Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-08-26
Words:
1,237
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
27
Bookmarks:
1
Hits:
563

Care about You

Summary:

Pasca pertempuran Dressrosa, Robin mengalami luka cukup parah di punggungnya akibat serangan Diamante saat ia berusaha melindungi Rebecca.

Work Text:

Malam hari setelah mengalahkan Doflamingo dan antek-anteknya di Dressrosa, Luffy-tachi beristirahat di rumah milik prajurit mainan, Kyros. Luffy yang tubuhnya dipenuhi perban, tidur lebih awal di ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu, di susul Usopp yang juga terlelap sesaat setelah Luffy.

 

Robin, Zoro, Franky, Law, Kinemon, Kanjuro, Belami dan Kyros juga bersiap untuk tidur namun tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Sabo, yang merupakan kakak Luffy. Dia datang untuk memberikan Vivre Cart dan menceritakan bagaimana hubungannya dengan Ace dan Luffy.

Setelah kepergian Sabo, semua bersiap tidur, kecuali Zoro dan Kyros. Mereka saling sharing mengenai pedang sembari menikmati sebotol sake. Ketika tengah asik berbincang dengan Kyros, Zoro menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Robin. Robin terlihat gelisah dalam tidurnya. Hal tersebut membuat Zoro bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan wanita berambut panjang itu. Ia kemudian berpura-pura tidur agar Kyros juga tidur sehingga dia bisa mendekati wanita satu-satunya di ruangan itu.

 

Meskipun tidak ada pernyataan resmi sebagai sepasang kekasih namun Zoro dan Robin saling perduli satu sama lain. Mereka dapat mengerti satu sama lain tanpa banyak kata yang terucap. Hanya melalui tatapan mata dan perlakuan, mereka dapat saling berbagi rasa cinta.

 

Zoro berjalan perlahan ke arah Robin yang sedang terbaring dengan posisi miring di lantai. Ia mengambil posisi setengah berbaring dengan satu tangan menyangga kepalanya di depan sang Arkeolog. Pendekar pedang beraliran Santoryu itu menggunakan tangan bebasnya untuk menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah Robin hingga ia dapat melihat jelas wajah wanitanya itu. "Robin..." bisik Zoro pelan agar tidak membangunkan yang lain. Ia mengusap pundak Robin agar gadis itu terjaga dari tidurnya.

Tidak butuh waktu lama untuk membangunkan Robin. Gadis berambut hitam panjang itu membuka matanya dan otomatis mengukirkan senyum manis di bibirnya ketika melihat Pria berambut hijau di depannya. "Ada apa? Kau belum tidur?" Kata Robin hampir tak terdengar karena ia hanya sedikit menggerakkan bibirnya.

"Tidurmu gelisah, beberapa kali wajahmu menyeringai, kenapa?" Tanya Zoro.

Robin tersenyum dengan sedikit rona merah di pipinya, merasa diperhatikan lebih.

"Tidak apa-apa, mungkin aku terlalu lelah" jawabnya.

Zoro mengerutkan dahi tak puas dengan jawabnya yang diberikan Robin. Ia kemudian menggeser sedikit tubuhnya agar lebih dekat dengan Wanita di hadapannya. Tangannya dari yang sebelumnya mengelus bahu kini pindah ke punggung perempuan dihadapannya ini.

"Aww.." Robin meringis kesakitan ketika elusan tangan Zoro mengenai luka di punggungnya yang ia dapat dari pertempuran tadi siang.

"Yappari... punggungmu terluka?"

"Hanya luka kecil" Jawab Robin dengan senyum termanis yang ia punya, berharap sang pendekar pedang berhenti mengkhawatirkannya.

Zoro menghela napas. Ia mengambil posisi duduk dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang mencari kotak P3K yang sebelumnya dipakai untuk mengobati luka Luffy.
Setelah menemukan, ia mengambilnya kemudian memandu Robin keluar dari rumah itu.

"Ikut aku" kata Zoro sembari mengulurkan tangan ke Robin, membantunya berdiri.

Tanpa bertanya, Robin menurut.

Mereka berdua duduk di kursi yang ada di depan rumah itu. Di hadapan mereka terdapat ladang bunga yang luas dan cantik. Kebetulan malam itu langit sangat cerah, bulan sabit bersinar sempurna tanpa penghalang dan ditemani ribuan bintang yang berkelap-kelip seakan memanggil untuk di petik. Semilir angin malam berhembus perlahan hingga kesejukan mampu dirasakan dua insan itu.

Robin duduk dengan punggungnya membelakangi Zoro.

"Boleh aku melihat lukamu?" Zoro meminta izin melihat luka Robin yang artinya ia harus mengangkat ke atas bagian belakang baju Robin yang saat itu mengenakan sweater pink.
Robin mengangguk meng-iya-kan sembari mengumpulkan rambut di bahu kirinya dan menariknya ke depan.

Dengan hati-hati Zoro menarik ke atas bagian belakang baju Robin. Ia terkejut mendapati bahwa luka itu bukan hanya luka goresan, namun juga dalam seperti tertancap duri. "Luka ini... bagaimana kau mendapat luka seperti ini?" Ia menyentuh lupa yang masih merah dan basah itu.

 

"Caritanya penjang, kau mau mendengarkan?"

"Tentu" jawab Zoro sembari meneteskan cairan antiseptik di kapas dan mulai memberikan perawatan pada luka Robin.

