Work Text:
Lelaki aneh itu tak bernama.
Bagaimana tidak jikalau impresinya serta merta berakhir demikian. Eli Clark; di tengah kegundahan hampanya yang beralih ke laut untuk melepas emosi, tidak habis pikir mengenai apa yang sebetul-betulnya maksud nasib membawanya kemari.
Mereka bertemu sekitar musim panas di kala Eli baru kembali dari kegiatan kultus. Masih berpakaian serba tertutup; hitam dan seperti penjahat misterius. Sementara lelaki itu bertubuh ramping : dalam balutan kemeja tipis yang berwarna senada dengan surai kelabu.
Matanya menerawang jauh; sendirian menghadap laut yang tenang, pandangannya jatuh pada biru samudra dan apa yang ada di dalam pikirannya dipertanyakan. Tanpa mengatakan apa pun, dia tidak bersusah payah untuk duduk di karang. Ketika Eli mendekatinya, dia memang menoleh. Tetapi, Eli yang bertanya siapakah dia harus memanggilnya : pria dengan ekspresi minim itu tidak segera menjawab tanyanya.
“Kenapa kau di sini sendiri?”
“Tidak tahu.”
Eli memiringkan kepalanya.
Tatapannya sendu; seolah-olah sesuatu hilang dan langkahnya tanpa arah. Apakah lelaki itu tersesat? Tapi dia bukan seperti seorang anak kecil yang tidak memiliki pendirian buat menjejakkan kaki sendiri di negeri orang. Aksennya lancar; cara komunikasinya dapat dipahami dengan baik. Apa yang mengganjal itu barangkali mengenai siapa kebenar-benarannya mengenai dirinya ini : dia menggeleng, menolak tawaran Eli untuk menepi dari pinggir.
Dia berkata, dia merasakan sesuatu seakan hilang di dadanya. Entah di mana tempat seharusnya dia berada; apakah esensi kemanusiannya, dan lelaki bermata redup itu bahkan tidak mengetahui identitasnya. Eli Clark mengulurkan tangannya—
“Aesop,”
“Apa?”
“Kau bilang kau tidak memiliki sesuatu yang bisa membuatku menyebut namamu, bukan? Bagaimana kalau mulai sekarang, khusus dariku—aku akan memanggilmu dengan Aesop?”
Eli tidak tahu darimana prakata itu berasal. Yang dia pahami, saat lelaki itu bahkan tidak menyanggupkan diri menyatakan nama entah karena amnesia dan semacamnya, di situlah Eli Clark juga merasa iba. Bisa jadi suatu ketercelakaan telah merenggut segala sisi yang dimilikinya. Dan bagi Eli yang pengasih; dia tidak perlu mempertanyakan buat apa dia menolongnya.
“Baiklah,”
Aesop, apa yang kini resmi menjadi penyebutannya, meraih tangan Eli dan mereka pergi dari sana.
Berminggu-minggu berlalu semenjak hari itu.
Ada banyak hal yang begitu Eli Clark pahami dari seorang Aesop : walaupun tidak seutuhnya realita dan hanya berupa penjabaran intuisinya dikarenakan perbedaan sudut pandang itu menciptakan kesenjangan. Aesop tinggal di kota berbeda; pergi ke laut karena ‘sesuatu’ yang tidak diketahui tengah memanggilnya. Tetapi mereka yang terlanjur merasa dekat satu sama lainnya, berbagi kontak dan masih berhubungan.
Eli tidak akan bertanya lebih banyak mengenai kehidupan pribadi yang bersangkutan. Cukup mengetahui bahwa dia baik-baik saja melalui inti percakapan yang selalu dibagikan, itulah arti dari suatu interaksi yang diharapkan.
“Tuan Clark,”
Eli tidak berhenti memikirkan laki-laki itu. Panorama yang telah mereka nikmati bersama ketika senja turun. Hangat matahari yang lebur dengan angin laut yang menerpa ruam telinga, mengabaikan panas ketika terik melanda.
Jika nanti kesempatannya datang, Eli ingin—
“Tuan Clark!”
Di tengah peribadatan doa kepada Tuhan-nya; seseorang telah menegur. Dan itu adalah mentor utamanya sendiri; perwakilan tehormat dari para pemuja.
Fiona; seorang sepupu perempuannya yang sengaja mengambil keberadaan di samping lelaki sejak awal, menatap Eli takut-takut oleh keringat dingin. Sedari tadi Fiona telah berusaha menyikut lengan lelaki itu, tetapi pikirannya yang terbang membuatnya tak sadar telah dihampiri. Nona Ann, mentor mereka; yang menjadi pembimbing kekudusan terhadap apa yang disembah, memanggil berkali-kali agar kesucian pikirannya tetap terjaga. Wanita itu berdehem.
“Perhatikan pembacaan ayat. Doa hari ini tidak boleh gagal hanya karena Anda tidak bisa fokus, Tuan Clark.”
Eli menundukkan sedikit kepalanya, antara merasa malu dan bersalah. Tatapan menggunjing telah dia terima dari berbagai arah, dan kesalahannya itu sepenuhnya dia terima dengan lapang dada.
“Mohon maafkan saya, tidak akan saya mengulanginya lagi.”
Hati terdalamnya merasa terkoyak. Pada dasarnya, pemberian doa semacam ini bukanlah kehendaknya sama sekali.
