Work Text:
Judul: Impian Robin
Chara: Zorobin, Kirana (OC)
Diclaimer: kalau One Piece punya saya, isinya ke-uwu-an Zorobin.
Warning: jika Anda adalah orang yang anti fanfic OOC, saya sarankan untuk tidak membaca ff ini. Karena jika Anda tetap memaksakan diri, saya pastikan Anda muntah setelah membacanya. 🌚
Rate M untuk konten seksual tersirat.
💚|💜
"Sudah lama Robin ingin melakukan ini, bu." Kata seorang gadis kecil berusia sekitar 8 tahun seraya duduk di samping ibunya, dan menggandeng tangannya.
Mereka berdua adalah sepasang ibu dan anak yang baru saja di pertemukan kembali setelah beberapa tahun berpisah karena sang ibu terpaksa meninggalkan putrinya untuk mengungkap misteri abad kekosongan. Saat ini, mereka sedang berada di tengah serangan buster call yang dilancarkan pemerintah dunia untuk menghabisi ilmuan di pulau itu karena berusaha mengungkap sejarah.
"Robin...." pekik sang Ibu tak mampu lagi menahan rasa rindunya. Ia terkadang merasa kejam dan tidak pantas dipanggil ibu karena telah meninggalkan putrinya. Tapi, ia sendiri juga tahu. Ia melakukan ini untuk putrinya. Untuk masa depan, di mana putrinya akan hidup.
Seorang wanita paruh baya bersurai putih itu memeluk erat putrinya di tengah tembakan meriam yang membakar sekililingnya.
Ketika sepasang ibu dan anak itu masih saling melepas rindu, ada seorang raksasa yang menghampiri mereka. "Robin.." kata sang Raksasa yang sudah dari tadi mencari-cari Robin di tengah suasana seperti perang itu.
"Saul.. kau ada di sini?" Tanya sang ibu yang ternyata sudah mengenal raksasa itu.
"Hem.. iya Olivia. aku terdampar di pulau ini dan Robin telah menolongku." Jawab sang Raksasa.
"Beruntung kau di sini. Aku mohon selamatkan Robin. Bawa dia pergi dari sini."
"Apa maksud Ibu?" Tanya Robin terkejut mendengar permintaan Ibunya pada teman raksasanya.
"Maafkan ibu, Sayang. Masih ada yang harus ibu lakukan di sini." Kata Olivia seraya menangkup kedua pipi putrinya. "Sa.. cepatlah saul. Bawa Robin."
Saul awalnya ragu namun ia akhirnya mengambil Robin dari ibunya. Robin terlihat sangat kecil dalam genggaman sang raksasa.
"Tidak, bu! Aku masih ingin bersama ibu." Ujar Robin menangis dan memberontak.
Robin
"Ibu..."
Robin..
"Bu..."
Robin bangun... hey.
"Ibu..." pekik Robin dan langsung terjaga dari tidurnya. Ia membuka mata dan menemukan wajah suaminya terlihat begitu khawatir. "Zoro..." gumamnya terengah setelah menyadari bahwa dirinya baru saja bermimpi.
"Kau bermimpi tentang ibumu?" Tanya Zoro seraya mengusap peluh yang mengembun si dahi Robin, sedangkan Robin hanya menangguk lemah sebagai tanggapan.
Zoro bangkit dari tidurnya. Ia mengambil segelas air putih di meja sebelah ranjang dan memberikannya pada istrinya.
Robin juga duduk. Ia menerima air putih itu dari tangan Zoro dan meminumnya hingga tandas.
Setelah mengumumkan tentang hubungan mereka pada nakamanya, Franky membuatkan kamar untuk Zoro dan Robin. Ruangan yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan cukup mengakomodasi hobi Zoro dan Robin. Di sebelah kanan ranjang ada sebuah meja kecil yang digunakan untuk meletakkan lampu tidur dan air minum, sedangkan di samping kiri ada sebuah rak buku kecil yang digunakan untuk menyimpang buku-buku Robin. Bukan hanya itu, kamar Zoro dan Robin juga memiliki mini gym sehingga Zoro bisa melakukan olahraga di kamarnya.
"Arigatou.." ujar Robin hendak menyerahkan kembali gelas kosong pada Zoro, namun ia menemukan suaminya telah menutup mata dan mendengkur.