"Tadi kau lihat aku terbang bersama kepala ayam dan gadis rambut pink, szzszzzszzhhzz kan?" Robin mendesis menahan perih saat Zoro membersihkan lukanya.

"Hm.." jawab Zoro sambil terus merawat luka Robin. Sesekali ia meniup luka itu untuk mengurangi rasa perih yang timbul.

"Saat itu kami membawa kunci borgol Trao, dan sepakat untuk bertemu di ladang bunga matahari, tapi di sana ada tuan prajurit sedang bertarung dengan Diamante, salah satu anggota eksekutif Donquixpte Family, dia bisa membuat hujan ranjau berduri. Oleh karena itu, aku membuat payung dengan mengumpulkan bunga matahari untuk berlindung bersama gadis itu. Tapi lama-lama payung buatanku tidak cukup kuat hingga duri-duri itu berhasil lolos dari kumpulan bunga matahari. Aku terluka karena melindungi gadis rambut pink yang ternyata putri tuan prajurit"

"Kau menggunakan punggungmu untuk melindungi orang lain?" Kata Zoro setengah berteriak.

"Ssstttt... pelankan suaramu. Aku tidak ingin tuan prajurit mendengar bahwa aku mendapat luka ini karena melindungi putrinya"

"Oh, maaf" bisik Zoro.

"Aku tak punya pilihan, Luffy mempercayakan keselamatan gadis itu padaku, aku tak bisa membiarkannya terluka"

"Tapi kau tak seharusnya menyembunyikan luka seperti ini dariku, tadi kau memakai jubah milik... " Zoro berpikir sejenak. "Kalau tidak salah, bukankah jubah itu milik pria rambut panjang dan berkuda putih?" Lanjutnya.

"Kau bertemu dengannya?" Tanya Robin, dengan sedikit memiringkan kepalanya, agar telinganya dapat mendengar Zoro lebih jelas.

"Iya.. aku bertemu dengannya ketika bersama Luffy dan Law, dia marah-marah tanpa penyebab yang jelas, katanya Luffy telah mengambil popularitasnya"

"Fufufu, biar begitu dia menyelamatkanku lho"

"Menyelamatkanmu?" Zoro menghentikan aktivitasnya sejenak, sebelum kembali mengobati luka Robin. Ia memberikan beberapa tetes obat luka, kemudian menutupnya menggunakan kain kasa.

"He'em, sebelum sampai ke ladang bunga matahari aku dan kepala ayam terjatuh dan bertemu dengan Pria itu. Kata luffy namanya Cabbage. Di sana juga ada Gladius, salah satu anggota eksekutif Donquixote Family yang memiliki kekuatan dapat meledakkan objek non-organik. Cabagge memiliki 2 kepribadian. Saat jiwa jahat menguasai dirinya, dia memiliki kecepatan yang luar biasa dan akan menebas apapun yang dia lihat. Waktu itu aku tengah memanjat tebing menggunakan tangan-tanganku sebagai tangga. Dia dengan wajah menyeramkannya menghampiriku dan hendak menebasku. Beruntung aku bisa menahannya menggunakan tangan raksasa"

"Kurang ajar, aku akan menebasnya jika bertemu lagi dengan Pria itu karena telah membahayakanmu" kata Zoro geram.

"Sebentar.. aku belum selesai bercerita" sela Robin.

"Baik, lanjutkan"

"Saat berada di tanganku. Jiwanya berubah-ubah. Sebentar menjadi cabagge, sebentar kemudian menjadi Hakuba. Dan saat bersamaan juga, Gladius, seorang anggota eksekutif Family itu hendak meledakkan tebing yang aku panjat. Cabagge meyakinkanku bahwa dia mampu menahan, Hakuba- jiwa jahatnya. Awalnya aku ragu mempercayakan nyawaku padanya, tapi pada akhirnya aku tak punya pilihan. Cabagge membawaku dengan memanfaatkan kecepatan Hakuba ke atas tebing- ladang bunga matahari. Bahkan dia menggunakan tangan kirinya untuk menahan pedang Hakuba agar tidak melukaiku. Jadi ketika tebing itu benar-benar meledak, aku dan Cabbage sudah mencapai ladang bunga matahari."

"Hm.. aku tak menyangka pangeran gila popularitas itu bisa melakukan hal sekeren itu, jika aku bertemu dengannya lagi , aku akan berterima kasih karena telah menyelamatkanmu"

Robin terkekeh.

"Selesai" kata Zoro setelah menempelkan plester untuk menahan kain kasa. Ia mengusap luka yang tertutup kain kasa itu kemudian mengecupnya.

 

Robin menurunkan kembali baju bagian belakangnya. Kemudian ia membatulkan posisi duduknya hingga sejajar dengan Zoro.

Zoro melingkarkan tangannya ke pundak Robin dan mendekapnya. "Tidurlah dengan posisi seperti ini, aku akan pastikan punggungmu tidak bergesekan dengan apapun"

"Kau tidak tidur?" Robin mendongakkan wajahnya menatap Zoro.

"Tidak, aku akan menjagamu malam ini"

"Terima kasih, Zoro" Ucap Robin tersenyum.

Zoro juga tersenyum. "Oyasumi, Robin" katanya sembari mengecup kening gadis dalam pekukannya itu.

"Oyasumi" balas Robin lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Zoro. Ia dapat mendengar jelas detak jantung Zoro, yang terdengar seperti musik penghantar tidur. Ia menutup mata dan yakin bahwa ini akan menjadi tidur ternyenyaknya.

END :*

_______________________________________