Nyanyian dilanjutkan dengan lebih khusyuk, lebih dalam; lebih diterima oleh Tuhan. Pada akhirnya setelah pembubaran pengikut itu, di tempat ibadah tertinggalah Eli dan Fiona yang duduk dan saling bertukar pandang. Fiona ingin menghiburnya. Antara Eli kacau karena habis dimarahi, atau sesungguh-sungguhnya ada yang mengacaukan pikirannya sebelum ini.
“Kau tidak apa-apa?”
“Terima kasih, Fiona.” Eli menolak halus dengan menyatakan bahwasannya pada saat itu, Fiona lebih baik pergi dan meninggalkannya sendiri.
Sayangnya ketika Eli berdiri untuk beranjak pergi, langkahnya itu dihalangi oleh mentornya yang lagi-lagi berdiri. Di hadapan Eli, dengan ekspresi lurus yang kentara, tangan membawa lilin.
“Nona Ann?”
“Saya tidak tahu apa yang membuat Anda tidak bisa serius hari ini, Tuan Clark. Padahal Anda diketahui sebagai seseorang yang taat,”
Tentu saja Nona Ann akan menyinggung demikian. Tidak ada yang salah, Elilah pelaku yang mengacaukan segalanya. Ketika Fiona berusaha menengahinya, Eli tidak jadi membungkuk untuk meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.
“Tuhan akan marah jika Anda tidak bisa khusyuk dalam menyembah-Nya ataupun jika Anda tidak mampu menjernihkan kepala.”
Apakah Tuhan memang ada?
“Dia ada, Tuan Clark.”
Eli meneguk ludahnya susah payah. Pertanyaan semacam itu sama sekali tidak diutarakan dari bibirnya; hanya berupa angan tanpa jejak, tetapi mengapa wanita itu seakan-akan bisa membaca apa yang ada di otaknya?
Sebelum Eli bertanya penuh keheranan, Nona Ann menjawabnya dengan pongah :
“Bagaimana Anda—”
“Segalanya terbaca, Tuan Clark. Dari bagaimana Anda memandang.”
Eli dibesarkan pada sebuah perkumpulan manusia dengan kepercayaan menyembah seorang Tuhan yang menetap di penghujung Samudra;
Dia yang menguasai lautan; dia yang memelihara berkat buat membiakkan segala jenis ikan. Sedari Eli belia yang baru saja mencari cara untuk merangkak, orang tuanya telah mengajarkan dan selalu bercerita mengenai bagaimana Tuhan itu bekerja : tata cara yang tepat bagi mereka untuk menjinakkannya, jalan yang mereka harus lakukan demi melepas kutukan dan membayarnya oleh kebahagiaan.
Eli selamanya diarahkan untuk tunduk dan setia, itulah pakta (perjanjian) yang mengikatnya. Meskipun dia buyar dan ingin keluar dari zona itu sekalipun, bukan salahnya jika atas kekangan tersebut pada kenyataan membuatnya begitu merasa muak dan tertekan. Bukan salahnya pula kalau dia tidak bisa memenuhi ekspektasi menjadi hamba sempurna; rasa jenuh itu melahirkan begitu banyak konflik batin yang pula menekan kewarasannya.
Ancient God dalam kepalanya tidak ada; Hastur tidaklah ada—menyebut panggilan sang Dewa Laut bahkan membuatnya merasa berat dan apalah arti statusnya yang disegani karena tutur kata serta perilakunya.
Sepulang dari tempat ibadah, Fiona tidak bisa melepasnya sama sekali. Setelah arti kebahagiaan yang selama ini Eli cari menyelimuti, dia harus menerima kenyataan bahwa sesuatu yang fana seperti itu tidak akan bertahan lama jika dihadapkan pada realitas yang harus membuatnya mematuhi jalan Tuhan yang disembahnya.
“Nona Ann menghukummu?” Fiona bertanya dengan hati-hati, tetapi Eli yang berjalan masih melihat pada ponselnya tanpa menoleh sama sekali.
“Tidak,” ucap lelaki itu singkat. “Fiona, untuk hari ini saja, aku—”
Sebuah pesan mendadak masuk ke dalam ponselnya.
“Siapa?”
Rasa penasaran dari gadis itu bisa dipahami, tetapi Eli yang merasa tidak enak hati hanya tersenyum dan berusaha bersikap ramah sebisa mungkin. Dia akan menjawabnya; barangkali, kalau saja penglihatannya yang tidak sengaja jatuh itu segera menyadari bahwa Aesop di ujung sana, membuatnya berhasil membuka mata.
Eli cukup lam terdiam, mencerna. Kakinya berhenti, Fiona dari belakang masih menanti. Ada satu jawaban yang jelas akhirnya Eli beri :
[ Baik. Kita bertemu alam dua hari lagi, ya? ]
Yang pertama mengajaknya duluan, tidak lain adalah Aesop seorang.
Pertemuan kedua itu di luar ekspektasi. Tetapi cukup membuka kesempatan bagi Eli di kala dia memang sungguh ingin membuat mereka kian dekat di hati. Melepas kepenatan dari berbagai kegiatan penyembahan, Eli mengadakan janji temu di sebuah taman bermain di kota. Aesop yang mengatakan pada surel pesan itu bahwa dia yang datang menyusul. Jadi Eli hanya perlu mengarahkan.