Robin hanya menghela nafas dan mengembangkan senyum di bibirnya ketika melihat Zoro kembali tertidur dengan mudah. Arkeolog bajak laut topi jerami itu meletakkan gelas di meja sebelum kembali berbaring. Ia menyelipkan kedua telapak tangannya di bawah pipi dan sejenak memandang wajah suaminya.
Mimpi Robin barusan adalah saat-saat terakhir ia bisa menggandeng tangan ibunya. Dulu, ketika Robin dititipkan pada pamannya, ia ingin sekali berjalan dan bergandengan tangan bersama seorang ayah dan juga ibu seperti anak-anak lainnya. Namun, baru beberapa menit ia benar-benar bisa menggandeng tangan ibunya, mereka harus berpisah kembali.
Jujur saja. Setelah menjalin hubungan romantis dengan Zoro, Robin juga mendambakan kelahiran seorang anak. Terkadang ia membayangkan bagaimana rasanya jika mereka berdua dikaruniai seorang anak. Mereka berdua bisa berjelajah pulau bersama buah hati mereka.
Namun Robin sadar betul, kehidupan mereka sebagai bajak laut memiliki banyak bahaya yang mengancam setiap waktu. Tentu akan sangat berisiko jika membesarkan seorang anak di atas kapal. Lagi pula, Robin juga tidak yakin suaminya akan setuju dengan ide tentang memiliki seorang anak. Oleh karena itu, hanya ada dua pilihan untuk Robin, yaitu melupakan impiannya tentang keluarga kecil bahagia atau bersabar menanti perjalanan mereka selesai hingga bisa menetap di suatu pulau.
Bagaimanapun juga, Robin tidak punya alasan untuk tidak bersyukur. Ia sudah cukup bahagia hidup bersama nakamanya dalam kelompok bajak laut topi jerami. Selain itu, ia juga mempunyai seorang pria yang dapat dijadikan tempat di mana ia bisa berbagi kasih.
Robin tersenyum memandang wajah polos Zoro. Perlahan ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Zoro dan membelai dengan lembut menggunakan ibu jari kemudian mengecupnya singkat.
Merasakan gerakan istrinya, Zoro melingkarkan lengannya ke pinggul Robin dan menariknya lebih dekat agar dapat mendekapnya. Ia bergerak tanpa membuka mata. Sementara itu, Robin hanya terkekeh oleh tindakan Zoro karena berpikir suaminya itu benar-benar sudah tertidur. Kemudian Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Zoro dan kembali terlelap.
💚💜
Pagi telah datang. Seluruh kru bajak laut topi jerami berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka duduk melingkari meja makan dan bersama menyantap hidangan lezat yang telah disiapkan sanji.
"Minna... dengarkan aku." Kata Nami menarik perhatian teman-temannya seraya mengetuk meja. Usahanya sukses membuat semua nakamanya memberikan perhatian padanya. Namun ia juga menghela napas pasrah karena tidak berhasil menarik perhatian sang kapten yang terus sibuk menyambar makanan.
"Ada apa Nami?" Tanya Usopp di sela aktivitasnya mengunyah.
"Sebentar lagi kita akan tiba di sebuah pulau. Aku dengar pulau ini pusat perbelanjaan di greenland. Banyak saudagar pulau lain datang ke pulau itu untuk berjualan maupun berbelanja. Kita bisa mendapatkan apapun yang kita butuhkan di sana. Kupikir semuanya bisa turun kapal. Aku akan membagikan uang untuk kalian." Terang sang Navigator kapal yang juga merangkap sebagai bendahara kru.
Semua orang bersorak gembira ketika mendengar tentang pembagian uang.
"Robin, kau pergi dengan siapa?" Tanya Nami pada rekannya.
"Aku..."
Robin ingin pergi dengan suaminya. Namun ia merasa tidak enak menjawab pertanyaan langsung dari Nami. Ia hanya menggantung kalimatnya seraya melirik ke arah Zoro.
"Hm.. baiklah. Aku mengerti. Aku bisa pergi dengan yang lain." Ujar Nami menangkap tanda dari Robin.
"Maafkan aku, Nami."
"Tidak masalah. Aku bisa pergi dengan Chopper, Usopp maupun Sanji."
"Pergi denganku saja Nami-swan..." Sahut Sanji ketika mendengar perbincangan 2 nakama perempuannya.
"Haik.. haik.." tanggap Nami menyetujui.
♤♧♡◇
Sesampainya di pulau tujuan, seluruh kru bajak laut topi jerami turun dari kapal dan menyebar untuk mencari kebutuhan masing-masing. Tentu saja Robin bersama dengan suaminya, Zoro.
