Work Text:
Belum lagi dua puluh tahun umurnya, Atsushi telah melebihi kata mahir dalam hal ihwal memuaskan nafsu batin-batin pria yang kering dahaga gelora bercinta. Butuh beberapa waktu sampai kulit putih susunya cukup halus untuk membuat setiap jemari yang menyentuhnya seperti diberi sensasi membelai sutra, pinggangnya terlalu kecil sampai Rintarou terpaksa memperhatikan sendiri makanan yang masuk dalam perut Atsushi demi proporsi tubuh ideal yang tidak hanya memanja mata. Dalam asuhan Chuuya, Atsushi mampu mengatur dengan baik raut wajah ayunya menjadi semakin segar menggoda. Manik jernih dwiwarna di balik kelopak matanya yang sekarang telah dihias bubuk pewarna merah muda lembut mampu membuat putra-putra bupati tersandung langkahnya sendiri. Jika Rintarou adalah cempaka yang wanginya menggetarkan sukma, Chuuya si mawar yang merah merekah menggoda untuk dijamah, maka Atsushi adalah kuncup dari keduanya. Muda dan segar, urung banyak dicium oleh lebah-lebah nakal yang ingin mencicipi rasa nektar dari si bunga.
Mengejutkannya, harimau kecil kesayangan Rintarou ini sangat pemilih jika ingin tidur dengan pelanggan. Tidak seperti Chuuya ataupun lacur lain yang dengan senang membuka kaki mereka. Bukan karena Atsushi memasang harga yang tinggi untuk dapat menjamah surganya. Dia hanya malas dan berujung diam-diam melarutkan obat tidur dalam gelas arak pelanggan. Rintarou menyerah menasehati bocah kencur ini dan membiarkannya berlaku sesuka hati asal tetap menghasilkan uang. Pernah suatu malam ketika Atsushi meminta Rintarou untuk menyisir rambutnya, bocah itu menjawab pertanyaan Rintarou perkara dia yang masih belum ingin bergumul dengan siapapun pelanggannya.
“Mereka kurang tampan. Aku hanya ingin memberikan yang pertama ini untuk pria paling tampan Mori-san.” Ujar Atsushi percaya diri.
“Kau bocah pemilih. Dasar remaja ayu! Sayangku yang paling kusayang-sayang.. biar kutebak saja kalau begitu. Kau takut bukan Atsushi?”
Rintarou terlampau gemas sampai dia menarik pelan kedua pipi Atsushi yang berisi karena terlalu banyak makan kue ketan. Dari semua manusia di rumah indah ini, Rintarou-lah yang paling sering memanjakan Atsushi dengan menghadiahinya berbagai makanan manis. Tak heran bibir si bocah kencur selalu memiliki rasa manis dari gula-gula tebu apabila dikecup.
“Ah, tidak-tidak! Mori-san lebih cantik, lebih lebih menyihir wajah jelitamu itu dibandingkan dengan pipi bulat milikku ini. Dan tentu aku tidak takut. Mengapa takut?”
“Hanya menggoda saja kok. Jangan sering-sering memajukan bibir apabila kesal Atsushi, kau terlihat seperti anak umur lima tahun kalau begitu.”
“Mori-san, sungguh ... dengarkan aku. Kan boleh aku memilih siapa yang akan kuberikan keperawananku ini?”
Karena Atsushi masih begitu muda, agak kewalahan Rintarou menghadapi sifat keras kepalanya yang sedikit banyak mirip seperti Chuuya. Biarlah, lagipula sampai saat ini dia juga belum menemukan pria yang mampu membayar seharga berhektar-hektar tanah hanya untuk tidur dengannya. Boleh dikata Rintarou adalah pelacur paling mahal, belum pernah ada pria yang mampu membuatnya mau bersenggama. Kepingan emas dan lembaran uang milik pelanggan yang selama ini disuguhkan sebagai gadai untuk tubuhnya belum memenuhi keinginannya. Sulit memang tapi tidak sedikit pejabat, petinggi militer, para pebisnis yang tergila-gila dan rela miskin hanya untuk tidur dengan Rintarou. Yang berujung hampa tentunya. Dan Atsushi ingin nanti dia seperti Rintarou, karena harga untuk raga penuh kenikmatan seperti milik mereka haruslah mahal harganya. Bukankah begitu?