Jantung Eli cukup berdebar untuk menunggu saat-saat seperti ini, kalau ingin dikatakan. Mereka memang baru memiliki kesempatan untuk bertatap muka 2 kali, tetapi tetap saja keberadaannya memberikan pengaruh dan kesan yang berbeda. sebagai seseorang yang dianggap aneh, Eli tidak akan menyia-nyiakaan momentum di mana dia akhirnya bisa mendapatkan teman. Orang yang; akan berguna untuk mendengar maupun menerima kekurangan.
Eli muak dengan orang-orang yang memandangnya rendah. Eli Clark yang diilhami sebagai manusia tanpa martabat karena orang tua yang kepercayaannya menyesatkan. Eli tidak percaya Tuhan; apa itu Hastur, dia hanya—
“Aesop!”
Ditemukannya lelaki itu dekat pada sebuah pemberhentian bus, memakai kacamata dan juga baju kasual panjang. Eli leganya luar biasa; ketika dia menduga Aesop membutuhkan waktu yang cukup lama sampai ataupun tersesat karena memori otaknya yang tidak baik-baik saja. Mata bertemu mata, mengkilat—Eli yang menghampirinya dengan suatu senyum cerah dan kelegaan luar biasa.
Aesop tidak mengatakan banyak sembari dia hanya menyapa singkat. Kesan pendiam yang begitu kentara, tetapi bagi Eli itu penggambaran ekspresi yang tidak buruk juga. Dibanding tatapan benci yang selama ini dia terima, Aesop yang masih memberi perhatian dan melihatnya secara apa adanya adalah hal yang terbaik bagi Eli.
Sesuai apa yang Eli minta, mereka bertemu di salah satu pusat kota; taman bermain, karena Eli yang menginginkan hiburan setelah dia bersusah payah menerima izin. Kegiatan di peribadatan masih berjalan, sayangnya; tidak akan putus sampai dunia berakhir. Eli bersenang-senang untuk menghilangkan penatnya, dan sebagai satu-satunya teman yang berhasil didapat—Eli tidak mungkin melepas kesempatan buat mengajak Aesop di antaranya.
Setidaknya, untuk hari ini—Eli Clark akan menjadi dirinya sendiri. Dia bebas. Tidak perlu mengenakan pakaian ibadah yang konyol iu walaupun hanya sebentar. Eli menarik tangan temannya demi mengajaknya masuk, dan mereka mencicipi segala sesuatu yang ada di dalam sana.
“Kau ingin naik apa?”
“Apa saja terserahmu, Eli.”
Eli tidak dapat menahan senyum puasnya; memutuskan untuk memasuki bianglala, Aesop yang menerima pembuka agenda itu dengan hati lapang dada.
Eli selalu penasaran. Bagaimana rasanya ketika dia dapat meraih puncak tertinggi di bianglala; siluet yang tercipta atas langit cerah yang bias cahayanya mengarah pada pupilnya. Sensasi yang tidak pernah dirasakannya untuk menikmati pemandangan dari ketinggian disebabkan oleh orang tuanya dulu selalu melarangnya. Sesuatu yang didaulat tanpa alasan; Eli yang pada akhirnya takut mencoba.
Kegiatan kultus menyita sebagian besar waktu di hidupnya. Dia tidak memahami kesenangan yang setara oleh anak usianya, bahkan ketika dia kini telah lulus dari masa remaja.
Tangan dengan tangan. Berpegangan erat dan dalam ratapan itu, Aesop merasakan sesuatu berdegup begitu kencang. Sekilas yang terasa buram, tidak terasa karena sepersekian detik itu dia melihat ketercelaan. Mata merahnya jadi menyala—Aesop gemetar; dalam raih sambungan mereka.
Menyenangkan.
Ternyata ini perasaan yang keluar ketika dirimu berhasil kabur dari bayang-bayang kewajiban. Entah sudah berapa kali Eli meminta lagi untuk mengambil kesempatan berputar di bianglala, seolah tak puas. Dan bagi Aesop, dia tidak memiliki masalah untuk memenuhi hasrat teman sepermainannya.
Eli sebetulnya bukanlah anak nakal. Orang tuanya bangga padanya. Tetapi pada kenyataannya seberapa besar pun Eli berusaha untuk memenuhi tuntutan, dia tetap berakhir menjadi manusia biasa. Apa yang membuat Eli kemudian merasa lelah dan porakporanda, lalu dia memutuskan untuk sejenak mundur dan jadi pembangkang.
Sakit itu hanyalah alasan. Nona Ann tidak akan mengetahui kebenaran dia telah berada jauh; ketika Fiona yang mengerti situasi itu juga bermurah hati untuk bekrja sama.
Mereka hening; tidak ada percakapan, tetapi dari hati ke hati, Aesop sekilas tahu warna emosinya. Eli bahagia : dan itu tidak bisa dijabarkannya. Sesekali biru bertemu dengan kelabu, dan di saat itulah Eli melempar senyum manisnya. Mereka duduk berhadapan di masing-masing sisi bianglala. Hanya berdua untuk putaran yang ketiga.
“Apakah kita menjadi teman sekarang?”
Pertanyaan Eli aneh; tentu saja dia menyadari. Aesop sekilas tidak mengerti apa tujuan Eli mengangkat tema pembicaraan rancu. Tapi lelaki itu tetap meresponnya, dengan kepala yang terdongak mencoba mencerna.
