Actions

Work Header

Honey, Honey

Summary:

Omega Namjoon is a man of planning; except for one time when he’s deeply in love with Alpha Hoseok, whose head is full with a bunch careless ideas. Also, he never planned on that sudden babymoon trip that was arranged by his man (without him knowing it, obviously.)

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Wild at Heart

Chapter Text

“Sibuk banget, sayang?”

 

Sebuah tangan bertengger erat di perut besar Namjoon tatkala ia tengah berdialog pada diri sendiri dengan sebuah catatan dan pulpen di tangannya.

 

“Lagi ngecek stock barang nih. Kayaknya ada yang kelewat deh,” ujar Namjoon lalu menaikkan kacamata yang setengah melorot dari batang hidungnya. “Kenapa, Seok?”

 

Is it possible if you’re taking a break? ” tanya Hoseok lirih lalu membalikkan badan Namjoon tanpa menanggalkan lengan di pinggang Namjoon. Hoseok menatap binar indah di mata Namjoon yang berpadu sempurna dengan lesung pipi Namjoon. Entah sudah kali ke berapa Hoseok menyambangi kerupawanan suaminya itu dalam beberapa tahun. Baginya, setiap ia mengagumi Namjoon dalam jarak yang cukup dekat layaknya ini, Hoseok selalu mendapatkan sensasi yang berbeda. Rasanya tidak pernah sama dan Hoseok tidak akan pernah bosan.

 

“Seokie baby, I told you I’m --

 

I was wondering if I could take you on a vacation next weekend.”

 

“--busy…”

 

Hoseok memotong omongan Namjoon seolah ia tahu apa isi kepala omeganya saat ini. Sepasang mata Hoseok tak sedetik pun beralih dari wajah tampan suaminya. “ Please? ” lanjutnya.

 

Namjoon mengeluarkan nafas panjang. Bukannya ia tidak mau berlibur. Namun pekerjaannya benar-benar tak dapat ditinggalkan. Bisnis pakaian jadi yang didalami tengah mengalami ekspansi besar-besaran setahun terakhir sehingga seringkali Namjoon mengabaikan dirinya sendiri karena pikirannya terpusat pada bisnisnya. Hal ini tentu sangat mengusik Hoseok karena Namjoon sedang mengandung buah hati mereka. Parahnya lagi, saat ini Namjoon telah memasuki trimester ke tiga yang berarti dalam beberapa minggu, bayinya akan lahir ke dunia.

 

So, convince me why?

 

Alright! ” Hoseok menyengir sementara Namjoon bersandar pada meja kerjanya dan melipat tangan. “ Simply karena kamu butuh liburan. Kedua, staff kamu semuanya sudah bisa gerak sendiri tanpa kamu suruh. Ketiga, I’ve bought two tickets already and I’ve prepared our itinerary.

 

Mata Namjoon melebar dan mulutnya hampir menyerukan nama Hoseok keras-keras. Namun Hoseok terlebih dahulu membuka suara untuk menenangkan lelakinya. “Joonie, aku tahu kamu pasti mau ngomelin aku karena aku boros dan impulsif. Tapi, aku pengen kita liburan berdua terakhir before your due date . Habis ini kita pasti bakal lebih sibuk. Nggak tahu kapan lagi bisa punya waktu berdua kayak gini,” jelasnya panjang lebar, berharap Namjoon mengerti.

 

Namjoon menggembungkan pipi sambil menimbang-nimbang rencana pria yang ia nikahi empat tahun silam. Hoseok senantiasa menggenggam tangan Namjoon juga menanti jawaban yang akan dilontarkan Namjoon dengan harap-harap cemas.

 

Fine .” Namjoon mendengus pasrah. “Aku beresin semuanya dulu-”

 

I LOVE YOU, BABE !”

 

Belum sempat Namjoon meneruskan perkataannya, Hoseok sudah terlebih dahulu memeluk tubuhnya erat dan melayangkan kecupan di sekujur wajahnya juga kontur tebal bibirnya. Namjoon membalas dengan melingkarkan lengannya di pinggang ramping alpha-nya. Hidungnya tersemat pada scent gland Hoseok yang menguarkan aroma kayu cendana yang saat ini mendominasi indra penciumannya.