"Benar kata Nami. Pulau ini sepertinya adalah pusat jual-beli." Kata Robin memandang sekitarnya. Baru sampai dermaga saja ia sudah dibuat takjub oleh banyaknya kapal-kapal saudagar yang menaikkan dan menurunkan barang.
"Hm.. mau belanja sekarang?" Tanya Zoro.
"Tentu." Jawab Robin seraya memegang lengan kiri suaminya.
Mereka berdua berjalan beriringan di jalan yang cukup ramai orang berlalu lalang. Banyak wajah-wajah asing yang berbeda dengan penduduk asli menandakan bahwa di tempat itu juga banyak turis. Sepertinya mereka juga tidak takut terhadap bajak laut dan malah cenderung menyambut. Tentu saja itu karena para bajak laut di sini juga merupakan pelanggan mereka.
Robin menghentikan langkahnya. Ia berjongkok untuk memungut kertas selebaran yang telah kusut di injak-injak pejalan kaki.
"Apa itu, Robin?" Tanya Zoro penasaran seraya ikut membaca isi selebaran itu.
"Pengumuman orang hilang." Jawab Robin mengeja tulisan dengan font paling mencolok dari kertas itu.
"Ehm.. sepertinya seorang anak perempuan."
"Benar. Namanya Kirana berusia 5 tahun. Memiliki rambut hitam di cukur mangkuk dan badan sedikit gempal."
"Hm.. sudahlah. Kita tidak punya banyak waktu." Ujar Zoro mengajak Robin meneruskan perjalanan.
"Em..!" Tanggap Robin mengangguk. Ia melipat kertas itu dan menyimpannya di tas ranselnya, kemudian mengikuti Zoro yang sudah lebih dulu berjalan.
Mereka berdua memasuki sebuah toko pedang. Zoro berniat mengasah wadou ichimonji dan sandei kitetsunya.
"Ini.. ini pedang-pedang hebat." Ujar 'kang pandai besi gemetar menerima pedang dari tangan Zoro.
"Jangan sampai rusak. Kalau rusak, aku tidak segan-segan memotongmu dengan pedang-pedang ini." Kata Zoro mengancam.
"Ba.. baik tuan. Sembari menunggu silahkan melihat-lihat koleksi pedang kami."
Zoro memang sudah memiliki 3 pedang hebat. Namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan kekagumannya ketika melihat berbagai macam pedang lainnya. Matanya selalu berbinar-binar seperti anak kecil yang dilepas di toko permen.
Sepasang bajak laut terus melihat-lihat pedang di dalam toko itu hingga sebuah pedang dengan gagang berwarna hijau lumut begitu menarik perhatian Robin.
Sang arkeolog topi jerami mendekati pedang itu dan hendak menyentuhnya. Namun tiba-tiba...
"Jangan Robin!" Teriak Zoro menahan istrinya.
"Kenapa?" Tanya Robin terkejut dan mengerutkan kening.
"Pedang itu sangat berbahaya. Jika kau tersayat seujung kuku saja, kau bisa mati dalam hitungan detik." Terang Zoro serius.
"Benarkah? Mengerikan sekali." Ujar Robin seraya mundur selangkah.
"Iya... kalau ditaburi sianida."
Robin menatap suaminya dengan cemberut. "Hahaha sedikit lagi lucu, Zoro. Semangat."
"Terima kasih." Tanggap Zoro.
Robin pun kembali melihat-lihat deretan pedang dan perhatiannya tertuju pada sebuah pedang kecil yang hanya berukuran sekitar 30 cm.
Zoro mengikuti arah pandangan Robin. Ia pun mengambil pedang yang menjadi perhatian istrinya.
"Hm.. pedang kecil ini sangat bagus, cocok untuk anak kecil yang sedang berlatih pedang." Kata Zoro seraya mengamati pedang di tangannya.
"Anak kita." Gumam Robin tanpa sadar.
"Hah? Apa?" Tanya Zoro. Ia kurang bisa mendengar gumaman istrinya.
"Ah... tidak tidak tidak." Jawab Robin salah tingkah.
Beberapa saat kemudian, pemilik toko memanggil Zoro untuk memberikan pedangnya yang telah selesai diasah. Zoro pun memeriksa pedang-pedang itu dan hasilnya tidak mengecewakan. Pedang-pedang Zoro terlihat lebih mengkilap hingga mampu memantulkan bayangnya sendiri. Ia memberikan beberapa keping uang untuk 'kang pandai besi sebelum meninggalkan toko bersama Robin.
