. Tetapi, wajah tertidur lelaki itu mengingatkan sang Nomor Satu pada masa-masa sekolah mereka; ketika keduanya membolos dan memilih tenggelam dalam obrolan tak penting di atap sekolah. Berbicara ini-itu tanpa arah, menguntai tawa untuk celoteh konyol yang entah muncul dari mana.

Tachikawa teringat pada cengir lebar yang Jin perlihatkan padanya di sana; bagaimana lengkung asimetrisnya menariknya dalam sengat musim panas, helai rambutnya yang dimainkan dersik bergerak bebas, manik sebiru langit yang pernah menatapnya dalam—dan bagaimana semua itu hanya tinggal serpihan kenangan sekarang. Tak ada ‘alasan’ untuk terlalu dekat, tak peduli jantung Tachikawa tetap berdegup tak teratur tiap teringat sosoknya, atau rindu selalu sukses membekukannya dalam masa lalu. Tachikawa tak punya lagi alasan berdekatan.

Namun, kali itu Tachikawa memilih menghabisi jarak di antara mereka, menghampiri lelaki yang kini duduk di peringkat yang lebih tinggi darinya, tak berpaling kendati cinta masa lampau mengaduknya teramat kuat.

Jin selalu punya alasan dalam bertindak. Bukan hanya satu-dua, melainkan sejuta tujuan. Lelaki itu hidup dengan pemikiran serumit labirin, gudang rahasia yang dilapisi ratusan dinding. Karenanya, Tachikawa percaya; ada alasan kuat yang membuat Jin memilih meninggalkan arena yang dulu mereka ciptakan berdua. Teramat dalam dan mustahil tersentuh jemarinya—jelas saja, toh, mereka memang bukan siapa-siapa. Dan karenanya pula, Tachikawa berhenti meraih, membiarkan gagak itu terbang dan memerhatinya dari kejauhan.

 

Apa keinginannya berlebihan? Apa Jin akan sungkan jika mengetahui apa yang selama ini ia simpan?

 

Apa rengkuh lengannya akan menjadi penjara bagi mentari yang ditakdirkan bersinar dalam pusat semesta?

 

Tachikawa tak berhasil menemukan jawabannya, bahkan ketika ia telah tiba di sisi (mantan) saingannya. Pemuda itu terdiam, melepas jaketnya tanpa kata, kemudian menyampirkannya demi menutupi sebagian tubuh Jin. Diamatinya lelaki berambut cokelat terang itu sesaat, menyadari lebar bahunya yang bertambah, lengannya yang sedikit mengurus dari kali terakhir bertatap muka, hingga jejak lingkar hitam samar di bawah matanya.

“Kau itu,” Tachikawa menyelipkan sebagian anak rambut Jin ke belakang telinga, menahan diri agar jemarinya tak bersentuhan dengan pipi si pemuda karena enggan mengganggu tidurnya, “setidaknya istirahatlah yang cukup. Dasar.”

Dan lelaki berambut kelabu gelap itu berbalik, minggir dari tempat tersebut tanpa membeli apapun dari vending machine—menolak ambil risiko Jin dibangunkan suara botol yang jatuh.

.

.

Yang tak Tachikawa sadari adalah, begitu suara langkahnya lenyap ditelan dinding, kelopak mata Pengintip Masa Depan itu mendadak terbuka perlahan. Tangan Jin instan meremas jaket yang Tachikawa gunakan untuk menyelimutinya, menyentuh anak rambut yang sang Nomor Satu selipkan di belakang telinganya, dan tersenyum dengan netra biru yang berpendar terlampau rindu.

“Setidaknya katakan itu saat aku terjaga, Tachikawa-san.”