“Maaf. Jujur, maksudku—aku tidak pernah memiliki seorang teman selama ini karena dianggap aneh oleh tetangga dan orang-orang di sekitarku. Jadi—”
“Tidak. Kau juga yang pertama bagiku, Eli.” Eli melebarkan bola matanya terlebih ketika pasangan bicaranya melanjutkan, “semua orang yang kukenal selama ini … menghilang tanpa jejak. Dan aku tidak tahu kenapa ataupun ingat mengapa.”
Bianglala yang memuat kedua insan itu berhenti di puncak. Karena panas, Eli bisa melihat secara jelas dari mana arah matahari itu menyinari dan menyakiti matanya. Menyadari Aesop hanya tertunduk dan tidak menambahkan kata apa-apa, membuat Eli melemparkannya oleh pandangan penuh ketidakmengertian.
Menghilang?
Alam bawah sadarnya; tidak—firasat Eli, serta merta mengantarkannya pada sesuatu yang dianggap berbahaya.
Pada akhirnya, kegiatan mereka berkeliling itu disudahi dengan pengadaan makan siang di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari sana.
Tempat ini masih memasuki teritori taman bermain, lebih tepatnya. Eli cukup puas dengan apa pun yang mereka telah lakukan sampai pada detik ini. Karena janji temu dilaksanakan seharian, kemungkinan mereka baru akan pulang malam.
Banyak hal berkesan yang terjadi, Terutama ketika mereka berada di bianglala : karena Eli meminta naik berkali-kali, ataupun kecanggungan yang sempat terjadi. Untung suasana itu masih bisa Eli selesaikan dengan menebar senyum dan tidak bertanya apa pun mengenai keberadaan Aesop yang sebenarnya. Karena dia percaya, bahwa siapa pun Aesop—dia sama sekali tidak peduli.
“Ah, ngomong-ngomong, aku izin ke toilet dulu.”
“Ya,”
Eli tahu Aesop adalah seseorang yang sangat irit berbicara. Tetapi ketika kau membuka percakapan lebih dalam, sebenarnya lelaki itu tidak seburuk yang diduga.
Eli pamit dengan sedikit menundukkan kepala dan berpesan pada Aesop agar menunggu barang 5 sampai 10 menit. Mereka telah menyelesaikan santapan, waktunya untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan. Ketika Eli sepenuhnya lenyap, Aesop menyandarkan dirinya menatap langit biru.
“…..”
Apa yang ada di dadanya ini?
Ada sesuatu yang asing. Sedari tadi, Aesop menhan kepalanya yang sakit. Namun denyut dan rasa pusing itu kian menjadi-jadi ketika Eli tidak ada di hadapannya lagi. Apakah dia terlalu bersusah payah menahan diri? Ketika lelaki itu menyanggupkan untuk menemani Eli di tengah kepenatannya dan berakhir menjadi eksistensi yang berpura-pura kuat.
“Ukh …”
Mata merah itu lagi. Warna yang menyala terang tanpa sebab; lalu rambutnya yang dari kelabu menjadi putih pucat. Perubahan itu membawa keheranan tersendiri dari pengunjung yang mengkhawatirkan dirinya. Fenomena seseorang mengubah warna rambut secara alami, ini gila. Apa yang membuat Aesop merasa tertekan dan dia tidak dapat menahan buas yang menyeruak dari dalam hatinya?
Kepala Aesop nyeri. Benar-benar nyeri sampai dia tidak menyadari bahwa tangan seseorang asing yang mencoba untuk menyentuh bahunya, terpotong dan mengeluarkan darah banyak sekali. Lengkingan orang-orang yang meneriakinya monster, karena perubahan fisik itu perlahan menjauhkannya dari imej manusia. Aesop sendiri tidak mengerti—ada sesuatu yang bangkit. Baik dia dan Eli Clark sendiri, tidak ada yang tahu mengenai mengapa ini bisa terjadi.
Keributan itu memecah rasa aman yang terpatri dalam dada Eli.
Ketika dia kembali, jangankan menemukan keberadaan Aesop. Hiruk pikuk yang dipenuhi manusia dan ambulans yang tiba-tiba datang, membuat Eli sama muntah ketika dia menemukan darah dan organ tercabik yang berceceran. Saksi mata lenyap, keadaan sepi saat kejadian berlangsung atau buruk-buruknya mereka tertawan oleh pelaku. TKP disadari dalam keadaan mengenaskan, semuanya terlambat. Dan yang Eli pikirkan : mengenai bagaimana nasib seorang Aesop.
“Aesop!?”
Ada sebuah insting yang mengatakan bahwa Aesop ada di suatu tempat. Bukan di tempat ini; kumpulan daging yang tidak terbentuk ini. Eli yakin Aesop masih hidup.
Entah dia berhasil kabur dari kawanan penjahat itu, ataupun tengah bersembunyi di suatu tempat atau sesuatu yang berusaha Eli pikirkan semacam itu. mengikuti jejak darah yang menetes dan hatinya yang menuju, Eli berlari ke sebuah gang buntu.
“Aesop …?”
Dan benar, dia mendapatkannya.
Merah yang telah mendominasi kelabu. Surainya yang tak lagi berwarna seperti dulu, pucat; sama dengan wajahnya yang membiru. Eli bergetar hebat, tangannya, kaki-kakinya yang nyaris tidak bisa bertumpu. Eli ambruk dan mundur ke dinding. Suara tubuhnya yang berdebum keras berhasil mengalihkan perhatian Aesop—yang secara wujud, tidak terdefinisikan lagi.