Tujuan mereka selanjutnya adalah pasar swalayan. Robin ingin mencari kebutuhan pribadinya seperti sabun, sampo, bedak, kopi, dll.
"Robin, aku akan menunggumu di sini." Kata Zoro dan menghentikan langkahnya di depan swalayan.
"Hm, kenapa tidak ikut masuk?" Tanya Robin penasaran.
"Aku tidak nyaman membawa pedang di tempat seperti ini."
"Baiklah. Aku berjanji tidak akan lama." Ujar Robin sebelum mematuk pipi Zoro, lalu pergi memasuki Swalayan.
Robin pun segera mencari apa yang ia butuhkan. Ia hampir saja kebingungan memilih barang apa saja yang akan ia beli karena saking banyaknya barang-barang bagus. Seperti saat akan membeli shampo, ia bingung harus membeli shampo deedee aroma strawberry yang selama ini ia pakai atau mencoba varian lain. Robin pikir jarang-jarang ia menemukan shampo beraroma mawar, sehingga ia memilih untuk mengambilnya.
Ketika menuju ke kassir, Robin melewati deretan baju anak kecil. Ia terpesona melihat sebuah gaun cantik untuk anak perempuan. Gaun itu memiliki warna lavender dengan motif bunga dan berhias pita di sekitar perutnya. Entah kenapa ia tidak bisa melepas pandangannya dari gaun itu dan ingin sekali membelinya. Meskipun ia tahu, tidak ada anak kecil di kapal. Robin tidak bisa menahannya. Ia akhirnya membeli gaun itu.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Kata Robin pada Zoro yang tengah bersandar di tiang depan swalayan.
"Hm.. tidak apa-apa. Kau sudah selesai?" Tanya Zoro seraya mengambil tas belanja dari tangan Robin.
"Sudah.. tapi aku masih ingin ke toko buku."
"Baiklah.. ayo pergi sekarang." Ajak Zoro.
◇¤☆○●○●☆¤◇
Zoro dan Robin kembali berjalan melewati deretan pertokoan untuk mencari toko buku. Tiba-tiba mereka mendengar keributan dari sebuah gang sempit diantara gedung-gedung toko. Karena penasaran, merekapun mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Mereka terkejut melihat seorang gadis kecil tengah memeluk erat sebungkus roti agar tidak direbut oleh tiga anak lelaki yang sedang menjahilinya.
"Oi.. apa yang kalian lakukan?!" Ujar Zoro dengan suara baritonnya berhasil menarik perhatian anak-anak nakal itu.
Saat mengetahui ada orang dewasa mengetahui aksi nakalnya, mereka pun berlari ketakutan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Robin membantu anak perempuan itu untuk berdiri.
"Tidak apa-apa, nee-san. Terima kasih." Jawab anak itu.
Robin mengamati anak itu. Dia merasa pernah melihat anak ini tapi ia tak ingat di mana dan kapan. Ia pun mengeluarkan kertas selebaran yang ia temukan tadi. "Kau.. kirana?" Tanya Robin pada anak kecil di depannnya.
"Ba..bagaimana nee-san tahu namaku?" Tanya anak itu terbata.
"Kau kabur dari rumah?"
Kirana tak menjawab. Ia hanya diam dan menunduk.
"Orang tuamu mencarimu, nak. Kau harus segera pulang. Ayo, nee-san antar."
"Tidak! Aku tidak mau pulang." Kata Kirana sedikit berteriak.
"Kenapa?" Tanya Robin mengerutkan kening.
"percuma saja jika aku pulang. Orang tuaku sudah tidak memperhatikanku lagi. Mereka hanya sibuk berdagang."
Robin berjongkok di depan Kirana. Ia meletakkan satu tangannya di atas kepala anak perempuan itu dan mengusapnya. "Sayang, mereka berdagang juga untuk kebutuhanmu. Coba diingat-ingat. Segala kebutuhanmu pasti terpenuhi 'kan? Sekarang ayo pulang. Ibu dan ayahmu sangat mengkhawatirkanmu. Lihat.. mereka sampai menyebar kertas ini untuk mencarimu." Kata Robin lembut sembari memperlihatkan kertas selebaran ditangannya.
"..." kirana tak bergeming. Lagi-lagi ia hanya diam dan menunduk.
"Sangat berbahaya untuk anak kecil sepertimu berkeliaran sendirian. Bagaimana jika ada orang jahat menculikmu. Mengambil organ dalammu seperti hati, paru-paru, jant.."