 

“Seok, aku mau tanya deh. Emang kita mau liburan kemana?”

 

Well …” Hoseok meringis. “ There’s another thing to talk about …”

 

“Seokie?” Namjoon menaikkan satu alisnya. Ia menangkap sebuah firasat buruk dari gelagat Hoseok. Dan Namjoon tahu, firasatnya tidak pernah salah berkat tanda gigitan akibat ulah Jung Hoseok, mate -nya.

 

It’s a surprise , sayang.” Hoseok mengerling manja lalu mencium pipi Namjoon sekilas dan lekas-lekas menghilang dari hadapan Namjoon. 

 

***

 

“Wow! Seokie, lihat deh! Cantik banget,” celoteh Namjoon sambil menunjuk-nunjuk langit dengan perpaduan warna ungu-merah jambu dan biru yang memanjakan penglihatannya. Namjoon sedikit berlari menuju bibir pantai untuk merasakan hangatnya air laut yang menyapa telapak kakinya, meninggalkan Hoseok yang masih sibuk dengan baran.

 

“Hati-hati, Namjoon! Kamu tuh lagi bawa anak di perut kamu,” ujar Hoseok setengah berteriak lalu tertawa lepas saat Namjoon memekik takjub karena menemukan berbagai bentuk kerang di hamparan pasir yang luas.

 

Dan juga sedari tadi Hoseok mendapati dirinya tak berhenti tersenyum sendiri layaknya orang bodoh karena Kim Namjoon-nya tak pernah berhenti terpukau oleh pemandangan yang menawan matanya. Namjoon terlihat kecil di matanya, meski secara fisik Namjoon lebih tinggi beberapa centi dari dirinya ditambah dengan perawakan Namjoon yang cukup berisi. Melihat Namjoon yang tenang tanpa beban pekerjaan saja sudah membuat Hoseok merasa penuh.

 

Padahal, sebelum kaki mereka menginjak destinasi wisata, Namjoon sempat merengut sepanjang perjalanan di pesawat dan tidak ingin diusik sedikit pun oleh dirinya. Jika biasanya Namjoon bermanja-manja pada Hoseok sepanjang kehamilannya, untuk kali ini membuka mulut dan berbicara pada Hoseok pun ia tak sudi. Sebetulnya, Hoseok sadar apa yang membuat suasana hati Namjoon menjadi kurang enak. Ini semua diakibatkan oleh tingkah spontannya yang kerap membuat Namjoon geram.  Bagaimana tidak? Sampai di bandara pun, Hoseok tak kunjung memberi tahu Namjoon kemana mereka akan pergi liburan. Yang Namjoon ketahui hanyalah semua keperluan dan dokumen yang dibutuhkan telah diurus tuntas oleh alpha-nya. 

 

Hanya saja, Namjoon adalah pria yang penuh perencanaan secara rinci. Tiap hari, Namjoon selalu menulis agenda apa saja yang harus ia lakukan dari pagi hingga malam menjelang. Sedikit perubahan jadwal pada harinya saja dapat membuat otaknya pening seketika. Sangat bertentangan sekali dengan perangai Hoseok yang penuh dengan hal-hal spontan. Terkadang, Namjoon tidak dapat mengimbangi isi kepala mate -nya yang menurut Namjoon terlalu intuitif.

 

“Maafin aku ya, Joonie?” serta-merta Hoseok telah berada di balik punggung Namjoon. Sempat melupakan fakta bahwa dirinya sedang dongkol pada suaminya, Namjoon seolah teringat kembali pada kejadian yang cukup membuat keadaan hatinya gusar bukan main. Seharusnya ini akan menjadi sebuah perjalanan yang mengesankan apabila Hoseok memberitahu sebelumnya kemana mereka akan berlibur. Namjoon tidak menyangka bahwa alpha-nya akan segila itu untuk membawanya ke daerah kepulauan yang terletak di Laut Mediterania. Namjoon mengira mereka akan berlibur ke tempat yang masih dalam jangkauan zona waktu yang sama. Maka tidak heran seumpama Namjoon bereaksi sedemikian kesal kala Hoseok memberitahu bahwa destinasinya adalah ke Malta.