 

( Aku juga merindukanmu—walau sadar bukan hakku melakukannya. )

 

[ "Jin-kun, kenapa kau menghindari Tachikawa-kun?" ]

 

Tanya dari Tsukimi mengiang kembali di telinga Jin, membawa si pemuda pada konversasi canggung yang ia lalui seminggu lalu. Jin mematung, tak tahu mesti menjawab apa dinaungi sorot runcing dari netra arang kawan masa kecil Tachikawa. Menit demi menit tanggal, tetapi tak ada balasan yang menjawab tanya sang dara.

Namun, ketika Jin akhirnya memandang Tsukimi lekat dan memberinya senyum samar, gadis itu memilih mengalah. Tubuhnya kembali menghadap komputer, meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, berhenti menahan langkah si pemuda untuk keluar dari ruangan operator. Jin tak dapat meraba apa yang dara itu pikirkan, toh side effect-nya hanya memungkinkan si pemuda mengintip jejaring masa depan bukan hati seseorang. Tetapi, sebelum benar-benar beranjak, Tsukimi melontarkan satu kalimat terakhir—yang tiap katanya belum tanggal dari memori Jin.

 

[ "Kautahu kalau dia menyayangimu, kan?" ]

 

Jin menggeleng, menaikkan jaket Tachikawa demi menyembunyikan sebagian wajahnya. Bibirnya membentuk senyum terluka, tetapi tak menghentikan pemuda culas itu untuk mereguk aroma Tachikawa yang tertinggal dari fabrik yang ia dekap. Nostalgia, sesal, dan rasa yang tersimpan dalam dirinya kembali berkelindan, menyeruak hingga Pemilik Fuujin tersebut dicekik sesak.

Ia teringat pada binar terang dalam netra gelap Tachikawa di kali pertama Jin menunjukkan Scorpion padanya, cengir lebar yang terukir manakala sang Nomor Satu mengalahkannya, tantangan yang selalu Kejora Lapangan itu ajukan padanya—menoreh corak baru dalam hidup sang Pengintip Masa Depan. Tangan yang menggenggam erat pegangan kogetsu, pernah menggenggamnya dengan lembut, mendebarkan jantungnya dalam ritme yang tak Jin pahami. Tachikawa adalah Hamal di langit utaranya, pengantar aroma tunas baru penanda musim semi telah tiba—dan Jin sadar ia tak berhak menerima hatinya; tidak lagi.

Tachikawa terlalu baik, bahkan padanya yang telah membalikkan badan darinya. Pemuda berambut kelabu gelap itu tetap bersikap seolah tak terjadi apapun kendati Jin melukainya, menghabisi tempat yang sebelumnya hanya milik mereka. Jin tidak sebuta itu hingga tak sadar ada kerlip yang terhapus dari netra kelabu sang Nomor Satu—dan semua itu adalah hasil dari tindakannya.

 

Tak semestinya ia (masih) berharap rivalnya itu akan menerimanya lagi di tempat semula.

 

Jin menahan tawa sumbang yang telah berada di ujung lidahnya, mengecap getir yang muncul dari sana. Sudah sepantasnya. Memang inilah yang mesti ia terima. Ia melepaskan Tachikawa untuk kembali terlilit arus masa lalu (Fuujin), ia tak punya kesempatan untuk kembali diterima di sisi Tachikawa—tak peduli lelaki itu memafhuminya, tak peduli jantung Pemilik Fuujin itu masih berdegup tak keruan hanya karena menghirup serpih aromanya.

 

Tachikawa harus bersama dengan orang yang menjadikannya prioritas pertama—dan itu bukan dirinya, tidak boleh dirinya.

.

.

.tamat.

.

.

Notes:

a/n: Mamihlapinatapai = "a look that without words is shared by two people who want to initiate something, but that neither will start" or "looking at each other hoping that the other will offer to do something which both parties desire but are unwilling to do." (Wikipedia)

Dalam fanfiksi ini, judul tadi merujuk pada arti yang pertama. Terima kasih sudah mampir dan membaca!

Fanfiksi ini bisa di-retweet di SINI ! :D

-Salam-
Profe_Fest