“Aesop … kenapa—”
Bau amis yang menyengat. Begitu membuat momentum itu terasa gela dalam pandang. Dia tidak salah memanggil; tentu. Eli tahu jelas siapa yang berdiri di depannya itu. Langkahnya berderap dengan sebuah tentakel yang menyelimuti dirinya di sekitar.
Keringat dingin meluncur. Suaranya serak; tak berkata. Siapakah Aesop yang sebenar-benarnya? Di saat Eli juga bodoh melucuti pertahanannya tanpa mengetahui apa pun mengenai asal usul Aesop sedari awal?
Seharusnya, Eli tidak mendekatinya. Seharusnya, Eli tidak mencoba peruntungan untuk menemukan teman atas rasa frustasinya. Tanpa mempelajari latar belakang seseorang dan menerimanya oleh keikhlasan yang dibalut oleh kesenjangan bodoh yang sama—Eli masih tidak percaya, bahwa temannya yang pertama, bukanlah seutuhnya manusia.
“Eli …”
Jangan bunuh aku.
Aesop berhenti. Kakinya lema, berbarengan dengan intimidasi yang surut surut. Lelaki yang dikhawatirkan akan mencabiknya itu akhirnya duduk merosot dan badannya ditahan oleh Eli yang secara sigap menolong tanpa merasa takut. Kesadarannya telah kembali; sepenuhnya, membuat entitas yang tidak diketahui itu histeris dan menyesali perbuatan yang tidak disengaja.
Tidak ada satu pun makna dari kejadian itu yang bisa Eli pahami.
Yang dia tahu, dia hanya izin untuk pergi sementara waktu. Tidak menghabiskan berpuluh-puluh menit atau satu jam, dan apa yang dia bayangkan berada di luar nalar. Aesop bertransformasi—menjadi sesuatu yang sayangnya tidak Eli pahami, dan asal-usulnya mengapa demikian menjadi misteri.
Perjalanan hari itu berakhir dengan Eli yang akhirnya memeluk sang entitas. Dia berwarna merah pekat; darah yang mendominasi sekujur tubuhnya, dan barulah Eli mengerti dia telah memakan dan juga membunuh saksi mata serta kepolisian yang bertugas buat menangkapnya.
Tidak ada jejak yang tersisa selain kalau mereka nekat untuk memberingkus dan menjadi mangsa. Eli tidak paham : mengapa dia yang menjadi satu-satunya juru selamat, ketika dia rasa harapan untuk bernapas itu tidak lagi ada.
Aesop dikurung.
Dan atas izin serta konsen Aesoplah semua itu dilaksanakan mereka.
Sebenarnya, Eli terpaksa membohongi orang tuanya untuk membuat Aesop dapat tinggal di ruang bawah tanah rumah keluarga mereka. Orang tuanya yang pergi mencari dakwah ke negeri seberang, tidak akan kembali selama beberapa bulan. Sebetulnya kondisi ini juga aman untuk mengungsikan Aesop : tapi tidak ada seorang pun yang tahu kapan orang tuanya kembali, dan jelas mereka berdua diburu waktu.
“Tuan Hastur,”
“Apa?”
“Kau masih tidak mengerti?”
Saat itu, Fiona yang akhirnya menjadi satu-satunya teman konsultasi (lagi) memberikan pandangan penuh tuntutan berlapis rasa frustasi. Mereka ada di tempat bakti, seperti biasa; sepasca menggelar doa dan tiba di perpustakaan yang berada juga di dalam satu gedung yang sama. Aesop yang masih ‘waras’ dirantai kaki. Eli tidak tega membuatnya tersiksa di ruangan gelap, tetapi apa daya. Dia bisa keluar kendali kapan saja, dan Eli masih beruntung karena dia dibiarkan hidup dan menjalani aktivitas sembari mencari solusi buat situasi mereka.
“Aesop yang kau maksud itu … adalah perwujudan dari Dewa Hastur. Sebagai seorang Tuhan, dia tidak memiliki fisik serupa manusia sehingga bentuk wadahnya yang fana tidaklah jatuh sempurna.”
“Jadi, Aesop sejak awal takdir, bukanlah manusia dan hanyalah berupa … tubuh pengganti?”
Keduanya bertatapan. Ada jeda. Penjelasan itu tak sepenuhnya masuk ke akal Eli, apa yang membuatnya kemudian berputar dan tidak bisa benar-benar mengerti. Sejak awal; pertemuan itu—takdir yang mempertemukan mereka itu ialah karena nasib berupaya membuat Eli percaya, Hastur ada di dunia.
Keraguan yang didapatkannya setelah berkali-kali merasa kecewa, dan sayangnya kini dia terlanjur menyukai ‘Hastur’ dalam nama yang telah diberikannya. Bagi Eli, mereka eksistensi yang berbeda. namun bagi Fiona, dia menilai mereka hanyalah terpisah oleh ingatan yang temaram saja.
Eli menuntut penjelasan lebih banyak dari Fiona, mereka barangkali telah selesai meminta jalan pada Tuhan; tetapi pikiran yang berkecamuk tetapi pergi ke mana-mana. Nona Ann tidaklah perlu tahu bahwa Hastur ada di rumahnya, dan perpustakaan yang menjadi titik temu mereka lengang luar biasa. Fiona kemudian menarik tangannya—membawakannya pada sebuah buku tebal, ayat di mana mantra dan penjelasan itu ada.