Sampai pada waktu Rintarou bertemu dengan orang bernama Fukuzawa Yukichi. Petinggi di daerah mereka yang terpandang berbudi sekaligus pengusaha rempah sukses yang banyak berteman dengan orang-orang penting dari Belanda. Lucunya, Rintarou memberikan bunganya yang mekar bukan karena rayuan manis harta, tetapi karena dia sukarela. Lebur si sundal mahal karena dia jatuh cinta. Yukichi juga tak mau kalah gila karena dia bahkan telah berniat menaruh asmara saat pertama kali menatap mata magenta yang amat memesona.
Mulai bosan jua Atsushi menunggu pangeran tampan. Lagipula jika dilogika, mana ada pangeran datang ke tempat persundalan. Terkadang muncul rasa iri apabila Chuuya sedang pura-pura terganggu karena kehadiran pria berambut cokelat yang tidak dia ketahui namanya itu, ditambah Rintarou yang sekarang lebih sering tersenyum bersama Yukichi. Di waktu-waktu membosankan Atsushi biasa akan bermanja-manja seperti bocah cilik meminta ditimang ibunya pada Rintarou, tapi sekarang dia hanya bisa menghabiskan waktu berlatih membuat karangan bunga di teras rumah.
Musim cepat berganti, lama pula Atsushi menunggu sampai tahu-tahu sebentar lagi sudah pergantian tahun, itu berarti akan lebih banyak pria yang datang untuk mengistirahatkan beban sesak mereka dalam pijatan hangat manusia-manusia cantik di rumah ini. Atsushi tidak peduli, bahkan saat Dazai Osamu (pria berambut cokelat yang sekarang dia ketahui namanya) menyapa dan menghadiahinya sekotak permen susu. Di susul pria berambut perak yang langsung lurus mengayun langkah untuk masuk tanpa mengetuk ke kamar si tuan rumah, Rintarou. Tiba-tiba saja dia menghela napas malas. Karena tidak ada yang lebih buruk daripada melihat orang terdekatmu berkasih-kasihan merayu asmara.
“Sial! “
Satu tangkai mawar jatuh menyedihkan yang langsung saja duri-duri tajam di batang hijaunya itu diberi tatapan nyalang oleh Atsushi. Cairan merah pekat mulai merembes setelah Atsushi memekik kaget karena sengatan perih pada ujung telunjuknya. Dia berniat untuk mengusap darah lukanya pada kain bajunya saja, sampai ada tangan lain yang membawa telunjuknya untuk diusap dengan selembar saputangan. Perlahan Atsushi mendongakkan kepala. Dan demi segala-gala yang dia punya, penantian Atsushi berakhir malam ini. Atsushi menemukan pangerannya.
“Saya tidak menyangka pemuda seperti kamu ternyata bisa menjerit sekasar itu.”
Hal pertama yang menyita perhatian Atsushi adalah bagaimana wajah dingin pria di depannya kini terbingkai dengan rambut hitam dengan ujung warna putih. Lucu dan aneh.
“Seperti bagaimana Tuan?” Atsushi sengaja merendahkan suara.
Rahang si bocah kencur hampir jatuh menganga sebab tatapan dari pria yang dipanggilnya tuan tadi mampu melemaskan otot-otot raga. Tenang dan dalam, Atsushi melihat kelembutan yang tersembunyi di sela abu-abu iris matanya. Selera berpakaiannya sangat baik apalagi wajah keturunan darah biru itu, memang tampan tiada dua.
“Seperti ceri hutan.”
Atsushi memiringkan kepala tidak mengerti.
“Kecil lagi manis,” dilirik sesaat wajah Atsushi dengan senyuman kecil di ujung bibir sebelum akhirnya pria itu melanjutkan “... dan liar.”
Astaga Tuhan .... Batin Atsushi bersorak girang. Sudah lama bunganya menunggu waktu untuk mekar. Dan pria yang diibaratkannya pangeran tadi akan mendapat kehormatan menyesap nektar paling manis yang sudah lama Atsushi simpan. Sudah pasti si pangeran adalah yang pertama bagi kesayangan Rintarou itu, atau mungkin pria pertama dan satu-satunya.