"Robin..." sela Zoro lembut seraya menepuk bahu istrinya agar berhenti membicarakan sesuatu yang mengerikan.
"Kau mau seperti itu?" Tanya Robin pada Kirana yang dijawab dengan gelengan kepala.
"Kalau begitu. Ayo pulang.." ajak Robin sembari menggandeng tangan Kirana.
Robin, Kirana dan Zoro berjalan beriringan . Mereka keluar dari gang sempit dan mulai menyusuri jalan menuju rumah Kirana. Tapi.. di tengah jalan Kirana tiba-tiba mengentikan langkahnya.
"Ada apa? Kau berubah pikiran lagi?" Tanya Robin.
"Onee-san.. aku berjanji akan pulang. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta sesuatu. Boleh?" Tanya Kirana dengan mata berkaca-kaca.
"Apa itu?"
"Aku selalu ingin berjalan bergandengan tangan bersama ayah dan ibuku. Makan bersama, bermain bersama seperti anak-anak lain. Tapi.. aku tidak pernah punya kesempatan itu. Maka dari itu, aku ingin kakak berperan seperti orang tuaku dan mengajakku jalan-jalan sekali ini saja".
Robin melirik Zoro untuk meminta persetujuan suaminya itu.
"Terserah.." jawab Zoro seakan tak peduli.
Robin pun tersenyum. Ia kembali mengusap kepala kirana dan berkata "tentu. Nah sekarang katakan apa yang ingin kamu lakukan?"
"Seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku hanya ingin berjalan-jalan, makan bersama dan bermain."
"Baiklah. Tapi sebelum itu. Kau harus mandi dulu. Lihat.. badanmu sangat kotor."
"Em!" Jawab Kirana semangat.
Mereka bertiga memasuki pemandian umum. Lagi-lagi Zoro hanya menunggu sedangkan Robin dan kirana memasuki pemandian umum.
Robin dengan telaten menggosok punggung Kirana dan memandikan anak perempuan itu hingga benar-benar bersih.
Setelah mandi, Robin memakaikan baju yang ia beli di swalayan pada kirana.
"Apakah baju ini milik anakmu atau keponakanmu?" Tanya kirana.
"Tidak. Aku tidak punya anak maupun keponakan. Aku hanya tidak tahan untuk tidak membeli baju secantik ini. Dan lihatlah.. baju itu sangat cocok untukmu."
"Baju ini untukku?" Tanya kirana girang seraya menutar badannya.
"Tentu." Jawab Robin dengan senyum anggun.
Hari itu, Kirana benar-benar menikmati kebersamaan bersama orang tua palsunya. Mereka makan bersama, bermain dan bercengkrama layaknya sebuah keluarga.
Robin pun demikian. Ia terlihat sangat menikmati perannya sebagai ibu sementara untuk Kirana seperti mendadani Kirana dan membacakan dongeng.
Sampai tiba waktunya Kirana kembali kepada orang tuanya. Ada rasa kehilangan di hati Robin saat melihat kirana lepas dari pelukannya. Ia bahkan membutuhkan Zoro untuk menyadarkannya ketika ia mematung melihat Kirana yang perlahan menghilang dari pandangannya.
♤♡◇°♤◇
Sudah hampir 30 menit Robin menghabiskan waktunya hanya untuk melamun di bak mandi sunny go. Pertemuannya dengan Kirana dan peran pura-pura sebagai seorang ibu membuat hasratnya memiliki anak semakin besar. Tapi... Robin tahu. Ia harus mengubur dalam-dalam keinginan keinginan itu. Karena akan sangat berbahaya jika membesarkan seorang anak di atas kapal.
Setelah itu, Robin kembali ke kamarnya. Ia tersenyum menemukan suaminya sedang berolahraga angkat beban dan terlihat tubuhnya yang mengkilap oleh keringat.
Mengetahui kehadiran istrinya, Zoro pun menghentikan mengaktivitasnya. Ia terengah-engah kelelahan dan mengambil tempat duduk di sofa yang berada di salah satu sudut ruangan.
Sementara itu, Robin mengambil handuk berwarna putih yang tergantung di balik pintu lalu berjalan mendekati Zoro untuk memberikan handuk itu.
Bukannya menerima handuk itu, Zoro malah meraih tangan Robin dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Ia memeluk Robin dan mencium pipinya.
"Kau mengganti shampomu?" Tanya Zoro.