“Kalau kau ingin menolongnya, ada satu cara. Tapi ini sangat beresiko.”
“Apa?”
Apa pun ganjarannya, selama ada jalan; Eli ingin dengar. Fiona menyerahkan buku itu pada Eli. Membiarkan mereka membaca, mencari tahu lebih detail; legenda yang telah jatuh dan tidak bisa dipercaya dengan logika.
“Kultus selalu menginginkan kebangkitan Ancient God, meski dengan begitu dunia kiamat sekalipun; dan tata cara ritualnya tertulis pada ayat 19 alkitab. Purnama merah adalah satu-satunya waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Ritual ini bisa saja digagalkan dan Hastur tetap menjadi manusia selama 1000 tahun lagi. Tetapi …”
“Bila aku gagal?”
“Kau yang akan kehilangan sesuatu dari kehidupanmu nanti, Eli.”
Dengan kata lain, jalan yang mana pun dia pilih, tidak akan menunjukkan kebenaran apa pun pada cahaya.
Bagi Eli, pesta ini adalah sebuah ironi.
Ada banyak pertimbangan yang harus Eli ambil, tetnunya tanpa upaya untuk menyederhanakan yang menjadi konsekuensid di antara mereka. Eli tidak rela Aesop menghilangkan jiwanya—pecah dan tidak agi bernama menjadi Hastur, lalu dia lenyap dan mati bagaikan abu yang tidak berharga. Bukankah itu pembasmian yang keji? Maksud Eli—
Hastur dan Ancient God adalah sesuatu yang berbeda. pemikiran Eli mutlak dan tidak bisa diganggu gugat meski dia telah berdebat dengan Fiona yang menamparkannya pada fakta. Opsi manapun tidak baik. Dia tidak ingin membuat Ancient God bangkit; kiamat bagi mereka terlalu dekat dan Eli terlalu berbaik hati enggan menyeret mereka yang tidak bersalah untuk kemudian mati. Tetapi merelakan Hastur dalam nama Aesop, juga bukan kehendaknya sama sekali.
“Jalanilah,”
“Aku …”
Saat kebenaran itu akhirnya dia sampaikan pada Aesop, tentu saja Eli sudah mengetahui apa yang akan dijawabnya. Aesop, sebagai Hastur yang mengerti bahwa dia adalah hama yang berbahaya bagi umat, amat sangat mengerti jika mereka menginginkan kedamaian maka satu-satunya jalan adalah dengan menghilangkan hawanya di dunia. Eli masih bersikeras dan tidak mau serta merta percaya pada kemampuannya dalam mengambil keputusan. Dia bimbang dan gila.
“Tidak, Aesop. Bagiku, kau tidak berbahaya. Jadi—”
“Dari segi apa kau berkata seperti itu?” Aesop menarik dagu dan pipi pria itu, membuat mereka saling jatuh bertatapan. Kelabu menjadi merah. Penampilannya mengatakan Ancient God di dalam dirinya memberontak dan bisa kapan saja membunuh Eli juga.
Dan selagi mereka memiliki cara untuk mencegah, maka itulah satu-satunya pertaruhan yang Aesop miliki untuk mengamankan dunia mereka.
“Selama aku bisa mengendalikan diriku … aku pikir aku pantas mati, aku telah berbuat banyak dosa,”
“Bahkan Tuhan pun pernah berbuat kesalahan, ya?”
Aesop hanya diam.
“Aku tidak akan pernah rela membuatmu mati.”
Aesop tidak mengerti makna ketulusan itu sama sekali. Dia hanya tahu, Eli terlalu baik sebagai manusia. Eli terlampau berharga untuk mengorbankan dirinya. Aesop—Hastur tidak pernah mengingat apa pun; dia terlahir begini apa adanya, membaur di antara manusia tanpa menyadari sisi berbahaya yang ada di dalam dirinya.
Pada pertemuan pantai itu, Aesop serius mengatakan dia tidak mengetahui namanya. Dan satu kali keindahan merasakan menjadi lega itu, karena Eli datang untuk memanggilnya.
Tanpa sadar, dari belah mata Aesop turun tangis yang menyayat hati. Aesop juga sama memiliki niat dengan Eli, dia tidak ingin membahayakan apa pun pada pahlawan yang telah menyelamatkannya dari keterpurukan.
Aesop selama ini tidak sadar dia telah menjadi pembunuh yang memakan manusia, dan mengendalikan dirinya sekuat tenaga agar tidak mencelakakan Eli adalah taraf akhir dari keajaiban itu sendiri. Padahal, mereka bertemu tidak dalam waktu yang lama. Cukup dikatakan lama hingga Aesop mengerti bagaimana perjalanan hidup yang pernah Eli alami selama dia pertama kali lahir di dunia.
“Maafkan aku,”
Aesop tidak tahu untuk siapa permintaan itu ditujukan. Apakah untuk dirinya yang telah merepotkan : apakah karena, dia masih bersikeras Eli agar tidak kehilangan apa pun untuk menolongnya. Bisa jadi nyawa : itulah apa yang Aesop takutkan; sebab apa pun pilihannya, salah satu dari mereka mati atau mereka menyerahkan kiamat untuk membinasakan semuanya sekalian.