Mengabaikan pangerannya yang hanya diam menyesap secangkir teh melati, Atsushi memilih untuk duduk di meja riasnya dan mengoles pemerah bibir. Sejauh karirnya menjadi penghibur sekaligus pelacur paling muda di rumah bordil ini, kebanyakan dari pria-pria yang menyewanya bertujuan mengajaknya bergumul. Namun, Tuan Akutagawa Ryunosuke sepertinya berbeda. Atsushi bingung, kalau hanya ingin mengobrol sembari minum teh mengapa harus repot menyewa lacur. Bukannya dia protes, cuma heran saja. Lagipula Atsushi begitu beruntung dapat mempersilahkan Akutagawa menjadi tamu paling istimewanya.
“Tuan.”
Panggil Atsushi dari tepi ranjang.
“Ya?”
Akutagawa hanya menanggapi sekenanya. Sulit. Mengingat dia ini ternyata bawahan dari kekasih Rintarou, sifatnya ya seperti angka sebelas dan dua belas.
“Apa Tuan tidak ingin tidur denganku?”
“Tujuan saya menemuimu hanya ingin bertanya nama saja.”
“Sekarang Tuan sudah tahu namaku. Atsushi, Nakajima Atsushi. Biasanya orang-orang menjuluki aku harimau putih.”
Cangkir teh diistirahatkan di atas tatakan keramik bermotif burung phoenix. Agaknya Akutagawa mulai tertarik bercakap banyak dengan Atsushi.
“Mengapa?”
“Karena rambutku.”
Akutagawa kemudian mengangguk tanda mengerti.
Lama keduanya bercakap dengan bahasa bisu. Lilin-lilin hampir terbakar seluruhnya. Sengaja si pemilik kamar membiarkan jendela terbuka, mengundang sepoi angin malam membelai kelambu-kelambu putih di empat ujung ranjang.
Malam ini, Atsushi memilih yukata hitam dengan ornamen benang-benang emas untuk dia dikenakan. Yukata itu membalut tubuhnya begitu elok dipandang di bawah sendu cahaya lilin. Lucunya Akutagawa juga memakai setelan pakaian berwarna hitam yang tidak kalah menawannya. Kalau boleh Atsushi berandai-andai, mereka seperti dua pengantin.
“Tuan betul tidak ingin berada dalam dekapanku hm?”
Belum juga menyerah Atsushi menawarkan diri.
“Tidak ingin.”
“Tidak ingin atau tidak bisa? Tuan, kalau memang Anda tidak mengerti aku bisa mengajarimu. Coba kemari sebentar saja. Ranjangku begitu empuk untuk diabaikan.”
Akutagawa berdiri. Masih dengan wajah datarnya yang dingin menggoda.
Beberapa lilin kemudian habis meleleh. Semakin redup penerangan di kamar itu, Akutagawa semakin dekat dengan lacur muda di ujung ranjang.
“Atsushi kau mengagumkan. Tapi tujuan saya kemari memang bukan untuk hal itu. Kau sangat pemaksa rupanya. Kalau begitu boleh saya meminta sesuatu?”
“Silahkan. Apa saja Tuan.”
Jemari kecil Atsushi dipindahkan dalam genggam tangannya yang sedikit berkeringat. Genggam berubah menjadi remasan lembut. Sihir dari pesona dua manusia itu sedang beradu. Atsushi dengan mudah mengikuti langkah Akutagawa yang menuntunnya mendekati jendela kayu yang terbuka. Dalam guyuran sinar rembulan mereka berdansa. Kedua tangan Akutagawa terlampau sering dipakai untuk menulis jurnal-jurnal membosankan. Dan pinggang Atsushi membawa sensasi baru yang menyenangkan untuk saraf-saraf jemarinya saat digamit mesra. Sayang, sihir Akutagawa masih kalah mandraguna.
Wajah ayu kemerah-merahan yang dibelai indah rembulan, mata dwiwarna di lindungan bulu mata nan lentik, bibir tipis merah delima. Atsushi hanya perlu diam untuk membuat Akutagawa seperti dalam pengaruh guna-guna. Sihir paling menakjubkan dari alam semesta ternyata ada pada pandang lucu pemuda mungil yang diajaknya berdansa.
Akutagawa rasa, dia sedang diberkahi Dewi Kamaratih yang menitipkan cinta dalam hatinya untuk si pemuda Atsushi.