 

Merasa Namjoon tidak terlalu merespons permohonan maafnya, Hoseok menggencarkan aksinya dengan memeluk Namjoon dari belakang lalu hidungnya menelusuri scent gland Namjoon yang menguarkan wangi semanis madu yang sangat candu. Tak hanya aroma Namjoon yang berkarakter seperti madu, tetapi juga kulit langsatnya yang berkilau saat memantulkan cahaya matahari mengingatkan Hoseok akan warna dari madu semanggi. 

 

“Aku masih belum terbiasa sama kelakuan kamu yang kayak gini, Seokie.” Namjoon menghela nafas. “Bukannya aku nggak suka, it’s just… too much for me to handle .”

 

Kepala Hoseok tertunduk. Bukannya ia tidak mau memberitahu Namjoon. Namun, apabila ia berterusterang terhadap mate -nya, sudah pasti Namjoon menolak mentah-mentah ide gilanya. “Aku pengen banget ngasih tahu kamu, sayang. Tapi, kamu pasti nggak akan mau karena nggak pengen ngehambur-hamburin uang. Alasan aku buat ngajakin kamu liburan berdua karena kamu kelihatan tense banget beberapa bulan terakhir. Papa nggak boleh terlalu stress.”

 

“Kenapa kamu nggak pilih tempat yang deket aja, babe ? I don’t mind at all as long as I’m with you . Bahkan cuddling di sofa berdua sama kamu sambil akunya bisa scenting sesuka aku aja udah cukup buat bikin capek aku ilang, Seok.”

 

Sebuah kecupan kecil menghampiri pipi tembam Namjoon yang mengembang sempurna bagaikan adonan roti. “ I just wanna take you to all the nicest places. Also, this is my treat to my loveliest and the cutest omega in the world whom I proudly pronounce as my long life mate.” 

 

Namjoon mendelikkan bola matanya kesal. Sangat kontras dengan wajahnya yang mulai memerah karena terbuai dengan rayuan Hoseok. Sementara Hoseok sendiri tengah menyengir puas. Seolah mengetahui fakta bahwa trik untuk melumpuhkan kekesalan Namjoon pasti berhasil.

 

Apology accepted. It’s because I love you so much and this place is beautiful ,” ucapnya dengan nada marah yang dibuat-buat. Hoseok tergelak rendah lalu segera memutar tubuhnya untuk menghadap Namjoon untuk menyaksikan paras tampan Namjoon dengan lebih jelas. Baginya, tiada pemandangan yang lebih memikat dibandingkan dengan apa yang ada di hadapannya. Bahkan lukisan termahal sekalipun tak dapat menandingi keelokan dari wajah suaminya. Maka, Hoseok meraih dagu Namjoon dengan satu tarikan dan memberikan sebuah ciuman mesra di bibirnya sebagai tanda bahwa ialah satu-satunya yang ada dalam pusat gravitasi Hoseok.  

 

Tentu Namjoon masih sedikit kesal pada Hoseok-nya. Tetapi jika ditinjau ulang, usaha Hoseok untuk selalu memprioritaskan dirinya adalah hal yang patut Namjoon apresiasi.Meskipun begitu, Namjoon tetap mencintai Hoseok kendati ada kalanya ide Hoseok sangat susah dicerna oleh akal sehatnya. Hoseok-nya adalah yang tercinta. Hoseok-nya adalah seseorang yang akan selalu ia dampingi hingga akhir hayat. Sekalipun suatu saat nanti satu dunia akan menodong Hoseok dengan sebuah tombak di tangan, Namjoon ingin senantiasa menggenggam jemari Hoseok dan berjalan beriringan bersama untuk selamanya.



Notes:

Makasih sudah baca! Semoga prompter suka ceritanya 💙 see you di chapter selanjutnya yaaa!!