Jemari Eli tidak berhenti menelusur; kemudian berhenti pada kedua sisi pipi yang Agung. Tatapan sendu penuh derai yang perlahan membawa bibir mereka bertemu. Aesop cukup membelalakkan mata di sini : tetapi Eli hanya membalasnya dengan senyum lalu memeluknya.
“Ada satu hal yang baru saja kusadari sekarang, Aesop.”
Aesop menatapnya penuh tanda tanya, masih mengalami syok dengan yang barusan tetapi degup jantungnya berusaha dia netralkan.
“Kalau aku sebenarnya …. menyayangkanmu mati itu bukan karena menjaga teman.”
Hangat,
Meskipun tidak ada yang benar-benar tersampaikan; setidaknya dekapan itu membuat Aesop bisa memejamkan matanya dan dia menerima apa pun keputusan yang akan Eli ambil nantinya. Aesop percaya apa yang akan Eli pilih : selama itu yang terbaik untuk kisah final mereka, Aesop rasa dia juga tidak segan untuk bunuh diri.
“Aku mencintaimu, Aesop. Aku bersumpah akan akan membuat kita bersama-sama hidup, walaupun dalam 1000 tahun akan berakhir mengenaskan lagi, walaupun pada akhirnya—kau yang putus asa, harus memulai segala sesuatunya dari awal kembali.”
Mereka saling menjatuhkan pandang. Dan apa yang benar; adalah kesaksian untuk saling menerima pilihan.
Pada intinya, sebodoh apa pun Eli—dia jelas mengetahui bahwasannya ritual ini beresiko sekali.
Purnama merah tinggal menghitung mundur waktu tidak sampai seminggu. Dan mereka kehabisan waktu jika malam itu datang dan kebangkitan Ancient God tidak bisa dicegah lagi. Sesuai arahan Fiona yang menyokong persiapannya, mereka akan mengadakan ritual di tengah deru air asin pantai.
Lingkar sihir yang berada di dasarnya; bersinar sebelum purnama bulan mencapai sepenuhnya. Tidak ada yang boleh melihat—jadi Fiona yang terpaksa terusir, hanya bisa berdoa pada keselamatan sang sepupu ke depannya.
Mereka merahasiakan ini pada kontak luar, apalagi kultus yang tidak mengetahui apa pun. Eli mengorbankan dirinya dan dia berkata pada Fiona untuk memungut jenazahnya jika di tengah ritual itu, Hastur (Aesop) mengamuk dan memutilasinya. Fiona sama sekali tidak mau mendengar hal menyeramkan itu—merutuk pada Eli, yang juga tidak bercanda sepenuhnya.
Ya, Eli mencintainya. Aesop itu sendiri, dan Hastur yang telah menjelma memakan memorinya. Bagi Eli, dua entitas hastur yang kini dan Ancient God yang tidak bisa terkendalikan adalah berbeda. Tetapi Eli menyadari dengan baik jika dia tetap berjalan, maka akan ditemukannya berbagai kemungkinan untuk membantu keadaan. Eli hanya menginginkan akhir yang damai : dia dan Aesop, tidak lebih sebagai sebuah penutup duka.
“Apa kau siap, Aesop?”
“……”
Aesop telah berdiri di atas lingkar sihir itu. Bentuknya sabit, biru benderang; dan bagaikan riak yang tak berani menganggu, air itu surut di sekitar kaki mereka. Dalam hitungan detik, cahaya purnama akan datang. Dan dia terbang.
Eli memakai pakaian ibadahnya satu kali itu di hadapan Aesop. Menempatkan dirinya dengan sebuah buku mantra dan juga ayat-ayat yang telah dihafalkan. Sekarang tinggal mengiring bagaimana ritual ini akan berjalan lancar; selagi Aesop dan Eli telah memantapkan hati mereka untuk bekerja sama. Eli butuh ketenangan dan konsentrasi. Dia telah siap.
Tubuh Aesop yang perlahan terangkat ke langit-langit itu menciptakan sinar merah yang menyilaukan. Teriakan melengking dari jelmaan yang merasakan sakit luar biasa di kepala; membuat urat-uratnya terlihat dan Aesop mencoba mencegah tentakel yang mulai tumbuh dari ruas pinggangnya.
Wajahnya geram; seperti seseorang yang kehausan darah, jatuh berlutut menimpa air asin yang dangkal membasahi celana. Aesop memegangi kepalanya tanpa sadar. Eli di hadapan, sembari lingkaran itu semakin menelan bayangan monster yang masuk, dia membacakan ayat dengan merdu.
Sedikit lagi. Bertahanlah, sedikit lagi. Purnama akan membantu menyinari mereka akan jalan kedamaian. Aesop semakin masuk ke dalam lingkar itu, nyaris tak tertolong. Adegan itu membuat fokus Eli buyar, karena dalam detik-detik itu pun dia tahu jika dia membuat ritual itu berhasil di tangannya untuk saat ini, maka Hastur dalam perwujudan fisik itu akan lenyap dan tidak akan kembali dalam 1000 tahun lagi.
Eli cemas dan tanpa sadar, kemelaratan itu membuat tangisnya pecah tertahan dan mulutnya rasa. Tinggal satu hal lagi yang harus dilakukannya : sebagai penutup yang akan mengakhiri kesengsaraan serta keresahan umat manusia :
“Namamu adalah—”
Sebelum satu kata itu selesai diucapkannya, satu hantaman keras mengenai dada Eli telah membuatnya dibanjiri darah melalui mulutnya.