"Tidak Zoro, tadi ada banyak varian baru jadi aku hanya ingin mencobanya." Jawab Robin seraya mengeringkan keringat di dada bidang Zoro menggunakan handuk di tangannya.
"Hm.. kalau begitu aku juga akan mandi." Ujar Zoro seraya mengangkat Robin dari pangkuannya, namun Robin menahannya.
"Em.. Zoro." Panggil Robin lirih. Ia ingin sekali menanyakan pendapat Zoro tentang kirana dan ide memiliki seorang anak. Namun ia ragu.
"Hm?"
"Bagaimana pendapatmu tentang..."
"Tentang?" Tanya Zoro mengangkat sebelah alisnya.
"Tentang.."ujar Robin menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar ragu. "Pendapatmu tentang.. aroma shampo ini. Hehehehe" lanjutnya.
"Hm.. wangi sih tapi kamu tidak biasa pakai ini."
"Baiklah. Aku akan kembali memakai yang biasanya." Ujar Robin setenang mungkin. Padahal sebenarnya ia mengutuk dalam hati atas kegagalan misinya.
Robin pun turun dari pangkuan Zoro lalu ia pun duduk dan membaca buku di ranjangnya, sedangkan Zoro pergi untuk mandi.
💜💜
Zoro kembali ke kamarnya setelah selesai mandi. Ia hanya memakai boxer dan handuk yang dikalungkan di lehernya.
Sementara itu, robin sedang menuangkan air minum untuk 2 gelas lalu ia mengambil 1 kaplet obat dari dalam laci.
"Robin, apa itu?" Tanya Zoro menunjuk obat yang ada di genggaman istrinya.
"Ini?" Ujar Robin seraya menunjukkan sebuah pil kecil berwarna putih di telapak tangannya.
Zoro menyipitkan matanya untuk menajamkan pandangannya. Ia berjalan menghampiri Robin untuk duduk di sebelahnya dan meraih pergelangan tangan istrinya. "Obat? Apa kamu sakit?" Tanya Zoro semakin mengerutkan kening.
"Hahaha.. tidak Zoro. Ini hanya obat supaya aku tidak hamil." Jawab Robin.
"Kenapa?" Sergah Zoro semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Robin dan menatap tajam matanya.
"Ke.. kenapa..?" Robin terbata. "Yah.. karena kamu suka terburu-buru dan lupa memakai pelindung." Lanjutnya tersipu.
"Bukan begitu maksudku.., maksudku kenapa kau tidak mau hamil?"
"Hah? Kupikir kamu tidak akan mengingankannya, Zoro. Kamu terlihat tidak begitu menyukai anak-anak. Lagi pula akan sangat berbahaya jika memiliki anak di atas kapal bajak laut."
Zoro menghela napas mendengar jawaban istrinya. Ia memposisikan diri tepat berhadapan dengan Robin, menatap lekat manik birunya dan berkata "Robin, aku tidak masalah jika memang kamu tidak mau hamil karena mungkin takut sakit atau repot. Itu hakmu untuk memutuskan. Tapi, aku tidak setuju jika kamu mengira aku tidak menyukai ide memiliki seorang anak. Aku tahu kamu menginginkannya. Aku melihatmu begitu menikmati peranmu sebagai ibu Kirana tadi. Dan jika kau khawatir bahaya, aku yakin anak kita adalah seorang pendekar hebat yang bisa melindungi dirinya sendiri."
"Zoro.. kamu benar. Aku sangat ingin memiliki seorang putri. Aku ingin melakukan berbagai hal seperti bersama kirana tadi.
"Aku tahu." Tanggap Zoro tersenyum. Ia lalu mengambil pil yang ada di tangan Robin dan meraih satu kaplet yang ada di meja. "Berarti kamu tidak membutuhkan ini." Ujar Zoro lagi merujuk pada obat di tangannya. Lalu ia melemparkan obat itu ke tempat sampah.
"Zoro, kau yakin?"
"Pertanyaan itu untukmu, Robin."
Robin tersenyum dan mengangguk. Ia mencium bibir Zoro dan mendorongnya lembut agar berbaring di ranjang. "Ja.. kalau begitu bersiaplah.. karena aku tidak akan menahan diri." Kata Robin diiringi seringai jahat.
Malam itu, sepasang bajak laut Topi jerami menghabiskan malam dengan sangat luar biasa. Mereka berdua berselimut kehangatan sepanjang waktu.
Tamat