Beberapa hari kemudian.
Bising suara yang mengganggu telinga membuat seseorang yang tengah terbaring menggeliat gelisah. Dengan suasana tidak nyaman itu, dia bergerak untuk mencoba membuka kembali matanya yang terasa. begitu berat.
Suasana di sini cukup gelap; tetapi bersih dan tertata. Pencahayaan hanya dari sebuah jendela yang bertirai, tidak mampu untuk benar-benar menutup mentari yang mengintip masuk. Ketika matanya menangkap sebuah kaca, dia beradaptasi menerka siapa yang menjadi bayangan di hadapannya.
Lelaki itu melihat dirinya sendiri. Sesuatu yang nostalgia dengan rambut perak dan juga mata merah. Tetapi, ingatan itu tidak ada. Dia bertanya siapa namanya : tetapi ketika tidak ada satu pun makhluk yang kini menemani, pertanyaan itu tentu tidak berujung keluar dari bibirnya. Dia merasa haus dan juga lelah. Padahal, telah tertidur dalam waktu yang cukup lama.
Tidak beberapa lama kemudian, dari arah pintu yang terbuka seekor burung hantu muncul dan membuat pria itu menggeram takut. Burung itu bertengger di sebuah gantungan baju yang terpajang di sana. Menimbulkan keheranan tersendiri tetapi dia tidak lanjut bertanya; seseorang yang lain masuk bisa diajaknya bicara.
“Bagaimana keadaanmu?”
Dia; yang berambut kecoklatan, penutup mata bertengger menutupinya dari bagaimana dia memandang. Lelaki bersurai perak yang ditanya memiringkan kepala, hanya mengheningkan diri pada pemuda yang membawa nampan dan kemudian duduk di sisi ranjangnya.
“Siapa?”
“Eli,” lelaki itu bermonolog, “Eli Clark. Aku yang mengurusmu sampai saat ini.”
Eli memampangkan senyum. Seolah tidak terkejut ataupun marah terhadap pria yang diurusinya tidak mengenalnya sama sekali. Burung hantu yang terbang kini bertengger di bahu. “Kau pasti lelah, makanlah dulu, ya.”
Yang ditanya menggeleng lemah; “itu … aku—”
Seolah mengerti kebingungan yang menimpa, Eli menjawab cepat dan memegang tangannya. “Aesop. Namamu adalah Aesop.”
“Benarkah?” dia mengerjap.
“Benar. Kau adalah seseorang yang berharga buatku, Aesop.”
Inilah yang terbaik. Ketika Eli memasrahkan keadaannya untuk melenyapkan Hastur, dia tidak bisa melakukannya sedikit pun. Pada akhirnya, dia memilih untuk merelakan dirinya. Tanpa tahu apa yang harus dibayar saat dia menggagalkan ritual yang telah berlalu.
Akhir dari penyelamatan itu membutuhkan nama. Nama yang mengingatkan Hastur sendiri sebagai siapa sosok dirinya. Monster yang akan memangsa siapa pun, menidurinyaa selama 1000 tahun ke depan adalah pilihan terbaik jika ingin mengamankan segala sesuatu.
Tetapi Eli tahu dia tidak akan hidup selama itu : konsep reinkarnasi yang bertentangan, tidak selamanya bisa dia andalkan untuk mempertemukannya kembali pada Aesop yang barangkali tidak dapat diraihnya.
Jadi, dia merelakan matanya. Merelakan kemampuan visualnya untuk merasakan arti menyenangkan dunia. Tidak lebih berharga dari Hastur yang bernyawa; dalam balut tubuh pemuda idaman yang selalu dia puja sebagai Aesop di antara panggilan terkasihnya. Eli yang dulunya tidak percaya pada pengasih itu, kini membuka diri untuk mencintai Aesop sebagaimana dia mengakui bahwa ketulusan adalah satu-satunya hal yang mampu ditempuh olehnya.
Cara dia memandang yang kini berbagi dengan sang burung hantu—itulah satu-satunya hadiah terbaik; yang bisa dia dapatkan dengan mengorbankan yang lain.
Ekspresi Aesop yang penuh ketidakmengertian itu membuka begitu banyak tabir. Melihatnya hidup sudah lebih dari cukup; Eli menarik tangan sang lelaki dan mengecup bagian punggung tangannya.
Khidmat dan lama. Aesop yang belum sepenuhnya pulih dan hanya menerima perlakuan itu dengan pandangan yang mati.. Bagaimana pun, Eli yang memaksakan masa depan. Untuk mereka, dengan menggagalkan segala jalan.
“Aku tidak mengerti,”
“Tidak apa-apa, Aesop. Tidak apa-apa,” Eli menenangkannya walaupun getar dari tangan itu membuatnya terlihat tak berdaya. “Kita akan menjalani semuanya pelan-pelan. Aku yang akan membimbing dan membantumu. Kita akan hidup sampai akhir hayatku, bersama; kau yang tidak perlu mengingat apa pun. Kau percaya padaku, kan?”
Senyum berat yang melahirkan perasaan lega. Aesop membalasnya dengan cara yang sama : meyakini Eli Clark akan memberikan dukungan sampai nanti perpisahan mereka tiba. []
